Legend of the Female General-Bab 132 Perjamuan Keluarga
"Kalau begitu, kau mau mencoba?"
Jarak di antara mereka terasa begitu dekat.
He Yan awalnya terkejut, lalu bingung. Saat bertemu dengan mata pria itu yang sebiru kolam musim gugur, He Yan merasakan pipinya memanas dengan cepat. Meskipun ingin mundur, bahunya ditahan kuat oleh Xiao Jue. He Yan hanya bisa menatap Xiao Jue dari dalam pelukannya Xiao Jue, dengan tergagap ia bertanya, "...Coba apa?"
"Setelah melihat begitu banyak, tidakkah kau ingin mencoba?" Xiao Jue mengangkat alisnya, mencondongkan tubuh lebih dekat, tatapannya jatuh ke bibirnya He Yan, membuat jantung He Yan berdebar kencang.
Dibandingkan dengan penampilannya yang ceria dan tampan di masa mudanya, sosok pria itu kini tampak lebih halus dan bermartabat, membawa semacam kesenangan yang kejam. Sosok seperti itu, yang biasanya menyendiri seperti bunga di puncak gunung saat tenang, menjadi begitu memikat ketika ia melengkungkan bibirnya dengan malas dan tatapannya berubah panas.
He Yan berkata, "Aku tidak mau."
"Oh?" Bibirnya Xiao Jue membentuk senyum tipis, nadanya semakin berbahaya. "Bagaimana kau bisa tahu seberapa cocok lukisannya tanpa mencoba?"
"Ini... tidak perlu dicoba," He Yan menjelaskan dengan canggung. "Kalau kau sudah cukup sering melihatnya, kau akan mengerti semuanya sama saja. Hanya detailnya saja yang berbeda... dan beberapa tidak cocok untuk dilihat orang biasa. Semuanya hanya digambar untuk hiburan dan mencari kesenangan baru. Tidak perlu dicoba, melihat saja sudah cukup."
Xiao Jue: "Hiburan?"
He Yan: "...Beberapa orang mungkin hanya ingin belajar."
Mata Xiao Jue berubah dingin, senyumnya semakin menggoda. Xiao Jue berkata dengan lembut, "Dengan pengalaman seperti itu, kita harus mencoba." Xiao Jue bergerak semakin dekat, memaksa He Yan mundur ke sandaran kepala tempat tidur tidak mempunyai jalan lain. Xiao Jue sedikit memiringkan kepalanya, mencondongkan tubuhnya. Bibir tipisnya hampir menyentuh sudut mulut He Yan.
He Yan memekik, "Tuanku!"
Seruan "Tuanku" ini begitu keras hingga mengejutkan Xiao Jue. Setelah beberapa saat, Xiao Jue berhenti dan jaraknya kini hanya sehelai rambut jauhnya dari He Yan, Xiao Jue lalu mengangkat alisnya: "Ada apa?"
"Aku masih lajang," pinta He Yan lembut. "Aku masih harus menikah nanti. Ini tidak pantas di antara kita."
"Apa yang tidak pantas?" tanya Xiao Jue dengan tenang. "Lagipula kita sudah melihat gambar-gambar tidak pantas pada lukisan itu bersama."
"Melihat gambar-gamabr itu satu hal, tapi melakukannya itu hal yang sama sekali berbeda." He Yan memohon, "Komandan, tolong ampuni aku kali ini. Aku janji tidak akan pernah meminta Komandan melihat gambar-gambar tidak pantas itu bersamaku lagi."
He Yan pikir, pikiran Xiao Jue sungguh tak terduga – hanya melihat lukisan, tapi Xiao Jue ingin melakukan apa yang digambar dalam lukisan. Siapa yang berani melihat lukisan tidak pantas seperti itu bersamanya di masa depan? Itu akan menimbulkan masalah.
Xiao Jue menatap He Yan dengan senyum ambigu: "Sekarang kau takut?"
"Iya, iya, aku takut," He Yan sangat patuh. "Aku janji tidak akan pernah meminta Komandan untuk melihat lukisan seperti itu lagi."
"Maksudmu," kata Xiao Jue tanpa tergesa-gesa, "kau akan mencari orang lain untuk melihat lukisan seperti itu bersama mu?"
"Aku juga tidak akan mencari orang lain!" kata He Yan cepat. "Aku bahkan tidak akan melihatnya sendiri!"
Pupil mata He Yan yang semerah anggur menatap Xiao Jue, cerah dan jernih, tatapannya terlihat hati-hati seperti seorang siswa yang tertangkap basah oleh gurunya karena melakukan kesalahan. Xiao Jue tiba-tiba merasa bingung, menganggap perilakunya hari ini sungguh aneh. Apa penting baginya jika He Yan suka melihat lukisan-lukisan tidak senonoh seperti itu? Apakah karena He Yan pernah memanggilnya ayah, sehingga ia harus mengkhawatirkan setiap hal kecil seperti membesarkan seorang putri?
Jika dipikir-pikir, bagaimana ayahnya He Yan membesarkan putrinya ini hingga menjadi sosok aneh yang tak tahu malu seperti ini?
Xiao Jue tiba-tiba melepaskan tangannya yang menggenggam He Yan, lalu melirik lukisan yang ada di dinding, dan terkagum-kagum berpikir bagaimana Cui Yuezhi begitu cermat memikirkan kesenangan malam keponakannya, meskipun sebenarnya tidak perlu. Xiao Jue dengan santai menarik kain satin dari meja kecil dan menutupi lukisan dinding itu, lalu "swoosh swoosh" menutupnya rapat-rapat dengan dua jarum perak.
Pada saat ini, He Yan akhirnya mengerti bahwa Xiao Jue tidak suka melihat gambar-gambar seperti ini. Setelah dipikir-pikir, masuk akal juga – Tuan Muda Kedua Xiao begitu murni dan berstandar tinggi, gambar-gambar vulgar seperti ini pasti akan menodai matanya.
Benar-benar sangat pemilih.
Setelah menutup lukisan itu rapa-rapat, Xiao Jue berjalan ke salah satu sisi ruangan dan mengambil sebuah kasur dari lemari kayu kuning, lalu meletakkannya di sofa yang terletak dekat jendela.
Sofa itu diletakan disana agar para tamu dapat duduk dan menikmati pemandangan di luar sambil menikmati camilan dan teh. He Yan terkejut dan bertanya, "Komandan, apakah kau akan tidur di sini malam ini?"
"Di mana lagi?"
He Yan ragu sejenak: "Sebenarnya, kau bisa naik ke tempat tidur dan tidur bersama."
Xiao Jue berhenti sejenak dari aktivitasnya merapikan tempat tidur, menatap He Yan, dan berkata dengan dingin: "Kulihat kau cukup berani."
"Tidak, aku tahu apa yang kau khawatirkan," kata He Yan. "Kita bisa pakai dua kasur. Waktu aku di Liangzhou dulu, aku tidur di ranjang komunal, dengan lebih dari sepuluh orang berbagi satu ranjang, dan itu tidak masalah. Lagipula, aku percaya pada karakter Komandan, kau tidak akan merusak reputasiku."
Xiao Jue tersenyum dingin, "Tapi aku tidak percaya pada karaktermu. Aku khawatir kau akan merusak reputasiku."
He Yan: "..."
He Yan tidak merespon kata-kata Xiao Jue yang tidak masuk akal itu.
Melihat Xiao Jue berbaring setelah merapikan tempat tidur, He Yan berpikir sejenak, lalu meniup lilin dan ikut berbaring.
Di dalam ruangan, hanya sedikit cahaya bulan yang menembus celah-celah jendela dan terpantul di lantai di depan meja, melapisi lantai dan meja dengan lapisan cahaya berwarna es perak.
Dulu di Akademi Xian Chang, ketika mereka sekamar, jarak mereka cukup berjauhan. He Yan, karena He Yuan Liang telah mengaturnya secara khusus dengan guru privatnya, tidur sendirian di kamar.
Sekarang, sekamar dengan Xiao Jue mengingatkannya kembali pada bayangan masa-masa itu.
He Yan berbaring telentang, kasur yang ditempatinya empuk dan hangat. He Yan bertanya, "Apakah kamu sudah tidur?"
Xiao Jue tidak menjawab.
He Yan melanjutkan: "Kau mungkin belum tidur. Tuan... Tuan Muda, mari kita bicara."
Xiao Jue masih tidak menjawab.
"Apa sebenarnya yang kita lakukan di Ji Yang?"
He Yan hanya tahu dia datang ke Ji Yang untuk menemani Xiao Jue dalam urusan bisnis, tetapi tidak tahu detailnya.
Dalam kegelapan, suara Xiao Jue terdengar: "Mencari seseorang."
He Yan terkejut, tidak menyangka Xiao Jue akan menjawab, jadi dia bertanya lagi, "Siapa yang kau cari?"
"Chai An Xi."
"Siapa Chai An Xi?"
Ruangan itu hening sejenak, lalu Xiao Jue berkata: "Bawahan ayahku."
Bawahannya Xiao Zhong Wu? He Yan tercengang. Selama Pertempuran Ming Shui, Xiao Zhong Wu dan orang-orang kepercayaan terdekatnya gugur dalam pertempuran. Karena Xiao Jue menyebut bawahan, dari nada bicara Xiao Jue, pastilah orang yang sangat dipercaya oleh ayahnya. Mungkinkah orang ini masih hidup, dan berada di Ji Yang?
Ji Yang adalah wilayah kekuasaan pangeran, dimana orang-orang dari Dataran Tengah jarang datang, dan kalaupun datang, mereka hanya singgah, tidak menetap lama. Keberadaan Chai An Xi di Ji Yang terasa lebih seperti ia bersembunyi dari seseorang. Mungkinkah ia bersembunyi dari Xiao Jue? Tapi kenapa ia bersembunyi dari Xiao Jue? Xiao Jue adalah putra Xiao Zhong Wu, seharusnya ia setia pada Xiao Jue.
Mungkin pikiran para jenderal selalu sangat sensitif terhadap hal-hal seperti itu. He Yan langsung berpikir, mungkinkah ada yang tidak benar dengan kekalahan dan kematian Xiao Zhong Wu?
Lagipula, dalam Pertempuran Ming Shui, kekalahan Xiao Zhong Wu terlalu menghancurkan. Orang-orang mengatakan dia keras kepala dan melewatkan peluang bagus, tetapi melihat prestasi militer Xiao Zhong Wu di masa lalu, dia bukanlah orang yang seperti itu.
Mungkin... Xiao Jue datang ke sini untuk urusan yang berkaitan dengan pertempuran tahun itu. Semua orang yang mengetahui kebenaran telah mati, tetapi Chai An Xi ini masih hidup – sungguh mencurigakan.
He Yan berpikir sejenak dan berkata, "Kita akan menemukan orang ini."
Dalam cahaya malam yang redup, He Yan seperti mendengar Xiao Jue terkekeh pelan. Xiao Jue bertanya, "Mengapa kau datang ke Ji Yang?"
"Aku?" He Yan bingung. "Bukankah kau yang memintaku untuk menemanimu kesini?"
Xiao Jue mendengus, "Sekalipun aku tidak memintamu datang, kau pasti akan menemukan cara untuk mengikuti ke kesini, kan?"
Jantung He Yan berdebar kencang – intuisi orang ini terlalu tajam. He Yan memang punya motif tersembunyi, yaitu berharap menemukan Liu Bu Wang di kota Ji Yang.
Tapi ia tidak akan memberi tahu Xiao Jue hal ini.
"Kau terlalu mencurigai ku," He Yan mengarang alasan. "Kali ini, aku datang murni karena kau meminta ku. Selama kau membutuhkanku, bahkan jika itu berarti mendaki gunung pisau atau menyelam ke lautan api, aku akan melakukannya tanpa ragu."
Kamar itu hening sejenak, lalu Xiao berkata: "Penjilat."
He Yan: "Apakah hanya Penjilat yang bisa kau katakan?"
"Pembohong muluk."
"Apa lagi?"
"Hiperbola"
"Apa lagi?"
"Palsu."
He Yan: "..."
He Yan berkata: "Tuan Muda, tahukah kau kalau kau sedang bersikap sangat kekanak-kanakan sekarang?"
Xiao Jue: "Tidurlah."
Xiao Jue berhenti menanggapi ocehan He Yan.
Malam musim semi masih terasa dingin, tetapi entah mengapa, mungkin karena ada seseorang di dekatnya, He Yan tidak merasa kedinginan. He Yan dengan gembira membenamkan diri dalam selimutnya, tempat tidur hangat, dan sesaat kemudian He Yan tertidur.
...
Keesokan harinya, ketika He Yan bangun, Xiao Jue sudah tidak ada di kamar.
He Yan tertegun sejenak, berpikir fajar baru saja menyingsing, tetapi Xiao Jue sudah bangun lebih awal darinya. He Yan berdiri, buru-buru mandi, mengenakan pakaian luar, dan melihat Xiao Jue duduk di bangku batu yang ada di halaman, dengan seekor kucing liar yang kotor berbaring di meja batu di depannya, menggigit-gigit kecil sesuatu dari tangannya.
He Yan berjalan sedikit lebih dekat dan melihat sepiring kue kering entah dari mana, yang sedang Xiao Jue pecahkan menjadi potongan-potongan kecil untuk diberikan kepada kucing liar di depannya. Saat melihat seseorang mendekat, bulu kucing itu berdiri tegak – kucing itu sepertinya berguling-guling di sebuah kolam, bulunya menggumpal karena air kotor.
"Bagaimana kucing ini bisa sampai di sini?" tanya He Yan, ingin mengelusnya, tetapi kucing itu langsung memamerkan taringnya. He Yan menarik tangannya dan berkata, "Galak sekali."
Xiao Jue melirik He Yan: "Ketemu dijalan."
Jari-jari Xiao Jue ramping dan sangat sabar memecah kue sedikit demi sedikit. Kucing itu pastilah kucing yang ramah pada orang dari penampilannya – lihat saja kucing ini sangat lembut pada Xiao Jue, makan sambil mengeong pelan, "Meong meong."
Pemandangan yang sungguh indah.
He Yan tak kuasa menahan diri untuk bertanya: "Tuan Muda, bukankah biasanya Tuan Muda sangat pemilih soal kebersihan?" Ketika bersamanya, Xiao Jue sangat pemilih dalam segala hal, bahkan Xiao Jue akan membersihkan debu di lengan bajunya jika di sentuh olehnya, namun saat ini Xiao Jue bermurah hati pada kucing liar yang kotor.
"Tergantung situasinya," kata Xiao Jue tanpa tergesa-gesa.
He Yan berpikir, apa maksudnya "tergantung situasinya"? Apakah maksud Xiao Jue, ia bahkan tidak seberharga kucing?
Tepat saat itu, Xiao Jue selesai menyuapi potongan terakhir, mengelus kepala kucing itu, lalu kucing pintar itu melengkungkan punggungnya, melompat ke dinding, lalu menghilang dalam sekejap.
He Yan menatap semua kejadian itu dengan takjub.
Pada saat itu, suara Cui Jiao terdengar dari luar: "Tuan Muda, Nyonya Muda, sarapan dari dapur kecil sudah diantar."
He Yan merasa lapar: "Ayo makan."
Xiao Jue mencuci tangannya lalu mengikuti He Yan ke dalam ruangan. Didalam ruangan Lin Shuang He sedang mencabut jarum perak dari makanan, lalu berkata, "Silakan dimakan, ini sudah diuji, tidak ada racun." Setelah selesai berbicara, Lin Shuanghe mengeluh pelan, "Perbedaan perlakuan terhadap orang-orang terlalu besar, mengapa makanan kita tidak sebanyak ini?"
Lin Shuanghe sekarang adalah "Pengurus Lin" dan bahkan tidak bisa makan bersama Xiao Jue dan He Yan, harus makan bersama Chi Wu dan para pelayan. Lin Shuanghe bahkan tidak bisa mencicipi makanannya He Yan dan Xiao Jue, takut ada yang menyadari ada yang tidak beres dan penyamaran mereka akan terbongkar.
Xiao Jue: "Keluar."
Lin Shuanghe pergi.
Hong Qiao berdiri di belakang He Yan, He Yan lalu melambaikan tangannya: "Kalian berdua pergi makan bersama Chi Wu dan yang lainnya. Tuan Muda dan aku tidak suka dilayani. aku bisa menyiapkan makanan sendiri."
Cui Jiao dan Hong Qiao terkejut, mereka melirik Xiao Jue. Melihat Xiao Jue hanya terdiam, Cui Jiao berkata: "Pelayan ini mengerti," dan menarik Hong Qiao pergi.
Di luar pintu, Hong Qiao bertanya dengan ragu: "Cui Jiao, apakah pantas kita pergi begitu saja seperti ini? Mengapa Nyonya Muda dan Tuan Muda tidak ingin kita melayani mereka? Apakah mereka tidak puas dengan pelayanan kita?"
"Bukan begitu," Cui Jiao yang cerdas menjelaskan, "Mungkin keadaan di ibu kota berbeda dengan Ji Yang kita. Lagipula, kudengar Nyonya Muda dan Tuan Muda baru saja menikah. Nyonya muda mungkin ingin melayani Tuan Muda secara pribadi... itu namanya... romantis."
Pada saat ini, Nyonya Muda yang disebut-sebut sedang ingin "melayani" Tuan Muda secara pribadi sedang menikmati roti plum dengan penuh kenikmatan.
Terakhir kali He Yan menikmati hidangan semewah ini adalah ketika ia berpura-pura menjadi keponakan yang menemani Xiao Jue ke Kota Liang Zhou. Namun, saat itu pun, hidangannya hanya berupa hidangan spesial. Kali ini berbeda. Cui Yuezhi sudah memegang posisi tinggi di Ji Yang, dan ini adalah keponakannya yang telah lama hilang – keramahannya sungguh luar biasa. Bahkan sepagi ini, meja makan sudah penuh dengan aneka bakpao panggang, bakpao susu Xi Shi, sup burung pegar, perut ikan rebus ham, sup ayam sarang burung...
"Bukankah sarapan ini agak terlalu mewah?" komentar He Yan sambil menggigit bebek liar delapan harta karun.
Xiao Jue berusaha menahan diri, tetapi akhirnya tak kuasa menahan diri untuk berkata: "Pernahkah aku membuatmu kelaparan?"
Pipi He Yan bulat sempurna penuh dengan makanan: "Hah?"
Xiao Jue memalingkan muka dengan jijik: "Haruskah kau makan seperti hantu kelaparan?"
"Tapi bukankah menurutmu ini lezat!" He Yan buru-buru menelan makanannya.
Xiao Jue mengejek: "Hanya hidangan seperti ini dan kau bilang ini lezat?"
"Kau seorang tuan muda, seorang komandan, dibesarkan dalam kemewahan – tentu saja, kau telah melihat banyak kemewahan dan tidak menganggapnya penting. Kami prajurit biasa sudah beruntung hanya karena punya cukup makanan, apalagi makanan lezat." He Yan bergumam, "Kau seperti orang yang kenyang tapi tidak mengerti penderitaan orang yang kelaparan."
Xiao Jue tersedak sedikit, menyerah untuk berdebat dengan He Yan, dan berkata dengan malas: "Terserah kau saja."
He Yan makan sambil memperhatikan Xiao Jue, mengagumi cara makan Xiao Jue yang elegan. secara logika, mereka yang menghabiskan bertahun-tahun di kamp militer, terlepas dari apakah mereka sebelumnya adalah tuan muda atau bangsawan, pada akhirnya berhenti mempedulikan aturan makan seperti itu. Ketika He Yan berperan sebagai "Tuan Muda He", ia juga memperhatikan etiket, tetapi dalam pertempuran dimedan perang, siapa yang punya waktu untuk tata krama ketika harus melahap roti dalam tiga gigitan dan kembali beeperang?
He Yan tidak percaya Xiao Jue tidak pernah mengalami hal yang sama, namun setelah melalui kesulitan seperti itu, Xiao Jue dapat dengan mudah kembali menjadi Tuan Muda Kedua Xiao – ini bukanlah sesuatu yang bisa dicapai orang biasa. Setidaknya He Yan sudah lama lupa bagaimana menjadi seorang "tuan muda" ketika berada di medan perang.
Setelah sarapan, Cui Jiao dan Hong Qiao datang untuk membantu He Yan mengganti pakaian dan merias wajah. Cui Yuezhi mengadakan perjamuan siang ini dan juga mengundang semua tokoh penting di Kota Ji Yang untuk menemui Xiao Jue. Jadi, mereka tidak boleh lengah.
Xiao Jue pergi menemui Lin Shuang He, sementara He Yan duduk di depan cermin rias. Hong Qiao mengeluarkan "sutra putri duyung" dari kotak barang yang berisi pakaian dan bertanya kepada He Yan: "Nyonya, apakah kau akan memakai pakaian ini hari ini?"
He Yan berpikir sejenak. Dengan banyaknya tamu yang datang hari ini, akan lebih aman untuk mengenakan pakaian yang paling mahal, jadi He Yan mengangguk: "Iya."
Kedua pelayan itu pun sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan.
He Yan biasanya tidak sabaran menghadapi hal-hal seperti itu, terkadang merasa tugas-tugas rumit yang dibebankan kepada perempuan jauh lebih melelahkan daripada tugas laki-laki. Menata rambut, merias wajah, memilih aksesori dan sepatu, memastikan setiap helai rambut tertata rapi – bukanlah tugas yang mudah. Saat mereka menata rambutnya, He Yan pun tertidur.
He Yan terbangun oleh seruan Hong Qiao yang memanggilnya, "Nyonya?"
He Yan membuka matanya, bertanya dengan mengantuk: "Sudah selesai?"
"Iya." Cui Jiao tersenyum dari samping, matanya penuh kekaguman, "Nyonya, kau terlihat sangat cantik."
He Yan: "Terima kasih."
He Yan mengangkat pandangan matanya ke cermin dan tertegun sejenak. Pakaian wanita yang ia gunakan sebelumnya cenderung sederhana dan elegan, tetapi pakaian "sutra putri duyung" ini bisa dibilang sangat menawan. Cui Jiao dan Hong Qiao telah bekerja keras hari ini, memastikan riasannya sempurna. He Yan menatap bayangannya yang asing dengan sedikit linglung.
Sekarang ia bahkan tidak terlihat seperti Nona Muda He yang asli.
Cui Jiao tersenyum sambil membuka pintu, berkata: "Tuan Muda ada di sebelah. Pelayan ini akan memanggil Tuan Muda untuk melihat penampilan Nyonya Muda."
He Yan: "Tidak-"
Sebelum He Yan sempat selesai mengatakan "perlu," Cui Jiao sudah keluar dengan gembira.
He Yan berdiri, tiba-tiba ragu. He Yan masih memikirkan sikap apa yang harus diperlihatkan terhadap Xiao Jue agar tampak alami namun tiba-tiba He Yan mendengar suara santai dari belakang: "Siap?"
He Yan menoleh.
Wanita muda itu tampak tenggelam dalam pikirannya, pupil matanya yang cerah memancarkan sedikit kebingungan, membuat ekspresinya tampak agak kabur. Ia memang cantik alami; ketegasan di wajahnya yang dulu sengaja disembunyikan oleh riasan, membuatnya benar-benar mempesona. Wajahnya halus, rambut hitamnya diikat sederhana, tergerai patuh di bahunya. Sosoknya tampak mungil dan halus, semakin anggun dengan gaun putih bersulam yang cerah. Gaun itu memiliki pola yang sangat halus, dan ketika sinar matahari menembusnya, gaun itu menyerupai sisik putri duyung, berkilauan dengan bubuk biru-ungu-emas yang samar. Itu membuat seluruh tubuhnya tampak terbungkus dalam lapisan warna-warna indah, seperti putri duyung legendaris yang baru saja merangkak ke luar dari laut, baru tiba di dunia fana.
Tatapan Xiao Jue terhenti sejenak.
Suara Lin Shuang He terdengar dari belakang: "Aku harus melihat seperti apa gaun seratus emas itu saat dikenakan. Coba kulihat, coba kulihat!"
Ocehan Lin Shuanghe yang penuh semangat terhenti saat melihat He Yan, hanya menyisakan ketakjutkan dalam tatapannya.
Chi Wu dan Fei Nu, yang mengikuti Lin Shuanghe, juga melihat He Yan. Fei Nu baik-baik saja, tetapi Chi Wu tampaknya sangat terkejut – bagaimana mungkin seorang pria berpakaian wanita bisa secantik ini?
Sama sekali mustahil untuk mengatakan bahwa He Yan adalah seorang pria, terlalu menakutkan!
He Yan merasa canggung ditatap oleh mereka, merasa seperti monyet yang sedang dipajang. He Yan mencengkeram ujung gaunnya dan berkata dengan ekspresi memelas: "...Apakah... terlalu berlebihan?"
Bukankah hanya menghadiri jamuan makan? Apakah pakaian yang begitu rumit seperti ini perlu? Bukankah pakaian seperti ini terlalu formal?
Ekspresi He Yan memperburuk keadaan – alisnya yang sedikit berkerut menciptakan penampilan yang menyedihkan dan imut membuat orang ingin melindunginya. Xiao Jue berkata dengan susah payah: "...Jangan bicara dengan ekspresi seperti itu."
"Sama sekali tidak, sama sekali tidak!" Lin Shuang He menjadi bersemangat, "Sempurna! Gaun seratus emas benar-benar bernilai seratus emas – sungguh luar biasa, uang yang dikeluarkan tidak sia-sia, benar-benar dihamburkan dengan tapat!"
Cui Jiao menjadi gembira: "Benarkan, Nyonya? Pelayan ini bilang kau terlihat sangat cantik!"
Ketika He Yan menyamar menjadi seorang pria, ia sering dipuji karena "gagah berani dan tampan," tetapi belum pernah dipuji karena kecantikannya sebagai perempuan. Merasa malu dan ragu untuk menanggapi ocehan meraka, He Yan menangkupkan tangannya dalam hormat militer dan berkata dengan gagah berani: "Kau terlalu memujiku, terlalu memuji."
Xiao Jue: "..."
Lin Shuang He: "..."
Yang lain: "..."
Lin Shuanghe berkata: "...Meskipun kau terlihat cantik Nyonya, terkadang kau tidak perlu terlihat gagah berani seperti ini."
Xiao Jue tersenyum dingin: "Sebaiknya kau kembali ke ekspresimu sebelumnya, kalau tidak aku mungkin lupa kau perempuan."
He Yan: "..."
Hhmm, dia terbawa suasana sejenak.
...
Menjelang siang, Kediaman Cui menjadi ramai.
Kereta-kereta kuda terus berhenti di pintu masuk kediaman, dengan para pelayan, nona-nona muda, tuan muda, dan bangsawan masuk satu demi satu.
Ji Yang adalah wilayah kekuasan Pangeran, dan Putri Mu Hong Jin yang sekarang tumbuh besar bersama Cui Yuezhi. Cui Yuezhi adalah orang kepercayaan Putri Mu Hong Jin dan juga Komandan Kavaleri Agung kota Ji Yang – semua orang harus memberinya muka. Mendengar bahwa Cui Yuezhi telah menemukan keponakannya yang telah lama hilang dan secara khusus mengadakan perjamuan untuk kepulangannya, semua orang ingin melihat keponakannya.
Kediaman Cui sangat luas, dengan sebuah danau di belakangnya. Ji Yang memiliki banyak jalur air, dengan warna-warna air yang lembut. Terdapat sebuah paviliun panjang di tepi danau, dan perjamuan hari ini digelar di sana.
Di paviliun panjang, para pelayan telah menyiapkan meja-meja panjang dan rendah, penuh dengan hidangan lezat, dan beberapa tamu terhormat telah duduk. Cui Yuezhi, sang tuan rumah, belum kembali dari istana. Karena ia belum beristri dan hanya memiliki empat selir, hanya pelayan tua Zhong Fu yang membantu menerima tamu.
Di sisi kanan paviliun, duduk seorang wanita dengan seorang wanita muda bergaun merah muda di sampingnya. Wanita muda ini sangat cantik dan lembut, meskipun kulitnya agak gelap, jadi ia memoleskan bedak ekstra, yang justru mengurangi pesona liarnya dan menambahkan sedikit melankolis dewasa. wanita muda itu menunjukkan sedikit ketidaksabaran yang terlihat di antara alisnya dan bertanya: "Sudah jam segini, mengapa Tuan Muda Qiao dan istrinya belum datang?"
"Kenapa terburu-buru?" Wanita di sampingnya, mungkin ibunya, menghibur sambil tersenyum, "Perjamuannya belum dimulai. Lagipula, Tuan Cui belum datang, jadi bagaimana mungkin Tuan Muda Qiao muncul lebih dulu? Apakah Min'er lapar?"
Yan Min'er – wanita muda bergaun merah muda – mengerutkan kening dan berkata: "Aku tidak lapar. Tentu saja, wajar bagi kita untuk menunggu Komandan Cui. Tapi kudengar keponakan Komandan Cui, setelah terlantar di luar Kota Ji Yang, diadopsi oleh seorang pedagang. Sekarang dia hanyalah seorang pedagang. Bagaimana mungkin seseorang yang tercium bau koin tembaga pantas menerima penantian kita yang sabar? Apa dia pikir dia orang penting?"
Lagipula, semua orang di keluarga bangsawan Ji Yang tahu bahwa Qiao Huan Qing adalah seorang pedagang. Meskipun mereka datang ke perjamuan hari ini, itu karena menghormati Cui Yuezhi. Secara pribadi, mereka semua memandang rendah Qiao Huan Qing. Namun mereka tidak akan mengatakannya sejelas Yan Min'er.
"Ssst-" Nyonya Yan buru-buru menutup mulut Yan Min'er: "Jangan bicara omong kosong. Bagaimanapun, dia tetap keponakan Tuan Cui. Kurasa kami terlalu memanjakanmu, membuatmu begitu tidak tahu etika. Apa kau tidak lihat Tuan Cui mengadakan perjamuan ini khusus untuk menyambut Tuan Muda Qiao? Kalau kau menjelek-jelekkan Tuan Muda Qiao, bagaimana mungkin Tuan Cui akan senang?"
"Memangnya kenapa," kata Yan Min'er dengan nada meremehkan, "Tuan Cui dan ayahku berteman, dia tidak akan menyalahkanku."
"Kau..." Nyonya Yan ingin menghentikan ucapan putrinya yang tak terkendali, tetapi tak sanggup memarahinya.
Mata indah Yan Min'er berputar lalu ia berpikir sejenak, dan berkata dengan acuh tak acuh: "Aku yakin dia mungkin belum pernah melihat acara sebesar ini dan sedang bersembunyi di suatu tempat sekarang, terlalu takut untuk keluar, menunggu Komandan Cui membimbingnya."
Komentar
Posting Komentar