Legend of the Female General-Bab 141 Putri Muda

Setelah hening sejenak di ruangan itu, suara Liu Buwang membuyarkan lamunan He Yan.

"Dan kau," tanya Liu Buwang, "Ah He, bagaimana kau bisa berakhir seperti ini? Apa ini penyamaran? Tuan Muda Qiao jelas bukan suamimu."

Ceritanya panjang. He Yan menundukkan kepalanya sambil tersenyum dan berkata, "Guru, aku bukan lagi He Rufei, tetapi He Yan sekarang. Orang itu... adalah atasan ku. Kami datang ke Jiyang untuk mencari seseorang, jadi kami berpura-pura menjadi suami istri. Soal penyamaran, aku tidak memakai apa pun untuk merubah wujudku– beginilah penampilan ku sekarang. Aku yang dulu tidak akan pernah kembali."

Liu Buwang merenung sejenak lalu mengangguk, "Aku mengerti."

Liu Buwang selalu seperti ini, selalu menunjukkan pengendalian diri yang tepat dalam urusan orang lain. Jika orang itu tidak mau bicara, Liu Buwang tidak akan dengan sengaja mengorek informasi. Beberapa orang mungkin menganggapnya berhati dingin, tetapi bagi He Yan saat ini, sikap gurunya yang tidak banyak bertanya adalah berkah besar.

Setelah beberapa saat, Cuijiao dari ruang dalam mengetuk dan keluar, sambil menuntun tangan gadis muda yang tadi mereka selamatkan.

Gadis itu, setelah pulih dari efek obat, kini berjalan dengan lebih kuat. Wajahnya telah bersih, dan ia terlihat berusia lebih dari sepuluh tahun. Ia cantik dan lincah, dengan mata yang memikat bagaikan giok hitam, membawa dirinya dengan keanggunan alami. Hongjiao menata rambutnya dengan kepang panjang yang disukai gadis-gadis Jiyang, melilitkannya hingga menggantung di depan dadanya. Lonceng-lonceng kecil terpasang di rambutnya, dan ia mengenakan pakaian berkuda merah yang dipinjam dari pengurus Kediaman Cui. Saat ia berjalan, lonceng-lonceng itu berdenting merdu, membuatnya tampak manis dan menggemaskan sekaligus memiliki semangat yang unik dibandingkan gadis-gadis biasa.

Liu Buwang menatap gadis itu, sejenak tenggelam dalam pikirannya.

Cuijiao terlihat gelisah, "Nyonya, nona muda ini tidak mau makan."

He Yan lalu bertanya, "Kenapa kau tidak mau makan? Apa kau tidak lapar?"

Gadis muda itu memalingkan muka, mengabaikan pertanyaan He Yan, dengan sikap yang cukup angkuh.

"Dia mungkin tidak percaya dengan makanan setelah dibius sebelumnya," Liu Buwang terkekeh pelan, menatap gadis kecil itu. "Nona Muda, karena kami telah menyelamatkanmu dari para bandit, kami tidak akan menyakitimu. Kalau tidak, kami tidak akan membawamu kembali ke kediaman. Tenang saja. Kalau kau tidak percaya pada kami, kita bisa makan bersama. Dengan begitu, kau tidak perlu kelaparan atau khawatir soal makanannya telah diberi obat atau tidak."

Liu Buwang, dengan sikapnya yang lembut dan selalu menunjukkan sedikit ketegasan, dipadukan dengan sikapnya yang anggun, dengan mudah memikat hati orang-orang. Gadis muda ini pun tidak terkecuali. Setelah menatap mata Liu Buwang sejenak, gadis itu berkata, "Baiklah."

Gadis itu akhirnya melunak.

He Yan merasa lega dan segera meminta Cuijiao menyiapkan beberapa makanan yang mudah dicerna dan disukai anak-anak. Saat Cuijiao pergi, Liu Buwang tersenyum dan bertanya, "Siapa namamu?"

"Xiaolou," jawab gadis muda itu, menunjukkan lebih sedikit sikap angkuh dan lebih patuh di hadapan Liu Buwang.

"Nama yang bagus," Liu Buwang tersenyum. "Dari keluarga mana kamu berasal, dan bagaimana kamu bisa diculik?"

Mendengar pertanyaan ini, Xiaolou menutup mulutnya dan menolak untuk berbicara lebih lanjut.

He Yan dan Liu Buwang bertukar pandang – anak ini memiliki pertahanan diri yang kuat, dan mereka bertanya-tanya apa yang pernah dialaminya sebelumnya.

Sementara mereka merenung, tatapan Xiaolou jatuh pada Qin (alat musik petik tradisional Tiongkok) yang ada di atas meja. Setelah mengamatinya sejenak, Xiaolou bertanya kepada Liu Buwang, "Apakah ini Qinmu?"

Mata yang bagus, pikir He Yan, Xiaolou langsung menyadari keberadaan alat musik sebagus itu pertanda dia bukan gadis biasa.

"Iya."

"Kau bisa memainkannya?"

Liu Buwang menjawab, "Aku bisa."

"Mainkan sesuatu untukku," kata Xiaolou.

Anak ini tahu cara memerintah orang. He Yan ragu – meskipun Liu Buwang membawa Qin, ia jarang memainkannya. Bahkan ketika He Yan menjadi muridnya dan meminta Liu Buwang untuk memainkannya, ia selalu menolak.

Namun kali ini, jawaban Liu Buwang mengejutkan He Yan. Liu Buwang hanya menatap Xiaolou dengan lembut dan tersenyum, "Baiklah."

He Yan: "...Guru?"

Guru siapakah dia?

"Apa yang ingin kau dengar?" Liu Buwang bahkan bertanya dengan lembut kepada Xiaolou.

Xiaolou memainkan kepangannya dan menggelengkan kepalanya, "Entahlah. Mainkan saja apa yang paling kamu kuasai."

Liu Buwang menundukkan kepala, dengan serius mempertimbangkan pendapat Xiaolou: "Apakah 'Shaoguang Man' bisa diterima?"

"Aku belum pernah mendengarnya," Xiaolou mengangguk, "Silakan mainkan lagu itu!"

He Yan ternganga tidak dapat berbicara apa-apa.

Liu Buwang lebih akomodatif terhadap Xiaolou daripada sebelumnya kepada dirinya, yang adalah muridnya. Jika bukan karena perbedaan usia, He Yan pasti sudah menduga bahwa Xiaolou mungkin adalah putri Liu Buwang yang telah lama hilang.

Gadis muda itu duduk di bangku tinggi, mengayunkan kakinya, sementara Liu Buwang meletakkan qin di atas meja, duduk didepannya, lalu menyeka tangannya, dan mulai memetik qin.

He Yan jarang mendengar Liu Buwang bermain qin. Dalam beberapa kesempatan, ketika He Yan terbangun di tengah malam untuk menggunakan kamar kecil ia mendengar suara qin yang halus. He Yan mengira telah bertemu hantu dan gemetar ketakutan. Setelah mengumpulkan keberanian untuk melihat, ia baru menyadari bahwa yang memainkan qin adalah Liu Buwang.

Ketika ia masih muda, He Yan tidak mengerti mengapa Liu Buwang bermain qin di halaman pada tengah malam, He Yan merasa musik yang di keluarkan dari qin yang dimainkan Liu Buwang membawa kesedihan yang tidak terlukiskan. Setelah mengalami banyak hal dan tumbuh dewasa, He Yan perlahan-lahan memahami bahwa gurunya juga memiliki kisahnya sendiri. Mungkin seseorang pernah muncul dalam kehidupan Liu Buwang, meninggalkan jejak yang begitu dalam sehingga Liu Buwang hanya bisa mengungkapkan kerinduannya melalui musik di malam hari.

Kini, setelah bertahun-tahun berpisah, kesedihan dan kehilangan yang terdengar dari musik yang dimainkan Liu Buwang semakin dalam.

Pohon-pohon willow bergoyang tertiup angin sepoi-sepoi musim semi di kota barat. Mengaduk duka kepergian, air mata yang tidak terbendung. Masih teringat hari-hari penuh gairah itu, ketika aku menambatkan perahu kembali. Padang zamrud dan jembatan merah tua di masa itu – orangnya telah tiada, hanya air yang mengalir hampa.

Kejayaan masa muda tidak mengalir untuk yang muda. Kebencian tidak berujung, kapankah akan berakhir? Di musim bunga catkins yang berkibar dan bunga-bunga berguguran, memanjat menara, seluruh sungai musim semi berubah menjadi air mata menciptakan aliran duka yang tidak terhitung jumlahnya.

Xiaolou, yang masih muda, tidak merasakan kesedihan dalam musik itu, hanya menganggap musik itu terdengar merdu dan menyenangkan. Namun, He Yan merasa bahwa dalam musik Liu Buwang, gurunya seperti mengucapkan selamat tinggal pada sesuatu. Sesuatu akan meninggalkan hidupnya, bercampur dengan keengganan dan kehilangan, dan takkan pernah kembali.

Lin Shuanghe dan Xiao Jue tiba-tiba memasuki ruangan. Lin Shuanghe berjalan ke sisi He Yan dan berkata lembut, "Meimei, permainan qin gurumu sungguh luar biasa, setara dengan Huaijin. Meskipun terdengar agak terlalu menyedihkan."

Bahkan Lin Shuanghe pun bisa mendengar kesedihan dalam musik itu, He Yan mendesah pelan. Meskipun telah menjadi murid Liu Buwang selama bertahun-tahun, He Yan merasa dirinya tidak pernah benar-benar menyentuh hati gurunya itu. Siapa Liu Buwang, apa yang telah ia lakukan di masa lalu – He Yan tidak tahu apa-apa, dan gurunya tidak pernah menceritakannya.

Liu Buwang seperti seseorang yang telah meninggalkan masa lalunya, namun juga tidak menganggap serius masa depan, santai seolah siap pergi kapan saja tanpa meninggalkan jejak.

Ketika lagu "Shaoguang Man" berakhir, gemanya masih terngiang-ngiang, Xiaolou menatap Liu Buwang dan tiba-tiba bertepuk tangan meriah, berkata, "Aku pernah mendengar Nenek memainkan lagu ini sebelumnya, tapi dia tidak bermain sebaik kamu. Kau memainkannya jauh lebih baik. Siapa namamu?"

Liu Buwang menepuk kepala Xiaolou, "Kau bisa memanggilku Pertapa Yunlin."

"Nama itu terlalu panjang," Xiaolou tidak puas dengan jawabannya. "Bukankah nama keluargamu Liu?"

Lin Shuanghe sangat setuju dengan kata-kata Xiaolou, lalu berkata, "Permainan qinnya memang luar biasa, bahkan termasuk yang terbaik di Shuojing. Namun..." Lin Shuanghe menatap He Yan dan bertanya dengan bingung, "He meimei, maafkan aku yang terlalu terus terang, tetapi dengan keterampilan qin gurumu yang tidak tertandingi dan 'suamimu' yang luar biasa, bagaimana bisa permainan qinmu tidak sebagus mereka? Apakah gurumu tidak pernah mengajarimu?"

He Yan menjawab tanpa ekspresi, "Guruku hanya mengajariku seni bela diri. Sedangkan suamiku..."

Xiao Jue berdiri di samping He yan, mengangkat alisnya sedikit, menunggu He Yan melanjutkan ucapannya.

He Yan berdeham, "Dia bermain untukku saja sudah cukup, kenapa aku harus repot-repot mempelajarinya?"

Lin Shuanghe: "..."

Setelah beberapa saat, Lin Shuanghe mengangguk, "Benar-benar alasan yang tidak terbantahkan."

Cuijiao membawa makanan. Karena He Yan dan Xiao Jue sudah makan sebelumnya, hanya Liu Buwang dan Xiaolou yang duduk bersama untuk makan. Xiaolou tampak tidak nyaman makan bersama orang lain, gadis itu menunjukkan ketidak nyamanan beberapa kali, mungkin ia hanya makan bersama Liu Buwang untuk memastikan makanannya tidak beracun. Liu Buwang memahami pola pikir gadis muda itu dan hanya mengambil porsi kecil dari setiap hidangan lalu berhenti.

Xiaolou makan dengan sangat selektif, tetapi setidaknya gadis itu masih mau makan.

He Yan merasa lega dan berkata kepada Xiao Jue, "Sekarang kita tinggal menunggu Tuan Cui kembali dan bertanya anak siapa ini, agar kita bisa memulangkannya."

Saat itu suara Zhong Fu terdengar dari luar: "Tuan, Tuan Muda Qiao, dan Nona Yuyan telah kembali dengan dua tamu dan sedang makan di dalam. Tuan Muda Qiao sepertinya punya urusan yang harus dibicarakan dengan mu."

Kemudian terdengar suara serak Cui Yuezhi: "Oke."

Tirai pintu terangkat, dan suara Cui Yuezhi terdengar dari belakang: "Huanqing, Yuyan, kalian sudah kembali? Apakah ada urusan mendesak denganku? Putri memanggilku pagi-pagi sekali, aku tidak bisa lama-lama disini, aku harus segera pergi lagi..."

Suara Cui Yuezhi tiba-tiba terhenti ketika melihat wajah Xiaolou. Setelah beberapa saat terkejut, nada suaranya berubah: "Putri muda – bagaimana kau bisa berada disini?"

Xiaolou, yang tadinya sombong dan angkuh sejak He Yan membawanya kembali, kini meletakkan sumpitnya, menatap Cui Yuezhi, dan mengangkat dagunya dengan angkuh, "Komandan Kavaleri Cui, akhirnya kau tiba."

Putri muda?

Semua orang yang ada di ruangan itu cukup terkejut.

Cui Yuezhi melangkah maju dan berlutut di hadapan Xiaolou, berkata dengan cemas, "Putri memanggilku ke kediamannya pagi ini, mengatakan bahwa Putri Muda telah menghilang sejak tadi malam. Yang Mulia sangat khawatir. Bagaimana Putri Muda bisa sampai ada di sini?" Cui Yuezhi menoleh ke arah He Yan: "Yuyan... apa yang terjadi?"

He Yan juga ingin tahu apa yang sedang terjadi. Ia sudah menduga identitas gadis muda ini bukan orang biasa, tetapi tidak pernah membayangkan gadis muda ini adalah seorang "Putri Muda".

"Tadi malam, Yuyan dan aku tertidur di Perahu Luoying. Pagi-pagi sekali, kami berencana menyewa kereta kuda yang ada di dekat pos untuk kembali ke kediaman. Disana kami melihat Putri Muda diculik dan kami menyelamatkannya dari para penjahat," Xiao Jue menjawab pertanyaan Cui Yuezhi mewakili He Yan. "Dari mereka yang menculik Putri Muda, satu orang tewas, yang lainnya melarikan diri. Ketika Yuyan dan aku membawa Putri Muda kembali ke kediaman, kami tidak tahu identitasnya."

Mendengar ini, Cui Yuezhi sangat terkejut dan bertanya kepada Xiaolou, "Kau diculik? Putri Muda, tahukah kau siapa yang berusaha menculikmu?"

Xiaolou tampak enggan membahas masalah ini dan menjawab dengan tidak sabaran, "Bagaimana aku tahu? Begitu aku meninggalkan Istana, aku bertemu para penculik itu di dekat Kanal Besar. Mereka tidak terlihat seperti orang jahat, tapi siapa yang tahu..." Xiaolou menambahkan dengan penuh kebencian, "Mereka menyembunyikan niat jahat, sungguh tercela!"

Cui Yuezhi bertanya lagi kepada Xiaolou, "Putri Muda, apakah kau terluka?"

"Tidak," gumam Xiaolou, lalu menunjuk Liu Buwang, "Aku hampir terbunuh, tetapi orang ini, ini... Pertapa Yunlin menyelamatkanku."

Baru pada saat itulah Cui Yuezhi menyadari ada kehadiran orang asing di ruangan itu. Melihat aura Liu Buwang yang luar biasa, Cui Yuezhi membungkuk dalam-dalam dan berkata, "Terima kasih atas pertolongannya, Tuan yang terhormat. Bolehkah aku tahu namamu yang terhormat?"

"Ini guru yang mengajariku ilmu bela diri," kata Xiao Jue dengan tenang. "Dia mengajari ku keterampilan bertarung bertahun-tahun yang lalu. Kami sudah lama tidak bertemu dan tanpa diduga bertemu lagi di Jiyang. Paman, panggil saja dia 'Yunlin.'"

"Jadi ini adalah Tuan Yunlin," Cui Yuezhi terkejut dan semakin menyukai Liu Buwang, ia berkata, "Aku akan segera pergi ke Istana untuk mengantar Putri Muda kembali. Tuan Yunlin, bagaimana kalau Tuan Yunlin ikut? Ketika Putri mengetahui kebaikan hati Tuan Yunlin terhadap Putri Muda, beliau pasti akan membalas budimu dengan berlimpah."

Liu Buwang tersenyum tipis dan membalas bungkuk pada Cui Yuezhi, "Yunlin sudah lama menjadi orang biasa yang tidak berurusan dengan gal-hal duniawi. Aku menghargai kebaikan Jenderal, tetapi aku harus menolak hadiahnya. Ketika aku turun tangan untuk membantu, aku tidak tahu Xiaolou adalah Putri Muda Kerajaan."

Orang-orang yang terampil seperti Liu Buwang seringkali memiliki kebanggan mereka sendiri, jadi sikap Liu Buwang dapat dipahami oleh Cui Yuezhi. Selain itu, karena Liu Buwang adalah guru Qiao Huanqing, akan ada banyak kesempatan untuk membangun hubungan di masa depan. Hal yang mendesak sekarang adalah mengembalikan Mu Xiaolou ke Istana Kerajaan – Mu Hongjin hampir mati panik karena khawatir.

Cui Yuezhi lalu berkata kepada Liu Buwang, "Kalau begitu, aku tidak akan memaksa."

Liu Buwang tersenyum dan mengangguk.

"Putri Muda, apakah Kau sudah selesai makan?" Cui Yuezhi menatap Mu Xiaolou, "Jika Putri sudah selesai, silakan kembali ke istana bersamaku. Yang Mulia akan sangat senang melihat Putri kembali dengan selamat."

Mu Xiaolou melompat turun dari bangku, berkata, "Aku mengerti, siapkan tandu." Saat hendak pergi bersama Cui Yuezhi, ia berhenti ketika melewati Liu Buwang dan bertanya dengan agak enggan, "Apakah kau tidak ikut ke istana bersamaku? Nenek akan menghadiahimu banyak emas. Kau boleh mengambil apa pun yang kau mau."

Liu Buwang membungkuk dan membelai rambutnya dengan lembut, "Aku senang Putri Muda baik-baik saja."

Cui Yuezhi terkejut menyaksikan adegan ini. Mu Xiaolou telah dimanjakan oleh Mu Hongjin sejak kecil dan biasanya sangat pemilih, namun Mu Xiaolou saat ini menunjukkan kedekatan yang tidak biasa dengan Liu Buwang. Sebagai seseorang yang mempelajari ilmu bela diri, Cui Yuezhi dapat merasakan keahlian bela diri Liu Buwang yang luar biasa. Jika orang ini bisa tinggal di Istana Kerajaan di sisi Putri Muda, ia bisa menemani sekaligus melindungi Putri Muda – itu akan sempurna.

Namun, urusan ini harus menunggu sampai mereka bertemu Mu Hongjin. Cui Yuezhi menoleh ke arah He Yan dan Xiao Jue: "Yuyan, Huanqing, bersiaplah dan segera ikut aku ke Istana Kerajaan. Kalian telah menyelamatkan Putri Muda, dan Putri pasti akan memiliki banyak pertanyaan untuk kalian. Kalian harus mengunjungi Istana Kerajaan cepat atau lambat, mungkin hari ini juga."

He Yan dan Xiao Jue bertukar pandang, dan He Yan menjawab, "Baik, Paman."

Saat Cui Yuezhi pergi bersama Mu Xiaolou, He Yan berkata kepada Liu Buwang, "Guru, silakan tinggal di kediaman untuk saat ini, kita bisa membicarakan semuanya nanti." Khawatir Liu Buwang akan pergi tanpa pamit, He Yan juga berpesan kepada Lin Shuanghe, "Kakak Lin, tolong jaga Guruku dan jangan biarkan dia pergi sendirian."

Liu Buwang menatap He Yan dan tersenyum tidak berdaya.

Lin Shuanghe segera memahami maksud He Yan dan berkata, "Tidak masalah, aku jamin Tuan Liu akan tetap sama saat kau kembali, tidak kurang sedikitpun."

Baru saat itulah He Yan merasa tenang. Setelah Hong Qiao membantunya merapikan rambut dan berganti pakaian bersih, ia pergi bersama Xiao Jue menuju gerbang istana, bertanya dengan pelan sambil berjalan, "Komandan, mengapa kau tadi mengatakan bahwa guruku adalah guru seni bela dirimu?"

Dan mengapa Xiao Jue menyebut gurunya "Pertapa Yunlin" alih-alih "Liu Buwang?"

Xiao Jue mengangkat alisnya: "Gurumu sepertinya sangat enggan mengungkapkan identitasnya. Mengatakan dia adalah guruku setidaknya akan menghindari kecurigaan."

Benar juga, pikir He Yan lalu tiba-tiba Xiao Jue menambahkan, "Namun, identitas gurumu sangat luar biasa, dan dia sepertinya kenalan lama Putri."

He Yan terkejut, "Bagaimana mungkin?"

"Dari cara gurumu memandang Mu Xiaolou, seolah-olah dia melihat orang lain melalui Mu Xiaolou, dan kalau tidak salah, orang itu pastilah Putri," kata Xiao Jue tanpa tergesa-gesa. "Bagaimana mungkin kau, muridnya, tidak tahu apa-apa tentang ini?"

"Guruku tidak pernah memberitahuku apa pun!" He Yan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Liu Buwang dan Mu Hongjin adalah kenalan lama. Ini adalah berita paling mengejutkan yang didengarnya hari ini! Namun, He Yan samar-samar merasa bahwa apa yang dikatakan Xiao Jue mungkin benar. Kelembutan Liu Buwang terhadap Mu Xiaolou, kesedihan dalam permainan qinnya, penolakannya untuk pergi ke Istana Kerajaan bersama Cui Yuezhi – semua hal ini tampaknya menunjukkan satu hal: setidaknya, Liu Buwang tidak sepenuhnya tidak berhubungan dengan keluarga Mu.

Tapi apa sebenarnya hubungan mereka?

Pertanyaan ini tetap tidak terjawab karena Cui Yuezhi mendesak mereka untuk berangkat ke Istana Kerajaan.

Mu Xiaolou naik tandu, sementara rombongan He Yan bepergian dengan kereta kuda. Cui Yuezhi secara pribadi mengawal mereka, dengan pengawal berbaju zirah dan membawa pedang, mungkin karena Mu Xiaolou sebelumnya mengalami penculikan, membuat orang-orang merasa bahwa Kota Jiyang tidak damai dan seaman yang terlihat.

Istana Kerajaan terletak di sepanjang garis utara dari pusat kota Jiyang, menempati lahan yang luas. Begitu mereka sampai di gerbang, para prajurit maju untuk menginterogasi mereka. Cui Yuezhi memimpin mereka masuk ke istana, pertama-tama membawa Mu Xiaolou masuk sementara He Yan dan Xiao Jue menunggu di aula luar sampai mereka dipanggil.

He Yan dan Xiao Jue duduk di aula luar, karena bosan, He Yan bertanya kepada Xiao Jue, "Komandan, apa yang kau tahu tentang Putri Mengji?"

"Tidak banyak," kata Xiao Jue malas. "Aku hanya tahu bahwa Raja Mengji memiliki satu putra dan satu putri. Putra tertua meninggal sebelum mencapai usia delapan belas tahun, dan pada saat itu, posisi Raja Mengji tidak terlalu aman."

Ketika posisi seseorang tidak stabil, mereka perlu menyatukan kekuatan untuk mengonsolidasikan kekuasaan. Meskipun Yang Mulia memerintah dengan baik hati, selalu ada orang kepercayaan yang tidak tahan dengan kekuasaan para pangeran feodal, berharap semua pangeran Wei Agung lenyap.

Akhirnya, Putri Mengji menikah dengan putra seorang pejabat tinggi istana. Karena suami Putri Mengji adalah pejabat istana, Raja Mengji dapat mengawasi Jiyang untuk mencari pejabat-pejabat yang tidak setia. Karena itulah Raja Mengji dapat mempertahankan posisinya sebagai pangeran feodal.

Namun, putra pejabat istana tersebut yang adalah suami sang Putri – meninggal karena sakit tidak lama setelah sang Putri melahirkan seorang putra. Putra mereka memiliki kondisi yang sama dengan ayahnya, yaitu lemah secara konstitusional, dan putra mereka meninggal dunia ketika masih kanak-kanak. Dengan demikian, Istana Kerajaan Mengji saat ini hanya memiliki Putri Mu Hongjin dan cucunya, Mu Xiaolou.

He Yan sebenarnya tidak terlalu penasaran dengan Mu Hongjin, tetapi setelah perkataan Xiao Jue sebelumnya yang mengisyaratkan bahwa Mu Hongjin mungkin adalah kenalan lama Liu Buwang, He Yan pun mulai penasaran, ingin tahu siapa yang muncul di kehidupan masa lalu Liu Buwang. Liu Buwang begitu baik kepada Mu Xiaolou – seorang pria bersikap begitu baik kepada seorang gadis muda, jika bukan karena sifatnya yang lembut, kemungkinan besar karena mengetahui kerabat gadis itu.

Mereka belum lama duduk namun seorang pelayan berpakaian kasa dengan rambut dikepang datang sambil tersenyum dan berkata, "Silakan ikuti saya, Putri ingin bertemu Kalian."

He Yan dan Xiao Jue berdiri dan mengikuti pelayan itu masuk.

Saat memasuki Istana, mereka takjub mendapati istana itu bahkan lebih besar dan lebih luas daripada yang terlihat dari luar, sungguh megah. Skema warna utamanya adalah merah matahari terbenam, dan pagar serta pilar di seluruh istana di ukir dengan mitos tentang dewa air. Di halaman belakang, bahkan terdapat patung perunggu yang menggambarkan seorang dewi bertelanjang dada menunggangi ikan kun mengarungi lautan pedagang.

Cuaca di Jiyang panas, meskipun tidak seburuk dinginnya Liangzhou. Bahkan di musim semi, matahari pagi terasa cukup hangat. Baskom perunggu berisi balok es diletakkan di keempat sudut halaman, membuatnya terasa sejuk dan nyaman. Bunga dan pepohonan pun memberikan kesan yang sama seperti Kota Jiyang itu sendiri – makmur, ramai, dan megah...

Setelah melewati halaman dan koridor, pelayan itu berhenti di aula dan tersenyum, "Silakan masuk."

Saat He Yan dan Xiao Jue melangkah masuk, mereka merasakan pandangan mereka tiba-tiba terbuka.

Aula besar itu luas, dengan pilar-pilar bundar berukir pola dewa air di keempat sudutnya, dan langit-langitnya berhiaskan pola awan keberuntungan. Lantainya dilapisi karpet tipis, transparan seperti kain kasa dan bertabur emas, berkilauan dengan cahaya emas. Untuk sesaat, He Yan berpikir seperti inilah rupa Istana Naga yang legendaris.

Keindahannya liar dan misterius.

Ada kursi utama dan kursi samping di aula, tetapi saat itu tidak ada seorang pun yang duduk di sana. Apakah Putri tidak ada di sini?

Saat He Yan bertanya-tanya dalam hati, langkah kaki terdengar dari belakang aula, dan seseorang muncul dari samping kursi tinggi di belakang.

Suara langkah kaki itu milik seorang wanita cantik.

Wanita itu tinggi dan kurus, dan meskipun usianya agak lanjut, kecantikannya tidak kunjung pudar. Ia mengenakan jubah merah berpola gelombang bersulam benang emas di ujungnya, dan rambutnya yang hitam legam dikepang dan digulung hanya di ubun-ubun, dihiasi mahkota emas kecil. Kulitnya sangat putih, tetapi matanya hitam pekat, dengan semburat merah di sudut-sudutnya. Wajahnya mencolok dan dalam, ekspresinya menyiratkan sedikit rasa dingin. Bahkan dengan senyum tipis di bibirnya, senyum itu tetap acuh tak acuh, seperti bunga es yang mekar cemerlang namun dingin di tepi tebing – sesuatu yang harus dikagumi dari jauh, bukan didekati.

Jarang sekali melihat seorang wanita dengan aura yang begitu kuat. Wanita itu memang sudah sangat cantik, tetapi kesombongannya membuat kecantikannya hampir tampak berlebihan.

Mu Hongjin perlahan berjalan keluar dan duduk di kursi tinggi di tengah, menatap He Yan dan Xiao Jue dari atas.

He Yan menarik pakaian Xiao Jue sedikit, menundukkan kepalanya, dan dengan hormat berkata, "Yuyan memberi hormat kepada Yang Mulia."

Tidak ada respon untuk waktu yang lama.

Tepat ketika He Yan mengira Mu Hongjin akan terus diam, wanita itu pun berbicara. Suaranya juga dingin, indah, dan tidak terkendali, meresap ke dalam hati seseorang sedikit demi sedikit.

"Putri ini tidak tahu bahwa Panglima Tentara Kanan akan berkenan datang ke Jiyang, bahkan sampai menyamar sebagai orang lain?"

Disclaimer: Terjemahan ini dilakukan secara sukarela untuk tujuan berbagi hobi dan apresiasi karya. Seluruh hak cipta, termasuk karakter, alur cerita, dan judul adalah milik penuh penulis asli dan penerbit. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas konten ini. Jika Anda menyukai ceritanya, dukung penulis aslinya melalui platform resmi.

Komentar