Speed and Love-Bab 41

Jiang Mu sudah puas bermain. Ujung celana dan sepatunya basah semua. Begitu naik mobil, ia menggigil terus, "Kak, aku dingin sekali. Kenapa dinginnya begini?"

Jin Chao menaikkan pemanas mobil dan berkata, "Lepas sepatumu."

Jiang Mu melepas sepatu dan kaos kakinya yang basah dan dingin. Kakinya sudah hampir mati rasa karena kedinginan. Tubuhnya terus merapat ke arah Jin Chao. Jin Chao menunduk melihat Jiang Mu meringkuk seperti bola. Ia hanya bisa memiringkan tubuhnya untuk memasangkan sabuk pengaman Jiang Mu, lalu berkata dengan nada pasrah, "Duduk yang benar. Aku mau nyetir."

Salju di dalam kompleks perumahan sudah sangat tebal. Mobil tidak bisa masuk. Jin Chao hanya bisa memarkir mobil di luar. Ia turun, berjalan ke sisi penumpang, dan membelakangi Jiang Mu. Jiang Mu membawa sepatunya dan naik ke punggung Jin Chao. Jin Chao menggunakan jaketnya untuk membungkus kaki Jiang Mu yang melingkar di depannya, lalu membawa Jiang Mu masuk ke dalam kompleks.

Saat kecil, Jin Chao juga sering menggendong Jiang Mu. Setiap kali ia pergi ke toko model dan bermain terlalu lama dengan teman-temannya, Jiang Mu akan tertidur di sofa kecil di sana. Saat kecil, Jiang Mu selalu tiba-tiba mengantuk—begitu bermain, tiba-tiba Jiang Mu tertidur. Setiap kali, Jin Chao selalu menggendong Jiang Mu pulang.

Tetangga di depan rumah sering bercanda bahwa mereka adalah kakak besar yang menggendong adik kecil. Meskipun begitu, Jin Chao tidak pernah tega membangunkan Jiang Mu. Bahkan jika ia mencoba membangunkannya, Jiang Mu biasanya tidak akan terbangun.

Tapi sekarang Jin Chao sudah menjadi pria dewasa. Punggungnya lebar dan terasa aman. Jiang Mu tanpa sadar menyembunyikan wajahnya di lekuk leher Jin Chao. Tubuh Jin Chao masih tercium aroma mint yang baru saja dia gunakan setelah mandi, bercampur dengan sedikit bau alkohol—harum yang membuat Jiang Mu terpesona.

Hembusan napas Jiang Mu yang manis meresap ke dalam kerah baju Jin Chao. Langkah Jin Chao tidak berhenti, tapi lehernya terasa sedikit kaku. Ia bertanya, "Kamu ngantuk?"

Jiang Mu hanya bergumam pelan. Jin Chao langsung menggendong Jiang Mu sampai ke lantai lima. Jiang Mu benar-benar berpikir bahwa Jin Chao tidak akan pernah menggendongnya seperti saat kecil lagi. Lorong yang gelap, detak jantung yang berdebar, malam yang sunyi—semuanya mengubah pemandangan ini menjadi kenangan lama. Jiang Mu seolah kembali ke masa kecil, menjadi dirinya yang dulu tanpa beban di hadapan Jin Chao, dengan bebas bergantung pada Jin Chao.

Sesampai di depan pintu rumah Jin Qiang, Jin Chao berkata, "Buka pintu."

"Aku turun dulu."

Jin Chao mengulurkan satu tangannya ke belakang, melingkari pinggang Jiang Mu, dan langsung mengangkat Jiang Mu ke depan. Jiang Mu tidak tahu bagaimana Jin Chao melakukannya—kekuatan Jin Chao sangat besar. Dalam kegelapan, ia hanya merasakan tubuhnya bergerak dan tiba-tiba ia sudah berada di depan Jin Chao. Tapi Jin Chao tidak pernah membiarkan kakinya menyentuh tanah.

Jiang Mu menginjakkan kaki telanjangnya di atas sepatu Jin Chao sambil mengeluarkan kunci rumah. Tangan Jin Chao melayang di pinggang JiangMu untuk menjaganya. Napas Jin Chao terasa di atas kepalanya, jarak mereka sangat dekat hingga tubuh mereka hampir saling menempel.

Jiang Mu mendongak dan menatap mata Jin Chao yang berkilau. Kehangatan menyebar di dadanya. Tubuhnya berada tepat di hadapan Jin Chao, dalam genggaman Jin Chao—seolah-olah ia melebur dalam sorot mata itu. Pikirannya menjadi kabur, bahkan ia lupa mengeluarkan kunci.

Melihat Jiang Mu tidak bergerak, Jin Chao menunduk dan menatap wajah Jiang Mu yang lembut. Wajah bulat yang dulu montok kini telah tumbuh menjadi garis yang memikat. Mata Jiang Mu berkaca-kaca. Jin Chao telah membayangkan bagaimana rupa Jiang Mu setelah dewasa—setiap bayangan selalu mengandung kecantikan dan kelucuan masa kecilnya. Tapi ia tidak pernah menyangka bahwa gadis yang selalu hidup dalam ingatannya sebagai anak kecil akan tumbuh seperti ini—dengan pesona remaja di matanya, memikat dan menggoda. Meskipun masih ada sedikit ketidakdewasaan sebagai seorang gadis, tetapi kecanggungan dan rasa malu seperti itu sangat mematikan bagi seorang pria.

Tangan Jin Chao di pinggang Jiang Mu mengencang. Jin Chao menunduk, bibirnya sedikit mengerucut, jakunnya bergerak perlahan di bawah cahaya yang redup. Pada saat itu, pikiran Jiang Mu kosong. Matanya berkedip-kedip, jantungnya berdebar kencang sampai hampir berhenti.

Tapi Jin Chao hanya membungkuk dan mengambil kunci dari saku Jiang Mu. Jin Chao berdiri tegak, membuka pintu, mengangkat Jiang Mu, dan meletakkan Jiang Mu di atas keset yang lembut, lalu mengambil sandal untuknya.

Setelah kaki Jiang Mu menyentuh tanah, napasnya masih terhenti. Udara di dadanya seolah diambil, ia tidak bisa bernapas dengan normal. Pikirannya terasa pening.

Ujung celananya basah, jadi Jiang Mu buru-buru masuk kamar untuk mengambil baju ganti. Selama itu, mereka berdua tidak saling bicara sepatah kata pun. Jiang Mu tiba-tiba merasa canggung dan tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tidak tahu mengapa Jin Chao juga diam setelah masuk—Jin Chao hanya berjalan ke akuarium, mengetuk kacanya, dan memeriksa dua kura-kura milik Jin Xin.

Saat Jiang Mu hendak masuk kamar mandi dengan pakaian di tangannya, ia menoleh dan melihat Jin Chao sudah mengambil kembali kunci mobil di atas meja. Ia segera bertanya, "Kak, kamu mau pergi?"

Jin Chao menoleh, "Kalau tidak pergi, mau apa?"

Jiang Mu berkedip, udara mengalir tanpa suara di antara mereka. Suaranya tidak keras, tapi penuh kelembutan yang sulit ditolak, "Waktu kecil, kita selalu menunggu pergantian tahun bersama. Kamu takut aku ketiduran, jadi kamu selalu bercerita banyak hal seru. Sudah lama kamu tidak bercerita padaku."

Jin Chao tersenyum, "Setiap kali, kamu tidak pernah bertahan sampai akhir cerita."

"Kali ini aku tidak akan tidur."

Jin Chao menunduk, terdiam beberapa detik, lalu mengingatkan, "Kamu sudah tidak kecil lagi."

Tapi Jin Chao sendiri tidak tahu apakah kata-kata itu ia ucapkan untuk mengingatkan Jiang Mu atau untuk mengingatkan dirinya sendiri.

Jiang Mu mengerti maksud Jin Chao. Ia bukan lagi anak kecil. Mereka tidak bisa lagi berbaring bersama tanpa beban, membicarakan segala hal. Tapi ia sangat merindukan masa-masa itu. Sudah bertahun-tahun ia merayakan Malam Tahun Baru sendirian. Tahun ini, ia tidak ingin sendirian lagi. Jiang Mu menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Selama aku masih lebih muda darimu, aku akan selalu menjadi yang kecil."

Mata Jiang Mu berbinar menatap Jin Chao, "Boleh?"

Jin Chao melihat ponselnya, "Paling lama satu jam."

Jiang Mu segera masuk ke kamar mandi dan mandi sebentar. Ia berganti dengan piyama berbulu halusnya. Rumah Jin Qiang adalah rumah tua, pemanasnya tidak terlalu bagus. Setelah keluar, ia berlari ke kamar dan berteriak ke arah Jin Chao di ruang tamu, "Kak, tolong ambilkan pengering rambut."

Setelah mengatakan itu, ia duduk di tempat tidur dan tersenyum sendiri. Jika mereka tidak pernah berpisah dan terus hidup bersama, mungkin beginilah keadaannya—saling menyuruh satu sama lain untuk urusan-urusan kecil sehari-hari.

Tidak lama kemudian, Jin Chao masuk dengan pengering rambut. Ia berjalan ke samping tempat tidur dan mencolokkannya ke stopkontak. Baru saja hendak menyerahkan pengering rambut itu kepada Jiang Mu, Jiang Mu sudah dengan sendirinya bergerak ke tepi tempat tidur dan mengulurkan kepalanya. Jin Chao hanya bisa menyalakan udara hangat dan berdiri di samping tempat tidur sambil mengeringkan rambut Jiang Mu.

Jin Chao ingat rambut Jiang Mu dulu panjang. Setiap hari sebelum pergi ke taman kanak-kanak, Jiang Yinghan harus bangun lebih awal untuk mengepang rambutnya Jiang Mu—dan Jiang Mu selalu melakukannya dengan mata terpejam sambil duduk di bangku kecil sambil mengantuk. Dulu Jin Chao tidak mengerti bagaimana seseorang bisa tidur sambil duduk. Tapi kemudian ia menyadari bahwa Jiang Mu tidak hanya bisa tidur sambil duduk, tapi juga sambil berdiri.

Suatu hari saat liburan musim panas, Jiang Yinghan keluar pagi-pagi untuk suatu urusan. Jiang Mu bangun dan tidak menemukan ibunya. Ia memeluk kelinci mainannya, berlari ke kamar Jin Chao, membuka selimutnya, dan merunduk masuk ke dalam pelukan Jin Chao—terus tidur. Jin Chao masih ingat pagi itu, saat Jiang Mu bangun dengan rambut acak-acakan. Ia menghangatkan makanan yang sudah disiapkan Jiang Yinghan untuk Jiang Mu. Tapi begitu Jiang Mu menunduk, rambutnya jatuh ke dalam mangkuk. Jiang Mu memaksa Jin Chao untuk mengepang rambutnya, kalau tidak, dia tidak mau makan.

Jin Chao tidak tahu cara mengepang rambut gadis kecil. Ia hanya mencoba-coba sendiri. Setelah hampir satu jam bekerja, ia berhasil mengepang rambut Jiang Mu menjadi banyak kepangan kecil yang membuatnya terlihat seperti alien. Saat keluar rumah, Jiang Mu diejek oleh anak bernama Wang dari lantai bawah. Anak itu mengejar Jiang Mu dan memanggilnya "upsy daisy" dari In the Night Garden. Sejak hari itu, untuk waktu yang lama, anak-anak di lingkungan itu memanggil Jiang Mu "Upsy Daisy".

Jiang Mu kecil sangat marah. Ia berlari pulang sambil menangis dan memaksa Jin Chao untuk belajar mengepang rambut dengan serius. Maka Jin Chao—seorang anak laki-laki besar—benar-benar belajar mengepang rambut.

Sekarang Jiang Mu tidak perlu mengepang rambutnya lagi. Rambutnya pendek, berantakan tertiup angin, tapi tetap terasa lembut dan halus.

Dari sudut matanya, Jiang Mu melihat papan dart di dinding. Surat-surat itu sudah ia ikat kembali sebelum pergi. Tapi sekarang ia tahu bahwa di balik papan dart itu tersimpan semua kerinduan mereka selama bertahun-tahun. Hatinya terasa manis seperti diberi madu.

Angin hangat berhembus dari akar rambutnya. Jari-jari Jin Chao yang panjang dan ramping menyisir rambut Jiang Mu dengan lembut dan nyaman.

Jiang Mu memejamkan mata dan bertanya, "Dulu, ketika aku bertanya, bukankah kamu bilang kamu akan pulang ke rumah Ayah untuk Tahun Baru?"

Suara angin bercampur dengan suara Jin Chao yang rendah, "Bukankah aku sudah kembali sekarang?"

Jiang Mu merasa tidak nyaman. Meskipun saat Tahun Baru dulu keluarganya juga tidak banyak, Jiang Yinghan tidak pernah menikah lagi—ia tetap bisa bersama ibunya. Tapi situasi Jin Chao berbeda. Jin Chao bisa bersama Jin Qiang dan Zhao Meijuan, tapi pergi ke rumah orang tua Zhao Meijuan pasti terasa canggung dan tidak pada tempatnya.

Jadi selama bertahun-tahun, Jin Chao selalu merayakan Tahun Baru sendirian?

Jiang Mu tidak tega bertanya. Hanya memikirkannya saja sudah membuat dadanya sakit. Tanpa sadar, ia menyandarkan kepalanya di dada Jin Chao. Tangan Jin Chao yang memegang pengering rambut berhenti sejenak. Jin Chao sedikit mengerutkan kening. Beberapa detik kemudian, Jin Chao mengecilkan hembusan angin dan memanggil, "Mu Mu."

Suara Jiang Mu terdengar dari dadanya, "Hm?"

"Kamu..."

Jin Chao hanya mengucapkan satu kata "kamu", tapi kata-kata berikutnya tersangkut di tenggorokannya. Setelah beberapa saat, ia bertanya, "Apakah ibumu mengatakan sesuatu padamu saat datang?"

"Maksudmu tentang apa?"

"Dia menyebutkan utangku, jadi dia pasti juga menyuruhmu menjauh dariku, kan?"

Jiang Mu menunduk tanpa menjawab. Ekspresi Jin Chao tetap tegang. Jin Chao hanya dengan diam mengeringkan rambut Jiang Mu, lalu mematikan pengering rambut dan hendak pergi. Tapi Jiang Mu tiba-tiba menarik ujung bajunya. Jin Chao menoleh. Jiang Mu mengangkat wajahnya dari balik rambutnya dan berkata, "Bagaimana jika Ayah juga mengatakan hal yang sama kepadamu?"

"Andai hari ini aku yang bermasalah, dan Jin Qiang menyuruhmu menjauh dariku, apakah kamu akan menurutinya?"

Jiang Mu melanjutkan, menjawab untuk Jin Chao, "Kamu tidak akan pernah menurut. Lalu kenapa kamu mengharapkanku untuk mendengarkan Ibu?"

Jin Chao hanya melemparkan kata-kata dengan santai, "Iya, aku lihat. Kamu sekarang sedang dalam masa pemberontakan."

Jiang Mu tertawa kecil melihat punggung Jin Chao.

Jin Chao meletakkan pengering rambut. Jiang Mu berteriak, "Kak, aku mau minum."

Tidak lama kemudian, Jin Chao membawa dua gelas masuk. Ia memberikan segelas air kepada Jiang Mu dan berkata, "Banyak sekali permintaanmu. Pantas saja kamu bilang tidak mau menikah—ternyata kamu sudah sadar diri."

Jiang Mu menerima gelas itu dan tertawa, "Bagaimana kamu tahu aku tidak akan menjadi istri yang baik nanti?"

Jin Chao mengambil bantal dan meletakkannya di lantai di samping tempat tidur. Ia bersandar di meja samping tempat tidur, sudut matanya melengkung, "Sulit."

Jiang Mu tidak setuju, "Aku bisa lembut, bisa merawat rumah, dan sangat pengertian. Kamu tidak tahu."

Jin Chao mengangkat alisnya dan melirik Jiang Mu, "Apa orang yang kamu maksud itu aku kenal?"

Jiang Mu mengangkat bantal dan hendak melemparkannya ke Jin Chao. Jin Chao menahan dengan tangannya sambil tersenyum, merebut bantal itu, "Kamu juga suka kekerasan dalam rumah tangga. Lebih baik jangan merusak kehidupan orang lain."

Jiang Mu kesal, "Aku tidak akan merusak kehidupan orang lain. Aku hanya akan merusak kehidupanmu."

Jin Chao masih tersenyum tipis, tapi ia menunduk dan meletakkan bantal di pangkuannya, tanpa menatap Jiang Mu lagi.

Jiang Mu tiba-tiba menyadari apa yang baru saja ia katakan. Ia menggigit bibirnya dengan ceroboh dan menjadi diam.

Mereka berdua—satu bersandar di kepala tempat tidur, satu duduk di lantai. Keheningan Jin Chao yang tiba-tiba membuat Jiang Mu kembali gugup. Ia diam-diam menatap Jin Chao. Uap air dari gelas di tangan Jin Chao mengepul, berbaur dengan udara menjadi aroma yang samar-samar. Malam sangat sunyi, jarak mereka sangat dekat. Sensasi yang melanggar batas membuat Jiang Mu tidak bisa bergerak.

Jin Chao perlahan menyesap air hangat, lalu mengembalikan bantal itu kepada Jiang Mu, "Kamu benar-benar tidak mau tidur?"

Jiang Mu menggeleng, "Aku tetap harus tidur. Besok aku mau melihat Kilat. Kamu ikut?"

"Tunggu sampai kamu bangun."

"Aku tidak akan bisa bangun. Kamu harus membangunkanku."

Jin Chao melihat waktu. Jiang Mu takut Jin Chao akan pergi. Ia meletakkan bantal di tepi tempat tidur, menyandarkan dagunya di atas bantal, dan berkata, "Kak, bisakah kamu bercerita tentang masa kecilku? Banyak yang sudah aku lupakan."

Jin Chao menoleh, "Kamu ingin mendengar apa?"

"Aku ingin tahu apa yang menyebabkan Ayah dan Ibu bercerai. Aku tahu mereka sering bertengkar, tapi pasti ada satu hal yang membuat mereka mengambil keputusan, bukan?"

Pandangan Jin Chao terangkat. Bayangan tirai bergoyang di dinding, seolah-olah membawa pikirannya kembali ke masa kecil.

Catatan Penerjemah:

["Upsy Daisy" adalah karakter dari acara TV anak-anak asal Inggris berjudul In the Night Garden (di Indonesia dikenal sebagai Taman di Malam Hari). Penampilannya seperti boneka kain dengan rambut warna-warni, rok merah-putih, memiliki karakter yang ceria dan optimis, suka menari dan bernyanyi.]

↑ Kembali ke cerita

Disclaimer: Terjemahan ini dilakukan secara sukarela untuk tujuan berbagi hobi dan apresiasi karya. Seluruh hak cipta, termasuk karakter, alur cerita, dan judul adalah milik penuh penulis asli dan penerbit. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas konten ini. Jika Anda menyukai ceritanya, dukung penulis aslinya melalui platform resmi.

Komentar