Legend of the Female General-Bab 264 Grand Final (4)

Setelah Awal Musim Panas, tibalah Masa musim panas kedua. Seiring berlalunya Musim panas kedua, cuaca semakin panas, dan Festival Perahu Naga pun semakin dekat.

Di bawah kepemimpinan Marquis Wu'an, Pasukan Fuyue merebut kembali Jiuchuan. Laporan kemenangan datang silih berganti. Seratus ribu prajurit Wutuo dikalahkan, sementara sisanya melarikan diri ke barat, hanya untuk dibasmi oleh Pasukan Fuyue. Dengan demikian, pasukan He Yan membutuhkan waktu hampir tiga bulan untuk meraih kemenangan di gurun dan merebut kembali Jiuchuan.

Rakyat Jiuchuan bersorak-sorai setiap hari, merayakan kemenangan yang diraih dengan susah payah. Di dalam Pasukan Fuyue, tidak seorang pun berani meremehkan marquis muda ini lagi. Melalui kemenangan ini, He Yan telah membuktikan keberanian dan kecemerlangan strateginya.

He Yan duduk di dalam ruangan, menghitung rampasan perang. Kemenangan besar terakhir telah menghasilkan banyak tawanan dan keuntungan. Seorang wakil komandan masuk dari luar dan dengan hormat berkata, "Tuanku, Tuan Kota Jiuchuan meminta mu untuk tinggal disini sampai Festival Perahu Naga sebelum berangkat."

Para prajurit Wutuo di Jiuchuan kini tidak punya kesempatan untuk membalas penyerangan. Awalnya, He Yan berencana segera kembali ke ibu kota setelah menyelesaikan urusan di sini. Namun, namun karena rasa terima kasih kepada para prajurit Fuyue yang telah mengusir para orang Wutuo, warga sipil berharap mereka akan tinggal lebih lama.

Terutama jenderal perempuan itu.

Di medan perang, Jenderal perempuan itu tangguh dan menakutkan, namun terhadap warga sipil biasa, ia luar biasa sabar dan ramah.

He Yan bertanya, "Berapa hari lagi sampai Festival Perahu Naga?"

"Lima hari," jawab wakil komandan.

He Yan terdiam sejenak. "Baiklah, kita akan segera berangkat setelah Festival Perahu Naga."

Orang-orang yang baru saja mengalami peperangan membutuhkan secercah harapan. Tetap disni sebentar mungkin akan memberi mereka kekuatan untuk menghadapi masa depan yang perlu mereka bangun kembali dengan lebih baik.

Selain berjuang mengambil kemabali kota, hanya ini yang bisa ia lakukan untuk warga sipil di sini.

Ruangan itu kosong. Ketika pasukan Wutuo menduduki Jiuchuan, mereka menjarah dan membakar kota. Barang-barang berharga dicuri atau dihancurkan, dan bahkan ruangan yang kini ia tempati separuh dindingnya terbakar.

He Yan menatap peta di atas meja dan mendesah pelan.

Akhirnya, Jiuchuan telah direbut kembali.

Masih belum ada kabar dari Yunzi dan Jijun, meskipun laporan dari seluruh Binjiang menunjukkan perkembangan yang menjanjikan. Kemenangan cepat di Jiuchuan sebagian besar berkat pengalamannya sebelumnya memimpin pasukan untuk memadamkan pemberontakan Qiang Barat. Medan Moxian mirip dengan Jiuchuan, dan karena Tentara Fuyue pernah ditempatkan di Moxian sebelumnya, ia dapat meraih kemenangan dengan begitu mulus.

He Yan bertanya-tanya bagaimana keadaan Yan He dan Xiao Jue sekarang.

Saat He Yan sedang merenungkan hal ini, seseorang masuk dari luar – itu Wang Ba. Ia menarik sepucuk surat dari dadanya dan berkata, "Kabar dari Jijun telah tiba."

Setelah kehilangan beberapa saudara secara berturut-turut, Wang Ba menjadi jauh lebih tenang, tidak lagi menunjukkan sikap dominannya seperti dulu saat masih di Garda Liangzhou.

He Yan mengambil surat itu dan membukanya dengan penuh semangat.

Surat terakhir dari Jijun hanya menunjukkan bahwa situasi wabah tidak optimis. Setelah sekian lama berlalu, He Yan bertanya-tanya bagaimana keadaan mereka sekarang.

Surat itu singkat, hanya berisi beberapa kalimat. Saat He Yan membaca, raut wajahnya menjadi muram.

Melihat raut wajah He Yan yang gelisah, Wang Ba bertanya, "Ada apa? Apakah orang Wutuo sulit ditangani disana?"

He Yan menggelengkan kepalanya. "Ada sesuatu yang terjadi pada Yan He."

Surat itu ditulis oleh Yan He, dan meskipun hanya menyebutkan beberapa poin secara singkat, setiap kalimatnya membuat hati He Yan bergetar. Selama beberapa bulan terakhir, Jijun terjebak dalam kebuntuan dengan orang-orang Wutuo, tetapi situasi secara keseluruhan baik-baik saja. Satu-satunya masalah adalah Yan He sendiri. Surat itu menyatakan bahwa ia telah diracuni oleh racun orang-orang Wutuo yang tidak dapat di sembuhkan. Setelah mendengar bahwa Jiuchuan telah direbut kembali, dan karena Yunzi dan Binjiang tidak searah dengan Jijun, hanya Jiuchuan yang relatif dekat.

Yan He berkata waktunya mungkin singkat, dan karena khawatir tidak akan ada yang memimpin pasukan setelah kematiannya, ia meminta bantuan He Yan. Di akhir surat, ia bahkan sempat bercanda, mengatakan bahwa ketika He Yan sebelumnya meminta bantuannya di Rundu, dan ia telah memimpin pasukan untuk membantu He Yan, dan sekarang, ini bisa dianggap sebagai balasan atas bantuannya di Rundu.

Meskipun masih memiliki semangat untuk bercanda, He Yan tahu situasinya pasti gawat. Lagipula, Lin Shuanghe telah pergi ke Jijun bersama Yan He – jika itu racun biasa, bagaimana mungkin Lin Shuanghe tidak bisa menyembuhkannya? Surat Yan He menyebutkan waktunya singkat...

He Yan tiba-tiba berdiri.

Wang Ba bertanya, "Apa yang akan kau lakukan?"

"Kirim perintah: kita tidak bisa menunggu sampai Festival Perahu Naga. Siapkan peralatan militer hari ini, kita berbaris menuju Jijun besok."

...

Di musim panas, vegetasi tumbuh subur. Setelah hujan semalaman, tanah mengeluarkan aroma tanah yang lembap.

Di tepi sungai, seorang pria berpakaian rami tengah menumbuk herbal, dengan hati-hati mencampur beberapa jenis herbal.

Seorang prajurit yang lewat dengan ramah menasihati, "Dokter Lin, kau sibuk di sini sepanjang malam, silakan istirahat."

Lin Shuanghe mendongak, memperlihatkan wajah yang belum dicukur. Ekspresinya lesu, dan matanya merah karena bekerja sepanjang malam, tampak menakutkan pada pandangan pertama.

Lin Shuanghe mengangkat kepalanya, terlihat menyipitkan mata ke arah sinar matahari. Setelah beberapa saat, ia menggelengkan kepala dan berkata dengan suara serak, "Tidak."

Prajurit yang berpatroli merasa aneh – Dokter Lin ini telah bekerja siang dan malam dengan ramuan herbal selama beberapa waktu. Wabah itu tampaknya telah terkendali, jadi tidak perlu melakukan upaya yang begitu melelahkan, namun Lin Shuanghe tetap sibuk dengan panik karena alasan yang tidak diketahui.

Namun, karena Lin Shuanghe tidak mau mendengarkan, prajurit itu tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya menggelengkan kepala dan pergi.

Lin Shuanghe menatap ramuan herbal di dalam pot tanah liat.

Hampir dua bulan telah berlalu.

Ia belum menemukan penawarnya, dan yang lebih parah lagi, racun di tubuh Yan He semakin menyebar. Yan He mulai batuk darah. Ramuan yang dikumpulkan Lin Shuanghe hanya mampu mencegah Yan He terlihat terlalu lesu untuk sementara, mencegah para prajurit keluarga Yan menemukan kebenaran Jenderal mereka telah terkena racun. Racun dari lukanya telah menyebar ke organ-organ dalamnya, dan Lin Shuanghe tahu betul bahwa waktu Yan He hampir habis.

Lin Shuanghe bekerja tanpa hanti siang dan malam untuk mencari solusi, tetapi tidak ada. Sekeras apa pun ia mencoba, racun di tubuh Yan He tidak menunjukkan perbaikan.

Ia harus mengakui ketidakberdayaannya.

Mungkin di masa lalu di Shuojing, meskipun ia dikenal sebagai "Dokter Ajaib", ia secara khusus mengobati penyakit wanita, kebanyakan kasus rumit tetapi bukan yang mengancam jiwa. Dalam hidup, masalah terbesar adalah hidup dan mati. Selama ada kehidupan, ada harapan. Namun kini, ia harus menyaksikan tidak berdaya saat sahabatnya semakin dekat dengan kematian, dan ia, sebagai seorang dokter, tidak bisa berbuat banyak.

Lin Shuanghe menundukkan kepalanya sambil menumbuk herbal, bergumam, "Harus lebih cepat, harus cepat lagi..."

Herbal-herbal di dalam panci memercikkan sarinya saat alu besi menghancurkannya, beberapa berceceran di wajahnya dengan aroma pahit. Saat Lin Shuanghe menumbuk obat, rasa tidak berdaya dan duka yang luar biasa melandanya. Ia menghentikan gerakannya, matanya tiba-tiba memerah.

Ia tidak pernah begitu menginginkan keterampilan medisnya meningkat sedikit saja seperti sekang, cukup untuk menyelamatkan Yan He, daripada melakukan hal-hal yang tidak efektif seperti yang dilakukannya sekarang.

Tetapi orang-orang di sekitar mereka masih belum tahu bahwa komandan mereka membayar dengan nyawanya di setiap pertempuran.

Lin Shuanghe berdiri, mencuci tangannya di tepi sungai, berhenti sejenak, lalu berjalan menuju ke tenda Yan He.

Batuk pelan yang tertahan terdengar, dan saat Lin Shuanghe mengangkat penutup tenda, ia melihat Yan He menyeka darah dari sudut mulutnya.

"Kau!" teriak Lin Shuanghe.

"Pelankan suaramu," Yan He menggelengkan kepalanya. "Jangan biarkan orang lain tahu."

Lin Shuanghe membiarkan pintu tenda jatuh, melangkah maju dengan cepat, dan meraih pergelangan tangan Yan He untuk memeriksa denyut nadinya. Yan He dengan diam mengizinkannya. Setelah beberapa saat, Lin Shuanghe melepaskan tangan Yan He dan menatap Yan He dengan bibir gemetar.

Yan He bertanya, "Berapa lama lagi waktuku?"

Lin Shuanghe tidak menjawab.

"Baiklah, sepertinya beberapa hari lagi," Yan He tersenyum, senyumnya mengandung sedikit keengganan namun juga penerimaan. "Menghitung waktu sejak aku mengirim surat kepada He Yan, dia seharusnya tiba dalam beberapa hari. Waktunya pas, meskipun aku tidak tahu apakah aku bisa bertemu dengannya untuk terakhir kalinya."

"...Tidak," Lin Shuanghe secara spontan berkata, "Aku masih bisa membuat penawarnya, tunggu aku, aku pasti bisa. Lagipula, orang-orang Wutuo itu pasti punya penawarnya... Jika kita menemui mereka, kita akan mendapatkan penawarnya!"

"Kau masih sebodoh dulu. Sekalipun kau belum pernah bertempur, kau seharusnya punya akal sehat," kata Yan He dengan nada meremehkan. "Orang-orang Wutuo itu melihat sendiri anak panah itu mengenaiku. Mereka akhirnya berhasil melenyapkanku, bagaimana mungkin mereka menyerahkan penawarnya? Mau bertaruh? Sekalipun aku menangkap komandan mereka sekarang dan menawarkan untuk menukar nyawa komandan mereka dengna obat penawar, mereka tetap tidak akan menyerahkan penawarnya. Hanya ada satu kemungkinan – jika aku bersedia menyerah dan dimanfaatkan oleh mereka, mungkin aku bisa menyelamatkan hidupku hanya karena keberuntungan, tetapi kami, keluarga Yan, tidak melakukan hal-hal seperti itu."

"Sebagai seorang Komandan Gubei..." Yan He tersenyum. "Sekalipun aku mati dalam pertempuran ini, itu sepadan bagi mereka."

"Dan kau," Yan He mengerutkan kening pada Lin Shuanghe, "jika kau bisa membuat penawarnya, apakah kau akan menunggu sampai sekarang? Lupakan saja, kau hanya seorang dokter, bukan Raja Neraka – bagaimana mungkin kau bisa memutuskan masalah hidup dan mati? Tidak perlu terlalu mengharapkan dirimu. Pertahankan hidupmu yang tidak berharga itu dan tunggu Marquis Wu'an datang menyelamatkanmu."

Ekspresi Lin Shuanghe tampak sedih.

Meskipun ia dan Yan He selalu bertengkar dan saling membenci, mereka tetaplah teman sekelas masa kecil yang tumbuh bersama. Meskipun ia membenci kesombongan dan kecintaan Yan He pada perkelahian, dan Yan He meremehkan kurangnya pengetahuan dan keterampilannya, setelah bertahun-tahun, mereka masih bisa dianggap "teman."

"Kau tidak perlu terlihat begitu berduka," Yan He menatap ekspresi Lin Shuanghe seolah jijik. "Bukankah kalian para dokter terbiasa melihat orang hidup dan mati? Kenapa kau tidak seterbuka aku? Untuk apa kau terlihat begitu menderita? Beberapa dekade lagi, bukankah kau akan datang untuk menemaniku? Aku akan pergi dulu dan bertarung dengan teman sekelas perempuan yang berpakaian seperti pria itu."

Bahkan saat ini, Yan He masih berpikir untuk bertarung. Lin Shuanghe tidak kuasa menahan tawa, tetapi setelah tertawa, ia merasa semakin sedih. Setelah hening sejenak, ia bertanya, "Sudahkah kau memikirkan apa yang akan terjadi pada Kakak Ipar dan Mu Xia?"

Ekspresi Yan He yang sebelumnya riang tiba-tiba membeku.

Ia teringat wanita yang selalu tersenyum lembut, harapan tulusnya sebelum ia pergi. Wanita itu begitu perhatian – ketika wanita itu mengetahui nasibnya... wanita itu mungkin akan menangis, mungkin akan sangat sedih.

Yan He tiba-tiba juga menjadi sedih, dadanya terasa seperti terisi kapas basah, sesak dan sulit bernapas.

Setelah sekian lama, akhirnya ia berkata perlahan, "Sebelum pergi, aku berjanji pada Cheng Xiu bahwa aku akan berusaha sebaik mungkin untuk kembali dan melihat sekilas dunia yang dilihat Mu Xia."

"Tapi sekarang, sepertinya aku harus mengingkari janji itu."

Yan He menundukkan kepala sambil tersenyum mengejek diri sendiri: "Cheng Xiu paling membenci orang yang tidak menepati janjinya. Jika aku tidak kembali, dia mungkin akan marah. Lin Shuanghe, jika kau bertemu dengannya nanti, tolong katakan padanya bahwa aku tidak bermaksud begitu."

"Aku bukan orang yang mudah marah. Di permukaan, semua orang menghormatiku, tetapi aku tahu sebenarnya, tidak ada yang menyukaiku, sama sepertimu, Xiao Huaijin, dan He Yan. Aku tidak pandai menjadi teman, tetapi sebagai seorang suami, aku cukup berhasil. Awalnya aku ingin terus bertumbuh, menjadi ayah terbaik di Shuojing, tetapi..."

Suaranya sangat pelan: "Sekarang tidak ada kesempatan."

Lin Shuanghe ingin bicara, tetapi meskipun mulutnya terbuka, ia tidak tahu harus berkata apa.

"Dulu aku berpikir, jika Cheng Xiu melahirkan anak perempuan, kami akan memanggilnya Mu Xia, dan jika anak laki-laki, kami akan memanggilnya Liang Jiang. Tapi sekarang setelah dipikir-pikir, meskipun anak laki-laki, kami tetap bisa memanggilnya Mu Xia."

"Aku ingin melihatnya tumbuh besar dengan mata kepalaku sendiri. Ketika ia sudah agak besar, aku akan mengajarinya bahwa jenderal yang baik tidak takut mati untuk mempertahankan hidup rakyat dan bahwa pahlawan tidak mengorbankan prinsip mereka untuk bertahan hidup. Sekarang aku tidak bisa melakukan itu, tetapi kupikir tidak ada cara yang lebih baik untuk mengajarinya hal ini. Ketika ia dewasa dan mengetahui bahwa ayahnya gugur di medan perang, ia akan mengerti tanpa perlu aku ajari."

Ketika berbicara tentang Mu Xia yang belum lahir, tatapan Yan He akhirnya melembut, menjadi lembut dan penuh kasih sayang.

Lin Shuanghe memejamkan matanya sejenak.

Kata-kata ini, seperti pesan terakhir, menusuk hatinya bagai jarum tajam yang tidak terhitung jumlahnya.

"Kau tidak perlu bersedih untukku, atau merasa sakit untukku. Seorang jenderal yang gugur di medan perang adalah tujuan terbaik. Meskipun aku menyesal, aku tidak bersedih," Yan He berdiri, keluar dari tenda, dan memandang ke arah menara-menara kota yang jauh.

"Setiap orang yang pergi ke medan perang telah bersiap untuk mati di sini."

"Masih ada beberapa hari lagi," kata Yan He. "Lanjutkan, terus melangkah maju kedepan."

...

Ketika He Yan tiba di Jijun, ia melihat Lin Shuanghe yang benar-benar berbeda dari sebelumnya.

Pria elegan yang selalu mengenakan jubah putih dan membawa kipas lipat, selalu menjaga keanggunannya, kini tampak kurus kering tidak dapat dikenali. Pakaiannya berlumuran darah dan lumpur, wajahnya tampak tidak dicuci selama berhari-hari, tidak bercukur, begitu muram sehingga He Yan hampir tidak mengenalinya.

"Kakak Lin..." He Yan turun dari kudanya dan melangkah maju untuk bertanya.

"Kau di sini," secercah kehidupan akhirnya muncul di mata Lin Shuanghe yang redup lalu ia tergagap, "Kemarilah dan temui Yan He."

Yan He telah gugur di medan perang.

Yan He telah diracuni dengan racun yang tidak dapat disembuhkan, dan meskipun ia tahu bahwa aktivitas yang intens akan membuat racun menyebar lebih cepat dan lebih dalam, ia menolak untuk berhenti berperang. Seperti lilin yang telah terbakar habis, ia membakar dengan putus asa hingga ia benar-benar habis.

Sebelum kematiannya, ia baru saja memenangkan pertempuran.

Jenderal muda itu berbaring di tenda, kotoran di wajahnya telah dibersihkan, rambutnya diikat tinggi seperti di masa mudanya, tombak peraknya diletakkan di sampingnya. Seseorang masih bisa melihat penampilannya yang bersemangat seperti dulu, tetapi ketika He Yan mendekat, Yan He tidak akan pernah lagi mengangkat alisnya dengan arogan dan menantang He Yan untuk bertanding.

"Ia tahu waktunya singkat. Sebelum pergi, ia memintaku untuk memberikan ini kepadamu." Lin Shuanghe menyerahkan sebuah kotak kepada He Yan. Ketika He Yan membukanya, ia mendapati kotak itu penuh dengan dokumen yang telah disiapkan. Yan He telah menghitung dan mencatat semua situasi pertempuran dan pasukan Jijun, menuliskan semuanya agar ketika He Yan tiba, ia tidak akan kebingungan.

Yan He sangat teliti, mungkin masih memikirkan perang ini bahkan di saat-saat terakhirnya.

"Bagaimana situasi di Jijun?" tanya He Yan.

Lin Shuanghe menggelengkan kepala, suaranya rendah, "Setelah Yan He meninggal, semangat perang pasukan keluarga Yan sangat terguncang. Orang-orang Wutuo memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang dua kali berturut-turut. Tanpa Yan He, pasukan keluarga Yan tercerai-berai seperti pasir lepas, hancur total."

He Yan berkata, "Ini bukan salah pasukan keluarga Yan. Posisi Jijun awalnya mudah dipertahankan tetapi sulit diserang. Orang Wuto menempati medan yang menguntungkan – bagi Yan He untuk menyerang kota sudah sangat sulit, terutama ketika orang wuto menggunakan metode yang begitu keji."

"Jadi sekarang..."

"Aku perlu segera bertemu dengan wakil komandan pasukan keluarga Yan untuk membahas rencana selanjutnya," jawab He Yan.

Lin Shuanghe mengangguk tanpa suara.

He Yan berbalik hendak pergi, tetapi tiba-tiba teringat sesuatu, berhenti, dan kembali menatap Lin Shuanghe.

"Kakak Lin," suara H Yan tenang, tatapannya seolah memiliki kekuatan untuk menenangkan hati, "Tidak menyelamatkan Yan He bukan salahmu."

Kata-kata itu akhirnya memberi Lin Shuanghe jalan keluar atas rasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri yang ditanggungnya selama beberapa hari terakhir.

"Tidak," suara Lin Shuanghe bergetar, menunjukkan kerentanan di hadapan He Yan untuk pertama kalinya, "Aku tidak bisa menemukan penawarnya..."

Setelah kematian Yan He, bawahannya akhirnya mengetahui bahwa Yan He telah diracuni parah. Mereka menyalahkan Lin Shuanghe, sebagai orang yang disebut dokter dewa, tidak dapat menemukan penawarnya dan tidak dapat menyelamatkan jenderal mereka. Tuduhan dan kutukan yang tidak terhitung jumlahnya terus-menerus memenuhi telinganya, dan Lin Shuanghe bahkan terbangun karena mimpi buruk.

Wanita berbaju zirah merah tua itu menatapnya dan berkata dengan lembut, "Kau seorang dokter, bukan dewa. Kau hanya bisa mengobati penyakit dan menyelamatkan orang, bukan memutuskan masalah hidup dan mati. Yan He terkena panah beracun dari orang Wutuo – jika kau ingin membalaskan dendamnya, kita harus memenangkan perang ini."

"Kau harus menenangkan diri, Dokter Lin," He Yan mengubah cara bicaranya, "Aku butuh bantuanmu."

"Jijun membutuhkanmu."

...

Di dalam tenda, wakil komandan Yan He, Chen Cheng, berseru, "Apa katamu? Menyerah?"

"Itu penyerahan diri palsu," kata He Yan. "Karena orang Wutuo tahu bahwa Jenderal Yan telah tiada dan pasukan keluarga Yan tanpa pemimpin, mereka pasti akan memanfaatkan keuntungan mereka akhir-akhir ini. Daripada terus-menerus dikekang oleh mereka, lebih baik kita berpura-pura menyerah. Begitu orang-orang kita berada di dalam kota, dengan Tentara Fuyue dan Tentara keluarga Yan sebagai bala bantuan, kita dapat memanfaatkan kesempatan untuk menerobos gerbang kota di tengah kekacauan."

"Ketika Jenderal ada di sini, kita selalu berhadapan langsung dengan orang-orang Wutuo. Orang-orang keluarga Yan tidak pernah menyerah, meskipun itu palsu!" Chen Cheng langsung menolaknya.

He Yan tidak marah, hanya menatapnya dengan tenang, "Kau sudah cukup lama di sini untuk mengenal medan Jijun dengan baik. Jika kita tidak menerobos gerbang kota dan terus berkemah di luar kota, kita hanya akan melelahkan diri. Iya, Yan He memimpinmu dalam pertempuran, menang berkali-kali, dan membunuh banyak orang Wutuo, tetapi pada akhirnya? Apa yang terjadi? Kota Jijun masih diduduki oleh orang-orang Wutuo. Jika kita tidak bisa memasuki kota, kita tidak bisa memenangkan perang ini!"

"Apa yang kau tahu?" Ekspresi Chen Cheng gelisah, "Kau sama sekali tidak mengerti Jenderal Yan. Kau bersekutu dengan Lin Shuanghe itu, hanya reputasi, tanpa substansi, hanya menimbulkan masalah!"

Kematian Yan He merupakan pukulan telak bagi semua orang di pasukan keluarga Yan. Mereka membenci Lin Shuanghe karena tidak mengungkapkan kebenaran lebih awal, tetapi mereka juga tidak tahu apa-apa tentang pertimbangan matang Yan He.

Ekspresi He Yan berubah dingin.

Seorang wakil komandan Pasukan Fuyu di sampingnya menegur: "Apa maksudmu 'semua reputasi'? Komandan He baru saja memimpin pasukan untuk merebut kembali Jiuchuan dan meraih kemenangan. Apa hakmu meremehkannya!"

Pasukan keluarga Yan belum melihat kemampuan He Yan di medan perang, tetapi Pasukan Fuyue mereka telah melihatnya. Jika He Yan hanya pamer, maka Wei Agung tidak akan memiliki banyak komandan militer yang "benar-benar cakap".

"Aku tidak merundingkan ini denganmu," kata He Yan dingin, "Aku memberimu perintah. Jika kau tidak mau mendengarkan, kau tahu konsekuensi dari menentang perintah militer." He Yan dengan cepat menghunus pedang di pinggangnya, pedangnya sedingin es. "Silakan mencoba."

"Kau..." Chen Cheng menggertakkan giginya, "Kau memimpin Pasukan Fuyue, bukan pasukan keluarga Yan. Satu-satunya atasan pasukan keluarga Yan adalah Jenderal Yan. Apa hakmu untuk memimpin kami?"

"Dengan hak dari jenderalmu memberiku plakat militer, dengan hak dari jenderalmu secara pribadi menunjukku untuk memimpinmu ke medan perang!" He Yan mengangkat tangannya, menunjukkan plakat militer di depan mata semua orang.

"Sekarang," tatapan wanita itu jernih dan mantap, "apakah kau punya keberatan lain?"

Dengan plakat militer di tangan, He Yan sekarang dapat memimpin pasukan keluarga Yan. Sekalipun Chen Cheng memiliki sepuluh ribu keberatan, ia tidak dapat berkata apa-apa lagi saat ini.

Chen Cheng menggertakkan giginya: "Tidak."

"Aku tahu kau tidak yakin," kata He Yan, "Jadi aku akan secara pribadi memimpin pasukan garda depan dalam penyerahan diri palsu."

Chen Cheng tertegun.

Pasukan pertama yang memasuki kota pasti akan berada dalam bahaya paling besar, seperti domba yang memasuki sarang harimau. Dengan semua pasukan Wei Agung di luar kota, dikepung oleh orang-orang Wutuo, jika orang-orang Wutuo tiba-tiba berubah pikiran dan menyerang...

Kelompok ini akan dikirim menuju kematian mereka.

"Kau... yakin?" tanya Chen Cheng curiga.

He Yan menatapnya, dan entah kenapa, tatapan ini membuat wajah Chen Cheng memerah. Suara wanita itu tenang dan datar, "Memimpin dari garis depan adalah tugas setiap komandan, bukan hanya Jenderal Yan-mu."

"Juga," kata He Yan, "Dokter Lin bertindak atas perintah jenderalmu. Jika kau ingin menyalahkan seorang dokter sementara mengabaikan orang-orang Wutuo yang sebenarnya menyebabkan kematian jenderalmu, menunjukkan penilaian yang buruk antara benar dan salah, maka aku tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan. Namun," suara He Yan mengandung nada mengejek, "jika jenderalmu melihat pemandangan ini, dia mungkin akan sangat kecewa dengan pasukan yang dia bangun dengan tangannya sendiri."

"Aku..." Chen Cheng hendak berbicara, tetapi wanita itu telah mengabaikannya dan meninggalkan tenda.

Begitu He Yan meninggalkan tenda, He Yan membeku – Lin Shuanghe berdiri di luar, menatap He Yan. Sepertinya Lin Shuanghe telah mendengar semua yang dikatakannya di dalam.

Tidak masalah apakah Lin Shuanghe mendengar; inilah yang dipikirkan He Yan.

"Terima kasih," setelah hening sejenak, Lin Shuanghe berbicara lebih dulu. Ia tersenyum getir, "Tapi berbicara untukku seperti ini hanya akan membuat mereka juga tidak menyukaimu."

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya," He Yan menatap ke kejauhan. "Kau mengikuti Yan He ke sini, mengendalikan wabah, merawat prajurit yang terluka – kau juga mempertaruhkan nyawamu. Namun," He Yan tersenyum, "jangan simpan dendam mereka ke hatimu. Mereka terlalu patah hati, berpikir irasional untuk saat ini. Nanti, mereka akan mengerti."

"Aku tidak membenci mereka." Lin Shuanghe menarik napas dalam-dalam dan mengganti topik pembicaraan: "Aku baru saja mendengar kau bilang kau berencana berpura-pura menyerah?"

"Kamp militer Fuyu tidak dekat dari sini. Orang-orang Wutuo itu mungkin belum menyadari kedatangan ku dan yakin dengan posisi mereka. Hanya dengan menyerah sekarang mereka akan percaya pada kita dan membuka gerbang kota. Hanya ketika gerbang terbuka kita akan memiliki kesempatan untuk menangkap semua orang Wutuo."

"Apakah pasukan garda depan yang memasuki kota lebih dulu akan berada dalam bahaya besar?"

Angin bertiup, dengan lembut mengibaskan rambut panjang wanita yang diikat itu.

Suaranya tegas, dan tenang tanpa sedikit pun keraguan.

"Medan perang selalu berbahaya," kata He Yan. "Aku tidak takut bahaya."

Disclaimer: Terjemahan ini dilakukan secara sukarela untuk tujuan berbagi hobi dan apresiasi karya. Seluruh hak cipta, termasuk karakter, alur cerita, dan judul adalah milik penuh penulis asli dan penerbit. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas konten ini. Jika Anda menyukai ceritanya, dukung penulis aslinya melalui platform resmi.

Komentar