Legend of the Female General-Bab 123 Kabar Baik
Musim dingin di Garnisun Liangzhou sangat dingin. Salju tebal turun selama setengah bulan, dan bahkan ketika salju tidak turun lebat, matahari jarang muncul.
Persediaan kayu bakar dan batu arang menipis. Untungnya, setelah Hakim Kabupaten Liangzhou yang baru menjabat, ia secara proaktif mengirimkan batu arang dari gudang kantor kabupaten ke garnisun, sebagai tanda niat baik kepada Komandan Tentara Kanan. Hakim baru ini masih cukup muda dan tidak memiliki dukungan dari keluarga kaya. Meskipun terlihat lembut dan terpelajar, ia menangani berbagai hal dengan sangat terampil dan teliti.
Lin Shuanghe sangat puas dengan hakim baru ini.
Tidak terasa, dua bulan telah berlalu. Tahun hampir berakhir, dan Tahun Baru akan segera tiba. Setelah Tahun Baru, musim semi berikutnya akan tiba. Para rekrutan Garnisun Liangzhou akhirnya akan melepas status "rekrutan" mereka dan menghabiskan tahun baru di sini.
Di dalam ruangan, Xiao Jue sedang berbicara dengan Chi wu dan Fei Nu.
"Ada surat lagi yang telah tiba dari kota Ji Yang," Chi Wu mengeluarkan sepucuk surat dari dadanya dan menyerahkannya kepada Xiao Jue. "Satu surat per bulan, ini yang kedua."
Perihal Lei Hou yang telah ditangkap dan dipenjarakan di penjara bawah tanah hanya diketahui oleh para instruktur, Chi Wu, dan beberapa orang lainnya, termasuk He Yan. Para rekrutan yakin Lei Hou telah berkhianat. Xiao Jue telah memerintahkan Lei Hou untuk terus berkomunkasi dengan alibinyanya di Ji Yang, dengan mengarang cerita palsu bahwa ia telah melarikan diri dari Garnisun Liangzhou dan berhasil menghindari pengejaran Xiao Jue, sambil menanyakan apa yang harus ia lakukan selanjutnya pada alibinya.
Alibinya yang ada di Ji Yang juga cukup licik, tidak secara langsung memberi instruksi pada Lei Hou dalam surat-surat itu, hanya menyuruhnya bersembunyi dengan baik dan bahwa tuannya akan mengirim seseorang untuk menjemputnya.
Xiao Jue dengan cepat membaca surat itu lalu memberikannya kepada Fei Nu. Setelah Fei Nu dan Chi Wu membaca surat itu, ekspresi mereka berubah muram.
Orang tersebut menulis dalam surat itu bahwa sejak Ri Da Mu Zi kalah dalam pertempuran, mata-mata mereka di Garnisun Liangzhou kini tak berguna. Orang itu memberi perintah pada Lei Hou untuk segera mencari tempat bersembunyi sampai keadaan tenang, dan orang-orang dari Shuojing akan datang menjemputnya nanti. Setelah surat ini, mereka harus berhenti berkomunikasi, karena saat ini mereka sedang dalam masa sulit, dan jika keberadaan mereka ketahuan oleh orang lain dan merusak rencana besar sang Master,hal itu bukan sesuatu yang bisa dipertanggung jawabkan oleh dua orang yang tidak berarti seperti mereka.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Chi Wu. "Apakah maksud orang ini mereka tidak akan saling mengirim surat lagi?"
Xiao Jue berkata, "Lei Hou sekarang menjadi biduk yang tidak berguna."
"Tapi Ji Yang..." Fei Nu ragu sejenak sebelum bertanya, "Komandan, apakah kau berencana pergi ke Ji Yang?"
"Bahkan tanpa utusan itu, fakta bahwa Chai Anxi sekarang berada di Ji Yang, aku harus pergi ke sana sekali saja." Xiao Jue meletakkan surat itu di atas lilin yang menyala di atas meja. Api menjilati kertas itu, dan dalam sekejap, kertas itu berubah menjadi abu.
Chai Anxi dulunya adalah Wakil Komandan Xiao Zhongwu.
Dalam Pertempuran Mingshui, Xiao Zhongwu dan puluhan ribu pasukannya gugur, termasuk para wakil komandannya. Jenazah Chai Anxi tidak pernah ditemukan di medan perang, meskipun semua orang mengatakan Chai Anxi pasti telah meninggal. Bertahun-tahun berlalu, Xiao Jue diam-diam mencari keberadaan Chai Anxi. Kini, usahanya membuahkan hasil – Chai Anxi tidak meninggal, melainkan hidup dengan identitas palsu di Ji Yang.
Kota Ji Yang adalah wilayah kekuasaan Pangeran Mong Ji. Warga sipil dari luar wilayah Wei Agung membutuhkan izin perjalanan resmi untuk memasuki kota Ji Yang. Bahkan dengan izin, orang luar tidak bisa tinggal terlalu lama di kota itu. Selama ini Chai Anxi berada di kota Ji Yang, ini menjelaskan mengapa orang lain tidak bisa melacaknya.
"Tapi bagaimana kita bisa pergi ke Ji Yang? Jika kita meminta izin perjalanan resmi, orang-orang Xu Jingfu akan dengan mudah melacak kita. Bukankah itu berarti setiap gerakan kita akan diperhatikan oleh mereka?" tanya Fei Nu.
Xiao Jue berbalik, merenung sejenak, dan berkata, "Kita akan menggunakan metode lain."
"Metode apa?" tanya Chi Wu.
"Cari seseorang yang punya izin masuk ke kota Ji Yang dan tukarkan identitas."
"Ini..." Fei Nu tampak tidak yakin. Ketika Pangeran Mong Ji masih hidup, ia sangat mengontrol akses para pengunjung di kota Ji Yang. Bahkan mereka yang memiliki izin pun tercatat dalam buku register dengan potret diri. Terlebih lagi, karena memasuki wilayah kekuasaan Pangeran Ming Ji sangat merepotkan, warga sipil Wei Agung akan menghindari kota Ji Yang sebisa mungkin. Sepanjang tahun, sangat sedikit orang yang mendapatkan izin untuk memasuki Ji Yang.
Dengan jumlah penduduk yang sedikit, kontrol yang ketat, mencarin seseorang yang bersedia mengambil risiko ketahuan dan dilarang memasuki wilayah tersebut secara permanen demi bertukar identitas dengan Xiao Jue, tugas itu bukanlah tugas yang mudah.
"Serahkan tugas ini pada Luan Ying," kata Xiao Jue kepada Chi Wu. "Segera tulis surat kepada Luan Ying dan katakan padanya untuk mempersiapkannya sesegera mungkin."
Chi wu menjawab, "Iya."
Saat itu, seseorang mendorong pintu hingga terbuka – orang itu ternyata Lin Shuanghe. Chi Wu mengangguk pada Lin Shuanghe sambil melangkah ke samping, "Tuan Muda Lin."
Lin Shuanghe balas tersenyum.
Fei Nu juga dengan perlahan mundur.
"Huaijin, apa kesibukanmu akhir-akhir ini?" Lin Shuanghe melambaikan kipasnya. "Musim dingin hampir berganti menjadi musim semi, hitung berapa kali kita bertemu?"
"Merasa bosan?" tanya Xiao Jue. "Ketika Cheng Lisu kembali ke ibu kota, kau bisa ikut dengannya."
"Sudahlah, karena aku sudah di sini, kenapa harus kembali?" katanya. "Kapan mereka berangkat?"
"Dalam beberapa hari ke depan."
Setelah insiden Ri Da Mu Zi, Garnisun Liangzhou tidak lagi aman, dan perubahan mungkin akan terjadi. Cheng Lisu dan Song Taotao tidak cocok tinggal di sini, jadi Xiao Jue telah mengatur pasukan untuk mengawal mereka kembali ke Shuojing dalam beberapa hari kedepan.
Kedua anak itu tentu saja menolak dan membuat keributan, tetapi dengan Xiao Jue yang mengambil alih, tidak ada yang tidak bisa dicapai. Meskipun kedua anak itu tidak senang, mereka harus menerima apa yang sudah diatur oleh Xiao Jue.
"Aku tidak akan menyebut Cheng Lisu, tapi wanita muda itu Song Taotao, dia rela meninggalkan He Yan?" tanya Lin Shuanghe tak percaya. "Dia hampir tidak terpisahkan dari He Yan, dan dia begitu patuh di suruh kembali ke ibu kota?"
"Kenapa kau tidak bertanya saja padanya?" Xiao Jue duduk di kursinya, menuangkan secangkir teh untuk dirinya sendiri, dan meminumnya dengan malas.
Xiao Jue sudah lama sibuk dan hanya punya waktu istirahat sebentar.
Lin Shuanghe duduk di sofa dan menatap Xiao Jue: "Tidak apa-apa kalau kau mengabaikanku. Lagipula kita sudah saling kenal bertahun-tahun, aku tidak akan mempermasalahkannya. Tapi bagaimana mungkin kau bisa mengabaikan He Meimei? Urusan militer mungkin penting, tapi He meimei juga penting. Jangan bilang aku tidak memperingatkanmu—kalau kau terus begini, nanti saat He meime dibawa pergi oleh Chu Zilan, kau tidak akan punya tempat untuk menangis."
"Apa hubunganku dengannya?" Xiao Jue mengerutkan kening dengan tidak sabar, lalu bertanya, "Ada apa dengan Chu Zilan?"
Lin Shuanghe meletakkan dagunya di gagang kipasnya dan berkata dengan santai, "Aku tidak tahu apakah ini kebetulan atau apa, tapi sebulan terakhir ini, aku sering melihat He meimei berbicara dengan Chu Zilan."
"Dia seorang wanita muda yang mengalami cedera dan tidak bisa mengikuti latihan harian, jadi wajar saja dia bosan. Sedangkan Chu Zilan, siapa yang tahu apa yang dia lakukan di Liangzhou? Sudah dua bulan, dan dia belum bilang kapan akan pergi dari sini. Dia bosan, He meimei juga bosan, jadi mereka jadi dekat karena menghabiskan waktu bersama."
"Ngomong-ngomong, He meimei biasa memanggilnya 'Tuan Muda Keempat Chu', tapi beberapa hari yang lalu, aku mendengar He meimei memanggilnya 'Kakak Chu'. Kalau begini terus, apa kau tidak khawatir?"
Xiao Jue tampak bingung, "Apa yang harus kukhawatirkan?"
"Coba pikirkan, jika He meimei dibawa pergi oleh Chu Zilan dan bekerja untuknya, Garnisun Liangzhou akan kehilangan seorang jenius yang tidak tertandingi dalam urusan sipil dan militer. Kau akan kehilangan asisten yang hebat."
Xiao Jue mencibir, "Kau pikir Garnisun Liangzhou tidak punya orang lain?"
"Hhmm, aku belum pernah melihat gadis seperti dia sebelumnya," kata Lin Shuanghe. "Chu Zilan selalu pandai memikat hati para wanita. Awalnya, kau memang lebih tampan dan lebih cakap daripada dia, tetapi dari segi kepribadian, dia lebih lembut dan mudah didekati. Ketika tuan muda kaya yang tampan seperti dia menemani He meimei dengan lembut setiap hari, gadis mana yang tidak suka?"
"Suka?" Mata indah Xiao Jue menyipit, suaranya mengejek, "Gadis enam belas tahun, apa yang dia tahu tentang menyukai seseorang?"
"Apa yang salah menjadi gadis enam belas tahun?" Lin Shuanghe berkata, "Di Kota Shuojing, berapa banyak gadis enam belas tahun yang sudah menikah!"
"Jadi?" Xiao Jue menyesap teh dan berkata dengan acuh tak acuh, "Di usia enam belas tahun, selain ayah dan saudara laki-laki, berapa banyak pria yang telah ia temui? Karena hanya bertemu sedikit, bagaimana ia tahu apa yang ia sukai? Menyukai peony setelah hanya melihat peony berbeda dengan menyukai peony setelah melihat semua bunga."
"Menyukai sesuatu ketika kamu punya pilihan berbeda dengan menyukai sesuatu ketika kamu tidak punya pilihan."
"Sekarang kamu menjadi konyol," Lin Shuanghe memutar matanya, "Kebanyakan orang biasa dan mengikuti aturan biasa. Begitulah yang terjadi - bertunangan di usia enam belas tahun, menjalani hidup, dan banyak yang masih berakhir bahagia."
"Lebih banyak yang tidak bahagia," kata Xiao Jue, "Orang biasa tidak punya pilihan, tapi aku bisa memiliki pilhan."
Lin Shuanghe benar-benar tidak bisa berkata-kata. Ia berkata, "Baiklah, baiklah, kau boleh memiliki banyak pilihan. Tapi jiaka seperti apa yang kau katakan, satu-satunya gadis yang pernah melihat semua bunga adalah He meimei."
"He meimei berada di Garnisun Liangzhou bukan hanya telah melihat ratusan bunga, dengan puluhan ribu pria yang di sini, He meimei telah melihat ribuan bunga. Jika setelah melihat ribuan bunga dia menyukaimu, tidak apa-apa, tetapi jika setelah melihat ribuan bunga dia jatuh cinta pada Chu Zilan," kata Lin Shuanghe riang, "Bukankah itu akan sangat menyakitkan bagimu?"
"Kau terlalu banyak berpikir," Xiao Jue tersenyum dingin, "Siapa pun yang dia suka, tidak ada hubungannya denganku. Lagipula, Chu Zilan adalah menantu pilihan Xu Jingfu."
"Silakan saja dia menyukai Chu Zilan," bibir Xiao Jue sedikit melengkung, "Asalkan dia tidak takut mati."
Lin Shuanghe tertegun.
"Oh, benar. Aku hampir lupa kalau Chu Zilan milik Xu Pingting."
...
Saat Lin Shuanghe sedang berbicara dengan Xiao Jue tentang Chu Zilan, He Yan baru saja tiba di depan pintu tenpat tinggal Chu Zilan.
Ying Xiang menyambut He Yan dengan senyuman, berkata, "Tuan Muda He sudah tiba." Ia melirik ke belakang dan bercanda, "Nona Muda Song tidak ikut datang hari ini, sungguh melegakan."
Song Taotao sangat was-was terhadap Ying Xiang. Setiap kali He Yan pergi menemui Chu Zhao, Song Taotao akan mengikutinya dengan waspada. Lagipula, Ying Xiang sangat mempesoana, dengan kepribadian yang cerdas dan menawan, tidak seperti sikap Shen Muxue yang dingin dan seperti berada dunia lain – umumnya lebih menarik bagi pria.
"Nona Song sedang berkemas," He Yan tersenyum, "Dia akan meninggalkan Garnisun Liangzhou beberapa hari lagi, jadi dia tidak bisa mengikutiku setiap hari."
Berbicara soal ini, He Yan benar-benar pusing. Ketika Song Taotao tahu ia harus kembali ke Shuojing, awalnya ia mengamuk, menangis, dan mengancam, menolak untuk pergi. Song Taotao dan Cheng Lisu membuat kesepakatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, hampir menghancurkan atap Garnisun Liangzhou. Akhirnya, Xiao Jue secara pribadi turun tangan untuk menenangkan kedua anak itu, dan mereka setuju untuk kembali ke ibu kota bersama pasukan yang disipakan Xiao Jue.
Bukan itu saja – Song Taotao bahkan mencoba mengajak He Yan pergi ke Shuojing bersama.
"Apa pun yang Tuan Muda Kedua Xiao janjikan padamu, keluarga Song akan melipatgandakannya. Jangan tinggal di Garnisun Liangzhou," wanita muda itu menatap He Yan dengan tatapan meremehkan, "Tempat yang begitu keras di mana kau bisa kehilangan nyawamu kapan saja. Aku dengar dari Cheng Lisu bahwa kau ingin meraih prestasi dan membangun karirmu, tetapi mengapa mengambil jalan ini? Bahkan mempertaruhkan nyawamu di sini tidak akan membuatmu naik pangkat sedikit pun, sungguh menyedihkan!"
He Yan berpikir, iya memang, sungguh menyedihkan.
"Keluarga Song berbeda," kata Song Taotao dengan tenang, "Meskipun ayahku tidak berkuasa di ibu kota, beliau tetap bisa membantumu. Kau akan memiliki prospek yang lebih baik bersama keluarga Song daripada di Liangzhou. Tentang kau yang sudah terlanjur mendaftar di militer, jangan khawatir, aku akan memberi tahu ayahku, dan beliau akan menemukan cara untuk membebaskanmu."
He Yan menjawab, "Tidak, tidak, aku baik-baik saja di sini, di Liangzhou."
Tatapan Song Taotao setajam pisau, "Kau enggan pergi karena pelayan bernama Ying Xiang itu, kan?"
Meskipun masih muda, gadis itu cukup cerdik. He Yan bingung harus tertawa atau menangis: "Bukan begitu. Posisiku di Garnisun Liangzhou istimewa. Nona Song, jika kau menginginkanku, kau bisa langsung menemui Komandan Xiao. Jika Komandan Xiao bersedia melepaskanku, aku pasti akan kembali ke ibu kota bersamamu."
Akankah Xiao Jue dengan mudah melepaskannya? Tentu saja tidak. Garnisun Liangzhou bukanlah pasukan cadangan untuk menjadi menantu para pejabat di ibu kota. Jika Xiao Jue membuat pengecualian untuknya, apa yang akan dipikirkan rekrutan lain? Mereka mungkin memutuskan bahwa daripada bekerja keras, akan lebih baik menjilat wanita muda kaya. Dengan begitu, Garnisun Liangzhou tidak membutuhkan musuh untuk mengalahkannya – begitu semangat bertempur pasukan terpuruk, mereka akan hancur dalam beberapa tahun.
Xiao Jue tidak akan pernah membiarkan hal seperti itu terjadi.
Membawa nama Xiao Jue masih berdampak besar pada wanita muda itu. Song Taotao segera mundur dan berhenti menyebutkan rencana membawa He Yan kembali ke ibu kota.
He Yan memasuki ruangan diaman Chu Zhao sedang memberi makan burung.
He Yan merasa Chu Zilan cukup menarik. Chu Zilan menghabiskan hari-harinya merawat bunga, berlatih kaligrafi, atau memberi makan burung. Ia hidup seperti pensiunan berusia enam puluh atau tujuh puluh tahun di ibu kota. Namun, Cgu Zilan telah tinggal di Garnisun Liangzhou selama dua bulan – jika ia menikmati waktu luangnya seperti itu, bukankah lebih baik berada di ibu kota? Mengapa datang ke sini untuk menderita di tempat yang bahkan batu arang pun langkah?
Meskipun demikian, He Yan masih sering mengunjungi tempat tinggal Chu Zilan. Alasannya sederhana – Chu Zhao adalah orang yang sangat sabar, dan karena He Yan tidak bisa berpartisipasi dalam latihan harian di lapangan, mendengarkan "cerita menarik" Chu Zhao tentang ibu kota bukanlah hal yang buruk. Di kehidupan sebelumnya, He Yan selalu bertempur di luar Wei Agung, dan ketika ia kembali ke Shuojing, He Rufei langsung menggantikan posisinya. He Yan tidak tahu banyak tentang lingkaran pejabat di ibu kota dan hampir tidak memiliki rekan kerja di istana. Sebelumnya semuanya baik-baik saja, tetapi setelah menangani beberapa kasus dengan Xiao Jue, He Yan memahami bahwa untuk memulai kembali, ia perlu mengetahui dinamika kekuatan berbagai faksi pejabat di ibu kota.
Setidaknya dia perlu memahami tata letak dasar faksi milik Putra Mahkota, partainya Menteri Xu, dan kelompoknya Xiao Jue.
He Yan belajar banyak dari Chu Zhao, dan sebagai balasannya, dia tidak bisa terlalu memusuhi Chu Zilan, terutama karena Chu Zilan tidak melawannya sejak awal.
Hari ini, Chu Zhao menyuruh Ying Xiang untuk menjemput He Yan guna membahas sesuatu.
"Kakak Chu," sapa He Yan.
Chu Zhao memasukkan sisa pakan burung ke dalam mangkuk berisis makanan burung. Burung itu mengepakkan sayapnya dan berkicau dengan jelas. Cuaca dingin seperti ini tidak cocok untuk memelihara burung, jadi Chu Zhao meletakkan semua batu arangnya di dekat sangkar burung.
Chu Zhao bersikap penuh perhatian dan lembut kepada burung-burung itu.
"Kau sudah datang," Chu Zhao tersenyum lalu berjalan ke baskom air untuk mencuci tangannya.
"Kakak Chu menyuruh Ying Xiang menjemputku hari ini, apakah ada sesuatu yang penting?" tanya He Yan. Biasanya, He Yan-lah yang secara aktif mencari Chu Zhao untuk mengobrol. Jarang sekali Chu Zhao yang berinisiatif mencarinya, jadi pasti ada sesuatu yang penting.
"Tidak apa-apa," Chu Zhao tersenyum dan mempersilakan He Yan duduk. "Aku mungkin akan kembali ke ibu kota dalam beberapa hari. Aku ingin mengucapkan selamat tinggal kepada He didi sebelum pergi."
He Yan terkejut: "Kau akan kembali?"
"Iya," Chu Zhao tersenyum, "Aku sudah dua bulan berada di Liangzhou. Perjalanannya panjang, dan saat aku kembali, musim semi sudah tiba." Ia melanjutkan, "Dua bulan di Liangzhou ini menarik, berkat perhatian He didi."
"Tidak sama sekali," jawab He Yan buru-buru, "Kaulah yang selama ini menjagaku."
"Orang-orang yang akan mengawalku kembali ke ibu kota seharusnya tiba dalam beberapa hari lagi," Chu Zhao tersenyum, "Karena beberapa hari terakhir ini tidak turun salju, bagaimana kalau kita mengadakan pesta paviliun di Gunung Bulan Putih dan minum bersama untuk perpisahan?"
"Komandan tidak mengizinkan kami mendaki gunung sesuka hati," kata He Yan dengan penuh kesukaran. "Lagipula, Kakak Chu tahu toleransi alkoholku rendah. Kalau aku mabuk, aku bisa membuat masalah lagi."
Mendengar perkataan He Yan, Chu Zhao menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, "Tidak masalah. Kita tidak akan naik gunung. Ada paviliun di kaki Gunung Bulan Putih yang menghadap ke Sungai Lima Rusa, sempurna untuk melihat bulan. Kita akan tinggal di kaki gunung saja. Soal alkohol, kalaupun kau ingin minum, aku tidak punya anggur lagi. Kita bisa menggunakan teh sebagai pengganti anggur – niat baiklah yang penting."
Dengan kata lain, He Yan tidak punya alasan untuk menolak, jadi dia langsung setuju: "Tentu saja, tidak masalah. Karena kakak Chu akan kembali ke ibu kota, aku pasti akan menemanimu. Kapan pesta paviliun ini? Aku harus mempersiapkannya dengan baik."
"Malam ini saja," Chu Zhao tersenyum, "Lebih baik mengambil risiko turun salju malam ini daripada besok tidak ada cahaya bulan yang bagus."
He Yan berkata, "Malam ini saja! Aku akan mengobrol dengan Kakak Chu sepanjang malam!"
He Yan berpikir, karena Chu Zhao akan pergi, siapa lagi yang bisa menjelaskan kepadanya tentang hubungan rumit di antara para pejabat di ibu kota? Lebih baik mendapatkan informasi sebanyak mungkin malam ini, karena kesempatan seperti itu mungkin tidak akan datang lagi.
Chu Zhao tersenyum, "He didi memang bijak."
"Ngomong-ngomong," He Yan teringat sesuatu, "Kenapa Kakak Chu tiba-tiba pulang? Bukankah kau bilang sebelumnya akan menunggu sampai musim semi ketika cuaca lebih hangat? Perjalanan sekarang akan sangat dingin."
"Aku tidak punya pilihan," Chu Zhao tersenyum agak tidak berdaya. "Rekanku, Cendekiawan Xu dari Akademi Hanlin, akan menikah, dan aku harus kembali ke Shuojing untuk pesta pernikahannya."
He Yan, yang sedang menghangatkan tangannya dengan cangkir teh, membeku mendengar kata-kata itu. Ia merasakan telapak tangannya dingin dan jantungnya perlahan mencelos, nyaris tak mampu mengendalikan ekspresinya.
He Yan memaksakan senyum dan bertanya, "Cendekiawan Xu? Cendekiawan Xu yang mana?"
"Namanya Xu Zhiheng, putra sulung Guru Besar Putra Mahkota," kata Chu Zhao penasaran. "Bukankah aku pernah menyebutkannya padamu sebelumnya? Dia pria yang sangat berbakat dan terpelajar, sangat ahli dalam sastra."
Teh yang mengepul itu langsung membeku.
Jari-jari He Yan sedikit melengkung: "Xu Zhiheng..."
...
He Yan tidak yakin bagaimana ia bisa kembali ke kamarnya. Ia tidak ingat apa lagi yang dikatakan Chu Zhao setelahnya. He Yan hanya ingat betapa ia berusaha keras menahan emosinya agar tidak terlihat, agar tidak menunjukkan kelemahannya.
Kembali di kamarnya, He Yan hampir tidak bisa berdiri tegak, dirinya harus bersandar di tiang ranjang sambil perlahan duduk di sofa.
Kata-kata Chu Zhao terngiang di kepalanya.
"Tuan Xu sebelumnya sudah menikah. Kakak iparnya adalah Jenderal Fei Hong, He Rufei. Sepupu He Rufei, wanita muda dari keluarga He, menikah dengan Xu Zhiheng tetapi menjadi buta karena sakit setelah setengah tahun. Namun, Tuan Xu tidak membenci istrinya karena hal ini, malah mencari tabib terkenal dan merawatnya dengan sangat hati-hati."
He Yan bertanya: "Merawatnya... dengan sangat hati-hati?"
"Iya, ketika Nyonya Xu menyarankan untuk mencarikan selir atau istri lain yang setara dengan Tuan Xu, beliau dengan tegas menolak. Sayangnya, Nyonya Xu bernasib malang. Ketika musin semi, saat sendirian di rumah, para pelayan lengah, dan Nyonya Xu tidak sengaja jatuh ke kolam dan tenggelam."
"Sudah hampir setahun sejak Nyonya Xu meninggal dunia. Tuan Xu awalnya memberi tahu teman dan keluarga bahwa ia tidak akan pernah menikah lagi. Namun, ia masih muda, dan bagaimana mungkin keluarga Xu membiarkannya menduda seumur hidup? Ia begitu berbakti sehingga bahkan keluarga mendiang istrinya pun tidak tahan. Mereka memilih seorang wanita muda lain dari keluarga He untuk dijodohkan dengannya, dari cabang kedua, tiga tahun lebih muda dari Nyonya Xu, baru berusia tujuh belas tahun."
Dari cabang kedua keluarga He, baru berusia tujuh belas tahun tahun... He Yan memejamkan matanya. Itu berarti gadis muda itu adalah adik perempuannya sendiri.
Keluarga He telah memperhitungkan segalanya, mungkin sudah membuat kesepakatan dengan Xu Zhiheng. He Yan memang harus mati, tetapi dengan kematiannya, ikatan pernikahan antara keluarga He dan Xu akan putus – hasil yang tidak diinginkan kedua keluarga. Lebih baik menukar satu orang dengan yang lain, menukar kematian He Yan dengan Nyonya Xu yang baru.
He Yan memegangi kepalanya, merasa kepalanya akan meledak.
Tiba-tiba, suara seseorang terdengar: "Kakak? kau kenapa?"
He Yan mendongak dan melihat Cheng Lisu.
Ia bertanya, "Kenapa kau di sini?"
Cheng Lisu berkata, "Aku mengetuk pintu lama sekali, tapi tidak ada yang menjawab. Kukira kau tidak di dalam. Aku membawakanmu camilan." Ia menghampiri He Yan dengan cemas, "Kakak, kau terlihat sangat buruk. Apakah lukamu sakit? Perlu kupanggilkan Paman Lin?"
He Yan melambaikan tangannya dan memaksakan senyum, "Tidak perlu. Aku hanya kurang tidur kemarin, aku agak mengantuk."
Cheng Lisu berpikiran sederhana dan tidak curiga, ia lalu mengangguk: "Baiklah." Lalu Cheng Lisu teringat sesuatu dan cemberut, "Kakak, sepertinya Kakak sangat sibuk akhir-akhir ini. Aku akan segera kembali ke Shuojing, dan siapa tahu kapan kita akan bertemu lagi. Aku baru saja belajar teater boneka dari Instruktur Ma. Bagaimana kalau aku tampilkan untukmu malam ini?"
Pikiran He Yan dipenuhi dengan apa yang baru saja dikatakan Chu Zhao dan tidak tertarik dengan apa yang dikatakan Cheng Lisu. Terlebih lagi, ia teringat janjinya dengan Chu Zhao, jadi ia menggelengkan kepalanya, "Tidak malam ini. Aku sudah memiliki janji untuk melihat bulan di kaki Gunung Bulan Putih bersama Tuan Muda Keempat Chu."
"Apa gunanya dua pria dewasa memandangi bulan!" keluh Cheng Lisu, "Lagipula, apa bulan lebih baik daripada teater boneka? Kau bisa melihatnya setiap hari, apa istimewanya?"
Keluhan Cheng Lisu sedikit menarik pikiran He Yan kembali. He Yan dengan sabar menjelaskan, "Ini bukan hanya tentang memandangi bulan. Tuan Muda Keempat Chu akan meninggalkan Garnisun Liangzhou beberapa hari lagi, jadi sebelum pergi, dia ingin minum bersamaku."
"Baguslah kau dekat dengan Tuan Muda Keempat Chu, tapi jangan lupakan aku!" Cheng Lisu tidak tahu tentang hubungan tersembunyi antara Xiao Jue dan Chu Zhao. Baginya, Chu Zhao hanyalah seorang paman dari Shuojing yang tampan dan baik hati, yang mengantarkan hadiah dari Kaisar. Cheng Lisu berkata, "Lagipula, aku sudah mengenalmu jauh lebih lama daripada dia. Seharusnya kau lebih dekat denganku. Kakak, kau tidak bisa membuangku!"
Sangat kekanak-kanakan, cemburu karena hal seperti ini. He Yan terpaksa membujuknya: "Baiklah, aku akan minum dengannya hari ini dan menonton pertunjukan bonekamu besok, bagaimana?"
Baru setelah itu Cheng Lisu merasa puas, menyeringai: "Begitu baru betul!"
Komentar
Posting Komentar