Speed and Love-Bab 02
Satu bulan menjelang ujian nasional, Jiang Mu secara tidak sengaja menemukan fakta yang selama ini disembunyikan ibunya: Jiang Yinghan punya kekasih orang asing (bule), dan hubungan mereka sudah mencapai tahap pernikahan. Bahkan, ibunya sedang mengurus prosedur imigrasi. Sebelum itu, Jiang Yinghan merahasiakannya dengan sangat rapat. Jiang Yinghan berencana memberitahu Jiang Mu setelah ujian selesai. Namun, sebuah dokumen yang dikirim dari luar negeri tanpa sengaja menarik perhatian Jiang Mu.
Pertengkaran besar pun terjadi di antara mereka. Jiang Mu menolak keras rencana ibunya untuk membawanya kuliah ke luar negeri. Ia tidak tahu apa-apa tentang calon ayah tirinya, dan dalam hati ia menolak kehadiran pria yang tiba-tiba muncul begitu saja dalam hidupnya.
Apalagi setelah bertemu langsung dengan pria bernama Chris itu—seorang pria botak dan berminyak yang membuatnya semakin muak. Jiang Mu benar-benar tidak bisa memahami mengapa ibunya yang selalu rapi dan terhormat mau menikah dengan pria asing tua yang memiliki perut buncit, kulit keriput, dan wajah penuh dengan garis-garis kerutan tua. Yang lebih parah, mereka baru kenal kurang dari setengah tahun—ini jelas pernikahan kilat yang tidak masuk akal. Namun Jiang Yinghan malah bersedia meninggalkan kampung halaman demi pria tua menjijikkan itu, seolah dirasuki oleh sesuatu.
Jiang Mu berusaha segala cara untuk membujuk ibunya. Namun kali ini, sikap Jiang Yinghan sangat keras dan teguh. Selama sebulan penuh, Jiang Mu hampir tidak bisa fokus menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. Pada hari ujian bahasa Inggris, ia terserang demam tinggi. Ia terbaring lemas di atas meja, pikirannya kacau dan tidak karuan. Pada akhirnya, nilainya gagal memenuhi syarat masuk universitas negeri.
Jiang Yinghan merasa sangat bersalah. Namun sebaliknya, Jiang Mu justru tidak menunjukkan sedikit pun rasa kecewa. Dengan nilai seperti itu, kalau ia pergi ke Australia, ia hanya bisa masuk program persiapan atau universitas-universitas yang tidak jelas kualitasnya—itu jelas bukan cerminan kemampuannya yang sesungguhnya. Ia mengusulkan untuk mengulang kelas. Awalnya ia berpikir, dengan cara ini, Jiang Yinghan bisa tetap tinggal di China dan tidak akan tertipu oleh pria tua itu.
Namun, yang sangat mengejutkannya, malam itu Jiang Yinghan berkata padanya, "Ibu sudah menemani kamu bertahun-tahun, dan kamu sekarang sudah dewasa. Kalau kamu memilih untuk tinggal di China dan mengulang kelas, Ibu tidak keberatan. Tapi Ibu tetap akan menjalankan rencana awal dan pergi ke Melbourne bersama Chris. Mu Mu, Ibu juga berhak memiliki kehidupan sendiri."
Akhirnya, ibunya setuju Jiang Mu mengulang kelas di China, tetapi dengan syarat—ia harus tinggal bersama ayahnya. Jiang Yinghan tidak tega membiarkannya tinggal sendirian.
Sebuah panggilan yang sudah lama terkubur tiba-tiba muncul kembali dalam kehidupan Jiang Mu. Saat itulah ia sadar kalau ibunya selama ini masih punya kontak dengan ayahnya. Mungkin karena tidak mau Jiang Mu berhubungan dengan ayahnya, ibunya sengaja menyembunyikan hal ini selama bertahun-tahun.
Rencananya, Jiang Yinghan dan Chris akan terbang ke Australia pada bulan Juli untuk mengurus keperluan imigrasi. Setelah selesai, mereka akan kembali untuk membereskan toko di China. Dalam perjalanan pulang, mereka berencana singgah di Tonggang—untuk bertemu Jiang Mu.
Sebelum itu, Jiang Mu harus pergi lebih dulu sendirian ke rumah ayahnya di Tonggang—sebuah kota kecil di utara, di sana ia akan mengurus prosedur mengulang kelas. Sebelum berangkat ke luar negeri, Jiang Yinghan mengemasi barang-barang Jiang Mu dalam dua koper dan mengirimkannya lebih dulu ke rumah Jin Qiang-Ayahnya.
Semua sudah diatur ibunya. Jiang Mu tidak tahu bagaimana ibunya dan ayahnya berkomunikasi selama ini. Namun, pada malam sebelum Jiang Yinghan berangkat ke luar negeri, tiba-tiba ibunya memberi tahu Jiang Mu sebuah fakta yang sangat mengejutkan.
......
Jiang Mu tidak pernah membayangkan bahwa kakak laki-lakinya—yang sejak kecil selalu mengalah untuknya, yang rela menyisihkan makanan enak untuknya, yang dengan sabar mengajarinya membaca, yang membacakan cerita pengantar tidur di malam hari, dan yang tanpa lelah menggendongnya ke mana-mana—ternyata tidak memiliki hubungan darah dengannya.
Peristiwa itu terjadi pada tahun kelima pernikahan Jiang Yinghan dan Jin Qiang. Perut Jiang Yinghan masih belum juga menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Pada tahun itu, Jin Qiang pulang ke kampung halaman untuk mengunjungi orang tuanya, sementara Jiang Yinghan memilih tinggal di Suzhou dan tidak ikut. Karena ketidakmampuannya untuk memiliki anak, keluarga Jiang Yinghan mencapnya sebagai "ayam betina yang tidak bisa bertelur"—hubungan mereka pun memburuk hingga tidak bisa diperbaiki lagi.
Tepat pada saat itulah, tanpa sepengetahuan Jiang Yinghan, keluarga Jin Qiang menjebak Jin Qiang untuk pulang ke kampung. Mereka membawakan seorang gadis dari desa yang sama, memberikan Jin Qiang minuman keras, dan membuatnya menghabiskan malam dalam keadaan mabuk—tanpa sadar apa yang terjadi. Ketika Jin Qiang tersadar, barulah ia menyadari betapa bodohnya perbuatan yang telah ia lakukan.
Jin Qiang pun langsung kembali ke Suzhou malam itu juga, dengan perasaan bersalah yang sangat dalam. Melihat Jiang Yinghan setiap hari memaksakan diri meminum ramuan pahit, akhirnya ia mengusulkan untuk mengadopsi seorang anak.
Namun, Jiang Yinghan tetap bersikeras bahwa anak angkat tetaplah anak orang lain—bukan darah dagingnya sendiri. Ia tidak setuju.
Tidak lama kemudian, gadis desa itu datang menemuinya. Orang tua Jin Qiang pun ikut datang ke Suzhou—seolah-olah hendak memaksa Jiang Yinghan untuk menyerahkan posisinya sebagai istri.
Semua rasa sakit dan amarah yang selama bertahun-tahun dipendam Jiang Yinghan akhirnya meledak keluar semua. Berdiri di rumah peninggalan orang tuanya, ia membentak keluarga Jin untuk pergi. Jin Qiang menangis tersedu-sedu memohon maaf, sementara orang tua Jin Qiang menarik-nariknya, mendesaknya untuk menceraikan Jiang Yinghan. Di belakang mereka, wanita desa muda itu sambil menyeka air mata memanggil, "Kakak Qiang."
Saat itu, Jiang Yinghan merasa dunianya berputar. Hujatan tajam menusuk telinganya dari segala arah. Ia menahan semua caci maki dari keluarga Jin, dan tiba-tiba ia merasa semua kesabaran dan pengorbanan selama bertahun-tahun sia-sia belaka. Bukan karena ia tidak rela bercerai dengan Jin Qiang—tetapi karena ia tidak rela melihat Jin Qiang pergi begitu saja menikahi wanita muda itu, membuat orang tuanya bahagia dengan memiliki cucu laki-laki, dan hidup bahagia bersama, sementara hidupnya sendiri hancur berantakan.
Karena itu, Jiang Yinghan berjongkok di samping Jin Qiang dan berbisik di telinganya, "Kalau kamu mau putus hubungan dengan keluargamu, aku setuju kita adopsi seorang anak."
Itu adalah pilihan yang sangat sulit bagi Jin Qiang. Di satu sisi, ada orang tua yang membesarkannya; di sisi lain, ada istrinya yang telah menjalani hidup bersamanya bertahun-tahun. Tapi ia sudah keluar dari kampung halamannya, dan tidak mungkin kembali lagi. Jika bercerai, ia akan kehilangan segalanya. Yang lebih penting, ia masih mencintai Jiang Yinghan. Selain itu, ia juga merasa kesal karena orang tua dan kakak perempuannya telah menjebaknya untuk pulang. Maka ia segera membujuk orang tuanya untuk pergi, dan setelah itu, ia jarang kembali ke kampung lagi.
Pada tahun yang sama, mereka mengadopsi seorang anak laki-laki berusia dua tahun dan memberinya nama Jin Chao.
Pada awalnya, seluruh perhatian dan kasih sayang mereka tertuju pada bocah kecil itu. Meskipun retakan dalam hubungan mereka masih ada, tampaknya mereka tidak lagi punya keinginan untuk membahasnya.
Namun, yang tidak mereka duga adalah, pada saat Jin Chao berusia empat tahun, Jiang Yinghan tiba-tiba hamil. Sejak pertama kali mengetahui kehamilannya, seluruh perhatian Jiang Yinghan hanya tercurah pada calon anak kandungnya. Bahkan setelah Jiang Mu lahir, Jiang Yinghan tidak lagi mau meluangkan waktu dan perhatiannya untuk Jin Chao.
Bagi Jiang Yinghan, Jin Chao bukanlah anak yang mudah disukai. Ia adalah bayi yang diambil Jin Qiang dari kampung—seorang anak yang dibuang. Berbeda dengan anak laki-laki lain yang ceria dan aktif, sejak hari pertama Jin Chao datang, ia menatap Jiang Yinghan dengan tatapan penuh curiga. Meskipun baru berusia dua tahun dan berwajah tampan, Jiang Yinghan tetap bisa merasakan adanya sifat keras dan kasar dari anak laki-laki kecil ini—seolah membawa jiwa pria utara dalam tubuh mungilnya.
Sikap keluarga Jin Qiang membuat Jiang Yinghan tidak bisa mengubah prasangkanya terhadap orang dari China utara. Begitu pula dengan Jin Chao—Jiang Yinghan tetap tidak bisa menyukainya. Bagaimanapun, Jin Chao bukanlah anak kandungnya sendiri. Jin Chao hanyalah kompromi yang terpaksa ia ambil dulu untuk memaksa Jin Qiang membuat pilihan. Keberadaan Jin Chao setiap saat mengingatkannya pada pengkhianatan Jin Qiang dan segala penghinaan yang selama bertahun-tahun ia alami.
Apalagi setelah kehadiran Jiang Mu, Jin Chao semakin terasa seperti duri dalam daging bagi Jiang Yinghan. Penghasilan Jin Qiang pas-pasan, dan mereka harus menghidupi dua anak sekaligus. Hal ini membuat kehidupan mereka semakin sulit dan serba kekurangan.
Jiang Yinghan mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada putri kandungnya sendiri, sementara terhadap Jin Chao, ia semakin dingin—bahkan sampai merasa jengkel.
Dalam kemiskinan, bahkan hubungan suami-istri pun mudah retak. Jin Qiang beberapa kali bertengkar dengannya karena hal ini. Seiring waktu, perasaan yang pernah mereka miliki perlahan luntur di tengah konflik yang kian memanas. Retakan yang semula tertutup sementara kembali terbuka, semakin lebar, hingga akhirnya tidak bisa diperbaiki lagi—dan mereka pun bercerai. Bahkan ketika kakek Jiang Mu meninggal, Jiang Yinghan tidak memberi tahu Jin Qiang dan Jin Chao.
Alasan Jiang Yinghan memilih untuk menceritakan semua kisah lama ini sebelum pergi ke luar negeri adalah karena ia tahu, selama bertahun-tahun, putrinya tetap menyimpan perasaan terhadap kedua orang itu. Mungkin Jiang Mu masih mengharapkan kasih sayang dari ayah dan kakaknya. Tapi Jiang Yinghan tahu betul—Jin Qiang adalah pria yang terlihat kuat di luar tapi lemah di dalam. Ia hanya akan membuat gunung cinta ayah di hati putrinya runtuh, setelah putrinya dewasa dan melihat kenyataan. Sementara Jin Chao—sejak kecil, sorot matanya sudah menunjukkan ambisi yang membuat Jiang Yinghan teringat pada anak serigala yang tidak pernah bisa dijinakkan. Jin Chao tidak memiliki hubungan darah dengan Jiang Mu, dan Jiang Yinghan tidak ingin putrinya terlibat dengannya. Karena itu, ia merasa harus menceritakan semua ini sebelum pergi—agar Jiang Mu fokus pada pendidikannya, dan tidak menyimpan harapan kosong terhadap mereka.
Setelah Jiang Yinghan berangkat ke luar negeri, Jiang Mu tidak segera pergi menemui ayah dan kakaknya. Ia tinggal sendirian di rumah, mencerna semua masa lalu yang cukup mengejutkan baginya itu. Baru pada bulan Agustus, ia berangkat sendirian menuju Tonggang—hanya dengan membawa sebuah koper kecil.
Saat langit mulai gelap, kereta akhirnya berhenti di Stasiun Utara Tonggang. Jiang Mu turun di antara kerumunan penumpang dan berjalan mengikuti arus orang-orang keluar dari stasiun.
Sebelum naik kereta, ia sempat menelepon nomor yang ditinggalkan Jiang Yinghan untuknya. Yang mengangkat telepon adalah Jin Qiang. Sudah bertahun-tahun tidak berhubungan, tiba-tiba mendengar suara ayahnya membuat Jiang Mu merasa asing—bahkan sedikit gugup. Untuk sesaat ia terdiam, tidak bisa berkata-kata. Akhirnya, Jin Qianglah yang lebih dulu bertanya, "Itu Mu Mu, kan? Kamu sudah naik kereta belum?"
Jiang Mu hanya menjawab, "Hmm."
Jin Qiang menanyakan jam tiba kereta, lalu mengatakan akan menjemputnya di stasiun. Jin Qiang juga berpesan beberapa kalimat agar Jiang Mu berhati-hati di perjalanan.
Baru sekitar setengah jam yang lalu, Jiang Mu menerima pesan singkat dari nomor tidak dikenal. Isinya: "Pintu keluar lapangan selatan."
Setelah keluar dari stasiun, Jiang Mu mencari-cari papan penunjuk, lalu mengikuti rombongan penumpang lain menaiki eskalator. Begitu tiba di atas tanah, pemandangan jalanan yang asing dan aroma udara yang kering membuatnya sejenak linglung. Tidak ada gedung-gedung tinggi di sana. Di seberang stasiun berdiri sebuah papan reklame raksasa bertuliskan, "Kabel Baja Motor, Terkuat di Asia," bersama dengan berbagai iklan seal dan bantalan karet. Pemandangan yang agak berantakan. Itulah kesan pertama Jiang Mu terhadap Tonggang—dan kesan pertama itu tidak begitu baik.
Di sekelilingnya ada berbagai macam penumpang yang keluar dari stasiun. Tidak jauh dari situ, terlihat bus antar-jemput, dan di pinggir jalan terparkir beberapa taksi merah dan ojek motor yang tampak berjauhan satu sama lain.
Jiang Mu berdiri di antara kerumunan, bingung melihat sekeliling, mencoba mencari sosok ayahnya dalam ingatan. Tiba-tiba, seorang anak kecil berlari ke arahnya. Dengan wajah ceria dan nakal, anak itu berkata, "Kakak, kasih aku uang buat beli makan."
Jiang Mu menunduk dan melihat anak itu—usianya sekitar sepuluh tahun, memakai sepatu olahraga yang sudah usang, kulitnya gelap dan kasar. Ada semacam keberanian usil di mata anak itu. Jiang Mu segera menjauh dan berkata, "Aku tidak punya uang tunai."
Tanpa diduga, anak kecil itu langsung meraih tangan Jiang Mu dan mengeluarkan kode QR dari sakunya, "Kasih dong, Kak."
Jiang Mu tidak menyangka anak kecil itu memiliki cengkeraman tangan sekuat ini—hingga blus sifonnya sampai berubah bentuk. Ia buru-buru menarik kerah bajunya dan baru saja akan menoleh untuk memarahi anak itu, tiba-tiba ia melihat tidak jauh dari situ ada empat atau lima remaja—ada yang berjongkok, ada yang berdiri. Mereka menghisap rokok sambil tersenyum penuh niat buruk, dan salah satu dari mereka bahkan menatapnya dengan tatapan mengancam. Anak kecil di sampingnya kembali bersuara, "Kasih aja sedikit, nanti aku lepas."
Wajah Jiang Mu perlahan memucat. Ia menyadari bahwa kelompok remaja itu dan anak kecil ini adalah satu tim—itulah sebabnya bocah ini berani bertindak begitu lancang. Ia pasti sudah menjadi sasaran mereka. Rasa takut menjalari hatinya. Di tempat asing ini, jika mereka mengikutinya, ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Karena itu, ia mengeluarkan ponselnya dan bersiap memindai kode QR untuk membayar demi menghindari masalah. Namun tiba-tiba, sebuah korek api melayang di udara dan langsung mengenai dahi anak kecil itu. Korek api itu jatuh ke tanah dan meledak dengan suara "duar!"
Anak kecil itu dan Jiang Mu sama-sama kaget. Mereka berdua serempak menoleh ke kiri. Di pinggir jalan, terlihat sebuah mobil putih merek Volkswagen terparkir. Seorang pria bertubuh tinggi bersandar di pintu mobil, menatap anak itu tanpa ekspresi.
Begitu bocah itu melihat dengan jelas siapa orang tersebut, wajahnya tiba-tiba menegang. Secara refleks, ia menoleh ke belakang melihat kelompok remaja itu. Pada saat yang sama, pria yang bersandar di pintu mobil perlahan mengalihkan pandangannya ke arah kelompok remaja itu. Dengan santai, ia berkata kepada mereka, "Polisi patroli sedang datang."
Kelompok remaja nakal itu mengumpat "Sial!" lalu berlari sebencang-kencangnya. Melihat itu, anak kecil tadi pun tidak peduli lagi pada Jiang Mu dan segera menyusul mereka. Lapangan selatan kembali sunyi.
Jiang Mu tertegun sejenak, lalu kembali mengarahkan pandangannya pada pria yang masih bersandar di pintu mobil itu. Jika ingatannya tidak salah, mobil itu sudah terparkir di sana sejak ia keluar dari stasiun. Ia tidak tahu sudah berapa lama pria itu berdiri di sana mengamatinya—menyaksikannya dari kebingungan, kehilangan, hingga panik. Apa semua itu hanya seperti menonton pertunjukan baginya?
Mereka saling bertatapan selama beberapa detik. Tiba-tiba, pria itu membuka pintu mobil di sisi pengemudi dan meliriknya, "Mau berdiri diam di situ sampai kapan? Naik."
Suara asing, wajah asing—namun pria itu memancarkan rasa akrab yang sulit dijelaskan. Jiang Mu hampir tidak percaya, matanya terbelalak lebar, seolah dengan begitu ia bisa mengamati pria itu lebih jelas.
Tanpa berpikir panjang, Jiang Mu mendorong koper dan berjalan cepat menuju pria itu. Begitu ia berhenti di tepi jalan, pria itu langsung mengangkat kopernya, membawa kopernya ke bagasi, dan meletakkannya di sana tanpa sepatah kata pun.
Jiang Mu tidak segera naik. Ia berdiri di tepi jalan, matanya tetap tertuju pada pria itu tanpa berkedip. Pria itu mengenakan kaus putih agak ketat. Saat pria itu mengangkat kopernya, garis-garis otot di lengan pria itu terlihat jelas dan menegang. Di balik rambut pendeknya yang acak, terlihat raut wajah yang tegas dan tampan—sosok pria dewasa. Sepertinya sudah tidak ada lagi bagian yang bisa ia cocokkan dengan ingatannya.
Pria itu menutup bagasi, lalu melihat Jiang Mu masih berdiri kaku di samping pintu mobil. Ia sedikit mengangkat alisnya yang tipis, melangkah mendekat, dan berkata dengan santai, "Kenapa belum naik? Mau aku bukakan pintu untukmu?"
Setelah berkata begitu, pria itu membuka pintu di sisi penumpang, satu tangannya bertumpu pada pintu, dan menatap Jiang Mu dengan acuh, "Silakan."
Kata "silakan" itu terdengar jauh dari kata sopan—ada nada mengejek yang nyaris sarkastis di dalamnya. Jiang Mu menatap pria itu, telapak tangannya mulai berkeringat. Ia mencoba bicara, tapi suaranya menghilang. Ia berdeham dengan canggung. Pria itu tetap berdiri, matanya menatap balik—seolah sedang mengamati setiap gerak-geriknya.
Jiang Mu akhirnya bertanya dengan ragu, "Kamu... Jin Chao?"
Mendengar pertanyaannya, pria itu menunduk sejenak, lalu tersenyum tipis, sebelum akhirnya mengangkat pandangannya kembali—tatapannya lurus dan tajam: "Tidak kenal lagi?"
Satu kalimat itu membuat wajah Jiang Mu memerah. Jin Chao tidak berniat membuat Jiang Mu terus merasa canggung, dan langsung berkata terus terang, "Jin Qiang menyuruhku menjemputmu."
Setelah mendengar nama ayahnya, Jiang Mu tidak lagi ragu. Ia duduk di kursi penumpang, memasang sabuk pengaman dengan patuh, dan menatap Jin Chao yang berjalan tegap dari depan mobil menuju kursi pengemudi dan menyalakan mesin.
Di sampingnya duduk orang yang dulu paling ia kenal—kakak yang selama bertahun-tahun ia rindukan. Sebenarnya, selama ini Jiang Mu punya banyak pertanyaan untuk Jin Chao. Mengapa Jin Chao tidak pernah menghubunginya lagi? Apa kabarnya selama ini? Apakah surat-suratnya dulu pernah sampai? Atau mungkin Jin Chao juga pindah rumah? Dan yang paling penting—mengapa Jin Chao tidak pernah kembali?
Jin Chao sudah berjanji akan kembali menemuinya. Dia tidak pernah ingkar janji sebelumnya. Mengapa kali ini dia mengingkar janjinya?
Namun sejak tahu bahwa Jin Chao bukan saudara kandungnya, pertanyaan-pertanyaan itu mulai terjawab dengan sendirinya. Ia tidak lagi berani bertanya.
Keduanya duduk dalam ruang tertutup yang sama. Rasa asing ini tidak kalah dengan membuat Jiang Mu berhadapan dengan pria dewasa yang sama sekali tidak ia kenal. Jiang Mu duduk tegap, kedua tangannya diletakkan dengan hati-hati di atas lutut, dan sesekali melirik pria di sampingnya dari sudut matanya.
Jin Chao mengemudikan mobil dengan satu tangan, terlihat sangat mahir. Setelah melewati beberapa persimpangan, lampu merah menyala—waktu mundur enam puluh detik. Jin Chao mengeluarkan ponsel dan menggesek-gesek layarnya dengan santai. Jiang Mu meliriknya dengan canggung. Jin Chao tidak mengangkat kepalanya, tapi sepertinya ia merasakan tatapan itu. Ia bertanya, "Kamu transit dari Beijing?"
Jiang Mu menjawab dengan sopan, "Hmm."
"Naik apa ke Beijing?"
"Naik kereta cepat juga."
"Jam berapa kamu berangkat?"
"Jam setengah tujuh pagi."
"Kamu sudah ngunci pintu rumah?"
"Hah? Sudah."
Jin Chao menyimpan ponsel, melirik Jiang Mu yang duduk dengan patuh—menjawab setiap pertanyaan dengan rapi. Tiba-tiba ia mendecakkan lidah, lalu kembali menyalakan mobil.
Jiang Mu tidak mengerti apa maksud dari sikap Jin Chao itu, tapi ia malu untuk bertanya. Ia hanya bisa mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Saat ini mungkin sedang jam pulang kerja, tapi jalanan di sini tidak terlalu macet. Jin Chao menyetir dengan sangat cepat, membanting setir di beberapa tikungan untuk mengejar lampu hijau—hampir membuat jantung Jiang Mu meloncat keluar. Diam-diam ia meraih pegangan pintu dan menatap kaca depan dengan tegang.
Saat lampu merah lagi, Jin Chao melirik tangan Jiang Mu yang menggenggam erat sampai pucat. Ia terkekeh, "Takut apa?"
Jiang Mu dengan canggung melepaskan tangannya dari gagang pintu, lalu bertanya, "Orang-orang di stasiun tadi, apa kamu kenal?"
Jin Chao balik bertanya, "Menurutmu, aku kelihatan kenal mereka?"
Jiang Mu melirik pria itu sekilas. Satu hal yang jelas: setelah melihat Jin Chao, ekspresi anak kecil itu berubah drastis. Sulit membayangkan mereka tidak saling kenal.
Di benak Jiang Mu, kakaknya tumbuh sebagai anak yang cemerlang. Dari SD hingga SMP, namanya selalu berada di puncak daftar prestasi. Kamarnya dipenuhi tumpukan buku. Jiang Mu masih ingat, saat kakaknya baru kelas 5 atau 6 SD, ia sudah membaca karya-karya sastra berat. Dia menyukai novel tentang Perang Dunia II dan buku-buku sejarah modern Tiongkok. Dia pernah bercerita tentang Pertempuran Huaihai, dan mengajarkan Jiang Mu tentang akar Perang Saudara Amerika. Di mata Jiang Mu, kakaknya adalah seorang jenius. Dan ia percaya, suatu hari nanti, kakaknya itu akan tumbuh menjadi seseorang yang membanggakan.
Dalam bayangan Jiang Mu, kakaknya sekarang mungkin sudah lulus kuliah, atau mungkin sedang mempersiapkan ujian pascasarjana. Ia membayangkan kakaknya mengenakan kemeja putih bersih, mungkin juga dengan sepasang kacamata—tampak berwibawa dan berpengetahuan.
Namun pria di sampingnya ini—mengenakan celana jeans pudar, kaus putih dengan noda kuning kehitaman yang tidak jelas di ujung lengan. Tidak ada kesan akademisi yang lembut; yang ada hanyalah ketajaman dan ketegasan yang memancar dari dirinya. Dia sangat berbeda dengan apa yang selama ini Jiang Mu bayangkan.
Seolah menyadari tatapan Jiang Mu yang tertuju pada ujung lengannya, Jin Chao langsung menggulung lengan pendeknya ke atas bahu—menjadikannya seperti tank top tanpa lengan. Noda kuning kehitaman itu ikut tergulung, memperlihatkan otot-otot berwarna kecokelatan yang memancarkan kekuatan yang kokoh.
Jiang Mu malu untuk terus melihat, sehingga ia mengalihkan pandangannya. Jin Chao berkata padanya, "Mereka preman stasiun. Mereka sering mangkal di sekitar stasiun. Mereka sengaja nyari cewek yang keluar sendirian kayak kamu, buat minta-minta duit buat main game atau pesta makan-minum."
"Polisi tidak mengurus?"
"Bagaimana mengurusnya? Terang-terangan meminta, tapi di balik itu ada maksud merampas. Yang bertindak di depan hanyalah anak kecil, meminta sepuluh atau dua puluh ribu—masa iya mau ditahan? Paling hanya diusir. Kalau bertemu lagi dengan kejadian seperti ini, bersikaplah lebih berani."
Jiang Mu bingung, "Maksudnya berani bagaimana?"
Jin Chao membanting setir, menepikan mobil di pinggir jalan. Ia menatapnya dan menjawab, "Telepon aku."
"——"
Ucapannya selesai, dan tanpa menunggu, Jin Chao membuka pintu dan turun. Jiang Mu terdiam di dalam mobil, matanya menatapnya kosong. Perlahan ia meraih ponselnya, membuka pesan dari nomor tidak dikenal—"Pintu keluar selatan." Dengan hati-hati ia menyimpan nomor itu, dan memberinya nama: "Kakak." Saat ia menengadahkan kepala, matanya menemukan sosok itu berdiri di depan sebuah toko.
Jiang Mu ingat Jin Chao lima tahun lebih tua darinya, yang berarti sekarang dia berusia 23 tahun. Di balik celana jeans pudar itu terbentang sepasang kaki yang jenjang. Seberapa tinggikah dia sekarang? Saat berusia 14 tahun, dia sudah mencapai 170 cm, dan sekarang tampaknya sudah hampir 185 cm. Punggung yang asing itu membuat Jiang Mu sejenak kehilangan pijakan, seakan ia melihat seseorang yang tidak ia kenal, meskipun hatinya tahu siapa dia.
Jiang Mu kembali menunduk, ia lalu mengganti nama di layar ponselnya menjadi: Jin Chao.
Catatan Penerjemah:
[Program persiapan atau dalam bahasa Inggris disebut Foundation Program atau Bridging Course, adalah program pendidikan jangka pendek (biasanya 6 bulan–1 tahun) yang dirancang untuk mempersiapkan siswa internasional agar bisa masuk ke jenjang sarjana (S1) di universitas luar negeri.]
[Mengulang kelas disini maksudnya mengulang tahun ajaran terakhir di SMA (biasanya kelas 12) untuk memperbaiki nilai ujian masuk perguruan tinggi, karena nilai yang dia dapat sebelumnya tidak cukup baik.]
[Frasa "seolah membawa jiwa pria utara dalam tubuh mungilnya" adalah sebuah kiasan (majas) yang menggambarkan kesan Jiang Yinghan terhadap Jin Chao—meskipun Jin Chao masih kecil, ada sesuatu dalam dirinya yang terasa "keras" dan "kasar", seperti stereotip orang dari China bagian utara.]
Komentar
Posting Komentar