Legend of the Female General-Bab 140 Pengakuan
"He?"
He Yan berdiri mematung, bingung harus terkejut yang mana – bertemu Liu Buwang di sini atau fakta bahwa Liu Buwang bisa mengenalinya sekilas meskipun penampilannya telah berubah.
Liu Buwang melepaskan titik-titik akupuntur pada gadis kecil itu, gadis itu terbatuk beberapa kali dan menatap Liu Buwang tanpa berbicara.
He Yan tidak kuasa menahan diri lagi dan bertanya kepada Liu Buwang: "Guru... bagaimana kau... mengenali ku?"
Selain anggota keluarga He, hanya Liu Buwang yang pernah melihat wajah He Yan di balik topeng dikehidupan sebelumnya. Saat pertempuran di Kabupaten Mo bertahun-tahun lalu, ketika semua rekan He Yan gugur, jika Liu Buwang tidak mengangkatnya dari antara orang mati, He Yan tidak tahu di mana ia akan berada sekarang. Liu Buwang tahu identitas aslinya sebagai seorang wanita dan pernah melihat wajah aslinya, tetapi sekarang wajahnya bukan lagi "Nyonya Xu" dari kehidupan sebelumnya.
Liu Buwang tersenyum dan berkata: "Ilmu pedangmu sangat khas, berpadu dengan teknik pedangku. Aku bisa mengenalinya hanya sekali lihat. Apa ini? Kau telah mengubah penampilanmu?"
He Yan tidak bisa langsung menjelaskan semuanya kepada Liu Buwang dan menjawab dengan samar-samar: "Ceritanya panjang, kita akan membahasnya nanti. Tapi Guru, mengapa kau ada di sini?"
"Ada orang-orang yang mencurigakan di Kota Jiyang. Aku curiga mereka adalah orang Wutuo dan aku melacak mereka ke sini." Liu Buwang melihat mayat wanita tua yang ada di tanah. "Aku mendengar suara perkelahian dari arah sini dan datang untuk memeriksa. Apa yang terjadi? Apakah Kau kenal gadis kecil ini?"
He Yan menggelengkan kepalanya: "Aku tidak mengenalnya. Aku dan temanku... sedang lewat, memutuskan untuk makan di kedai mi lalu kami melihat wanita tua ini sedang bersama gadis kecil yang bertingkah mencurigakan. Kami pikir mereka penculik biasa, tapi ternyata ada pembunuh bayaran di sekitar sini. Kami curiga ini bukan masalah kriminal biasa."
Saat mereka sedang mengobrol, mereka mendengar derap kaki kuda datang dari belakang. Keduanya menoleh dan melihat Xiao Jue sedang menunggang kuda, datang kearah mereka. Xiao Jue turun dari kudanya, berjalan ke sisi He Yan, dan mengerutkan kening, bertanya: "Siapa ini?"
"Salah satu dari kita, salah satu dari kita," He Yan buru-buru menjelaskan. "Ini adalah... guruku."
"Guru?" Xiao Jue bertanya dengan tidak percaya. "Guru yang mana?"
"Keahlianku adalah yang terbaik di Garda Liangzhou, bukankah sudah kubilang aku mendapat bimbingan dari seorang ahli? Ini dia master ahli itu. Kita sudah bertahun-tahun tidak bertemu, dan aku juga terkejut bertemu dengannya di sini hari ini. Kalau bukan karena bantuannya tadi, gadis kecil ini pasti sudah kehilangan nyawanya."
Liu Buwang menatap Xiao Jue, tersenyum tipis, dan berkata: "Aku Liu Buwang. Kamu...?"
"Qiao Huanqing," jawabnya.
"Tuan Muda, bagaimana dengan orang-orang yang tadi?" tanya He Yan.
"Mereka kabur karena tak bisa menang," kata Xiao Jue tanpa menunjukkan ekspresi apapun di wajahnya. "Tapi bagaimana denganmu? Bagaimana kau bisa sampai di sini dan bertemu dengan gurumu?"
"Kita bisa bahas ini nanti," He Yan mengganti topik. "Orang-orang ini membuat keributan besar hanya untuk menculik seorang gadis kecil – pasti ada sesuatu yang tidak beres! Gadis kecil, siapa namamu? Di mana kau tinggal? Anak siapa kau?" He Yan membungkuk untuk melihat gadis itu.
Gadis kecil itu sangat cantik. Meskipun masih muda, orang bisa tahu ia akan tumbuh menjadi wanita cantik. Gadis itu tampak ketakutan, mengamati semua orang dengan waspada sambil mengerucutkan bibir, menolak untuk berbicara. He Yan bertanya beberapa kali tetapi tidak mendapatkan jawaban. Akhirnya, gadis itu hanya memalingkan wajahnya.
"Dia tidak bisu, kan?" He Yan bertanya-tanya.
"Kau yang bisu!" balas gadis kecil itu dengan marah.
"Oh, jadi kau bisa bicara! Lalu kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku tadi?" tanya He Yan.
Gadis kecil itu kembali mengabaikannya.
"Dia mungkin tidak percaya pada orang lain setelah bertemu penjahat. Tidak apa-apa, dia akan baik-baik saja nanti," kata Liu Buwang sambil tersenyum.
He Yan menghela napas, bingung harus berbuat apa, lalu menatap Xiao Jue: "Tuan Muda, bagaimana kalau kita bawa anak ini kembali dan biarkan Pejabat Cui yang memutuskan? Kalau dia benar-benar dari keluarga bangsawan, Pejabat Cui pasti tahu."
Xiao Jue mengangguk.
Ketika gadis kecil itu mendengar kata-kata "Pejabat Cui," matanya bersinar sebentar, tetapi ia segera menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan reaksinya.
Liu Buwang tersenyum: "Kalau begitu, mari kita berpisah di sini."
He Yan membeku. Liu Buwang selalu seperti ini. Sejak He Yan mengenal Liu Buwang, He Yan merasa orang ini seolah tidak terikat oleh apapun, menerima segalanya dengan tenang. Ia belum pernah melihat Liu Buwang memiliki teman dekat atau menjalin hubungan dengan orang lain. Liu Buwang tampak tidak pernah merasa kesepian dan jarang menunjukkan kesedihan saat berpisah. Ketika He Yan mengucapkan selamat tinggal bertahun-tahun yang lalu, ia merasa enggan, tetapi Liu Buwang sangat berpikiran terbuka, hanya berkata: "Jika ada pertemuan pasti ada perpisahan, He. Kau harus tumbuh dewasa."
Baru saja bertemu kembali dengan seorang teman lama dan tidak sempat berbincang kini harus berpisah lagi, hati He Yan terasa sakit. He Yan meraih lengan baju Liu Buwang: "Guru! Aku... saat ini aku tinggal di rumah seorang teman. Rumah mereka sangat besar. Mengapa kau tidak ikut dengan kami? Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan!"
Tatapan Xiao Jue jatuh pada jari-jari He Yan yang sedang mencengkeram lengan baju Liu Buwang, alis Xiao Jue terangkat sedikit.
Liu Buwang tersenyum dan berkata dengan tidak berdaya, "He, kenapa kau masih bertingkah seperti anak kecil?"
"Sudah lama aku tidak bertemu Guru... Kupikir aku tidak akan pernah bertemu Guru lagi..." He Yan menolak melepaskan lengan baju Liu Buwang. "Lagipula, bukankah Guru tadi menyebut orang Wutuo? Karena ini melibatkan orang Wutuo, kita harus memberi tahu Yang Mulia Putri Jiyang. Ikutlah denganku—aku kenal seorang pejabat yang tumbuh bersama Putri Jiyang dan mereka sangat dekat. Akan lebih baik jika kita melaporkan masalah ini."
Liu Buwang terdiam sejenak: "Putri?"
Melihat sikap Liu Buwang yang berubah, He Yan mengangguk berulang kali: "Benar, Guru. Coba pikirkan – orang Wutuo yang tiba-tiba muncul di Jiyang itu sendiri sudah bukan masalah biasa. Perjalanan ke Jiyang selalu sulit. Bukan hanya orang Wutuo, bahkan orang-orang dari Dataran Tengah Wei Agung pun perlu melalui banyak prosedur untuk datang ke sini. Namun, orang Wutuo bisa bersembunyi di Kota Jiyang begitu saja– apa artinya ini? Lagipula, ada banyak hal yang mencurigakan. Kita harus pergi bersama."
Liu Buwang masih tampak ragu-ragu.
Xiao Jue menyilangkan tangan dan memperhatikan mereka berdua, lalu melengkungkan bibirnya malas sambil berkata, "Benar, Tuan Liu, mengapa kau tidak kembali bersama kami? Kau juga bisa membicarakan semuanya dengan muridmu yang berbakti ini."
Setelah hening sejenak, Liu Buwang tersenyum dan berkata, "Baiklah, aku akan pergi denganmu. Aku hanya berharap aku tidak akan menimbulkan masalah."
He Yan menghela napas lega. Meskipun meminta Liu Buwang berada di sisinya tidak akan banyak membantu rencana balas dendamnya, setelah bertemu dengan guru dari kehidupan sebelumnya, He Yan tidak ingin berpisah hanya setelah bertukar beberapa patah kata.
Lagipula, tidak banyak orang yang masih ingat "He Yan."
"Kalau begitu, ayo kita kembali ke penginapan dulu dan menyewa kereta kuda untuk kembali ke kediaman Cui," kata He Yan kepada Xiao Jue, lalu mendesah. "Kita tidak pulang semalaman kemarin. Aku penasaran apakah Pejabat Cui dan yang lainnya khawatir."
Tatapan Liu Buwang beralih antara Xiao Jue dan He Yan dengan penuh pertimbangan.
Gadis kecil yang mereka selamatkan dari wanita tua itu telah dibius dan terlalu lemah untuk berjalan. Ia tersandung setiap kali melangkah, bergoyang ke depan dan ke belakang. He Yan berpikir sejenak, lalu berjongkok di depannya dan berkata: "Gadis kecil, ayo naik."
Xiao Jue bertanya: "Apa yang kau lakukan?"
"Dia tidak bisa berjalan. Aku akan menggendongnya ke penginapan," jawab He Yan. "Kalau tidak, kita akan sangat lama sampai di penginapan."
He Yan lupa bahwa dirinya sekarang sedang menstruasi. Xiao Jue terdiam sejenak sebelum berkata: "Aku akan menggendongnya."
"Eh?" He Yan terkejut.
Gadis kecil itu tidak senang dengan hal ini dan protes: "Aku perempuan dan kau laki-laki. Bagaimana kau bisa menggendongku? Aku ingin dia yang menggendongku!"
"Anak nakal," kata Xiao Jue dingin. "Katakan satu kata lagi dan aku akan meninggalkanmu di sini."
Anak yang keras kepala itu kini bertemu tandingannya, yaitu Komandan yang tidak memiliki rasa simpatik. Tidak berani berkata lebih banyak karena takut Xiao Jue akan meninggalkannya, gadis itu membiarkan Xiao Jue menggendongnya di belakang punggung Xiao Jue dan membawanya kembali ke penginapan.
Sesampainya di penginapan, tidak seorang pun ingin melanjutkan sarapan. Mereka langsung menyewa kereta kuda dan menyuruh kusirnya mengantar mereka kembali ke kediaman Cui.
Kereta berjalan maju, He Yan dan Xiao Jue duduk di satu sisi, sementara gadis kecil dan Liu Buwang duduk di sisi lainnya. Semua orang terdiam lalu Xiao Jue tiba-tiba berkata: "Tuan Liu adalah gurunya He Yan?"
Liu Buwang tersenyum dan berkata: "Benar."
"Kalau begitu, seni bela diri Tuan Liu pasti luar biasa."
"Aku tidak pantas menerima pujian seperti itu."
Xiao Jue tertawa kecil: "Apa yang membuatmu memutuskan untuk menjadikan He Yan sebagai murid? Lagipula, orang ini..." Xiao Jue berhenti sejenak, nadanya agak mengejek, "sepertinya tidak punya bakat apa pun selain pendek dan bodoh."
Saat ini, He Yan bahkan tidak peduli dengan Xiao Jue yang menyebutnya pendek dan bodoh. He Yan hanya khawatir Liu Buwang akan keceplosan, jadi He Yan segera menceritakan kisahnya sendiri: "Siapa bilang begitu! Saat itu di Shuojing, aku sedang bepergian lalu secara kebetulan bertemu Guru ketika beliau sedang menerima murid. Itu adalah takdir – dari ribuan orang, Guru melihat sekilas bahwa aku berbakat dan akan mencapai hal-hal besar di masa depan, jadi beliau mengangkatku sebagai muridnya dan mengajari ku seni bela diri. Namun, Guru ku memiliki jiwa yang bebas, sudah terlepas dari hal-hal duniawi. Setelah mengajarkan ku selama tiga tahun, beliau berangkat untuk mengembara di empat lautan. Ini pertama kalinya aku bertemu beliau sejak kami berpisah!"
He Yan merasa telah menjelaskan semuanya dengan jelas dan menyeluruh, hanya berharap Xiao Jue tidak akan bertanya lebih jauh.
Xiao Jue menatap Liu Buwang dan bertanya: "Benarkah?"
Liu Buwang melirik He Yan dan berkata: "Iya benar."
"Jadi begitu." Pemuda itu mengangguk dan tidak berkata apa-apa lagi.
He Yan merasa beban di hatinya terangkat, tetapi pada saat itu, Liu Buwang menatapnya dan bertanya dengan rasa ingin tahu: "He, apa hubunganmu dengan Tuan Muda Qiao?"
Wah, pertanyaan ini sulit dijawab. Saat ini, dia adalah "Wen Yuyan" dan Xiao Jue adalah "Qiao Huanqing" – jika berbicara tentang hubungan mereka, mereka tentu saja sudah menjadi suami istri. Tapi... Liu Buwang tahu identitas aslinya, dan ada juga seorang gadis kecil dengan latar belakang yang tidak diketahui. Jika gadis kecil ini mengenal Cui Yuezhi, mereka tidak bisa membiarkan rahasia ini bocor.
He Yan menatap Xiao Jue yang sedang bersandar di kursi kereta dengan senyum ambigu, menunggu He Yan untuk menjawab pertanyaan itu.
"Tuan Muda Qiao... adalah suamiku," kata He Yan dengan enggan, memaksakan kata-kata itu keluar dengan susah payah dari mulutnya.
Liu Buwang agak terkejut: "He, setelah beberapa tahun tidak bertemu denganmu, kau sudah menikah?"
"Y-ya." He Yan mempertahankan senyum tegangnya.
"Bagus," Liu Buwang mengangguk kecil. "Sekarang ada seseorang yang menemanimu, gurumu kini bisa tenang."
He Yan: "..."
Setelah berbohong berkali-kali, He Yan akhirnya mengerti apa artinya menggali kubur sendiri.
Sekarang situasinya sama persis seperti kata-kata itu.
...
Setelah kembali ke kediaman Cui, hanya beberapa selir yang hadir. Ketika Selir Wei melihat mereka kembali dengan selamat, ia akhirnya menghela napas lega, memegangi dadanya sambil berkata: "Tadi malam, Tuan Muda Huanqing mengirim kabar bahwa kalian akan kembali pagi ini. Dapur menyiapkan sarapan, tetapi kami tidak melihat siapa pun pulang pagi ini, aku khawatir terjadi sesuatu. Sekarang aku akhirnya bisa tenang." Tatapan Selir Wei tertuju pada gadis kecil dan Liu Buwang di belakang mereka, dan ia bertanya dengan rasa ingin tahu: "Mereka berdua adalah...?"
"Ini teman lamaku. Aku tidak menyangka akan bertemu mereka di Jiyang," He Yan tersenyum dan bertanya: "Di mana Paman?"
"Tuan pergi ke istana Putri pagi-pagi sekali. Yang Mulia memanggilnya. Aku tidak tahu kapan dia akan kembali."
He Yan dan Xiao Jue bertukar pandang. Karena Cui Yuezhi tidak ada, mereka harus mengurus gadis kecil itu terlebih dahulu.
"Nona Yuyan dan Tuan Muda Huanqing sudah sarapan? Haruskah aku minta dapur memanaskan makanan?"
"Suamiku dan aku sudah makan," He Yan tersenyum. "Tapi adik perempuan ini dan Tuan ini belum makan. Tolong kirim makanan ke kamarku, dan juga air panas – adik perempuan ini perlu mandi dan membersihkan diri."
Selir Wei segera melakukan apa yang diinginkan He Yan.
He Yan kemudian membawa gadis kecil itu kembali ke kamarnya dan menyerahkannya kepada Cuijiao dan Hongqiao, lalu memerintahkan mereka untuk memandikannya dengan benar.
Tepat saat He Yan selesai memberikan instruksi, suara Lin Shuanghe terdengar dari luar: "Pergi semalaman, akhirnya kau kembali! Bagaimana kabar kunang-kunang? Seharusnya aku pergi bersamamu tadi malam. Aku menyesal sekarang, melewatkan pemandangan seindah ini sungguh disayangkan." Lin Shuanghe melangkah ke ruang dalam dan melihat Liu Buwang berdiri di sana. Ia berhenti sejenak, bertanya dengan bingung: "Ini...?"
"Ini guruku," kata He Yan. "Marga Liu, nama belakang Buwang."
"Salam, Guru Liu." Lin Shuanghe segera menangkupkan tangannya untuk memberi salam, lalu bertanya dengan suara keras: "Bagaimana Guru Liu bisa ada di sini? Apakah meimei memberi tahu guru sebelum datang ke Jiyang?"
Kata-kata ini langsung ke inti permasalahan – mereka yang tidak tahu mungkin mengira He Yan bersekongkol dengan orang luar. He Yan buru-buru berkata: "Tidak, tidak, sama sekali tidak!"
"Tuan Muda salah paham," Liu Buwang tersenyum. "Aku berasal dari Jiyang. Aku pernah bertemu murid muda ku ini di Dataran Tengah sebelumnya. Kami sudah bertahun-tahun tidak bertemu, dan aku sendiri tidak menyangka akan bertemu dengannya di Jiyang secara kebetulan."
"Jadi begitu." Lin Shuanghe juga tersenyum: "Dilihat sekilas saja, Guru jelas bukan orang biasa, telah mengajar murid yang luar biasa."
Liu Buwang hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa.
He Yan merasa agak malu dan berkata: "Tuan Muda, Saudara Lin, bisakah kau pergi ke kamar sebelah sebentar? Aku sudah bertahun-tahun tidak bertemu Guru dan ada banyak hal yang harus dibicarakan."
"Bagaimana kalau kita tinggal dan mendengarkan juga?" Lin Shuanghe tersenyum. "Aku ingin tahu seperti apa He meimei di masa lalu."
Xiao Jue melirik Lin Shuanghe dan berjalan keluar sendiri, sambil berkata: "Ayo pergi."
"Kita tidak tinggal untuk mendengarkan?" Lin Shuanghe masih agak enggan.
"Dengarkan saja kalau kau mau."
Melihat Xiao Jue sudah pergi, Lin Shuanghe hanya bisa menutup kipasnya dengan enggan dan berkata kepada He Yan: "Baiklah, meimei, aku pamit dulu. Silakan mengobrol dengan Tuan Liu."
Setelah itu, Lin Shuanghe pun pergi dan menutup pintu di belakangnya.
Hanya He Yan dan Liu Buwang yang tersisa di ruangan itu.
He Yan segera maju untuk membantu mengeluarkan Qin dari punggung Liu Buwang, meletakkannya di atas meja di sampingnya. He Yan membawakan kursi dan berkata: "Guru, silakan duduk." Kemudian He Yan menuangkan secangkir teh untuk Liu Buwang.
Liu Buwang hanya tersenyum melihat He Yan melakukan semua ini. Akhirnya, ia duduk di depan meja dan menghentikan He Yan yang terus mengoceh, lalu berkata: "Cukup, He. Duduklah."
Kata "He" yang familiar itu hampir membuat He Yan meneteskan air mata.
He Yan duduk di depan meja dan memanggil dengan lembut: "Guru." Untuk sesaat, rasanya seperti bertahun-tahun yang lalu ketika ia dan Liu Buwang tinggal di pegunungan.
Selama pertempuran di Kabupaten Mo, He Yan dikubur di antara tumpukan mayat. Gurun itu sangat kering, dan seharusnya ia mati, tetapi tiba-tiba hujan turun malam itu, memungkinkannya bertahan hidup hingga pagi. Keesokan harinya, seorang pengembara datang melihat semua mayat, menggali lubang panjang untuk menguburkan para prajurit yang gugur satu per satu.
Pengembara itu juga menemukan He Yan, hampir tidak bernyawa, tersembunyi di antara mayat-mayat.
Sang pengembara itu membawa He Yan kembali dan mengobati lukanya. Ketika He Yan terbangun, ia mendapati topengnya telah hilang. Ia bangkit dari tempat tidur dan mendapati dirinya berada di sebuah pondok beratap jerami. Ketika ia keluar, ia melihat seseorang sedang menyapu di halaman.
Orang itu adalah seorang pria paruh baya berwajah anggun, mengenakan jubah putih dengan selempang putih, ramping dan anggun, pakaiannya berkibar tertiup angin seperti orang dari dunia lain.
He Yan muda agak waspada dan bertanya: "Siapakah kamu?"
Pria berbaju putih itu berhenti, menoleh ke arah He Yan, tersenyum, dan alih-alih menjawab pertanyaannya, ia malah bertanya: "Nona, karena kau perempuan, kenapa kau bergabung dengan militer?"
He Yan terkejut, tiba-tiba menyadari identitasnya telah terbongkar.
Kemudian, He Yan mengetahui bahwa pria berjubah putih yang telah menyelamatkannya bernama Liu Buwang, seorang cendekiawan pengembara yang berkelana ke berbagai tempat secara berkala. Liu Buwang saat ini tinggal di sebuah gunung tandus dekat Kabupaten Mo, mencari nafkah dengan menanam dan menjual tanaman obat.
He Yan bertanya kepada Liu Buwang saat itu: "Tuan, ketika kau menyelamatkanku, apakah kau tidak bertemu orang Qiang Barat di jalan?" Tentara Qiang Barat sering berkeliaran di sekitar Kabupaten Mo. Jika seseorang ditemukan menyelamatkan tentara Wei Agung, mereka pasti akan bernasib sama.
Liu Buwang menunjuk pedang di pinggangnya: "Aku punya pedang. Aku tidak takut apa pun."
Awalnya, He Yan mengira Liu Buwang hanya bicara omong kosong, hingga kemudian He Yan menyaksikan sendiri seorang prajurit Qiang Barat tewas di tangan pedang Liu Buwang. Barulah kemudian He Yan tahu bahwa Liu Buwang tidak berbohong.
Liu Buwang benar-benar seorang guru yang sulit dipahami.
He Yan belum pernah melihat orang yang begitu terampil. Liu Buwang ahli menggunakan pedang, pisau, cambuk, dan tombak, serta menguasai seni ilmu meramal dan ramalan.
Di kehidupan sebelumnya yang bodoh, setidaknya ia telah melakukan satu hal cerdas – memanfaatkan kesempatan untuk meminta Liu Buwang menjadi gurunya.
Liu Buwang menolak.
Namun Liu Buwang tidak menyangka He Yan begitu gigih. Setiap kali mulut He Yan bebas, kecuali saat makan, He Yan menghabiskan sebagian besar waktunya memohon agar Liu Buwang mau menerimanya sebagai murid.
Mungkin karena Liu Buwang, dengan sikapnya yang seperti dari dunia lain, belum pernah bertemu orang yang begitu tidak tahu malu sebelumnya, ia akhirnya tidak punya pilihan selain bertanya kepada He Yan: "Jika kau menjadi muridku dan mempelajari keterampilan ini, apa gunanya?"
"Jika aku mempelajari keterampilan ini, ketika aku kembali ke kamp militer dan bertemu orang-orang Qiang Barat lagi seperti sebelumnya, tidak akan terjadi pembantaian total. Sekalipun aku bisa melindungi satu orang lagi, aku bisa melindungi mereka seperti kau melindungiku."
"Kau masih ingin kembali ke kamp militer?" Liu Buwang sedikit terkejut.
He Yan tidak mengerti: "Tentu saja."
"Tahukah kau bahwa kau seorang wanita? Identitasmu sangat istimewa. Sekarang seluruh unitmu telah dibasmi, kau bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk pulang. Tidak seorang pun akan mengetahui identitasmu. He Rufei yang asli sudah mati."
He Yan terdiam beberapa saat, lalu mengangkat kepalanya: "Aku tidak pernah terpikir untuk menjadi penghianat."
Pernyataan ini mungkin menyentuh hati Liu Buwang. Kemudian, ia menerima teh yang diberikan He Yan yang menandakan ia telah menerima He Yan sebagai muridnya dan mulai mengajarinya teknik bela diri. Namun, karena He Yan seorang gadis, ada beberapa hal yang tidak cocok untuknya, jadi Liu Buwang mencoba mengajarinya hal-hal yang pantas. Meskipun He Yan hanya mempelajari beberapa dasar dari Liu Buwang, itu sudah cukup bagi He Yan untuk mendapatkan manfaat yang besar.
Yang paling banyak diajarkan Liu Buwang kepada He Yan adalah seni meramal dan strategi. Menggabungkan ramalan dengan taktik militer dapat menciptakan seorang jenderal wanita yang terampil dalam mengerahkan pasukan dan mengatur formasi. Apa gunanya para prajurit perkasa itu? Apa pentingnya jika orang-orang Qiang Barat luar biasa kuat dan ganas? Peperangan tidak pernah hanya tentang kekuatan fisik.
"Aku tidak menyangka, meski penampilanku berubah, Guru bisa mengenaliku hanya dengan sekali lirikan," He Yan menundukkan kepala dan tersenyum. "Bagaimana guru bisa mengenaliku?"
"Permainan pedangmu," Liu Buwang tertawa. "Hanya ada satu di dunia ini."
Ketika He Yan pertama kali menjadi murid Liu Buwang, ia harus menunjukkan fondasinya dengan jujur. Setelah mengamati, Liu Buwang terdiam cukup lama. Ia mungkin berpikir bahwa karena He Yan adalah seorang wanita yang memiliki kepercayaan diri untuk masuk kamp militer, keahliannya pasti luar biasa. Namun setelah melihat keahlian He Yan dalam menggunakan pisau, pedang, busur, dan kuda, Liu Buwang mulai ragu apakah keputusannya menerima He Yan menjadi muridnya adalah keputusan yang tepat?
Liu Buwang tidak tahu dari mana datangnya kepercayaan diri He Yan.
Namun, ia telah menerima teh itu, dan setelah menerima seorang murid, ia harus mengajarinya dengan benar meskipun dengan enggan. Liu Buwang juga merasa tidak berdaya – ia belum pernah menerima murid sebelumnya, dan ketika akhirnya ia menerima murid, ia mendapatkan murid dengan dasar yang sangat buruk. Sungguh seperti anugerah dari surga.
Namun, He Yan bukannya tanpa prestasi. Meskipun gadis ini tidak pandai dalam hal lain, dasar ilmu pedangnya sangat bagus, sungguh mengejutkan.
Liu Buwang bertanya kepada He Yan saat itu: "Siapa yang mengajarimu ilmu pedang ini? Lumayan bagus."
Mendengar ini, He Yan berkata dengan agak bangga: "Seorang guru diam-diam membantu ku. Aku tidak tahu siapa dia, tetapi aku rasa dia adalah salah satu guru di akademi kami yang menganggap aku berpotensi dan mengajari ku diam-diam setelah kelas."
Apa yang dikatakan He Yan benar adanya. Semasa muda dan masih berada di akademi, He Yan sangat buruk dalam seni bela diri. Meskipun berlatih pedang di halaman setiap malam, ia tidak mengalami kemajuan. Tepat ketika ia hampir menyerah, suatu hari ia tiba-tiba menemukan selembar kertas di atas meja di kamarnya.
Kertas itu berisi gambar sosok kecil, yang menunjukkan kelemahan dan kesalahan dalam permainan pedangnya, baik saat kelas maupun saat sesi latihan. Kertas itu juga merinci cara mengatasi masalah ini, dengan instruksi yang sangat tepat.
He Yan mencoba berlatih selama beberapa hari mengikuti instruksi ini dan memang mengalami kemajuan, sangat menggembirakannya. Kemudian ia menemukan bahwa setiap sepuluh hari, kertas serupa akan muncul di atas meja kamarnya, dengan instruksi yang disesuaikan dengan kemajuannya.
He Yan tidak tahu siapa orang itu, tetapi menduga orang ini pasti seorang guru baik hati dari akademi yang ilmu pedangnya lebih unggul darinya dan yang bisa melihat kekurangannya sekilas. Namun, ia tidak pernah tahu guru yang mana. Ia pernah mencoba bersembunyi di kamarnya untuk menangkap orang yang mengantar kertas, tetapi orang itu tidak muncul hari itu, jadi He Yan menyadari bahwa sang guru tidak ingin menampakkan diri.
Masih penasaran dan bersyukur, ia menulis sebuah surat dan meninggalkannya di meja di depan plakat peristirahatan akademi, sebelum pulang ke rumah: "Kembali ke akademi dalam tiga hari. Bertemu di hutan bambu setelah tengah malam untuk berterima kasih secara pribadi kepada dermawan. Tolong datang."
"Lalu?" tanya Liu Buwang. "Kau lihat siapa dia?"
He Yan terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya pelan.
He Yan baru saja pulang dan langsung bertengkar hebat dengan He Yuansheng dan saudara-saudaranya, dihukum berlutut di aula leluhur, dan sebelum tiga hari berlalu, ia meninggalkan kediaman pada malam hari dan mendaftar di militer sendirian, menempuh jalan yang sama sekali berbeda.
"Aku melewatkan janji temu itu."
He Yan tidak pernah bertemu orang itu.
Komentar
Posting Komentar