Legend of the Female General-Bab 119 Teman Lama
Sekelompok orang berdiri di luar garnisun. Di dekat kereta kuda, para pelayan sibuk menurunkan kotak-kotak. Di ruang istirahat di pintu masuk garnisun, para tamu sedang duduk dan minum teh. Begitu Xiao Jue masuk, ia melihat Liang Ping sedang menuangkan teh untuk yang lain.
"Tuan Muda Keempat Chu," Lin Shuanghe adalah orang pertama yang menyapa, melangkah maju sambil membawa kipasnya, tersenyum ramah bak tamu undangan. "Apakah tehnya sesuai selera Mu?"
Chu Zilan berdiri dan menangkupkan tangannya ke arah Lin Shuanghe dan Xiao Jue: "Komandan Xiao, Tuan Muda Lin." Ia tersenyum dan berkata, "Teh Yunwu dari Garnisun Liangzhou lembut dan elegan, meninggalkan aroma yang bertahan lama. Komandan punya selera yang bagus."
Xiao Jue dengan santai menarik kursi, duduk, dan menatap Chu Zilan, sambil berkata, "Ini hanya teh biasa, tidak perlu sopan santun seperti itu."
Chu Zhao tetap tenang dan hanya tersenyum, "Komandan bercanda."
Putra keempat keluarga Shi Jinbo ini seusia dengan Xiao Jue tahun ini, tetapi dibandingkan dengan ekspresi Xiao Jue yang sering acuh tak acuh dan malas, Chu Zilan terlihat jauh lebih lembut. Ia sangat tampan, dengan fitur-fitur halus dan kulit putih. Mengenakan jubah longgar berwarna giok, ia tampak lebih ramping dan halus. Matanya sipit dan panjang, selalu mengandung sedikit senyum, sungguh seorang pria yang berkelas, selembut giok.
Ketika keduanya bersama-sama akan menghadirkan kontras yang mencolok – yang satu sedingin air musim gugur, yang lain sebening anggrek penyendiri, menciptakan pemandangan yang enak untuk dipandang.
Di samping Chu Zhao berdiri seorang wanita muda berpakaian seperti pelayan. Meskipun mengenakan pakaian pelayan, wanita itu luar biasa cantik, dengan raut wajah yang dalam dan mencolok. Bahkan dalam pakaian sederhana, pancaran sinarnya sulit disembunyikan. Bahkan Lin Shuanghe, yang terbiasa melihat wanita cantik, tak kuasa menahan diri untuk tidak melirik penampilan wanita itu dua kali, diam-diam mendesah bahwa tuan dan pelayan yang berdiri bersama tampak seperti datang dari dunia lain. Di antara keempat putra Shi Jinbo, tiga putra pertama berpenampilan biasa saja, hanya satu yang terlihat seperti ini – jelas, penampilan sang ibu memang penting.
"Apa yang membawa Tuan Muda Keempat Chu ke Garnisun Liangzhou?" tanya Xiao Jue.
Chu Zhao tersenyum dan berkata, "Kaisar mendengar bahwa Komandan Xiao telah memusnahkan puluhan ribu pasukan musuh di Garnisun Liangzhou dan melenyapkan sisa-sisa suku Qiang. Beliau sangat senang dan secara khusus mengutus ku untuk memberikan hadiah dan mengamati semangat juang para prajurit di Garnisun Liangzhou."
"Memberikan hadiah?" Xiao Jue menatap Chu Zhao dengan serius dan berkata dengan santai, "Tuan Muda Keempat Chu berkenan datang mengamati wilayah Liangzhou yang dingin ini," ia tersenyum tipis, "Itu tidak mudah."
Chu Zhao berkata, "Merupakan sebuah keberuntungan bagi Zilan untuk menyaksikan sendiri pasukan Komandan Xiao yang perkasa."
Xiao Jue tertawa kecil tetapi tidak menjawab.
"Atas kemenangan besar di Liangzhou ini, Kaisar juga telah memerintahkan ku untuk mengadakan pesta perayaan di sini," kata Chu Zhao. "Namun, aku tidak tahu bagaimana Garnisun Liangzhou biasanya merayakan kemenangan, jadi aku harus merepotkan Komandan."
"Para prajurit yang gugur baru saja dimakamkan," kata Xiao Jue. "Merayakan kemenangan sekarang mungkin kurang tepat."
Senyum Chu Zhao tetap lembut, tetapi nadanya tegas, "Bagaimana mungkin tidak ada pertumpahan darah dalam peperangan? Lagipula, memusnahkan musuh adalah momen yang membahagiakan. Hadiah harus diberikan tepat waktu – ini juga niat Kaisar."
Mengungkit Kaisar Wenxuan sekarang?
Xiao Jue menatapnya sejenak, lalu akhirnya mengangguk dan tersenyum: "Baiklah." Xiao Jue berdiri dan berkata dengan penuh arti, "Pesta perayaan bisa diadakan besok. Silakan bergabung dengan kami, Tuan Muda Keempat Chu."
Chu Zhao berdiri dan membalas basa-basi Xiao Jue: "Aku akan ikut berpastipasi."
Xiao Jue meninggalkan ruangan dan memberi instruksi pada pengawalnya: "Siapkan kamar untuk orang-orang Tuan Muda Keempat Chu."
Penawal menerima perintah dan pergi.
Lin Shuanghe mengikuti Xiao Jue keluar dan mendekat, bertanya dengan suara rendah: "Untuk apa Chu Zhao di sini? Kelihatannya, dia berencana untuk tinggal di Garnisun Liangzhou untuk beberapa waktu?"
"Karena mata-matanya sudah lenyap, tentu saja Xu Jingfu jadi cemas," kata Xiao Jue datar. "Dia mengirim anjingnya untuk memeriksa, ada yang salah?"
Lin Shuanghe menoleh ke belakang, melihat Chu Zhao sedang menundukkan kepalanya untuk minum teh, dan bertanya, "Apakah aman membiarkannya tinggal di sini? Lagipula, orang ini kan orangnya Xu Jingfu."
"Aman?" tanya Xiao Jue, "Itu tergantung kemampuannya. Ayo pergi."
"Ke mana?"
"Karena ini hadiah, kita harus lihat apa saja hadiah-hadiah itu," kata Xiao Jue sambil berpikir. "Datang ke Garnisun Liangzhou dengan meriah, beberapa kotak hadiah saja rasanya tidak cukup."
"Kau mau mencabuti bulu angsa lagi?"
Xiao Jue menatap Lin Shuanghe.
Lin Shuanghe berkata, "Tidak ada maksud lain, hanya bertanya, jangan marah. Ayo, kita lihat harta karunnya!"
......
He Yan kembali dari tempat latihan, dan tidak melakukan apa pun. Setelah berbaring di tempat tidur membaca beberapa catatan perjalanan, Song Taotao datang membawakan makanan. Setelah makan, ketika Song Taotao hendak pergi, He Yan mendengar suara di luar pintu, sepertinya Song Taotao sedang berbicara dengan seseorang. Mengira itu Xiao Jue yang telah kembali, He Yan menopang dirinya dengan tongkat dan membuka pintu, hanya untuk melihat orang yang sedang berbicara dengan Song Taotao adalah Lin Shuanghe.
"Dokter Lin?" He Yan melihat sekeliling tetapi tidak melihat Xiao Jue, jadi dia bertanya, "Apakah Komandan belum kembali?"
"Xiao Jue pergi untuk membahas masalah pesta perayaan dengan para instruktur," Lin Shuanghe tersenyum. "Aku akan menunggunya di sini dulu, aku masih punya beberapa hal untuk dibicarakan dengannya."
"Pesta perayaan?" He Yan bingung sejenak, "Pesta perayaan apa?"
"Pesat perayaan kemenangan Garnisun Liangzhou." Lin Shuanghe melambaikan tangan pada Song Taotao, dan setelah melihat Song Taotao pergi, ia berjalan menuju He Yan, tetapi tiba-tiba berhenti di ambang pintu, enggan melangkah maju.
He Yan bingung: "Ada apa?"
Lin Shuanghe menarik tangannya dan berkata dengan serius, "Tidak pantas bagi pria dan wanita berduaan di dalam ruangan, itu bisa merusak reputasimu jika terlihat orang lain.
He Yan: "..."
He Yan berkata: "Tidak ada seorang pun di sini yang tahu identitasku, Dokter Lin bisa saja memperlakukanku seperti rekrutan biasa. Lagipula, bukankah kau pernah ke kamarku sebelumnya?"
Lin Shuanghe memberi isyarat dengan sopan: "Sebelumnya ada orang lain di ruangan ini, tapi sekarang hanya kita berdua, mungkin akan terjadi kesalahpahaman."
"Kesalahpahaman seperti apa?" kata He Yan agak tidak berdaya, "Aku sering sekamar dengan Komandan, dan tidak ada yang tidak pantas tentang itu."
Mendengar perkataan He Yan, Lin Shuanghe mundur lebih jauh: "Itu membuatnya semakin mustahil! Istri teman tidak boleh di perlakukan dengan main-mian, bagaimana mungkin aku bisa mengkhianati temanku sendiri?"
He Yan: "..."
Omong kosong apa yang dibicarakan orang ini?
He Yan berpikir sejenak dan akhirnya menemukan solusi yang tepat: "Bagaimana kalau begini, Tuan Muda Lin, Kau pergi ke kamar Komandan, aku akan tetap di kamar ku, dan aku akan membuka pintu penghubung. Kita bisa bicara lewat pintu penghubung. Dengan begini, kita tidak akan berada dalam satu ruangan, melainkan di kamar terpisah, bagaimana?"
Lin Shuanghe tidak menyangka He Yan akan memberikan solusi seperti itu. Setelah terkejut sejenak, ia pun mengibaskan kipasnya: "Ayo kita lakukan seperti itu!"
Jadi, ketika He Yan kembali ke kamarnya, dia langsung menggunakan kawat perak milik Cheng Lisu untuk membuka kunci dan berusaha mendorong bangku ke sisi lain pintu penghubung, Lin Shuanghe sudah menunggunya disana.
Lin Shuanghe memeriksa pintu penghubung dan bertanya pada He Yan: "Apakah kalian berdua biasanya bermain seperti ini?"
"Main apa?
"Eemm..." Lin Shuanghe tampak malu sendiri saat ini, menggelengkan kepala dan tersenyum, "Aku tidak menyangka Huaijin juga akan..."
He Yan benar-benar bingung dengan perkataan Lin Shuanghe, tetapi masih memikirkan pesta perayaan yang disebutkan Lin Shuanghe sebelumnya, He Yan bertanya, "Dokter Lin, apa sebenarnya pesta perayaan kemenangan Garnisun Liangzhou yang kau sebutkan sebelumnya?"
"Sebelumnya, kalian memenangkan pertempuran melawan pasukannya Ri Da Mu Zi, memusnahkan puluhan ribu pasukan musuh," kata Lin Shuanghe. "Ketika Kaisar mendengar hal ini, beliau sangat senang dan secara khusus mengirim seseorang untuk membawa hadiah dan penghargaan, dan ingin mengadakan pesta perayaan di Garnisun Liangzhou untuk memberi penghargaan kepada para pasukan."
He Yan bebeku mendengar ini: "Sekarang? Merayakannya sekarang rasanya tidak tepat."
Mengadakan pesta perayaan di Garnisun Liangzhou saat ini bukanlah waktu yang tepat. Meskipun mereka telah memenangkan pertempuran ini, kejadian ini terjadi secara tiba-tiba, dan puluhan penjaga telah gugur tanpa mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi. Meskipun mereka kemudian menang, perang ini sebagian besar dimenangkan oleh Tentara Selatan. Perasaan para rekrutan saat ini, alih-alih kegembiraan atas kemenangan, mungkin lebih merasa kesedihan atas rekan-rekan yang gugur dan ketakutan akan perang. Bagaimana mungkin pesta perayaan diadakan sekarang dianggap pantas?
"Apa yang bisa dilakukan jika itu keinginan Kaisar?" Lin Shuanghe mendesah. "Bisakah kita menolak keinginannya?"
Untuk sesaat, keduanya tidak berbicara.
Setelah beberapa saat, He Yan bertanya: "Orang yang datang untuk menyampaikan perintah Kaisar, apakah orang itu Chu Zilan yang kau sebutkan sebelumnya?" He Yan bertanya: "Siapa itu Chu Zilan?"
"Kau belum pernah dengar tentang Chu Zilan?" Kali ini, Lin Shuanghe yang terkejut.
He Yan menggelengkan kepalanya.
"Di antara para calon suami idaman para wanita muda di ibu kota, Xiao Jiang berada di peringkat pertama, Xiao Huaijin di peringkat kedua, dan Chu Zilan di peringkat ketiga," desah Lin Shuanghe. "Meskipun begitu Xiao Jiang telah menikah, menyisahkan Xiao Huaijin dan Chu Zilan. Huaijin berwatak dingin dan tidak suka berbicara dengan perempuan, jadi dalam beberapa tahun terakhir dia tertinggal dari Chu Zilan. Meskipun Chu Zilan lahir dengan sederhana, dia tampan, lembut, baik hati, dan masih lajang. Jika kau bertanya siapa calon suami yang paling ingin dinikahi para wanita di ibu kota, sembilan dari sepuluh akan menjawab Chu Zilan. Bagaimana mungkin," Lin Shuanghe menatap He Yan, "kau tidak pernah mendengar tentangnya saat kau berada di ibu kota? Rasanya mustahil!"
He Yan tentu saja tidak tahu – dia memimpin pasukan dalam pertempuran dikehidupan sebelumnya, tidak punya waktu untuk peduli tentang asmara atau pria tampan mana yang ada di ibu kota. Setelah kembali ke ibu kota, ia segera menikah, tanpa memberinya kesempatan untuk mengenal pria lain. Ia belum pernah mendengar tentang Chu Zilan ini.
"Aku dibesarkan dalam pengasingan oleh ayahku, jarang meninggalkan rumah atau bahkan berbicara dengan pria di luar keluargaku," kata He Yan serius namun santai. "Aku tidak tahu apa-apa tentang hal-hal di luar keluargaku."
"Benarkah?" Lin Shuanghe berkata, "Ayahmu memang sangat keras padamu."
He Yan mengangguk: "Memang." lalu bertanya: "Apa hubungan antara Chu Zilan dan Komandan Xiao?"
Meskipun Xiao Jue tidak dekat dengan orang lain dan tidak memiliki seseorang yang ia sukai, He Yan juga belum pernah bertemu seseorang yang Xiao Jue benci. Xu Jingfu adalah satu pengecualian, dan sekarang Chu Zilan ini—bahkan sebelum bertemu dengannya, mendengar namanya saja sudah membuat Xiao Jue tidak senang.
Mungkin ada dendam masa lalu?
"Ceritanya cukup panjang." Lin Shuanghe bangkit untuk menuangkan teh di meja kecil, menyesapnya untuk membasahi tenggorokannya, lalu duduk kembali dan berkata kepada He Yan: "Kau mungkin belum pernah mendengar tentang Chu Zilan, tapi pasti kau pernah mendengar tentang ayahnya, Marquis Shi Jin, Chu Linfeng."
He Yan merasa nama itu agak familiar, berpikir sejenak, lalu berkata: "Apakah dia orang yang mengambil sembilan belas selir, dan selir-selir itu sangat cantik?"
"Itu dia orangnya!"
He Yan teringat nama Chu Linfeng. Dulu di militer, ketika para bawahan wakil komandan berkumpul untuk mengobrol, mereka tidak iri pada kaisar – mereka justru iri pada Marquis Shi Jin. Chu Linfeng anggun dan tampan, ketampanan yang tersohor di Wei Agung, tetapi ia menikahi seorang istri yang beberapa tahun lebih tua darinya, istrinya memiliki wajah yang biasa saja dan bertemperamen garang.
Bagaimana mungkin seorang romantis seperti Chu Linfeng bisa puas dengan itu? Bahkan sebelum menikah, ia sering mengunjungi rumah bordil setiap hari, dan setelah menikah, kebiasaannya semakin menjadi-jadi. Istrinya terbukti berbudi luhur – seolah menyadari penampilannya yang biasa saja dan ketidak mampuannya memenangkan cinta suaminya, ia tidak pernah mencegah Chu Linfeng untuk mengambil selir. Selama bertahun-tahun, Chu Linfeng mengambil sembilan belas selir, masing-masing dengan kecantikan yang memukau dan memiliki pesonanya sendiri.
Namun, meskipun Chu Linfeng memiliki banyak selir, selama bertahun-tahun, selain tiga tuan muda yang lahir dari istrinya, tidak ada satu pun selir yang melahirkan anak dari Marquis Shi Jin.
Rumornya, para selir ini diberi obat kontrasepsi sebelum memasuki kediaman Chu. Betapapun disayanginya mereka, tanpa anak, mereka hanya bisa menyenangkan tuan dan nyonya mereka. Istri Marquis Shi Jin mengawasi ketat para selir ini, dan tak seorang pun berani menimbulkan masalah di bawah pengawasannya. Chu Linfeng melanjutkan hubungan asmaranya sehari-hari dengan para selir, sementara istrinya berpura-pura tidak melihat dan fokus membesarkan ketiga putranya.
Chu Zilan adalah putra keempat Marquis Shi Jin, tetapi bukan anak dari istri Marquis Shi Jin.
"Apakah dia putra dari selir?" tanya He Yan.
"Tidak, tidak," kata Lin Shuanghe. "Nyonya Chu mengendalikan para selir lebih ketat daripada ayahmu mengendalikanmu – bagaimana mungkin seorang selir bisa melahirkan seorang putra?"
"Lalu..."
"Aku tidak tahu detail pastinya, tetapi tiba-tiba suatu hari di pesta keluarga Chu, ada seorang putra berusia empat tahun bernama Chu Zhao." Lin Shuanghe menyesap tehnya lagi. "Meskipun tidak terucapkan, semua orang mengerti bahwa Chu Zhao kemungkinan besar adalah putra haram Chu Linfeng yang lahir dari seorang wanita simpanan di luar."
Mata He Yan terbelalak lebar.
"Nyonya Chu sudah sangat berhati-hati terhadap segalanya, tetapi tidak menyangka Marquis Shi Jin akan menyimpan rahasia seperti itu. Anak itu sudah berusia empat tahun dan telah diakui di depan umum – apa yang bisa Nyonya Chu lakukan?" Lin Shuanghe merentangkan tangannya. "Jika hanya itu, Chu Zilan hanyalah anak haram dari Chu Linfeng, tetapi ketika Chu Zilan berusia sepuluh tahun, ia terdaftar di atas nama Nyonya Chu. Jadi sekarang, statusnya adalah Tuan Muda Keempat yang sah dari keluarga Marquis Shi Jin. Tahukah kau mengapa?"
"Kenapa?"
"Karena dia adalah murid kesayangan Perdana Menteri Xu Jingfu saat ini."
He Yan terkejut – Xu Jingfu lagi?
Meskipun Marquis Shi Jin romantis dan tidak terkendali, ia bukanlah ayah yang penyayang, dan kehidupan di bawah Nyonya Chu pasti sangat sulit untuk Chu Zilan. Entah metode apa yang ia gunakan untuk bertahan hidup hingga usia sepuluh tahun, lalu bertemu Xu Jingfu. Bagaimana mungkin Marquis Shi Jin berani mengabaikan wajah Perdana Menteri Xu? Mendaftarkan Chu Zhao diatas nama Nyonya Chu mungkin juga merupakan ide Xu Jingfu.
"Kalau begitu, Tuan Muda Keempat Chu ini cukup hebat."
Lin Shuanghe menatap He Yan: "Menurutmu dia hebat?"
"Iya, seperti yang kau katakan, dia tidak memiliki dukungan di keluarga Chu, ayahnya tidak mencintainya, ibu kandungnya tidak di sisinya, namun sekarang dia telah menjadi tuan muda yang sah dan bahkan dapat dikirim oleh Kaisar untuk menyampaikan perintah ke Garnisun Liangzhou. Bisa mencapai titik ini sendirian sungguh mengesankan."
"Kalau dia tidak hebat, bagaimana mungkin dia menjadi murid kesayangan Xu Jingfu?" Lin Shuanghe menggelengkan kepala dan mendesah.
"Bagaimana dengan ibu kandungnya?" tanya He Yan. "Bukankah dia dibawa ke kediaman Marquis Shi Jin?"
"Tidak diketahui keberadaannya." Lin Shuanghe menggelengkan kepalanya. "Rumornya, dia meninggal karena sakit setelah melahirkan Chu Zilan. Kalau bukan karena itu, dengan kemampuan Chu Zilan saat ini, dia seharusnya bisa memberi ibunya kehidupan yang lebih baik."
He Yan mengangguk sambil berpikir, "Begitu ternyata, pantas saja Komandan Xiao tidak menyukai Tuan Muda Keempat Chu."
Xiao Jue dan Xu Jingfu adalah musuh, bukan teman, dan karena Chu Zilan adalah murid Xu Jingfu, tentu saja ia juga musuh Xiao Jue.
"He xiong," kata Lin Shuanghe, "jika kau harus memilih antara Huaijin dan Chu Zilan, siapa yang akan kau dukung?"
He Yan merasa pertanyaan ini benar-benar konyol. "Mengapa bertanya seperti ini?"
"Aku hanya ingin tahu pilihan apa yang akan diambil oleh seorang nona muda dari Wei Agung."
"Aku bahkan tidak kenal Chu Zilan," kata He Yan. "Tentu saja, aku akan mendukung Komandan."
Lin Shuanghe tersenyum penuh arti, "Tidak perlu bicara terlalu dini – di pesta perayaan besok, kau akan bertemu Chu Zilan."
He Yan: "..."
Apa yang akan terjadi setelah bertemu dengan Chu Zilan? Mungkinkah ada sesuatu yang luar biasa?
He Yan tidak menyangka bahwa, seperti yang dikatakan Lin Shuanghe, keesokan harinya ia akan bertemu dengan Chu Zilan, calon suami impian para nona muda Kerajaan Wei, yang bisa menyaingi Xiao Jue.
......
Malam itu, tidak seperti biasanya, salju tidak turun, dan keesokan harinya cuaca sangat cerah.
Meskipun cuaca dingin, sinar matahari bersinar terang menghangatkan tubuh, rasanya nyaman. He Yan bangun untuk minum bubur dan merasakan hangatnya sinar matahari, luka di pinggangnya terasa lebih cepat sembuh. Garnisun Liangzhou sungguh unik – di musim panas, panasnya tak tertahankan dan orang-orang mengeluh karena melihat matahari, tetapi di musim dingin, bahkan setengah matahari pun membuat semua orang senang.
Meskipun He Yan tidak bisa pergi ke tempat latihan untuk latihan harian sekarang, karena merasa mataharinya bersahabat, ia memutuskan untuk berjalan di halaman dengan tongkatnya. Tepat saat ia sampai di ambang pintu, ia mendengar suara Song Taotao berkata, "Aku yang pertama melihat kue gulung emas ini, ini punya ku!"
Setelah itu terdengar suara wanita yang ramah: "Nona, ini khusus dibuat oleh juru masak Tuan Muda kami, bukan dari dapur garnisun, jadi ini bukan punya mu."
"Hanya karena kau bilang itu punya Tuan Mudamu, berarti itu punya Tuan Muda mu?" kata Song Taotao dengan marah. "Kue ini ada di dapur – bagaimana aku bisa tahu kalau kokimu yang membuatnya? Karena kau punya koki, tidak bisakah kau membuat yang baru saja?"
"Kue gulung emas ini sangat rumit untuk dibuat. Membuatnya lagi akan menunda waktu makan Tuan Muda."
"Kalau begitu, jangan dimakan!"
"Nona..."
He Yan tak kuasa mendengarkan percakapan ini lagi dan berjalan keluar sambil berkata, "Nona Song."
Song Taotao berbalik, bersama wanita yang sedang berdebat dengannya, dan berkata dengan gembira: "Kakak He! Ini kue gulung emas, mau coba?"
He Yan: "..."
Wanita yang satunya juga berkata: "Itu punya Tuan Muda..."
He Yan mengambil gulungan kue itu dan mengembalikannya kepada wanita itu, sambil berkata, "Dia masih anak-anak, tolong jangan tersinggung."
"Kakak He!" Song Taotao menghentakkan kakinya dengan marah. "Kenapa kau mengembalikan kue itu padanya?"
"Awalnya memang milik mereka." He Yan menggelengkan kepalanya. Ia menduga Tuan Muda yang mereka sebutkan pasti Tuan Muda Keempat Chu Zilan dari keluarga Marquis Shi Jin. Mengingat hubungan Chu Zilan yang tidak baik dengan Xiao Jue, merepotkan Xiao Jue dalam hal ini adalah tindakan yang tidak bijaksana.
"Terima kasih, Tuan Muda," wanita itu tersenyum menawan pada He Yan.
He Yan tertegun sejenak, sesaat terpesona oleh kecantikan pelayan itu. Garnisun Liangzhou awalnya hanya memiliki sedikit wanita – selain dirinya yang meyamar, hanya ada Shen Muxue dan Song Taotao. Satu wanita anggun, satu wanita cantik, dan sekarang ada satu wanita yang secantik bunga peony, sangat menarik perhatian.
Bahkan pelayan Chu Zilan secantik ini? He Yan berpikir dalam hati, teringat ucapan Lin Shuanghe sebelumnya tentang pilihan utama wanita Wei Agung untuk menjadi suami – hanya orang bodoh yang akan memilih Chu Zilan. Jika Chu Zilan memilih wanita secantik ini bahkan untuk pelayan, bagaimana mungkin wanita biasa bisa menarik perhatiannya? Lebih baik memilih Xiao Jue – karena Xiao Jue hanya dikelilingi pria, mungkin setelah melihat begitu banyak pria, standarnya terhadap wanita akan lebih rendah, memberi wanita-wanita muda itu sedikit kesempatan.
Melihat He Yan menatap wajah wanita itu tanpa bicara, Song Taotao menjadi semakin cemas, dan segera menarik lengan baju He Yan: "Untuk apa kau melihatnnya? Apa yang bisa dilihat!"
Pelayan yang memegang gulungan kue emas itu tertawa pelan, senyumnya begitu memikat.
"Yingxiang." Seseorang berbicara.
Pelayan yang bernama Yingxiang segera berhenti tersenyum dan membungkuk sedikit kepada orang di depannya, "Tuan Muda Keempat."
Tuan Muda Keempat? Chu Zilan? He Yan berbalik, tatapannya tertuju pada orang di depannya.
Pemuda itu mengenakan jubah berwarna giok muda dengan lengan yang sangat lebar dan mahkota giok, semurni anggrek yang kesepian dan seanggun seorang dewa yang sedang diasingkan ke bumi. Chu Zilan tersenyum tipis dan mengangguk kepada He Yan.
He Yan mengerutkan keningnya – penampilan orang ini tampak sangat familiar.
Ketika melihat He Yan, Chu Zilan pun terdiam sejenak, lalu tersenyum, seolah menyadari apa yang dipikirkan He Yan. Ia mengulurkan telapak tangannya ke atas dan berkata lembut, "Didi (Adik laki-laki), kau menjatuhkan sesuatu."
Kalimat itu tiba-tiba menyadarkan He Yan – ia ingat di mana ia pernah melihat orang ini! Dulu, ketika ia masih di Shuojing, memeras otak untuk biaya sekolah He Yungsheng, ia terpaksa berjudi di Le Tong Manor, tetapi dikejar dan dipukuli oleh para pecundang. Setelah akhirnya mengalahkan mereka semua, seseorang tiba-tiba muncul dan memberi tahu bahwa dirinya telah menjatuhkan sejumlah uang.
Ketampanan orang itu sulit untuk dilupakan siapa pun yang pernah melihatnya. Melihat orang itu tiba-tiba berada di sini, karena hari sudah siang, He Yan sempat tidak mengenalinya, tetapi ia telah mengenali He Yan lebih dulu.
"Kau... Tuan Muda Keempat Chu?" tanya He Yan.
Chu Zilan mengangguk: "Iya."
He Yan terdiam sesaat – keberuntungan macam apa ini? Hanya dengan memanjat tembok dan bertarung di malam hari, ia bisa bertemu dengan suami idaman para nona muda di Kerajaan Wei – sungguh kebetulan!
"Aku Chu Zhao," Chu Zilan tersenyum pada He Yan. "Meskipun kita sudah kenal lama, aku masih belum tahu nama Didi. Bolehkah aku bertanya siapa nama Didi yang terhormat ini?"
Menghadapi Chu Zilan yang begitu lembut dan sopan, He Yan agak mengerti mengapa Chu Zilan bisa menyaingi Xiao Jue. He Yan buru-buru membalas: "Aku tidak seterhormat itu. Aku He Yan. 'He' berarti gandum, 'Yan' berarti kedamaian dan ketenangan."
Chu Zhao tersenyum, "Nama yang bagus. Namun," ia melihat sekeliling dengan bingung, "mengapa He Didi ada di sini?"
"Aku?" kata He Yan, "Aku seorang rekrutan di Garnisun Liangzhou, tetapi aku terluka beberapa hari yang lalu, jadi aku belum pergi ke tempat latihan untuk latihan harian."
"Ah... jadiBegitu."
Saat itu, Song Taotao, yang sedari tadi diam, akhirnya bergerak. Song Taotao dengan hati-hati menarik tangan He Yan – mungkin karena melihat betapa tampannya Chu Zilan, sikap agresifnya terhadap Yingxiang langsung lenyap, dan ia bahkan tampak agak malu. Song Taotao berkata dengan lembut, "Kakak He, siapa orang ini? Apakah kau mengenalnya?"
Sulit untuk menjawab pertanyaan ini – He Yan mengenal Chu Zhao, tetapi tidak sebaik yang Song Taotao bayangkan. He Yan hanya secara naluriah senang karena tiba-tiba melihat wajah yang familiar di Garnisun Liangzhou.
Maka He Yan berkata: "Ini Tuan Muda Keempat dari keluarga Marquis Shi Jin. Dulu waktu aku di Shuojing, aku pernah bertemu dengannya sekali."
Chu Zhao tersenyum dan berkata: "Kita teman lama."
Komentar
Posting Komentar