Speed and Love-Bab 19

Jiang Mu mengikuti Jin Chao melewati gang-gang gelap satu demi satu. Setelah keluar dari gang, ternyata mereka berada tepat di seberang bengkel mobil. Ia tidak menyangka SMA Afiliasi begitu dekat dengan bengkel, tapi jika disuruh mengulangi jalan itu sendirian, ia pasti tidak akan ingat jalannya.

Di depan toko milik San Lai, sebuah lampu dipasang. San Lai duduk di sana minum-minum bersama seorang pria. Saat Jiang Mu mendekat, barulah ia menyadari bahwa pria yang minum bersama San Lai adalah Jin Fengzi. Jin Fengzi melihat Jin Chao membawa Jiang Mu kembali, lalu tersenyum pada Jiang Mu, "Kamu pergi ke mana tadi? Ternyata menjemput si cantik kecil pulang sekolah."

Jin Chao menepuk tengkuk Jin Fengzi dengan kuat, "Datang sendiri?"

Jin Fengzi tertawa sambil menundukkan kepalanya, "Bukan. Coba tebak aku datang dengan siapa?"

Ekspresinya licik. Jin Chao tidak mempedulikannya dan langsung membawa tas sekolah Jiang Mu masuk ke dalam. San Lai memanggil Jiang Mu, "Lapar? Makan dulu sebelum belajar."

Jiang Mu melihat meja penuh dengan lucai (masakan rebus khas China). Kelihatannya enak. Sejak datang ke sini, ia belum pernah mencoba hidangan seperti ini. Ia pun berkata pada San Lai, "Aku cuci tangan dulu."

Jin Fengzi menoleh ke arah Jiang Mu, lalu bertanya pada San Lai, "Jadi dia tinggal di sini sekarang?"

San Lai mengangkat gelasnya sambil tersenyum, tidak mengiyakan juga tidak membantah.

Begitu Jiang Mu membuka keran, ia melihat sebuah mobil sport berwarna merah marun yang mencolok berhenti di pinggir jalan. Seorang wanita dengan rambut merah dan rok mini turun dari mobil.

Jiang Mu melirik sebentar lalu kembali membasuh tangannya. Ia mematikan keran. Saat ia mengangkat kepalanya lagi, wanita berambut merah itu sudah berdiri di hadapannya. Wanita itu mengamati Jiang Mu dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan angkuh, lalu bertanya dengan nada main-main, "Jadi kamu si cantik kecil yang mereka bicarakan? Kamu kenapa bisa dekat dengan Jin Chao?"

Jiang Mu mengibaskan air di tangannya dan menjawab, "Aku dan dia bukan hubungan seperti itu. Kamu siapa?"

Wanita itu memakai bulu mata palsu dan riasan tebal. Matanya yang sipit memberinya ciri khas tersendiri. Sekilas dia terlihat seperti ratu jalanan. Wanita itu menyerahkan sebuah tas kertas kepada Jiang Mu dan berkata, "Coba tebak. Pegang ini."

Jiang Mu menerima tas itu dengan bingung dan berdiri di samping. Wanita berambut merah itu membuka keran dan mulai mencuci tangannya sendiri. Saat dia membungkuk, atasan pendeknya naik, memperlihatkan tato seksual di pinggangnya—seekor naga tipis berwarna biru melingkar.

Jiang Mu tiba-tiba teringat sebuah nama, dan tanpa berpikir ia berkata, "Kamu adalah Ular Hijau Kecil?"

Wanita berambut merah itu mematikan keran dan menoleh, menatap Jiang Mu dengan sudut matanya, "Ular Hijau Kecil? Ini naga, bodoh!"

"Naga." Wanita bahkan membuat ekspresi mengancam ke arah Jiang Mu. Mata Jiang Mu membelalak, ia mundur selangkah sambil memeluk tas di tangannya erat-erat, menatap wanita itu dengan ekspresi heran dan takut. Rambut pendeknya menempel di wajahnya yang lembut, membuatnya terlihat seperti kelinci yang lucu dan waspada.

Melihat reaksi Jiang Mu, Wan Qing langsung tertawa terbahak-bahak. Ia merangkul bahu Jiang Mu dan mengaitkan dagunya, "Si kecil yang lucu, namaku Wan Qing. Kamu?"

Kehangatannya datang seperti angin puting beliung—membuat Jiang Mu sulit menghindar. Jiang Mu menjawab dengan kaku, "Jiang Mu."

"Jiang kecil, apa hubunganmu dengan You Jiu?"

Jiang Mu lagi-lagi menatap Wan Qing dengan penuh tanda tanya. Wan Qing yang mudah berubah-ubah ini tiba-tiba menarik Jiang Mu ke pintu bengkel, menekannya ke dinding, lalu mendekat dengan ekspresi mengancam dan nada memaksa, "Aku serius, jawab!"

Tingginya hampir setengah kepala lebih tinggi dari Jiang Mu. Saat wajahnya berubah serius, dia terlihat seperti preman wanita. Jiang Mu menatap bulu mata palsunya yang lebat, wajahnya sedikit berkedut, lalu menjawab, "Dia kakakku."

Wan Qing tampak terkejut, "Kakak? Sepupu atau kakak kandung? Kenapa aku tidak tahu dia punya adik perempuan? Kamu dari luar kota?"

"Bisa dibilang begitu."

Begitu kata-kata itu keluar, suara Jin Chao terdengar dari ruang perbaikan, dingin dan tajam, "Kalau kamu terus menakut-nakutinya, pergi dari sini."

Ekspresi Wan Qing langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Ia merangkul Jiang Mu lagi, lalu berteriak ke arah Jin Chao, "Aku hanya bercanda sama adik kita, kenapa marah-marah?"

Setelah itu, dia meraih tas kertas dari tangan Jiang Mu dan berkata dengan mesra, "Ayo, kita makan kaki babi, jangan pedulikan dia."

Jiang Mu melihat Wan Qing yang tingkahnya sulit ditebak, dan ingin menjauh. Namun Wan Qing bersikap seperti orang dekat, bahkan sengaja meletakkan dua kursi berdampingan dan menyuruh Jiang Mu duduk di sampingnya.

San Lai mengeluarkan sebuah panci dari dapur, tutupnya masih tertutup. Ia meletakkannya di atas meja dan berkata pada Jiang Mu, "Tebak apa ini?"

Jiang Mu mendekat dan mencium aromanya. Aroma ayam menyengat hidung. Ia tersenyum, "Kamu benar-benar membuat sup ayam?"

San Lai membuka tutup panci, "Ayamnya dibeli You Jiu pagi tadi, supnya aku yang masak. Masak aku bercanda?"

Jin Chao juga keluar. Wan Qing menepuk kursi kosong di sampingnya, "Ayo minum."

Jin Chao berjalan ke kursi itu, mengangkatnya dengan satu tangan, lalu memindahkannya ke seberang. Wan Qing melirik Jin Chao malas, lalu memiringkan tubuhnya ke arah Jiang Mu dan berbisik, "Kakakmu yang begini pasti susah cari istri."

Jiang Mu hanyahanya diam tanpa menjawab. Ia melirik Jin Chao. Jin Chao tampak biasa saja, cuek membuka sebotol bir.

Wan Qing mengeluarkan kaki babi besar dari tas kertas dan meletakkannya di piring di depan Jiang Mu, "Rasa yang ini juara. Coba."

Jiang Mu menatap kaki babi besar di hadapannya, bingung harus mulai dari mana. Bukan karena ia menjaga penampilan sebagai seorang gadis, tapi duduk di pinggir jalan dan menggigit kaki babi besar dengan tidak peduli pada penampilan di depan orang asing—delapan belas tahun hidupnya, ia belum pernah melakukan itu.

Sebaliknya, Wan Qing di sampingnya sudah menggigit kaki babi itu dengan lahap. Cara makannya yang begitu santai dan tanpa beban membuat Jiang Mu diam-diam mengaguminya dari dalam hati. Ia bahkan tidak tahu bagaimana mulut Wan Qing bisa terbuka selebar itu.

Melihat Jiang Mu hanya menatap, Wan Qing balik bertanya, "Kamu makan, lihat aku terus? Tidak bisa gigit?"

Jiang Mu menjawab dengan nada mengelak, "Nanti, nanti."

Di seberang mereka, Jin Fengzi langsung membongkar ayam itu dan dengan sendirinya mengambil paha ayam yang besar. Namun begitu paha ayam itu terangkat dari panci, sumpit di tangan Jin Chao langsung menepuknya. Tangan Jin Fengzi bergetar, dan paha ayam itu jatuh kembali ke dalam panci. Ia menatap Jin Chao dengan bingung, "Kenapa?"

San Lai menyela dengan suara mendesah, "Dua jam aku rebus ini buat kamu? Kamu mau ujian juga?"

Jin Fengzi akhirnya menyadari sesuatu dan menatap Jin Chao. Jin Chao hanya bersandar di kursi dengan satu tangan, menatapnya kembali. Wan Qing terus mengunyah kaki babi sambil memperhatikan mereka. Suasana di meja menjadi hening. Tiba-tiba Jin Fengzi mengerti, lalu berdiri dan mengambil paha ayam itu sendiri, meletakkannya di piring Jiang Mu, "Adik, silakan duluan."

Jiang Mu merasa sedikit canggung dan berkata, "Terima kasih."

Jin Chao baru menarik kembali pandangannya dan terus minum. Namun tatapan Wan Qing tetap tertuju pada Jin Chao.

Daging paha ayam itu dimasak hingga sangat empuk—hanya dengan sekali tusuk sumpit, dagingnya langsung lepas. Rasanya benar-benar memuaskan. Jiang Mu menikmati makanannya, dan San Lai memperhatikannya dengan senyum seperti ibu yang melihat anaknya, lalu menaruh semangkuk sup ayam di sampingnya untuk di dinginkan.

Jin Fengzi berkata, "Kemarin setelah Da Guang pulang, dia langsung pergi vaksin rabies. Aku panggil Xiang Zi ke belakang dan beri dia pelajaran."

Mendengar itu, Jiang Mu baru menyadari bahwa Jin Fengzi ternyata adalah orang dari bengkel Wan Ji.

Jin Chao menyentuhkan botol birnya ke botol Jin Fengzi, "Tidak perlu."

Setelah mengatakan itu, ia melirik Wan Qing dan mengalihkan topik, berbicara dengan Jin Fangzi tentang seorang pelanggan yang mereka kenal dan ingin mengganti mobil. Dari suatu tempat, Jin Chao mengeluarkan benda hitam—Jiang Mu bahkan tidak sempat melihat bagaimana Jin Chao melakukannya, tapi dari ujung gagang hitam itu tiba-tiba muncul sebilah pisau kecil yang tajam.

Jin Chao meminta tisu basah dari San Lai, lalu sambil berbincang santai dengan Jin Fengzi, ia perlahan dan rapi mengelap pisau kecil itu.

Jiang Mu tidak bisa menahan diri untuk melirik Jin Chao. Lampu kuning menerangi wajah samping Jin Chao. Dia setengah menunduk, dengan hidung mancung dan lurus yang membuat profilnya tampak sangat dingin. Ditambah dengan gerakan mengelap pisaunya itu, dia terlihat seperti karakter dari film Leon si Pembunuh Bayaran.

Jiang Mu tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba mengeluarkan pisau kecil di malam hari saat berbincang dengan teman-temannya—cukup menakutkan.

Setelah Jin Chao meletakkan tisu basah itu, ia menarik piring berisi kaki babi di depan Jiang Mu ke arahnya, lalu dengan pisau kecilnya yang tajam, ia mengiris daging dari kaki babi itu. Tindakan yang seharusnya kasar itu justru ia lakukan dengan sangat rapi—sekali potong, kulit dan dagingnya teriris menjadi potongan-potongan kecil yang mudah dimakan.

Wan Qing juga mengangkat pandangannya. Ia melemparkan kaki babi yang sudah habis digigitnya, lalu mengusap tangannya dan menoleh ke arah Jiang Mu. Jiang Mu merasakan tatapannya dan menatap balik. Wan Qing menunjukkan senyum sempurna padanya.

Namun saat Jiang Mu mengangkat mangkuk dan menunduk untuk menyeruput sup, pandangannya tanpa sengaja tertuju ke bawah meja. Wan Qing tiba-tiba mengangkat kakinya dan menyentuh Jin Chao. Jiang Mu sebenarnya tidak ingin melihat adegan itu, tapi matanya terlalu "berjasa". Ia melirik Jin Chao. Gerakan tangan Jin Chao berhenti. Ia mengerutkan kening dan menatap Wan Qing dengan dingin. Wan Qing tersenyum semakin genit, lalu dengan sengaja mengangkat kakinya lagi dan menyentuh ujung celana Jin Chao.

Dengan bunyi "puk", Jin Chao membanting pisaunya ke meja. San Lai dan Jin Fengzi, yang sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi dan masih asyik bicara, sontak terkejut. "You Jiu, apa-apaan kamu?"

Jiang Mu, yang menyaksikan seluruh kejadian, juga terkejut dengan gerakan mendadak Jin Chao—jantungnya berdegup kencang. Wan Qing tampak santai, sama sekali tidak takut. Jin Chao meletakkan potongan daging kaki babi yang sudah diirisnya kembali ke piring Jiang Mu, lalu menatapnya, "Cepat habiskan, masuk."

Jiang Mu agak takut menatap mata Jin Chao. Ia merasa Jin Chao pasti tahu bahwa ia mengamati semuanya dari tadi.

Maka ia buru-buru menghabiskan kaki babi dan sup ayamnya, lalu masuk ke ruang istirahat untuk mengerjakan soal. Sekitar jam dua belas malam, ia meregangkan tubuh, merasa matanya perih dan pegal, lalu berencana berdiri dan bergerak sebentar.

Saat ia keluar dari ruang perbaikan, semua orang sudah bubar. Hanya San Lai yang masih berjongkok di depan toko, menunggui Xishi buang air. Jiang Mu bertanya, "Jin Chao di mana?"

San Lai menatap Xishi yang sedang kencing, "Di belakang."

Jiang Mu juga melirik Xishi, lalu berjalan mendekati San Lai dan bertanya dengan pelan, "Apakah Wan Qing itu pacar Jin Chao?"

San Lai menjawab dengan lambat tapi penuh keyakinan, "You Jiu tidak mungkin mau dia."

"Kenapa?"

San Lai berkata dengan santai, "Dia putri Bos Wan."

Jiang Mu sedikit terkejut. Ia memang mengabaikan marga Wan Qing. Ia memastikan, "Putri pemilik bengkel Wan Ji?"

San Lai mengangguk pelan, lalu bersiul pada Xishi. Ia membuka pintu toko dan membiarkan Xishi masuk. Ia menatap Jiang Mu, "Kalian tadi malam ngapain?"

"Apa?"

San Lai tersenyum samar di balik jenggotnya yang tipis, "You Jiu baru tidur saat subuh. Kalian cukup kuat, ya."

Meskipun Jiang Mu dan Jin Chao hanya mengobrol di balik tirai, di bawah tatapan San Lai yang penuh makna, wajahnya langsung memerah. San Lai tertawa keras, "Aku hanya bercanda. Bilang ke You Jiu, pintu dibiarkan terbuka."

Setelah itu, San Lai masuk ke toko. Wajah Jiang Mu terasa panas saat ia kembali ke ruang perbaikan. Ia tahu yang mereka maksud dengan "belakang" adalah halaman di belakang yang terlihat dari jendela kamar, tapi ia tidak tahu harus lewat mana.

Jiang Mu berjalan ke ujung lain ruang perbaikan. Di sana ada sebuah pintu yang tidak terkunci sepenuhnya, berada sangat dekat dengan ruang istirahat. Jiang Mu membuka pintu itu perlahan. Angin sepoi-sepoi bertiup dari luar. Di luar sangat gelap. Ia melangkah keluar.

Di luar, pemandangannya persis seperti yang ia lihat dari jendela kamar. Di bawah atap, banyak barang ditumpuk—beberapa suku cadang tua yang terbuka, beberapa kardus penuh barang, dan lebih banyak lagi peralatan yang tidak ia kenali. Di salah satu sudut halaman, ada sesuatu yang ditutupi terpal besar dengan batu bata di keempat sudutnya. Jiang Mu juga tidak tahu apa itu.

Namun setelah melihat sekeliling, Jin Chao tidak ada di sini. Di sisi lain halaman belakang yang menghubungkan ke jalan luar, ada sebuah pintu besi berkarat. Pintu itu terbuka, dan dari sana mengepul asap tipis.

Jiang Mu berjalan ke arah itu. Belum sampai ke dinding, ia sudah mendengar suara Wan Qing dari balik pintu besi, "Aku tetap pada pendirianku. Kalau kamu butuh uang, bilang padaku. Jangan main-main dengan mereka, urusan di sana rumit dan berbahaya. Dengarkan aku. Apa aku pernah menyakitimu?"

Langkah Jiang Mu tiba-tiba berhenti. Ia menempelkan tubuhnya ke pintu dan melalui celah, ia melihat bayangan Jin Chao dan Wan Qing.

"Urusanku, lebih baik kamu tidak banyak ikut campur." Suara Jin Chao sangat dalam.

Wan Qing membuang puntung rokoknya dan mengumpat, "Apa aku pernah repot-repot seperti ini untuk pria lain? You Jiu, jangan membuatku kesal."

"Kalau sampai membuatmu kesal, lalu bagaimana?" Suara Jin Chao terdengar acuh tak acuh dan sedikit tidak sabar.

Wan Qing hendak membalas, tapi Jin Chao mengangkat tangannya menyuruh Wan Qing berhenti. Jin Chao langsung membuka pintu besi. Sosok Jiang Mu tiba-tiba muncul tanpa bisa dihindari. Dua kali berturut-turut ia berada dalam situasi memalukan. Ia sangat frustrasi, berdiri di depan pintu dengan bingung.

Jin Chao hanya menatap Jiang Mu dengan mata setengah tertutup, tanpa berkata apa-apa. Ia melangkah masuk ke halaman, lalu menoleh ke Wan Qing yang masih berdiri di luar pintu dan berkata, "Lain kali jangan sering-sering ke sini." Lalu ia langsung mengunci pintu halaman.

Halaman belakang yang kosong tiba-tiba menjadi sunyi. Setelah Jin Chao mengunci pintu, ia menoleh dan menatap Jiang Mu dengan ekspresi serius, "Masuk. Jangan sering ke sini."

Saat Jin Chao tidak tersenyum, ekspresinya terlihat agak menakutkan. Jiang Mu mengerutkan kening dan bertanya, "Kenapa?"

Jin Chao mengerutkan bibir tipisnya, lalu melirik ke suatu sudut di atas kepala Jiang Mu, "Tidak lihat di sini penuh dengan barang? Ini bukan tempat untukmu."

Jiang Mu bergumam tanpa berpikir, "Lalu kenapa dia bisa ke sini?"

Cahaya bulan menutupi mata Jiang Mu yang hitam dan berkilau—seperti air, seperti kabut. Di dalamnya ada titik kecil terang yang bersinar.

Jin Chao memasukkan kedua tangannya ke saku perlahan, lalu menatap Jiang Mu dan tiba-tiba tersenyum tipis, "Kamu... sedang merajuk?"

Jiang Mu terkejut. Setelah menyadari maksudnya Jin Chao, ia malu, "Merajuk? Aku tidak merajuk. Aku orangnya sangat baik. Aku hanya menuntut keadilan."

Jin Chao mengangguk pelan, lalu berjalan masuk sambil berkata dengan santai, "Iya, sangat baik. Sama sekali tidak ada rasa malas bangun pagi."

Jiang Mu langsung merasa diejek. Hanya di pagi hari ia tidak normal, dan kebetulan Jin Chao melihatnya.

Ia mengikuti Jin Chao masuk ke ruang perbaikan. Dalam benaknya, ia mencoba merangkai hubungan yang rumit ini. Jin Fengzi bekerja di bengkel Bos Wan. Kemarin dia pasti mendengar tentang tiga orang yang datang mencari masalah. Tadi di meja, Jin Fengzi bilang dia sudah "memberi pelajaran" Xiang Zi, tapi Jin Chao mengalihkan topik—kemungkinan besar karena mempertimbangkan kehadiran Wan Qing.

Meskipun Jiang Mu tidak tahu apa yang terjadi antara Jin Chao dan Bos Wan, jelas ada alasan mengapa mereka berpisah. Hanya saja Wan Qing—Ular Hijau Kecil ini—posisinya masih ambigu, dan tampaknya dia cukup peduli pada Jin Chao.

Setelah masuk ke ruang perbaikan, Jin Chao mulai merapikan peralatan yang berserakan. Ia melihat Jiang Mu berdiri di pinggir ruangan dengan tatapan kosong, dan mengira Jiang Mu masih merasa canggung.

Anehnya, ia secara tidak sadar merasa jika ia tidak menenangkan Jiang Mu sekarang, Jiang Mu akan mulai menangis dalam waktu dekat.

Saat masih kecil, Jin Chao sering kali berusaha menenangkan Jiang Mu sebelum dia benar-benar menangis—seolah itu sudah menjadi refleks yang tertanam dalam dirinya. Ia meletakkan alat di tangannya, menyalakan sebatang rokok, dan menatap Jiang Mu, "Di belakang tempatnya sempit, penuh dengan barang. Kamu tidak takut tikus?"

Jiang Mu mengalihkan pikirannya dan menatap Jin Chao. Baru sekarang ia menyadari bahwa Jin Chao sedang menjelaskan alasan mengapa ia tidak boleh pergi ke belakang.

Ia menatap Jin Chao beberapa saat, lalu bertanya, "Urusan rumit dan berbahaya itu apa?"

"Bukan urusan yang harus kamu tanyakan."

Jin Chao tampaknya tidak ingin membicarakannya, tapi naluri Jiang Mu mengatakan bahwa hal ini pasti ada hubungannya dengan kejadian berbahaya yang disebutkan San Lai sebelumnya.

Jin Chao mulai merapikan barang-barang di ruang perbaikan ke rak di ruang istirahat. Jiang Mu mengikutinya masuk dan bersandar di pintu, menatap punggung Jin Chao, "Dia tampaknya cukup peduli padamu."

Diam.

Jin Chao tidak menjawab. Ia dengan rapi menyimpan semua barang, lalu menoleh ke arah Jiang Mu, "Besok pagi masih mau terlambat?"

Jiang Mu mengerucutkan bibirnya, "San Lai bilang pintu belakang dibiarkan terbuka."

Setelah itu, ia membuka tirai dan masuk ke kamar mandi. Saat ia selesai mandi, ia mengintip ke luar—ruang istirahat tampak cukup sepi.

Ia pikir Jin Chao sudah pergi ke tempat San Lai. Namun saat ia berjalan ke pintu dan membuka tirai, ia melihat Jin Chao bersandar di meja, jari-jarinya yang ramping memegang pulpen Parker hitam tua, mata Jin Chao setengah tertutup, seolah tenggelam dalam ingatan.

Hingga suara tirai yang dibuka Jiang Mu memutus lamunannya. Jin Chao mengangkat matanya—dan pada saat tatapannya menangkap Jiang Mu, Jiang Mu merasakan kegelisahan yang tiba-tiba.

Hampir dalam sekejap, Jiang Mu berlari ke hadapan Jin Chao, merebut pulpen itu, dan berbalik menuju kamar. Wajahnya terasa panas, seluruh jantungnya berdebar tidak menentu. Seolah semua kerinduan yang ia pendam selama bertahun-tahun kepada Jin Chao, bersama dengan pulpen ini, tiba-tiba terpapar begitu saja di hadapannya.

Jika kerinduan ini adalah sesuatu yang saling dirasakan, mungkin ia tidak akan merasa semalu ini. Tapi Jin Chao tidak menepati janji tentang pulpen ini. Jin Chao tidak kembali menemuinya, tidak menulis surat lagi, bahkan tidak pernah menelepon.

Ia menjaga janji mereka, menunggu bertahun-tahun. Semuanya hanya perasaannya sendiri. Ia enggan mengakuinya, tapi mau tidak mau ia harus mengakui bahwa pulpen ini membuatnya merasa sangat malu di hadapan Jin Chao.

Saat Jiang Mu hampir melangkah masuk ke kamar, ia tiba-tiba berhenti, berbalik, dan menatap Jin Chao dengan marah, "Aku menyimpan pulpen ini hanya karena aku suka barang-barang antik, bukan karena kamu!"

Setelah itu, ia langsung berlari ke kamar dan berbaring di tempat tidur, menutupi dirinya dengan selimut. Matanya segera memerah, rasa malu menjalar ke seluruh tubuhnya.

Dari luar, tidak ada suara sama sekali. Jiang Mu membuka selimutnya dan mematikan lampu kamar. Entah berapa lama kemudian, suara Jin Chao terdengar seperti bergulung di balik awan pekat—dengan beratnya malam, datang dari balik tirai, "Tulisanmu... sudah jauh lebih baik."

...

"Lain kali, lain kali ketika kita bertemu lagi, aku akan periksa bagaimana tulisanmu."

"Kamu akan kembali?"

"Iya."

...

Jin Chao tidak melupakannya.

Disclaimer: Terjemahan ini dilakukan secara sukarela untuk tujuan berbagi hobi dan apresiasi karya. Seluruh hak cipta, termasuk karakter, alur cerita, dan judul adalah milik penuh penulis asli dan penerbit. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas konten ini. Jika Anda menyukai ceritanya, dukung penulis aslinya melalui platform resmi.

Komentar