Speed and Love-Bab 37
Jiang Mu merasa ia tidak tidur lama—hanya sekadar tertidur sejenak. Saat ia membuka mata lagi, tubuhnya sudah diselimuti jaket milik Jin Chao. Ia duduk dan menatap ke luar kaca depan, melihat Jin Chao berdiri di tepi jurang. Di ujung timur langit, cahaya tipis mulai merambat, menerangi punggung Jin Chao yang tinggi dan ramping.
Jiang Mu hanya duduk diam menatap Jin Chao beberapa saat, sampai Jin Chao berbalik. Satu di dalam mobil, satu di tepi jurang. Cahaya redup menerangi siluet tubuh Jin Chao. Jin Chao berjalan mendekat.
Sepanjang perjalanan pulang, mereka tidak bertukar kata sepatah pun. Pada akhirnya, pembicaraan mereka tetap menemui jalan buntu. Jin Chao tidak berjanji padanya, dan Jiang Mu juga merasa tidak puas.
Sebelum matahari sepenuhnya terbit, Jin Chao membawa mobil masuk ke halaman belakang bengkel melalui jalan kecil. Jin Chao memarkir mobilnya dan mengganti kendaraan dengan mobil San Lai untuk mengantar Jiang Mu pulang ke rumah Jin Qiang.
Di perjalanan, ponsel Jiang Mu berdering. Ia mengangkatnya dan berbicara sebentar. Setelah menutup telepon, ia menatap jalan pagi yang sepi dan berkata kepada Jin Chao, "Ibuku sudah tiba di Tonggang."
Jin Chao tetap menatap ke depan, matanya sunyi. Hanya buku-buku jarinya yang memutih saat menggenggam setir. Jin Chao mengantar Jiang Mu sampai ke bawah rumah Jin Qiang dan melihat Jiang Mu berjalan menuju pintu masuk. Baru setelah itu Jin Chao turun dari mobil dan memanggil dari belakang, "Di mana? Aku antar kamu."
Jiang Mu berbalik dan menjawab, "Hotel Liyuan. Kamu tahu?"
Jin Chao mengangguk.
"Aku naik dulu ambil barang."
Besok adalah malam Tahun Baru Imlek. Pagi-pagi sekali, Jin Qiang sudah membawa Zhao Meijuan dan Jin Xin ke rumah mertuanya untuk merayakan Tahun Baru. Di rumah sudah terpasang dekorasi kertas merah Tahun Baru di pintu, tapi tidak ada orang—terasa sepi dan dingin.
Setelah masuk ke dalam rumah, Jiang Mu langsung berjalan ke kamarnya dan membereskan barang-barang. Jiang Yinghan sudah memesan kamar di Hotel Liyuan dan menyuruh Jiang Mu membawa barang-barangnya ke sana.
Di dalam rumah sangat sunyi. Jin Chao duduk di ruang tamu, sesekali membenturkan korek api di tangannya ke meja. Setelah beberapa lama, Jin Chao tiba-tiba bertanya, "Kamu akan segera pulang?"
Jiang Mu tidak berniat membawa banyak pakaian. Ia hanya memasukkan barang-barang penting ke dalam koper. Suaranya terdengar dari dalam kamar, "Besok pagi."
Jin Chao tidak bertanya lagi.
Jiang Mu mendorong kopernya keluar dari kamar. Jin Chao berdiri, mengambil koper itu, dan turun ke bawah. Jiang Mu mengunci pintu dan mengikuti di belakang.
Hotel Liyuan adalah salah satu hotel besar di dekat stasiun kereta. Jin Chao memarkir mobilnya di pinggir jalan, turun, dan mengeluarkan koper dari bagasi.
Jiang Mu menunduk menerima kopernya, lalu dengan cepat melirik Jin Chao dan bertanya, "Kamu mau... mampir dan menyapa?"
Jin Chao menunduk, tanpa ekspresi, "Tidak usah."
Jin Chao menatap ke arah Hotel Liyuan dan berkata, "Pergilah."
Jiang Mu sudah menduga Jin Chao tidak ingin bertemu Jiang Yinghan. Ia mendorong kopernya dan berjalan menuju hotel. Beberapa langkah kemudian, ia menoleh ke belakang dan melihat Jin Chao sudah naik ke mobil dan pergi.
Perasaannya tetap kecewa. Di saat-saat terakhir sebelum pergi, mereka masih bertengkar. Di tengah perayaan Tahun Baru, perpisahan terasa tidak menyenangkan.
Jiang Mu mendorong kopernya masuk ke Hotel Liyuan dan bertemu dengan Jiang Yinghan dan Chris. Chris menyambutnya dengan hangat, membantunya membereskan barang dan menanyakan keadaannya akhir-akhir ini.
Jiang Yinghan malah mengeluh, "Udara di sini sangat kering. Kamu ingat pakai pelembab, jangan malas pakai sunscreen, nanti kulitmu kering."
Beberapa saat kemudian Jiang Yinghan menambahkan, "Pagi tadi setelah turun kereta, aku dan Paman Chris sarapan di dekat sini. Semangkuk bubur yang tidak jelas apa isinya—lihat saja sudah tidak selera. Sama seperti masakan ayahmu dulu, sama-sama bikin mual."
Dulu, Jiang Yinghan juga sesekali mengucapkan hal seperti itu. Setiap kali ada sesuatu yang buruk, dia akan menyebut nama Jin Qiang. Dulu Jiang Mu tidak terlalu memepedulikan dan sudah terbiasa.
Tapi sekarang, kata-kata itu terdengar menyakitkan. Baik komentar Jiang Yinghan tentang Jin Qiang, maupun keluhannya tentang tempat ini, semuanya membuat Jiang Mu tidak nyaman.
Saat pertama kali datang ke sini, Jiang Mu juga merasa tidak cocok dan menganggap tempat ini tidak sebagus rumah. Tapi setelah tinggal lebih lama, barulah ia tahu bahwa Zhao Meijuan dan yang lain tidak mandi setiap hari bukan karena malas, melainkan karena iklim di sini kering. Selama tidak berada di bawah terik matahari, mereka tidak akan berkeringat seharian—tidak seperti di Suzhou, di mana cuaca lembab membuat badan lengket meskipun hanya duduk diam.
Soal makanan, bubur kental yang dianggap tidak menarik oleh Jiang Yinghan adalah makanan yang sering dimakan San Lai. Pernah suatu kali San Lai membaginya dengan Jiang Mu. Meskipun rasanya asing, ternyata tidak seburuk yang dibayangkan.
Setelah mereka membawa koper Jiang Mu ke kamar, tidak lama kemudian mereka mengajaknya makan di bawah.
Di lantai dasar Hotel Liyuan, ada restoran Cina dengan jendela besar menghadap ke jalan. Jiang Yinghan dan Chris memesan satu meja penuh makanan.
Jiang Mu duduk di seberang mereka, diam-diam mengamati ibunya. Ibunya mengenakan pakaian yang belum pernah ia lihat sebelumnya, memakai cincin yang entah dari mana, dan bahkan rambutnya dipotong pendek—hal yang membuat Jiang Mu terkejut. Dalam ingatannya, Jiang Yinghan tidak pernah memotong rambut pendek, baik disanggul maupun dikepang, selalu rapi. Sekarang ia merasa tidak terbiasa melihat penampilan baru ibunya.
Entah karena potongan rambut Jiang Yinghan, kali ini Jiang Mu melihat ibunya tampak lebih kurus. Bahkan rambut Chris juga tampak semakin menipis, membuatnya terlihat semakin tua. Jiang Mu sama sekali tidak mengerti apa yang ibunya lihat darinya—perut buncit atau kepala botak?
Setelah makanan dihidangkan, Chris bertanya dengan logat Mandarin yang kacau tentang makanan kesukaannya. Chris mengatakan bahwa ia juga bisa memasak beberapa masakan dan jika ada kesempatan, ia akan membuatkannya untuk Jiang Mu.
Jiang Mu menjawab dengan malas. Jiang Yinghan bisa merasakan suasana hati putrinya yang sedang buruk dan bertanya, "Apakah tugas sekolahmu banyak? Jangan terlalu menekan dirimu. Kalau benar-benar tidak bisa lulus, datanglah ke Melbourne. Aku sudah mencari tahu sekolah di sana."
Selama sepuluh menit berikutnya, Jiang Yinghan terus berbicara tentang sekolah di Australia dan menyuruh Jiang Mu mengikuti ujian IELTS sesegera mungkin.
Jiang Mu mendengarkan dengan pikiran melayang. Saat pembicaraan beralih ke rencana kembali ke Suzhou besok, Jiang Yinghan baru menyebutkan bahwa setelah tanggal 4 Imlek, dia sudah menjadwalkan pertemuan dengan agen properti dan beberapa calon pembeli untuk melihat rumah. Jika semuanya berjalan lancar, toko dan rumahnya bisa dijual setelah Tahun Baru.
Jiang Mu baru tersadar saat mendengar itu. Ia berkata dengan sulit menerima, "Kamu mau menjual rumah? Untuk apa?"
Jiang Yinghan tidak menyangka putrinya akan bereaksi begitu keras. Ia hanya menjelaskan, "Kali ini aku ke rumah Paman Chris, lingkungan di sana bagus, udaranya segar, dan pergi ke pusat kota dengan mobil juga mudah. Sangat cocok untuk pensiun nanti. Tinggal di sana nyaman. Karena aku sudah memutuskan untuk menetap di Melbourne, aku juga perlu uang di tangan."
Jiang Mu cemas, "Kalau rumahmu dijual, bagaimana kalau suatu hari nanti..."
Jiang Mu melirik Chris dan tiba-tiba berhenti bicara. Jiang Yinghan bisa menebak apa yang ingin Jiang Mu katakan dan menatapnya tajam sebagai peringatan.
Chris tampaknya mengerti situasi. Ia berdiri dan berkata bahwa ia akan bertanya ke lobi apakah hotel memiliki kolam renang—ia memiliki kebiasaan berenang setiap hari.
Begitu Chris pergi, Jiang Mu tidak tahan lagi dan langsung bertanya, "Ibu, kenapa kamu menjual rumah? Kamu baru kenal dia berapa lama? Kalau rumahmu dijual dan kamu tidak bahagia di sana, kamu akan tinggal di mana?"
Jiang Yinghan hanya menjawab, "Itu bukan urusanmu. Urus saja belajarmu."
"Aku tidak setuju."
Di mata Jiang Mu, ibunya tidak hanya mencari pria asing yang tidak diketahui latar belakangnya, tapi setelah pergi ke Australia dengan pria itu, ibunya ingin menjual rumah—semua ini terasa mencurigakan. Jiang Mu bahkan curiga Chris mungkin menipu ibunya, atau mungkin menggunakan teknik manipulasi psikologis yang sedang populer.
Jiang Yinghan bersikap tegas, "Aku tahu kamu tidak suka Chris, tapi urusanku tidak perlu persetujuanmu."
Jiang Mu meletakkan sumpitnya dengan kasar. Ia merasa ibunya membuatnya kecewa. Mereka berdua hidup bersama selama sembilan tahun, dan sekarang hanya karena Chris, ibunya seolah menganggapnya orang asing dan tidak peduli dengan pendapatnya, bersikeras menjual rumah.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Kali ini aku pergi ke Australia untuk melihat situasi di sana. Jika cocok, aku memang berencana pulang dan menjual rumah. Membawamu kembali ke Suzhou untuk merayakan Tahun Baru juga karena ini adalah kesempatan terakhir bagi keluarga untuk berkumpul di rumah sebelum dijual."
Jiang Mu menjawab dengan nada tidak enak, "Kamu tidak pernah berpikir bahwa setelah rumah dijual, kita tidak punya rumah lagi? Kalau aku tidak pergi ke luar negeri, aku akan tinggal di mana?"
Jiang Yinghan menekankan, "Aku menjual rumah, bukan berarti aku tidak peduli padamu. Nanti, apakah kamu ikut denganku ke Melbourne atau tetap kuliah di dalam negeri, kamu akan tinggal di asrama. Setelah lulus dan memutuskan di mana ingin tinggal, aku akan memberimu sejumlah uang. Kamu tidak perlu khawatir."
Jiang Mu menjawab dengan cemas, "Aku tidak peduli dengan uangmu! Aku khawatir kamu ditipu Chris."
Setelah mendengar kekhawatiran putrinya yang sebenarnya, Jiang Yinghan marah, "Aku tidak ingin mendengar kata-kata seperti itu lagi. Topik ini selesai. Bahasa Mandarin Chris tidak fasih, tapi dia bukan tuli. Kamu harus lebih berhati-hati."
Setelah mengatakan itu, Jiang Yinghan mengambil gelas minumnya dan menatap ke luar jendela. Area sekitar Stasiun Kereta Tonggang selalu ramai dan kacau. Becak motor berkelompok berhenti di pinggir jalan menawarkan jasa kepada para pelancong yang membawa barang bawaan. Di bawah papan reklame yang berdebu, uap panas mengepul dari kukusan. Pejalan kaki yang lewat semuanya terbungkus tebal seperti lontong. Ada juga yang mengenakan jaket kapas tua dan berbelanja untuk Tahun Baru. Di jalan, sisa-sisa kembang api dari malam sebelumnya berserakan, diinjak-injak orang, dan terbawa angin ke mana-mana. Sesekali, mobil-mobil tua yang sudah lama tidak diproduksi melintas. Tidak ada sedikit pun suasana kota modern—semuanya terasa padat, kacau, dan berisik. Seluruh jalan dipenuhi dengan kehidupan kota kecil.
Jiang Yinghan, mengenakan mantel kasmir lembut, menatap keluar jendela. Matanya melayang tanpa arah. Jiang Mu tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Namun saat itu, Jiang Yinghan meletakkan gelasnya dan menatap seorang pria di seberang jalan. Tiba-tiba ia berdiri dan berkata, "Apakah itu Jin Chao?"
Mendengar itu, Jiang Mu segera menoleh. Pria di seberang jalan telah berbalik saat Jiang Yinghan melihatnya. Jiang Mu hanya melihat punggung yang terburu-buru, tapi ia langsung mengenali jaket Jin Chao—jaket hitam yang masih menutupi Jin Chao pagi ini.
Bukankah Jin Chao sudah pergi dengan mobil? Kenapa dia kembali? Kenapa dia tidak memberitahunya? Kenapa dia berdiri sendirian di seberang jalan? Siapa yang dia lihat? Pasti bukan dirinya. Maka hanya ada satu kemungkinan: Jin Chao kembali untuk melihat Jiang Yinghan—dari kejauhan, dalam diam.
Gelombang besar menerjang hati Jiang Mu. Perasaan yang sulit dijelaskan mendorongnya berlari keluar restoran. Tapi di pinggir jalan, bayangan Jin Chao sudah tidak ada.
Jiang Yinghan menyusul dan bertanya dengan tajam, "Bagaimana dia tahu kita menginap di sini?"
Mata Jiang Mu masih mencari ke seberang jalan, "Dia yang mengantarku ke sini."
Suara Jiang Yinghan menjadi lebih keras, "Kenapa kamu bersamanya? Bukankah ayahmu berjanji padaku bahwa selama kamu di sini, dia tidak akan tinggal di rumah itu?"
Jiang Mu perlahan menurunkan pandangannya dan menatap ibunya, "Kenapa? Kenapa dia tidak boleh tinggal di sana?"
Jiang Yinghan berkata dengan tegas, "Manakah ada gadis sebesar kamu tinggal satu rumah dengan pemuda? Lebih baik kamu menjauh darinya."
Jiang Mu tidak bisa menerima, "Kenapa kamu seperti ini? Dia Jin Chao!"
Jiang Yinghan tidak menyangka putrinya akan bereaksi sekuat ini. Ia berkata dengan nada tajam, "Sebelum datang, aku sudah bilang padamu—dia bukan kakakmu, tidak ada hubungan darah denganmu. Kamu sudah cukup besar untuk memahami maksudku. Dia bukan orang baik sekarang."
Dada Jiang Mu terasa sesak, matanya merah, "Kenapa kamu bicara begitu tentang dia? Entah dia ada hubungan darah denganku atau tidak, dia bukan orang asing!"
Jiang Yinghan mendengus dingin. Melihat putrinya begitu emosional membela pemuda itu, ia menahan kata-katanya, tapi akhirnya tetap mengucapkan kata-kata kejam, "Dia mantan narapidana."
Angin bertiup, udara terasa dingin.
Jiang Yinghan berkata tanpa ampun, "Kamu tahu dia pernah masuk penjara? Masih bilang bukan orang asing? Keluarga kita tidak pernah punya penjahat seperti itu."
Bulu mata Jiang Mu bergetar. Suaranya keluar pelan dari tenggorokannya, "Aku tahu."
Jiang Yinghan terkejut, "Kamu tahu? Ayahmu yang memberitahumu? Kalau kamu tahu, kenapa masih bergaul dengannya? Apa kamu tidak punya akal?"
Jiang Mu menahan isak di tenggorokannya, seperti akan meledak sewaktu-waktu. Ia berkata dengan tegas, "Dia bukan narapidana!"
Jiang Yinghan tidak menyangka putrinya akan membela Jin Chao sebegitu rupa meskipun tahu masa lalunya. Ia langsung marah dan meninggikan suaranya, "Kalau bukan narapidana, apa? Sudah lama aku bilang anak ini tidak akan tumbuh dengan baik. Sejak kecil dia berani, tidak takut pada apa pun—pasti akan berbuat onar. Dulu dia menelepon ke rumah berulang kali, dan aku sudah memperingatkannya—aku tidak ingin kalian berhubungan. Dan apa yang terjadi? Bukankah tebakanku benar? Setelah kejadian mengerikan itu, ayahmu masih punya muka untuk menghubungiku dan meminjam uang untuk menyelamatkannya dari penjara. Sungguh keterlaluan! Aku bilang, anak seperti itu harus masuk penjara, biar belajar, kalau tidak, dia tidak akan pernah tahu takut!"
Angin dingin bertiup, pepohonan meranggas. Rasa dingin yang menusuk seperti pisau menancap di wajah Jiang Mu. Ia terdiam di tempat, menatap Jiang Yinghan, "Apa katamu?"
Jiang Yinghan merapikan mantelnya dan berkata, "Masuk."
Jiang Yinghan berbalik dan berjalan menuju hotel. Jiang Mu berlari mengejar dan menghalangi jalannya, "Dia pernah menghubungiku? Apa yang kamu katakan padanya?"
Jiang Yinghan menjawab dengan tidak sabar, "Apa yang bisa aku katakan? Aku menyuruhnya menjaga jarak. Kamu sudah SMP, bukan anak kecil lagi. Apa pantas?"
Jiang Mu menggigit giginya erat-erat, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Napasnya semakin cepat, "Setelah Jin Chao ditangkap, ayah menghubungimu? Kenapa kamu tidak membantunya?"
"Bagaimana aku bisa membantunya? Katanya harus bayar seratus ribu yuan kepada keluarga itu agar mereka mencabut tuntutan. Pertama, saat ayahmu dan aku bercerai, dia bahkan tidak meninggalkan seratus ribu untukku. Setelah pergi, bertahun-tahun tidak pernah memberiku uang nafkah. Aku membesarkanmu sendirian, dan sekarang dia malah minta uang untuk membersihkan kekacauan anak itu? Tidak ada hal seperti itu!"
Darah Jiang Mu mendidih. Ia meledak, "Tapi kalau kamu membantunya saat itu, dia bisa mengikuti ujian masuk! Dia tidak akan—"
"Kenapa aku harus membantunya?" Jiang Yinghan memotong dengan tegas. "Aku sudah bilang pada ayahmu saat itu—dia berbuat salah dan harus menerima hukuman. Itu pelajaran baginya."
"Kalau aku?" Wajah Jiang Mu pucat, bibirnya gemetar. "Kalau aku yang berbuat salah, dan kamu tahu kamu bisa menyelamatkanku, apakah kamu akan tetap membiarkanku masuk penjara?"
Jiang Yinghan menjawab dengan tegas, "Kamu adalah putriku. Apa dia aku yang mengandungnya sembilan bulan? Atau aku punya kewajiban apa padanya? Aku katakan padamu, sampai sekarang dia masih punya banyak tuntutan ganti rugi yang belum dibayar. Jauh-jauh darinya!"
Setelah mengatakan itu, Jiang Yinghan berbalik dan melangkah cepat ke dalam hotel. Angin dingin menerpa dari segala arah. Jiang Mu tetap berdiri di tempat, dihantam oleh berbagai kenangan yang membanjiri pikirannya.
"Aku tidak kecewa padamu. Jika ada, hanya satu alasan—kamu memutuskan hubungan denganku."
"Bagaimana mungkin kamu mengerti? Jika kamu mengerti, kamu tidak akan bertahun-tahun tidak mau kembali menemuiku."
"Jadi... itu alasanmu tidak pernah kembali? Kamu menyalahkanku? Menyalahkan ibu karena membuat ayah pergi tanpa apa-apa? Kamu membenci ibu, kan?"
Menghadapi pertanyaan-pertanyaannya, ekspresi samar Jin Chao, diamnya Jin Chao yang penuh makna, senyum pahit di sudut bibir Jin Chao—setiap detail membesar di benak Jiang Mu. Pada saat ini, ia seolah memahami semuanya.
Jin Chao tidak pernah membela diri. Meskipun ia berulang kali menyalahkan Jin Chao karena ingkar janji, Jin Chao tidak pernah menjelaskan sepatah kata pun. Karena dia tahu Jiang Mu sangat peduli dengan hal ini—jika dia mengungkapkan kebenaran, Jiang Mu akan menyalahkan ibunya.
Meskipun demikian, Jin Chao tetap memilih untuk menjaga hubungan harmonis antara Jiang Mu dan ibunya. Jika sebelumnya Jiang Mu tidak mengerti mengapa Jin Chao melakukan itu, setelah melihatnya berdiri di seberang jalan hanya untuk menatap Jiang Yinghan sekilas dari kejauhan, ia tiba-tiba mulai mengerti.
Jin Chao baru berusia dua tahun lebih saat dibawa ke rumah Jin Qiang. Pada usia itu, meskipun dia sudah bisa mengenali orang dan tahu bahwa Jiang Yinghan bukan ibu kandungnya, dia masih sangat kecil—baru mulai memahami dunia. Pernahkah dia terbangun di malam hari, pernahkah dia jatuh dan terluka, pernahkah dia bergantung pada orang dewasa? Sebelum Jiang Mu lahir, Jiang Yinghanlah yang membesarkan Jin Chao. Jiang Yinghan adalah satu-satunya figur perempuan dalam kehidupan Jin Chao, dari masa kanak-kanak hingga remaja. Jiang Yinghan berada di sisinya selama sepuluh tahun penuh. Jiang Mu tidak pernah memikirkan perasaan Jin Chao terhadap Jiang Yinghan. Namun pada saat ini, ia seolah merasakan kepahitan dan pergulatan yang telah menghantui Jin Chao selama bertahun-tahun.
Zhao Meijuan tidak bisa menggantikan itu. Jiang Yinghan adalah sosok yang unik di masa kecil Jin Chao yang paling rapuh—Jiang Yinghan memberi Jin Chao satu-satunya gambaran tentang seorang ibu. Dulu, Jiang Yinghan juga adalah ibunya Jin Chao!
Ketika Jiang Mu merindukan ayahnya dan berharap ada sosok yang bisa berada di sisinya, bukankah Jin Chao juga pernah berharap ibunya bisa ada di sisinya?
Jiang Mu mendongak, air mata mengalir dari sudut matanya. Langit dipenuhi awan kelabu tebal yang tidak berujung, menekan dadanya.
PESAN PENULIS:
"Melihat komentar, ada yang bilang adiknya tidak mengerti, ada yang tidak mengerti kenapa kakaknya mengambil risiko. Mereka bilang si adik seharusnya tidak begini, si kakak seharusnya tidak begitu. Semua harus dilihat dari sudut pandang karakter. Membaca novel bukanlah tentang melihat kehidupan orang lain? Seribu orang, seribu wajah. Jika semua karakter berbicara dan bertindak dengan pola pikir yang sama, apa gunanya? Lebih baik aku menulis otobiografiku sendiri? Tapi otobiografiku tidak menarik—hanya berisi hotpot, sate, barbekyu, dan tidur. Ah, aku melantur. Intinya, menyuruh gadis berusia 18 tahun yang tumbuh di menara gading untuk menjadi bijaksana, atau menyuruh pria yang telah melalui banyak hal untuk tanpa curiga menceritakan segalanya kepada semua orang—itu konyol.
Aku tahu semua orang ingin melihat jalur cinta, tapi buku ini bukan hanya tentang cinta. Ada banyak jenis emosi, termasuk hal-hal yang lebih besar untuk dinikmati nanti. Mengenai jalur ibu ini, jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. Ikuti saja aku terus (di sini aku menghilangkan spoiler sepanjang 10.000 kata)."
Catatan Penerjemah:
[IELTS adalah singkatan dari International English Language Testing System. Ini adalah tes kemampuan bahasa Inggris yang paling populer dan diakui secara internasional. Tes ini digunakan untuk berbagai keperluan, terutama oleh orang-orang dari negara non-Inggris yang ingin : Studi: Melanjutkan pendidikan di universitas atau institusi akademis di negara-negara berbahasa Inggris (S1, S2, S3). Karir: Mencari pekerjaan atau mengikuti pelatihan di lingkungan profesional yang menggunakan bahasa Inggris. Imigrasi: Memenuhi persyaratan bahasa Inggris untuk mengajukan visa dan tinggal di negara-negara seperti Australia, Kanada, Inggris, dan Selandia Baru.]
Komentar
Posting Komentar