Legend of the Female General-Bab 121 Hadiah

"Aku sudah hafal, Ayah," kata He Yan.

Xiao Jue menatap He Yan dengan tatapan tidak percaya. "Kau baru saja memanggilku apa?"

He Yan menatap Xiao Jue dengan mata jernih dan sungguh-sungguh, lalu melantunkan dengan serius, "Jalan menuju pembelajaran yang agung terletak pada kebajikan yang cemerlang, mencintai sesama, dan bersandar pada kebaikan tertinggi. Hanya dengan mengetahui di mana harus berhenti, stabilitas dapat terwujud; dengan stabilitas muncullah ketenangan; dengan ketenangan muncullah perhatian; dengan perhatian, pencapaian tujuan tercapai... Segala sesuatu memiliki akar dan cabangnya, setiap urusan memiliki awal dan akhir... Pengetahuan berasal dari menyelidiki berbagai hal... Semua ini didasarkan pada pengembangan diri... Tidak pernah ada kasus di mana apa yang benar-benar penting dianggap tidak penting, atau apa yang kurang penting dianggap penting!"

Lin Shuanghe pertama-tama menatap He Yan dengan takjub, lalu perlahan tersadar dan menunjuk He Yan, lalu bertanya pada Xiao Jue, "Apakah He meimei, mabuk?"

Sebelum kata-katanya selesai, He Yan tiba-tiba bergegas maju, menghambur ke pelukan Xiao Jue dan memeluk pinggangnya, hampir membuat Xiao Jue terhuyung ke belakang. He Yan membenamkan wajahnya di dada Xiao Jue dan berkata dengan terbata-bata, "Ayah, aku sudah hafal, aku sudah jauh lebih baik sekarang!"

Ruangan itu menjadi sunyi senyap.

Kata-kata saja hampir tidak bisa menggambarkan bagaimana ekspresi Xiao Jue yang tidak enak dipandang saat ini.

Lin Shuanghe menutupi wajahnya, bahunya bergetar hebat karena tawa yang tidak bisa tertahan.

"Ya ampun, Huaijin, aku pernah melihat orang memperlakukanmu seperti suami, tapi ini pertama kalinya aku melihat seseorang memperlakukanmu seperti ayah. Bagaimana rasanya menjadi seorang ayah? Dan betapa menggemaskannya putrimu! Dia menghafal dengan sangat baik, sungguh berbakat!"

Terdorong oleh pujian Lin Shuanghe atas "bakatnya", He Yan mengangkat kepalanya dari dada Xiao Jue, matanya berbinar saat menatap Xiao Jue. "Ayah, aku sekarang orang nomor satu di Garda Liangzhou."

Xiao Jue meraih lengan milik He Yan, mencoba melepaskan tangan itu dari pinggangnya. "Lepaskan."

"Aku tidak mau!" Kekuatan He Yan luar biasa, mungkin karena latihan angkat kunci batunya setiap hari, dan Xiao Jue tidak bisa melepaskan pelukan He Yan dari pinggangnya. He Yan menatap Xiao Jue. "Uji aku, aku bisa menjawab apa saja."

He Yan terlihat seperti anak kecil yang dengan bangga mengibaskan ekornya setelah meraih juara pertama.

Xiao Jue memegang dahinya. "Lepaskan dulu."

"Tidak." He Yan memeluk pinggang Xiao le Jue dengan lebih erat, mencoba menekan tubuhnya pada tubuh Xiao Jue. Xiao Jue dengan putus asa mencondongkan tubuh ke belakang, berusaha menjaga jarak di antara mereka, tetapi usahanya sia-sia.

Saat Xiao Jue berusaha melepaskan tangannya He Yan dari pinggangnya, Lin Shuanghe berkata, "Hei, aku harus memperingatkanmu kalau He meimei masih terluka. Kalau kau memaksa melepaskan tangannya, lukanya bisa semakin parah. Butuh waktu setengah tahun lagi untuk sembuh, dan itu tidak baik."

Tatapan Xiao Jue setajam pisau: "Cari cara untuk melepaskannya dariku."

"Biarkan dia memelukmu sebentar saja," Lin Shuanghe menikmati pemandangan itu. "Mungkin kau mirip dengan ayahnya He Yan, itulah sebabnya dia salah mengira kau adalah ayahnya saat mabuk. Dia hanyalah seorang gadis muda yang telah menempuh perjalanan ribuan mil ke Liangzhou, dan sudah lama tidak pulang – dia pasti merindukan ayahnya. Tidak bisakah kau membiarkannya," Lin Shuanghe memberi gerakan memeluk dengan tangannya, "kehangatan keluarga? Jangan pelit, kau tidak kehilangan apa pun."

Sebelum Xiao Jue sempat merespon, orang di pelukannya sudah membenamkan kepalanya di dadanya dan mulai menghafal lagi dengan suara teredam.

"Jenderal adalah orang yang memimpin urusan sipil dan militer. Orang yang menggabungkan kekerasan dan kelembutan, menangani urusan militer. Ketika orang menilai seorang jenderal, mereka sering kali melihat keberanian, tetapi keberanian hanyalah satu bagian dari banyak kualitas yang dibutuhkan seorang jenderal. Orang yang berani cenderung berpikiran pendek, dan berpikiran pendek tanpa memahami keuntungan tidaklah memadai. Oleh karena itu, seorang jenderal harus berhati-hati dalam lima aspek: Pertama, prinsip, kedua, persiapan, ketiga, tekad, keempat, disiplin militer, dan kelima, keringkasan. Prinsip berarti memimpin banyak orang seolah-olah hanya memimpin sedikit orang; persiapan berarti meninggalkan rumah seolah-olah menghadapi musuh; tekad berarti menghadapi musuh tanpa memikirkan kelangsungan hidup; disiplin militer berarti mempertahankan semangat tempur awal bahkan setelah kemenangan; keringkasan berarti menjaga hukum dan perintah tetap sederhana dan tidak membebani. Menerima perintah tanpa menolak dan berbicara tentang kembali hanya setelah mengalahkan musuh – inilah etiket seorang jenderal. Jadi, ketika pasukan berangkat, ada kemuliaan kematian tetapi tidak ada aib kelangsungan hidup."

Lin Shuanghe mendengar dengan takjub. Meskipun ia tahu bagian pertama yang dihafalkan He Yan, ia tidak tahu bagian ini. Ia bertanya pada Xiao Jue, "Apa yang sedang dihafalkan He meimei?"

"Bab 'Diskusi Para Jenderal' dari Seni Perang Wu Zi," jawab Xiao Jue, agak terkejut karena He Yan tahu teks ini.

"He meimei, benar-benar ahli dalam segala hal," puji Lin Shuanghe. "Dia bahkan tahu tentang teks ini."

"Tentu saja," He Yan menjulurkan kepalanya dari pelukan Xiao Jue, "Sebagai seorang Jendral, seharusnya ahli dalam banyak hal."

"He meimei punya ambisi besar," Lin Shuanghe tersenyum. "Dia bahkan ingin menjadi jenderal."

"Aku sudah jadi Jenderal wanita!"

"Iya, iya," Lin Shuanghe tertawa, menutupi wajahnya dengan kipasnya. "Lihat betapa hebatnya dirimu."

He Yan mendongak lagi, menatap Xiao Jue, dan bertanya dengan gembira, "Ayah, apakah aku menghafal dengan baik?"

"Ayah" lagi – perasaan Xiao Jue saat ini tidak terlukiskan.

Di luar pintu, Shen Han baru saja mendekat lalu ia melihat dua orang berpelukan melalui jendela yang terbuka. Ketika ia melihat lebih dekat, ia menyadari bahwa Xiao Jue sedang memeluk He Yan, sementara He Yan memeluk pinggang Xiao Jue, mereka terlihat berbisik tentang sesuatu yang tidak diketahui. Shen Han tertegun, wajahnya langsung memerah, merasa pemandangan ini sungguh tidak terbayangkan.

Astaga! Meskipun ia tahu hubungan mereka berdua tidak biasa, menyaksikan adegan intim seperti ini tetap saja mengejutkan. Shen Han merenung sejenak apakah ini berarti Xiao Jue masih menyimpan perasaan untuk He Yan, atau mungkin mereka telah memperbaiki hubungan mereka dan memperbaiki cermin mereka yang rusak.

Dan ada Lin Shuanghe di ruangan itu juga, hanya berdiri di sana menonton – tidakkah dia merasa seperti orang ketiga? Xiao Jue dan He Yan bermesraan sementara Lin Shuanghe menonton, tidakkah mereka merasa canggung?

Para pejabat tinggi dari Shuojing ini sulit dimengerti. Karena sudah berdiri cukup lama, Shen Han pun merasa lelah. Dia berbalik sambil berjingkat pergi.

Yah, lebih baik berpura-pura tidak melihat apa-apa!

Di dalam ruangan, Lin Shuanghe hampir mati karena tertawa, sementara wajah Xiao Jue pucat pasi. Setelah beberapa kali mencoba menarik tangan He Yan dan gagal, He Yan masih memeluk erat pinggang Xiao Jue seolah-olah sedang memegang pusaka keluarganya.

"Ayah, aku sudah meningkat, aku juara satu sekarang, kenapa Ayah tidak mengatakan apa-apa," katanya sedih. "Ayah tidak memujiku?"

Xiao Jue: "Aku bukan ayahmu."

Pernyataan ini justru memperburuk keadaan – mata He Yan langsung berkaca-kaca saat ia menatap Xiao Jue seolah-olah Xiao Jue telah melakukan dosa yang tidak terampuni. He Yan bertanya, "Kau juga tidak mengenaliku?"

Xiao Jue terdiam, tiba-tiba merasakan kejengkelan yang tidak terjelaskan.

Ia paling takut pada air mata wanita, terutama dalam situasi sekarang ini dimana ia seolah-olah telah membuat He Yan menangis.

Benar saja, Tangan Dewa Berjubah Putih, yang paling bersimpati pada kecantikan yang sedang kesusahan, segera membela adik perempuannya yang baru saja dikenalnya. Lin Shuanghe berkata, "Hanya sepatah kata, dan lihat, kau sudah membuat nona muda menangis. Anak yang begitu bijaksana dan pintar, dan kau bahkan tidak mau mengakuinya? Orang lain pasti akan berebut untuk mengakuinya sebagai anak mereka, kau tahu? Xiao Huaijin, pujilah dia, sekarang juga, segera!"

Xiao Jue: "..."

Sambil menahan rasa kesalnya, Xiao Jue menunduk menatap He Yan. He Yan masih mengenakan pakaian laki-laki seperti biasanya, tetapi dengan alis berkerut dan ekspresi memelas, ia benar-benar tampak seperti gadis kecil. Mungkin HE Yan salah mengiranya sebagai He Sui... apakah He Sui biasanya sangat tegas padanya? Bahkan saat mabuk, He Yan tetap meminta pengakuan ayahnya.

Pada saat itu, Xiao Jue melihat bayangan dirinya dalam diri gadis ini.

Tiba-tiba Xiao Jue memelas, menyerah untuk melepaskan tangan He Yan, drinya terlihat seperti orang yang pasrah, dan berkata, "Kau melakukannya dengan sangat baik."

"Benarkah?" He Yan langsung menatap Xiao Jue dengan mata berbinar.

"Benar." Xiao Jue berbicara bertentangan dengan isi hatinya.

"Terima kasih," He Yan menjadi agak malu, "Aku akan melakukannya dengan lebih baik lain kali, membuat Ayah lebih bangga lagi."

Kepala Xiao Jue berdenyut-denyut. Ia hanya berkata, "Kalau begitu lepaskan aku dulu, kau memelukku terlalu erat."

"Tapi aku suka memeluk Ayah," He Yan menunjukkan senyum puas, memeluk Xiao Jue dengan penuh semangat tanpa ingin melepaskannya, "Aku sudah lama ingin memeluk Ayah seperti ini. Mengapa saudara perempuan yang lan bisa melakukannya, tetapi aku tidak bisa?"

Lin Shuanghe, yang sedari tadi tertawa, mendengar perkataan He Yan ini membuatnnya hampir meneteskan air mata simpati. Lin Shuanghe berkata, "Apakah He meimei dikucilkan di rumahnya? Apakah ayahnya tidak pernah memeluknya?"

Xiao Jue juga bingung – menurut surat rahasia dari Shuojing, He Sui hanya memiliki satu putra dan satu putri, dan He Yan hanya memiliki seorang saudara laki-laki. Dari mana asal saudara perempuan ini?

"Aku berada diperngkat pertama sekarang," He Yan menatap Xiao Jue, bertanya, "Ayah, apa Ayah tidak senang?"

Xiao Jue: "..."

Xiao Jue berkata tanpa ekspresi, "Aku sangat senang."

"Lalu apa hadiahku?"

"Hadiah?" Xiao Jue mengerutkan kening, "Hadiah apa yang kau inginkan?"

He Yan mengusap-usap wajahnya ke kancing bajunya Xiao Jue. Wajahnya terasa panas, dan kesejukan dari baju Xiao Jue terasa menyenangkan, tetapi gerakan He Yan itu membuat tubuh Xiao Jue menegang.

"Kau... jangan bergerak!" Tepat saat Xiao Jue mengatakan ini, ia melihat He Yan melepaskan cengkeramannya dan meraba sesuatu di pinggangnya, dengan penuh kemenangan mengangkat benda itu untuk ditunjukkan kepadanya.

"Aku mau ini!"

"Ini tidak boleh." Xiao Jue mengulurkan tangan untuk mengambil benda yang diambil He Yan dari pinggangnya, tetapi He Yan menghindar.

Meski mabuk dan bingung, gerakan He Yan tetap lincah dan langkahnya tegap. Melihat penampilannya saat ini, tak ada yang tahu bahwa ia sedang mabuk.

He Yan menundukkan kepalanya untuk memeriksa benda yang berada di tangannya – benda itu adalah liontin giok berukir pola ular, dan yang lebih luar luar biasa, liontin itu adalah giok hitam. Halus dan dingin saat disentuh, benda itu sangat berharga.

He Yan sangat senang mengambil dengan benda itu, ia tidak bisa melepaskannya benda itu lalu dia berkata, "Terima kasih, Ayah!"

Xiao Jue tertawa jengkel: "Aku tidak bilang kau boleh memiliki liontin itu."

Lin Shuanghe menghalangi usaha Xiao Jue untuk mengambil batu giok itu, berkata, "Untuk apa berdebat dengan orang mabuk? Biarkan dia memainkannya sekarang, dan besok saat dia sudah sadar, kau bisa memintanya kembali. Apa dia akan menolak? Meskipun begitu," ia mengelus dagunya, "He meimei punya penglihatan yang tajam – dia bisa langsung melihat benda paling berharga di tubuhmu, lumayan."

Xiao Jue tak mau repot-repot menanggapi Lin Shuanghe, tetapi ia juga menyerah untuk mengambil giok itu dari He Yan.

"Lihat ini," Lin Shuanghe berjalan mendekati He Yan dan terbatuk pelan: "He meimei, aku ingin bertanya, apakah kau suka giok ini?"

He Yan memainkan liontin giok di tangannya: "Aku suka."

"Apakah kau suka Chu Zilan?"

"Chu Zilan..." tanya He Yan bingung, "Siapa dia?"

"Mabuk dan dia tidak ingat orang itu – sepertinya dia bukan satu kelompok dengan Chu Zhao." Lin Shuanghe tersenyum cerah, "Lalu apakah kau suka Xiao Jue?"

Xiao Jue: "Apakah kau sudah selesai?"

Tanpa diduga, He Yan mengangkat kepalanya, seolah sedang memikirkan nama itu, lalu setelah beberapa saat mengangguk: "Suka."

Mata Lin Shuanghe berbinar: "Apa yang kau suka darinya?"

"Obat... memberiku..." He Yan memegangi kepalanya: "Mengantuk sekali." Begitu ia selesai berbicara, dengan suara "plop," He Yan jatuh ke sofa di dekatnya dan mulai mendengkur keras.

Lin Shuanghe berdiri tegak: "Dia bilang pinggang."

Xiao Jue tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan He Yan dan merasa kesal, "Apa?"

"Dia suka pinggangmu," Lin Shuanghe mengipasi dirinya sendiri: "Terus terang sekali."

Xiao Jue melemparkan cangkir teh ke arah Lin Shuanghe: "Keluar!"

...

Sementara itu, di ruangan lain, Ying Xiang sedang membershkan toples anggur yang sudah kosong.

Halaman itu tampak masih menyimpan jejak aroma Anggur Musim Semi Chang'an.

Chu Zhao melepas pakaian luarnya, hanya mengenakan baju tidurnya, dan duduk di sofa. kasur di Garda Liangzhou tidak seperti di Shuojing – meskipun tidak sekeras platform tempat tidur, kasur itu hampir tidak bisa disebut nyaman.

Ying Xiang berjalan mendekat dan berlutut di depan sofa: "Tuan Muda, hambamu telah gagal memenangkan hati Tuan Muda He."

Pemuda bernama He Yan itu, masih sangat muda, telah minum setoples anggur dan tampak mabuk, namun bersikeras membahas strategi militer dengan Chu Zhao. Chu Zhao tidak mengerti urusan militer, jadi ia hanya mendengarkan penjelasan pemuda itu. Akhirnya, mungkin karena lelah, pemuda itu ditinggalkan sendirian.

Ying Xiang sangat percaya diri dengan kecantikannya. Meskipun ia tidak mengklaim bahwa semua orang akan terpikat oleh kecantkannya, seperti Xiao Huaijin dan Chu Zilan, berurusan dengan seorang rekrutan dari Garda Liangzhou, seorang pemuda, seharusnya lebih dari mudah. ​​Namun malam ini, meskipun ia menunjukkan segala macam tutur kata yang lembut dan pesona yang memikat, tatapan He Yan hanya menunjukkan kekaguman, tanpa sedikit pun hasrat.

Cara pandang seorang pria jika terlihat berbeda terhadap seorang wanita dapat langsung terlihat. Pemuda bernama He Yan itu, meskipun terpukau oleh kecantikannya, tidak memendam pikiran lain.

Hal ini membuat Ying Xiang merasa kalah.

Tuannya, Chu Zhao, mendengar hal ini awalnya tertegun, lalu menggelengkan kepala dan tersenyum, sambil berkata: "Ini bukan salahmu."

Ying Xiang mendongak: "Tuan Muda Keempat..."

Chu Zhao memandangi dupa yang menyala di atas meja kamar, dupa yang menenangkan yang dibawa dari Shuojing – ia selalu dapat tidur dengan nyenyak jika dupa itu dinyalakan oleh sebab itu ia selalu membawa dupa itu ke mana pun ia pergi.

Matanya menyala teringat kembali kejadian di lapangan berkuda di Shuojing – melihat mata wanita yang tampak hidup di balik kain kasa putih.

"Siapa sangka di antara rekrutan Garda Liangzhou, akan ada seorang wanita?"

Perlahan ia mulai tersenyum.

...

Saat He Yan terbangun, dia berada di kamarnya, tergeletak di tempat tidur, satu kakinya menjuntai di tepi tempat tidur, tidak ditutupi selimut.

Di luar, matahari bersinar terang, sinarnya menembus celah jendela. Cahayanya menyilaukan matanya, membuat He Yan untuk sementara tidak tahu apakah saat ini siang atau malam, atau sudah jam berapa sekarang.

He Yan duduk dan menggelengkan kepalanya. Anehnya, tidak ada rasa sakit karena mabuk, malah ia merasa segar dan jernih. He Yan merasa anggur Mata Air Chang'an memang jauh lebih baik daripada anggur kuning yang ada di Garda Liangzhou yang kualitasnya lebih rendah – meskipun anggur mata air chang'an lebih kuat, tidak membuat sakit kepala setelahnya. Ada alasan di balik harga premiumnya.

Tadi malam, dia ditarik oleh Chu Zhao dan pelayannya untuk minum dua gelas anggur di kamar Chu Zhao. Sepertinya dia minum terlalu banyak, alkohol membuatnya mabuk dan mengantuk, dan dia tidak tahu kapan dia kembali ke kamarnya untuk tidur. Tapi melihat situasi sekarang, dia mungkin tidak membuat masalah seperti terakhir kali ia mabuk.

He Yan berencana untuk bangun dan menuangkan teh untuk dirinya sendiri – setelah tidur semalaman, ia sangat haus. Namun, begitu ia menggerakkan tangannya, ia merasakan tangannya mencengkram sesuatu. Menunduk, ia melihat tangan kanannya masih menggenggam erat sesuatu yang tampak seperti liontin giok.

Benda apa ini? Kapan benda ini berakhir di tangannya? He Yan tertegun sejenak, membuka telapak tangannya untuk memeriksa benda itu dengan saksama.

Liontin giok hitam di telapak tangannya tidak besar, tetapi memiliki ukiran yang sangat rumit, dengan pola ular yang rumit dan megah. Saat ia menggerakkannya, liontin itu memantulkan cahaya yang elegan, tidak seperti liontin giok biasa.

Apakah ia merampok dalam keadaan mabuk tadi malam? He Yan menatap liontin giok itu dengan bingung.

Memutuskan untuk bertanya kepada orang lain, He Yan meletakkan liontin giok di atas meja terlebih dahulu, lalu bangkit untuk mandi dan berganti berpakaian. Setelah siap, ia mengambil liontin giok dan keluar, berencana untuk bertanya kepada Song Taotao apakah ada sisa bakpao – ia bangun terlalu siang dan melewatkan waktu sarapan.

Begitu ia keluar, ia bertemu Shen Muxue, yang tinggal di dekat situ. Shen Muxue sedang membawa nampan obat menuju ruang medis dan berhenti untuk menyapa He Yan ketika ia melihatnya.

"Nona Shen," tanya He Yan, "Apakah Nona Muda Song ada di sini? Aku perlu menemuinya untuk sesuatu."

Shen Muxue menjawab, "Dia tidak ada di kamarnya, dia pergi ke tempat latihan. Ada perlu apa? Jika penting, aku bisa menyampaikan pesan saat dia kembali nanti."

He Yan menggaruk kepalanya: "Bukan masalah besar. Kalau dia tidak di sini, ya sudahlah." Ia berbalik dan hendak pergi.

Saat He yan bergerak, liontin giok di tangannya terlihat, membuat Shen Muxue terdiam dan dengan ragu berkata: "Giok itu..."

Oh? Sepertinya Shen Muxue tahu siapa pemilik liontin giok ini.

"Nona Shen mengenali liontin giok ini?" He Yan tersenyum santai.

Shen Muxue masih tampak terkejut: "Bagaimana liontin giok Komandan bisa ada di tanganmu?"

Milik Xiao Jue?

Bagaimana liontin giok Xiao Jue bisa sampai padanya? He Yan juga ingin tahu – namun dia tidak tahu! Apa sebenarnya yang dia lakukan setelah minum tadi malam? Apakah dia bertengkar lagi dengan Xiao Jue dan mencuri gioknya?

Bertemu tatapan curiga dari Shen Muxue, He Yan berdeham: "Ini memang liontin giok Komandan. Kemarin saat berbicara dengan ku, beliau merasa kurang nyaman memakainya, jadi beliau meminta ku untuk menyimpannya sementara. Aku... aku baru saja akan mengembalikannya."

"Tapi..."

"Nona Shen, He xiong." Suara Lin Shuanghe terdengar dari belakang. Ia pasti mendengar sebagian percakapan He Yan dan Shen Muxue, lalu tersenyum sambil melambaikan kipasnya, "Nona Shen, apakah kau akan pergi ke ruang medis?"

Shen Muxue mengangguk pelan.

"Kalau begitu cepatlah, atau obatnya akan dingin." Ia lalu menoleh ke He Yan: "He xiong belum makan, kan? Aku punya beberapa kue kering, ada beberapa untuk mengisi perutmu."

He Yan berkata: "Terima kasih, Tuan Muda Lin."

Setelah Shen Muxue mengucapkan selamat tinggal, He Yan mengikuti Lin Shuanghe ke kamarnya, ragu untuk bertanya, tidak tahu harus mulai dari mana.

Lin Shuanghe meletakkan beberapa piring kue kering gurih di atas meja dan menuangkan secangkir teh hangat untuknya. Melihat sikap He Yan yang ragu-ragu, ia tersenyum penuh arti: "Masih memikirkan batu giok itu?"

He Yan terkejut: "Kau tahu?"

"Tadi malam ketika He meimei mabuk dan pergi ke kamar Huaijin, aku selalu ada di sana." Lin Shuanghe menopang dagunya dengan gagang kipasnya, "He meimei benar-benar membuka mataku."

He Yan semakin gelisah mendengar kata-kata Lin Shuanghe, tetapi setelah dipikir-pikir lagi, ia memang orang yang pendiam dan tak mungkin membuat keributan saat mabuk. Paling-paling, ia mungkin bertarung dengan Xiao Jue, tetapi apakah Xiao Jue begitu lemah sehingga ia tidak hanya mengalahkannya, tetapi juga berhasil mencuri gioknya?

"Tadi malam... aku tidak melakukan hal yang tidak pantas, kan?" tanya He Yan ragu-ragu.

Pertanyaan ini justru memperburuk keadaan, karena Lin Shuanghe seakan teringat sesuatu yang lucu. Awalnya ia berusaha menahan tawa, lalu benar-benar kehilangan kendali dan tertawa terbahak-bahak. He Yan memperhatikan pemuda yang anggun ini tertawa terbahak-bahak, kehilangan ketenangannya, sama sekali tidak seperti tuan muda dari Shuojing yang anggun.

Melihat Lin Shuanghe tertawa terbahak-bahak He Yan menjadi semakin cemas, dan ketika Lin Shuanghe akhirnya berhenti tertawa, He Yan bertanya: "Dokter Lin, apa sebenarnya yang kulakukan hingga kau menganggapnya begitu lucu?"

"Bukan apa-apa," Lin Shuanghe melambaikan tangannya, masih tertawa: "Sebenarnya, itu bukan masalah yang besar, hanya saja kau memberi Xiao Huaijin bagaimana rasanya menjadi seorang ayah muda."

Kue daun bawang di tangan He Yan jatuh ke meja dengan bunyi "plop".

"Aku memanggilnya ayah?"

"Oh?" tanya Lin Shuanghe penasaran, "Kau ingat?"

He Yan menutupi wajahnya – ia benar-benar tidak ingat. Namun, ia teringat suatu kejadian di pesta keluarga He semasa mudanya, ketika ia berhasil meningkatkan nilai pelajarannya dari peringkat terakhir menjadi peringkat ketiga terbawah, dan berharap mendapat pujian dari ayahnya. Namun, tidak ada yang memperhatikan, dan di pesta itu, ia secara tidak sengaja minum anggur prem, mengira itu adalah minuman osmanthus. Saat itu, He Yan belum bergabung dengan militer dan belum memiliki toleransi terhadap seribu cangkir anggur saai itu, sehingga ia pingsan setelah meminum satu cangkir. Mereka mengatakan ia memeluk kaki He Yuanliang, memanggilnya ayah, dan meminta hadiah.

Keesokan harinya ketika ia sadar, semua anggota keluarga He mengatakan itu pasti karena He Yuansheng terlalu keras pada He Yan, menyebabkan He Yan mengira paman keduanya sebagai ayahnya dan bersikap manja. Namun, Nyonya He sangat tabu tentang hal itu dan memarahi He Yan secara pribadi, memperingatkannya untuk tidak pernah mengucapkan kata-kata seperti itu lagi.

Namun, hal itu tetap menjadi penghalang yang mengganggu di hatinya. Karena ia tak pernah menerima pengakuan, ia sangat menginginkan pengakuan itu. Karena ia melihat saudara perempuannya yang lain bersikap manja kepada ayah mereka, ia ingin ayahnya menepuk kepalanya dan berkata: "Kau hebat."

Mungkin melihat Lin Shuanghe di Garda Liangzhou kini terus mengingatkannya pada hal-hal di masa mudanya. Apa yang memenuhi pikiran di siang hari muncul dalam mimpi di malam hari, dan bahkan ketika mabuk pun ia tak bisa menghindarinya, malah menjadikan dirinya bahan tertawaan.

Apa yang sudah terjadi, biarlah terjadi, lagi pula ia tak bisa memutar waktu. He Yan meletakkan batu giok itu di atas meja: "Jadi, bagaimana batu giok ini bisa ada ditanganku?"

"Ini hadiah Huaijin untukmu," kata Lin Shuanghe sambil menahan tawa.

"Hadiah?"

"Kau menghafalkan teks dengan sangat baik, menyelesaikan 'The Great Learning' dan 'Wu Zi's Art of War' di depan Huaijin. Dia sangat senang dan memberimu gioknya sebagai hadiah."

He Yan: "...Aku mencurinya, benarkan?"

Lin Shuanghe tak kuasa menahan tawanya lagi, lalu tertawa terbahak-bahak sambil mengipasi dirinya sendiri, "He meimei, seharusnya kau lihat wajah Huaijin saat itu. Aku sudah lama mengenalnya, dan baru pertama kali ini melihatnya segugup ini."

"Katakan padaku, perempuan mana yang berani memeluknya dan menolak untuk melepaskannya, memaksanya mundur selangkah demi selangkah, bahkan membuatnya menyerahkan giok pusaka keluarganya tanpa protes? Hanya kau, Meimei," Lin Shuanghe menggenggamkan tangannya pada He Yan, "hanya kau!"

He Yan merasa pusing mendengar kata-kata Lin SHuanghe, tetapi menangkap kata penting: "Pusaka keluarga?" He Yan menatap batu giok di atas meja: "Ini?"

"Malam ketika Nyonya Xiao mau melahirkan, ia bermimpi seekor ular hitam membawa dua potong batu giok, melilit pilar di gerbang rumah mereka. Setelah Xiao Jing lahir, ia diberi gelar Rubi. 'Seperti seorang pria sejati, seperti logam, seperti timah, seperti gui, seperti bi.'"

"Saat Xiao Jue lahir, ia bergelar Huaijin."

He Yan berkata: "Memegang giok dan permata, tanpa tempat untuk memamerkannya."

"Ya, tepat sekali!" Lin Shuanghe menutup kipasnya, "Kedua saudara itu memiliki nama yang berkaitan dengan giok, dan karena Nyonya Xiao memimpikan ular hitam, Ibu Suri menganugerahkan giok dua warna, setengah hitam dan setengah putih, yang dibuat menjadi dua liontin bermotif ular. Yang putih diberikan kepada Xiao Rubi dan yang hitam kepada Xiao Huaijin. Sejak aku mengenal Xiao Huaijin, aku belum pernah melihat liontin giok ini meninggalkan tubuhnya."

He Yan menatap liontin giok di hadapannya, tiba-tiba merasa berat liontin giok itu setara dengan ribuan emas.

"Seperti yang kukatakan, He meimei, kau punya penglihatan yang tajam," puji Lin Shuanghe kagum. "Dari semua harta yang dimiliki Xiao Huaijin, selain dirinya sendiri, hanya giok ini yang paling berharga. Kau telah menangkap keduanya, menangkap sepenuhnya dan ditangkap dengan indah!"

Disclaimer: Terjemahan ini dilakukan secara sukarela untuk tujuan berbagi hobi dan apresiasi karya. Seluruh hak cipta, termasuk karakter, alur cerita, dan judul adalah milik penuh penulis asli dan penerbit. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas konten ini. Jika Anda menyukai ceritanya, dukung penulis aslinya melalui platform resmi.

Komentar