Legend of the Female General-Bab 127 Apakah Kamu Menyukaiku?
Di atas sungai, cahaya bulan membentang ribuan mil, cahayanya menyinari setiap insan dibawahnya dan terasa menyejukan melalui pakaian. Cahaya itu seperi mutiara menembus celah-celah cabang hutan bagai salju yang belum mencair.
He Yan menoleh untuk menatap orang di hadapannya. Mata pemuda itu bagaikan air musim gugur, memikat alami tanpa hiasan. Profilnya menunjukkan sudut-sudut yang jelas, berwibawa sekaligus lesu. Senyum tipis di bibirnya langsung membawa He Yan kembali ke malam di kuil yang berada diatas gunung bertahun-tahun yang lalu.
Ternyata orang itu adalah Xiao Jue, He Yan tertegun sekaligus bingung. Ia tak pernah tahu siapa pria itu sampai akhir hayatnya. He Yan hanya ingat dirinya dibawa ke sebuah ruangan di kuil, dimana seorang wanita bersuara lembut merawatnya, membersihkannya, dan mengembalikannya kepada Xu Zhiheng.
Ketika Xu Zhiheng bertanya apa yang sebenarnya terjadi, He Yan hanya menjawab bahwa ia tersesat saat berjalan-jalan diluar. Xu Zhiheng tidak banyak bicara dan tidak pernah menyebut-nyebut wanita yang membawa He Yan kembali. Karena itu, He Yan tidak tahu identitas pria asing yang ditemuinya.
Namun kata-kata pria itu – "Jika kau sungguh ingin kuat, apa masalahnya jika kau buta? Sekalipun buta, kau bisa lebih hebat dari semua orang buta lainnya" – terpatri dalam ingatan He Yan, tidak satu kata pun terlupakan.
Setelah mendengar kata-kata itu, He Yan mulai berlatih membedakan bentuk berdasarkan suara, belajar hidup tanpa menggunakan mata. Prosesnya memang sulit, tetapi setiap kali ia ingin menyerah, ia akan memikirkan bulan di balik kuil hari itu.
Cahaya bulannya indah – akan sangat disayangkan jika menyerah seperti ini.
He Yan telah memikirkan semua yang terjadi hari itu. Jika dipikir-pikir lagi, beberapa hal mungkin bukan kebetulan. Bagaimana ia bisa mendengar percakapan para pelayan di pintu? Bagaimana ia bisa terhuyung-huyung ke pegunungan tanpa diketahui oleh pelayan keluarga Xu? Dan ketika ia kembali, mengapa Xu Zhiheng begitu mudah mempercayai ceritanya tanpa menyelidikinya?
Mereka hanya ingin ia membebaskan dirinya sendiri.
Ia bukan seperti anak kucing seputih salju yang dibesarkan di kediaman keluarga kaya, digendong para pelayan wanita, dan senang bermain gulungan benang, jinak namun lemah. Ia kucing liar dari gang-gang gelap, kotor namun tangguh. Meski buta, ia masih bisa berburu dari atas tembok.
Mereka ingin dia mati, tetapi dia dengan keras kepala menolak mati. Lagipula, di dunia ini, seseorang pernah memberinya permen dan mengajarinya merasakan manisnya hidup.
He Yan selalu mengira orang asing malam itu adalah seorang tuan muda yang baik hati atau tuan muda yang sabar, tetapi ia tak pernah membayangkan orang asing itu adalah Xiao Jue.
Bagaimana mungkin orang asing itu adalah Xiao Jue ?
He Yan bertanya dengan lembut, "Orang seperti apa Nyonya Xu?"
Xiao Jue tertawa malas, "Wanita galak yang suka menangis dan pemarah."
He Yan juga tersenyum, meskipun matanya berkaca-kaca. "Apakah Nyonya Xu tahu kau membicarakannya seperti ini di belakangnya?"
Malam itu, ia telah menunjukkan sisi terburuknya kepada Xiao Jue, dan mungkin Xiao Jue juga telah menunjukkan sisi terbaiknya kepadanya.
Xiao Jue tidak tahu bahwa kehadirannya hari itu menjadi satu-satunya penyelamat bagi He Yan yang berada dalam keputusasaannya.
Bulan itu kesepian dan dingin, menggantung di langit, tetapi tak seorang pun tahu betapa lembutnya ia pernah menyinari seseorang.
"Dia tidak akan pernah punya kesempatan untuk tahu," kata Xiao Jue pelan.
Karena Nyonya Xu sudah meninggal.
"Mungkin dia tahu," He Yan tersenyum, menunduk, lalu tiba-tiba menatap cakrawala dan mendesah, "Cahaya bulan sungguh indah."
Xiao Jue menopang dirinya dengan kedua tangan di samping tubuhnya dan mendongak tanpa menatap He Yan. "Bukankah kau akan minum dengan Chu Zilan? Mana anggurnya?"
He Yan berseru lantang, "Gunung, sungai, dan danau adalah secangkir anggur!" He Yan menangkupkan tangannya seolah-olah memegang sebuah cangkir, cahaya bulan memenuhi apa yang tampak seperti secangkir penuh. He Yan mengangkat tangannya ke langit yang luas untuk bersulang: "Untuk bulan!"
Xiao Jue menatap dingin dari samping dan mencibir, "Kau gila."
Namun gadis itu menoleh padanya, dengan khidmat mengangkat "cangkirnya" ke arah Xiao Jue: "Dan untukmu!"
Tak lagi lelah dan redup seperti sebelumnya, mata He Yan kini bersinar terang, senyumnya berseri-seri, dan dalam tatapannya, saat ia menatap Xiao Jue, bahkan ada secercah rasa terima kasih dalam tatapan itu.
Terima kasih?
Xiao Jue mengangkat sebelah alis dan mendengus sambil tertawa, mengabaikan gestur bodohnya He Yan. "Cari muka."
He Yan menatap mata Xiao Jue, bergumam dalam hati.
Terima kasih... sungguh.
...
Malam itu, He Yan duduk bersama Xiao Jue hingga larut malam. Akhirnya, karena udara di gunung terlalu dingin, ia pun turun gunung bersama Xiao Jue.
Saat mereka kembali, hari sudah tengah malam, jadi He Yan bangun terlambat keesokan harinya. Setelah makan siang, He Yan ingin memberi tahu Chu Zhao tentang kejadian semalam, tetapi ketika dia pergi mencari Chu Zilan, tempat tinggalnya telah kosong.
"Mencari Chu Zilan?" Lin Shuanghe lewat dan berkata, "Pagi-pagi sekali, Chu Zilan kembali ke ibu kota bersama orang-orang dari Shuojing."
"Pagi ini?" He Yan tertegun. "Dia tidak memberitahuku akan kembali ke ibu kota pagi ini."
"Kedatangan orang dari Shuojing terlihat agak terburu-buru menjemput Chu Zilan," Lin Shuanghe membuka kipasnya dan melambaikan kipas itu. "He xiong, pertemuan dan perpisahan sudah menjadi takdir. Lagipula dia pasti akan kembali ke Shuojing, kau seharusnya tidak terlalu menuntut."
He Yan bingung – bagaimana mungkin dia terlalu menuntut? Dia hanya merasa agak menyesal tidak bisa mengucapkan selamat tinggal kepada Chu Zhao sebelum dia pergi. Lagipula, selama Chu Zhao berada di Liangzhou, dia telah dengan cermat membimbing He Yan mempelajari hubungan di lingkaran para pejabat di Shuojing setiap hari.
Tapi karena Chu Zilan sudah pergi, tidak ada gunanya berbicara terlalu banyak.
Tak lama setelah kepergian Chu Zhao, Song Taotao dan Cheng Lisu juga berangkat ke Shuojing. Anak buah Xiao Jue mengantar mereka kembali ke ibu kota. Air mata gadis kecil itu berlinang sambil ia mencengkeram baju He Yan sebelum pergi: "Kak He, kau harus kembali menemuiku..."
"Kenapa menemuimu? Kau kan masih muda, bagaimana mungkin kakakku, yang sudah dewasa, datang menemuimu?" Cheng Lisu menarik Song Taotao pergi dan mengambil tempat gadis itu, lalu tersenyum pada He Yan, "Kakak, datanglah dan temui aku, kunjungi rumah kami. Aku akan mentraktirmu ke semua restoran di Shuojing."
Song Taotao: "Cheng Lisu!"
"Iya, iya, aku tahu. Aku akan membatalkan pertunangan ini saat kita kembali," Cheng Lisu mengorek kupingnya karena teriakan Song Taotao hampir membuatnya tuli dan bergumam, "kelakuanmu seperti Iblis, siapa juga yang mau menikahimu."
Pertengkaran kedua anak itu menunjukkan bahwa perjalanan mereka tidak akan membosankan.
He Yan mengantar mereka ke kereta kuda dan tiba-tiba merasa agak kehilangan. Biasanya, ia menganggap mereka berisik dan nakal, tetapi ketika tiba saatnya mereka pergi, He Yan merasa agak enggan berpisah dengan mereka.
Saat dirinya masih menyamar menjadi "He Rufei", statusnya menghalanginya untuk terlalu dekat dengan saudara-saudari di kediaman He. Cheng Lisu dan Song Taotao bagaikan saudara kandung dari keluarga sederhana, sama seperti He Yunsheng, yang dalam beberapa hal memenuhi fantasinya memiliki keluarga.
Wang Ba dan Jiang Jiao datang menemui He Yan, dan Jiang Jiao berkata, "Kakak He."
Setelah kesalahpahaman terselesaikan, Jiang Jiao akhirnya percaya bahwa He Yan tidak mencuri istri orang, dan sikapnya sedikit membaik. Ia berkata, "Orang dari rumah mengirim beberapa keperluan, aku sudah memilihkan beberapa makanan dan barang, datanglah nanti untuk mengambilnya."
Wang Ba berkata dengan nada masam, "Sangat enak menjadi Tuan muda dari perguruan bela diri, bahkan setelah bergabung dengan militer, orang-orang dari rumah masih mengirimimu barang."
"Bukannya kau seorang pemimpin bandit?" tanya He Yan penasaran. "Kenapa anak buahmu belum mengirimimu apa-apa?"
"Tidak ada uang! Kita miskin! Sarang bandit sudah dibubarkan, apa yang bisa kulakukan!" Wang Ba meledak karena malu, "Kenapa kau bertanya tentang ku? Kau juga belum dikirim apa pun!"
"...Aku hanya bertanya, jangan terlalu bersemangat." He Yan berpikir dalam hati, bagaimana mungkin ia bisa dibandingkan dengan Wang Ba? Ia sekarang hidup dalam persembunyian dengan nama samaran. Jika keluarga He mengirimkan sesuatu kepadanya sekarang, apakah mereka mencoba mempercepat kematiannya, atau apakah mereka pikir poster buronan resmi tidak cukup?
"Tapi... Kakak Jiang, kenapa keluargamu tiba-tiba mengirimimu barang?" tanya He Yan.
Jiang Jiao menjawab tidak berdaya, "Kakak He, apa kau lupa? Tahun Baru sudah dekat."
Tahun Baru?
He Yan membeku – ia hidup begitu nyaman akhir-akhir ini sampai hampir lupa kalau Tahun Baru sudah dekat.
Tahun baru semakin dekat.
Tahun baru yang akan menjadi milik "He Yan."
He Yan tiba-tiba menjadi ceria, mengejutkan Jiang Jiao dan Wang Ba. Wang Ba bertanya dengan curiga, "Apa yang membuatmu begitu bahagia? Apakah Komandan Xiao memberimu sesuatu yang baik di belakang kami lagi?"
He Yan menjawab dengan serius, "Memang! Anggurnya enak, makanannya enak, dan prospeknya bagus. Apa kau iri? Iri?"
Setelah itu, He Yan berbalik dan pergi. Wang Ba tertegun sejenak sebelum mengejarnya, "Hei, jelaskan! Apa sebenarnya yang dia berikan padamu? Jangan lari!"
...
Tahun Baru di Garda Liangzhou cukup menyenangkan. Komandan Xiao Jue memperlakukan semua prajurit barunya secara setara – baik pasukan Garnisun Selatan maupun rekrutan Garda Liangzhou, semua orang menikmati pesta Malam Tahun Baru yang meriah. Ada sayuran, daging, dan anggur berkualitas, menciptakan suasana meriah yang sedikit mengusir dinginnya perbatasan.
Namun setelah perayaan Tahun Baru, latihan kembali berjalan seperti biasa. Setelah liburan berlalu dan luka He Yan hampir pulih, ia pun mengikuti latihan. Meskipun ia ingin bergabung dengan Kamp Sembilan Bendera, intensitas latihan harian di Garnisun Selatan masih terlalu berat bagi seseorang yang baru saja pulih dari cedera serius. Untuk saat ini, ia hanya bisa berlatih bersama kelompok Garda Liangzhou.
Hari-hari berlalu dengan damai hingga suatu hari Fei Nu menerima surat dari Prefektur Lou.
Di dalam ruangan, Fei Nu sedang berbicara dengan Xiao Jue.
"Tuan Muda, Luan Ying menyarankan, jika Komandan menemukan rekan yang cocok dan sudah siap, sebaiknya berangkat dalam beberapa hari ini. Jiyang tidak dekat dengan Liangzhou. Jika kita berangkat sekarang, kita akan tiba pada musim semi dan tepat waktu untuk ulang tahun Putri Meng Ji. Chai Anxi mungkin akan muncul di hari ulang tahun Putri."
Xiao Jue mendongak: "Qiao Huanqing?"
"Dia adalah keponakannya Cui Yuezhi, seorang jenderal di bawah Putri Jiyang," Fei Nu menjelaskan. "Sewaktu kecil, dia dibawa pergi oleh musuh-musuh keluarga Cui. Untungnya, dia kemudian diselamatkan, tetapi berakhir di Dataran Tengah, tempat dimana seorang pedagang kaya mengadopsinya. Pedagang itu tidak memiliki anak, sehingga Qiao Huanqing mewarisi kekayaannya yang melimpah. Dia menikah tahun lalu, dan entah bagaimana Cui Yuezhi mengetahui keberadaannya. Cui Yuezhi tidak memiliki keluarga lain sekarang, jadi dia menulis surat undangan untuk Qiao Huanqing agar menghadiri pesta ulang tahun sang putri. Namun, Qiao Huanqing sangat penakut. Sebelum mencapai Jiyang, saat melewati Prefektur Lou, dia dirampok oleh bandit dan terluka ringan. Setelah mendengar tentang adanya orang-orang berbahaya sepanjang jalan menuju Jiyang, dia menolak untuk melanjutkan perjalanan."
Mata Xiao Jue berbinar sedikit lalu dia tersenyum tanpa berbicara.
Tak perlu ditebak lagi, "orang-orang berbahaya" ini adalah ulah Luan Ying. Namun, Qiao Huanqing yang ketakutan hanya karena masalah sekecil ini hingga ia tidak mau melanjutkan perjalanan ke Jiyang terasa agak pengecut.
"Orang-orangnya Luan Ying telah mengatur dengan Cui Yuezhi untuk mengirim seseorang menghadiri perjamuan menggantikan Qiao Huanqing, meskipun Qiao Huanqing harus membayar seribu tael emas sebagai kompensasi. Qiao Huanqing telah terpisah dari keluarganya selama bertahun-tahun, dan Cui Yuezhi belum bertemu keponakan ini selama lebih dari satu dekade, jadi tidak ada yang tahu seperti apa rupa Qiao Huanqing sekarang. Identitas ini cocok, waktunya tepat, dan Luan Ying telah mengirimkan izin perjalanan dan token giok identitas. Tuan Muda, seharusnya tidak ada masalah."
Seorang keponakan yang telah terpisah dari keluarganya selama bertahun-tahun – identitas ini memang cukup nyaman, tapi...
"Kau membuat semuanya terdengar begitu sederhana," Chi Wu tak kuasa menahan diri untuk menyela. "Tapi Luan Ying sudah bilang kalau undangan Cui Yuezhi itu untuk Qiao Huanqing dan istrinya, dan mereka termasuk pengantin baru. Komandan adalah hal lain, tapi di mana kita bisa menemukan wanita untuk berpura-pura menjadi istrinya? Kita tidak bisa begitu saja bilang istrinya menghilang di tengah perjalanan!"
Xiao Jue mengerutkan kening, wajah tampannya menunjukkan tanda-tanda kesulitan untuk pertama kalinya.
"Kita bisa menemukan pembunuh wanita yang terampil..." saran Fei Nu.
"Mustahil!" Chi Wu menolak saran itu tanpa ragu. "Tanpa mengenal seseorang dalam waktu lama, siapa yang tahu apakah mereka baik atau jahat? Jika mereka diam-diam menyakiti Tuan Muda, bisakah kita memikul tanggung jawab itu?"
Chi Wu berbicara dengan berani, membuat Fei Nu terdiam. Ia hanya bisa bertanya, "Lalu, apakah kau punya seseorang yang bisa bekerjasama dengan kita?"
"Aku?" Chi Wu berpikir keras lalu berkata dengan sungguh-sungguh, "Lupakan saja Garnisun Selatan, bahkan di seluruh Kediaman Xiao, kita hampir tidak mempunyai wanita petarung yang terampil. Ketika Nyonya masih hidup, beliau tidak menyukai kegiatan bela diri, jadi bahkan para dayang yang beliau bawa hanya tahu puisi dan merangkai bunga. Aku belum pernah melihat wanita yang bisa bela diri dengan terampil."
"Mencari seorang wanita?" Seseorang di luar jendela dengan malas melambaikan kipasnya, berbicara dengan anggun: "Aku bisa menyelesaikan masalah ini! Xiao Huaijin, bukankah kau membuang-buang sumber daya dengan bertanya pada dua orang kasar ini dan bukan padaku? Apa mereka pernah melihat wanita yang elegant? Mengapa menanyakan pertanyaan sesulit itu pada mereka padahal kau bisa bertanya padaku? Tuan muda ini akan memberimu pencerahan."
Xiao Jue melirik Lin Shuanghe dan berkata dengan dingin: "Siapa yang mengizinkannya masuk?"
Chi Wu: "Bukan aku!"
Fei Nu: "Bukan aku."
"Apakah aku perlu izin?" Lin Shuanghe merasa cukup bangga dengan dirinya sendiri. "Semua orang di Garda Liangzhou tahu bahwa kita adalah teman dekat selama bertahun-tahun, dan aku adalah seorang tabib ajaib berbaju putih. Mereka tentu saja menghormati ku, jadi aku memiliki akses ke setiap bagian Garda Liangzhou."
"Usir dia."
Fei Nu: "..."
"Hei, Xiao Huaijin, sikap macam apa itu?" Lin Shuanghe berbicara sambil berjalan masuk melalui pintu utama, lalu melambaikan tangannya agar Fei Nu dan Chi Wu keluar dari ruangan. "Biarkan aku menyelesaikan masalah tuan mudamu."
Fei Nu dan Chi Wu pergi, lalu Lin Shuanghe menutup pintu dan jendela rapat-rapat. Xiao Jue mengamati tindakannya dengan dingin. Lin Shuanghe duduk di kursi di depannya Xiao Jue dan bertanya, "Mencari seorang wanita?"
Xiao Jue menendangnya.
Lin Shuanghe melompat, "Kita bicara saja, tidak perlu sampai main fisik. Aku tidak menguping tadi, hanya mendengar akhir pembicaraan kalian. Ada apa dengan wanita yang terampil bela diri – untuk apa kau membutuhkan wanita yang terampil bela diri? Kau ingin merekrut penjaga wanita?"
Xiao Jue menatap Lin Shuanghe, lalu tiba-tiba tersenyum. Ia melengkungkan bibirnya malas dan berkata dengan santai: "Merekrut 'istri'."
Lin Shuanghe: "?"
Setelah beberapa saat, Lin Shuanghe tiba-tiba menyadari apa yang dimaksud Xiao Jue, "Kau akan menikah? Itu tidak mungkin!"
"Ini tidak masuk akal. Kau selalu bicara tentang pernikahan buta dan pengantin bisu, tapi kalau kau akan menikah, bukankah seharusnya kau mencarinya sendiri? Kenapa kau menyuruh Fei Nu dan yang lainnya mencari seperti sedang memetik sayuran? Xiao Huaijin, apa kau sedang bicara omong kosong?"
Xiao Jue: "Apa aku bilang aku sedang mencari istri untuk diriku sendiri?"
Lin Shuanghe: "Kau mencarinya untuk orang lain? Kau bahkan tidak punya!"
Xiao Jue berkata dengan tidak sabaran: "Itu palsu, mengerti? Akting."
"Apa?" Lin Shuanghe tertegun, perlahan mulai mencerna hal ini. Ia menatap Xiao Jue sejenak, hingga Xiao Jue menunjukkan tanda-tanda tidak senang, Lin Shuanghe lalu mencondongkan tubuh dan berkata: "Apakah kau merencanakan sesuatu seperti terakhir kali di kota Liangzhou bersama Sun Xiangfu, mencari seseorang untuk berpura-pura menjadi istrimu?" Lin Shuanghe akhirnya tahu kebenaran tentang masalah di kota Liangzhou dari Song Taotao. Gadis muda itu bukan tandingan orang yang begitu licik, dengan beberapa kalimat saja, Lin Shuanghe tahu persis apa yang terjadi di kota Liangzhou.
"Tidak sepenuhnya bodoh."
"Tapi bukankah ada seseorang di depanmu?" Lin Shuanghe langsung berkata tanpa berpikir, "Tentu saja, orang itu adalah He meimei! Apa kau lupa kalau He meimei juga seorang wanita, dan cukup terampil dalam hal bela diri? Dia berani dan cerdas, tidak dibuat-buat, dan sangat menyenangkan! Jika dia bisa berpura-pura menjadi keponakanmu, dia pasti bisa berperan sebagai istrimu."
Xiao Jue: "Tidak."
"Kenapa tidak?" protes Lin Shuanghe, "Dia bisa memanggilmu ayah sebelumnya, jadi apa tidak pantas kau memanggilnya istri?"
Xiao Jue menyesap tehnya, menatap Lin Shuanghe dengan acuh tak acuh: "Apakah He Yan membayarmu dengan beberapa perak untuk berbicara mewakilinya?"
"Aku sudah cukup kaya, kenapa aku butuh perak orang lain? Tapi kau," Lin Shuanghe mendekatkan wajahnya, "kenapa kau begitu menolak ide ini? Xiao Huaijin, apa kau lupa kalau kau sedang mencari istri palsu? Ini bukan saatnya untuk memaksakan standarmu yang tinggi untuk mendapatkan istri sungguhan. Atau mungkin..." Lin Shuanghe berdiri tegak, melambaikan kipasnya dengan elegan, berbicara dengan nada misterius seolah sedang membahas hal-hal yang sangat penting: "Kau takut jatuh cinta padanya?"
"Uhuk, uhuk, uhuk." Xiao Jue batuk-batuk tersedak.
Xiao Jue berkata tanpa ekspresi, "Kau boleh pergi sekarang."
"Baiklah, aku akan pergi," kata Lin Shuanghe: "Tapi jangan bilang aku tidak memperingatkanmu. He Yan adalah kandidat terbaik yang bisa kau pikirkan. Meskipun aku tidak tahu persis apa yang kau rencanakan, apa pun itu, itu pasti berbahaya. Gadis biasa tidak akan mampu menghadapi situasi berbahaya seperti itu, dan mereka yang mampu, kau tidak akan percaya. He Yan telah berjuang bersamamu beberapa kali, dan kau sangat memahaminya. Soal kesetiaan..." tatapannya jatuh pada Xiao Jue, agak bercanda, "Apakah kau lebih suka membawa Shen Muxue? Aku yakin dia akan senang pergi bersamamu, tapi aku khawatir Tuan Shen akan bergegas ke Liangzhou untuk memenggal kakimu jika dia tahu."
"Aku sudah bertemu lebih banyak wanita daripada jumlahmu melatih tentara. Aku lihat He meimei tidak menyukaimu sekarang, dan wanita yang tidak menyukaimu berpura-pura menjadi istrimu adalah yang paling kecil kemungkinannya untuk menimbulkan masalah. Bagaimana jika kau memilih Shen Muxue? Itu akan menimbulkan masalah besar. Yang terpenting, He meimei selalu berpakaian seperti pria, dan selain kau, tidak ada yang tahu seperti apa rupanya ketika menjadi wanita. Itu akan seperti seseorang yang muncul entah dari mana, dan jika identitasnya terbongkar, akan tetap mudah untuk disembunyikan."
Xiao Jue dengan tenang menatap cangkir teh di tangannya, tanpa menunjukkan apakah ia telah mempertimbangkan kata-kata Lin Shuanghe atau tidak.
"Pikiran seorang wanita muda memang sulit ditebak, tetapi seseorang seperti He meimei yang lugas, apa adanya, atau berbicara terus terang—orang seperti itulah yang cocok untuk tugas ini."
"Kau bisa memanggil dia bodoh."
Lin Shuanghe tersedak, lalu berkata dengan marah: "Aku sudah mengatakan semua yang perlu kukatakan, aku hanya mengatakan ini karena kita bersaudara. Pikirkan baik-baik! Pilihlah dengan bijak!" Setelah itu, ia meraih kipasnya dan pergi.
Setelah Lin Shuanghe pergi, Xiao Jue meletakkan cangkir tehnya dan mendesah pelan.
...
Larut malam, setelah mandi, He Yan duduk di depan cermin.
Para prajurit telah makan dengan baik selama Tahun Baru, dan melihat dirinya di cermin perunggu, ia tampak sedikit lebih berisi. Untungnya, Nona Muda He memang selalu ramping dan halus, jadi menambah sedikit berat badan tidak membuatnya terlihat terlalu gemuk, melainkan justru mengurangi kekurusannya, menambahkan sentuhan pesona feminin. Ia terlihat seperti seorang nona muda yang berharga dari keluarga kaya.
Namun, kelembutan seperti itu sungguh tidak pantas di kamp militer. He Yan meninju bayangannya di cermin, memasang ekspresi garang, dan baru merasa tenang ketika ia melihat sikapnya yang mengesankan masih terlihat sama. He Yan lalu berjalan ke tenpat tidur dan naik ke atasnya.
Tempat tidur itu sedingin es. Kamp sekarang kekurangan arang, dan meskipun cuaca sedikit menghangat setelah Tahun Baru, saat malam masih terasa dingin.
He Yan harus menghangatkan tempat tidur dengan panas tubuhnya.
Saat tempat tidurnya mulai menghangat, tiba-tiba He Yan mendengar seseorang mengetuk pintu. He Yan terkejut, mengumpat dalam hati – siapa gerangan orang yang mengetuk pintu kamarnya di jam selarut ini?Tempat tidurnya kini telah menghangat, dan keluar sekarang berarti tempat tidurnya akan dingin lagi. Ketukan di pintu kamarnya terus berlanjut, meskipun He Yan berharap bisa berpura-pura tidak mendengarnya, itu mustahil. He Yan terpaksa mengenakan pakaian luar dan membuka pintu, dan mendapati Lin Shuanghe berdiri di luar.
Pria ini, yang benar saja—dalam cuaca sedingin ini, hanya mengenakan jubah putih tipis. Bahkan dengan bantalan katun, jubahnya tidak akan terlalu tebal, atau tidak akan terlihat begitu elegan. Pria ini bahkan sedang menggunakan kipas anginnya, He Yan tak kuasa menahan diri untuk meraih kipas itu: "Dokter Lin, bisakah kau berhenti menganyunkan kipas mu? Dingin sekali."
Lin Shuanghe menghentikan gerakannya dan tersenyum: "Baiklah."
"Apa yang membuatmu datang selarut ini?"
Lin Shuanghe: "He meimei, bisakah kita bicara di dalam?"
"Aku tidak keberatan," jawab He Yan, "tapi Saudara Lin, bukankah kau bilang, tentang pria dan wanita berduaan..."
Sebelum He Yan sempat menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu sudah melangkah masuk kedalam kamar melewatinya, menghentakkan kakinya dan berkata: "Aku kedinginan!"
He Yan: "..."
He Yan menutup pintu dan berbalik mendengar Lin Shuanghe yang terus mengeluh: "Kenapa tidak ada tempat pembakaran arang di kamarmu? Terlalu dingin."
"Arangnya habis," kata He Yan dengan sabar. "Karena cuacanya dingin sekali, bisakah Dokter Lin langsung ke intinya?"
"Aku sudah memikirkannya, aku harus memberitahumu tentang masalah ini..."
"Tok tok tok" – suara ketukan menyela kata-katanya Lin Shuanghe, dan mereka berdua secara bersamaan menoleh ke arah pintu penghubung, tempat ketukan itu berasal.
He Yan terkejut – mengetuk pintu penghubung, mungkinkah itu Xiao Jue? Apa yang dia inginkan di tengah malam? He Yan menatap Lin Shuanghe, yang juga tampak bingung. He Yan berjalan mendekat ke pintu penghubung dan setelah ragu sejenak, membuka kunci pintu.
Ekspresi Tuan Muda Kedua Xiao tenang dan elegan. Tatapannya melirik Lin Shuanghe sebentar sebelum kembali menatap He Yan. Mungkin itu hanya imajinasi He Yan, tetapi ekspresinya Xiao Jue tampak agak aneh.
"Komandan... ada apa?"
"Nona Muda He." Xiao Jue melangkah maju, sedikit membungkuk, matanya sejajar dengan mata He Yan. Wajah pemuda itu tampan, matanya yang sebiru air musim gugur bermandikan cahaya bulan. Dari jarak sedekat ini, He Yan bisa melihat bulu matanya yang panjang dan sedikit melengkung. Suaranya rendah dan memikat, membuat wajah orang memerah dan jantung berdebar kencang.
"Apakah kamu menyukaiku?"
Komentar
Posting Komentar