Legend of the Female General-Bab 175 Qiluo

"Seperti sosok giok yang melangkah di salju, pergi dengan anggun; Seperti angsa liar yang mengejutkan awan, terbang bebas." Orang berpakaian hitam itu memiringkan kepala, menatapnya, dan berkata, "Kupikir semua orang di dunia tahu namaku."

Jenderal Fei Hong? He Rufei?

Hati Hu Yate bergetar ketakutan, dan ia berseru, "Tidak mungkin!"

"Kenapa tidak mungkin?" Mata di balik topeng itu menatapnya, bibirnya melengkung dengan ejekan yang tidak ada habisnya, "Apa yang tidak mungkin?"

Meskipun Hu Yate adalah jenderal Wutuo yang paling berani, tanpa sadar ia melangkah mundur, berteriak hampir histeris, "Serang! Bunuh orang ini, dan Raja akan memberimu hadiah dengan sangat banyak!"

Anak panah dan bayangan yang tidak terhitung jumlahnya melesat ke depan, tetapi orang bertopeng itu dengan mudah menghindari setiap bilah pedang dan anak panah yang mengarah ke arahnya. Bagai angsa liar yang terbang di salju, sayap orang itu seakan menguasai langit dan bumi, tidak ada yang bisa membatasinya. Pedang orang itu tidak terhentikan, menari di malam hari, seolah mampu menembus hujan sekalipun.

Hu Yate harus percaya satu hal – orang ini benar-benar Jenderal Fei Hong, He Rufei. Tidak seorang pun di dunia ini yang memiliki ilmu pedang sehebat He Rufei selain He Rufei. Meskipun Hu Yate belum pernah beradu pedang dengan He Rufei, ia pernah mendengar dari orang-orang Qiang Barat yang kalah bahwa Pedang Qinglang milik He Rufei mampu menembus semua rintangan, baik yang mungkin maupun yang mustahil.

Tapi kenapa He Rufei muncul di sini? Ini jelas... mustahil!

Mungkinkah ini rencana lainnya milik Wei Agung? Apakah He Rufei telah menipu mereka? Orang-orang Wei Agung yang licik dan menjijikkan ini!

"Aku akan membunuhnya!" kata Hu Yate penuh kebencian, berteriak kepada orang-orang di dekatnya, "Ambilkan busur dan anak panahku!"

Ia ingin secara pribadi menembak jatuh burung besar yang masih terbang ini, menyaksikan angsa liar ini jatuh dari langit, menyentuh tanah, dan akhirnya diinjak-injak ke dalam lumpur olehnya.

Busur dan anak panah diserahkan kepadanya, dan ia membidik sosok berpakaian hitam yang dikelilingi oleh prajurit Wutuo yang sedang bertempur. Karena tidak dapat membidik sasaran dengan jelas, ia meraung, "Dasar bodoh, mundur sedikit!"

Begitu ia berbicara, anak panahnya dilepaskan, tetapi beberapa anak panah tiba-tiba melesat keluar dari semak-semak yang lebat, dengan sempurna menjatuhkan anak panah yang ia tembakan barusan.

"Ada kaki tangan! Tangkap mereka!"

Pada saat itu, seorang pria bertopeng iblis melompat keluar dari semak-semak, tertawa terbahak-bahak, dan melemparkan sesuatu seperti tong kayu ke arah sosok berpakaian hitam itu.

Orang yang memegang pedang itu menangkap tong kayu yang dilemparkan di udara, dan ketika anak panah para prajurit Wutuo tiba, "Jenderal Fei Hong" bergerak terlalu cepat, mustahil bagi mereka untuk mengikutinya dengan jelas, Jenderal Fei Hong menggunakan tong kayu itu sebagai perisai di depan mata mereka, seperti penghalang besi.

Ketika anak panah mengenai tong kayu yang He Yan gunakan sebagai perisai, sesuatu seperti air mulai mengalir keluar. Saat Hu Yate melihat ini, jantungnya menjerit berbahaya, dan ia berteriak, "Berhenti! Semuanya berhenti!"

Meskipun para pemanah segera menghentikan tembakan, anak panah yang telah dilepaskan tidak dapat ditarik kembali. Dalam sekejap, tong kayu "Jenderal Fei Hong" yang telah berlubang, mengelurkan cairan menyembur keluar dan membasahi seluruh kamp perbekalan. Segera setelah itu, orang itu bersiul nyaring, dan dari semak-semak, dari keempat penjuru yang gelap, puluhan hingga ratusan anak panah melesat. Anak panah ini membawa api, dan ketika jatuh di atas perbekalan yang berlumuran minyak, dengan bunyi "ledakan", api melesat ke angkasa.

Setelah melakukan hal ini sebelumnya di Jiyang, He Yan kini cukup terampil dalam menyalakan api

Hu Yate sangat marah hingga hampir batuk darah, ia lalu memerintahkan beberapa orang untuk memadamkan api dan yang lainnya untuk membunuh musuh. Namun, ini bukan Jiyang, dan sungai tidak ada di mana-mana. Meskipun perkemahan mereka tidak jauh dari sungai, tentu saja juga tidak dekat.

He Yan merasa agak lega. Minyak ini adalah minyak terakhir yang digunakan untuk membuat kembang api dan senjata di Rundou. Meskipun hujan turun malam ini, hujannya ringan sementara angin bertiup kencang. Selama mengikuti arah angin, api pasti akan menyebar, dan pada akhirnya, semua tenda yang berkemah disini akan berada dalam bahaya.

"Sekarang saatnya!" teriak He Yan keras, "Jangan mundur, bertarung!"

Suara pertempuran meletus dari segala arah, disertai cahaya api. Hu Yate melihat sekeliling, melihat para prajurit Wei Agung bertopeng iblis menyerbu dari segala arah, membuat para prajurit Wutuo panik dan kehilangan semangat. Kini, dengan persediaan yang terbakar dan beberapa orang sibuk mengambil air untuk memadamkan api, lupakan formasi pertempuran – mereka bahkan tidak bisa berkoordinasi untuk membunuh para prajurit Wei Agung. Hu Yate hampir batuk darah karena marah.

Ini semua gara-gara He Rufei!

He Rufei... ia melihat sekeliling, tetapi tidak menemukan bayangan He Rufei. Jantungnya berdebar kencang, ia meraung, "Tangkap He Rufei untukku, aku ingin memenggal kepalanya sendiri!"

Dari dalam tenda terdengar suara tangisan pelan para wanita. Tiba-tiba, penutup tenda terangkat, dan dua wajah bak iblis muncul di dalamnya.

Para wanita itu bergumam singkat, "Ah," tetapi sebelum mereka sempat berbicara lebih lanjut, seseorang menutup mulut mereka. Orang itu melepas topengnya, memperlihatkan wajah garang dengan bekas luka, meskipun begitu orang ini bukan wajah orang Wutuo. Ia berkata dengan tidak sabar, "Kami orang Wei Agung, di sini untuk menyelamatkan kalian. Kenakan pakaian kalian dan cepat ikut kami!"

Para wanita di dalam tenda hampir tidak berpakaian, dua di antaranya sudah tergeletak tidak bergerak di tanah, mengembuskan napas terakhir. Jiang Jiao menyaksikan pemandangan itu dan mendesah dalam hati. Ketika mereka tiba, Hu Yate sedang berada di dalam, melakukan kekejaman terhadap para tawanan wanita kota Rundou. He Yan tidak dapat menunda misi pembakaran perbekalan, jadi ia pergi, tetapi tidak lupa. Setelah perbekalan dibakar, ia mengutus mereka berdua untuk memeriksa para wanita ini.

Awalnya dia berpikir He Yan terlalu berhati lembut, kini setelah melihat mayat-mayat tragis di kamp, bahkan bandit seperti Wang Ba pun merasa tertekan, Wang Ba mengepalkan tinjunya, dan mengutuk orang-orang Wutuo lebih buruk daripada binatang buas dalam hati.

Beberapa perempuan diam-diam mengikuti Wang Ba dan Jiang Jiao keluar dari tenda. Para prajurit Wutuo semuanya berkonsentrasi pada tenda perbekalan, tidak seorang pun memperhatikan mereka. Jiang Jiao bertanya, "Bisakah Saudara He bertahan sendirian selama ini?"

Wang Ba tertawa dingin, "Dia jauh lebih jago berperan sebagai pahlawan daripada kau atau aku – dia pergi menyelamatkan tawanan lainnya."

Tenda yang menahan para tawanan Wei Agung berukuran kecil dan bobrok, nyaris tidak mampu melindungi dari angin dan hujan. Puluhan perempuan berdesakan, nyaris tidak berpakaian, masing-masing dengan ekspresi sedih. Tenda itu berbau darah dan busuk, membuat mual. Setiap kali orang Wutuo memperkosa para perempuan ini, yang mati dibuang ke sungai, sementara yang hidup dikembalikan dengan tubuh penuh luka, hanya untuk mengulangi siksaan yang sama, hari-hari mereka lebih buruk dari kematian hingga mereka pun mati.

Tiba-tiba melihat seseorang datang menyelamatkan mereka, para wanita itu tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

"Ayo pergi," kata He Yan, "Aku akan membawamu keluar dari sini."

Wanita yang memimpin jalan bertanya dengan gemetar, "Pahlawan, siapa namamu... apakah kau... apakah kau Jenderal Fei Hong?"

Orang bertopeng itu tidak bergerak. Sesaat kemudian, ia melepas topengnya, menampakkan wajah muda yang tampan dan heroik, suaranya tenang: "Bukan, aku He Yan, Wuan Lang yang ditunjuk Kekaisaran."

Formasi prajurit Wutuo benar-benar kacau. Orang-orang Wei Agung yang bertopeng itu tidak tinggal diam dalam pertempuran – melihat persediaan hampir habis terbakar, mereka berbalik dan menyerbu menuju gerbang kota. Tali-tali telah diturunkan dari atas gerbang, dan banyak sekali pemanah bersembunyi di tembok kota. Setiap kali prajurit Wutuo mendekati mereka, mereka ditembaki dengan anak panah yang "dipinjam" dari orang-orang Wutuo beberapa hari sebelumnya.

Orang-orang Wutuo tidak bisa mendekat, sementara orang-orang bertopeng iblis itu bisa mundur tanpa cedera.

"Mereka membawa pergi para tawanan!" teriak seseorang.

Hu Yate murka, "Bangsat! Bahkan tidak bisa menjaga perempuan!"

Para prajurit Wutuo merasa dirugikan – siapa sangka di saat-saat genting seperti ini, masih ada yang peduli pada perempuan yang tidak berguna? Mereka hanyalah rampasan perang musuh yang hanya akan memperlambat laju pasukan mereka. Jika ini terjadi di Wutuo, bahkan jika diselamatkan, para tawanan itu akan dibunuh – perempuan yang telah dinodai oleh tentara musuh tidak berhak hidup di dunia ini.

Bagaimana mungkin mereka membayangkan seseorang akan bersusah payah menyelamatkan para wanita tawanan ini, yang lebih memilih mati di kamp musuh?

Seorang penasihat berkata dengan ragu, "Kudengar Jenderal Fei Hong He Rufei tidak pernah menyakiti wanita. Jika ada yang menangkap wanita Wei Agung, selama dia ada, dia selalu menyelamatkan mereka..."

Hu Yate menendangnya, "Omong kosong! Sudah kubilang, bagaimana mungkin He Rufei datang ke Rundou!"

Bau perbekalan terbakar tercium di seluruh dataran, dengan tentara Wutuo yang terus-menerus membawa ember air untuk memadamkan api, tetapi dengan angin kencang dan kobaran api yang hebat, semua itu sia-sia. Hu Yate memandang ke arah tembok kota Rundou di kejauhan, tempat para pemanah yang tidak terhitung jumlahnya bersembunyi di posisi tinggi, sesekali menembakkan panah api ke arah mereka, seperti peringatan.

Wajahnya menggelap, hampir menggertakkan giginya hingga menjadi bubuk: "Rundou... aku akan meruntuhkan Rundou! Jangan tinggalkan seorang pun yang selamat di Rundou, tua maupun muda!"

He Yan adalah orang terakhir yang memanjat tembok kota.

Karena harus melindungi para perempuan saat mereka memanjat tali terlebih dahulu, He Yan pun berhadapan dengan para prajurit Wutuo di tembok kota. Meskipun anak panah para pemanah berhasil memukul mundur orang-orang Wutuo, saat ia kembali ke kota, ia masih menderita luka-luka.

Di mana ada perang, di situ ada pengorbanan – bertahan hidup dengan nyawa saja sudah merupakan suatu keberuntungan.

Para perempuan yang nyaris lolos dari kamp musuh itu duduk terpaku di atas tembok kota. Baru ketika mereka tidak lagi mendengar terompet perang milik pasukan Wutuo di kejauhan, mereka tersadar. Mereka perlahan menutupi wajah dengan kedua tangan, mereka pun terisak-isak.

Di balik gerbang kota, semua prajurit Rundou telah melepas topeng mereka. Setelah semalaman penyerbuan, segalanya menjadi sangat tegang. Baru sekarang mereka tampaknya mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa menangis, yang lain tertawa, berteriak: "Kita bakar perbekalan mereka! Orang-orang Wutuo itu dipermainkan oleh kita, haha, kita kalahkan orang-orang Wutuo!"

Mengatakan mereka menang tentu saja berlebihan, tetapi serangan malam ini memang menang telak. Meskipun korban jiwa dari pihak Wutuo tidak diketahui, dari lima ratus prajurit elit He Yan, empat puluh enam orang tewas dan dua ratus tujuh puluh tiga lainnya luka-luka. Bagi penduduk Rundou yang telah bertahan selama lebih dari sebulan, ini adalah hasil terbaik.

Li Kuang menatap tidak percaya para prajurit elit yang tergeletak di tanah, lalu bergumam, "Mereka benar-benar melakukannya."

Ketika He Yan memimpin pasukan ini, Li Kuang sebenarnya tidak setuju. Ia hampir mempersiapkan diri menghadapi kenyataan bahwa He Yan dan beberapa ratus orang ini tidak akan kembali hidup-hidup, menganggapnya sebagai misi maut. Soal pembakaran perbekalan pasukan Wutuo, Li Kuang juga yakin kemungkinannya sangat kecil.

Namun, semua hal yang dianggapnya mustahil kini menjadi kenyataan – mereka bahkan telah membawa kembali para tawanan yang dibawa orang-orang Wutuo ke luar kota.

Dalam hati Li Kuang, secercah harapan baru tiba-tiba menyala. Selama ini, ia tidak percaya pasukan Rundou mampu melawan pasukan Wutuo. Ia mengira mereka hanya bisa mempertahankan gerbang kota dan menunggu bala bantuan. Namun kini He Yan menunjukkan kemungkinan lain – bagaimana jika pasukan Wutuo pun tidak mampu bertahan? Tanpa perbekalan, pasukan Wutuo tidak akan bertahan lama; pasukan Wuto tidak lagi memiliki keunggulan. Kini mereka hanya mengandalkan keunggulan jumlah, bukan jumlah... bukankah Wuan Lang He Yan muda ini sudah memenangkan dua pertempuran meski kalah jumlah?

Memikirkan hal ini, Li Kuang menatap He Yan dengan penuh semangat. Ia melihat pemuda itu bersandar di dinding, masih mengenakan topeng, memperhatikan para wanita yang diselamatkan menangis berpelukan. Li Kuang tidak bisa melihat ekspresi He Yan, tetapi bisa melihat senyum di bibirnya.

Dia merasa puas.

Sesaat, pemandangan di depan mata Li Kuang berpadu dengan kenangan masa lalu. Ia masih samar-samar mengingat saat ia bertempur bersama He Rufei, yang saat itu hanyalah seorang wakil jenderal. Orang itu juga pernah duduk diam di tanah seperti ini, menyaksikan para prajurit menangis atau tertawa, Keganasannya dimedan perang benar-benar punah, ia menatap para prajurit dengan luar biasa lembut.

Pemuda ini benar-benar mirip He Rufei, pikir Li Kuang dalam hati, atau lebih tepatnya, seperti He Rufei di masa lalu, He Rufei di tahun itu ketika mereka bersama.

"Bagaimana keadaanmu?" Li Kuang berjalan mendekat.

He Yan menatapnya, bibirnya sedikit melengkung, "Baik, hanya sedikit lelah."

Sepanjang malam, ia dan para prajurit elit itu tidak beristirahat. Li Kuang berkata, "Beristirahatlah."

He Yan mengangguk, berdiri, lalu tampak teringat sesuatu dan berkata kepada Li Kuang, "Mengenai para wanita yang diselamatkan ini, mohon bantuan Tuan Li untuk meminta seseorang menanyakan apakah mereka masih memiliki keluarga di kota ini. Jika masih ada, mohon minta keluarga mereka untuk menjemput mereka. Jika mereka tidak memiliki keluarga, mohon pastikan mereka menetap dengan baik."

Li Kuang sedikit mengernyit, tanpa berkata apa-apa.

He Yan tampak memahami pikirannya dan berkata dengan tenang, "Terlepas dari apa yang dipikirkan Tuan Li, mereka adalah orang-orang Wei Agung dan warga Rundou. Sebagai Jenderal kota, kau tidak bisa mengabaikan mereka. Mereka yang berada di medan perang hanya memiliki satu tugas – melindungi setiap jengkal tanah air dan rakyatnya, terlepas dari kekayaan atau status, terlepas dari apa pun yang telah mereka alami."

He Yan menatap Li Kuang dengan tajam, seolah menuntut jawaban. Li Kuang terdiam sejenak, lalu berkata, "Aku mengerti."

He Yan mengangguk padanya: "Terima kasih."

He Yan turun dari tembok kota.

He Yan tinggal di sebuah kediaman yang diatur oleh Zhao Shiming. Sebagai Wuan Lang, ia dapat memanfaatkan hak istimewa posisinya untuk tinggal sendiri di sebuah kamar.

He Yan meminta baskom berisi air panas kepada para pelayan dan masuk ke kamarnya. Para pelayan segera menyiapkan dan membawakan air panas. He Yan mengunci pintu, melepas topengnya, dan menurunkan pakaiannya.

Punggung, bahu, dan lengannya terluka, sebagian akibat goresan pedang, sebagian lagi akibat anak panah. Tadi malam ia berada di garis depan dan membakar persediaan pasukan Wutuo; dengan ratusan anak panah, mustahil untuk keluar tanpa cedera sama sekali. Hasil ini sudah cukup baik.

He Yan membasahi kain dengan air panas dan perlahan mengusap luka-lukanya. Luka di punggung dan bahunya paling dalam, sementara luka sebelumnya di pinggang sebagian besar sudah sembuh – berkat salep penghilang bekas luka dan regenerasi daging dari Lin Shuanghe.

Kali ini, ia datang ke Rundou,ia membawa sisa salepnya. Namun luka di bahu dan pinggangnya telah menghabiskan sisa salepnya; bahkan tidak ada salep yang bisa dikikis dari kotak itu lagi.

Setelah berganti pakaian bersih, He Yan menatap dirinya di cermin. Pemuda di cermin itu pucat pasi. Keuntungan terbesar dari memakai topeng dan pakaian hitam adalah para prajurit tidak bisa melihat darah dan luka, tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas –ia selalu tampak energik, selalu bergerak maju, selalu menjadi orang yang membangkitkan semangat dan menenangkan hati para prajurit.

He Yan menatap lengannya, lengan bajunya tergulung setengah, memperlihatkan luka akibat pedang. Namun, ia telah menghabiskan semua bubuk obatnya dan hendak membungkusnya dengan kain putih tiba-tiba seseorang mengetuk pintu – suara seorang wanita: "Tuan Muda He."

He Yan berkata, "Silakan masuk."

Orang yang masuk adalah seorang wanita muda yang cantik dengan senyum lebar dan lesung pipit kecil di pipi kirinya yang menambah keceriaan pesonanya. Ia berjalan mendekat dan menyerahkan sebuah botol bundar kepada He Yan sambil tersenyum, "Aku melihat Tuan Muda He meminta air panas tadi ketika kau masuk, dan aku menduga kau pasti terluka. Ini sisa obat luka yang biasa digunakan Tuanku. Aku membawanya untukmu." Tatapannya tertuju pada bekas luka pedang di lengan He Yan, dan ia berseru, "Ah! Tuan Muda He, kau terluka?"

He Yan tersenyum, "Hanya luka kecil, tidak apa-apa."

"Apanya yang luka kecil." Wanita muda yang terus terang ini melangkah maju, lalu tampaknya menyadari status mereka dan tidak berani mendekat, hanya berdiri di samping untuk menasihati: "Luka kecil yang tidak diobati akan menjadi luka besar. Tuanku pun sama saja – terkadang ketika ia terluka di medan perang, ia terlalu malas untuk merawatnya, dan nantinya akan menjadi luka lama yang sulit disembuhkan."

He Yan memandangi wajah muda dan cantiknya, merasa nostalgia. Ia mengenal wanita muda ini – ia adalah selir kesayangan Li Kuang, bernama Qiluo. Dulu, ketika ia melawan Qiang Barat di sini bersama Li Kuang, ia menjadi cukup akrab dengan Qiluo. Karena wanita muda ini sangat cerdas dan tahu cara menyenangkan Li Kuang, He Yan berpikir saat itu, jika ia seorang pria, ia mungkin akan dengan sepenuh hati memanjakan gadis seperti itu juga.

Saat itu, Qiluo baru berusia enam belas tahun, sangat muda dengan pipi bulat. Tiga atau empat tahun telah berlalu, dan gadis ini telah sedikit lebih dewasa, sifat kekanak-kanakannya memudar, wajahnya yang bulat menjadi oval, meskipun begitu lesung pipit di pipi kirinya dan senyum manisnya tetap tidak berubah.

"Tuan Muda He, kenapa kau menatapku?" Qiluo menyentuh wajahnya, matanya melirik jenaka sambil berkata dengan manis, "Aku cantik – akulah kesayangan tuan Li."

He Yan tidak kuasa menahan tawa. Qiluo dulu suka menyombongkan hal ini dan masih suka menyombongkannya sekarang. Hanya satu kalimat ini saja membuatnya merasa seperti kembali ke masa lalu.

"Apa yang kau tertawakan?" tanya Qiluo, "Apa aku jelek?"

"Tidak, tidak," He Yan melambaikan tangannya, "Hanya mengingat beberapa kenangan dari masa lalu."

Saat itu, karena Qiluo begitu pintar dan menggemaskan, He Yan mau tidak mau memperlakukannya seperti adik perempuannya sendiri. Meskipun ia memiliki He Xinying sebagai saudara kandung, karena hubungan yang rumit dalam keluarga He, ia dan He Xinying tidak dekat. Saat itu, melihat kecantikan Qiluo, kecerdasannya, dan sifatnya yang penurut, He Yan merasa sedikit menyesal – gadis seperti itu, jika ia menikah, seharusnya mencari pria muda yang seusia dan secantik dirinya. Sedangkan Li Kuang, bukan karena He Yan meremehkan rekannya, melainkan karena Li Kuang sudah cukup dewasa untuk menjadi ayah Qiluo, dan karena sifatnya yang serius dan kasar, sama sekali tidak lembut, He Yan bertanya-tanya apa yang Qiluo lihat dalam diri Li Kuang.

Saat itu, Qiluo hanya terkikik sambil menopang dagunya dengan tangan, berkata kepada He Yan: "Keluargaku semua adalah pelayan. Wakil Jenderal He, bagaimana mungkin pemuda berbakat dan tampan menikahi seorang pelayan sebagai istri? Jika aku menikahi pelayan lain, anak-anak kita akan tetap menjadi pelayan. Menjadi pelayan berarti hidup dalam belas kasihan orang lain – satu langkah salah dan kau bisa kehilangan nyawamu. Apa bagusnya itu?"

"Lebih baik bersama Tuan Li. Aku punya makanan dan pakaian, dan aku hanya perlu menyenangkan satu orang – dan tidak perlu takut lagi diganggu orang lain. Apa yang kau bicarakan itu hanya kata-kata tidak berarti. Aku hanya menganggap ini sebagai pekerjaan, dan menjadi selir Tuan Li lebih mudah daripada pekerjaan yang kau sebutkan. Lagipula, Tuan orang yang terus terang dan tidak suka kerumitan, jadi aku tidak perlu memaikan trik-trik jahat padanya – itu sangat bagus. Wakil Jenderal He, kau dan Tuan adalah pahlawan yang melindungi rakyat Wei Agung. Menjadi selir Tuan Li membuatku menjadi wanita pahlawan – aku tidak melihat ada yang salah dengan itu. Aku hidup jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku tidak punya keinginan lain dalam hidup ini, hanya berharap sepuluh tahun lagi, aku akan tetap menjadi selir kesayangan Tuan. Kuharap sepuluh tahun lagi aku tidak akan menua dan kehilangan penampilanku, dan tidak ada wanita jalang lain yang akan datang untuk memperebutkan cinta dan kasih sayang Tuan. Jika bisa begitu, aku akan sangat berterima kasih kepada Guanyin. "Bodhisattva."

He Yan merasa gadis ini cukup berpikiran jernih – ia mendapatkan apa yang diinginkannya, dan setiap orang punya idenya sendiri. Jika Qiluo bahagia dengan kehidupan seperti itu, itu sudah cukup.

Sekarang, meskipun sepuluh tahun belum berlalu, setelah tiga tahun ia masih menjadi selir kesayangan Li Kuang, yang dibawa ke Rundou.

He Yan menundukkan kepala dan tersenyum, lalu menaburkan bubuk obat yang dibawa Qiluo ke luka di lengannya. Qiluo memperhatikan dengan rasa ingin tahu, tidak kuasa menahan diri untuk berkata, "Tuan Muda He, kau tampak tidak jauh lebih tua dariku, tetapi kau sama seperti Tuan – tidak bersuara saat mengoleskan obat. Apakah kalian para prajurit tidak merasakan sakit?"

"Memang sakit," kata He Yan, "Aku membayangkan tuanmu juga merasakan sakit saat mengoleskan obat, dia hanya tidak ingin menunjukkannya di depan seorang wanita muda."

Qiluo tertawa, "Tuan Muda He, kau bicaranya lucu sekali."

He Yan selesai mengoleskan obat bubuk dan mengembalikan botol itu kepada Qiluo, sambil berkata, "Nona Qiluo, terima kasih atas obatnya."

Qiluo menerima botol itu tetapi tidak langsung pergi. Ia hanya menatap He Yan dan berkata, "Tuan Muda He, ini hanya obat kecil, tidak perlu terima kasih. Seharusnya aku yang berterima kasih padamu."

"Berterima kasih untuk apa?"

"Terima kasih telah menyusun rencana brilian tadi malam untuk membakar perbekalan orang Wutuo, membalas dendam untuk kami. Dan terima kasih telah menyelamatkan para wanita itu."

Qiluo menundukkan kepalanya, tersenyum agak tidak berdaya, "Aku tahu kalau bukan karenamu tadi malam, para wanita yang ditawan orang Wutuo itu tidak akan pernah kembali ke Rundou hidup-hidup. Tidak seorang pun akan peduli dengan nyawa mereka – bahkan jika Tuan sendiri yang memimpin pasukan, dia tidak akan peduli dengan nasib mereka. Tapi kau berbeda." Ia menatap He Yan, matanya berbinar, "Kau membawa mereka kembali, semuanya. Awalnya kupikir, bagaimana mungkin seseorang semuda itu bisa menerima jabatan kekaisaran? Kau pasti menggunakan beberapa keuntungan di medan perang sebelumnya untuk mendapatkan gelar."

"Aku tidak berpikir begitu lagi. Kau berbeda dari mereka – kau orang baik, pahlawan sejati."

Disclaimer: Terjemahan ini dilakukan secara sukarela untuk tujuan berbagi hobi dan apresiasi karya. Seluruh hak cipta, termasuk karakter, alur cerita, dan judul adalah milik penuh penulis asli dan penerbit. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas konten ini. Jika Anda menyukai ceritanya, dukung penulis aslinya melalui platform resmi.

Komentar