Legend of the Female General-Bab 120 Mabuk
Saat He Yan sedang mengobrol dengan Chu Zilan, ia tidak menyadari bahwa Xiao Jue dan Lin Shuanghe sedang berdiri di balik pohon tak jauh dari sana.
Saat memperhatikan He Yan dan Chu Zilan, Lin Shuanghe bertanya, "Sepertinya He xiong mengenal Chu Zilan. Kenapa dia bilang tidak mengenalnya saat aku bertanya kemarin?"
"Kau bertanya padanya tentang Chu Zilan?"
"Iya, aku bahkan bertanya padanya, pihak mana yang akan dia dukung jika kau dan Chu Zilan berkonflik," Lin Shuanghe melambaikan kipasnya dan tersenyum. "Kau ingin tahu bagaimana jawabannya?"
Xiao Jue menjawab, "Tidak."
"Kenapa kau seperti ini?" Lin Shuanghe berkata, "Baiklah, aku akan memberitahumu. He Meimei berkata tanpa ragu bahwa dia tidak mengenal Chu Zilan dan tentu saja akan memihakmu. Namun," ia melirik kedua orang yang sedang berbicara di kejauhan, "dia jelas mengenal Chu Zilan, jadi mengapa dia bilang tidak mengenalnya kemarin?"
Xiao Jue mencibir, "Kenapa kau percaya kata-kata seorang pembohong?"
"Pembohong?" Lin Shuanghe menatap Xiao Jue. "Apa yang dia bohongi padamu? Mungkinkah," ia seolah menyadari sesuatu dan merendahkan suaranya pura-pura terkejut, "dia bekerja sama dengan Chu Zilan? Apa mereka berdua adalah orangnya Xu Jingfu?"
Xiao Jue tak mau repot-repot merespon.
Tepat pada saat itu, pelayan cantik bernama Ying Xiang menoleh dan melihat mereka, lalu segera memanggil dari jauh: "Komandan Xiao, Tuan Muda Lin."
Kini tak ada tempat untuk bersembunyi. Lin Shuanghe melangkah maju dan mengangguk dengan penuh wibawa: "Tuan Muda Keempat Chu, He xiong."
He Yan bertanya, "Apakah kau juga sedang menikmati sinar matahari?"
"Hanya jalan-jalan santai," Lin Shuanghe mengipasi dirinya sendiri, tatapannya berpindah-pindah antara He Yan dan Chu Zhao, seolah sedang menyelidiki mereka, "He xiong, apakah kau kenal Tuan Muda Keempat Chu sebelumnya?"
He Yan berkata, "Kita baru bertemu sekali. Ketika bertemu lagi di Garda Liangzhou, aku baru mengetahui bahwa dia adalah Tuan Muda Keempat Chu. Aku juga cukup terkejut."
"Bagaimana kalian bertemu? Ceritakan tentang itu?" Lin Shuanghe bersikeras.
Chu Zhao berdiri di sana sambil tersenyum, tidak menunjukkan niat untuk menjelaskan, sementara tatapan Xiao Jue tetap tenang namun membuat He Yan merasa agak dingin. Song Taotao, di sisi lain, sangat penasaran dan bertanya dengan penuh semangat, "Ya, ya, bagaimana kalian bertemu?"
"Jadi..," He Yan terpaksa menjelaskan dengan enggan, "Sebelumnya di Shuojing, aku pergi ke Letong Manor pada malam hari untuk berjudi dan memenangkan cukup banyak perak. Beberapa orang mengejar ku, dan kebetulan aku bertemu dengan Tuan Muda Keempat Chu. Dia menemukan perak ku yang terjatuh dan mengembalikannya padaku. Aku tidak tahu siapa dia saat itu, jadi aku buru-buru berterima kasih dan pergi."
"Letong Manor?" Song Taotao terkejut. "Kakak He, kamu berjudi?"
"Bukankah kau bilang ayahmu mengawasimu dengan ketat, tidak pernah membiarkanmu keluar rumah?" Lin Shuanghe tak kuasa menahan diri untuk bertanya.
He Yan mendongak, melihat ekspresi Xiao Jue yang penuh arti, dan merasakan kulit kepalanya merinding. He Yan mundur selangkah dan berkata, "Aku sedang sangat membutuhkan uang saat itu... Aku hanya pergi sekali! Tidak akan pernah ke Letong Manor lagi!"
Baik Lin Shuanghe maupun Xiao Jue tahu bahwa He Yan adalah seorang wanita, dan bagi seorang wanita untuk berjudi sendirian di malam hari memang memalukan. Lagipula, berjudi bukanlah kegiatan yang terhormat, dan harus mengatakannya di depan orang-orang yang begitu terhormat sungguh memalukan.
"Aku tak menyangka He Didi akan datang ke Garda Liangzhou," Chu Zhao tersenyum. "Ini pasti takdir di antara kita. Aku masih ingat kemampuan bertarungmu yang luar biasa saat menghadapi para preman malam itu."
"Apakah kau benar-benar sehebat itu?" Lin Shuanghe bertanya pada He Yan.
He Yan tersenyum acuh tak acuh, "Itu hanya keberuntungan."
"Pada jamuan perayaan malam ini, aku harus minum beberapa gelas bersama He Didi," kata Chu Zhao. "Untuk menghormati hubungan yang ditakdirkan ini."
He Yan menjawab, "Te-terima kasih, Tuan Muda Keempat Chu."
He Yan berpikir dalam hati bahwa Chu Zhao sangat mudah didekati. Sebagai putra Marquis Shi Jin dan kini murid kesayangan Xu Jingfu, ia luar biasa sabar dan lembut bahkan terhadap rekrutan biasa seperti dirinya. Terlepas dari apakah Chu Zilan baik atau buruk, keterampilan interpersonalnya tak dapat disangkal sangat baik.
"Ying Xiang," Chu Zhao melirik Song Taotao dan tersenyum, "Berikan kue gulung emas itu kepada nona muda ini. Aku tidak membutuhkannya."
Song Taotao diliputi kegembiraan. "Untuk-untukku?"
"Iya," jawab Chu Zilan dengan lembut. "Kalau kau suka, aku bisa meminta juru masak membuatkannya untukmu setiap hari."
"Tapi Tuan Muda," Ying Xiang ragu-ragu, "Juru masak itu dibawakan khusus untukmu."
"Aku tidak terlalu pilih-pilih soal makanan," kata Chu Zhao. "Tidak perlu membuat ini setiap hari."
"Baiklah..." Song Taotao ragu sejenak sebelum menatap Chu Zilan. "Terima kasih, Tuan Muda Keempat Chu."
"Sama-sama."
Melihat ini He Yan mengerti mengapa Lin Shuanghe mengatakan bahwa Chu Zilan baru-baru ini menjadi suami idaman nomor satu bagi para wanita Kerajaan Wei. Dengan penampilannya yang begitu tampan dan sikapnya yang lembut serta penuh perhatian terhadap wanita, tak heran ia populer di kalangan wanita dari segala usia.
Ying Xiang menyerahkan sepiring kue gulung emas kepada Song Taotao, dan Chu Zhao menoleh ke arah Xiao Jue, "Ke mana Komandan Xiao akan pergi?"
"Tempat latihan," Xiao Jue mengangkat sudut mulutnya. "Apakah Tuan Muda Keempat Chu ingin bergabung?"
"Aku tidak ikut," Chu Zhao tersenyum. "Aku akan kembali ke kamarku dan membaca sebentar."
Lin Shuanghe menangkupkan tangannya ke arah Chu Zhao, "Kalau begitu, sampai jumpa malam nanti." Ia lalu menoleh ke arah He Yan, "Bagaimana denganmu, He xiong?"
"Aku?" He Yan tidak berani berlama-lama di dekat Chu Zhao—biar bagaimana pun dia masih murid Xu Jingfu, dan kesetiaannya masih belum jelas. He Yan berkata, "Cuacanya bagus hari ini, jadi kupikir aku akan memanfaatkan sinar matahari untuk berjalan-jalan sebentar di halaman, untuk membantu pemulihanku."
"Tidak apa-apa," saran Lin Shuanghe. "Asal jangan banyak bergerak."
He Yan mengangguk.
Kelompok itu kemudian bubar.
Karena Chu Zhao tinggal di dekat sini, He Yan tidak berani keluar dengan bebas, meskipun ia ingin bertanya tentang keadaan di Shuojing saat ini. Namun, dilihat dari atmosfir antara Xiao Jue dan Chu Zhao, sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertanya.
He Yan pergi ke halaman dan mencoba berjalan tanpa tongkatnya untuk sementara waktu, berhenti hanya ketika ia merasa lelah. Kemudian He Yan kembali ke kamarnya untuk tidur dan membaca novel. Tanpa disadari, malam telah tiba.
Cheng Lisu mengetuk pintu kamar He Yan: "Kakak!"
He Yan pergi untuk membuka pintu.
Cheng Lisu mengenakan jubah baru berwarna kuning keemasan dengan sulaman ikan mas ekor hitan diujung ekornya yang disulam menggunakan benang emas. Ia tampak berseri-seri lalu menggenggam tangan He Yan: "Aku takut kau tidur, jadi aku tidak datang lebih awal. Bagaimana penampilan jubah baruku?"
He Yan bertanya, "Bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Apa?"
"Kenapa semua bajumu bersulam ikan mas?"
Sebelumnya ketika He Yan pergi ke Kota Liangzhou untuk menyamar sebagai Cheng Lisu, setiap jubah pemberian Cheng Lisu memiliki sulaman ikan mas di ujungnya. He Yan sudah lama ingin bertanya apakah ada makna khusus di baliknya.
"Ah, kau tidak tahu soal ini," Cheng Lisu berbalik. "Begini, ayahku jatuh cinta pada ibuku pada pandangan pertama, tapi keluarga ibu ku sudah merestui perjodohan lain. Keluarga ibu ku juga keberatan karena ayahku dua tahun lebih muda dari ibuku. Jadi, ayahku menyuap juru masak keluarga ibuku untuk mengantarkan ikan mas ke dapur kecil tempat makanan ibuku dipersapkan. Saat juru masak itu sedang menyiapkan ikan, ia menemukan surat di dalamnya. Ibuku tersentuh oleh surat itu, dan kemudian meyakinkan nenekku untuk menyetujui pernikahan mereka."
Cheng Lisu biasanya tak bisa mengingat puisi atau sastra, tetapi kini ia melantunkan puisi dengan percaya diri: "Seorang tamu datang dari jauh, membawakan dua ekor ikan mas; kupanggil anakku untuk memasak ikan mas itu, di dalamnya ada selembar sutra polos sepanjang 30 cm. Aku berlutut membaca surat sutra itu, apa isinya? Di atas bercerita tentang kerinduan yang tak kunjung usai, di bawah bercerita tentang makan enak." Ia berkata dengan bangga, "Dari situlah namaku berasal."
He Yan tercengang: "Cerita yang menarik!"
"Memang." Cheng Lisu berbalik untuk menunjukkan sulaman ikan mas di bajunya kepada He Yan. "Kemudian, baju dan jepit rambutku kebanyakan bermotif ikan mas. Lagipula, ikan mas adalah mak comblang orang tuaku – memakainya berarti memakai cinta mereka untukku!"
Saat itu, He Yan benar-benar iri pada Cheng Lisu dan berkata, "Orang tuamu hebat."
"Tentu saja mereka hebat." Setelah mengatakan ini, Cheng Lisu menatap He Yan. "Kakak, tidakkah kau akan mengenakan sesuatu yang berbeda untuk pesta perayaan malam ini?"
He Yan menunduk dan melihat dirinya sendiri: "Apa yang salah dengan pakaianku? Bukankah ini yang semua orang pakai?"
He Yan masih mengenakan seragam standar rekrutan Garda Liangzhou, ia secara khusus memilih warna merah untuk acara perayaan hari ini.
"Tapi kau adalah pahlawan yang mengalahkan Ri Da Mu Zi. Mengenakan pakaian seperti ini terlihat terlalu biasa."
"Aku tidak punya pakaian lain," kata He Yan. "Tidak apa-apa. Ayo pergi, para instruktur mungkin mulai tidak sabar."
Cheng Lisu mengangkat bahu dan tidak mempermasalahkannya lebih lanjut. Ia membantu menutup pintu kamar He Yan, dan mereka berjalan bersama menuju lapangan terbuka di bawah Gunung Bulan Putih.
Hari ini adalah jamuan perayaan untuk memperingati kemenangan para rekrutan Garda Liangzhou atas pasukan pemberontak Ri Da Mu Zi. Meskipun tidak ada salju malam ini, udaranya jauh lebih dingin dari biasanya. Api unggun berkobar di lapangan terbuka tempat dmana para rekrutan duduk di tanah, minum arak dan makan daging.
Meskipun mereka berpesta, dibandingkan dengan perayaan Festival Pertengahan Musim Gugur beberapa hari yang lalu, suasananya jauh lebih tenang. Lagipula, mereka baru saja kehilangan rekan prajurit, dan trauma perang masih belum pudar. Perayaan ini terasa agak dipaksakan.
Hadiah telah dibagikan ke setiap unit para instruktur. Xiao Jue sangat murah hati, memberikan semua rampasan perang kepada para prajurit, dan bahkan pujian Kaisar pun tidak disimpan untuk dirinya sendiri. Ketika Cheng Lisu tiba di lapangan, ia pergi menemui Xiao Jue, sementara He Yan langsung menuju ke area tempat dimana Hong Shan dan yang lainnya berkumpul. Ia tdak ke tempat latihan beberapa hari terakhir ini, jadi ia jarang bertemu rekan-rekan unitnya.
Xiao Mai berteriak ketika melihat He Yan: "Kak He, kau di sini!"
He Yan duduk di sampingnya.
"Apa kabar?" Hong Shan memberinya sepotong daging kelinci panggang. "Apakah kondisimu sudah lebih baik? Kulihat kau sudah tidak menggunakan tongkat lagi. Bisakah kau berjalan sekarang?"
He Yan mengambil daging kelinci yang mendesis karena minyak. Di musim dingin, sebagian besar hewan liar berhibernasi, sehingga kelinci sulit ditangkap. Aromanya saja sudah membuat air liurnya menetes. He Yan menggigit daging kelinci dan berkata sambil mengunyah, "Lumayan. Dua bulan lagi, aku akan bisa bertarung bersama kalian semua lagi."
"Benar juga," kata Wang Ba dengan nada meremehkan. "Bukankah kau selalu mencuri perhatian? Kudengar kau mendapat sepuluh tael perak dari hadiah yang dberikan Kaisar." Wang Ba sangat iri. "Kau benar-benar kaya!"
"Kakak He hampir kehilangan nyawanya, apalah arti sepuluh tael perak? Dia pantas mendapatkan yang lebih," Jiang Jiao angkat bicara. "Kupikir Kakak He akan naik pangkat kali ini, tapi ternyata tidak."
Mendengar hal ini membuat darah He Yan mendidih. Seharusnya, setelah mencapai prestasi seperti itu dan membantu Garda Liangzhou, ia seharusnya tidak lagi menjadi prajurit biasa. Sekalipun tidak dipromosikan lebih tinggi, setidaknya ia harus dipindahkan ke Kamp Sembilan Bendera, atau jika tidak di sana, ke Kamp Garda depan. Meskipun hadiahnya lebih besar daripada yang diterima rekrutan biasa, bagaimana dengan promosi? Bahkan tidak sedikit pun.
Apakah mendapat promosi jabatan sesulit ini di bawah komando Xiao Jue?
"Jangan bicarakan ini lagi, atau He didi akan marah lagi." Huang Xiong menyadari ketidakpuasan He Yan dan berkata, "Kau sudah mendapatkan rasa hormat dari semua orang di Garda Liangzhou. Sekalipun bukan sekarang, kau pasti akan dipromosikan. Tidak perlu terburu-buru."
He Yan berkata mengkhianati isi hatinya, "Aku tidak terburu-buru."
He Yan hanya berbaring sambil berguling-guling ditempat tidurnya namun tidak tertidur dimalam hari, ingin sekali menerobos masuk ke kamar Xiao Jue di sebelah dan menuntut jawaban, itu saja.
Meskipun disebut perjamuan perayaan, dengan absennya Xiao Jue dan hadiah yang sudah dibagikan, malam ini hanyalah pertemuan para rekrutan. Pasukan Garda Liangzhou duduk di dekat Gunung Bulan Putih, sementara pasukan Garnisun Selatan tetap dekat dengan Sungai Lima Rusa, menjaga jarak satu sama lain.
Shi Tou menuangkan semangkuk anggur untuk He Yan dan berkata, "Minumlah."
He Yan menatap mangkuk anggur yang hampir penuh itu lalu berkata. "Aku masih cedera, aku tidak bisa minum sebanyak ini."
"Benar, aku hampir lupa," Hong Shan mengambil mangkuk anggur itu. "Kalau begitu jangan minum alkohol, minum air saja."
He Yan berkata, "Baiklah."
Setelah duduk beberapa saat, He Yan mendengar seseorang memanggil dari belakang: "He Didi."
He Yan berbalik dan terkejut melihat Chu Zhao.
Di samping Chu Zhao ada Ying Xiang, pelayannya yang cantik bak bidadari. Wanita secantik itu jarang ada di Garda Liangzhou, dan rombongan Hong Shan tertegun sejenak. Wang Ba bergumam pelan, "Orang ini selalu beruntung dengan wanita cantik."
Wang Ba pikir ia berbicara dengan pelan, tetapi semua orang yang hadir mendengarnya. Ying Xiang tak kuasa menahan senyum, dan Chu Zhao pun ikut tertawa, "Tadi aku sudah bilang pada Saudara He bahwa aku harus berbagi minuman denganmu hari ini."
Ying Xiang berkata, "Tuan Muda kami membawakan anggur Musim Semi Chang'an secara khusus. Silakan minum bersama kami, Tuan Muda He."
Begitu Ying Xiang selesai berbicara, Wang Ba menelan ludah dengan keras.
He Yan: "..." Ia masih ragu-ragu. Jika Xiao Jue tahu ia minum bersama Chu Zhao, bukankah Xiao Jue akan berpikir ia berada di pihak Chu Zhao?
Kemungkinannya kecil sekali.
Tampaknya menyadari keraguan di wajah He Yan, Chu Zhao tersenyum dan berkata, "Hanya satu gelas. Jika Saudara He tidak nyaman, kita bisa melupakannya."
He Yan selalu lebih menyukai kelembutan daripada kekerasan. Melihat tuan muda yang begitu baik hati memberikan undangan yang begitu ramah dan menunjukkan pengertian serta kebijaksanaan yang begitu besar, He Yan merasa agak bersalah. Ia bukanlah sosok penting, namun tuan muda itu datang untuk mengundangnya secara pribadi. Itu hanya satu gelas, dan ia bisa menganggapnya sebagai balasan atas perak batangan itu.
He Yan kemudian berkata, "Itu hanya satu gelas, tidak ada yang tidak nyaman."
"Kalau begitu, silakan ikuti aku, Tuan Muda He," Ying Xiang tersenyum dan berbalik.
He Yan mengira ketika Chu Zhao menyebutkan minum, itu akan terjadi di lapangan terbuka bersama para rekrutan, tetapi Chu Zhao malah membawanya ke tempat tinggalnya. Entah karena dendam Xiao Jue atau bukan, tempat tinggal Chu Zhao jauh dari kata mewah, bahkan lebih rendah daripada tempat Cheng Lisu, hanya sedikit lebih baik daripada asrama para rekrutan. Namun, halamannya cukup luas, dengan bangku-bangku batu tempat anggur, buah-buahan kering, dan camilan yang diletakkan diatas meja.
"Karena tidak tahu apa yang Tuan Muda He suka makan, kami hanya menyiapkan beberapa hidangan sederhana," kata Ying Xiang meminta maaf. "Jika tidak sesuai selera Mu, mohon pengertiannya."
"Tidak perlu terlalu sopan santun seperti itu, ini sudah sangat baik." He Yan terharu dengan perlakuan seperti itu. Di Garda Liangzhou, ia hanyalah seorang rekrutan, dan ini pertama kalinya ia diperlakukan seperti orang berstatus tinggi. Namun, He Yan juga diam-diam bingung – mengapa Chu Zhao begitu baik padanya? Untuk seorang rekrutan biasa, sopan santun seperti itu terasa tidak perlu.
Saat He Yan sedang berpikir, Ying Xiang telah mengangkat kendi anggur giok putih dari meja dan menuangkannya ke dalam dua cangkir giok, sambil berkata, "Aku dengar dari Tuan Muda Lin bahwa Tuan Muda He sedang terluka dan tidak boleh minum terlalu banyak. Anggur Musim Semi Chang'an ini ringan dan manis; sedikit saja seharusnya tidak berbahaya."
He Yan tersenyum, "Nona Ying Xiang, perhatian sekali."
Ying Xiang tersenyum sopan, meletakkan kendi anggurnya, dan mundur ke belakang Chu Zhao.
"Waktu kita bertemu di Shuojing, rasanya terlalu terburu-buru untuk berkenalan," kata Chu Zhao sambil tersenyum. "Bertemu lagi di Liangzhou pasti takdir, jadi aku harus bersulang." Ia mengangkat cangkirnya dan memberi isyarat untuk bersulang ringan kepada He Yan.
He Yan mengerti dan mengangkat cangkirnya, memikirkan bagaimana terakhir kali saat Festival Pertengahan Musim Gugur, ia mabuk dan berkelahi dengan Xiao Jue, bahkan mematahkan sitarnya. He Yan benar-benar tidak bisa mengulangi kesalahan itu malam ini. Namun, ini bukan minuman keras, jadi tidak akan memengaruhinya seperti terakhir kali, dan ia hanya akan minum sedikit, jadi seharusnya tidak masalah.
He Yan mendongakkan kepalanya dan menuangkan seluruh isi cangkir ke dalam tenggorokannya.
He Yan membeku.
Chu Zhao juga membeku.
Sesaat kemudian, Chu Zhao tertawa, "Saudara He memang berani."
He Yan: "..."
Minum sekali teguk sudah menjadi kebiasaan. Meskipun ia bermaksud menyesap perlahan, tangannya bergerak secara naluriah. Ketika ia menyadari apa yang telah dilakukannya, ia sangat menyesalinya dan ingin mengutuk dirinya sendiri: mengapa ia tidak bisa mengendalikan tangannya?
Namun... He Yan memuji, "Anggur yang harum sekali!"
Ying Xiang tertawa terbahak-bahak: "Mata Air Chang'an bukanlah sesuatu yang bisa diminum setiap hari. Di Kediaman Chu, ini satu-satunya botol yang tersisa tahun ini."
"Seberharga itukah?" He Yan terkejut dan mendorong cangkirnya kembali. Ia tidak berani minum lagi.
"Meskipun anggur ini berharga, tidak seberharga Saudara He," Chu Zhao tersenyum, meraih kendi untuk mengisi kembali cangkir He Yan yang kosong. "Mata Air Chang'an bisa diganti dengan anggur Delapan Belas Dewa, tetapi ikatan batin tidak mudah ditemukan."
He Yan: "..."
He Yan berkata, "Saudara Chu, tahukah Kau bahwa kau menduduki peringkat pertama di antara para suami idaman para wanita di Wei Agung?"
Chu Zhao terkejut.
"Kurasa kita mungkin perlu menambahkan kategori untuk pria juga." Karena Chu Zilan begitu lembut dan murah hati kepada pria, pria mana pun akan berada dalam bahaya jika berada di dekatnya.
Pekarangan menjadi sunyi.
Sesaat kemudian, Chu Zhao tertawa terbahak-bahak dan menggelengkan kepalanya, "He didi, kau sungguh lucu."
"Aku berkata jujur," kata He Yan tulus.
"Kau terlalu baik, He didi." Chu Zilan melambaikan tangannya. "Aku tidak berani mengklaim juara pertama."
Anggur Musim Semi Chang'an beraroma segar, tidak sekaya dan sekuat anggur Delapan Belas Dewa, tetapi cukup kuat. He Yan merasa agak pusing, dan melihat senyum lembut dan anggun dari pria di hadapannya, He Yan mengangkat cangkirnya dan berkata, "Saudara Chu pantas mendapatkannya, aku bersulang untukmu!"
He Yan menghabiskan isi gelas anggurnya sekali lagi.
...
Sementara itu, Lin Shuanghe mencari He Yan ke mana-mana.
"Ada yang melihat He Yan?" tanyanya.
Daging panggang di sini sudah habis, dan Xiao Mai baru saja mencuri dua potong dari api unggun lainnya. Mendengar seseorang bertanya tentang He Yan, ia berbalik dan berkata, "Apakah kau mencari Kakak He? Kakak He baru saja dibawa pergi oleh Tuan Muda Keempat Chu dari ibu kota."
"Chu Zhao?" tanya Lin Shuanghe penasaran. "Kenapa dia membawa He xiong pergi?"
"Kurasa untuk minum," Xioa Mai menggaruk kepalanya. "Katanya dia ingin mentraktir Kakak He anggur Musim Semi Chang'an."
Mendengar berita ini, Lin Shuanghe bergegas kembali secepat kilat, tiba di kamar Xiao Jue. Pintu kamar Xiao Jue tidak tertutup, jadi Lin Shuanghe langsung mendorong pintu kamar itu hingga terbuka.
Xiao Jue sedang duduk di meja sambil membersihkan pedangnya.
Pedang Yinqiu bukanlah pedang biasa; pedang itu perlu dibersihkan dan dipoles setiap hari agar tetap jernih seperti kristal. Lin Shuanghe bertanya, "Apakah kau tahu ke mana He Yan pergi?"
Xiao Jue tidak mau repot-repot menjawab.
"Dia minum dengan Chu Zhao!"
Xiao Jue mendongak: "Jadi?"
"Apa kau tidak khawatir, Saudaraku?" Lin Shuanghe menggebrak meja dengan kipasnya. "Dia minum dengan Chu Zhao!"
"Minggir," kata Xiao Jue kesal. "Kau menghalangi cahaya."
Lin Shuanghe minggir. "Berhenti bersih-bersih. Kita tahu, Chu Zhao adalah orangnya Xu Jingfu. Bagaimana jika dia mencoba merekrut He Yan ke kamp mereka? Kudengar kemampuan He Yan termasuk yang terbaik di Garda Liangzhou. Akan merepotkan jika orang bakat seperti itu jatuh ke tangan Xu Jingfu!"
Melihat ekspresi Xiao Jue yang tidak berubah, Lin Shuanghe bergeser ke sisi lain: "Bagaimana mungkin kau membiarkan gadismu minum dengan pria lain!"
Mendengar kata-kata ini, Xiao Jue menghentikan gerakannya dan mendongak, menatap Lin Shuanghe dengan dingin: "Siapa yang bilang dia gadisku?"
"Ayolah," Lin Shuanghe tak percaya. "Kalau dia bukan gadismu, apa kau akan membiarkannya tinggal di sebelah kamarmu, hanya dengan satu pintu di antara kalian, dan membiarkan dia membobol kuncinya sesuka hati? Aku tidak pernah tahu kau bisa semenyenangkan ini. Hanya untuk bersenang-senang?"
Xiao Jue: "...Kalau kau tidak ada kegiatan lain, keluarlah dan berhenti menggangguku."
"Xiao Huaijin, bersikap galak seperti itu tidak akan membantumu bersaing dengan Chu Zilan."
Saat Lin Shuanghe berbicara, tiba-tiba mereka mendengar suara gemerisik dari pintu penghubung, suaranya terdengar seperti tikus yang berlarian di gudang. Mereka mendongak dan melihat kawat perak menyembul melalui lubang kunci horizontal. Kawat itu terpilin dengan canggung, tetapi dengan tepat mendorong inti kunci ke dalam.
Dengan bunyi "klik", kunci jatuh ke tanah, dan pintu pun terbuka.
Lin Shuanghe bertepuk tangan: "Keahlian yang luar biasa!" Ia melirik Xiao Jue lagi. "Masih berani bilang dia bukan gadismu!"
Xiao Jue terdiam sejenak, lalu berdiri.
He Yan masuk dari ambang pintu.
He Yan berjalan dengan sangat lambat, namun langkahnya tegap, dan saat melihat Lin Shuanghe, He Yan bahkan menangkupkan tangannya untuk menyapa Lin Shuanghe terlebih dahulu: "Kakak Lin."
Lin Shuanghe: "...Kenapa kau tidak memanggilku Dokter Lin lagi?"
Namun, He Yan sepertinya tidak mendengar perkataan Lin Shuanghe dan langsung berjalan ke arah Xiao Jue.
Tatapan Xiao Jue tertuju pada He Yan.
He Yan mengenakan seragam merah standar rekrutan Garda Liangzhou, rapi dan sopan, tanpa sedikit pun rambut yang berantakan, dan membungkuk hormat pada Xiao Jue.
Kali ini, baik Lin Shuanghe maupun Xiao Jue tercengang.
Jendela terbuka, dan angin bertiup masuk, membuat gulungan-gulungan kertas di atas meja sedikit berkibar, membawa hawa dingin dan aroma anggur yang tercium samar, halus dan samar, manis dan segar seperti musim semi di Chang'an.
Tatapan matanya lebih mempesona daripada musim semi.
Xiao Jue tiba-tiba merasa terkejut, merasa pemandangan ini familier. Ia samar-samar ingat bahwa pada malam Pertengahan Musim Gugur, seseorang pernah menatapnya dengan tatapan seperti itu.
"Kau minum anggur?" Sambil berbicara, Xiao Jue secara naluriah mendorong sitar Wanxiang lebih jauh ke belakang.
Ketika orang ini mabuk, kita tidak bisa tahu dari wajahnya apakah dia sadar atau tidak. Namun, tindakannya pasti akan sangat tidak terduga.
Lin Shuanghe tersenyum dan mengambil tehnya, bersiap untuk menonton pertunjukan.
He Yan mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar kepada Xiao Jue.
"Ayah, aku bisa melafalkan 'Jalan menuju Pembelajaran Agung' sekarang."
Lin Shuanghe menyemburkan tehnya.
Komentar
Posting Komentar