Legend of the Female General-Bab 131 Riasan Merah

Setelah banyak kerewelan dan kericuhan, gambaran alis akhirnya selesai.

He Yan menyambar pigmen alis dari tangannya Xiao Jue, lalu berkata, "Baiklah, baiklah, kamu boleh pergi sekarang!"

Xiao Jue mengangkat sebelah alisnya: "Tidakah kau mau bercermin melihat hasilnya dulu?"

"Aku akan memeriksa semuanya setelah berganti pakaian!" He Yan merasa wajahnya akan terus memerah selama Xiao Jue masih duduk di sana, jadi lebih baik menyuruh Xiao Jue keluar. Ketika He Yan mendorong pintu sambil mendorong Xiao Jue keluar, He Yan terkejut melihat Cui Jiao dan Hong Qiao yang berdiri berdiri di luar. He Yan bertanya, "Kenapa kalian berdua di sini?"

"Cui Jiao menjawab dengan gugup, "Kami para pelayan membawakan beberapa minuman, tetapi ketika kami melihat Tuan Muda menggambarkan alis Nyonya Muda... kami tidak berani mengganggu."

He Yan: "..."

Xiao Jue tidak menunjukkan tanda-tanda merasa tidak nyaman dengan perkataan pelayan itu dan hanya berkata, "Jangan terburu-buru berganti pakaian. Aku akan mencari Pengurus Lin."

Kedua pelayan itu mengikuti He Yan kembali ke kamar. Hong Qiao, mengikuti di belakang He Yan, berkata dengan kagum, "Tuan Muda memperlakukan Nyonya Muda dengan sangat baik."

He Yan: "Apa?"

"Tuan bahkan menggambar alis Nyonya Muda dengan tangannya sendiri." Mungkin karena rasa takut mereka terhadap He Yan telah sedikit berkurang, kedua pelayan muda itu menjadi lebih berani. Cui Jiao berkata, "Bahkan di antara pasangan-pasangan kasmaran yang pernah kami layani, kami jarang melihat suami mereka memperlakukan istri mereka seperti itu."

Oh tidak, gambaran palsu tentang pasangan surgawi ini secara tidak sengaja menjadi kenyataan. He Yan tersenyum dan bertanya, "Apakah kau tahu cara merias wajah dan menata rambut?"

Merias wajah dan menata rambutnya sendiri adalah tantangan bagi He Yan. Meskipun ia bisa sedikit menata gaya rambut wanita, ia hanya tahu menata gaya rambut yang paling sederhana. Gaya rambut seperti itu mungkin tidak cocok dengan posisinya sekarang sebagai "istri pedagang".

"Aku bisa merias wajah, dan Hong Qiao punya tangan yang terampil – dia akan menciptakan gaya rambut yang paling indah," kata Cui Jiao. "Gaya rambut seperti apa yang disukai Nyonya hari ini? Apakah riasannya harus halus atau mencolok?"

He Yan tampak bingung. "Aku akan menghadiri jamuan makan, jadi carikan aku pakaian yang pantas digunakan pada acara seperti itu." He Yan menunjuk kotak yang dibawa Xiao Jue, "Semua pakaian ku untuk hari ini ada di sana. Pilih saja yang cocok untuk ku."

Cui Jiao berjalan ke kotak yang ditunjukan He Yan dan mengeluarkan pakaian dengan kain "Sutra Air Mata", sambil berseru, "Kain yang indah sekali! Nyonya, apakah pakaian ini adalah pakaian yang dipakai para duyung?"

He Yan: "...Para duyung tidak memakai pakaian." Aneh – apakah ada tulisan "pakaian duyung" di pakaian itu? Bagaimana mungkin orang lain melihatnya kecuali dia?

He Yan berkata, "Aku tidak akan memakain pakaian itu hari ini. Pilihlah yang lain." Seratus Tael Emas – pakaian semahal itu seharusnya disimpan untuk digunakan pada acara-acara yang paling penting.

Bagaimanapun, penampilan seseorang berasal dari orang tuanya. Penampilan seseorang sepenuhnya didapatkan sejak lahir dari penampilan kedua orang tuanya. Tidak ada perhiasan yang dapat mengubah hal itu secara fundamental. Namun... karena sudah lama tidak tampil sebagai seorang wanita, hatinya He Yan yang biasanya tenang sekarang terasa agak gelisah.

He Yan berharap dirinya tidak mempermalukan dirinya sendiri terlalu parah nanti.

Di kamar sebelah, Lin Shuanghe sedang setengah berbaring di sofa, sambil minum teh.

Xiao Jue duduk di depan meja sambil membersihkan Sitar. Melihat Xiao Jue membersikan Zither membuat Lin Shuanghe teringat permainan Sitar He Yan yang canggung ketika ia mengajarinya.

Xiao Jue juga orang yang terpelajar, ahli dalam sitar, catur, kaligrafi, dan melukis. Namun, bagaimana mungkin He Yan, sebagai seorang wanita muda, menghasilkan suara-suara yang begitu buruk dari permainan sitarnya? Jika mereka pergi ke keluarga Cui malam ini dan He Yan, sebagai "Wen Yuyan", diminta untuk menunjukkan bakatnya, itu akan sangat menghibur.

Namun... dengan kehadiran Xiao Jue, krisis apa pun seharusnya bisa dihindari.

"Kau terus menatapku," Tuan Muda Kedua Xiao tampak sangat peka. "Ada yang salah?"

"Tidak, tidak ada apa-apa," Lin Shuanghe mengipasi dirinya sendiri. "Kenapa kau begitu curigaan? Aku hanya ingin tahu seberapa menawan dan cantiknya He meimei ku jika mengenakan pakaian wanita."

Xiao Jue berhenti sejenak dari aktivitasnya membersihkan sitar dan bertanya dengan pelan, "Apakah ada yang salah dengan matamu?"

"Tidakkah kau juga merasa begitu?"

"Tidak sama sekali."

Lin Shuanghe menjadi tidak senang, "Kau boleh meragukan kemampuan medisku, tapi kau tak bisa meragukan penilaianku terhadap wanita muda. Saat pertama kali melihat He meimei, aku langsung tahu dia memang cantik alami. Di Garnisun Militer Liangzhou, dia harus menyamarkan dirinya dengan pakaian biasa dan berdebu untuk menyembunyikan identitasnya sebagai wanita. Tapi wajahnya itu, jika berpakaian seperti wanita— pasti akan sangat mempesona! Lagipula, kau hanya keras kepala. Kau juga menyukainya, kan?"

Xiao Jue tersenyum dingin: "Mata mu bagian mana yang melihat bahwa aku menyukainya?"

"Kedua mataku melihatnya. Xiao Huaijin, kalau kau benar-benar tidak menyukainya, kenapa kau harus bersikap seperti pahlawan di Rumah Bordir hari ini? Kau tidak tahan melihat orang lain menindas He meimei, kan?" Lin Shuanghe menghela napas lagi lalu melanjutkan, "Tapi aku tidak menyalahkanmu. Kurasa He meimei, saat berinteraksi dengan perempuan lain, bisa menjadi sangat tumpul. Dia bahkan tidak bisa merasakan kecemburuan yang begitu kentara. Malam ini di keluarga Cui, kau tahu bagaimana orang-orang di kediaman keluarga kaya– banyak orang yang cerewet. Kalau ada yang membuat masalah, kau harus melindungi He meimei dengan baik."

"Bagaimana itu bisa menjadi urusanku?"

"Dia istrimu sekarang, Tuan Muda Qiao. Lagipula, jika ada anggota keluarga Cui yang menyusahkan He meimei, kemungkinan besar itu karena dirimu. Wajahmu mungkin bagus untuk menarik perhatian wanita cantik, tapi He meimei akan menderita karenanya. Kau tahu He meimei tidak pandai bersosialisasi, tidak sepertimu. Jadi jagalah dia baik-baik, ah, kau harus jaga dia baik-baik."

Lin Shuanghe terus mengoceh tanpa henti.

Setelah waktu yang terasa begitu lama, kini langit mulai gelap, Lin Shuanghe sudah menghabiskan tehnya dan meregangkan badan, lalu duduk di sofa. Ia memandang ke luar jendela: "Lama sekali—apakah He meimei-ku sudah selesai berdandan?"

Xiao Jue sudah lama selesai membersihkan sitar dan sedang bersandar di meja dengan mata terpejam. Mendengar perkataan Lin Shuanghe, ia membuka matanya dan berkata dengan datar, "Pergi dan panggil dia."

Hari sudah mulai larut, dan orang-orang suruhan Cui Yuezhi akan segera tiba.

"Baiklah." Lin Shuanghe berdiri. Di luar pintu, Chi Wu dan Fei Nu sedang berjaga. Mereka melihat ke arah kamar He Yan, Lin Shuanghe berdeham dan mengetuk pintu: "Nyonya Muda, Nyonya Muda, apakah kau sudah siap?"

Terdengar suara gerasa-gerusuh dari dalam kamar, dan suara Hong Qiao tergesah-gesah terdengar: "Tunggu! Nyonya, Kau lupa jepit rambutmu!"

Lalu di ikuti dengan suara pengingat dari Cui Jiao: "Anting-antingnya! Nyonya kamu belum pakai anting-antingnya!"

Terdengar suara gemerincing seperti ada yang jatuh, membuat orang-orang di luar terdiam.

Xiao Jue mengangkat alisnya sedikit. Chi Wu berbisik kepada Fei Nu: "Pernahkah kau melihat seorang pria memakai pemerah pipi dan bedak? Membayangkannya saja sudah menakutkan."

Fei Nu: "...Jaga bicaramu."

Setelah semua kekacauan itu, pintu berderit terbuka. Cui Jiao dan Hong Qiao menyeka keringat di dahi mereka dan berkata, " Sudah selesai."

Orang yang berada di balik pintu melangkah keluar.

Wajah yang sama, berubah dari pria menjadi gadis, benar-benar berbeda.

Orang yang berdiri dihadapam mereka sekarang ini adalah seorang gadis berusia enam belas atau tujuh belas tahun, ramping dan halus. Gaun sutra berekor phoenix berwarna hijau buah pir mengencangkan pinggangnya yang ramping, ditutupi jaket bermotif awan yang senada. Rambutnya ditata dengan sanggul tanduk rusa, dengan jepit rambut berhias giok yang disisipkan miring. Dua helai rambut tergerai di depan telinganya, membuatnya tampak semakin halus, dihiasi anting-anting giok putih yang sedikit bergetar.

Kulitnya putih bersih, dengan lapisan tipis bedak yang membuatnya terlihat semakin halus dan berkilau. Matanya luar biasa cerah, selalu memancarkan senyum. Alisnya seperti bulan baru, mata indahnya berbinar, dan bibirnya bernuansa merah tua, sungguh mempesona.

Sosok wanita muda itu mungil dan menawan, cerah dan rupawan, tetapi sedikit jejak semangat heroik nampak di dahi dan matanya sedikit meredam pesona gadis lembut, membuatnya tampak lugas dan bersemangat, memikat hati. Sebagai wanita yang sudah menikah, ia mungkin tampak agak muda, tetapi sebagai seorang gadis, ia segar dan bersemangat, cukup unik untuk membuat siapa pun ingin memandangnya lagi dan lagi.

Orang-orang di luar pintu tercengang, terdiam cukup lama.

He Yan merasa agak ragu dan terbatuk pelan sambil menutup bibirnya dengan tangan, "Um... apa tidak cocok untukku? Aku tidak terbiasa memakai ini..."

"Cantik!" Lin Shuanghe yang pertama bertepuk tangan, "Nyonya Muda, hanya dengan riasan tipis ini, kau tampak seperti bidadari! Saat pintu pertama kali terbuka, aku berpikir dewa mana yang telah turun ke bumi. Baru saat kau berbicara, aku menyadari itu kau!"

He Yan: "..."

Keahlian Lin Shuanghe dalam menyanjung setara dengan pelayan toko pakaian yang mereka kunjungi– cukup pejamkan mata dan pujilah. Tak peduli apakah yang di sanjung bisa menerima sanjungannya atau tidak.

He Yan menatap Xiao Jue, pria ini akan lebih realistis. Kata-katanya Xiao Jue, jika di bandingkan dengan kata-kata Lin Shuanghe, akan memberikan perkataan yang sebenarnya tanpa dilebih-leihkan. Maka He Yan bertanya kepada Xiao Jue: "Bagaimana penampilanku?"

Tatapan Xiao Jue menyapu penampilan He Yan lalu memberi komentar dengan dingin dan ringan: "Lumayan."

He Yan merasa lega dan berkata, "Apakah orang suruhan Paman Cui... apakah orang-orang dari rumah Paman Tertua sudah tiba? Kalau sudah, kita harus segera pergi!"

"Mereka sudah menunggu di bawah," kata Chi Wu. "Semua barang bawaan sudah dimuat ke dalam kereta. Selama di Jiyang, Tuan Muda dan Nyonya Muda akan menginap di kediaman Cui."

Karena Qiao Huanqing dan istrinya Wen Yuyan datang untuk bersilaturahmi, rasanya tidak masuk akal bagi mereka untuk menginap di penginapan begitu sampai di Jiyang.

Setelah semua orang selesai mengemas barang-barang yang masih tersisa dari kamar, mereka turun ke kereta kuda yang telah disipakan.

Dua kereta kuda menunggu di bawah – satu untuk Xiao Jue dan He Yan, satu lagi untuk para pelayan dan Pengurus (Lin Shaunghe, seperti kepala pelayan atau manajer?). Cui Yuezhi tampaknya memperlakukan keponakannya dengan cukup baik, telah mengatur semuanya dengan matang.

He Yan dan Xiao Jue naik kereta, duduk berhadapan. Berbeda dengan Xiao Jue yang tampak acuh tak acuh, He Yan merasa agak tidak nyaman. He Yan memainkan ujung gaunnya dan berulang kali merapikan rambutnya hingga Xiao Jue tak tahan lagi. Tatapannya jatuh pada He Yan lalu ia berkata: "Bisakah kau berhenti bersikap gelisah?"

"Oh." He Yan menjawab dan berhenti bergerak, tetapi pikirannya masih kacau.

"Gugup?" tanya Xiao Jue.

"Tuan... Tuan Muda," He Yan mencondongkan tubuhnya untuk lebih dekat dengan Xiao Jue, lalu berkata dengan serius: "Aku punya pertanyaan."

"Bicara."

"Apakah aku terlihat meyakinkan sebagai seorang wanita? Apakah aku akan ketahuan ketika tiba di rumah Paman Cui?"

He Yan sekarang sangat dekat dengan Xiao Jue. Mungkin karena He Yan baru saja mandi, aroma feminin yang samar tercium dari tubuhnya. Mata cerah itu menatap lurus ke arah Xiao Jue, memprlihatkan wajah kecilnya yang hanya seukuran telapak tangan. Ekspresi bingung He Yan saat ini, ditambah dengan penampilan prianya akan tampak agak kasar, tetapi dengan penampilannya sebagai seorang gadis saat ini, justru terlihat menawan.

Xiao Jue mengangkat matanya sedikit dan berkata dengan tenang, "Kau sudah berpura-pura menjadi laki-laki begitu lama, sampai otakmu rusak?" Xiao Jue berhenti sejenak, "Kau pada dasarnya adalah seorang perempuan."

"Aku tahu bahwa aku adalah seorang wanita," jelas He Yan, "tapi aku sudah terbiasa bertindak sebagai pria di Garnisun Militer Liangzhou sehingga beberapa perilakuku menjadi kebiasaan. Jika ada yang terasa tidak pantas, Komandan, kau harus mengingatkanku."

"Jangan khawatir," Xiao Jue menarik sudut mulutnya: "Tidak akan ada yang mengira wajah mu itu adalah wajah milik seorang pria."

He Yan berkata: "Tapi kau juga tidak tahu kalau aku adalah seorang wanita ketika kita masih di Liangzhou."

Xiao Jue tidak merespon perkataan He Yan.

Setelah beberapa saat, He Yan menyadari sesuatu dan menatap Xiao Jue, "Apakah maksudmu tadi aku sama sekali tidak terlihat seperti pria, melainkan aku terlihat sangat feminin dan cantik?"

Xiao Jue mencibir, "Wanita sejati tidak akan pernah menanyakan pertanyaan mengada-ngada seperti itu."

"Jadi, aku perempuan atau bukan?"

"Bukan."

...

Setelah kira-kira waktu yang dibutuhkan untuk membakar tiga batang dupa, kereta berhenti. Kusir keluarga Cui memanggil dari luar, "Tuan Muda Qiao, Nyonya Muda Qiao, kita sudah sampai."

Cui Jiao dan Hong Qiao turun terlebih dahulu, lalu membantu He Yan turun. Sebagai seorang nyonya muda, wajar jika ia perlu diperhatikan di depan umum.

He Yan berdiri mengamati pintu masuk kediaman Cui.

Rumah-rumah besar di Jiyang dibangun berbeda dengan rumah-rumah besar Shuojing di utara. Rumah-rumah besar di Shuojing biasanya memiliki gerbang berpernis merah tua, yang tampak megah dan berwibawa. Karena letaknya yang dekat dengan air, rumah-rumah besar di Jiyang sebagian besar berwarna hitam dan putih, elegan dan semarak, dengan ukiran dewa air di pintu masuk, menunjukkan pesona eksotis.

Para pelayan di sini mengenakan pakaian kasa, sejuk dan ringan. Seorang pelayan tua berambut abu-abu, mengenakan jubah merah, maju sambil tersenyum, "Ini pasti Tuan Muda Qiao, dan ini pasti Nyonya Muda Qiao. Pelayan tua ini adalah Zhong Fu, kepala pelayan keluarga Cui. Hari ini, Tuan telah pergi ke kediaman Pangeran dan sedang makan malam bersama Putri. Kemungkinan besar beliau baru akan kembali larut malam. Sesuai perintah Tuan, pelayan tua ini akan terlebih dahulu melayani Tuan Muda dan Nyonya Muda. Mohon istirahatlah yang cukup malam ini, dan besok Tuan akan mengadakan pesta yang proper untuk menyambut semua orang."

Cui Yuezhi tidak di sini? He Yan terkejut, lalu merasa lega. Lebih baik seperti ini – dirinya bisa terlebih dahulu membiasakan diri dengan tata letak kediaman Cui, sehingga lebih mudah menangani situasi tidak terduga di masa mendatang. Lagipula, ia belum terbiasa berperan sebagai "istrinya" Xiao Jue, jadi memiliki waktu tambahan untuk beradaptasi sangatlah bermanfaat.

He Yan langsung tersenyum dan berkata, "Tidak apa-apa."

Kepala pelayan tua itu merasa lega. Ketika Tuan Cui berencana menyambut kembali keponakannya, ia secara khusus menanyakan tentang temperamen dan kebiasaan Qiao Huanqing dan Wen Yuyan, mengingat tahun-tahun perpisahan mereka dirinya tidak tahu banyak tentang keponakannya itu. Tuan Cui mendengar bahwa Qiao Huanqing adalah tuan muda yang suka mencari kesenangan, dan istri barunya bahkan lebih arogan dan mendominasi. Namun, melihat pasangan dihadapnnya hari ini, rumor-rumor itu tampaknya tidak benar.

"Biarkan pelayan tua ini mengantar Tuan Muda dan Nyonya Muda ke kamar kalian dulu." Tatapan Zhong Fu tertuju pada Lin Shuanghe: "Tuan ini..." Ia mengira Lin Shuanghe adalah teman atau saudara Qiao Huanqing, dan sedang mempertimbangkan kamar mana yang akan ia siapkan untuk Lin Shuanghe.

Lin Shuanghe tersenyum tipis, "Kebetulan sekali, kita bekerja di bidang yang sama. Nama keluarga ku Lin, dan aku adalah Kepala Pelayannya Tuan Muda Qiao."

Zhong Fu: "..."

"Jangan berkecil hati," Lin Shuanghe menghiburnya, "Meskipun Dataran Tengah melahirkan orang-orang yang luar biasa, aku termasuk dalam kategori yang sangat tampan. Tidak semua pengurus kediaman terlahir dengan penampilan sepertiku."

Zhong Fu tersenyum canggung.

Total ada dua ruangan yang berdekatan. Satu ruangan untuk Lin Shuanghe, Chi Wu, dan Fei Nu, sementara yang lainnya untuk He Yan, Xiao Jue, dan kedua pelayan. Kedua ruangan tersebut berada di halaman yang sama dan sangat luas, terbagi menjadi ruangan dalam dan luar. Para pelayan akan tidur di sofa samping di balik tirai di ruangan luar, sementara ruangan dalam memiliki ruang belajar, ruang minum teh, dan kamar tidur.

He Yan telah lama tinggal di Kediaman Cheng Lisu di Garnisun Militer Liangzhou, tetapi bahkan kediaman Xiao Jue di sana jauh lebih sederhana daripada tempat ini. Seperti yang diharapkan dari rumah Komandan Cui, kemegahannya sungguh mengesankan.

Zhong Fu mengarahkan Lin Shuanghe dan yang lainnya ke ruangan sebelah, lalu mengantar Xiao Jue ke ruang utama, dengan hormat bertanya, "Apakah Tuan Muda merasa ruangan ini memuaskan?"

Xiao Jue melihat sekeliling, "Cukup memadai."

Cukup memadai? pikir He Yan dalam hati. Xiao Jue memerankan seorang tuan muda yang kaya raya dengan sempurna, meskipun mungkin itu bukan akting – lagipula, Tuan Muda Kedua Xiao selalu pemilih, dan pasti sidah melihat hal-hal yang lebih baik dari ini, wajar saja jika kemegahan yang ada saat ini dianggap biasa saja.

Zhong Fu tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Tuannya sungguh berharap keponakannya ini akan pulang dan tinggal di Jiyang, tetapi mengetahui Qiao Huanqing kini memiliki kekayaan yang luar biasa, Tuannya takut Qiao Huanqing akan meremehkan Jiyang. Mereka telah merenovasi kamar-kamar ini setengah bulan sebelumnya dan memindahkan banyak barang antik berharga, berharap dapat membuat Qiao Huanqing terkesan dan menunjukkan bahwa keluarga Cui tidak kalah hebat dari keluarga Qiao.

Namun, Tuan Muda Qiao tampaknya tidak terkesan dengan hal-hal ini.

Masih penuh dengan harapan mendapatkan pujian, Zhong Fu melanjutkan, "Ada ambergris di tampat pembakar dupa. Jika Tuan Muda menikmati..."

"Kau boleh pergi sekarang," kata Xiao Jue dengan tenang, "Suruh seorang pelayan untuk mengantar makanan. Istri ku mungkin lapar dan perlu menyegarkan diri dan makan. Kami akan memanggil mu jika butuh sesuatu."

He Yan terkejut dengan ucapan Xiao Jue yang menyebutnya dengan sebutan "istri", tetapi setelah mendengar Xiao Jue menyebutkan makanan, He Yan menyadari bahwa ia memang cukup lapar, karena ia tidak makan seharian.

Melihat hal ini, Zhong Fu mengerti dan buru-burur pergi, sambil berpikir dalam hati bahwa meskipun Tuan Muda Qiao sombong dan pemilih, tidak mudah disenangkan, ia sangat perhatian kepada istrinya. Jika mereka ingin membuat Tuan Muda Qioa tetap tinggal di Jiyang, mereka bisa meminta bantuan istrinya.

Setelah Zhong Fu pergi, He Yan menyuruh Cui Jiao dan Hong Qiao untuk mengambil air. Ia sudah mandi di penginapan saat berganti pakaian, tetapi Xiao Jue belum.

"Tuan Muda, silakan mandi dulu. Kita bisa makan bersama saat makanannya tiba," He Yan berbaring di tampat tidur sambil memijit-mijit bahunya, "Duduk di kereta seharian membuatku lelah."

Melihat kelakuan He Yan, mulut Xiao Jue berkedut, "Nyonya Muda Qiao, perhatikan postur tubuhmu."

He Yan segera duduk tegak.

Xiao Jue pergi ke balik pembatas layar yang terbuat dari kain di ruang teh yang berada di ruang dalam untuk mandi.

Cui Jiao dan Hong Qiao disuruh pergi, kedua gadis muda itu menatap He Yan dengan ragu, "Tuan Muda tidak mengizinkan kami membantunya mandi."

Sama seperti He Yan, Xiao Jue sangat tidak suka ada orang lain yang membantunya saat mandi dan berganti pakaian. He Yan melambaikan tangannya, "Tidak apa-apa, dia hanya pemalu. Aku pergi dulu. Kalian juga pasti lapar. Fei Nu dan yang lainnya ada di sebelah. Makanlah bersama mereka, dan setelah makan, istirahatlah sebentar di sofa di ruang luar."

"Tapi..." Hong Qiao ragu-ragu, "Bukankah Nyonya Muda membutuhkan bantuan kami?"

He Yan melambaikan tangan dengan acuh, "Tidak perlu. Kami suami istri lebih suka melakukan sesuatu untuk satu sama lain. Kalian bisa pergi bersenang-senang."

Sebagai gadis muda, mereka senang mendengarnya. Mereka tersipu, berterima kasih kepada He Yan, dan dengan senang hati pergi mencari Fei Nu dan yang lainnya. Ruangan itu tiba-tiba hanya berisi dua orang.

He Yan bangkit dari tempat tidur dan berjalan berkeliling mengamati ruangan dalam. Sebelumnya, He Yan hanya melihat ruangan luar dan sekilas melirik ruangan dalam, tetapi setelah mengamati dengan saksama, He Yan menyadari betapa indahnya dekorasi ruangan itu.

Vas keramik oriole merah menghiasi lemari-lemari, bunga-bunga harum bermekaran, empat harta karun tertata rapi di atas meja ruang belajar, satu set catur diletakkan di atas meja kecil, jurnal perjalanan dan buku cerita memenuhi rak-rak, dan di bawah pohon dekat jendela terdapat kolam kecil tempat ikan-ikan berwarna-warni berenang dengan santai. Saat matahari terbenam, pemandangan di luar jendela menampakkan keanggunan yang tak terkira. Meskipun tradisi Jiyang begitu bergairah dan bebas, dengan dekorasi yang biasanya mengikuti tradisi meraka, penataan ruangan yang apik ini dibuat khusus untuk Qiao Huanqing.

He Yan merasa agak tersentuh – Cui Yuezhi memang memiliki kasih sayang yang tulus kepada keponakannya ini, tetapi sayangnya, Qiao Huanqing yang asli adalah seorang pengecut yang tidak ingin bertemu dengan pamannya.

He Yan menutup jendela dan menyalakan lampu minyak. Kaki lampu minyak itu berbentuk bebek mandarin yang sedang bermain di air, dan sebuah lentera cantik diletakkan di atas meja kecil, memancarkan cahaya redup ke seluruh ruangan.

Setelah mendengar bahwa Qiao Huanqing dan Wen Yuyan baru menikah kurang dari tiga bulan, masih pengantin baru, Cui Yuezhi dengan penuh perhatian menata kamar tidur secara khusus – tirai kasa merah hangat, seprai sutra merah bersulam motif seratus putra seribu cucu. Bahkan lilin-lilinnya pun berwarna merah, dan piring buah berisi lengkeng kering.

Saat He Yan melihat sekeliling, ia menyadari kamar tidur ini benar-benar ditata seperti kamar pengantin. Jika ia menemukan kerudung merah untuk menutupi kepalanya sekarang dan mengumpulkan beberapa orang untuk merayakannya, rasanya seperti malam pernikahan.

Dirinya dan Xiao Jue akan tidur di sini malam ini? He Yan tidak mempertimbangkan hal ini sebelumnya, tetapi memikirkannya sekarang membuatnya merasa sangat tidak nyaman.

Cahaya lampu perlahan merayap naik ke dinding, dan He Yan melihat sesuatu yang tampak seperti pola diletakan di kepala tempat tidur yang merupakan sebuah lukisan. Karena kotanya terletak dekat dengan air, lukisan dinding yang ada di Jiyang sering kali menggambarkan penduduk Jiyang sedang menyembah dewa air, cukup hidup dan menarik. Mengira lukisan yang ada di kepala tempat tidur adalah pemandangan seperti itu, He Yan melepas sepatunya, mengambil lentera cantik dan naik ke kepala tempat tidur untuk mengamati lukisan itu dengan saksama.

Setelah mandi, Xiao Jue mengenakan pakaian dalam dan jubah mandinya, lalu berjalan keluar. Hal pertama yang dilihatnya adalah He Yan mengangkat lentera, mengamati dinding dengan saksama... Lukisan? He Yan tampak seperti sedang memeriksa peta harta karun, benar-benar serius.

Xiao Jue terdiam sejenak, mengamati He Yan. Melihat bahwa He Yan terlalu asyik dengan dunianya sendiri saat ini dan tidak menyadari kehadirannya, Xiao Jue tetap diam, lalu berjalan ke sisi He Yan dan membungkuk untuk melihat ke arah yang sedang dilihat He Yan.

He Yan sedang asyik mengamati lukisan namun tiba-tiba terdengar suara tenang dari belakangnya: "Apa yang kau lihat?"

"Uhuk, uhuk, uhuk—" He Yan begitu terkejut hingga hampir tersedak air liurnya. Pada saat yang sama, Xiao Jue melihat apa yang dilukis di dinding.

Sosok-sosok kecil yang mesra... dalam berbagai posisi aneh.

Wajahnya Xiao Jue langsung berubah dingin karena marah: "He... Yuyan!"

"Iya, iya, iya!" He Yan gemetar ketakutan.

"Apa yang kau lihat!"

Meskipun dimaksudkan sebagai tuduhan, He Yan menganggapnya sebagai pertanyaan, mengira Xiao Jue tidak tahu apa itu, dan tergagap menjawab: "Musim semi... lukisan musim semi. Apa kau belum pernah melihatnya sebelumnya?"

Ekspresi Xiao Jue menjadi gelap, hampir meledak: "Bukan itu yang kutanyakan!"

Sejak dia hidup kembali, sepanjang waktu bersama Xiao Jue, He Yan selalu melihatnya marah, tetapi bahkan ketika marah, Xiao Jue selalu bersikap dingin dan acuh tak acuh. Ini pertama kalinya dia melihat Xiao Jue mengungkapkan amarahnya secara langsung.

Tapi mengapa Xiao Jue begitu marah? Apakah karena dia tidak memanggil Xiao Jue untuk melihat lukisan yang ada di dinding itu?

"Aku... kau sedang mandi di dalam, aku hanya kebetulan melihatnya. Kalau kau mau lihat terlebih dahulu, kau boleh lihat duluan... jangan marah... lagipula tidak ada yang istimewa dari lukisan-lukisan ini... sapuan kuasnya terlalu berat, figur-figur terlalu jelek. Kalau kau suka lukisan seperti ini, aku bisa carikan yang garisnya jauh lebih halus..." He Yan menjawab dengan gemetar, "Aku akan carikan untukmu."

Xiao Jue begitu marah hingga hampir muntah darah. Ia mencibir, "Oh, benarkah? Kau sudah melihat banyak lukisan seperti ini?"

"Tidak... tidak sebanyak itu," kata He Yan, "Mungkin... lebih banyak darimu?"

Di kehidupan sebelumnya sebagai "He Rufei", banyak saudara di barak diam-diam menyimpan peta harta karun tersebut, dan pada malam-malam yang membosankan mereka akan membawa peta harta karun itu keluar untuk diapresiasi bersama. He Yan terpaksa melihat banyak peta harta karun tersebut, berubah dari rasa malu dan marah menjadi mati rasa, dan akhirnya mampu mengkritiknya dengan ekspresi yang datar – semua itu terjadi hanya dalam beberapa tahun.

Kata-kata yang begitu tidak pantas, dan dia tampak begitu bangga? Sungguh tidak tahu apa yang baik untuk dirinya, pikir Xiao Jue dingin, lalu dengan tiba-tiba menekan He Yan ke dinding, satu tangan menopang di samping He Yan, tubuh maskulinnya menekan erat, membawa aroma bulan yang familiar.

Tatapannya setajam kilat, namun tersirat rayuan samar di sudut mata dan alisnya. Suaranya serak dan rendah, pupil matanya yang gelap menatap lurus ke arah He Yan lalu ia berkata lembut, "Kalau begitu, kau mau mencoba?"

Disclaimer: Terjemahan ini dilakukan secara sukarela untuk tujuan berbagi hobi dan apresiasi karya. Seluruh hak cipta, termasuk karakter, alur cerita, dan judul adalah milik penuh penulis asli dan penerbit. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas konten ini. Jika Anda menyukai ceritanya, dukung penulis aslinya melalui platform resmi.

Komentar