Speed and Love-Bab 01
Kereta terus melaju di atas rel, rumah-rumah di luar jendela perlahan menghilang meninggalkan pandangan. Setiap beberapa saat, gerbong kereta masuk menyusuri terowongan gelap, membawa Jiang Mu semakin jauh menuju tempat yang tidak ia kenal sebelumnya.
Jiang Mu belum pernah pergi sejauh ini sendirian. Ia tidak memejamkan matanya sedetik pun. Pemandangan di luar jendela begitu asing—jauh berbeda dari tempat tinggalnya selama ini— Rel kereta membentang di antara pegunungan dan lembah curam, diselimuti kabut tebal yang membuat segalanya terasa seperti dunia khayalan, begitu tidak nyata hingga pikirannya pun ikut kacau.
Saat ini, perasaannya rumit. Tempat asing yang akan ia datangi ternyata adalah rumah bagi orang-orang yang dulu paling ia kenal. Bertahun-tahun tidak bertemu, ia sudah bukan lagi gadis kecil yang bisa bertingkah seenaknya. Dulu nama keluarganya masih Jin—Jin Mu.
Hari perpisahan itu, hujan deras mengguyur Suzhou. Ayahnya membawa sebuah koper hitam tua—di dalamnya terdapat semua barang yang bisa ayah dan kakaknya bawa pergi. Saat itu, usianya baru sembilan tahun, dan ia belum mengerti apa arti perceraian orang tuanya. Yang ia tahu hanyalah ayahnya akan membawa kakak laki-lakinya pergi dari rumah ini, menuju tempat yang sangat jauh.
Dengan sekuat tenaga ia menarik ayahnya, memohon agar ayahnya tidak pergi, meminta kakaknya tetap tinggal, dan merengek pada ibunya agar tidak mengusir mereka. Namun yang ia dapatkan justru pertengkaran sengit orang tuanya untuk yang terakhir kalinya. Ia bersembunyi di sudut ruangan, ketakutan dan menangis tersedu-sedu. Tapi hari itu, Jin Chao—kakaknya—hanya diam-diam berjalan mendekat ke sisinya. Jin Chao berdiri di hadapannya, menutupi tubuh gadis kecil itu dari pertengkaran kedua orang tuanya, berulang kali menyeka air mata gadis kecil itu dengan lengan bajunya—tanpa sepatah kata pun.
Setelah pertengkaran usai, ibunya menguncinya di dalam kamar dengan paksa. Ia tidak boleh membuat ulah lagi, tidak boleh turun ke bawah. Jiang Mu hanya bisa menempelkan tubuhnya di jendela besi di lantai dua. Dari sana, dengan matanya sendiri, ia menyaksikan ayahnya—yang memegang payung kotak-kotak tua yang sudah pudar warnanya—berjalan perlahan membawa Jin Chao masuk ke tengah guyuran hujan yang semakin deras.
Dari lantai dua, Jiang Mu terus berteriak memanggil ayah dan kakaknya. Mereka menoleh menatapnya. Di balik tirai hujan, mata Jin Qiang—ayahnya—tampak sendu dan penuh kepasrahan bercampur aduk. Ia berteriak balik pada Jiang Mu, "Mu Mu, sayang, jangan nakal. Nanti kalau kami sudah sampai tempat tujuan, Ayah akan menelponmu."
Jin Chao memakai ransel di punggungnya. Sosoknya yang mulai tumbuh menjadi remaja perlahan menghilang ditelan hujan lebat, samar dan tidak terlihat jelas. Jin Qiang menguatkan hatinya, menarik kembali pandangannya, lalu menggenggam tangan Jin Chao dan melangkah pergi. Namun saat mereka berbalik, Jiang Mu berteriak histeris memanggil "Ayah!" dan "Kakak!" dengan suara yang nyaris putus asa. Di dalam hati kecilnya yang polos, tumbuh firasat kuat—bahwa ayah dan kakaknya, begitu melangkah pergi, tidak akan pernah kembali lagi.
Jiang Mu menangis sampai lemas. Di antara pandangan yang kabur karena air mata, ia melihat seseorang berlari balik. Ia memicingkan mata—dan melihat Jin Chao menerobos hujan, memanjat kanopi, dan naik ke jendela kamarnya.
Itulah... terakhir kalinya Jiang Mu melihat kakaknya. Jin Chao sangat dekat dengannya, hingga Jiang Mu bisa melihat bulu mata Jin Chao yang panjang menunduk, air hujan mengalir dari dahi ke hidung mancung milik Jin Chao. Satu tangan Jin Chao memegang jeruji jendela, tangan lainnya merogoh ransel dan mengeluarkan pulpen hitam merek Parker. Jin Chao memberikan pulpen itu pada Jiang Mu dan berkata, "Ini untukmu. Rajin-rajinlah latihan menulis. Jangan pilih-pilih makanan, wortel juga harus dimakan. Dengarkan kata Mama. Lain kali..."
Air hujan mengalir masuk ke mulut dan hidung Jin Chao. Ia tersedak, terbatuk kasar, lalu melanjutkan perkataannya pada Jiang Mu, "Lain kali kita bertemu, aku mau periksa seberapa bagus tulisanmu."
Jiang Mu menjulurkan tangannya melewati jendela untuk mengambil pulpen itu. Di saat yang sama, tangan mungilnya menggenggam erat tangan kakaknya. Dengan mata berkaca-kaca, ia bertanya, "Kamu akan kembali, kan?"
Hujan mengguyur tangan mereka yang saling bergenggaman. Di kejauhan, kilat menyambar dan menerangi mata hitam milik Jin Chao yang berkilau—di dalam sorot mata itu, terpancar seluruh harapan Jiang Mu.
"Pasti," jawab Jin Chao pada Jiang Mu.
Namun Jin Chao tidak pernah kembali. Hanya pulpen kesayangannya yang dia tinggalkan—menemani Jiang Mu selama bertahun-tahun.
Setelah itu, Jiang Yinghan—ibunya—langsung mengganti nama belakangnya menjadi Jiang Mu. Sejak saat itu, tidak ada lagi yang memanggilnya Jin Mu. Namanya mengikuti marga ibunya, menjadi Jiang Mu.
Beberapa tahun pertama, ia sesekali masih bisa menerima telepon dari ayahnya, dan memanfaatkan kesempatan itu untuk mengobrol sebentar dengan kakaknya. Jin Chao selalu menanyakan bagaimana belajarnya, seberapa jauh ia sudah belajar Guzheng, dan apakah ia sudah tinggi. Setiap kali mereka berbicara di telepon, suara Jin Chao terasa berubah—Jin Chao sedang dalam masa pubertas, nada suaranya kian berat dan asing di telinga Jiang Mu.
Namun, Jiang Yinghan—ibunya—sepertinya kurang suka kalau Jiang Mu terlalu sering menelepon dengan kakaknya. Setiap kali obrolan mereka melebihi sepuluh menit, Jiang Yinghan akan segera menyuruhnya mengerjakan PR.
Setelah kelas 5 SD, ia jarang menerima telepon dari ayahnya lagi. Kabarnya ayahnya sudah menikah lagi, punya keluarga baru, dan dikaruniai seorang anak perempuan. Jiang Yinghan—ibunya—pun menyuruhnya untuk tidak mengganggu mereka lagi.
Setelah itu, Jin Qiang—ayahnya—jarang sekali menelepon lagi. Saat Jiang Mu tahu bahwa ayahnya kini punya anak perempuan lagi, dan Jin Chao punya adik perempuan baru, ia tenggelam dalam kesedihan yang cukup lama. Rasanya seperti keluarganya dicuri orang lain. Kasih sayang ayah dan kakaknya kini diberikan pada anak lain—dan kebahagiaan itu, sejak saat itu, tidak akan pernah menjadi miliknya lagi.
Setelah itu, Jiang Mu tidak lagi bisa begitu saja menelepon Jin Chao untuk mengeluh—entah saat nilai ujiannya jelek, atau saat bertengkar dengan teman sebangkunya. Ia takut kalau yang mengangkat telepon justru istri baru ayahnya. Di dalam hati Jiang Mu, ayah dan kakaknya tetaplah keluarganya. Namun mau tidak mau ia harus mengakui: mereka perlahan-lahan telah menghilang dari hidupnya, sejak malam hujan deras itu.
Setelah liburan musim panas di kelas 5 SD, Jiang Mu dan ibunya pindah rumah dua kali. Ia mencoba menelepon ayah dan kakaknya untuk memberi tahu alamat baru mereka. Tapi setiap kali ia menelepon, yang mengangkat telepon selalu seorang perempuan asing. Jiang Mu tidak tahu harus memanggilnya apa, sehingga ia hanya bisa buru-buru menutup telepon. Tidak lama kemudian, nomor itu pun tidak bisa dihubungi lagi.
Ia sempat menulis beberapa surat untuk Jin Chao, memberi tahu alamat baru dan nomor kontak mereka. Tapi tidak pernah ada balasan—baik surat maupun telepon. Setelah kelas 6 SD, hubungan mereka benar-benar putus.
Setahun setelah bercerai dengan Jin Qiang, Jiang Yinghan membuka toko lotre. Uang yang dihasilkan setiap bulan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua—ibu dan anak. Kehidupan mereka perlahan semakin membaik. Tapi setiap kali nama ayahnya disebut, wajah Jiang Yinghan akan menunjukkan ekspresi tidak senang. Seiring waktu, Jiang Mu pun tidak lagi sering menyebut-nyebut ayah dan kakaknya.
Jika hidup terus berjalan seperti ini—teratur dan tanpa kejutan tidak terduga—mungkin dengan nilai-nilainya, Jiang Mu bisa masuk universitas yang cukup baik, mendapatkan pekerjaan yang stabil, dan tinggal di dekat ibunya. Mungkin ia tidak akan pernah lagi berhubungan dengan ayah dan kakaknya. Tapi tepat di tahun terakhir SMA, secara tidak terduga ia mengetahui sebuah kenyataan—dan itu mengubah jalan hidupnya selamanya.
Catatan Penerjemah:
[Guzheng adalah alat musik tradisional Tiongkok yang bentuknya seperti kotak cembung panjang dari kayu, dengan senar yang membentang di atasnya. Alat musik ini dimainkan dengan cara dipetik menggunakan bantuan kuku palsu yang dipasang di jari. Nama: "Gu" (古) berarti "kuno", dan "Zheng" (筝) adalah nama asli alat musik ini. Jadi, Guzheng artinya "Zheng kuno". Alat ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu, tepatnya pada zaman Negara-negara Berperang (475–221 SM), dan menjadi sangat populer pada masa Dinasti Qin . Karena sejarahnya yang panjang, Guzheng dianggap sebagai alat musik yang sangat klasik dalam budaya Tiongkok.]
Komentar
Posting Komentar