Legend of the Female General-Bab 122 Ji Yang

Dalam perjalanan ke tempat latihan, He Yan masih memikirkan perkataan Lin Shuanghe sebelumnya. Giok hitam bermotif ular di tangannya terasa sedingin air, membantunya sedikit menjernihkan pikirannya di tengah cuaca musim dingin. Kemarin, ia merampas liontin giok milik Xiao Jue dalam keadaan mabuk – tindakan yang keterlaluan itu membuatnya benar-benar tidak bisa minum anggur sembarangan lagi.

Berjalan sambil termenung, He Yan akhirnya sampai di tepi lapangan latihan. Seorang pria berdiri di hadapan Xiao Jue, mengenakan baju zirah hitam pasukan Garnisun Selatan dan menundukkan kepalanya tanpa bicara. Saat He Yan mendekat, ia mendengar Xiao Jue berkata dengan dingin, "Apakah ini Fengshi Zhen [Formasi Panah] yang kau susun?"

Pria itu adalah Wakil Jenderalnya Xiao Jue, yang bertanggung jawab melatih pasukan Garnisun Selatan dalam formasi militer. Meskipun pria itu bertubuh besar, di hadapan Xiao Jue ia seperti anak kecil yang telah melakukan kesalahan, menundukkan kepala sambil berkata, "Bawahan ini mengakui kesalahannya. Para pasukan mungkin tidak terbiasa dengan salju di Prefektur Liang..."

"Tidak terbiasa?" Tuan Muda Xiao melirik pria itu dan bertanya dengan nada retoris, "Apakah kau perlu aku ajari cara beradaptasi?"

He Yan melihat bagaimana pria tegap ini gemetar mendengar satu kalimat dari Xiao Jue, lalu menjawab, "Bawahan ini akan segera membimbing mereka dengan pelatihan yang tepat sekarang juga!"

"Gandakan latihan hariannya," kata Xiao Jue dengan tenang. "Jika ini terjadi lagi, kau tidak perlu lagi tinggal di Garda Prefektur Liang."

"Baik, Komandan!" Setelah pria itu pergi, He Yan menjulurkan lehernya untuk melihat ke arah tempat latihan. Ia mendecakkan lidahnya takjub saat melihat pria itu memarahi para prajurit Garnisun Selatan di garis depan sebelum menyuruh mereka memulai kembali latihan formasi.

Sikap Xiao Jue berbeda antara pasukan Garnisun Selatan dan rekrutan baru Prefektur Liang. Ia jarang menunjukkan diri kepada rekrutan Prefektur Liang dan menjaga jarak serta bersikap sopan terhadap Instruktur Shen dan yang lainnya. Hanya dengan pasukan Garnisun Selatan Xiao Jue benar-benar menunjukkan dirinya yang biasa – santai, dingin, seperti seorang komandan yang akan menegur seseorang hanya dengan sedikit provokasi.

Apakah dia sangat tidak disukai seperti ini saat menjadi Jenderal Fei Hong? He Yan bertanya dalam hati.

Saat He Yan sedang merenungkan hal ini, Xiao Jue berbalik. Saat melihat He Yan, ia berhenti sejenak sebelum bertanya dengan nada kesal, "Apa yang kau lakukan di sini lagi?"

He Yan tersenyum meminta maaf dan mengulurkan telapak tangannya dimana batu giok hitam itu berada. "Komandan sepertinya menitipkan sesuatu padaku tadi malam. Aku datang secara khusus untuk mengembalikannya."

"Mengembalkan?" Xiao Jue mengulangi kata-kata itu dengan penuh arti, membungkuk menatap mata He Yan sebelum menarik bibirnya membentuk senyum dingin. "Putri yang baik hati."

He Yan: "..."

Kenapa Xiao Jue begitu pendendam? Lagipula, meskipun dia memanggilnya ayah, Xiao Jue-lah yang mengambil keuntungan darinya oke. Tapi ketika Xiao Jue memanggilnya putri, entah bagaimana perkataan itu membuatnya terdengar seperti dirinya telah melakukan dosa yang tak terampuni.

He Yan berusaha keras untuk tetap tenang dan berkata, "Komandan benar-benar tahu caranya bercanda. Giok hitam ini tampaknya sangat berharga. Komandan harus merawatnya dengan lebih baik dan tidak membiarkannya hilang lagi." He Yan mengangkat giok itu dan mengulurkan tangannya ke pinggang Xiao Jue.

Xiao Jue mundur selangkah, ekspresinya terlihat waspada. "Apa yang kau lakukan?"

"Membantumu memasangnya," jawab He Yan polos. "Bukankah liontin giok ini seharusnya dipakai di pinggang?"

Xiao Jue tiba-tiba teringat kata-kata Lin Shuanghe kemarin tentang "dia suka pinggangmu."

Saat He Yan bergerak maju lagi, Xiao Jue mengangkat tangannya untuk menghalangi He Yan, lalu memberi He Yan tatapan yang rumit. "Aku akan melakukannya sendiri."

"Oh." He Yan menyerahkan liontin giok itu dengan bingung. Ia memperhatikan Xiao Jue memasang liontin giok itu kembali dengan benar dipinggangnya, liontin giok hitam itu tampak kontras dengan indah di balik jubah biru tuanya.

He Yan mengamati dengan saksama, tidak menyadari bahwa melihat tatapannya yang terfokus pada pinggangnya, Xiao Jue menyipitkan mata dan langsung berbalik, membiarkan jubahnya terjatuh kembali ke tempatnya.

Apakah dia disengat serangga? He Yan bertanya-tanya.

Dari tempat latihan terdengar perintah keras para prajurit. He Yan mengikuti Xiao Jue ke galeri menara untuk melihat ke bawah. Formasi pasukan Garnisun Selatan sudah cukup teratur, dan semangat tempur mereka sangat baik. Namun, Xiao Jue hampir membuat pria itu menangis tadi – Apa masakahnya Xia Jue? Ia terlalu suka kritik.

Jika Xiao Jue yang memimpin Pasukan militer Yue, dia bahkan tidak akan punya waktu untuk makan, karena terlalu sibuk memarahi orang sepanjang hari.

Saat He Yan memperhatikan pasukan yang sedang latihan, He Yan menyuarakan pikirannya: "Mereka berlatih dengan cukup baik. Kau terlalu keras tadi."

"Keras?"

"Iya," kata He Yan. "Kalau aku, aku pasti sudah ketakutan setengah mati."

Xiao Jue tertawa lagi, senyumnya disertai ejekan. "Kau sepertinya tidak takut padaku."

"Itu karena aku terbiasa dimarahi." He Yan menatap pasukan Garnisun Selatan. "Fengshi Zhen [Formasi Panah]."

Xiao Jue bertanya, "Bagaimana menurutmu?"

"Mereka berlatih dengan sangat baik. Hanya saja, karena salju baru-baru ini membuat tanah menjadi licin, para prajurit di sebelah kiri di baris terakhir kesulitan menjaga keseimbangan."

"Selain Fengshi Zhen [Formasi Panah], formasi apa lagi yang kau tahu?" tanya Xiao Jue dengan santai.

"Cukup banyak," He Yan menghitung dengan jarinya: "Saoxing Zhen [Formasi Bintang Tersebar], Yuanyang Zhen [Formasi Bebek Mandarin], Yuli Zhen [Formasi Sisik Ikan], Heyi Zhen [Formasi Sayap Bangau]..." He Yan menyebutkan lebih dari selusin formasi sebelum menyadari tatapan Xiao Jue yang tertuju padanya. He Yan berhenti dan bertanya, "Kenapa... kau menatapku seperti itu?"

Xiao Jue berbalik, meletakkan kedua tangannya di pagar galeri, dan berkata dengan malas sambil tersenyum, "Mengagumi keahlianmu, Nyonya Jenderal."

He Yan: "..."

He Yan melanjutkan dengan berani, "Karena aku sangat hebat, maukah Komandan mempertimbangkan untuk mempromosikanku? Biarkan aku menjadi asisten tangan kananmu. Bersama-sama, kita bisa mencapai hal-hal hebat!"

Xiao Jue mencibir, "Siapa 'kita'?"

"Jangan selalu menjaga jarak dengan orang lain. Kau harus belajar dariku yang mudah untuk didekati."

Xiao Jue mengabaikan ocehan He Yan. Saat He Yan hendak berbicara lagi, sebuah suara datang dari belakang: "Tuan Muda."

Suara itu milik Fei Nu.

"Tuan Muda," Fei Nu melirik He Yan, "Ada gerakan dari sisi Lei Hou."

Xiao Jue mengangguk. "Mengerti." Ia berbalik untuk turun, mungkin menuju penjara bawah tanah. He Yan hendak mengikutinya, tetapi berhenti setelah satu langkah.

Sudahlah. Kalau ada hal penting, Xiao Jue pasti tahu tanpa perlu memberitahunya. Mengikuti Xiao Jue sekarang hanya akan membuatnya kesal. Lebih baik dirinya pergi mencari Chu Zhao dan tanyakan apakah dia melakukan hal yang tidak pantas saat mabuk kemarin.

Kalau iya, dia harus mengantre untuk minta maaf.

Dengan pemikiran seperti ini, He Yan melambaikan tangan kepada Xiao Jue: "Aku ada urusan lain, jadi aku tidak akan menemani Komandan. Kita bertemu lagi nanti."

Mulut Fei Nu berkedut. Lihat dia berakting seperti mereka sangat akrab satu sama lain – apa ada yang mengajaknya ikut?

Xiao Jue, yang sudah terbiasa dengan perilaku He Yan yang tak tahu malu tidak peduli dengannya, lalu menuruni tangga: "Ayo pergi."

Ketika He Yan tiba di tempat tinggal Chu Zhao, Tuan Muda Keempat Chu sedang berlatih kaligrafi.

Kemarin ia datang terburu-buru di malam hari, hanya minum anggur di halaman tanpa memperhatikan tempat tinggal Chu Zhao. He Yan hanya merasa tempat itu kurang mewah, tetapi hari ini jika dilihat dengan teliti, tempat itu bukan hanya kurang mewah – bahkan bisa disebut sederhana.

Ruangan itu hanya memiliki meja dan tempat tidur, hanya ada dua kursi, tanpa dekorasi apa pun. Namun, Tuan Muda Keempat Chu ini tahu bagaimana memanfaatkannya sebaik mungkin, dengan meletakkan dupa dan menggantungkan tirai kasa, membuat ruangan yang awalnya sederhana itu terasa seperti ruangan yang berkelas dan tertutup.

Ying Xiang melihat He Yan dan tersenyum, "Apakah Tuan Muda He datang untuk menemui Tuan Muda keempat Chu?"

"Mm," kata He Yan, "Aku... datang untuk membawakan camilan untuk Tuan Muda Keempat Chu." He Yan mengangkat kotak berisi sisa kue daun bawang pemberian Lin Shuanghe pagi ini. He Yan awalnya berencana menyimpan sebagian untuk nanti saat ia lapar, tetapi rasanya kurang tepat mengunjungi Chu Zhao dengan tangan kosong, jadi ini harus dijadikan bingkisan pertemuan.

"Tuan Muda Keempat sedang berlatih kaligrafi," Ying Xiang tersenyum. "Silakan ikuti pelayan ini."

Chu Zhao menatap He Yan dan tersenyum, "He Didi datang ke sini hari ini bukan hanya untuk menanyakan satu pertanyaan, kan?"

Memang, seperti yang diharapkan dari murid kesayangan Perdana Menteri Xu– persepsinya begitu tajam sehingga He Yan tidak bisa berkata apa-apa.

Seolah menyadari kesulitan dan rasa malu He Yan, Chu Zhao tersenyum dan berkata, "Jangan khawatir. Tadi malam saat kau di sini, kau tidak melakukan hal yang aneh – kau hanya mengajakku berdiskusi tentang taktik militer. Namun, karena aku tidak begitu paham urusan militer, aku tidak bisa membahasnya denganmu dengan baik. Itu hanya membuang-buang keahlianmu." Chu Zhao menatap He Yan dan menambahkan dengan heran, "Aku cukup terkejut dengan betapa luasnya pengetahuanmu."

He Yan: "..." Ia diam-diam mencela dirinya sendiri. Ia tak akan pernah menyebut orang lain merak lagi – melihat tingkahnya saat mabuk, ia memang merak yang sebenarnya, bukan? Mabuk-mabukan dan memamerkan berapa banyak buku yang telah ia baca di mana-mana – sungguh memalukan.

"Tuan Muda Keempat terlalu baik," He Yan menutupi wajahnya dengan tangan. "Kalau kau bicara lebih banyak lagi, aku benar-benar ingin bersembunyi karena rasa malu."

Ying Xiang membawakan dua cangkir teh, meletakkan satu di hadapan He Yan sambil tersenyum, "Silakan dicoba, Tuan Muda He."

He Yan menyesap teh itu dan tak kuasa menahan diri untuk berseru, "Manis sekali!"

"Teh di Ibu Kota Shuo tidak sepahit teh di Prefektur Liang," Ying Xiang meletakkan satu cangkir lainnya di hadapan Chu Zhao. "Senang Tuan Muda He menikmatinya."

Melihat teh di hadapannya, He Yan tiba-tiba teringat sesuatu dan menoleh ke arah Chu Zhao, lalu bertanya dengan santai, "Apakah Tuan Muda Keempat Chu selalu tinggal di Ibu Kota Shuo?"

"Iya."

"Kalau begitu, kau pasti tahu banyak tentang perkembangan terbaru di ibu kota." He Yan memperhatikan daun teh yang mengambang di cangkirnya dan berkata, "Aku sudah berada di Prefektur Liang selama lebih dari setengah tahun. Di sini, latihanku setiap hari terasa pahit—sangat membosankan. Sejak aku mengalami cedera, aku bahkan tidak berlatih setiap hari lagi, hanya berdiam diri di kamar seharian sampai badanku hampir berjamur. Akhirnya, karena punya teman dari ibu kota," He Yan mendekatkan diri, menatap Chu Zhao dengan saksama, "bisakah Tuan Muda Keempat menceritakan kejadian menarik apa saja yang terjadi di ibu kota selama enam bulan terakhir ini?"

"Kejadian menarik?" Chu Zhao terkejut.

He Yan mengangguk: "Iya, hal-hal yang menghibur."

"Hhmm, ada banyak cerita seperti itu," kata Chu Zhao lembut. "Cerita seperti apa yang ingin didengar He didi?"

"Cerita seperti apa?" He Yan merenung sejenak. "Kediaman orang biasa mungkin tidak memiliki sesuatu yang menarik. Mari kita bicara tentang keluarga pejabat di ibu kota. Kau tahu, seperti bangsawan mana yang ketahuan istrinya berselingkuh, yang putranya ternyata bukan anak kandung mereka tetapi anak adopsi... hal-hal semacam itu?"

Bahkan Chu Zhao yang biasanya baik hati pun sedikit tersedak mendengar kata-kata He Yan.

Chu Zhao menjawab perlahan, "Aku tidak terlalu paham dengan urusan pribadi seperti itu. bairkan aku memberi tahu mu tentang hal-hal yang aku ketahui."

He Yan mengangguk penuh semangat.

Kemudian He Yan mendengarkan Tuan Muda Keempat dari keluarga Earl Shi Jin ini memeriksa daftar semua pejabat di Ibu Kota Shuo, tetapi tidak ada satu pun cerita yang benar-benar "menarik" seperti yang He Yan harapkan. Semuanya tentang siapa yang naik pangkat, gaji siapa yang naik dua dan gandum, tugu peringatan takhta siapa yang dikritik Kaisar karena tulisan tangannya jelek, dan istri siapa yang disukai Selir Agung dengan memberinya kain yang langka.

Tuan Muda Keempat Chu tampan, baik hati, dan sabar, tidak seperti Xiao Jue yang cepat kehilangan kesabaran. Namun, saat berbicara dengan Chu Zhao, He Yan yang mulai kehilangan kesabaran.

He Yan menahan diri berulang kali, menghabiskan dua cangkir teh tanpa mendengar apa yang ingin didengarnya. Akhirnya, ia tak kuasa menahan diri, menyela Chu Zhao yang sedang bercerita: "Tuan Muda Keempat Chu, di Ibu Kota Shuo, apakah kau kenal Jenderal Fei Hong yang sekarang?"

Mendengar kata-kata ini, Chu Zhao terdiam. Ia menyesap teh dan bertanya sambil tersenyum, "Kenapa tiba-tiba membahas Jenderal Fei Hong?"

"Setiap hari di Garda Prefektur Liang, para instruktur berdiskusi secara diam-diam, apakah Jenderal Feng Yun kita atau Jenderal Fei Hong yang lebih tangguh. Aku bertemu Jenderal Feng Yun setiap hari sekarang, jadi tidak ada yang istimewa tentang itu, tapi aku belum pernah melihat Jenderal Fei Hong." He Yan tersenyum. "Kau tahu, Jenderal Fei Hong dan aku memiliki nama keluarga yang sama, He – mungkin kami adalah keluarga di kehidupan sebelumnya. Aku hanya ingin tahu apakah ada cerita menarik tentangnya, apakah dia benar-benar mengesankan?"

Chu Zhao menatap He Yan sejenak sebelum menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Jenderal Fei Hong dan aku hanyalah rekan kerja di istana, tidak terlalu dekat. Aku hanya bertemu dengannya beberapa kali. Dia orang yang cukup baik, dan sangat hebat – dia sangat gagah berani dalam menumpas pemberontakan Qiang Barat saat itu."

"Bagaimana sekarang? Apakah dia dipromosikan di ibu kota?"

"Dia sudah menjadi pejabat militer tingkat tiga – naik pangkat terlalu cepat akan mengundang kritik," kata Chu Zhao. "Namun, Kaisar cukup mengaguminya, sering memanggilnya ke istana dan bahkan memintanya untuk mengajari Putra Mahkota ilmu pedang. Aku harap masa depannya tidak akan kalah dengan Komandan Xiao."

He Rufei... sudah mencapai posisi seperti itu?

Senyum He Yan sedikit membeku.

Chu Zhao bertanya, "Ada apa?"

He Yan mengangkat cangkirnya dan meneguk teh untuk menutupi reaksinya yang canggung, lalu berkata, "Aku hanya berpikir, kita sama-sama bermarga He, dan dia hanya beberapa tahun lebih tua dariku, tetapi prestasinya adalah sesuatu yang takkan pernah bisa kucapai seumur hidupku."

"He didi, jangan meremehkan dirimu sendiri," Chu Zhao tersenyum menghibur. "Jenderal Fei Hong mendapatkan jasanya dengan mempertaruhkan nyawanya di medan perang. Lagipula, kau masih muda—masa depanmu belum tentu lebih buruk darinya."

Kata-kata ini tidak dapat menghibur He Yan. Ketika He Yan mengangkat kepalanya lagi, ia menyunggingkan senyum riang, "Hanya itu? Bagaimana dengan sisanya? Jenderal Fei Hong seharusnya sudah cukup umur untuk menikah – bukankah dia punya wanita yang disukainya? Jika tidak, itu akan terlalu tragis. Akankah kedua jenderal terkenal di Wei Agung, Feng Yun dan Fei Hong, tetap kesepian seumur hidup mereka?"

Chu Zhao tertegun sejenak, lalu tersenyum tipis, "Entahlah, tapi sampai sekarang belum ada kabar tentang pertunangan Jenderal Fei Hong."

He Yan mengangguk.

"Oh?" Chu Zhao menatapnya sambil tersenyum. "Apakah He didi punya saudara perempuan di rumah yang mungkin..."

"Tidak, tidak," He Yan cepat-cepat melambaikan tangannya. "Aku hanya punya satu adik laki-laki. Aku tidak akan pernah memikirkan hal seperti itu. Dia Jenderal Fei Hong—bagaimana mungkin orang biasa seperti ku berani berharap setinggi itu? Aku bahkan tidak berani memikirkannya."

Chu Zhao mengangguk namun memikirkan dengan cermat perkataan He Yan.

...

Di penjara bawah tanah, Xiao Jue duduk di kursi, memandangi tahanan dihadapannya.

Setelah lebih dari sepuluh hari, Lei Hou menjadi sangat kurus, tampak seperti orang yang berbeda dari sepuluh hari yang lalu. Ia juga tidak tidur nyenyak, tampak tersiksa oleh mimpi buruk, rongga matanya cekung. Pria yang dulunya tinggi kini tampak bungkuk. Fei Nu menyampaikan apa yang meraka temukan, berkata dengan lembut, "Kami menemukan orang yang berkoordinasi dengan Lei Hou. Surat-surat itu dikirim dari Ji Yang."

"Ji Yang?" Xiao Jue mengangkat alisnya.

"Benar."

"Xiao Huaijin," ujar Lei Hou, suaranya seperti terbakar api, sangat serak, seakan akan pingsan kapan saja. Bibirnya berlumuran darah dan terlihat pecah-pecah. "Aku sudah menulis surat kepada alibiku seperti yang kau ingikan. Sesuai kesepakatan kita, kau sekarang dapat melepaskan istri dan anak ku."

Xiao Jue melirik Lei Hou dan tersenyum. "Di mata mu, apakah aku orang yang akan menepati janji seperti itu?"

"Kau!" Ekspresi Lei Hou berubah drastis. Ia menerjang ke depan dengan ganas, tetapi dengan tangan dan kakinya yang terbelenggu, hanya terdengar suara gemeretak. Karena jarang makan akhir-akhir ini, tubuhnya tidak bertenaga. Dengan gerakan ini, alih-alih mencapai Xiao Jue, ia malah jatuh ke tanah.

Xiao Jue duduk di kursinya, menatap Lei Hou sambil memiringkan kepalanya seolah mengagumi keadaan Lei Hou yang menyedihkan. Setelah beberapa saat, Xiao Jue berkata dengan nada malas, "Aku hanya bilang akan mempertimbangkannya."

Menjadi tawanan berarti menerima takdir sebagai tawanan. Lei Hou akhirnya menyadari bahwa sejak ia melangkah ke dalam Garda Prefektur Liang, takdirnya sebagai tawanan telah ditentukan. Ia bukan tandingan pria ini, yang ketika usianya enam belas tahun, mampu menenggelamkan enam puluh ribu orang di Kota Guo dan membunuh Zhao Nuo tanpa mengubah ekspresinya. Tak seorang pun dapat menandingi kekejaman dan metodenya.

"Kumohon." Lei Hou berlutut perlahan, bersujud pada Xiao Jue. "lepaskan istri dan anakku."

Xiao Jue menatapLei Hou sejenak sebelum berbicara dengan santai ke arahnya, "Baiklah, kutanyakan lagi – apakah kau hanya berkomunikasi dengan alibimu melalui surat?"

"Iya, iya!" Setelah memutuskan untuk menyerah, satu-satunya tujuannya adalah agar Xiao Jue melepaskan keluarganya. Ia menceritakan semuanya, berharap mendapatkan sedikit belas kasihan dari pria di hadapannya ini. "Kami berkirim surat sebulan sekali. orang itu sebelumnya mengirim surat dari Ibu Kota Shuo, lalu pindah ke Ji Yang. Hanya itu yang kutahu. Jika kau ingin menemukannya, pergilah ke Ji Yang – kau akan menemukannya di sana!"

"Kota Ji Yang..." Xiao Jue merenung, menatap Lei Hou. "Kota Ji Yang tidak mengizinkan orang luar tinggal lama didalamnya. Dengan identitas apa alibimu memasuki kota ini?"

"Aku tidak tahu," kata Lei Hou. "Aku hanya tahu dia tinggal di Paviliun Cuiwei di Ji Yang."

"Paviliun Cuiwei." Xiao Jue berdiri, lalu berkata, "Aku mengerti."

"Xiao Huaijin... Komandan Xiao!" panggil Lei Hou, merangkak seperti anjing sejauh dua langkah, sambil berteriak ke arahnya, "Aku sudah menceritakan semua yang kutahu. Bisakah kau melepaskan istri dan anakku sekarang?"

Pemuda tampan itu berhenti di pintu tanpa menoleh, suaranya bernada mengejek: "tidak perlu terburu-buru. Mungkin dalam beberapa hari, kau akan mengingat sesuatu yang lain. Aku bisa membebaskan mereka nanti."

Dia berbalik dan berjalan keluar.

Di luar pintu, Chi Wu sudah menunggu.

Melihat Xiao Jue yang sudah berjalan keluar, Chi Wu berkata, "Tuan Muda, ada kabar dari Luan Ying."

Xiao Jue: "Lanjutkan."

"Kami telah menemukan keberadaan Chai Anxi. Dia saat ini berada di Ji Yang."

"Ji Yang?" Xiao Jue berbalik.

Chi Wu, yang tidak tahu apa yang baru saja terjadi di penjara bawah tanah, dengan ragu-ragu bertanya, "Ada yang salah?"

Fei Nu mengikuti dari belakang, ekspresinya muram, "Utusan yang disebutkan Lei Hou juga ada di Ji Yang."

"Tuan Muda, apakah Kau curiga..." Fei Nu terkejut, "bahwa orang yang diam-diam berkoordinasi dengan Lei Hou adalah Chai Anxi?"

"Tanpa melihat orangnya, kita tidak bisa memastikannya."

"Tapi," Chi Wu tak kuasa menahan diri untuk bertanya, "Ji Yang adalah wilayah kekuasaan Pangeran. Mereka tidak pernah mengizinkan orang luar untuk tinggal lama, dan bahkan untuk kunjungan singkat sekalipun, kita memerlukan izin perjalanan. Bahkan kita pun tidak bisa pergi ke sana sesuka hati. Bagaimana Chai Anxi bisa masuk kesana? Dan tinggal di sana selama berhari-hari? Mungkinkah ini jebakan?"

"Tdak tahu? Lei Hou tidak mengatakannya." Fei Nu melirik ekspresi Xiao Jue dan bertanya dengan hati-hati, "Tuan Muda, haruskah kita mencari cara untuk pergi ke Ji Yang dulu?"

"Lebih mudah diucapkan daripada dilakukan," Chi Wu meredam antusiasmenya. "Ketika Tuan Xiao masih hidup, beliau hanya ingin tinggal beberapa hari sambil melewati Ji Yang, tetapi Pangeran Ji bahkan tidak mengizinkan pasukan Tuan Xao memasuki kota. Katanya mereka membutuhkan izin perjalanan, yang harus diperoleh dari kantor pemerintah dan dilaporkan ke istana. Kita tidak bisa menarik perhatian dalam perjalanan ini – bagaimana kita bisa mengatur untuk masuk ke Ji Yang?"

"Tidak usah terburu-buru." Xiao Jue memainkan kunci umur panjang di tangannya. "Tunggu beberapa hari lagi."

Chi Wu dan Fei Nu bertukar pandang. Melihat kunci umur panjang di tangan Xiao Jue, Fei Nu teringat kata-kata Lei Hou tadi dan bertanya, "Tuan Muda, istri dan anak Lei Hou masih di bawah pengawasan kita... haruskah kita lanjutkan atau..."

Orang-orang di ibu kota mengawasi kediaman keluarga Lei Hou. Akhir-akhir ini, meskipun mereka dikurung, tidak ada yang terluka. Dengan kabar dari Ji Yang, dan melihat kondisi Lei Hou, sepertinya ia tidak punya informasi lebih lanjut untuk diberikan. Bagaimana Lei Hou akan mengurus istri dan anaknya masih menjadi pertanyaan.

Tatapan Xiao Jue tertuju pada kunci umur panjang di tangannya. Xiao Jue tertawa sekali dan dengan santai melemparkan kunci umur panjang itu ke Chi Wu.

Chi Wu: "Tuan Muda?"

Xiao Jue berbalik dan berjalan maju, berkata dengan malas, "Lepaskan mereka."

Disclaimer: Terjemahan ini dilakukan secara sukarela untuk tujuan berbagi hobi dan apresiasi karya. Seluruh hak cipta, termasuk karakter, alur cerita, dan judul adalah milik penuh penulis asli dan penerbit. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas konten ini. Jika Anda menyukai ceritanya, dukung penulis aslinya melalui platform resmi.

Komentar