Legend of the Female General-Bab 115 Orang yang Tidak Mempunyai Hati

Bagaimana menjelaskannya? Dengan cara apa ia bisa menjelaskannya?

Pada saat genting itu, He Yan berada dipenjara bawah tanah. Memperkirakan situasi diluar sana, ia hampir yakin musuh akan melakukan aksi mereka tidak lama lagi. Oleh sebab itu He Yan meminta Song Taotao untuk mengambil kertas dan kuas, lalu menulis surat kepada Shen Han.

Dalam suratnya, He Yan menggambar peta Garda Liangzhou secara terperinci – setelah tinggal di Garda Liangzhou selama lebih dari setengah tahun, ia dapat menggambar peta itu dengan cukup rinci. He Yan memperkirakan musuh akan menyeberang dari Sungai Wulu. Ia menyarankan Komandan Shen untuk menempatkan sekitar lima ratus hingga seribu pemanah di hutan lebat antara Sungai Wulu dan Garda Liangzhou. Begitu pasukan musuh menyeberangi air menuju Garda Liangzhou, mereka akan langsung disergap.

"Saat itu, Aku dituduh melakukan pembunuhan secara salah dan dipenjarakan," jelas He Yan setelah mempertimbangkannya. "Meskipun orang lain tidak percaya, aku rasa musuh memiliki ambisi yang lebih besar. Saat itu Komandan tidak ada di Garda Liangzhou, jika terjadi sesuatu, Garda Liangzhou akan berada dalam bahaya. Jadi aku menggambar peta ini dan meminta Nona Song untuk menyerahkannya kepada Instruktur Shen. Namun, aku tidak yakin apakah Instruktur Shen akan mengikuti saran ku. Ini hanyalah usaha dalam keputus asahan."

Meskipun Shen Han secara lisan menolak untuk mempercayainya, ketika menyangkut keselamatan Garda Liangzhou, ia akhirnya melakukan seperti apa yang dikatakan He Yan dengan hati-hati. Ia memerintahkan pasukannya untuk menyiapkan penyergapan di hutan lebat seperti yang disarankan He Yan. Itulah sebabnya ketika pasukan Ri Da Mu Zi mendekati tempat latihan, mereka terjebak dalam penyergapan dan berada dalam posisi yang kurang menguntungkan di tepi sungai, semangat berperang mereka hancur.

Xiao Jue mengangkat matanya sedikit: "Kenapa harus di tepi sungai?"

"Jebak musuh kecil. Saat menangkap pencuri, kita harus menutup pintu gerbang – bukan karena takut pencuri itu kabur, tapi karena takut pencuri itu kabur dan ditangkap oleh orang lain."

Xiao Jue tertawa, "Kau sudah mempelajari Seni Perang dengan sangat baik. Sekarang jelaskan tentang lumbung."

"Garda Liangzhou memiliki Gunung Bulan Putih di belakangnya, berbatasan langsung dengan Sungai Wulu. Satu jalur adalah jalur dimana komandan dan para prajurit berangkat, dan di depannya terbentang jalan menuju kota. Aku menduga musuh memiliki ambisi yang lebih besar tidak puas hanya dengan satu pos militer. Jika kita menempatkan diri di posisi mereka, tindakan pertama yang mereka lakukan adalah membakar lumbung. Tanpa persediaan makanan, para rekrutan Liangzhou tidak akan bisa bertahan lama. Mereka akan kelaparan di sini atau harus memasuki kota untuk mencari makanan. Begitu gerbang kota terbuka dan pasukan musuh masuk, Kota Liangzhou tidak akan dapat dipertahankan. Jadi dalam suratku, aku menyarankan Instruktur Shen untuk menempatkan orang-orang bersembunyi dan menjaga lumbung untuk mencegah dibakar musuh."

Benar saja, Ri Da Mu Zi telah mengirim orang untuk membakar lumbung makanan, tetapi mereka ditangkap oleh rekrutan Liangzhou yang sudah bersiap.

"Prediksimu sangat akurat." Xiao Jue bicara perlahan, mencondongkan tubuh ke arah He Yan, menatap matanya, "Perhitungan yang sangat sempurna, Nona Muda."

Pupil matanya dalam dan jernih seperti air musim gugur. He Yan merasa tidak nyaman ditatap seperti itu oleh Xiao Jue dan tidak bisa merespon godaan Xiao Jue. Bagaimana mungkin ia menjelaskan perhitungannya yang sempurna ini? He Yan dapat melakukan taktik yang begitu sempurna ini karena ia telah menyaksikan bagaimana orang Qiang melakukan taktik pembakaran lumbung berkali-kali. Begitu ia memastikan musuh adalah orang Qiang, He Yan secara alami tahu kemungkinan langkah apa yang akan diambil orang Qiang selanjutnya.

Namun dia tidak bisa memberi tahu Xiao Jue tentang hal ini.

"Kau tampak cukup terpelajar. Apakah ayahmu mengajarimu strategi militer di rumah?" tanyanya sambil menyeringai tipis.

He Yan tahu Xiao Jue mulai curiga lagi, jadi ia dengan berani mengarang cerita: "Tidak sama sekali. Aku mempelajarinya sendiri. Komandan, bukankah kau pikir aku ahli strategi yang jenius?"

Xiao Jue tertawa dingin: "Apakah si penipu mencoba menipu lagi?"

"Komandan selalu mencurigaiku sebagai seorang penipu, tapi kau harus memberikan bukti yang jelas bagaimana aku menipu mu," He Yan semakin berani. "Ketika kau mencurigai Lei Hou, kau menempatkannya di kamp garda depan sampai dia menunjukkan sifat aslinya. Kau curiga aku bermasalah, jadi kau menempatkanku sangat dekat di sisimu—kamar kita hanya dipisahkan oleh satu dinding. Logikanya, jika aku benar-benar punya motif tersembunyi, Komandan akan lebih mudah menemukannya. Namun sampai sekarang, selain identitasku sebagai perempuan, tidak ada hal lain yang terjadi. Tuduhan Komandan tampaknya sangat tidak masuk akal."

Xiao Jue merasa marah sekaligus geli dengan kata-katanya: "Aku tidak masuk akal?"

"Komandan telah menempatkanku di sisimu begitu lama. Selain menemukan kesetiaan, kecerdasan, keberanian, dan kebijaksanaanku, apa lagi yang kau temukan? Tidak ada. Seorang komandan seharusnya adil dalam memberi penghargaan dan hukuman. Aku telah membantu mencegah krisis bagi Garda Liangzhou, meraih prestasi yang begitu besar. Bukankah seharusnya Komandan memberiku hadiah?"

"Hadiah?" tanyanya perlahan. "Hadiah apa yang kau inginkan?"

He Yan langsung duduk dengan tegak, mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat ke arah Xiao Jue, matanya berbinar-binar saat dia menatap Xiao Jue: "Bolehkah aku bergabung dengan Kamp Sembilan Bendera?"

"Tidak."

"Kenapa tidak?" tanya He Yan.

"Kamp Sembilan Bendera tidak menerima pembohong yang penuh dengan tipu muslihat," jawabnya dingin.

"Aku tidak pernah menipu siapa pun!"

"Nona He," mata indahnya menatap tajam ke arah He Yan sementara bibirnya sedikit melengkung, "Meskipun aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan, tapi..." ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Rahasiamu akan terungkap suatu hari nanti."

Jantung He Yan berdebar kencang, lupa untuk merespon.

Xiao Jue berdiri dan berjalan menuju pintu. He Yan buru-buru bertanya, "Lalu... bagaimana dengan Hu Yuanzhong?"

Xiao Jue tidak menghentikan langkahnya, hanya membalas satu kata, "Mati," sambil berjalan pergi.

He Yan membeku. Mati?

Ketika Xiao Jue keluar, Lin Shuanghe sudah pergi. Hanya Fei Nu yang sedang berjaga di luar. Xiao Jue bertanya, "Ke mana Lin Shuanghe pergi?"

"Dokter Lin bilang dia pergi untuk membantu Nona Shen menyiapkan obat," jawab Fei Nu. "Para rekrutan Garda Liangzhou yang gugur telah dimakamkan dengan semestinya."

Para rekrutan yang gugur akan dimakamkan di kaki Gunung Bulan Putih. Para pemuda ini, belum sempat merasakan berada dimedan perang dan melakukan peperanagn yang sesungguhnya namun telah dibantai oleh taktik licik orang Qiang.

Xiao Jue memijat pelipisnya.

Setelah menerima kabar dari Zhangtai, Xiao Jue segera berangkat, tetapi di tengah perjalanan ia merasa ada yang tidak beres. Lalu Xiao Jue diam-diam menghubungi komandan Kamp Sembilan Bendera dan mengetahui bahwa meskipun Zhangtai memang diganggu oleh orang-orang Wuto, keadaannya tidak separah seperti apa yang diklaim dalam surat itu. Ia pun kembali dan mengirim beberapa pasukan Garnisun Selatan yang ditempatkan di Qingnan.

Musuh sedang mengincar Garda Liangzhou, atau lebih tepatnya, mengincar dirinya.

Xiao Jue baru saja mengambil alih komando Garda Liangzhou, jika terjadi kesalahan di bawah pengawasannya, Kaisar pasti punya alasan yang kuat untuk mencabut wewenang militernya. Para pejabat istana yang menentangnya bisa saja menyerang, dan jabatannya sebagai Jenderal tidak akan bertahan lama.

"Orang-orang Qiang Barat itu...

"Bukan Qiang Barat," Xiao Jue menyela perkataan Fei Nu, "Mereka orang Wuto."

Fei Nu tertegun.

"Kecuali Ri Da Mu Zi dan orang kepercayaannya yang merupakan orang Qiang, yang lainnya para prajurit itu semuanya adalah orang Wuto."

Fei Nu bertanya, "Membunuh menggunakan pisau milik orang lain?

"Untuk membunuhku." Xiao Jue tertawa kecil, lalu berbalik dan berkata, "Suruh Shen Han dan semua instruktur datang ke kamarku."

Setelah Xiao Jue pergi, He Yan beristirahat sejenak sebelum Song Taotao, Cheng Lisu, dan Shen Muxue tiba.

Cheng Li Su dan Song Taotao masing-masing membawa keranjang besar berisi makanan. Karena insiden orang Qiang baru-baru ini, Garda Liangzhou berada di bawah karantina ketat dan tidak dapat memasuki kota, sehingga tidak ada hidangan lezat yang dibeli dari restoran dikota. Namun, garda Liangzhou menyediakan sup ikan dan daging kukus. Song Taotao berlari ke samping tempat tidur He Yan dan bertanya, "Apakah kamu merasa lebih baik?"

"Jauh lebih baik," He Yan tersenyum. "Terima kasih sudah membantuku menghubungi Instruktur Shen."

Song Taotao menunjukkan rasa malu yang jarang terlihat, gelisah sejenak lalu berkata: "Itu bukan apa-apa. Kamu kan di penjara waktu itu. Lagipula... kamu pernah menyelamatkanku sebelumnya, jadi kita impas."

"Kapan Kakakku menyelamatkanmu?" Cheng Lisu, yang tidak tahu perihal penculikan Song Taotao oleh Sun Ling di Kota Liangzhou, bertanya dengan curiga.

"Itu rahasia, kenapa aku harus memberitahumu?" Song Taotao tidak menunjukkan rasa senang sedikit pun kepada Cheng Lisu.

"Itu Kakakku! Tentu saja, aku berhak tahu, kenapa kau merahasiakannya?"

Melihat keduanya hendak berdebat lagi, Shen Muxue menggelengkan kepalanya tak berdaya dan berkata kepada He Yan: "Saudara He, aku telah salah mencurigaimu sebelumnya."

Yang si maksud Shen Muxue adalah insiden Hu Yuanzhong.

"Tidak apa-apa," kata He Yan. "Mereka bahkan bisa membodohi para instruktur, jadi wajar saja jika mereka bisa membodohimu. Lagipula, Nona Shen saat itu pasti sangat ingin menyelamatkan nyawa orang yang terluka itu, kau pasti tidak mempertimbangkan hal lain. Ngomong-ngomong," He Yan teringat sesuatu, "Kudengar Komandan Xiao bilang Hu Yuanzhong sudah mati?"

Shen Muxue mengangguk: "Hu Yuanzhong mencoba menculikku ketika Ri Da Mu Zi muncul. Kemudian ketika Komandan kembali, para pengawalnya bertarung melawan Hu Yuanzhong, dia tewas di tangan pengawalnya komandan."

"Kalau kita tahu dia akan mati, kenapa repot-repot menyelamatkannya dan membuang-buang obat," gerutu Cheng Lisu.

He Yan berpikir dalam hati, Hu Yuanzhong benar-benar tidak bisa tahan melihat kecantikan Nona Shen, dan terus-menerus merencanakan niat jahatnya. Bahkan dalam keadaan perang, ia masih mencoba untuk menculik noan Shen—benar-benar pria brengsek.

"Saudara He," Shen Muxue menatap He Yan dengan serius dan bertanya, "Aku penasaran, bagaimana kau bisa curiga ada yang salah dengan Hu Yuanzhong saat itu?"

Dan kecurigaannya selalu akurat. Lagipula, selama Hu Yuanzhong berada di Garda Liangzhou, ia selalu berperilaku baik dan tidak melakukan tindakan yang melenceng. Meskipun Xiao mai dan yang lainnya mengawasinya setiap hari atas instruksi He Yan, mereka tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.

He Yan tak bisa memberitahu bahwa kecurigaannya bermula ketika ia melihat ruam yang ada di tangan Hu Yuanzhong, karena itu akan menunjukkan bahwa dia sangat familiar dengan orang-orang Qiang. Setelah hening sejenak, He Yan berkata: "Karena kertas yang berisi puisi cinta."

"Kertas?" Shen Muxue terkejut. "Kenang-kenangan dari mendiang istri Hu Yuanzhong?"

"Iya," kata He Yan. "Kalian semua tersentuh oleh cintanya yang mendalam pada mendiang istrinya, tapi orang yang begitu setia pada istrinya tidak akan pernah menatap nona Shen dengan tatapan seperti itu."

"Tatapan macam apa?" Shen Muxue bingung.

He Yan menggaruk kepalanya: "Cara pria memandang wanita."

He Yan pikir karena Shen Muxue adalah nona muda dan rendah hati, mengatakan "bernafsu" akan membuat Shen Muxue malu. Jadi lebih baik mengatakannya dengan kata-kata yang halus.

Namun, Shen Muxue bukanlah wanita biasa. Mendengar ini, ia tidak tersipu, melainkan bertanya dengan rasa ingin tahu: "Bagaimana kau menyadarinya?"

"Aku?" Pertanyaan ini mengusik He Yan, yang kemudian berkata: "Aku selalu memperhatikan Nona Shen."

Shen Muxue mengerutkan keningnya. Melihat situasi ini, Song Taotao segera melangkah maju dan menghalangi pandangan He Yan terhadap Shen Muxue, Song Taotao dengan santai mengambil secangkir air di dekatnya dan menawarkannya kepada He Yan: "Kakak He, minum air."

He Yan: "...Terima kasih."

Saat itu, suara tawa terdengar dari luar. Ketika mereka menoleh ke belakang, mereka melihat Lin Shuanghe yang telah kembali. Meskipun udara sangat dingin di musim dingin, Lin Shuanghe mengipasi dirinya dengan kipas lipat, ia mendekat dengan anggun sambil tersenyum manis: "Aku penasaran mengapa begitu ramai disni, ternyata semua orang sedang berkumpul."

"Paman Lin," panggil Cheng Lisu.

Meskipun Lin Shuanghe seusia dengan Xiao Jue, dan tidak jauh lebih tua dari Cheng Lisu, karena Cheng Lisu memanggil Xiao Jue "Paman", ia juga memanggil Lin Shuanghe "Paman". Namun, Lin Shuanghe tampaknya tidak senang dengan panggilan ini, senyumnya sedikit retak.

Shen Muxue berdiri: "Tuan Muda Lin."

"Nona Shen, Aku baru saja dari ruang medis. Beberapa rekrutan sudah bangun dan mengeluh kesakitan. Bisakah kau memeriksa mereka?"

Shen Muxue terkrjut: "Begitukah?" Lalu ia menoleh ke He Yan: "Saudara He, aku akan pergi ke ruang perawatan. Apakah kau merasa ada yang tidak nyaman?"

"Tidak, tidak," sebelum He Yan sempat menjawab, Song Taotao sudah lebih dulu angkat bicara, lalu ia menatap Shen Muxue seolah menghadapi musuh bebuyutan, "Jika terjadi sesuatu, Tuan Muda Lin ada di sini untuk menjaganya."

"Bukankah Paman Lin hanya merawat wanita?" tanya Cheng Lisu penasaran.

"Ehem," Lin Shuanghe menutup kipasnya, "Kadang-kadang ada pengecualian."

"Kalau begitu, aku permisi dulu," Shen Muxue membungkuk sedikit kepada semua orang dan pergi.

Song Taotao menghela napas lega.

He Yan: "..."

He Yan merasa kepalanya akan sakit sebentar lagi, bingung bagaimana menghendel masalah ini. Lin Shuanghe, yang peka, tampaknya menyadari kesulitan yang dihadapai oleh He Yan dan berkata kepada Song Taotao dan Cheng Lisu: "Aku perlu memeriksa luka Kakak He-Nya kalian sekarang. Setelah itu, dia butuh istirahat. Kalian berdua sebaiknya tidak mengganggunya."

"Istirahat lagi?" protes Cheng Lisu, "Kita baru saha menemuinya, bahkan belum sempat minum teh. Masih ada yang harus kukatakan pada Kakak He."

"Itu bisa ditunda sampai Kakak He-mu sembuh," Lin Shuanghe menuntun Cheng Li Su ke pintu dengan memegang bahunya, "Kecuali kau ingin melihat kakak He-mu lesu karena sakit?"

Song Taotao melirik He Yan, yang saat ini sedang berpura-pura lemah dan memegangi dahinya. Song Taotao menggigit bibirnya lalu menarik Cheng Lisu ke pintu keluar: "Kalau begitu, jangan ganggu Kakak He. Biarkan dia istirahat, kita kembali lagi besok."

Cheng Lisu mengeluh: "Kita kan cuma ngobrol, kenapa kau menarikku?"

Song Taotao: "Kau pikir aku mau menyentuhmu?"

Setelah pertengkaran kedua anak itu menjauh, Lin Shuanghe menutup pintu.

He Yan akhirnya bisa menghela napas lega. Lin Shuanghe sungguh hebat; setelah bertahun-tahun, kemampuannya membaca orang tetap luar biasa. Tak heran ia begitu populer di Akademi Xianchang sebelumnya. Karena Lin Shuanghe begitu memperhatikan perasaan orang lain, He Yan tak kuasa menahan rasa syukur.

"Meimei, kau sungguh mengesankan," Lin Shuanghe berjalan mendekat kearah He Yan sambil tersenyum, ia mengipasi dirinya dengan kipas lipat yang selalu dibawahnya, "Bahkan dalam situasi seperti ini, kau bisa membuat para wanita muda cemburu karenamu. Luar biasa!"

He Yan merespon dengan lemah: "Kau terlalu memujiku."

He Yan tidak bodoh – ia bisa merasakan perasaan Song Taotao padanya. Namun, hati seorang gadis muda berubah dengan cepat; seiring berjalannya waktu, Song Taotao pasti akan melupakannya.

"Apakah Tuan Muda Lin datang menemuiku karena ada sesuatu?"

"Tidak," desah Lin Shuanghe, "Garda Liangzhou masih ditutupi dengan lumuran darah di mana-mana. Mayat-mayat orang Qiang sangat banyak, membuatku pusing. Meskipun aku seorang dokter, aku tidak suka melihat pertumpahan darah. Hal ini cukup mengganggu, jadi aku datang ke sini untuk bersembunyi sebentar."

Lin Shuanghe juga seorang tuan muda yang sangat dimanjakan, kemungkinan besar tidak terbiasa dengan cuaca dingin di Garda Liangzhou. Kamar ini, yang He Yan pinjam dari Cheng Lisu, luas dan nyaman. Mungkin karena ia mengalami cedera, mereka menjaga api arang tetap menyala, membuat kamar itu sangat hangat. Dibandingkan dengan di luar, Kamar ini memang menjadi tempat yang lebih baik untuk bersantai.

"Kenapa kau tidak pergi mencari Komandan Xiao?" tanya He Yan, "Tempatnya jauh lebih nyaman daripada tempatku."

"Aku juga ingin pergi ke tempatnya," Lin Shuanghe mengangkat bahu, "Waktu aku datang tadi, aku bertemu dengannya. Dia sedang menuju ke penjara bawah tanah bersama beberapa orang dan mungkin ada urusan di sana. Aku akan menemuinya saat dia kembali."

"Penjara bawah tanah?" He Yan membeku.

"Kenapa? Kau ingin pergi kesana?"

Hanya Lei Hou yang ada di penjara bawah tanah sekarang. Jika Xiao Jue pergi ke sana, pasti untuk menginterogasi Lei Hou. Karena He Yan pernah bertarung dengan Lei Hou sebelumnya, dia mungkin bisa membantu.

He Yan berkata: "Aku ingin pergi ke penjara bawah tanah. Bisakah Tuan Muda Lin membantu ku?"

"Biasanya aku tidak suka membantu orang lain," Lin Shuanghe mengipasi dirinya dengan anggun, "Tapi karena wanita cantik yang meminta bantuan, itu bisa diatur." Lin Shuanghe berdiri, "Ayo pergi, aku akan mengambilkan tongkat untukmu bersandar."

Di pintu masuk penjara bawah tanah, Xiao Jue dan Shen Han berjalan masuk bersama beberapa orang lainnya.

Penjaga di pintu masuk bertambah dua kali lipat, dengan lebih banyak lagi yang mengawasi di dalam, semua penjagaan itu bermaksud untuk mencegah Lei Hou bunuh diri di dalam selnya. Angin mengangkat jubah Xiao Jue saat ia berjalan, Xiao Jue bertanya: "Di mana Du Mao?"

"Atas perintah komandan, kami telah mengurungnya," Shen Han ragu sejenak sebelum melanjutkan, "Tapi mengenai masalah Lei Hou, Du Mao mungkin benar-benar tidak tahu apa-apa."

"Tidak ada kata 'mungkin' dalam kamus ku. Aturan adalah aturan." Ekspresi pemuda itu acuh tak acuh, "Kesalahan harus dihukum."

Shen Han tidak berani berbicara lebih jauh.

Para penjaga penjara bawah tanah mempersilahkan mereka masuk setelah melihat Xiao Jue berada diantara orang-orang itu. Xiao Jue melepas jubahnya, menyerahkannya kepada Fei Nu, dan menatap orang yang berada di dalam sel.

Saat He Yan bertarung melawan Lei Hou, He Yan telah membiusnya dengan obat bius dan mengikat Lei Hou dengan ikat pinggang milik Song Taotao. Saat penjaga membawa Lei Hou masuk ruang penyiksaan, Lei Hou masih pingsan.

Namun kini, Lei Hou terlihat jauh lebih buruk daripada saat bertarung dengan He Yan. Tangan dan kakinya terikat dengan pasak kayu, tak bisa bergerak. Bahkan lehernya tak bisa bergerak, dan seluruh tubuhnya tak berdaya, membuat mustahil untuk menggigit lidahnya sendiri. Setelah kehilangan kendali atas hidup atau matinya, Lei Hou bagaikan ikan di atas talenan, tidak bisa berbuat apa-apa.

"Buka pintunya," perintah Xiao Jue.

Penjaga membukakan kan pintu untuk Xiao Jue.

Meski pintu terbuka, Lei Hou hanya bisa menggerakkan mulutnya, tak ada yang lain. Lei Hou menatap orang di hadapannya. Wajah pemuda itu tampak luar biasa cantik di bawah cahaya obor, tetapi tatapannya ke arah Lei Hou sedingin kolam musim dingin.

"Jangan sia-siakan usahamu," Lei Hou memaksakan senyum, "Aku tidak akan memberimu informasi apapun."

Seorang penjaga membawa kursi untuk Xiao Jue duduk. Ia menatap kearah Lei Hou, suaranya tenang: "Beberapa bulan yang lalu, saat kompetisi bendera di Gunung Bulan Putih, kau kalah dari He Yan, tapi aku tetap menempatkanmu di kamp garda depan. Kau tahu kenapa?"

Senyum Lei Hou membeku, ia menatap Xiao Jue dengan ekspresi tidak percaya.

Xiao Jue mengangkat sebelah alisnya: "apakah kau sudah mengerti sekarang?"

"Kau sengaja melakukannya?" Seketika, suara Lei Hou menjadi sangat serak.

"Seorang rekrutan, yang diam selama latihan harian, tiba-tiba unggul selama kompetisi bendera. Apa itu, jenius?" Nada Xiao Jue terdengar mengejek, "Apakah kau jenius seperti itu?"

Lei Hou terdiam.

Ia telah merencanakan dengan matang untuk memasuki Garda Liangzhou, melangkah dengan cermat di setiap langkahnya, karena takut penyamarannya terbongkar. Bahkan sekarang, ia masih mempertahankan keberaniannya untuk berkorban, tetapi satu kalimat dari Xiao Jue meruntuhkan pertahanannya.

Xiao Jue sudah mengetahuinya sejak awal.

Jadi, semua yang ia lakukan bagaikan pertunjukan badut, hidungnya ditarik bagai sapi sementara ia merasa bangga pada dirinya sendiri.

"Terus kenapa?" Lei Hou memaksakan diri untuk berkata, "Mati ya Mati, lebih baik mati dengan penuh arti. Sekalipun itu hanya untuk menusukkan duri di hatimu."

"Ketika aku menempatkanmu di kamp garda depan, aku melakukan sesuatu," Xiao Jue melambaikan tangannya dengan santai. Fei Nu membungkuk dan mengeluarkan dua benda dari jubahnya – satu kantong wewangian dan satu gembok umur panjang. Xiao Jue melemparkan kantong wewangian ke hadapan Lei Hou dan memutar gembok umur panjang di jarinya, sambil menatap Lei Hou dengan senyum tipis: "Lihat, apa kau mengenali ini?"

Lei Hou seperti disambar petir.

Sulaman pada kantong wewangian itu terasa familier, sulaman itu buatan istrinya. Kunci umur panjang itu adalah kunci yang dipesannya sendiri dari seorang pengrajin sebelum pergi, dikalungkan di leher putranya.

"Xiao Huaiqin," ia menggertakkan gigi, "Jangan ganggu istri dan anakku..."

"Istri dan anak?" Xiao Jue memainkan kunci umur panjang di tangannya, sambil mencibir, "Ketika kau melakukan ini, apa kau ingat kau punya istri dan anak?"

Lei Hou menggertakkan giginya dalam diam.

"Saat kau melakukan ini, kau mengikatkan nasibmu pada istri dan anakmu. Jika kau berhasil, kalian semua akan hidup. Jika kau gagal, apa yang membuatmu berpikir hanya kau yang akan menanggung akibatnya?"

"Xiao Huaiqin!" teriak Lei Hou. Ia mencoba meronta, tetapi tak berdaya di balik jeruji kayu. Matanya memerah, hampir meledak karena amarah lalu ia berseru, "Apa sebenarnya yang kau inginkan?"

Komandan muda itu menatapnya, menunjukkan senyum mengejek, "Kau bisa menceritakan semua yang kau tahu."

"Mustahil!" kata Lei Hou.

"Anjing yang begitu setia." Xiao Jue memegang gembok umur panjang di depan matanya, mengamatinya dengan saksama sambil berkata dengan acuh tak acuh, "Coba tebak – setelah kau, istri, dan anakmu mati, akankah tuan yang kau layani membalaskan dendammu?"

"Aku bertindak sendiri," Lei Hou memohon dengan putus asa, "Mereka tidak tahu apa-apa. Tolong ampuni mereka. Kau boleh melakukan apa pun yang kau mau terhadapku, bunuh aku jika kau mau, aku mohon..."

"Seharusnya kau mempertimbangkan hal ini sebelum datang ke garda Liangzhou," kata Xiao Jue, "Bagaimana mungkin seseorang yang rela menjadi pasukan siap mati menyimpan sebuah harapan? Atau mungkin kau seharusnya menyembunyikan istri dan putra mu dengan lebih baik."

Lei Hou terkulai ke tanah.

Jenderal muda Wei Agung ini berhati besi. Serendah apa pun dia memohon, itu tidak akan pernah melunakkan hati Xiao Jue. Xiao Jue adalah monster tanpa perasaan, kejam dan tak kenal ampun, bagaikan patung tanah liat atau kayu. Jika ia bisa memperlakukan orang tua kandungnya seperti ini, bagaimana mungkin orang lain mengharapkannya memiliki perasaan?

"Apa maumu?" tanya Lei Hou dengan lemah. Namun ia tahu ia tak mampu menandingi kekejaman Xiao Jue – ia tak pernah bisa mengabaikan nyawa istri dan anaknya.

Tetapi jika ia bicara, tuannya juga akan membalas dendam. Ini adalah jalan buntu – sukses dan hidup, gagal dan mati.

Saat ini, Lei Hou menyesali keputusannya.

"Sudah kubilang, ceritakan semua yang kau tahu," kata Xiao Jue dengan santai, "Aku punya banyak waktu, tidak perlu terburu-buru. Kau bisa menceritakannya sepotong demi sepotong."

"Bagaimana jika aku tidak memberitahumu apapun?"

Pemuda itu berhenti memainkan kunci umur panjang itu sejenak. Detik berikutnya, dengan sedikit "retak", kunci itu hancur menjadi bubuk di tangannya. Ia telah menghancurkan kunci itu dengan tangan kosong.

"Coba saja," nadanya tenang, bahkan lembut, hanya berkata: "Aku janji, lain kali, yang dikirim bukan hanya benda-benda tak bernyawa ini."

Lei Hou memejamkan matanya.

Ketika ia membukanya lagi, ekspresinya benar-benar muram. Ia menatap Xiao Jue, tertawa dingin sambil mengucapkan kata demi kata: "Seperti yang diharapkan dari Jenderal Feng Yun, seperti yang diharapkan dari Komandan Tentara Kanan. Metode yang begitu kejam, aku benar-benar belajar dari pengalamanku."

He Yan, bersandar pada tongkat dan mengikuti Lin Shuanghe ke penjara bawah tanah, baru saja tiba di pintu masuk ketika mendengar kata-kata ini.

"Pantas saja masa berkabung pasangan Xiao Zhongwu belum berlalu kau sudah pergi bertempur memperebutkan kekuasaan militer, pantas saja kau bisa menenggelamkan enam puluh ribu prajurit di Pertempuran Guecheng Changgu tanpa mengubah ekspresimu. Dalam hal kekejaman, siapa di Wei Agung yang bisa dibandingkan dengan Xiao Huaiqin?"

Disclaimer: Terjemahan ini dilakukan secara sukarela untuk tujuan berbagi hobi dan apresiasi karya. Seluruh hak cipta, termasuk karakter, alur cerita, dan judul adalah milik penuh penulis asli dan penerbit. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas konten ini. Jika Anda menyukai ceritanya, dukung penulis aslinya melalui platform resmi.

Komentar