Speed and Love-Bab 03
Jiang Mu tidak tahu ke mana Jin Chao pergi. Ia hanya duduk diam menunggu di dalam mobil. Tidak lama kemudian, Jin Chao kembali—di tangannya ada sebungkus rokok yang baru dibeli dan segelas air. Ia dengan santai memberikan gelas air beserta sedotannya kepada Jiang Mu. Jiang Mu buru-buru menegakkan tubuh, menerimanya dengan kedua tangan, dan berkata, "Terima kasih."
Sikap Jiang Mu yang terlalu sopan itu membuat Jin Chao menoleh sekilas. Namun ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menutup pintu mobil.
Udara di utara tidak seperti di selatan yang lembab dan panas, tapi musim panas tetap terasa kering. Jiang Mu belum minum seteguk air pun sejak naik kereta dari Beijing. Mungkin karena akan bertemu dengan keluarga yang sudah lama tidak ia jumpai, ia hampir tidak bisa tidur semalaman. Kekhawatiran dan kegelisahan menyertainya sepanjang perjalanan, sehingga ia lupa minum air. Itu sebabnya, saat berbicara dengan Jin Chao, suaranya terdengar serak.
Kali ini, Jin Chao dengan sengaja menepikan mobil di pinggir jalan untuk membelikannya segelas air. Hal itu membuat Jiang Mu merasa canggung. Bahkan ia sempat berpikir, apakah Jin Chao membeli sebungkus rokok juga sekadar untuk menutupi kecanggungan?
Jiang Mu menunduk, menusuk sedotan ke dalam gelas dan meneguk minuman itu. Kesegaran es menyusup melalui ujung lidah dan meluncur ke tenggorokannya—saking nikmatnya, matanya terpejam sejenak. Ternyata, itu adalah strawberry milkshake, minuman kesukaannya.
Rasa itu langsung membangkitkan ingatannya—samar-samar ia masih bisa mengingat masa kecilnya, betapa ia sangat menyukai stroberi. Suatu ketika, Jin Chao membawanya ke halaman depan rumah seorang nenek-nenek tua. Di sana tumbuh deretan stroberi yang ditanam dengan sengaja, buahnya tidak besar—kecil-kecil, seperti stroberi liar—tapi rasanya sangat manis. Jin Chao melepas bajunya, dan memakai baju itu untuk membawa segenggam penuh stroberi pulang.
Setelah itu, mereka duduk di rumput di bukit belakang. Jin Chao memberikan stroberi itu pada Jiang Mu untuk dimakan. Ia mengangkat stroberi yang sudah ia gigit dan baru saja akan memberikannya pada Jin Chao, namun ia teringat perkataan Jin Chao, "Kak, bagian belakangnya tidak manis."
Jin Chao dengan santai menerimanya, "Yang tidak manis, kasih aku."
Mengingat kenangan lucu masa kecil itu, Jiang Mu tanpa sadar tersenyum kecil. Jin Chao, yang baru saja menyalakan mesin, meliriknya dari sudut mata dan bertanya, "Tertawa apa?"
Jiang Mu menundukkan kepala, menyesap strawberry milkshake-nya, dan senyumnya perlahan luntur. Sebab ia teringat—pada hari itu, ketika matahari perlahan tenggelam, Jin Chao menggenggam tangannya dan membawanya pulang. Namun sang nenek tua ternyata sudah lebih dulu tiba di depan rumah mereka. Jin Qiang meyakinkan dengan tegas bahwa anak-anaknya tidak akan mencuri stroberi. Tapi begitu ayahnya melihat baju Jin Chao yang penuh dengan noda merah stroberi, ayahnya hanya bisa meminta maaf dan memberikan ganti rugi pada sang nenek.
Malam itu, Jiang Yinghan sangat marah. Ia menghardik Jin Chao, mengatakan bahwa dia telah menyesatkan adiknya. "Hari ini mencuri stroberi, besok apa? Mau mencuri uang juga?"
Jiang Yinghan melihat Jin Chao hanya membisu dengan leher kaku, tanpa sedikit pun rasa bersalah. Amarahnya makin membara, ia mengambil gantungan jemuran dan mencambukkannya ke lengan Jin Chao. Meskipun Jin Chao yang kena pukul, Jiang Mulah yang menangis lebih keras. Malam itu, ia diam-diam menyelinap ke kamar kakaknya, mendekap lengan Jin Chao, dan meniup pelan-pelan luka itu, bertanya apakah Jin Chao kesakitan. Namun ia ingat—Jin Chao tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Jin Chao hanya berkata, "Besok kita tidak bisa makan stroberi lagi. Nanti kalau aku sudah besar dan punya uang, aku akan membelikanmu stroberi yang besar-besar."
Jiang Mu mengenang masa lalu sambil menyeruput strawberry milkshake-nya. Perasaannya campur aduk—seolah rasa strawberry milkshake itu pun ikut berubah menjadi masam dan pahit.
Jiang Mu menoleh dan bertanya, "Mobil ini punyamu?"
Jin Chao, yang tangannya bertumpu pada kemudi, berhenti sejenak, lalu menjawab, "Bukan."
Jiang Mu bertanya demikian, semata-mata karena ia ingin tahu—dari sisi lain—bagaimana kehidupan Jin Chao sekarang. Maka ia bertanya lagi, "Kamu masih sekolah?"
Jin Chao hanya menjawab dengan dua kata: "Tidak."
"Lalu... apakah kamu baru lulus tahun ini, atau..."
Jiang Mu tidak tahu bagaimana melanjutkan pertanyaannya. Jin Chao, seolah menangkap kegalauan dan kehati-hatiannya, langsung menjawab dengan terus terang, "Setelah lulus SMA, aku tidak melanjutkan."
Satu kalimat itu membuat jantung Jiang Mu jatuh ke dasar. Ia sudah membayangkan banyak kemungkinan—termasuk kemungkinan ia tidak akan bertemu dengan kakaknya saat datang ke sini, mungkin kakaknya masih kuliah di luar kota. Tapi ia sama sekali tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti ini. Jiang Mu masih ingat, Jin Chao kecil sangat pintar. Setiap kali ayahnya pulang dari rapat orang tua, wajahnya selalu berseri-seri. Dinding rumah dipenuhi dengan piagam penghargaan "Siswa Teladan" milik Jin Chao. Kakaknya tampaknya tidak pernah kesulitan belajar, dan masih punya banyak waktu untuk bermain sepak bola setiap hari, pulang dengan tubuh basah kuyup oleh keringat, lalu langsung tidur nyenyak. Namun nilainya selalu berada di peringkat teratas. Gurunya bahkan mengatakan bahwa kakaknya terlahir untuk belajar. Lalu... mengapa dia berhenti?
Ribuan pertanyaan berdesakan di dalam hati Jiang Mu. Namun, baru pertama kali datang ke tempat ini, dan setelah bertahun-tahun tidak bertemu, rasa asing di antara mereka membuatnya tidak berani menyentuh pertanyaan-pertanyaan sensitif itu.
Tidak lama kemudian, mobil berbelok masuk ke area pemukiman kota. Di sini terasa lebih ramai daripada di pinggiran—jalanan semakin sempit, dan banyak sepeda motor yang melintas bolak-balik. Jiang Mu membuka matanya lebar-lebar, mengamati sekeliling dengan rasa ingin tahu. Tiba-tiba, sebuah sepeda motor melintas di depan mobil mereka tanpa diduga. Jiang Mu kaget hingga sedotannya menusuk mulutnya. Jin Chao menginjak rem, menurunkan kaca jendela, dan berteriak pada pengendara itu, "Minggir, brengsek!"
Pria itu bertubuh besar, dengan kepala dicukur plontos (botak), alisnya tebal dan hitam seperti alis Guan Gong, dan garis kerut di kedua sisi mulutnya membentuk seperti karakter "八" di wajahnya. Jiang Mu jarang melihat orang dengan rupa begitu menyeramkan. Tanpa sadar ia menggenggam erat sabuk pengamannya. Namun pria itu bukan hanya tidak marah setelah dimaki—dia malah tersenyum dan berteriak kepada Jin Chao, "Nanti malam minum, ya?"
Jin Chao menjawab dengan nada dingin, "Minum kepalamu."
Pria itu membelokkan motornya, lalu melaju di samping mobil Jin Chao. Dia membungkuk dan berkata, "Ada apa denganmu? Lagi kesal?"
Baru saja selesai bicara, pria itu melihat gadis kecil berwajah halus di kursi penumpang. Matanya langsung berbinar, lalu dia menyeringai sambil mengerjapkan alis, "Oh, ternyata ada 'minuman(arak)' di sini. Siapa cewek ini?"
Jin Chao tidak menghiraukannya. Pria itu kembali bergumam, "Kau tidak takut si Ular Hijau kecil itu datang membuat keributan di tempatmu?"
Jin Chao langsung menutup kaca jendela dan melajukan mobil pergi. Hingga saat itu, barulah Jiang Mu merasa lega. Ia hampir mengira Jin Chao akan terlibat konflik dengan pria itu. Namun segera setelah itu, ia menyadari sesuatu.
Jiang Mu pun bertanya, "Apakah orang itu temanmu?"
Jin Chao mengangguk pelan, "Hm." Jiang Mu terdiam. Ia menundukkan pandangannya, hatinya bergolak tidak karuan. Berhenti sekolah setelah SMA, dan tampaknya teman-teman di sekitarnya juga bukanlah orang-orang yang dapat diandalkan. Setelah meninggalkan Suzhou, seperti apa sebenarnya kehidupan yang dijalani Jin Chao? Semua itu kini menjadi pertanyaan besar yang terus menghantui Jiang Mu.
Jiang Mu bertanya lagi, "Mengapa dia memanggilmu 'Arak'?"
Jin Chao melirik Jiang Mu sekilas, namun tidak menjawab pertanyaan itu.
Tidak lama kemudian, mobil memasuki sebuah perumahan yang sempit. Setelah melalui beberapa tikungan, Jin Chao langsung menginjak gas dan menaikkan mobil ke tepi jalan di samping perumahan—itulah yang disebutnya tempat parkir.
Setelah mobil dimatikan, Jin Chao tiba-tiba mendekat dan bertanya, "Luka?"
Hari mulai gelap, dan cahaya di dalam mobil tidak begitu terang. Saat sosok Jin Chao tiba-tiba mendekat, Jiang Mu tanpa alasan yang jelas merasa gugup. Ia mengalihkan pandangannya, menatap mata hitam berkilau Jin Chao, dan melihat bekas luka tipis di alis kiri Jin Chao—jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Meskipun garis wajah Jin Chao kini jauh lebih tajam daripada masa remajanya, dan hampir tidak ada lagi sisa-sisa masa lalu yang tersisa, bekas luka itu masih ada. Bekas luka yang disebabkan olehnya. Dulu, ia pernah mendengar ayahnya bercerita—saat itu usianya baru sekitar satu tahun. Untuk menangkapnya yang jatuh dari tempat tidur, Jin Chao membenturkan wajahnya ke meja kaca di samping tempat tidur, dan mengeluarkan banyak darah.
Sejak Jiang Mu bisa mengingat, bekas luka tipis itu selalu tersembunyi di balik alis Jin Chao. Dulu Jiang Mu tidak pernah memperhatikannya, tapi kini, melihatnya kembali, bekas luka itu justru membuat wajah Jin Chao tampak lebih berbahaya dan misterius.
Jiang Mu terus menatap bekas luka itu, seolah-olah akhirnya ia menemukan jejak masa lalu pada diri Jin Chao yang sekarang. Rasa akrab yang begitu kuat hampir membuat Jiang Mu sesak, bahkan ia merasakan dorongan untuk menangis.
Jin Chao mengamati bibir Jiang Mu, memeriksa apakah benar-benar terluka. Ternyata sedotan tadi memang menusuk bibir bawah Jiang Mu hingga berdarah—sehingga bibirnya tampak merah dan sembab, mengingatkan Jin Chao pada buah ceri. Ia segera mengusir pikiran itu dan mengerutkan kening. Baru pada saat itulah ia benar-benar menyadari bahwa gadis kecil yang dulu suka merengek dan sedikit manja itu kini telah tumbuh menjadi seorang gadis dewasa yang anggun. Jin Chao merasa tidak pantas terus menatapnya, maka ia menegakkan tubuh dan menjauhkan jarak di antara mereka. Namun saat ia mengangkat pandangannya, ia melihat ekspresi Jiang Mu yang tampak seperti akan menangis. Tanpa berpikir panjang, Jin Chao berkata, "Namanya Jin Fengzi."
Jiang Mu bingung mendengar perkataan Jin Chao. Ia menoleh dan bertanya, "Apa maksudmu 'Jin Fengzi'?"
Jin Chao meletakkan kedua tangannya di atas kemudi, bibirnya sedikit tersenyum. "Orang tadi."
"Siapa? Guan Gong?"
Jin Chao terdiam sejenak, lalu senyum tipis di bibirnya sedikit melebar. "Ya, dia. Lain kali ketemu, suruh dia terima satu pukulan darimu. Ayo turun."
Jiang Mu kebingungan membuka pintu mobil. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa Jin Chao mengira ia menangis karena bibirnya terluka.
Jin Chao mengeluarkan koper Jiang Mu dari bagasi. Di lingkungan ini belum ada sistem pemilahan sampah, sehingga beberapa tong sampah besar di area permukiman kumuh itu menumpuk dan mengeluarkan bau busuk yang menyengat. Jiang Mu menahan napas. Jin Chao meliriknya dan bertanya dengan nada rendah, "Suzhou sekarang sudah berkembang pesat, ya?"
Jiang Mu merasa agak sulit menanggapi pertanyaan Jin Chao. Ia sadar ada jarak yang jauh antara kedua tempat itu, tetapi tempat ini juga adalah tempat tinggal Jin Chao dan ia tidak mau terlihat sombong. Karena itu, ia hanya menjawab dengan hati-hati, "Ya... lumayan."
Jin Chao melangkah lebih dulu, dan tanpa menengok ke belakang ia berkata, "Jika kamu merasa tidak nyaman, beri tahu aku."
Jiang Mu tidak mengerti maksud perkataan Jin Chao. Namun, ketika ia mengikuti Jin Chao masuk ke dalam bangunan itu, perbedaan yang sangat kontras tetap membuat Jiang Mu merasa tidak nyaman.
Dinding di lorong bangunan itu retak-retak, sebagian catnya mengelupas. Di lantai dua, pegangan tangga sudah tidak ada lagi, menyisakan besi-besi yang terbuka dan berkarat. Lorongnya juga sangat sempit, dan di depan pintu beberapa penghuni terdapat tempayan-tempayan besar, membuat bangunan yang sudah sesak itu terasa semakin padat dan gelap.
Tempat ini mengingatkan Jiang Mu pada perumahan lama yang mereka huni semasa kecil. Namun Jiang Mu dan ibunya sudah bertahun-tahun pindah ke apartemen dengan lift, memiliki balkon yang luas dan jendela kaca besar, dengan taman yang asri dan fasilitas yang lengkap. Sementara itu, kehidupan Jin Chao bagaikan terhenti di masa lalu, masih berada di titik yang sama sepuluh tahun yang lalu. Memikirkan hal itu, perasaan haru dan sedih menyelimuti hati Jiang Mu.
Jin Chao menaiki tangga hingga lantai lima dengan satu tarikan napas. Ia membawa koper itu dengan ringan, sementara Jiang Mu sudah terengah-engah. Jin Chao melirik Jiang Mu, lalu tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala, "Hanya beberapa lantai tangga, sudah membuatmu kelelahan seperti ini?"
"Ya, rasanya seperti menaiki satu gunung."
"Kondisi fisikmu perlu ditingkatkan."
Jin Chao berkomentar demikian. Jiang Mu bertanya, "Mengapa kamu sama sekali tidak kehabisan napas saat naik tangga?"
Jin Chao mengeluarkan kunci dan menjawab, "Terbiasa."
Jiang Mu berkata tanpa berpikir, "Bagaimana caranya? Dengan menggendong adikmu?"
Begitu kata-kata itu keluar, keduanya terdiam sejenak. Dulu, rumah lama mereka di Suzhou berada di lantai empat. Saat kecil, Jiang Mu suka memaksa Jin Chao menggendongnya naik tangga. Ia melingkarkan lengannya di leher Jin Chao, sementara kedua kakinya bergoyang-goyang di samping tubuh Jin Chao. Jin Chao selalu menaiki tangga dengan cepat sambil membawanya, dan seluruh lorong bangunan itu dipenuhi tawa mereka berdua. Itu seperti sebuah permainan kecil yang hanya mereka berdua yang tahu.
Setelah mengetahui bahwa Jin Chao memiliki adik perempuan baru, Jiang Mu beberapa kali mengalami mimpi yang sama. Dalam mimpinya, Jin Chao menggendong adik barunya dan berlari menaiki tangga, sementara Jiang Mu hanya bisa berdiri di luar bangunan. Perasaan ditinggalkan itu begitu menyakitkan, sulit untuk digambarkan dengan kata-kata.
Mungkin karena itu adalah pikiran bawah sadarnya, begitu kata-kata itu keluar dari mulut Jiang Mu, ia langsung menyesal. Dengan bingung dan canggung, ia menatap Jin Chao. Namun Jin Chao tidak berkata apa-apa—dia hanya membuka pintu di hadapan mereka dengan tenang.
Saat pintu terbuka, Jiang Mu seperti melangkah ke alam lain—rumah yang tidak ia kenali, keluarga yang benar-benar asing baginya.
Catatan Penerjemah:
[Guan Gong (关羽, Guān Yǔ) adalah seorang jenderal legendaris dari zaman Tiga Kerajaan (sekitar 184–280 M) dalam sejarah Tiongkok. Ia dikenal sebagai simbol kesetiaan, keberanian, dan keadilan. Dalam budaya Tiongkok, ia sering digambarkan dengan wajah merah dan alis tebal yang gagah, sehingga dalam cerita ini, penulis membandingkan alis pria kasar itu dengan alis Guan Gong untuk menunjukkan betapa tebal dan menonjolnya alis tersebut.]
Komentar
Posting Komentar