Legend of the Female General-Bab 126 Bulan (II)

He Yan tak pernah menyangka akan ada masa-masa sesulit ini dalam hidupnya – begitu sulitnya hingga melangkah maju pun terasa mustahil.

Sudah lama sejak terakhir kali ia memandangi bulan.

Sejak kehilangan penglihatannya, He Yan hidup dalam kebingungan. Meskipun Xu Zhiheng selalu menghiburnya, berjanji untuk tetap berada di sisinya selamanya, dan He Yan tersenyum menyetujui, meskipun tampak tenang, hatinya dipenuhi kebingungan dan ketakutan. Sepanjang hidupnya, He Yan telah menghadapi banyak kesulitan, biasanya ia mengatasinya dengan tekad yang kuat, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia hanya perlu melewati satu rintangan ini. Tanpa disadari, ketika menoleh ke belakang, ia telah melewati banyak rintangan seperti itu.

Namun rintangan ini, ia tak mampu melewatinya. Ia tak tahu bagaimana caranya.

Bukan lagi sebagai Jenderal Fei Hong, kini hanya sebagai Nyonya Xu, He Yan telah menjadi wanita biasa. Ketika seorang wanita biasa tiba-tiba buta, meskipun suaminya masih memperlakukannya dengan baik, kebaikan ini terasa seperti bunga di air – membawa semacam kepura-puraan yang hampa. He Yan tidak bisa merasakan kebaikan itu dengan sungguh-sungguh.

Pada Malam Ketujuh, He Yan duduk di kediaman hingga larut malam, tetapi Xu Zhiheng tidak kunjung kembali. He Yan mengira itu karena urusan di istana, tetapi keesokan harinya He Yan baru tahu bahwa Xu Zhiheng telah menghabiskan hari sebelumnya menemani Hè Wanru ke pekan raya kuil. He Yan dengan hati-hati meraba-raba untuk duduk di dekat jendela kamarnya, diam-diam mendengarkan obrolan iseng para pelayan di luar.

Kemarin, Tuan Muda dan Nyonya bertengkar hebat, bahkan Tuan Tua pun mendengarnya. Ketika Tuan sedang tidak enak hati, kami para pelayan ikut menderita, dan itu semua gara-gara orang di kediaman Timur itu.

"Kalau kau tanya aku, Tuan Muda terlalu berhati lembut. Orang yang ada di kediaman Timur sekarang buta – bagaimana mungkin Nyonya Pertama dari keluarga Xu kita buta? Ini memalukan. Nyonya Tua telah menolak semua undangan sosial akhir-akhir ini, hanya untuk menghindari orang-orang bertanya tentang hal itu."

Seorang pelayan muda yang tak tahan membela He Yan: "Nyonya Pertama tidak terlahir buta, kecelakan itu terjadi secara tiba-tiba – Nyonya pertama cukup menyedihkan."

Menyedihkan? Apa yang menyedihkan darinya? Meski buta, dia tetap bisa tinggal di rumah yang penuh dengan pelayan, setidaknya tidak kekurangan makanan atau pakaian – apa bedanya dengan hewan peliharaan? Yang benar-benar menyedihkan adalah Tuan Muda, begitu muda namun terikat untuk menghabiskan hidupnya dengan seorang wanita buta. Tuan Muda kita tak tertandingi dalam hal pengetahuan – wanita macam apa yang tidak bisa dia temukan? Mengapa dia harus terjebak dengan orang seperti ini?

"Ya! Tuan Muda memang sungguh menyedihkan!"

Kata-kata itu bagaikan kait tajam, menusuk hati He Yan satu per satu, membuatnya berdarah.

Malam itu, He Yan duduk di kamarnya menunggu Xu Zhiheng kembali, dan berkata kepadanya: "Mari kita berpisah."

Xu Zhiheng tertegun, bertanya dengan lembut, "Mengapa berkata begitu?"

"Atau kau bisa menceraikanku," kata He Yan terus terang, tidak pernah bertele-tele. "Aku sudah buta sekarang, aku tidak inign menjadi beban untuk mu."

"Kita ini suami istri," Xu Zhiheng menggenggam tangannya He Yan dan berkata, "Jangan bahas hal-hal seperti itu lagi. Istirahatlah."

Xu Zhiheng mengganti topik pembicaraan tetapi tidak menyangkal kata "beban" yang diucapkan oleh He Yan.

Hati He Yan perlahan mencelos.

Setelah pembicaraan malam itu setiap harinya He Yan menjalani hidup yang sangat bergantung, sering kali mendengar ejekan para pelayan di belakangnya. Kata-kata Nyonya Tua Xu kepadanya penuh dengan sindiran, berulang kali menyiratkan betapa He Yan membebani keluarga Xu.

Xu Zhiheng masih memperlakukannya dengan lembut, tetapi selain kelembutan, tak ada yang lain.

He Yan merasa lelah.

He Yan merasa seperti berjalan di jalan yang gelap gulita tanpa ada pejalan lain. Ia tak melihat cahaya di depan, juga tak ada tempat untuk berlindung di belakangnya. Ia tak tahu kapan ia akan mencapai ujung dan mengakhiri hidup yang menyiksa ini.

Beberapa hari sebelum Festival Pertengahan Musim Gugur, ia berkata kepada Xu Zhiheng: "Aku tahu tentang pohon abadi di Kuil Yuhua di Gunung Salju Teratai. Konon, pohon itu sangat ajaib. Selama Festival Pertengahan Musim Gugur, bolehkah kita naik gunung? Aku ingin menggantungkan pita sutra di pohon itu dan membuat permohonan – mungkin mataku masih bisa disembuhkan."

Sejak kehilangan penglihatannya, He Yan jarang meminta sesuatu kepada Xu Zhiheng. Setelah terkejut sejenak, Xu Zhiheng akhirnya setuju, dan berkata, "Baiklah."

Rasanya ketika seseorang sedang sial, minum air dingin pun bisa membuat giginya terkikis. Tahun-tahun sebelumnya, Pertengahan Musim Gugur selalu cerah, tetapi tahun ini hujan turun berhari-hari. Ketika kereta kuda tiba di gunung, langit begitu gelap sehingga terasa tidak alami. Mereka tentu saja tidak bisa turun gunung sore itu. Mereka mungkin harus bermalam di gunung.

Xu Zhiheng membantu He Yan berdoa di kuil. Seorang biksu meletakkan pita sutra merah di tangan He Yan, memberitahunya lokasi pohon abadi di belakang kuil. He Yan menggenggam pita sutra itu dan berterima kasih pada biksu itu.

Biksu itu menyatukan kedua telapak tangannya dan berkata dengan penuh rasa iba, "Bahkan setelah ratusan ribu kalpa, karma yang diciptakan seseorang tidak akan musnah. Ketika sebab dan kondisi bertemu, seseorang pasti akan menerima buah dari perbuatannya."

He Yan tidak mengerti kitab suci Buddha, dan ketika ia ingin bertanya lebih lanjut, biksu itu sudah pergi.

Di tengah hujan, Xu Zhiheng menemani He Yan ke pohon abadi.

Di samping pohon abadi terdapat meja dan kursi batu, tempat para peziarah menuliskan harapan mereka. Xu Zhiheng membentangkan sutra merah untuknya dan meletakkan kuas di tangannya, sambil berkata, "Tulislah."

Dengan menggunakan nalurinya, He Yan perlahan menulis: "Aku berharap dapat melihat bulan lagi."

Tanpa melihatpun, He Yan tahu tulisan itu pasti miring dan mengerikan.

Setelah menulis, He Yan dengan hati-hati menyerahkan pita sutra itu kepada Xu Zhiheng, yang kemudian menggantungkannya di pohon abadi untuknya. He Yan tidak bisa melihat apa-apa, jadi ia tidak melihat bagaimana suaminya berdiri dan dengan sembarangan menggantungkan pita itu di dahan pohon terdekat. Xu Zhiheng bahkan tidak repot-repot mengikat pita itu dengan benar, hanya menggantungkannya secara sembarangan di sana. Tidak ada tempat berteduh dari hujan di pohon itu, dan dalam sekejap, sutra merah itu basah kuyup oleh air hujan, tulisannya dengan cepat memudar menjadi noda tinta yang samar, mustahil untuk mengetahui apa yang telah ditulis.

"Ayo pergi," Xu Zhiheng menghampiri He Yan dan membantunya pergi.

Terdengar suara "ledakan" guntur, dan tiba-tiba angin sejuk bertiup, membuat ranting-ranting pohon berdesir. Pita sutra merah terlepas dari pohon abadi tertiup angin, jatuh ke genangan air, berlumuran lumpur.

He Yan seolah merasakan sesuatu, bertanya dengan cemas, "Anginnya kencang sekali, apakah pita sutra ini akan tertiup angin?"

"Bagaimana mungkin?" Xu Zhiheng tersenyum meyakinkan, "Aku mengikatnya dengan sangat erat." Setelah mengatakan ini, seolah tidak melihatnya sama sekali, ia melangkahi pita sutra merah yang jatuh itu.

Hujan tak kunjung reda, dan mereka terpaksa bermalam di gunung.

Xu Zhiheng pergi untuk membahas kitab suci dengan kepala Kuil Yuhua. Hari sudah sore, dan lilin-lilin dinyalakan di ruangan itu sementara He Yan duduk dengan tenang.

Biasanya, jam segini, ia seharusnya sudah beristirahat – seorang tuna netra tidak punya kegiatan apa pun selain makan dan tidur. Namun malam ini, suara hujan terdengar samar, dan He Yan tidak bisa tidur. Karena tidak tahu jam berapa sekarang, ia memanggil nama-nama pelayannya beberapa kali, tetapi tidak ada yang menjawab. Perlahan-lahan He Yan berjalan menyusuri dinding, berniat memanggil seseorang.

Tepat saat He Yan sampai di ambang pintu, ia mendengar dua pelayan berbicara.

"Apakah kau baru saja mendengar Nyonya Pertama memanggil?"

"Benarkah? Biarkan saja dia memanggil, jangan hiraukan dia. Sudah larut malam, untuk apa dia membutuhkan orang? Sudah buta dan masih saja membuat onar, bertingkah seperti Nyonya Pertama."

He Yan membeku mendengar ini.

Kedua pelayan ini bukan pelayannya, melainkan pelayan di kediaman Xu Zhiheng. Biasanya, mereka sangat lembut dan anggun, dan berkat Xu Zhiheng, mereka selalu memperlakukannya dengan hati-hati dan penuh hormat. He Yan tidak pernah tahu mereka membicarakannya seperti ini secara diam-diam.

"Kalau saja dia tidak ingin mendaki gunung hari ini, kita tidak perlu merayakan Festival Pertengahan Musim Gugur di sini, dengan hujan yang masih turun di luar. Sungguh malang. Tuan Muda terlalu baik hati, bahkan tidak merasa kesal karena harus menanggung beban seberat itu."

"Kau tahu kepribadian Tuan Muda – dia mungkin tidak menunjukkan kekesalan di permukaan, tetapi pasti ada kebencian di hatinya. Keluarga Xu kita sekarang telah menjadi bahan tertawaan di ibu kota. Tuan Muda selalu sombong dan ambisius, dia pasti menderita karena itu. Jika aku jadi orang buta, aku akan gantung diri dengan tali, daripada membebani orang lain."

"Ssst! Bagaimana kau bisa berkata begitu!"

Pelayan yang berbicara itu tidak menyesali kata-katanya, "Memang benar. Seperti binatang, menunggu diberi makan setiap hari, makan dan tidur, selalu dilayani orang lain. Tak bisa meninggalkan kediaman, tak bisa melihat apa-apa, menjalani hidup tanpa makna. Satu atau dua tahun mungkin masih bisa ditanggung, tapi hidup seperti ini seumur hidup, apa gunanya hidup? Lebih baik mati muda dan menemukan kedamaian, mungkin terlahir kembali dengan keberuntungan yang lebih baik di kehidupan selanjutnya, barulah dia bisa melihat."

"Berhenti bicara, di luar ada air panas, ayo kita ambil dulu."

Suara langkah kaki perlahan menghilang.

He Yan, membelakangi pintu, perlahan duduk.

Iya, satu atau dua tahun mungkin masih bisa ditanggung, tapi hidup seperti ini seumur hidup, apa gunanya hidup?

Pelayan seorang majikan tidak akan berani merendahkan orang yang benar-benar dihargai oleh majikannya. Jika mereka berdua membahasnya dengan santai seperti ini, artinya secara diam-diam, Xu Zhiheng tidak seterbuka dan sesantai yang diperlihatkan di hadapannya.

Tapi di dunia ini, berapa banyak orang yang benar-benar bisa hidup tanpa keluhan atau penyesalan?

He Yan tak tahu apakah ruangan itu terang benderang—baginya, semuanya gelap gulita. Tiba-tiba, rasa putus asa yang mendalam menerpanya. Berlatih bela diri sejak kecil, belajar di masa muda, lalu terjun ke medan perang, berkompetisi meraih prestasi militer—ia telah menghabiskan seluruh hidupnya membuka jalan bagi orang lain. Akhirnya, ia melepas topengnya, berpikir segalanya bisa dimulai lagi, namun saat ini ia terjerumus ke dalam kegelapan, terjebak selamanya di sebuah rumah megah, membutuhkan seseorang untuk mendampingi setiap langkahnya.

Keputusasaan seseorang tidak terakumulasi dalam sehari. Hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari menggerogoti gairah seseorang, melahapnya sedikit demi sedikit hingga antusiasmenya benar-benar habis, kekecewaan dan beban menumpuk lapis demi lapis hingga akhirnya jerami terakhir jatuh perlahan, dan dengan suara dentuman, harapan pun tenggelam ke dasar.

Keputusasaan itu begitu dahsyat.

He Yan meraba-raba, perlahan berdiri.

Ada selempang kain yang berasal dari pakaiannya di dalam kamar. He Yan dengan asal-asalan mengambil jubah luar untuk dikenakan, mengambil tongkat bambu yang biasa ia gunakan sejak buta, dan dengan gemetar berjalan keluar pintu.

Kuil di gunung itu sudah sedikit pengujungnya, dan dengan cuaca hujan yang gelap di luar, para biksu sudah memasuki aula Buddha. He Yan berjalan tanpa tujuan, namun entah bagaimana ia tidak menabrak siapa pun.

Berkat pengalamannya sebagai prajurit muda, He Yan telah mengembangkan ingatan yang sangat baik tentang jalan setapak digunung ini. He Yan masih ingat Xu Zhiheng bercerita dalam perjalanan mereka bahwa di dekat kuil, terdapat hutan lebat di tepi sungai pegunungan. Air terjun yang mengalir deras itu bagaikan mutiara yang jatuh ke piring, sungguh menakjubkan.

Gunung, air, dan pepohonan – lumayanlah. Sayang sekali malam ini hujan, tanpa bulan yang sangat ia cintai.

Seorang tunanetra yang berpetualang selalu merepotkan, terutama di jalan setapak pegunungan yang berlumpur. He Yan tidak tahu berapa kali ia jatuh, berapa kali batu menyandungnya. Ia hanya merasakan pakaiannya basah kuyup, rambutnya acak-acakan. Akhirnya, terengah-engah, ia tak tahu lagi di mana ia berada.

He Yan jatuh di depan sebuah pohon, kepalanya terbentur batang pohon. He Yan mengulurkan tangan untuk merasakan – pohon ini sangat besar dan pasti sudah cukup tua.

Hutan lebat dengan air terjun itu mungkin mustahil ditemukan sekarang, tetapi tempat ini sudah cukup. He Yan tidak pernah terlalu peduli dengan hal-hal eksternal. Butuh usaha yang cukup besar baginya untuk memindahkan batu ke tempat yang diinginkannya.

Kelelahan, He Yan duduk di atas batu.

Hujan telah sedikit mereda, jatuh lembut dan lebat di sekujur tubuhnya. Perempuan muda itu menengadah ke langit seolah-olah bisa melihat bulan. Hanya air hujan yang mengalir di pipinya saat ia menyeka air dari wajahnya.

"Janganlah menjadi perahu di sungai, janganlah menjadi bulan di atas sungai."

"Perahu membawa orang menuju perpisahan, bulan menerangi perpisahan orang-orang."

He Yan tidak punya apa pun yang layak ia perjuangkan di dunia ini. Satu-satunya penyesalannya adalah tidak ada bulan malam ini.

He Yan perlahan berdiri, meraba kain di dekat tangannya. Kain itu terikat erat; ia menariknya sedikit ke bawah – kain itu stabil, dan seharusnya tidakm putus.

He Yan menendang batu itu.

Kain yang telah dipilin menjadi tali langsung putus.

He Yan tiba-tiba jatuh ke tanah.

Lumpur menutupi sekujur tubuhnya untuk sesaat He Yan tertegun sejenak, tiba-tiba menyadari bahwa kain itu telah robek.

Apakah kain itu robek?

Saat itu juga, hatinya dipenuhi kepedihan dan kepahitan yang tak terlukiskan. Ia tersedak sesaat, lalu mulai terisak pelan, dan akhirnya, tertelungkup di tanah, ia menangis dengan keras.

He Yan jarang menangis

Bagi seorang jenderal, menangis adalah perilaku yang sangat memengaruhi semangat pasukan. Di medan perang, He Yan selalu harus menjaga penampilan percaya diri dan semangat, seolah tidak ada dan tidak seorang pun yang dapat memengaruhi penilaiannya. Setelah ia berhenti menjadi jenderal, setiap kali ia ingin menangis, ia akan menganggap dirinya terlalu dramatis.

Namun, setiap orang memiliki saat-saat rentan. Ia sanggup menanggung diabaikan, menjadi buta, mendengar ejekan dan hinaan para pelayan, sanggup menanggung sindiran ibu mertuanya yang menganggapnya sebagai beban.

Namun, ketika bunuh diri pun gagal, ketika kain pun harus robek, ia tak sanggup lagi menanggungnya.

Air matanya mendidih, jatuh dalam tetesan besar di pipinya ke lumpur di bawahnya, mustahil dibedakan dengan hujan.

Saat ia menangis dengan memilukan, tiba-tiba ia mendengar suara yang tak dikenalnya.

Suara seorang pria, dalam dan menyenangkan di tengah angin dan hujan, membawa sedikit ketidaksabaran, bertanya: "Mengapa kau menangis?"

Tangisan He Yan tiba-tiba berhenti.

Xiao Jue menatap wanita di hadapannya.

Ini adalah seorang perempuan yang mencoba bunuh diri, seluruh penampilannya menunjukkan betapa malangnya dia. Ia mengenakan pakaian dalam putih tetapi mengenakan pakaian luar merah, bahkan selempangnya diikat ke belakang. Ia pasti terjatuh berkali-kali di sepanjang jalan, karena pakaiannya robek di beberapa tempat. Wajahnya kotor, seperti kucing yang dicat, berlumuran lumpur.

Xiao Jue selalu menyukai kebersihan dan merasa pemandangan ini sangat mengganggu. Akhirnya, Xiao Jue tidak kuasa menahan diri untuk mengeluarkan sapu tangan putih dan memberikannya kepada wanita itu.

Namun wanita itu tidak menerima kain itu, malah membuat gestur defensif, bertanya: "Siapa kau?"

Xiao Jue terkejut sesaat, menyadari tatapan wanita itu agak tidak fokus. Setelah berpikir sejenak, Xiao Jue menarik saputangannya dan berjongkok untuk bertanya: "Kau tidak bisa melihat?"

Wanita itu tertegun sejenak, lalu menjawab dengan galak: "Benar! Aku buta!"

Wanita itu mengatakannya dengan kepala yang diangkat dengan sangat tinggi.

Fei Nu berdiri di belakang Xiao Jue, hendak melangkah maju, tetapi Xiao Jue menggelengkan kepalanya sedikit.

He Yan mencengkeram tinjunya dengan waspada.

Ia baru saja ingin gantung diri diam-diam, tetapi sekarang kainnya robek, dan orang asing telah menyaksikan keadaannya yang menyedihkan. Mengapa surga selalu memperlakukannya dengan cara yang tak terduga?

Xiao Jue menatap He Yan dengan tatapan datar, lalu membungkuk untuk mengambil belati terbang dari tanah—belati itu adalah yang ia gunakan untuk memotong kain di pohon.

"Apa yang kau inginkan?" tanya He Yan.

Xiao Jue: "Hanya lewat."

Dia bukan orang baik hati yang suka ikut campur urusan orang lain.

Sudah lebih dari cukup untuk melakukan semua ini. Xiao Jue berdiri dan berbalik untuk pergi. Setelah berjalan beberapa langkah, Fei Nu mendekat dan berbisik: "Hari ini hanya Cendekiawan Hanlin Xu Zhiheng dan istrinya yang ada di Kuil Yuhua. Wanita ini pasti Nyonya Xu yang buta beberapa waktu lalu – He Yan."

He Yan? Dia mengangkat alis. Adik He Rufei?

Xiao Jue berbalik untuk melihat.

Wanita itu sudah meraba-raba dan menemukan kain yang terbelah dua. Meskipun tidak panjang, kain itu masih bisa digunakan. Pertama-tama ia mengukur separuh kain di lehernya, memastikannya akan berfungsi, lalu dengan gemetar mulai mengikat simpul.

Wanita itu ingin mencoba gantung diri lagi.

Xiao Jue merasa agak bingung, lalu agak lucu.

Kegigihan yang nyaris seperti kebodohan ini sangat mirip sepupunya.

Kebanyakan orang yang mencari kematian melakukannya secara impulsif, mengandalkan tekad sesaat untuk gantung diri, melompat ke sungai, atau terjun dari tebing. Ketika tiba saatnya, kebanyakan orang akan menyesalinya dalam hati, tetapi saat itu sudah terlambat.

wanita ini sudah pernah merasakan sensasi hampir mati, dia seharusnya tidak mencobanya lagi, tetapi tanpa diduga dia begitu gigih sehingga bahkan dengan tali yang putus dia ingin melanjutkan.

Seharusnya Xiao Jue membiarkan He Yan begitu saja – tak seorang pun bisa menghentikan seseorang yang sangat bertekad untuk mati.

Namun, dalam benak Xiao Jue, tiba-tiba muncul sebuah malam Pertengahan Musim Gugur bertahun-tahun yang lalu, ketika seorang anak laki-laki pulang dengan gugup, hanya untuk mendapati mayat ibunya yang sudah dingin.

Pemandangan di hadapannya seakan bertumpang tindih dengan masa lalu, dan untuk sesaat, ia tak tahu malam yang mana.

Fei Nu berdiri di belakangnya, memperhatikan Xiao Jue dengan bingung.

Xiao Jue menarik napas dalam-dalam, akhirnya menangkan pikirannya, berjalan ke sisi wanita itu, dan bertanya: "Mengapa kau mencoba bunuh diri?"

He Yan terkejut.

He Yan jelas mendengar langkah kaki pria itu pergi, bagaimana mungkin pria itu tiba-tiba kembali? He Yan telah menghabiskan seluruh hidupnya dalam kecurigaan dan dimanipulasi oleh orang lain. Kini, pada akhirnya, ia tak lagi ingin memikirkan perasaan orang lain. Campur tangan orang ini sudah membuatnya kesal, jadi ia melampiaskan semua amarahnya pada pria itu.

He Yan hampir berteriak balik: "Urus saja urusanmu sendiri!"

Pemuda itu meraih lengan He Yan dalam satu gerakan, menariknya dari tanah.

He Yan terkejut, meronta beberapa kali, tetapi ia sudah kelelahan karena tersandung-sandung, dan karena buta, ia terseret beberapa langkah sebelum akhirnya terjatuh dan mendarat di pantatnya.

Tanahnya terasa lunak – yang ternyata adalah sepetak rumput.

Pria itu tampak berdiri di sampingnya, membungkuk menghadapnya, suaranya dingin: "Kenapa kau mencoba bunuh diri?"

He Yan juga dipenuhi amarah, dan berteriak: "Sudah kubilang ini bukan urusanmu! Hari ini tidak ada bulan, jadi aku mau bunuh diri! Jalan gunung terlalu licin, jadi aku mau bunuh diri! Bahkan tali yang kuikat pun harus putus, jadi aku mau bunuh diri! Bertemu orang usil sepertimu di sini, jadi aku mau bunuh diri! apakah itu sudah cukup?"

He Yan berteriak dengan keras, tetapi air mata mengalir di wajahnya. Meskipun ingin menjadi harimau ganas, ia lebih terlihat seperti kucing liar yang basah kuyup dan terlantar.

Fei Nu berdiri dengan gugup di belakang Xiao Jue.

Tuan Muda Kedua Xiao sudah jarang sekali melibatkan diri dengan sabar dalam masalah seperti itu, tetapi wanita ini, begitu galak, bahkan lebih langka lagi.

Setelah He Yan selesai berteriak, tiba-tiba ia merasakan sesuatu mengusap wajahnya. Lembut, sepadat awan yang ditarik turun dari langit musim semi.

Sebuah suara yang terdegar acuh-tak acuh berbicara, membawa kehangatan kenyamanan yang nyaris tak terasa.

"Jika kau sungguh kuat, apa masalahnya jika kau buta? Sekalipun buta, kau bisa menjadi yang paling luar biasa di antara yang buta."

Kemarahan He Yan tiba-tiba berhenti.

Semua kesengsaraan dan kelemahannya terekspos, ditelanjangi di hadapan orang lain.

"Tidak apa-apa, meskipun aku tak bisa melihat, aku masih bisa mendengar. Denganmu di sisiku, semuanya akan baik-baik saja," katanya sambil tersenyum kepada Xu Zhiheng.

Bagaimana mungkin semuanya baik-baik saja?

Bagaimana mungkin semuanya tidak penting?

Malam harinya He Yan terus-menerus meraba matanya dengan jari, berdoa kepada surga agar mengasihaninya dan membiarkannya melihat cahaya lagi keesokan harinya. Malam-malam yang dipenuhi kegelisahan, malam-malam yang ia gertakkan dan katakan pada dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja, malam-malam yang ia pura-pura semuanya normal padahal ia tak mampu mengatasinya – mereka tak tahu apa-apa.

Mereka tak mengerti apa-apa.

Namun orang asing yang lewat mengerti.

Ia tak bisa menangis, tak bisa membiarkan orang lain melihat kelemahannya, tak bisa mengeluh, tak bisa kehilangan kesabaran. Sudah terlalu lama, begitu lama hingga emosi-emosi ini bagai sutra dari ulat sutra, melilitnya lapis demi lapis menjadi kepompong yang kokoh. Ia duduk sendirian di dalam kepompong, terisolasi dari dunia luar.

He Yan yang berada di luar kepompong itu lembut, optimis, selalu tersenyum, dan memikirkan orang lain. He Yan yang berada di dalam kepompong menderita, bersedih, menahan semua tangisannya minta tolong.

Bertahun-tahun, dari "He Rufei" hingga "He Yan," ia tak pernah benar-benar melepas topengnya.

Hingga malam ini, ketika orang asing yang lewat melihat segalanya, membuka topengnya, dan menemukan air matanya.

Seluruh pertahanan dan kewaspadaannya langsung luluh, dan ia perlahan menundukkan kepalanya lalu air mata yang lebih besar jatuh.

Xiao Jue mengira setelah mengucapkan kata-kata itu, He Yan akan berhenti menangis, tetapi tiba-tiba He Yan menangis lebih keras lagi. Hujan tak kunjung reda, dan rerumputan di bawah mereka sudah basah kuyup.

Xiao Jue membengkokkan jarinya, dan Fei Nu melangkah maju. Xiao Jue mengambil payung dari tangan Fei Nu dan memegangkannya di atas kepala He Yan.

He Yan masih belum berhenti menangis.

Xiao Jue belum pernah melihat wanita segalak dan sekeras ini bisa menangis sekeras itu. Sulit membayangkan He Rufei, dengan sifatnya yang bodoh dan bahagia, bisa memiliki saudara perempuan yang sama sekali berbeda.

Xiao Jue kebingungan karena tangisan itu, dan akhirnya, karena tak tahan lagi, berkata: "Berhenti menangis."

"Kenapa aku tidak boleh menangis?" Wanita itu seperti kucing liar yang tidak tahu berterima kasih, menunjukkan cakarnya kepada orang yang memberinya makan. Suaranya sudah serak, tetapi ia masih membantah: "Bukan hanya aku akan menangis, aku juga akan bunuh diri. Aku sudah seperti ini, apa gunanya hidup, wuwuwuwu..."

Xiao Jue: "..."

Dia belum pernah menghibur seorang wanita sebelumnya, dan ini adalah hasil dari percobaan pertamanya. Apakah semua wanita benar-benar tidak masuk akal?

"Apa yang harusaku lakukan agar kau berhenti menangis?" Xiao Jue menahan amarahnya, "dan berhenti mencoba gantung diri."

He Yan terisak dan cegukan. Saat itu, ia sudah tidak lagi berpikir untuk mati. Terkadang orang hanya terpaku pada satu titik – jika mereka bisa melewatinya, mereka akan melewatinya; jika tidak bisa, mereka tidak bisa. Penampilan orang asing ini sungguh tak terjelaskan, dan kalimat itu tidak terlalu hangat, namun...

Namun, ia tak ingin lagi mati.

He Yan berkata: "Jika kau bisa memberiku sepotong permen sekarang, aku tak akan bunuh diri."

Waktu masih kecil, He Yan menyukai hal-hal manis, tetapi setelah berusia lima tahun, Nyonya He sangat mengontrol segala hal tentangnya. Karena takut ketahuan, bahkan kebiasaan seperti menikmati makanan manis seperti gadis-gadis lain pun harus diubah. Kemudian, di militer, tidak ada permen manis, hanya biskuit kering kasar. Setelah menikah, suatu ketika He Yan melihat Hè Wanru sakit, dan Xu Zhiheng pergi menjenguknya, secara khusus membawakannya sekotak kecil buah-buahan yang dikeringkan.

Untuk setiap tegukan obat yang diminum Hè Wanru, Xu Zhiheng akan memasukkan buah yang telah dikeringkan ke dalam mulutnya. He Yan melihat ini sambil berjalan melewati jendela, dan untuk sesaat, hatinya terasa getir, entah ia iri pada kebaikan Xu Zhiheng dalam memperlakukan Hè Wanru atau iri pada Hè Wanru yang bisa merasakan begitu banyak rasa manis hanya karena harus menahan sedikit rasa pahit.

He Yan memang tak pernah keras kepala, tetapi malam ini, entah mengapa, ia tampak bertekad untuk bersikap setegas mungkin terhadap orang asing ini.

Xiao Jue sedikit tertegun dan menoleh untuk melihat orang di sampingnya.

Wajah wanita itu telah dilap kasar dengan sapu tangan, tetapi masih terdapat jejak lumpur. Matanya sedikit bengkak tetapi luar biasa cerah, dengan ekspresi keras kepala yang tampak familier.

Rasanya seperti seorang pemuda canggung.

Xiao Jue terdiam sejenak, jari-jarinya yang ramping bergerak membuka kantong parfum di pinggangnya.

Fei Nu terkejut.

Sambil memegang kantong biru tua itu, Xiao Jue menjepit bagian bawah kantong, dan sepotong permen osmanthus yang terbungkus kertas terjatuh.

Sudah terlalu lama – kertas yang menempel pada permen, tampak hitam dan tidak dapat dikenali. Setelah kematian Nyonya Xiao, Xiao Jue membawa permen osmanthus terakhir ini bersamanya. Selama bertahun-tahun, permen ini telah menemaninya melewati banyak masa sulit. Ketika ia tak sanggup melanjutkan hidup, memandangi permen ini seolah memberinya sedikit rasa manis dalam hidup.

Inilah satu-satunya rasa manis dalam hidupnya, dan sekarang ia memberikannya kepada seorang wanita yang menangis dan ingin bunuh diri. Xao Jue berpikir, hidupnya tidak lagi membutuhkan permen, jadi memberikan permen itu pada He Yan bukanlah masalah.

He Yan merasakan sesuatu diletakkan di tangannya.

Ia secara naluriah menggenggam benda itu, hendak membuka kertas permen itu.

"Jangan dimakan," suara pria itu terdengar di sampingnya.

"Apa?" tanya He Yan, "Kau mencoba menipuku? Memberiku batu dan bilang itu permen?"

He Yan mendengar suara pria itu, membawa sedikit kesedihan, "Permen ini, permen terakhir di dunia. Manis sekali, tapi kau tidak bisa memakannya."

"Apa kau gila?" He Yan tak pernah menyangka ia bisa begitu lancang. Ia pikir orang ini pasti sangat baik hati dan lembut hati sehingga mampu menoleransi setiap kali ia melakukan tindakan yang tidak masuk akal. He Yan berkata: "Sangat manis tapi tak bisa dimakan, satu-satunya di dunia, apakah ini pemberian Kaisar?"

He Yan tidak bisa melihat pemuda tampan yang duduk di sampingnya tersenyum tipis dan berkata: "Lebih berharga daripada apa pun yang diberikan Kaisar."

He Yan dengan cepat membuka bungkus permen itu ketika Xiao Jue sendang lengah dan memasukkan permen itu ke dalam mulutnya.

"Kau..." Xiao Jue tertegun.

"Aku sudah memakannya, menelannya!" kata He Yan tanpa malu.

Xiao Jue tidak menjawab.

Ini permen pertama yang pernah He Yan terima seumur hidupnya. Rasanya aneh, bercampur air matanya, agak pahit. Ia berpikir, biarkanlah.

"Hujannya sudah berhenti?" He Yan tidak bisa lagi merasakan hujan yang mengguyurnya, mengulurkan tangan secara acak dan bertanya kepada orang di sebelahnya.

Pria di sampingnya berlutut dengan satu kaki, memegang payung untuknya. Payung itu tidak besar, dan sebagian besar tubuh pria itu sudah basah. Profilnya samping yang halus, dan bulu matanya yang dihiasi tetesan air halus, memberikan tatapan lembut yang samar.

"Iya."

"Apakah ada bulan di langit?"

Langit gelap dan terasa berat, bahkan tanpa bintang yang terlihat, bagaimana mungkin ada bulan?

Xiao Jue menjawab: "Iya."

"Seperti apa... kelihatannya diatas sana?"

"Bulan yang cerah bagaikan embun beku, angin yang menyenangkan bagaikan air, pemandangan jernih tak terbatas."

He Yan menunjukkan senyum pertamanya malam itu, "Sungguh menakjubkan."

He Yan mendengar orang di sampingnya bertanya: "Tidak ingin mati lagi?"

"Tidak, tidak lagi."

"Kalau kau tidak mau mati, pulanglah," kata Xiao Jue sambil menarik He Yan dalam satu gerakan. He Yan secara naluriah mencoba meraih tangan orang yang mengakatnya itu, tetapi tangan ramping dan berotot itu sudah melepaskannya dengan cepat.

Xiao Jue menghampiri Fei Nu dan berkata dengan pelan, "Bawa dia ke kamar Kakak Ipar, biarkan Kakak Ipar mengantarnya pulang. Aku laki-laki, tidak pantas bagiku untuk mengantarnya."

Fei Nu setuju.

Saat hendak pergi, tiba-tiba ia menambahkan: "Peringatkan Xu Zhiheng, katakan padanya untuk tidak bertindak keterlaluan."

Tujuannya adalah untuk membela He Yan.

Fei Nu datang untuk membantu He Yan. He Yan sepertinya merasakan orang itu akan pergi dan mengulurkan tangan ke arah Xiao Jue, berkata: "...Terima kasih, siapa kau?"

Pria itu tidak berbicara. He Yan hanya berhasil menangkap ujung lengan baju yang terselip di sela-sela jarinya, dingin dan lembut, bagai cahaya bulan.

Meskipun ia tak bisa melihat apa pun, He Yan seakan melihat sekilas cahaya, hangat namun sejuk, membara namun terang, tanpa cela, sabar dan menerima dengan asabr, melihat semua rahasianya sekilas sambil memeluknya dengan lembut.

Pada akhirnya, He Yan tak pernah tahu siapa pria itu.

Itu adalah Festival Pertengahan Musim Gugur terburuk yang pernah dialami He Yan, berlumuran lumpur, berantakan, dan hanya sedikit lagi berada di ujung jurang. Untungnya, bulan berada di sisinya.

Malam itu tidak ada bulan, tetapi cahaya bulan malam itu begitu indah. Cahaya tipis dan lembut itu menghangatkannya selama bertahun-tahun kemudian.

Disclaimer: Terjemahan ini dilakukan secara sukarela untuk tujuan berbagi hobi dan apresiasi karya. Seluruh hak cipta, termasuk karakter, alur cerita, dan judul adalah milik penuh penulis asli dan penerbit. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas konten ini. Jika Anda menyukai ceritanya, dukung penulis aslinya melalui platform resmi.

Komentar