Legend of the Female General-Bab 114 Lin Shuanghe

He Yan tertidur sangat lama diluar dari kebiasaannya. Ia bahkan bermimpi sedang beradu pedang dengan Ri Da Mu Ji. Komandan brutal itu mengangkat kepalanya sementara He Yan mengarahkan pedangnya pada Ri Da Mu Ji, namun tiba-tiba wajah jenderal kejam itu berubah menjadi wajah He Rufei. Pedang yang dipegang He Yan jatuh dengan bunyi dentang.

Ketika He Yan membuka matanya, ia melihat kanopi lembut di atasnya. Seprai di bawahnya terasa hangat, dan ketika melihat ke bawah, He Yan mendapati dirinya terbaring dengan nyaman di sofa. Ia ingat sebelum pingsan, ia berada di tempat latihan dimana Xiao Jue bertempur melawan Ridamuzi, sementara bala bantuan Prajurit Selatan datang dari kejauhan. Bagaimana situasi saat ini? Apakah semuanya sudah selesai?

He Yan perlahan bangkit untuk duduk, tetapi gerakan itu membuat luka dipinggangnya terasa seperti tertarik, He Yan mengerutkan kening karena kesakitan. Setelah berhenti sejenak, ia berhasil duduk dengan benar sambil berpegangan pada kepala tempat tidur. Lukanya telah diperban, dan ia kini berada kamarnya—kamar yang bersebelahan dengan kamar Xiao Jue. Kamar itu kosong, membuatnya tidak bisa bertanya pada seorang pun tentang keadaan saat ini.

Saat itu, pintu terbuka, dan seorang pemuda masuk sambil membawa obat. Setelah menutup pintu, pemuda itu berjalan ke sofa dimana He Yan berada. Melihatnya duduk, Pemuda itu tersenyum dan berkata, "Sudah bangun? Sepertinya kau sudah pulih dengan baik."

Wajah orang ini asing—He Yan belum pernah melihat orang ini sebelumnya di Garda Liangzhou, dan juga pakaian pemuda ini menunjukkan bahwa ia bukan rekrutan baru. He Yan menatap wajah pemuda itu, pikirannya kosong untuk sesaat akhirnya tiba-tiba menyadari siapa pemuda itu, He Yan hampir saja melontarkan namanya.

Untungnya, He Yan segera tersadar dan menelan kata-katanya. Pemuda itu tersenyum pada He Yan dan berkata, "Nama ku Lin Shuanghe. Aku seorang dokter dan juga temannya Xiao Huaijin. Aku pernah merawat lukamu sebelumnya."

Melihat He Yan hanya menatapnya tanpa bicara, Lin Shuanghe berpikir sejenak dan menambahkan, "Jangan salah paham—bukan aku yang melepas pakaianmu, Xiao Huaijin yang melakukannya. Aku hanya memebrikanmu obat. Ehem... aku juga tahu identitas aslimu sekarang." Ia merendahkan suaranya dan mencondongkan tubuh lebih dekat ke He Yan, "Mèimei (Adik perempuan), aku sungguh mengagumimu."

He Yan: "..."

He Yan berusaha mengangguk pada Lin Shuanghe sebagai tanda terima kasih: "Terima kasih."

"Sama-sama," Lin Shuanghe tersenyum, sambil menyerahkan obat. "Minumlah ini. Sudah cukup dingin."

He Yan mengambil mangkuk obat dan meminumnya perlahan, hatinya dipenuhi rasa terkejut. Lin Shuanghe—Lin Shuanghe telah datang ke Garda Liangzhou!

He Yan cukup familiar dengan Lin Shuanghe. Lin Shuanghe pernah menjadi teman sekelasnya. Di antara para Tuan Muda yang belajar di Xianchangguan, He Yan merasa hubungannya dengan Lin Shuanghe lebih dekat daripada dengan Xiao Jue.

Alasannya sederhana: dalam penilaian akademik, orang yang paling sering bersaing dengan He Yan untuk mendapatkan peringkat terakhir adalah orang ini, delapan dari sepuluh.

Meskipun Lin Shuanghe tampak cerdas, ia sangat buruk dalam mata pelajaran sipil dan militer. Tidak seperti He Yan, yang selalu berada di peringkat terakhir meskipun ia sudah berusaha keras, Lin Shuanghe sama sekali tidak belajar. Lin Shuanghe tidak terpisahkan dari Xiao Jue dan akan meniru tugas temannya. Ketika guru memberi tugas latihan kaligrafi, ia akan membayar orang lain untuk melakukannya.

Para pemuda di Xianchangguan berasal dari keluarga kaya atau bangsawan, dan tak seorang pun kekurangan uang. Namun, Lin Shuanghe selalu menawarkan harta karun langka sebagai imbalan, yang diidam-idamkan banyak orang. Bahkan He Yan pun tak kuasa menahan godaan untuk membantu Lin Shuanghe menyalin teks semalaman dengan imbalan seekor jangkrik giok.

Lin Shuanghe sangat kaya. Keluarga Lin telah menjadi tabib kekaisaran selama beberapa generasi, dengan kakeknya, Lin Qingtan, menjabat sebagai Kepala Tabib Kekaisaran di Akademi Kedokteran Kekaisaran. Putra bungsu Lin Qingtan yang bernama Lin Mu, adalah seorang Tabib Kekaisaran yang unggul dalam pengobatan wanita dan sangat disukai oleh para selir di istana. Lin Mu gemar meracik formula kecantikan, yang menyenangkan Janda Permaisuri, Permaisuri, dan Selir Kekaisaran, sehingga ia sering mendapatkan Hadiah. Hadiah ini kemudian diberikan kepada Lin Shuanghe.

Lin Mu hanya memiliki satu putra yaitu Lin Shuanghe, yang sangat ia sayangi. Lin Shuanghe memanfaatkan kekayaan keluarganya untuk bermalas-malasan menghabiskan waktunya di Xianchangguan.

Keluarga Lin kemungkinan besar tidak memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap Lin Shuanghe, mereka tidak pernah mengharapkan Lin Shuanghe untuk unggul dalam pelajaran sipil maupun militer demi mengejar karier resmi di kerajaan. Mereka tidak peduli dengan apa yang dipelajari Lin Shuanghe di sekolah selama ia tidak mempermalukan keluarga itu saja sudah cukup. Tanpa banyak tekanan dari rumah dan hanya perlu berurusan dengan para guru di Xianchangguan, kehidupan Lin Shuanghe sebagai pelajar dipenuhi dengan hari-hari yang riang setiap harinya hanya bermain dengan kucing dan anjing.

Lin Shuanghe yang boros dan tidak peduli pada pelajaran terlihat wajar, tetapi ketika ia melihat He Yan bekerja begitu keras, ia merasa tak habis pikir. Suatu ketika, ketika He Yan sedang sibuk menghafal teks, ia menghampiri dan bertanya, "Kakak He, kenapa kau bekerja begitu keras setiap hari padahal kau masih peringkat terakhir? Apa gunanya?"

He Yan mengabaikannya dan terus bersusah payah menghafal. Karena tidak mendapat respons, Lin Shuanghe pun pergi.

Beberapa hari kemudian, ketika He Yan naik dari peringkat terakhir ke peringkat kedua terakhir, Lin Shuanghe datang menemuinya lagi dan bertanya, "Kakak He, bisakah kita buat kesepakatan? Untuk penilaian berikutnya, bisakah kau tetap mengambil peringkat terakhir dan membiarkanku menjadi peringkat kedua terakhir?"

He Yan: "...Kenapa?"

"Guru mengadu kepada kakekku, lalu kakek kemudian memarahi ayahku, dan sekarang ayahku menuntutku untuk menunjukkan peningkatan di ujian berikutnya jika tidak dia akan memotong uang sakuku. Saat ini aku peringkat terakhir, jadi jika kamu mendapat peringkat terakhir, bukankah itu berarti aku sudah meningkat?"

He Yan: "..."

"Kakak He, kumohon," pinta pemuda itu. "Kalau kau membantuku kali ini, aku akan memberimu tusuk rambut phoenix hadiah dari Selir Su."

"Tidak," tolak He Yan, "Aku bukan wanita, apa yang akan kulakukan dengan tusuk rambut itu?"

"Kamu bisa memberikannya pada ibumu!" Lin Shuanghe melambaikan kipasnya, terus bernegosiasi. "Atau beri tahu aku apa yang kamu inginkan, dan aku akan memberikannya kepadamu, bantu aku sekali ini saja."

"Maaf," He Yan menggelengkan kepalanya, "Aku benar-benar tidak bisa membantu. Kenapa kau tidak meminta Huai... Kakak Huaijin untuk mengajarimu? Nilainya sangat bagus, dia pasti bisa membantu membuat nilai mu meningkat hanya dengan beberapa bimbingan."

Mendengar perkataan He Yan, Lin Shuanghe memutar matanya dengan dramatis: "Jangan menyiksa ku seperti itu. Siapa yang mau bimbingannya? Dia tidur seharian dan tidak punya kesabaran. Memintanya mengajariku bahkan lebih buruk daripada belajar sendiri." Lin Shuanghe mendesah, "Bagaimana mungkin seseorang yang kerjaannya tidur seharian masih bisa mendapat peringkat pertama? Dia pasti semacam iblis!"

He Yan melirik Xiao Jue yang saat ini sedang tidur di mejanya, He Yan sangat setuju dengan perkataan Lin Shuanghe. Ayahnya Xiao Jue pasti berasal dari surga sehingga surga sangat menyayanginya.

Melihat kondisi Lin Shuanghe yang muran dan menyedihkan, He Yan merasa sedikit simpati. Ia berkata kepadanya, "Sebenarnya, kau tidak perlu berkecil hati. Aku meninjau ulang pelajaran setiap hari, dan jika kau tidak keberatan, kau bisa bergabung denganku. Kau juga boleh melihat catatan belajarku. Tidak apa-apa." Kemudian, dengan sedikit rasa tidak percaya diri, ia menambahkan, "Meskipun catatanku tidak terlalu bagus..."

Lin Shuanghe menatap He Yan sampai membuat He Yan merasa tidak nyaman, lalu tiba-tiba menutup kipasnya dan berkata: "Baiklah!"

"Apa?"

"Kalau kau menawarkan untuk belajar bersama, ayo kita belajar bersama. Aku akan mencoba dan melihat bagaimana rasanya 'menggantung kepalaku dengan rambutku dan menusuk pahaku dengan penusuk' seperti para cendikawan kuno itu."

Popularitas Lin Shuanghe di Xianchangguan jauh lebih baik daripada He Yan. Dia tidak memakai topeng atau berusaha menonjolkan diri, bersikap anggun, murah hati dan bersahaja, menangani masalah dengan lancar, dan sering mentraktir semua orang dengan makanan lezat. Terlebih lagi, setiap pemuda memiliki ibu dan saudara perempuan di rumah, dan jika ada yang sakit kepala atau demam, mereka perlu meminta bantuan Tabib Istana Lin. Selain itu, karena kakeknya berhubungan baik dengan para bangsawan di istana, tidak ada yang berani menyinggung perasaannya. Karena itu, semua orang menyukai Lin Shuanghe.

Namun, menyukainya adalah satu hal, membantunya belajar adalah hal lain. Secara teori, banyak yang bersedia membantu Lin Shuanghe jika ia memintanya. Namun, fondasinya terlalu buruk, dan kebanyakan pemuda di Xianchangguan adalah pemuda genius, kurang sabaran dan tidak mempunyai waktu untuk membantunya memulai dari dasar. Akhirnya, tak seorang pun bersedia mengambil tugas sulit ini.

He Yan berbeda—mereka berdua sama-sama siswa yang buruk, tidak ada yang lebih baik dari yang lain.

Jadi, sebelum ujian berikutnya datang, He Yan menghabiskan setiap hari belajar bersama Lin Shuanghe.

Lin Shuanghe telah menyerah untuk belajar seni bela diri, jadi mereka lebih fokus pada mata pelajaran sastra saat belajar bersama. Terlepas dari apa yang dikatakan orang lain, mereka tetap belajar dengan tekun. Di malam hari setelah kelas, ketika pelajar yang lain pergi makan, mereka berdua akan tetap berada di kelas, saling membacakan teks.

Namun, yang dikatakan membaca ini biasanya terdiri dari Lin Shuanghe yang duduk menyamping sambil memegang buku sementara He Yan membaca dengan ritme dan penekanan yang tepat.

He Yan menghafal: "Jalan untuk mencapai pembelajaran yang agung terletak pada perwujudan kebajikan cemerlang, untuk memberikan cinta kasih kepada sesama, dan untuk berhenti dalam kebaikan yang sempurna. Hanya setelah mengetahui di mana harus berhenti, seseorang dapat menjadi tenang; hanya setelah tenang, seseorang dapat menjadi tenteram; hanya setelah tenteram, seseorang dapat merasa damai... Para leluhur yang ingin mewujudkan kebajikan cemerlang mereka kepada seluruh dunia, pertama... pertama..."

Pada saat menghafal sebuah teks, He Yan lupa apa kata-kata selanjutnya, dan He Yan menatap Lin Shuanghe.

Lin Shuanghe sengaja menggodanya alih-alih memberikan petunjuk, dia memakan buah kering sambil bertanya: "Pertama apa?"

Pipi He Yan memerah karena frustrasi, tak mampu mengingat apa kata-kata selanjutnya.

Namun Lin Shuanghe terus menggodanya: "Pertama apa? Cepat katakan."

"Turun dulu, lalu naik!" He Yan mengarang teks asal-asalan.

"Uhuk, uhuk, uhuk—" Seseorang di belakang mereka batuk seperti sedang tersedak teh. Mereka menoleh dan melihat Xiao Jue duduk dengan malas sambil bersandar di meja.

"Huaijin, kau belum pergi?" Lin Shuanghe terkejut, "Kukira kau sudah pergi sejak lama."

Pemuda itu berdiri dari meja. Terlihat seperti baru saja bangun, ia masih agak mengantuk. Xiao Jue berjalan menghampiri He Yan dan Lin Shuanghe, ia dengan santai bertanya kepada Lin Shuanghe: "Apa yang kalian lakukan?"

"Aku sedang meninjau kembali pelajaran!" Lin Shuanghe merangkul bahu He Yan, berbicara seolah mereka sudah sangat dekat: "Aku sudah memutuskan untuk belajar bersama Kakak He."

"Meninjau kembali pelajaran?" tanyanya.

"Ya, Kakak He bahkan berbagi catatannya denganku. Kakak He sungguh murah hati," kata Lin Shuanghe.

Xiao Jue melirik He Yan dan mengambil catatan yang ada di atas meja. Sebelum He Yan sempat menghentikannya, Xiao Jue sudah mulai membolak-balik catatan itu. Kertas-kertas itu berisi ringkasan harian yang He Yan tulis ketika para guru sedang memberi materi. Yang diambil Xiao Jue tampaknya adalah catatan matematika.

Tubuhnya yang tinggi besar membuat He Yan terpaksa harus melihat keatas untuk menatapnya. Pemuda itu membalik halaman catatan itu dengan santai, berhenti sejenak, dan mulutnya berkedut.

He Yan merasa gugup.

Setelah beberapa saat, Xiao Jue meletakkan kembali catatan itu di atas meja dan berkata tanpa ekspresi: "Satu halaman, lima soal, kamu salah tiga."

He Yan: "Ah?"

Lin Shuanghe juga bingung.

Xiao Jue melihat He Yan dan Lin Shuanghe secara bergantian, lalu mengerucutkan bibirnya, dan berkata dengan nada mengejek yang terdengar jelas: "Meningkat bersama?"

Lin Shuanghe: "..."

Xiao Jue berbalik dan pergi, sementara di balik topengnya, wajah He Yan memerah.

He Yan masih ingat dengan jelas hasil penilaian itu—ia dan Lin Shuanghe imbang di posisi terakhir. Tak seorang pun tahu bagaimana Lin Shuanghe menjelaskan hal ini kepada keluarganya, atau apakah itu termasuk peningkatan atau tidak.

Kini, bertahun-tahun telah berlalu, dan He Yan tidak menyangka akan bertemu Lin Shuanghe lagi dalam situasi seperti ini. Bukan di ruang belajar yang dipenuhi suara bacaan, melainkan di medan perang yang baru saja terjadi pertempuran, ribuan mil jauh dari Shuojing. Mereka bukan lagi teman sekelas malang yang belajar bersama—yang satu kini menjadi rekrutan, dan yang satunya lagi menjadi seorang tabib. Betapa misteriusnya cara kerja takdir.

He Yan menghabiskan obat itu dan meletakkan mangkuknya, lalu mengamati orang di hadapannya.

Dibandingkan beberapa tahun yang lalu, raut wajah Lin Shuanghe telah jauh lebih dewasa, dia kehilangan sedikit kepolosan masa mudanya dan tampak lebih tenang. Saat diam, ia tampak seperti pria yang berkelas, tetapi begitu berbicara, sikapnya yang berwibawa langsung runtuh. Lin Shuanghe mencondongkan tubuh ke dekat He Yan dan tersenyum: "Mèimei, katakan yang sejujurnya, apakah kau datang ke Garda Liangzhou untuk Xiao Huaijin?"

He Yan: "Apa?"

"Kau menyukainya? Jadi kau mengikutinya ke Garda Liangzhou?" Ia berkata dengan kagum, "Keberanian yang mengagumkan."

He Yan terdiam sejenak sebelum menjelaskan: "Bukan begitu. Aku mengalami masalah di ibu kota dan tidak bisa tinggal lama disana. Karena tidak punya tujuan lain, aku akhirnya mendaftar di militer."

Xiao Jue dan Lin Shuanghe selalu berteman dekat. Karena Lin Shuanghe tahu tentang identitasnya sebagai seorang perempuan, Xiao Jue mungkin sudah menceritakan hal ini kepada Lin Shuanghe.

"Lalu bagaimana Xiao Jue tahu identitasmu sebagai perempuan?" Lin Shuanghe tidak mempercayainya: "Hubungan kalian terasa tidak biasa bagiku."

"Dia mengetahui identitas ku karena Komandan Xiao sangat tanggap dan memiliki kecurigaan terhadap ku. Dia menyuruh seseorang menyelidiki identitas ku di ibu kota. Dokter Lin," He Yan dengan sabar berbicara dengannya, "bolehkah aku meminta sesuatu?"

Lin Shuanghe menjadi serius: "Meminta apa ?."

"Di Garda Liangzhou, bisakah kau tidak memanggilku 'Meimei'? Banyak orang di sini yang tidak bisa menjaga lidah mereka, dan jika identitasku terbongkar, Komandan akan kesulitan. Biasanya, memanggilku 'He Xiōng'(Saudara laki-laki). saja sudah cukup"

"Mei...He xiong, itu masalah kecil, tentu saja aku bisa," Lin Shuanghe menatap He Yan, menggelengkan kepala dan mendesah: "Kau sungguh cantik, kenapa tidak tinggal di rumah dengan aman daripada datang ke tempat seperti ini untuk menderita? Hatiku sakit."

He Yan: "..."

Mulai lagi. Dalam hal ini, Lin Shuanghe benar-benar tidak berubah sama sekali.

Berbeda dengan Xiao Jue, yang di masa mudanya memiliki banyak pengagum dari timur hingga barat kota, tetapi tak pernah melirik mereka sedikit pun, Lin Shuanghe justru sebaliknya. Selama seseorang berjenis kelamin perempuan—tidak, selama sesuatu itu berjenis kelamin perempuan, entah manusia atau hewan, ia akan merespons dengan kesabaran dan kelembutan yang tidak terbatas.

Lin Shuanghe tidak menyapa para wanita muda dengan sopan, ia memanggil mereka semua "Meimei" dengan penuh kasih sayang, seolah-olah keluarganya memiliki saudara kandung sebanyak itu. Di masa muda mereka, banyak wanita muda berusaha mendekati Lin Shuanghe untuk mendekati Xiao Jue. Tidak seperti Xiao Jue yang tidak ramah, Lin Shuanghe ramah dan hangat, tidak pernah marah tentang hal-hal seperti itu, dan bahkan dengan senang hati membantu. Suatu hari ia membantu "Meimei" ini mengantarkan surat cinta, keesokan harinya ia membantu "Meimei" itu memebrikan minuman. Ia memang tampan, dan akhirnya, beberapa wanita muda yang awalnya mengincar Xiao Jue mengalihkan kasih sayang mereka kepada Lin Shuanghe.

Tentu saja, Lin Shuanghe punya prinsip—entah mereka menyukainya atau tidak, mereka semua adalah "Meimei" baginya.

Di kehidupan sebelumnya, Lin Shuanghe memanggil He Yan dengan sebutan "He Xiong" dengan penuh semangat. Sekarang ia beralih ke nada lembut, dengan penuh kasih sayang memanggilnya "Meimei", yang membuat He Yan tidak tahan, dan langsung merinding.

"Luka lamamu belum sembuh, dan sekarang kau punya luka baru. Terutama luka sayat itu—lukanya sangat dalam. Aku sudah merawatmu, tapi lukamu tidak akan sembuh hanya dalam satu atau dua hari. Saat ini, kau perlu istirahat di tempat tidur dan tidak boleh ikut latihan harian," Lin Shuanghe menatap He Yan. "Soal bekas luka, jangan terlalu khawatir. Keluarga Lin punya metode yang sangat istimewa untuk menghilangkan bekas luka dan meregenerasi jaringan kulit. Meskipun tidak akan pulih sepenuhnya ke kondisi semula, lukanya bisa pulih tujuh puluh hingga delapan puluh persen, bekas lukanya tidak akan terlalu kelihatan."

He Yan mengangguk: "Terima kasih, Dokter Lin."

"Tidak perlu terima kasih. Di antara semua wanita yang pernah aku obati, kau memiliki cedera paling parah dan toleransi rasa sakit yang paling tinggi. Kau telah memberikanku pengetahuan baru. Selain itu, sebagai teman Huaijin, Kau juga bisa menganggap aku teman. Jika kau mengalami kesulitan, beri tahu aku."

Pada saat itu, He Yan teringat sesuatu dan bertanya: "Dokter Lin... apakah Komandan ada di sini? Ada hal penting yang ingin au sampaikan padanya.

"Dia ada di luar, tunggu sebentar." Lin Shuanghe berdiri, membuka pintu, dan memanggil seseorang di halaman: "Xiao Huaijin, He Yan mencarimu."

Xiao Jue sedang berbicara dengan Shen Han, dan setelah mendengar panggilan dari Lin Shuanghe, ia mengangguk tanda mengerti. Setelah beberapa saat, Shen Han pergi dan Xiao Jue berjalan mendekat kamar He Yan. Lin Shuanghe menunggunya di pintu, dan ketika Xiao Jue masuk, Lin Shuanghe mencoba mengikutinya masuk.

Xiao Jue berhenti dan menatapnya.

Lin Shuanghe bingung: "Apa?"

"Tunggu di luar."

"Kenapa?" tanya Lin Shuanghe: "Ada yang tidak bisa kudengar?"

Xiao Jue meliriknya dan berkata dengan dingin: "Rahasia militer." Ia menutup pintu di depan Lin Shuanghe.

He Yan: "..."

Dengan Lin Shuanghe di sini, memang ada beberapa hal yang tidak seharusnya dibagikan dengannya. Meskipun mereka teman sekelas, mengingat situasi saat ini di Garda Liangzhou, bahkan He Yan pun menjadi sangat berhati-hati.

Xiao Jue berjalan mendekat.

He Yan menatap Xiao Jue. Meskipun baru setengah bulan sejak terakhir kali mereka bertemu, rasanya seperti sudah jauh lebih lama. Xiao Jue masih tetap acuh tak acuh dan malas seperti sebelumnya, seolah-olah pertempuran digarda Liangzhou tidak pernah terjadi. Pakaiannya masih bersih dan rapi, seperti air musim gugur.

He Yan menatap sebentar, lalu tersadar dan berkata: "Komandan, Lei Hou ada di penjara bawah tanah."

"Aku tahu." Xiao Jue duduk di kursi di samping sofa dimana He Yan berada dan menatapnya, lalu berkata dengan acuh tak acuh: "Aku sudah menyuruh orang menjaganya."

He Yan menghela napas lega. Dengan penjaga yang mengawasi, Lei Hou tidak akan punya kesempatan untuk bunuh diri. Xiao Jue pasti lebih memahami hal ini daripada dirinya.

Sejak pertemuan mereka saat lomba bendera, He Yan samar-samar merasakan ada yang tidak beres pada Lei Hou. Namun, perasaan itu samar, dan He Yan tidak dapat memastikannya sampai ia dipenjarakan di penjara bawah tanah. Ketika He Yan memastikan ada mata-mata di Garda Liangzhou yang bekerja sama dengan Hu Yuanzhong, ia memeriksa semua orang yang dikenalnya berulang kali, dan kecurigaannya kembali muncul pada Lei Hou.

Lei Hou sangat aneh.

Saat berkompetisi dengan Lei Hou memperebutkan bendera, Lei Hou menggunakan pedang dengan tangan kirinya, He Yan ingat betul. Ini bukanlah hal yang aneh—mungkin saja Lei Hou kidal. Namun kemudian, ketika Lei Hou bergabung dengan kamp Garda depan, He Yan mengamatinya latihan karena penasaran, dan kemudian He Yan melihat Lei Hou menggunakan tombak dengan tangan kanannya.

Jika Lei Hou kidal, ia tidak perlu sengaja menggunakan tangan kanannya, kecuali jika dia ingin menyembunyikan sesuatu. Jika dipikir-pikir lagi, He Yan merasa teknik pedang yang digunakan Lei Hou selama kompetisi bendera terasa agak canggung, seolah-olah ia lebih terbiasa menggunakan pedang lengkung. Teknik pedang yang dilakukan dengan gerakan pedang lengkung terasa kurang alami.

Orang bertopeng yang memancingnya ke gunung bulan putih hari itu juga sama.

Kemudian, ketika Ri Da Mu Zi memimpin pasukannya kedalam garda Liangzhou, Lei Hou mencoba membungkamnya di penjara bawah tanah, tetapi malah di kalahkan oleh He Yan. He Yan kemudian menyadari—jika Lei Hou memiliki hubungan dengan orang-orang Qiang, kemungkinan besar Lei Hou menggunakan pedang lengkung. Mungkin karena takut ketahuan, ia menggunakan pedang, tetapi ketika pikiran tajam He Yan menyadari ada sesuatu yang tidak beres, Lei Hou mungkin merasa tidak aman dan beralih menggunakan tangan kanannya agar gerakannya lebih sulit untuk dilacak.

Namun... He Yan masih memiliki pertanyaan.

Ia bertanya: "Komandan, Kau pergi ke Zhangtai dan kembali begitu cepat?"

Sekalipun semuanya berjalan lancar di Zhangtai, perjalanan pulang pergi seharusnya tidak memungkinkan Xiao Jue untuk kembali sekarang. Lagipula, ia telah membawa kembali pasukan Tentara Selatan.

"Aku tidak pergi ke Zhangtai," kata Xiao Jue.

He Yan menatap Xiao Jue.

"Panggilan darurat dari Zhangtai itu palsu," lanjutnya. "Aku pergi ke Qingnan dan membawa kembali beberapa pasukan Tentara Selatan."

He Yan terdiam.

He Yan sudah menduga hal ini sejak pertama kali mencurigai Hu Yuanzhong. Kemungkinan besar panggilan itu jebakan, yang dirancang untuk memancing Xiao Jue keluar dari Garnisun agar Ri Da Mu Zi bisa memimpin orang-orang Qiang melawan rekrutan Garda Liangzhou. Bagaimana mungkin rekrutan yang hanya berlatih setengah tahun bisa menandingi para prajurit Qiang? Pertempuran itu mustahil dimenangkan.

Namun, Ridamuzi tidak pernah menyangka Xiao Jue sama sekali tidak pergi ke Zhangtai.

He Yan bertanya: "Lalu, apakah menempatkan Lei Hou di kamp Garda depan juga disengaja? Kau sudah mencurigainya sejak awal?"

Bibir Xiao Jue melengkung: "Iya."

He Yan diam-diam terkesima.

Dalam kompetisi bendera, ia berhasil merebut dua puluh bendera, namun Xiao Jue justru memilih Lei Hou, yang telah dikalahkan olehnya, untuk bergabung di kamp Garda depan. He Yan awalnya tidak mengerti, tetapi sekarang semuanya menjadi jelas. Xiao Jue pasti sudah curiga bahwa Lei Hou adalah mata-mata saat itu dan sengaja mengatur siasat ini untuk memancing ular keluar.

He Yan sama sekali tidak menyadarinya.

Perangkap ini telah dipasang lebih awal daripada yang mereka sadari. Bagaimana mungkin Ri Da Mu Zi tahu bahwa sejak awal, ia telah melangkah ke dalam lubang yang tidak ada jalan keluar?

"Komandan, Anda luar biasa," kata He Yan tulus. Meskipun mereka berdua adalah seorang komandan, beberapa kemampuan Xiao Jue patut untuk dikagumi.

Xiao Jue memberi He Yan senyum ambigu: "Tidak sehebat dirimu."

He Yan: "Aku?"

Ia menyilangkan tangannya dan menatap He Yan dengan santai: "Sudah selesai bertanya? Kalau begitu, giliranku."

Kata-kata ini terdengar aneh, dan He Yan tidak mengerti, lalu ia berkata: "Apa maksudmu?"

Xiao Jue tertawa pelan dan mengambil sesuatu dari dadanya, lalu melemparkannya ke hadapan He Yan. He Yan berhenti sejenak sebelum mengambil benda yang dilempar Xiao Jue.

Itu adalah selembar kertas yang dilipat menjadi dua, terdapat peta dan teks yang digambar secara kasar di atasnya. Setelah diperhatikan dengan saksama, ternyata itu adalah peta keempat sisi Garda Liangzhou beserta teks diatasnya.

Pada malam He Yan dipenjarakan di penjara bawah tanah, Song Taotao datang mengunjunginya, dan He Yan meminta bantuan untuk satu hal—mengantarkan kertas ini kepada Shen Han. Saat itu, He Yan tidak tahu apa yang akan dilakukan Shen Han dengan kertas ini, tetapi situasinya mendesak, dan He Yan tidak bisa terlalu memikirkannya. He Yan telah bersiap untuk kemungkinan terburuk—jika ia benar-benar tidak bisa keluar atau menghentikan kejadian ini, kertas ini akan menjadi kartu terakhirnya.

Sekarang, kartu itu ada di tangan Xiao Jue.

"Nona Muda He," Xiao memiringkan kepalanya, menatap He Yan dengan senyum ambigu, suaranya lembut, "mau menjelaskan?"

Disclaimer: Terjemahan ini dilakukan secara sukarela untuk tujuan berbagi hobi dan apresiasi karya. Seluruh hak cipta, termasuk karakter, alur cerita, dan judul adalah milik penuh penulis asli dan penerbit. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas konten ini. Jika Anda menyukai ceritanya, dukung penulis aslinya melalui platform resmi.

Komentar