Legend of the Female General-Bab 124 Kelembutan

Setelah makan siang, para prajurit berpencar mencari tempat hangat untuk beristirahat sejenak.

Saat Xiao Jue sedang mendiskusikan jadwal latihan bulan depan dengan Wakil Jenderal di tempat latihan, Lin Shuanghe mendekat dari kejauhan, mengisyaratkan dengan kipasnya untuk berbicara secara pribadi dengan Xiao Jue.

Setelah menyelesaikan instruksinya, Xiao Jue berjalan ke arah Lin Shuanghe, berkata dengan tidak sabar, "Bukankah seharusnya kau membantu di pusat medis?"

Lin Shuanghe, yang biasanya menghabiskan hari-harinya dengan santai, menawarkan diri untuk membantu ketika melihat Shen Muxue menggunakan panci besar untuk menyeduh sup obat hangat bagi semua orang selama cuaca dingin. Karena sangat memperhatikan penampilannya yang sopan dan tidak menyukai bau para prajurit yang belum mandi, Lin Shuanghe berhenti hanya setelah dua hari.

"Aku berencana pergi kesana, tetapi aku bertemu seseorang di jalan. Kita kedatangan tamu di Garda Liangzhou," katanya.

"Siapa?" tanya Xiao Jue.

Wajah Lin Shuanghe menyunggingkan senyum penuh arti. "Pelayan pribadi Xu Pingting..."

Di dalam ruangan, seorang pelayan muda berdiri di pintu dengan senyum cerah, mengarahkan para pelayan untuk membuka kotak-kotak yang ada disana satu per satu, sambil berkata, "Ini semua adalah hadiah yang dipilih sendiri oleh Nona Muda untuk Tuan Muda Keempat."

Perdana Menteri Xu Jingfu memegang kekuasaan yang sangat besar, dengan separuh pejabat di istana adalah mantan muridnya. Setelah menjalani sebagian besar hidupnya dengan reputasi yang sangat baik dan kepercayaan Kaisar, satu-satunya penyesalannya adalah tidak memiliki putra. Kemudian, setelah berkonsultasi dengan seorang tabib terkenal, istrinya hamil di usia lebih dari lima puluh tahun dan melahirkan seorang putri, Xu Pingting.

Setelah mendapatkan putri kesayangannya ini di usia senjanya, keluarga Xu memanjakan Xu Pingting sepenuhnya, bahkan mungkin lebih dari seorang putri kerajaan. Kini berusia tujuh belas tahun, Xu Pingting sungguh cantik jelita, meskipun sangat mendominasi dan sulit ditolak.

Chu Zhao, sebagai murid kesayangan Xu Jingfu, sering makan malam di kediaman Xu dan lambat laun menjadi akrab dengan Xu Pingting.

"Saudari Mo Tai pasti lelah setelah perjalanan jauh," Ying Xiang tersenyum, menawarkan secangkir teh. "Silakan minum teh dulu untuk menghangatkan badan."

Mo Tai melirik Ying Xiang dan menjawab dengan senyum palsu, "tidak terimakasih, aku tidak terbiasa dengan teh kasar yang ada di garda Liangzhou."

Ying Xiang tetap tenang, mempertahankan senyumnya sambil mengambil teh. Mo Tai memperhatikan kepergian Ying Xiang, matanya berkilat jijik, dalam hati mengutuk Ying Xiang sebagai penggoda.

Seorang penggoda yang selalu berada di sisi Tuan Muda Keempat Chu setiap hari – siapa yang tahu kalau dia akan menggunakan pesonanya pada tuannya? Meskipun Nona Muda Xu juga muda dan cantik, dia tidak bisa menandindingi Ying Xiang dalam hal seni menyenangkan orang lain. Xu Pingting pernah mempertimbangkan untuk menyingkirkan Ying Xiang dari sisi Chu Zhao, tetapi Chu Zhao yang biasanya lembut dengan tegas menolak, dan masalah itu baru selesai ketika Perdana Menteri Xu turun tangan secara pribadi.

Mengapa melindungi seorang pelayan biasa dengan begitu hati-hati? Mo Tai merasa tidak suka tetapi tidak bisa melampiaskan rasa frustrasinya kepada Chu Zhao.

Setelah mengamati kamar yang ditempati Chu Zhao, Mo Tai menggelengkan kepala dan berkata, "Kamar Tuan Muda Keempat benar-benar terlalu sederhana. Aku baru berada di sini sebentar dan sudah merasa kedinginan – bahkan tidak ada batu arang. Kau pasti sangat menderita selama dua bulan terakhir ini."

"Tidak apa-apa," jawab Chu Zhao lembut. "Semua prajurit baru di sini hidup seperti ini."

"Bagaimana mereka bisa dibandingkan denganmu?" protes Mo Tai. "Kau seharusnya tidak menyamakan dirimu dengan orang-orang rendahan seperti itu."

Kilatan dingin melintas di mata Chu Zhao, tetapi ketika ia mendongak lagi, ekspresinya tetap lembut seperti biasa. Ia bertanya, "Nona Mo Tai, apakah kau ada urusan di sini?"

"Tidak ada urusan yang terlalu penting," Mo Tai tersenyum. "Nona Muda hanya merindukan Tuan Muda Keempat setelah sekian lama tidak bertemu denganmu. Mendengar bahwa musim dingin di Liangzhou sangat dingin, Nona muda menyuruh ku datang dengan konvoi untuk membawakan Anda beberapa pakaian hangat."

Mo Tai membungkuk, mengeluarkan sebuah mantel bulu dari sebuah kotak, dan memberikannya kepada Chu Zhao, sambil berkata, "Nona Muda sendiri yang memilihnya dari pedagang. Mantel ini sangat hangat. Apakah Tuan Muda Keempat mau mencobanya?"

Mantel bulu itu halus dan berkilau, lembut dan ringan— pasti sangat mahal.

Chu Zhao berdiri, menyampirkan mantel itu di bahunya, dan tersenyum berterima kasih. "Hangat sekali. Tolong sampaikan terima kasihku pada Nona Muda."

Mo Tai menutup mulutnya dan tertawa, "Itu sesuatu yang tidak bisa kulakukan untukmu. Jika kau ingin mengucapkan terima kasih, Tuan Muda Keempat harus memberi tahu Nona Muda secara langsung." Mo Tai sepertinya teringat sesuatu dan bertanya, "Kapan Tuan Muda Keempat berencana kembali ke Shuojing?"

"Dalam beberapa hari ke depan."

"Aku rasa Liangzhou benar-benar tidak layak untuk di huni. Jika Nona Muda ada di sini, beliau pasti akan merasa kasihan pada Tuan Muda Keempat. Mengapa tidak berangkat kembali besok? Semakin cepat kita berangkat, semakin cepat kita sampai di Shuojing dan bertemu Nona Muda." Mo Tai tersenyum tipis, "Sebelum aku datang kesini, Tuan baru saja berbicara dengan Nona Muda tentang Tuan Muda Keempat."

Meskipun kata-katanya terdengar seperti bertanya, nadanya tidak memberikan ruang untuk penolakan. Mo Tai membuat keputusan sambil tampak seperti mengobrol santai, sehingga Chu Zhao tidak punya kesempatan untuk menolak.

Chu Zhao terdiam sejenak, lalu mendongak dan tersenyum, "Baiklah, kita berangkat besok. Aku juga merindukan Guru."

"Bagus sekali!" Wajah Mo Tai langsung berseri-seri lalu ia mendesak para pelayan untuk mengeluarkan semua barang dari kotak.

"Kotak ini berisi semua pakaian hangat. Aku akan membantu Tuam muda keempat mengeluarkannya dulu, lalu mengatur barang bawaan mu untuk keberangkatan besok," katanya. "Aku harap Tuan Muda Keempat tidak keberatan dengan keangkuhan ku."

"Bagaimana mungkin aku keberatan?" Chu Zhao tersenyum. "Sku sangat berterima kasih."

Ying Xiang berdiri di balik tirai, memperhatikan Mo Tai yang angkuh di dalam ruangan itu. Ying Xiang menundukkan pandangannya, berdiri diam sejenak, lalu berjalan pergi.

Saat senja tiba di awal musim dingin, lilin-lilin dinyalakan di kamar-kamar.

Lin Shuanghe bersandar di sofa, meludahkan biji melon, dan berkata, "Ada apa dengan pelayan Xu Pingting? Dia terus-menerus membuat Chu Zhao sibuk dari pagi hingga senja. Siapa pun pasti mengira dia adalah Nona Muda Xu. Caranya menandai wilayah seperti ini terlalu kentara. Aku mulai merasa kasihan pada Chu Zilan."

Xiao Jue, yang duduk di meja sambil membaca dokumen militer, menjawab, "Jika kau merasa kasihan padanya, kau bisa pergi menyelamatkannya."

"Lebih baik tidak," Lin Shuanghe duduk tegak, meletakkan tangannya di belakang kepala. "Siapa yang bisa kita salahkan selain Chu Zilan sendiri? Ini salahnya karena tampan dan lembut. Pria seperti itu sangat dicari di ibu kota, dan dia sengaja menjilat Xu Jingfu. Sudah pasti di akan diperhatikan oleh Nona Muda Xu."

Xiao Jue mencibir, "Jika dia bisa menjadi menantu keluarga Xu, itu akan menjadi prestasi yang luar biasa."

"Memang," Lin Shuanghe sangat setuju dengan kata-kata Xiao Jue. "Dia sudah diintimidasi dan dikucilkan di kediaman Marquis Shi Jin. Kalau bukan karena hubungannya dengan Xu Jingfu, bagaimana mungkin dia terdaftar di atas nama Istri sah marquis Shi Jin? Jika dia menikah dengan nona muda keluarga Xu," lanjut Lin Shuanghe, "kelak kediaman Marquis Shi Jin akan berada di bawah kendali Chu Zilan!"

Orang sering berkata perempuan mencari keuntungan dari pernikahan yang baik untuk mendapatkan perlindungan, tapi apa bedanya dengan laki-laki? Ketika keuntungan yang sesungguhnya muncul, semua pilihan dibuat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Suka atau tidak, mau atau tulus, semua itu tidak penting.

Sulit untuk mengatakan apakah ini tragedi untuk Xu Pingting atau Chu Zilang.

"Kurasa ucapan pelayan itu yang berkata peduli pada Chu Zilan salah – dia di sana untuk mengawasi Chu Zilan," Lin Shuanghe merentangkan tangannya. "Chu Zilan tidak akan bisa tidur malam ini."

"Chu Zilan?" Kepala Cheng Lisu menyembul dari jendela. "Ada apa dengannya? Bukankah dia akan melihat bulan bersama kakak He malam ini?"

"Melihat bulan apa?" tanya Lin Shuanghe.

"Di kaki Gunung Bulan Putih. Aku ingin menunjukkan pertunjukan boneka baruku kepada Kakakku, tetapi dia bilang akan pergi melihat bulan bersama Tuan Muda Keempat Chu malam ini, jadi kita harus melakukannya besok." Cheng Lisu menatap Lin Shuanghe, lalu Xiao Jue. "Paman, apa yang baru saja Paman bicarakan?"

Xiao Jue mendorong kepala Cheng Lisu keluar dan menutup jendela, sambil berkata, "Pergi tidur."

Setelah gagal membobol jendela, Cheng Lisu akhirnya pergi.

Setelah Cheng Lisu pergi, Lin Shuanghe mengelus dagunya dan bertanya, "He Yan meimei berencana untuk melihat bulan bersama Chu Zilang malam ini? Apakah progres kedekatan mereka secepat ini?"

Xiao Jue terus membaca dokumen militernya, mengabaikan Lin Shuanghe.

"Tidak," Lin Shuanghe turun dari sofa, "Aku perlu memeriksa ini."

Lin Shuanghe langsung berjalan ke pintu penghubung antara kedua kamar dan mengetuk. "He xiong? He xiong! Kau ada di sana? Katakan sesuatu jika kau ada di sana."

Lin Shuanghe menempelkan telinganya ke pintu, tetapi di dalam sana sunyi senyap.

Lin Shuanghe mengetuk pintu beberapa kali lagi tetapi tetap tidak ada jawaban. Ia mundur selangkah dan bergumam pada dirinya sendiri, "Mungkinkah He Yan meimei tidak tahu kalau orang-orang Xu Pingting datang kesini dan pergi mengamati bulan sendirian?"

"Huaijin!" teriak Lin Shuanghe.

Telinga Xiao Jue berdenging karena teriakannya, dan Xiao Jue menjawab dengan kesal, "Apa?"

"He Yan meimei mungkin pergi mengamati bulan sendirian," Lin Shuanghe menghampiri Xiao Jue. "Ayo temui dia."

"Tidak," jawab Xiao Jue dingin. "Kalau kau mau pergi, pergilah sendiri."

"Aku ingin sekali, tapi Gunung Bulan Putih sangat besar dan aku tidak tahu jalannya. Bagaimana kalau ada bandit di sana, seperti insiden Ri Da Mu Zi? Kau punya kemampuan bela diri untuk melawan musuh, tapi aku akan tidak berdaya. Apa kau akan menyesal jika ada yang mati?"

Xiao Jue: "Tidak menyesal."

"Bagaimana bisa kau seperti ini?" Lin Shuanghe langsung duduk di meja Xiao Jue, menghalangi dokumen militer yang sedang dibacanya. Li Shuanghe membujuk dengan sungguh-sungguh, "Lihatlah He Yan meimei, bukankah dia menyedihkan? Chu Zhao tidak tahu kalau dia seorang wanita dan bersikap lembut kepada semua orang. Tapi ini pertama kalinya He Yan meimei bertemu seseorang yang begitu lembut, dan sebagai seorang wanita muda dengan perasaan yang lembut, ia tentu saja tersentuh. Namun He Yan meimei tidak bisa mengungkapkan identitasnya sebagai wanita, jadi ia hanya bisa menyimpan cinta ini di dalam hatinya. Ketika kekasihnya mengajaknya melihat bulan, ia pasti sangat gembira, tetapi ia tidak tahu bahwa kekasihnya sudah bertunangan pada orang lain. He Yan meimei pasti kedinginan dan sengsara di atas sana sendirian sekarang. Tidak bisakah kau pergi menjenguknya? Menghiburnya?"

Xiao Jue merasa alasannya Lin Shuanghe sangat konyol: "Dia menyukai Chu Zilang dan ditolak, jadi aku harus menghiburnya? Logika macam apa itu?"

"Ini kesempatan sempurna untukmu!" Lin Shuanghe menyemangati. "Sekarang adalah waktu terbaik untuk memanfaatkan situasi ini!"

Xiao Jue mencibir: "Kalau begitu aku pasti tidak akan pergi."

"Baiklah, baiklah," kata Lin Shuanghe, "Mari kita kesampingkan aspek emosionalnya. Dia prajuritmu, kau atasannya. He Yan meimei bahkan membantu melindungi Garda Liangzhou baru-baru ini. Setidaknya kau harus menunjukkan sedikit perhatian pada bawahanmu."

"Aku atasannya, bukan ayahnya," kata Xiao Jue dengan tenang. "Lagipula, dia punya kaki. Kalau tidak ada yang muncul, dia pasti akan kembali."

Lin Shuanghe terdiam sejenak, lalu bertanya, "Menurutmu dia tipe orang yang menyerah hanya karena terus menunggu?"

Tangan Xiao Jue yang memegang kuas terhenti.

Xia Jue teringat bayangan pemuda yang berlari membawa karung pasir di lapangan latihan.

He Yan bukanlah orang yang mudah menyerah. Terkadang ia pintar dan licik, tetapi di lain waktu, ia keras kepala dan gigih. Sulit untuk mengatakan apakah ini tekad atau kebodohan, tetapi Lin Shuanghe benar – mengingat kepribadian He Yan, ada kemungkinan delapan puluh atau sembilan puluh persen ia akan menunggu di gunung sepanjang malam.

Sangat bodoh.

Melihat sikap Xiao Jue yang melunak, Lin Shuanghe segera menambahkan, "Coba pikirkan, dia baru enam belas tahun, seorang gadis muda. Sudah tidak mudah baginya untuk sampai sejauh ini di Garda Liangzhou. Disakiti oleh Chu Zilang seperti ini sungguh menyedihkan. Anggap saja itu perbuatan baik – naiklah ke gunung dan bawa dia kembali. Jika dia berterima kasih padamu, dia akan lebih tulus melayanimu di masa depan."

Melihat Xiao Jue yang masih tidak bergerak, Lin Shuanghe menambahkan dorongan terakhirnya: "Nyonya Xiao sangat penyayang dan baik hati semasa hidupnya. Jika dia melihat He Yan meimei seperti ini, dia pasti akan membantu."

"Diam." Xiao Jue tak tahan lagi. Ia meraih jubahnya, berdiri, dan berjalan menuju pintu sambil berkata, "Aku akan pergi."

Lin Shuanghe memperhatikan sosok Xiao Jue yang menjauh dengan penuh kepuasan: "Itu baru pria sejati."

Di kaki Gunung Bulan Putih, terdapat sebuah batu besar yang memanjang seperti platform batu. Mengikuti batu itu hingga ke ujung, akan terdengar suara ombak.

Di bawah, terlihat sungai yang indah; melihat ke atas, bulan yang terang benderang menyinari ribuan mil pegunungan dan sungai.

He Yan duduk di tepi batu, tempat air menghantam karang di kejauhan dengan suara berirama. Rasanya seperti melodi kuno yang bergema melintasi ruang dan waktu, luas dan tak berujung.

He Yan telah setuju untuk bertemu dengan Chu Zhao pada jam malam, tetapi ia tidak tahu jam berapa sekarang, dan Chu Zhao masih belum muncul. He Yan telah menemukan paviliun yang disebutkan Chu Zhao, tetapi tidak ada anggur atau camilan yang tersedia, dan ia tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Mungkin dirinya harus pergi mencari Chu Zhao, tetapi begitu ia duduk di sini, ia tidak ingin bergerak lagi.

Salju menutupi keempat penjuru hutan, menyelimuti puncak gunung dengan warna putih, sedangkan cahaya bulan membanjiri seluruh sungai, jernih dan menyegarkan.

Cahaya bulan yang begitu indah dan salju yang begitu indah. He Yan merasa lelah, memeluk lututnya dan memandang ke arah ujung sungai.

He Yan lebih menyukai malam daripada siang, dan bulan daripada matahari. Karena selama bertahun-tahun menjadi "He Rufei", ia selalu mengenakan topeng, dan topeng itu terasa pengap dan berat. Sebagai pemuda yang nakal, ia diam-diam akan melepas topengnya sepanjang dupa di tengah malam.

Tidak seorang pun bisa melihat wajah aslinya di balik topeng itu, kecuali bulan di luar jendela.

He Yan mengulurkan tangannya, mencoba menangkap cahaya bulan yang menggantung di atas pegunungan dan sungai di kejauhan. Cahaya bulan jatuh lembut di tangannya seolah akan selalu bersamanya.

"Apa yang kau lakukan?" sebuah suara terdengar dari belakang.

He Yan berbalik dan melihat seorang pemuda berbalut bulu rubah dan sutra halus muncul dari kegelapan, sangat tinggi, dengan ketampanan yang dingin.

Itu adalah Xiao Jue.

He Yan terkejut dan secara naluriah menoleh ke belakang. Melihat ini, Xiao Jue mendengus, "Chu Zilan tidak akan datang."

"Kenapa?" tanya He Yan.

Xiao Jue melirik He Yan: "Seseorang datang dari ibu kota, dia tidak akan bisa pergi. Dia memintaku untuk memberitahumu."

He Yan mengangguk, lalu menatap Xiao Jue dengan heran: "Komandan mau menyampaikan pesan untuk Tuan Muda Keempat Chu?"

Mengingat Xiao Jue dan Chu Zhao bagaikan air dan api, sungguh tidak masuk akal Chu Zhao meminta Xiao Jue menyampaikan pesan, tetapi yang lebih mengejutkan lagi adalah Xiao Jue menyetujuinya dan datang menemuinya.

"Kau masih bisa peduli tentang itu, jadi kau pasti tidak patah hati," katanya sambil duduk di ujung batu besar yang lain.

Angin malam musim dingin bertiup dengan sangat dingin, dan He Yan bertanya, "Mengapa aku harus patah hati?" Begitu selesai berbicara, ia bersin.

Meskipun seragam militernya berlapis untuk musim dingin, tetap saja terasa sangat dingin saat duduk di luar di tengah angin malam. He Yan duduk di sana dengan lesu, wajahnya sepucat batu giok, dengan semacam transparansi yang rapuh.

Xiao Jue terdiam sejenak, lalu berdiri.

Saat He Yan hendak mendongak, sebuah mantel bulu rubah jatuh menimpanya, menjerumuskannya ke dalam kegelapan. Saat kepala He Yan muncul dari balik mantel bulu itu, Xiao Jue sudah kembali ke tempatnya semula.

Mantel bulu itu terasa sedikit hangat, langsung menahan angin dan salju. He Yan tertegun cukup lama sebelum berkata, "Terima kasih."

Xiao Jue menoleh untuk menatapnya.

Gadis muda itu mengikat rambutnya dan mengenakan mantel bulu hitam miliknya. Bahu Gadis muda itu sangat ramping, membuatnya tampak sangat rapuh. Biasanya, Gadis muda itu selalu bersemangat dan cerewet, yang menurutnya berisik dan membuat pusing, tetapi ketika gadis muda itu diam seperti ini, ia tampak seperti orang yang berbeda.

Itu membuat Xiao Jue tidak nyaman

Xiao Jue menatap He Yan dengan mata tertunduk, dan setelah beberapa saat, bibirnya sedikit melengkung, "Penampilanmu yang menyedihkan benar-benar jelek." Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan, "Merindukan Chu Zilan?"

"Apa?" He Yan bingung.

"Aku belum pernah melihatmu sesedih ini, bahkan saat kau hampir mati," katanya malas. "Sepertinya kau benar-benar menyukainya."

He Yan tidak begitu mengerti kata-katanya Xiao Jue.

"Kau bertingkah seperti ini sebelum dia pergi. Apa yang akan kau lakukan saat dia pergi besok?" Xiao Jue menatap sungai di kejauhan.

"Besok?" He Yan terkejut. "Secepat itu?"

He Yan ingat Chu Zhao memberitahunya bahwa keberangkatannya akan terjadi dalam beberapa hari ke depan, tetapi tidak menyebutkannya besok.

Xiao Jue menatap He Yan dengan penuh arti: "Cemas?"

"Tidak," kata He Yan, "Aku hanya terkejut..." Lalu, teringat sesuatu, He Yan berkata dengan sedih: "Tapi tentu saja, dia harus datang ke pesta pernikahan Tuan Muda Xu..., jadi dia harus pulang lebih awal."

He Yan bertanya pada Xiao Jue: "Apakah Komandan mengenal tuan muda tertua dari keluarga Xu di ibu kota?"

Xiao Jue: "Aku pernah mendengar tentangnya."

"Xu Zhiheng akan menikah, dan Tuan Muda Keempat Chu sedang bergegas kembali untuk pesta pernikahannya." Suara He Yan serak.

"Xu Zhiheng yang menikah, bukan Chu Zilang," Xiao Jue mengerutkan kening. "Lihat betapa menyedihkannya dirimu sekarang. Kau masih ingin bergabung dengan Kamp Sembilan Bendera?"

He Yan memaksakan senyum dan hendak berbicara namun Xiao Jue melambaikan lengan bajunya, melemparkan sesuatu ke pangkuannya He Yan.

He Yan menunduk dan melihat seuntai tanghulu hawthorn. Buah-buah itu telah berada di luar dalam cuaca dingin selama beberapa waktu dan sedingin es, tetapi masih berwarna merah cerah di antara hamparan salju putih di sekitarnya.

"Dari mana... ini berasal?"

"Dari Song Taotao," kata Xiao Jue. "Aku mengambil satu tangkai."

Xiao Jue tidak tahu bagaimana cara menghibur gadis-gadis muda. Saat hendak pergi, ia bertanya kepada Lin Shuanghe, dan Lin Shuanghe berkata kepadanya: "Bagi orang lain, menghibur gadis yang patah hati membutuhkan banyak usaha – mengajaknya melihat lentera, bunga, dan bintang, membeli batu giok, mutiara, dan jepit rambut emas. Tapi kau berbeda – kau hanya perlu duduk di sana dengan wajahmu, itu sudah cukup."

Xiao Jue terheran-heran. Akhirnya, ketika melewati kamar Shen Muxue, ia melihat tanghulu hawthorn milik Song Taotao di dekat jendela dan mengambil setangkai.

Terakhir kali ia melihat He Yan memakannya, dan tampak sangat bahagia.

He Yan mengambil tanghulu hawthorn, mengeluarkan kertas nasi, dan menjilatnya. Rasa manis yang dingin menyebar di lidahnya, membuat hatinya sakit karenanya.

Tiba-tiba ia teringat percakapannya dengan Chu Zhao sebelumnya.

Ia bertanya kepada Chu Zhao: "Siapa nama Nyonya Xu yang baru?"

Chu Zhao menjawab: "Namanya He Xinying, nona muda kedua dari cabang kedua keluarga He. Dia sepupu Nyonya Xu sebelumnya. Aku pernah bertemu dengannya sekali – dia polos dan lembut. Bisa dibilang dia pasangan yang cocok untuk Tuan Muda Xu."

"He Xinying..." gumam He Yan. "Apakah kau tahu nama Nyonya Xu sebelumnya?"

Chu Zhao tertegun, ragu-ragu, lalu menggelengkan kepalanya: "Nyonya Xu sebelumnya hidup menyendiri dan tidak pernah berada di Shuojing sebelumnya. aku tidak pernah bertemu dengannya dan tidak tahu namanya."

Bahkan namanya pun tidak ada.

Orang-orang mengingat Jenderal Fei Hong, mengingat He Rufei, mengingat Xu Zhiheng, dan bahkan mengingat pengantin baru Xu Zhiheng, tetapi tidak ada yang mengingat He Yan.

He Yan pikir setelah sekian lama, mengetahui sifat asli Xu Zhiheng, hal itu tak akan menyakitkan lagi. Namun, mendengar tentang pernikahannya tetap membuatnya sakit hati. Seolah-olah semua kegigihan dan kepercayaan yang ia bangun selama bertahun-tahun telah runtuh dalam semalam, bahkan tanpa meninggalkan kebohongan.

Yang tersisa hanyalah kebodohan dan keengganannya untuk melepaskan.

He Yan menatap rembulan. Cahaya lembutnya menyebar di atas pegunungan liar dan sungai-sungai besar, di atas hutan-hutan yang tertutup salju, di atas tahun-tahun kesepiannya yang sunyi, di atas matanya di balik topeng.

Rembulan tahu rahasianya, tetapi rembulan tak bisa bicara.

"Kau tahu," dia berbicara dengan lembut, "nama istri baru Xu Zhiheng?"

Xiao Jue menjawab dengan malas: "Mana mungkin aku tahu?"

He Yan tersenyum mengejek diri sendiri dan bertanya: "Lalu, apakah kau tahu nama Nyonya Xu sebelumnya?"

Ombak sungai menghantam bebatuan, seperti waktu yang melolong dari masa lalu yang jauh.

Xiao Jue melirik He Yan dengan dingin, wajahnya tampak sangat tampan di bawah sinar bulan. Matanya yang sebiru air musim gugur itu menyiratkan sedikit ejekan lalu ia berkata pelan: "Apa, hanya karena kalian memiliki nama yang sama, kau ingin menjadi Nyonya Xu?"

He Yan membeku.

"Kau tahu... kau tahu namanya..." jantung He Yan mulai berdebar kencang.

"He Yan."

Ombak menghantam bebatuan, pecah menjadi butiran-butiran halus, menyatu dengan sungai, mustahil untuk mengetahui dari mana datangnya setiap ombak.

Tapi...

Ada yang mengingat nama He Yan.

He Yan tiba-tiba menatap Xiao Jue.

"Tahukah kau... tidak, apakah kau pernah bertemu dengan Nyonya Xu sebelumnya?"

He Yan berpikir, mustahil. Ia dan Xiao Jue hanya sekelas selama setahun sebelum berpisah. Sekembalinya ke Shuojing, ia menjadi Nona Muda He, bukan lagi "He Rufei," dan segera bertunangan serta menikah, nyaris tidak pernah keluar rumah, apalagi bertemu pria di luar keluarganya. Setelah menikah dengan keluarga Xu, ia menjadi buta tidak lama setelah pernikahan dan tinggal di rumah besar sepanjang hari, hampir sepenuhnya terisolasi dari dunia.

Bagaimana mungkin Xiao Jue bertemu dengannya?

Kecuali...

"Aku pernah bertemu dengannya."

Pemuda itu duduk malas, wajahnya menawan, gunung dan sungai, bulan dan angin, tidak bisa menandingi kilauan di matanya.

Untuk sesaat, suaranya berpadu dengan suara dari suatu malam.

Malam itu persis seperti ini, dengan pemandangan pegunungan yang serupa, gerimis yang tak henti-hentinya, dunianya He Yan gelap dan suram, rambutnya terurai putus asa.

Xiao Jue berkata: "Dia berutang permen padaku."

Disclaimer: Terjemahan ini dilakukan secara sukarela untuk tujuan berbagi hobi dan apresiasi karya. Seluruh hak cipta, termasuk karakter, alur cerita, dan judul adalah milik penuh penulis asli dan penerbit. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas konten ini. Jika Anda menyukai ceritanya, dukung penulis aslinya melalui platform resmi.

Komentar