Speed and Love-Bab 35

Pada masa SMP, Pan Kai pernah sangat kecanduan bermain game balap motor di mesin arcade. Tapi game tidak bisa menandingi sensasi nyata. Begitu mendengar ada hal serumit dan seseru pelacakan, dia langsung meluncur ke tempat Jiang Mu. Jiang Mu sudah siap lengkap menunggu di bawah. Ia menerima helm dari Pan Kai, naik ke boncengan motor, lalu berkata, "Kamu bawa dulu, nanti aku kasih tahu arahnya."

Pan Kai menjawab dengan penuh semangat, "Siap, serahkan padaku!"

Melihat gaya Pan Kai, Jiang Mu dalam hati berpikir, "Ini pasti aman."

Namun begitu motor berbelok ke jalan, Jiang Mu langsung ciut. Ia sudah merasakan kecepatan dan teknik Jin Chao. Tiba-tiba naik motor yang di kendarai oleh Pan Kai, melihat sepeda listrik lewat di samping mereka, ia berkata dengan kesal, "Motormu kehabisan bensin, kenapa sangat lambat?"

Pan Kai menjawab dengan malu, "Aku jarang naik motor. Biarkan aku menyesuaikan dulu."

Jiang Mu melihat titik merah di layar yang semakin menjauh dan semakin cemas. Tapi Pan Kai tidak sanggup melaju cepat. Baru setelah keluar dari kota, Pan Kai berani menambah kecepatan sedikit. Untungnya, saat tiba di pinggiran timur, titik merah itu berhenti dan tidak bergerak lagi.

Jiang Mu memperbesar peta dan menunjukkannya kepada Pan Kai, "Ini tempat apa?"

Pan Kai heran, "Di sana tidak ada apa-apa. Itu tanah kosong. Ke sana untuk apa?"

Semakin dekat dengan titik merah, Jiang Mu mengingatkan Pan Kai, "Kamu pelan-pelan, jangan sampai ketahuan."

Pan Kai menjawab dengan percaya diri, "Tenang."

Jumlah orang dan kendaraan di jalan semakin berkurang. Mengikuti navigasi, mereka memasuki jalan besar baru yang sepi tanpa satu pun orang. Sepanjang jalan terbuka lebar. Pan Kai tiba-tiba bersemangat seperti kuda liar yang lepas kendali, tidak mau berhenti. Angin dingin berhembus keras, memberinya perasaan seperti pembalap sejati yang membuatnya larut dalam kegembiraan. Karena itu, ketika ia melihat sebuah mobil dengan lampu menyala di pinggir jalan besar, ia berteriak, "Jiang Jiang, lihat! Di sana ada GT-R!"

"..."

Di tengah teriakan Pan Kai, Jiang Mu melihat mobil hitam sederhana di bawah cahaya malam. Jalan beraspal tampaknya baru saja selesai dibangun—tidak ada lampu jalan atau pepohonan di kedua sisinya. Mobil itu terparkir di pinggir jalan dengan lampu utama menyala. Jiang Mu langsung melihat Jin Chao bersandar di pintu mobil, sebatang rokok di bibirnya. Percikan api merah menerangi malam yang gelap, dan tatapannya yang samar menatap ke arah mereka dari kejauhan. Lalu Pan Kai, si bodoh itu, melaju melewati Jin Chao.

Melewati! Jin Chao!

Jiang Mu sangat terkejut. Ia menyusut di belakang Pan Kai, menutupi wajahnya dengan tangan, dan menggerutu, "Bukannya aku bilang pelan-pelan jangan sampai ketahuan?"

Pan Kai malah melihat sekeliling dengan waspada, "Hah? Kita ketahuan?"

Dua kali klakson mobil berbunyi dari belakang. Pan Kai berhenti dan menoleh. Ia melihat ponselnya, lokasi sudah tepat. Tiba-tiba ia tersentak, "Wah, kita ketahuan!"

"..." Untungnya ini bukan perang, kalau tidak mereka sudah tewas.

Jiang Mu berkata dengan kesal, "Pulang."

Awalnya hanya perlu berbalik arah, tapi Pan Kai tampaknya tidak bisa melakukannya dengan mudah. Pan Kai terpaksa memutar jauh di jalan kosong yang sepi sebelum kembali mendekati GT-R itu.

Begitu mendekat, Pan Kai baru mengenali Jin Chao. Ia berseru dengan antusias, "Kakak Jiu, ternyata kamu! Wah, kebetulan sekali!"

Saat itu, Jiang Mu hanya ingin mencekik Pan Kai. Jin Chao mengerutkan kening. Melihat Pan Kai semakin mendekat tanpa niat mengurangi kecepatan, ia mengingatkan, "Rem!"

Pan Kai seperti baru sadar, dia mengerem mendadak. Tidak terlalu berhasil menghentikan motor. Jin Chao mengangkat kaki kanannya dan menahan roda depan motor Pan Kai, membantunya. Motor berhenti hanya satu meter dari GT-R.

Jiang Mu terdorong ke depan karena pengereman mendadak. Secara refleks, ia mengangkat kedua tangannya dan menepuk punggung Pan Kai. Pan Kai terhuyung ke depan, membungkuk tepat di depan Jin Chao—seperti membungkuk sembilan puluh derajat.

Jin Chao menurunkan kakinya dan berkata dengan santai, "Jangan sujud. Aku tidak punya uang."

Pan Kai segera menegakkan tubuh dan tersenyum canggung, "Aku punya, aku punya! Kakak Jiu mau makan apa, aku traktir."

Jin Chao mengabaikan Pan Kai dan menatap Jiang Mu. Jiang Mu semakin malu. Ekspresinya kaku, "Kalau aku bilang aku dan Pan Kai keluar mencari tempat makan sate, apa kamu percaya?"

Jin Chao perlahan mengeluarkan ponsel lama dari saku celananya dan memutarnya di tangannya. Jiang Mu hampir pingsan. Ia mendengar Jin Chao berkata, "Turun."

Jiang Mu turun dari motor Pan Kai, melepas helm dan mengembalikannya pada Pan Kai. Ia berjalan mendekati Jin Chao dengan wajah bersalah, seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah. Jin Chao mengangguk ke arah mobil, "Naik."

Jiang Mu berjalan ke kursi penumpang dan membuka pintu. Ia melihat Jin Chao berdiri di luar berbicara dengan Pan Kai. Pan Kai mengangguk-angguk, lalu membungkuk melambai ke arah Jiang Mu, dan perlahan-lahan pergi dengan motornya.

Jin Chao melihat Pan Kai pergi dengan gaya oleng, lalu menggelengkan kepala. Ia membuka pintu dan masuk ke mobil. Ia menoleh, matanya yang gelap menatap Jiang Mu dengan tekanan yang menyengat. Jiang Mu diam-diam memalingkan muka. Jiang Mu mendengar Jin Chao berkata, "Hanya butuh setengah jam, tapi aku menunggu lebih dari satu jam. Kamu benar-benar berani naik motor dengannya."

Dengan perasaan bersalah, Jiang Mu mengalihkan pandangan ke luar jendela, "Kamu tahu itu aku?"

"Tidak."

Jin Chao menyalakan mesin mobil, "Jadi aku menunggu di sini untuk melihat siapa yang datang."

Jin Chao menatap Jiang Mu dengan tajam, "Kamu sudah mulai berani?"

Lalu Jin Chao melemparkan ponsel lama itu ke pangkuan Jiang Mu. Jiang Mu menggigit bibir, tidak bisa berkata apa-apa, wajahnya terasa panas.

Malam semakin pekat. Mobil melaju di jalan yang gelap. Meskipun lampu utama menyala, jalan di depannya tetap gelap gulita—masa depan yang tidak bisa diterangi, ujung yang tidak terlihat, jalan yang terus ditelan kegelapan. Itulah yang dirasakan Jiang Mu tentang Jin Chao saat itu.

Tekanan di dalam mobil sangat rendah. Dada Jiang Mu terasa seperti ditimpa batu besar, sulit bernapas.

Malam yang sunyi, jalan kosong, hanya Jiang Mu dan Jin Chao di dalam mobil. Tiba-tiba Jiang Mu memberanikan diri. Ia menoleh dan berkata, "Aku dengar omongan San Lai padamu. Kamu mau melakukan hal berbahaya. Mungkin ini terdengar konyol, tapi begitu aku datang ke Tonggang dan mendengar hal itu, aku sudah tidak bisa tenang. Apa kamu tidak mengerti? Tidak mengerti kenapa aku begitu khawatir padamu? Mungkin kamu hanya menganggapku teman masa kecil. Mungkin kamu pikir aku hanya datang ke sini untuk satu tahun, dan setelah aku pergi, kita tidak ada hubungan lagi?"

Suara Jiang Mu sedikit bergetar, "Tentu saja, bagaimana mungkin kamu mengerti? Jika kamu mengerti, kamu tidak akan bertahun-tahun tidak mau kembali menemuiku. Aku menunggu sampai tahun kedua, tahun ketiga, tahun keempat—kamu tetap tidak kembali. Surat-suratku, tidak pernah kamu balas. Satu pun tidak. Dari SD ke SMP, dari SMP ke SMA, aku tahu kamu tidak akan kembali. Tapi aku masih sering pergi ke tempat kami dulu tinggal, menulis nomor kontakku di selebaran iklan di lorong, takut kalau-kalau kamu tiba-tiba kembali dan tidak bisa menemukanku.

Lama-lama aku berpikir, mungkin kamu sudah melupakanku. Aku benar-benar benci les privat dan pekerjaan rumah (pr) yang tidak ada habisnya. Tapi aku tidak bisa santai. Aku takut suatu hari kamu kembali dan melihat nilaiku buruk, kamu akan kecewa..."

Mata Jin Chao yang biasanya tidak tergoyahkan akhirnya bergetar sedikit.

Jiang Mu menarik napas dalam-dalam, emosinya memuncak, "Jadi hari ini aku datang untuk mengetahui apakah kamu aman. Kamu boleh menganggapku sok perhatian atau ikut campur. Sudah. Aku sudah mengatakan semua yang ingin aku katakan. Antar aku pulang. Aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti ini lagi."

Begitu kata-kata itu selesai, Jin Chao tiba-tiba berkata, "Pakai sabuk pengaman."

Jiang Mu baru menyadari bahwa mobil sudah melaju cepat tanpa ia sadari. Tadi mereka melaju di jalan besar, dan ia berpikir mobil ini terlihat biasa saja. Tapi sekarang suara mesin tiba-tiba meraung. Ia buru-buru menarik sabuk pengaman, belum mengerti apa yang terjadi. Jin Chao menginjak pedal gas—tenaga dorong yang kuat membuat jantung Jiang Mu langsung berdebar kencang.

Jiang Mu mengancingkan sabuk pengaman dan melihat Jin Chao dengan alis berkerut dan mata menyipit. Dari belakang, suara mesin juga meraung. Jiang Mu menoleh ke belakang dan melihat dua mobil menempel di belakang mereka. Jin Chao membanting setir, melesat dari jalan menanjak yang tandus ke jalan lain. Jiang Mu terkejut, "Ada apa?"

Wajah Jin Chao tegang, matanya tajam menatap ke depan. Jin Chao hanya berkata, "Pegang erat."

Begitu kata-kata itu keluar, Jin Chao tiba-tiba membanting setir. Mobil berbelok tajam dari jalan lurus ke sebuah lokasi konstruksi yang terbengkalai. Salah satu mobil di belakang tidak sempat bereaksi dan melaju ke depan, sementara mobil lainnya mengikuti mereka.

Tatapan Jin Chao menjadi lebih buas. Jin Chao membawa Jiang Mu melintasi medan konstruksi yang naik turun. Jiang Mu memegang erat pegangan mobil, menatap mobil di belakang dengan tegang, tidak berani berkedip.

Mereka melaju kencang sekitar sepuluh menit, sampai hampir mencapai sebuah kompleks perumahan dengan beberapa warung makan. Jin Chao membanting setir, berbalik arah, dan melewati sebuah pohon besar. Jantung Jiang Mu hampir melompat keluar dari tenggorokannya.

Jin Chao mengeluarkan ponselnya dari saku dan melemparkannya kepada Jiang Mu, "Kamu tahu apa itu navigator?"

"Tahu—tidak tahu."

"Selamat. Mulai sekarang kamu jadi navigatorku. Kode unlocknya adalah tanggal lahir kita. Cari aplikasi angka, buka pesan grup yang disematkan, dan beri tahu aku cara menuju ke sana."

Saat itu, dua mobil lain muncul dari persimpangan yang sama. Satu mobil langsung memotong di depan mereka, menghalangi jalur Jin Chao untuk membuka jalan bagi mobil lainnya. Jin Chao mulai menggerakkan kemudi ke kiri dan kanan, dan mobil di depan mengikuti. Meskipun Jiang Mu sudah memakai sabuk pengaman, tubuhnya tetap terlempar ke sana kemari. Organ dalamnya terasa bergetar. Ponsel itu hampir jatuh. Jiang Mu melihat pengemudi mobil di depan menurunkan jendela dan memberi isyarat jari tengah kepada Jin Chao. Mobil di belakang masih mengejar. Lebih parahnya, mobil di depan sengaja mengerem mendadak untuk memaksa Jin Chao berhenti. Beberapa kali hampir terjadi tabrakan—Jiang Mu berkeringat dingin. Tangannya gemetar, dua kali salah memasukkan kode. Pikirannya kosong, ia tidak mengerti apa yang terjadi.

Jin Chao mengulurkan satu tangan dan menggenggam tangan Jiang Mu erat-erat, "Jangan takut. Lakukan seperti yang aku katakan. Kamu bisa?"

Telapak tangan Jin Chao yang hangat dan kuat memberi Jiang Mu kekuatan, sedikit menenangkan hatinya. Jin Chao menekan tangan Jiang Mu sebentar lalu segera melepaskannya. Jiang Mu berusaha menenangkan tangannya dan memasukkan kode yang sudah dikenalnya. Ponsel terbuka. Ia mencari aplikasi angka dan membukanya. Benar saja, ada pesan belum dibaca di grup sementara yang baru dibuat—lebih dari dua puluh orang, semua dalam mode hening, hanya satu informasi lokasi. Jiang Mu segera membukanya. Jarak tujuan sekitar belasan kilometer.

Dengan cemas Jiang Mu berkata, "Tidak ada nama tempat yang jelas. Peta menunjukkan tanah kosong."

"Tidak apa. Beri tahu aku arahnya."

"Ke arah barat daya."

Begitu Jiang Mu selesai bicara, Jin Chao tiba-tiba berbelok tanpa aba-aba. Ponsel di tangan Jiang Mu hampir terlepas. Ia memegang ponsel dengan erat, matanya menatap layar, "Tujuan sekarang berada di arah jam tiga. Tunggu."

Jiang Mu segera memperbesar peta, "Empat ratus meter ada jalan, belok kanan."

Begitu kata-kata itu keluar, Jin Chao sudah membelok ke jalan yang dimaksud. Mobil di belakang masih mengejar. Jin Chao berkata, "Jarak, sudut tikungan."

"Lima belas kilometer, arah timur laut, sudut empat puluh derajat. Tujuh ratus meter belok kanan."

"Pelajaran geografi mu tidak sia-sia."

"Delapan kilometer, sudut barat daya, sudut empat puluh lima derajat. Lima ratus meter belok kiri, lalu belok kanan sudut lima puluh derajat."

Jiang Mu perlahan menjadi tenang. Ia tidak lagi peduli dengan situasi di luar. Dengan dua jari, ia terus memperbesar dan memperkecil peta. Semua panca indranya bekerja, tidak berani lengah sedetik pun, "Perhatikan sekitar delapan ratus meter ada... ada sesuatu. Ada tiga jalan yang bisa dilalui. Jaraknya hampir sama, tapi kondisi jalannya tidak terlihat."

"Pilih satu."

Jiang Mu mendongak dan melihat ke belakang. Mobil itu masih mengikuti mereka, semakin dekat. Tangan dan kakinya mati rasa, tapi kesadarannya justru menjadi lebih jernih. Peta di benaknya berubah menjadi gambar tiga dimensi. Sebuah ide muncul, "Berkelilinglah mengitari benda itu. Saat di sisi timur, belok kanan sembilan puluh derajat langsung masuk ke jalur kedua."

"Aku ikut kata-katamu."

Jin Chao menginjak gas sampai habis. Jiang Mu menunggu momen paling krusial ini, berharap bisa menyingkirkan mobil di belakang.

Benar saja, di depan muncul sebuah bangunan terbengkalai yang tidak terlihat di peta. Jalan ini dikelilingi tembok tinggi, jarang terkena sinar matahari, dan lantainya memantulkan cahaya. Jiang Mu duduk tegak dan berteriak, "Di depan ada es!"

Jin Chao tetap tenang, mengemudi melewati benda itu. Melihat Jin Chao tidak berhenti, mobil di belakang juga mengikuti dan berputar mengelilingi bangunan itu. Tapi saat itu, Jin Chao tiba-tiba membanting setir, menarik rem tangan, dan menekan gas—gerakan yang mulus dan terlatih. Mobil meluncur ke jalur kedua. Jiang Mu bahkan tidak sempat menyadari bagaimana mereka melakukannya. Ia hanya merasakan organ dalamnya hampir terlempar keluar. Begitu masuk ke jalur, Jiang Mu segera melihat ke belakang. Dari kaca spion, ia melihat mobil di belakang kehilangan kendali di atas es dan menabrak bangunan.

Seketika, jantung Jiang Mu berhenti berdetak. Ia berteriak, "Mobil di belakang menabrak bangunan! Bagaimana?"

Jin Chao tidak berhenti, "Jarak?"

Jiang Mu masih mengulangi, "Orang itu menabrak."

"Beri tahu aku jaraknya."

Tangan dan kaki Jiang Mu terasa dingin. Tangannya yang memegang ponsel gemetar. Ia mendekatkan ponsel ke matanya dan berkata, "Keluar tikungan, arah jam sebelas, delapan ratus meter sampai tujuan."

"Dengar. Saat keluar dari tikungan, ikuti iramaku. Saat aku menghitung mundur sampai sepuluh, kamu pegang setir."

Jiang Mu hampir kehilangan nyawa. Dengan gemetar ia bertanya, "Bagaimana cara memegang setir?"

"Pakai tanganmu. Sepuluh, sembilan—"

Mobil melaju keluar dari tikungan. Jiang Mu tiba-tiba melihat sekitar tiga mobil dari berbagai arah melaju ke arah yang sama. Ia berteriak, "Jin Chao, lihat!"

"Tujuh, enam—"

Jin Chao tidak menoleh. Mobilnya melaju ke tanah berpasir. Jiang Mu hanya merasakan Jin Chao membanting setir dengan liar, ban belakang mengangkat debu pasir. Seluruh area dipenuhi debu, jarak pandang sangat buruk. Dua mobil yang melaju pelan, hanya satu yang sejajar dengan mereka.

"Tiga, dua—"

Jin Chao tiba-tiba membuka pintu pengemudi. Dengan satu kata, "Satu."

Jiang Mu langsung melompat ke kursi pengemudi dan memegang setir. Dari sudut matanya, ia melihat tangan Jin Chao memegang pintu, tubuhnya sudah menjulur ke luar. Di sebelah kiri ada dinding bata yang bobrok, dengan sebuah kantong tergantung di atasnya. Pada saat itu, semua yang terjadi di sekitarnya berubah menjadi gerakan lambat. "Gila!" itu adalah reaksi pertama Jiang Mu. Ia merasa pemandangan di depannya tidak nyata—seperti masuk ke dalam adegan film yang tidak masuk akal.

Kurang dari satu detik, Jin Chao berhasil meraih kantong itu. Saat Jin Chao hendak menutup pintu, ban melewati permukaan yang tidak rata. Mobil berguncang keras. Jiang Mu berusaha keras menjaga setir tetap stabil. Mobil melewati dinding bata. Jin Chao mengambil alih setir dan melemparkan kantong itu kepada Jiang Mu. Jin Chao mengusap kepala Jiang Mu sambil tersenyum, "Kerja bagus, gadis hebat."

Tenggorokan Jiang Mu terasa kering. Rasa takutnya belum hilang. Ia menoleh dan melihat mobil yang sejajar dengan mereka tiba-tiba berhenti, menurunkan jendela. Pengemudinya—seorang pria dengan rambut sangat pendek—memberi isyarat "enam" dengan tangannya dan tidak lagi mengejar.

Di depan, di ujung tanah berpasir, ada deretan mobil dengan lampu utama menyala terang, menerangi malam yang gelap. Jiang Mu segera menatap Jin Chao. Ekspresi Jin Chao tetap tenang. Jin Chao memperlambat laju mobil dan berkata, "Tetap di sisiku, jangan bicara sembarangan."

Jin Chao menginjak gas dan melaju ke tempat itu, lalu berhenti. Jiang Mu mengikuti Jin Chao turun dari mobil. Semua mata tertuju pada kantong yang dipegang Jiang Mu. Jiang Mu secara naluriah memeluk erat kantong itu dan berjalan cepat ke sisi Jin Chao, sambil menatap orang-orang itu dengan waspada.

Jin Chao mengambil kantong dari tangan Jiang Mu dan melemparkannya ke seorang pria yang bersandar di Ferrari dengan sorban (kain penutup kepala yang dililitkan) di kepalanya.

Pria itu menangkap kantong itu dan memberikannya kepada anak buahnya. Ia berkata, "Bukankah katanya kamu tidak datang hari ini?"

Jin Chao mengangkat bahu dengan santai, "Memangnya tidak. Tapi beberapa bocah dari kelompok Wan Shengbang melihat mobilku di jalan dan mengejarku seperti anjing gila. Mereka memaksaku masuk ke sini."

Pria bersorban itu berkata, "Kalian, urusan pribadi jangan dibawa ke aliansi untuk diselesaikan."

Jin Chao berkata dengan santai, "Aku hanya ingin cari uang. Kamu bicara saja dengan dia."

Pria bersorban itu mengamati Jiang Mu bolak-balik, lalu menatap Jin Chao, "Ini tidak sesuai aturan, You Jiu. Kamu tahu apa yang terjadi pada siapa pun yang membawa orang asing ke sini."

Jiang Mu mundur selangkah ke belakang Jin Chao dengan gugup. Namun tanpa diduga, Jin Chao langsung memeluknya dan tertawa, "Bukan orang asing. Dia wanitaku. Akhir-akhir ini dia curiga aku punya orang lain (selingkuh), katanya aku selalu pergi diam-diam di malam hari. Kalau aku terus pergi tanpa dia, dia akan putus denganku."

Sekelompok orang tertawa terbahak-bahak. Jiang Mu mendongak menatap Jin Chao, dan menemukan bahwa Jin Chao telah berubah total—wajahnya yang tajam tersenyum santai, matanya penuh pesona. Saat Jiang Mu menatapnya, Jin Chao menunduk dan bertanya, "Masih marah?"

Suara Jin Chao terdengar lembut dan membujuk, seperti pria yang sudah mahir menghadapi wanita. Jiang Mu dipeluk oleh Jin Chao, jantungnya berdetak lebih kencang daripada saat balapan tadi. Antara nyata dan palsu, ia menjadi bingung.

Seseorang berkomentar, "Tidak kusangka You Jiu bisa begitu serius dengan seorang gadis kecil sampai takut putus."

Jin Chao menatap orang itu dengan nada main-main, "Menyayanginya saja sudah tidak cukup, mana tega putus?"

Sekelompok orang tertawa lagi. Jiang Mu hanya mendengar detak jantungnya sendiri yang berdebar kencang. Jin Chao menekan bahu Jiang Mu dengan lembut. Jiang Mu menundukkan kepalanya, tubuhnya tetap kaku—tanpa tangan Jin Chao di bahunya, tubuhnya pasti sudah gemetar hebat.

Pria bersorban itu mengeluarkan sebuah amplop dari mobil dan melemparkannya ke Jin Chao, "Hibur saja pacar kecilmu."

Jin Chao menangkap amplop itu dan langsung memberikannya kepada Jiang Mu. Jiang Mu memegang amplop itu dengan tangan gemetar, dadanya terasa panas.

Seorang pria dari seberang menawarkan rokok kepada Jin Chao. Jin Chao melepaskan Jiang Mu dan menunduk untuk menyalakan rokok. Sesekali ada yang mengamati Jiang Mu—wanita dengan sepatu bot, wanita seksi yang merokok. Semuanya tampak dewasa dan memikat. Dibandingkan mereka, penampilan Jiang Mu yang polos terasa sangat tidak cocok. Perasaan malu dan tidak pada tempatnya kembali menyerangnya.

Setelah menyalakan rokok, Jin Chao mengembalikan korek api kepada pria di sampingnya, lalu meraih tangan Jiang Mu—tangan mungil dan dingin milik Jiang Mu digenggam dengan erat oleh Jin Chao. Jiang Mu merasa seperti menemukan penyelamat. Tubuhnya tanpa sadar mendekat ke Jin Chao, ia bersembunyi di sisi Jin Chao dengan ketakutan, melihat Jin Chao yang begitu lincah dan percaya diri, dengan aura preman yang santai—bisa menanggapi setiap lelucon dan candaan, sangat berbeda dari sosok Jin Chao yang tegas dan dingin di bengkel.

Sejak kecil, Jin Chao selalu menggandeng tangannya. Bertahun-tahun berlalu, telapak tangan Jin Chao menjadi lebih lebar dan kuat, dengan kapalan tipis yang mengusap punggung tangannya, diam-diam menenangkan hati Jiang Mu di tempat yang penuh orang-orang dari berbagai latar belakang ini.

Catatan Penerjemah:

[GT-R adalah singkatan dari Nissan GT-R, sebuah mobil sport legendaris asal Jepang yang juga dijuluki "Godzilla" atau "Si Naga" di dunia otomotif]

↑ Kembali ke cerita

Disclaimer: Terjemahan ini dilakukan secara sukarela untuk tujuan berbagi hobi dan apresiasi karya. Seluruh hak cipta, termasuk karakter, alur cerita, dan judul adalah milik penuh penulis asli dan penerbit. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas konten ini. Jika Anda menyukai ceritanya, dukung penulis aslinya melalui platform resmi.

Komentar