Speed and Love-Bab 21
Dua malam sebelumnya, Jin Chao selalu ada sebelum Jiang Mu tidur, sehingga ia bisa tidur dengan tenang. Tapi malam ini, di bengkel yang gelap gulita, hanya ada ia seorang diri. Saat ia mendongak, yang terlihat adalah ruang perbaikan yang kosong—rasanya pasti merinding. Untungnya, San Lai membawakan Kilat untuk menemaninya.
Kilat juga patuh. Saat Jiang Mu mengerjakan soal, Kilat tidak mengganggu. Dia hanya berbaring telentang di atas meja sambil tidur, dengan cakar mungilnya menempel di kertas ujian Jiang Mu. Jiang Mu sesekali mengelusnya, dan rasa takutnya pun perlahan hilang.
Saat malam tiba, Jiang Mu meletakkan alas anjing yang diberikan San Lai di samping tempat tidur. Kilat tidur di lantai di sampingnya. Hal ini sedikit menenangkan hatinya.
Namun setelah lampu dimatikan dan ia berbaring di tempat tidur, pikirannya kembali melayang. Awalnya ia ingin mengirim pesan ke Jin Chao untuk mengucapkan selamat malam. Tapi kemudian ia berpikir, bagaimana kalau Jin Chao tidak sendirian sekarang? Jika ia mengirim pesan, apakah itu akan merepotkan? Jika Jin Chao tidak sendirian, apa yang sedang dia lakukan saat ini?
Begitu pertanyaan itu muncul, pikirannya terus mengalir tanpa henti. Akibatnya, malam itu ia bermimpi tentang Jin Chao. Yang aneh adalah—mungkin karena pembicaraannya dengan San Lai malam tadi—dalam mimpinya, Jin Chao sedang tidak memakai baju di bagian atas. Dia berdiri di luar ruangan kecil itu sambil membersihkan kaca. Jiang Mu membuka tirai untuk melihat pinggangnya. Namun, seorang wanita yang wajahnya tidak terlihat memeluk Jin Chao dari belakang. Jin Chao melepas lapnya, berbalik, dan menggendong wanita tanpa wajah itu. Lalu dia membaringkan wanita itu di atas sesuatu yang ditutupi terpal besar.
Gambaran dalam mimpi itu terlalu kuat, sehingga saat Jiang Mu bangun keesokan paginya, ia duduk di tempat tidur cukup lama sebelum bisa pulih. Ia menganggap dirinya gadis yang berpikiran sederhana dan berjiwa murni. Ini mungkin pertama kalinya dalam hidupnya sebagai seorang gadis muda ia bermimpi dengan skala sebesar itu. Tokoh utama dalam mimpinya adalah Jin Chao dan seorang wanita tanpa wajah. Yang lebih aneh lagi, dalam mimpinya ia sangat gelisah, terus berusaha merangkak keluar melalui jendela di samping tempat tidur untuk menghentikan Jin Chao—tapi kenapa ia ingin menghentikannya, ia sendiri tidak tahu.
Melihat Jiang Mu bangun, Kilat dengan antusias menggoyangkan pantatnya dan merangkak di tepi tempat tidur, minta dielus. Jiang Mu menghela napas panjang, mengelus kepala Kilat, lalu berdiri dan membuka tirai. Matahari belum muncul, halaman belakang masih gelap gulita. Tentu saja tidak ada Jin Chao yang tanpa baju sedang membersihkan kaca. Namun saat ia hendak melepaskan tangannya dari tirai, ia tiba-tiba menyadari bahwa benda yang sebelumnya ditutupi terpal besar di halaman belakang itu sudah tidak ada. Tapi ia tidak terlalu memikirkannya. Ia menguap, turun dari tempat tidur, dan berganti pakaian.
Jin Chao tidak pulang selama dua hari. Untuk menghindari menarik perhatian, Jiang Mu menolak tawaran San Lai untuk menjemputnya. Ia bilang naik bus nomor 6 sendiri juga cukup mudah. Namun saat ia pulang, San Lai duduk di depan toko sambil makan biji bunga matahari. Setelah melihat Jiang Mu masuk ke bengkel dan mengunci pintu, barulah San Lai membawa kursinya kembali ke dalam toko dan menelepon Jin Chao, "Dia sudah sampai rumah."
Jin Chao menjawab, "Ya."
San Lai bertanya, "Kapan kembali?"
"Aku mau lihat-lihat medan dulu. Mungkin butuh dua hari lagi."
Itulah rencana Jin Chao. Tapi rencana tidak selalu berjalan sesuai harapan. Keesokan harinya, ia menerima telepon dari Guru Ma.
Saat jam belajar malam, ketua kelas Changjiang masuk ke kelas sambil membawa setumpuk pengumuman. Matanya yang sipit menyipit sambil berseru, "Guru Ma menyuruh kalian mengerjakan kertas tadi pagi. Dia sedang berbicara dengan seseorang, akan datang sebentar lagi."
Seseorang dari bangku depan bertanya, "Siapa?"
Ketua kelas Changjiang membagikan pengumuman itu dan menjawab, "Entahlah. Seorang cowok muda yang ganteng."
Kata "ganteng" langsung menarik perhatian Yan Xiaoyi. Mendengar itu, ia memaksa Jiang Mu untuk ikut ke toilet. Jiang Mu sebenarnya tidak mau, tapi tenaganya kalah kuat. Yan Xiaoyi menariknya dari kursi dan menyeretnya keluar. Begitu keluar kelas, Jiang Mu mengingatkan, "Toilet bukan di sini."
Yan Xiaoyi menjawab dengan santai, "Jalan-jalan sebentar, istirahatkan mata, bagus untuk penglihatan."
Benar saja, Yan Xiaoyi berjalan ke kantor Guru Ma. Lampu kantor menyala. Saat mereka sampai di depan pintu, ternyata tidak hanya mereka berdua—ada beberapa siswa lain yang juga mengintip dari luar. Tapi tubuh Yan Xiaoyi terlalu besar. Begitu ia berdiri di sana, bahkan tiang pun tidak bisa menutupinya. Guru Ma pasti akan melihatnya. Guru Ma langsung memanggil, "Yan Xiaoyi, tidak belajar, lihat-lihat apa di sana?"
Siswa lain langsung lari. Jiang Mu juga ingin lari, tapi Yan Xiaoyi tetap memegang lengannya sambil tersenyum pada Guru Ma, "Aku dan Jiang Mu mau ke toilet."
Jiang Mu terseret ke depan pintu kantor tanpa alasan yang jelas. Ia baru saja hendak memasang ekspresi setuju, tapi tiba-tiba ia melihat Jin Chao duduk bersila dengan santai di sofa hitam di samping Guru Ma. Saat itu, raut wajah Jiang Mu langsung membeku. Ia tidak menyangka Jin Chao yang pergi ke luar kota sudah kembali, dan bahkan muncul di kantor Guru Ma. Ia langsung merasakan firasat buruk.
Benar saja, Guru Ma melihatnya dan berkata, "Yan Xiaoyi, kamu kembali ke kelas. Jiang Mu, tunggu sebentar."
Yan Xiaoyi menatap Jiang Mu dengan ekspresi polos sambil mengangkat bahu, lalu terpaksa pergi duluan. Jiang Mu melangkah masuk ke kantor. Jin Chao masih dalam posisi yang sama. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak hitam kecoklatan di bagian atas dan celana kargo hijau keabu-abuan di bagian bawah. Warna-warna tidak mencolok itu membuatnya tampak sederhana dan rapi, dengan sedikit aura muda. Satu-satunya perbedaan dengan siswa SMA mungkin adalah cahaya tenang dan berpengalaman di matanya—yang kini tertuju pada Jiang Mu.
Di sandaran sofa di samping tangan Jin Chao, ada cangkir kertas sekali pakai. Teh di dalamnya masih mengepul.
Jiang Mu tanpa sadar meletakkan kedua tangannya di depan tubuhnya, menatap Jin Chao dengan waspada. Melihat itu, Guru Ma berkata pada Jiang Mu, "Tidak ada apa-apa. Aku tahu kamu tidak mau menghubungi ayahmu—aku mengerti. Aku hanya mengobrol sebentar dengan kakakmu. Jadi, kalau ada masalah, bicarakan dengan keluarga. Semua bisa diselesaikan dengan komunikasi yang baik. Sekarang, rapikan barang-barangmu dan pulang lebih awal hari ini."
Jiang Mu mengangguk patuh. Jin Chao perlahan berdiri dari sofa, mengambil cangkir kertas sekali pakai, menghabiskan tehnya, lalu dengan santai meremas dan membuangnya ke tempat sampah. Ia menoleh ke Guru Ma dan berkata, "Kalau begitu, aku pergi duluan."
Guru Ma tampaknya ingin menepuk pundak Jin Chao, tapi perbedaan tinggi badan mereka terlalu besar, sehingga agak sulit. Akhirnya ia hanya bisa menepuk punggung Jin Chao, sambil menghela napas, "Kamu juga, setelah pergi tidak ada kabar. Kalau tidak ada kerjaan, sering-seringlah kembali."
Jin Chao hanya mengangguk tanpa suara, tidak ada kata-kata tambahan.
Saat keluar dari kantor Guru Ma, Jin Chao awalnya ingin langsung turun dan menunggu Jiang Mu. Tapi Jiang Mu berkata, "Kelas ku di sana, harus lewat dari depan."
Lalu Jiang Mu tiba-tiba teringat sesuatu, "Kamu pasti lebih tahu dari aku. Aku ambil barang dulu, tunggu aku."
Jin Chao pun menemani Jiang Mu kembali ke kelas. Jika bukan karena telepon dari Guru Ma hari ini, jika bukan karena gadis di sampingnya, ia tidak bisa membayangkan ada hal lain yang membuatnya kembali ke sini. Melihat gedung sekolah yang akrab, Jin Chao terus diam.
Jiang Mu beberapa kali mencoba membaca ekspresinya Jin Chao, tapi dari wajahnya ia sama sekali tidak bisa menebak apa pun. Mereka berdua berjalan melewati koridor tanpa sepatah kata pun. Saat melewati kelas 3-1, Zhang Fan yang bermata tajam melihat Jin Chao. Ia berteriak dari balik jendela, "Kakak Jiu!"
Jin Chao mengerutkan kening dan melirik ke samping. Bulu matanya yang lebat menaungi mata dalamnya yang dingin dan jernih. Sekilas pandang itu membuat seluruh kelas 3-1 bergemuruh. Banyak siswa berdesakan di dekat jendela bertanya kepada Zhang Fan siapa orang itu.
Zhang Fan dengan penuh semangat berkata, "Dia adalah Tou Qi yang legendaris! Kalian benar-benar masih polos, tidak tahu apa-apa. Dia sekelas dengan kakakku!"
Di bawah penggambarannya yang sangat dramatis, dalam waktu kurang dari sepuluh menit, berita itu sudah menyebar dari kelas 3-1 ke beberapa kelompok chat angkatan di berbagai kalangan.
Jadi ketika Jiang Mu kembali ke kelasnya, sudah banyak siswa dari kelas 3-5 dan 3-6 yang mengintip dari luar. Ia melipat kertas ujian di mejanya dengan rapi dan memasukkannya ke dalam tas. Jin Chao berdiri di luar pintu belakang kelas 3-6. Lampu koridor redup, dan bayangannya menyatu dengan cahaya setengah gelap itu, tinggi dan tegap.
Yan Xiaoyi tidak tahan untuk melirik beberapa kali, lalu bertanya pada Jiang Mu, "Kamu kenal dia?"
Jiang Mu mengangguk dan berkata, "Aku pulang duluan. Guru Ma sudah tahu."
Lalu ia melirik Jin Chao di luar pintu belakang. Jin Chao berdiri diam di sana, kedua tangannya bertumpu pada pagar pembatas, matanya menatap ke suatu tempat di bawah. Tiba-tiba, perasaan yang sangat akrab muncul di hatinya.
Dulu, saat ia masih kecil, Jin Chao selalu pulang lebih lambat darinya. Ia ingat suatu masa ketika Jiang Yinghan sibuk dengan pekerjaannya, dan ia selalu menunggu Jin Chao di sekolah sambil mengerjakan PR. Jika ia selesai lebih cepat, ia akan mengenakan tasnya dan pergi ke pintu belakang kelas Jin Chao untuk menunggunya.
Saat itu, wali kelasnya Jin Chao adalah seorang guru bahasa Mandarin yang suka memperpanjang jam pelajaran. Suatu kali, saat jam kegiatan kelas, guru itu menggunakan waktunya untuk membahas kertas ujian. Bel sudah berbunyi lama tapi dia belum juga selesai. Tiba-tiba, Jin Chao berdiri di tengah perhatian seluruh kelas dan bertanya pada gurunya, "Kapan pelajaran selesai?"
Guru itu terkejut dengan pertanyaan Jin Chao dan menegurnya, "Kamu buru-buru apa? Tidak lihat semua orang di sini serius mendengarkan? Ada urusan penting apa sampai harus pulang cepat?"
Jin Chao melemparkan tasnya ke pundak dan menjawab dengan datar, "Adikku masih menungguku. Dia akan lapar."
Lalu, di depan seluruh kelas, Jin Chao membuka pintu belakang, meraih tangan Jiang Mu, dan pergi begitu saja.
Pemandangan itu sangat membekas di hati kecil Jiang Mu. Sebagai siswa SD, ia masih sangat menghormati—bahkan sedikit takut—pada guru. Tapi Jin Chao berani berdiri melawan guru yang memperpanjang pelajaran hanya untuknya. Untuk waktu yang lama, di matanya, Jin Chao adalah seorang pahlawan yang pemberani.
Tapi keadaan berubah. Ia tidak pernah menyangka bahwa suatu hari, Jin Chao akan berdiri di pintu belakang kelasnya untuk menjemputnya pulang.
Gerakan Jiang Mu saat membereskan barang menjadi lebih ringan. Ia menyandang tas dan keluar melalui pintu belakang. Pan Kai memanggilnya dengan tergesa, "Jiang Jiang, kamu..."
Belum selesai bicara, Jin Chao menoleh dan menatap Pan Kai dari luar pintu dengan tatapan dingin. Dalam sekejap itu, otak Pan Kai kosong—ia lupa apa yang ingin ia katakan.
Jin Chao dengan santai menarik tas dari pundak Jiang Mu dan bertanya untuknya, "Ada perlu?"
Pan Kai menggeleng, "Tidak, tidak. Dadah, Jiang Jiang."
Jin Chao berbalik dan pergi bersama Jiang Mu, meninggalkan sekelompok siswa yang bingung.
Saat melewati kelas 5-2, Jin Chao melirik sekilas ke guru fisika yang sedang berdiri di podium. Guru itu sedang berbicara dengan penuh semangat. Saat dia menoleh dan melihat bayangan Jin Chao melintas di luar jendela, suaranya tiba-tiba terhenti. Jin Chao menunduk dan mempercepat langkahnya. Jiang Mu mengikuti Jin Chao dari belakang menoleh untuk melihat pria paruh baya itu—tatapan Guru Fisika itu penuh kebingungan dan kerumitan, tertuju pada punggung Jin Chao.
Saat turun, Jiang Mu bertanya, "Apakah guru tadi mengenalmu?"
Jin Chao menjawab dengan singkat, "Ya."
Saat melewati etalase, Jiang Mu menarik lengan Jin Chao. Jin Chao memperlambat langkahnya. Jiang Mu menunjuk ke foto estafet di lomba olahraga dan bertanya, "Akhirnya menang?"
Pandangan Jin Chao mengikuti jarinya ke foto itu. Ketenangan di matanya terganggu oleh gambar di depannya. Jiang Mu menatap Jin Chao dari samping. Hanya satu detik, lalu ia sudah menarik kembali tatapannya, "Lupa."
Jin Chao berjalan menuju ujung koridor yang lain. Kegelapan malam mengembalikan ketenangan ke sekolah, mengubur semangat dan perjuangan masa mudanya bersama-sama.
Jiang Mu menatap punggung Jin Chao. Ia yakin dalam hati Jin Chao, saat ini tidak tenang. Tempat ini adalah persimpangan jalan hidupnya—terhenti tepat di ambang pintu menuju universitas terbaik. Siapa pun akan sulit menerima kenyataan itu.
Mengingat bahwa setiap kali dia datang ke SMA Afiliasi, dia selalu memakai topi dan bersembunyi di seberang jalan yang tidak mencolok—apakah itu karena dia tidak ingin merepotkan dirinya sendiri dengan dikenali orang, atau karena dia sama sekali tidak ingin menghadapi semua yang ada di sini?
Jantung Jiang Mu tiba-tiba berdegup kencang. Ia berlari kecil mengejar Jin Chao dan menarik ujung lengan bajunya. Jin Chao menunduk dan menatap tangan Jiang Mu yang menggenggam erat. Jiang Mu memalingkan wajahnya sambil bergumam, "Takut jatuh, biarkan aku memegang mu sebentar."
Jiang Mu sendiri tidak tahu mengapa ia ingin menarik Jin Chao. Hanya saja, melihat punggung Jin Chao yang sendirian, pada saat ini, ia tidak ingin melepaskan Jin Chao.
Komentar
Posting Komentar