Legend of the Female General-Bab 116 Pemuda (I)
"Pantas saja masa berkabung pasangan Xiao Zhongwu belum berlalu kau sudah pergi bertempur memperebutkan kekuasaan militer, pantas saja kau bisa menenggelamkan enam puluh ribu prajurit di Pertempuran Guecheng Changgu tanpa mengubah ekspresimu. Dalam hal kekejaman, siapa di Wei Agung yang bisa dibandingkan dengan Xiao Huaiqin?"
Penjara bawah tanah itu pun menjadi sunyi senyap.
Meskipun Shen Han ingin berbicara, ia akhirnya tetap diam. Pemuda itu berdiri membelakangi tahanan, tangannya yang berada sisi tubuhnya perlahan mengepal.
Sesaat kemudian, suasana kembali menadi santai. Xiao Jue menoleh ke arah Lei Hou dan berkata dengan nada geli, "Sepertinya kau sangat mengerti orang seperti apa aku ini. Kalau begitu, kau harus berpikir lebih hati-hati lagi." Saat Xiao Jue berjalan keluar, suaranya menjadi lebih dingin, "Aku tidak pernah memberikan kesempatan kedua."
Sesampainya di ambang pintu, Xiao Jue kebetulan bertemu He Yan dan Lin Shuanghe yang sedang berdiri di sudut. Tatapannya terhenti sejenak pada mereka berdua, tetapi ia mengabaikan mereka dan langsung pergi.
Tidak ada yang berani mengikutinya.
Shen Han kembali mengurung Lei Hou. Entah karena percakapannya dengan Xiao Jue sebelumnya yang membuat Lei Hou kehilangan harapan atau hal lain, Lei Hou tertawa terbahak-bahak. Tawanya menggema di seluruh penjara bawah tanah, terdengar menyeramkan dan melengking.
Fei Nu keluar dari dalam dan terkejut melihat He Yan dan Lin Shuanghe. Ia berkata, "Tuan Muda Lin, mengapa kau datang kesini?"
"Aku ingin bilang," He Yan melirik ke dalam, "Aku pernah bertarung dengan Lei Hou sebelumnya. Mungkin aku bisa membantu ketika Komandan Xiao menanyai Lei Hou, jadi aku datang untuk menemuinya."
"Itu tidak perlu. Masalah ini sudah diselesaikan," jawab Fei Nu cepat. "Kalian berdua bisa kembali sekarang."
Lin Shuanghe mengangkat bahu, melihat jubah Xiao Jue yang berada di pelukan Fei Nu. Ia mengulurkan tangan untuk mengambilnya, lalu berkata, "Ini jubah milik Huaijin. Aku akan mengantarkannya. Kurasa dia sedang tidak ingin bertemu siapa pun saat ini."
Fei Nu: "Tidak perlu merepotkan Tuan Muda Lin."
"Sama sekali tidak merepotkan," kata Lin Shuanghe, "Aku memang berencana untuk mencarinya."
Fei Nu mengalah dan mengangguk kepada Lin Shuanghe: "Kalau begitu, terima kasih, Tuan Muda Lin."
Lin Shuanghe tersenyum dan berkata kepada He Yan, "Ayo pergi."
Keduanya berjalan keluar bersama.
Saat mereka keluar, salju tipis mulai turun, dan salju itu turun semakin lebat. He Yan terluka dan berjalan dengan pelan, masih mengenakan jubah milik Cheng Lisu. Meskipun Lin Shuanghe memanggil He Yan dengan sebutan "Meimei" dengan penuh kasih sayang, Lin Shuanghe tetap menjaga jarak dari para wanita, seolah-olah sengaja menghindari kecurigaan, bahkan tidak menawarkan bantuan apa pun kepada He Yan.
Namun, keduanya tidak terburu-buru, jadi mereka berjalan dengan pelan.
Salju turun tanpa suara, mendarat di tubuh mereka. He Yan sedang merenungkan kata-kata Lei Hou di penjara bawah tanah tadi, tiba-tiba Lin Shuanghe bertanya, "Pernahkah kau mendengar tentang Pertempuran Changgu di Kota Guo?"
He Yan terkejut, lalu menjawab, "Iya."
Pertempuran Changgu di Kota Guo adalah pertempuran yang sangat penting, Saat itu Xiao Jue memimpin Pasukan Selatan untuk menumpas pemberontakan Suku Barbar Selatan setelah kematian Xiao Zhongwu. Semua orang di Wei Agung menunggu kabar kegagalan Xiao Jue. Bagaimana mungkin seorang pemuda berusia enam belas tahun yang memimpin begitu banyak prajurit mengalahkan pasukan barbar yang kuat yang bahkan ayahnya pun tak mampu kalahkan? Tampaknya Xiao Jue sudah ditakdirkan untuk gagal.
Tanpa diduga, Xiao Jue meraih kemenangan besar dalam pertempuran pertamanya, mulai saat itu pasukan Barbar Selatan terus mengalami kekalahan. Xiao Jue benar-benar meredakan pemberontakan Barbar Selatan hanya dalam waktu setengah tahun.
"Tahukah kau bagaimana Xiao Jue meraih kemenangan di Changgu?"
"Perang air."
"Kau tahu tentang itu?"
He Yan tetap diam, hanya menusukkan tongkatnya ke salju, membuat lubang kecil.
"Kalau begitu, kau juga harusnya sudah tahu bahwa dalam Pertempuran Changgu, Jenderal Feng Yun Xiao Huaijin membanjiri Kota Guo, menewaskan enam puluh ribu orang," Lin Shuanghe mencengkeram jubah hitam Xiao Jue lebih erat. "Saat itu, mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana, kota timur berbau busuk, Kota Guo menjadi seperti neraka di bumi, terlalu mengerikan untuk digambarkan." Ia tersenyum dan bertanya, "Bagaimana menurutmu? Bukankah itu tampak kejam?"
He Yan menjawab dengan tenang, "Perang pada dasarnya memang kejam. Menunjukkan belas kasihan kepada musuh adalah kekejaman terhadap rakyatnya sendiri. Lagipula, kecuali kau berada di posisi itu, tidak ada yang tahu situasi sebenarnya seperti apa. Jika bukan karena kekejaman dan ketidakmanusiawiannya, mungkin yang tenggelam adalah kita."
Lin Shuanghe berhenti dan menoleh ke arah He Yan, lalu bertanya, "Kau bisa berpikir seperti itu?"
"Aku sungguh tidak percaya Komandan Xiao adalah orang yang tidak memiliki hati."
Lin Shuanghe menatap He Yan seolah baru pertama kali melihatnya.
He Yan bertanya, "Apakah aku salah bicara?"
Setelah beberapa saat, Lin Shuanghe menggelengkan kepala dan tersenyum, lalu berkata, "Aku hanya terkejut, dalam waktu kurang dari setahun mengenal Huaijin, kau sudah begitu mempercayainya. Kenapa aku tidak memliki kepercayaan seperti mu saat pertama kali mendengar berita itu?"
He Yan berpikir dalam hati bahwa itu karena Lin Shuanghe tidak pernah benar-benar berada di medan perang. Hanya mereka yang menyaksikan pembunuhan di medan perang yang mengerti betapa sulitnya bagi seorang komandan untuk membuat setiap keputusan. Xiao Jue cerdas dan tenang; jika situasinya tidak mendesak, dia tidak akan melakukan ini dan membuatnya mendapat reputasi sebagai orang yang haus darah.
Perlu dicatat bahwa setelah Pertempuran Changgu, meskipun Xiao Jue telah mengalahkan pasukan Barbar Selatan secara telak dan mendapatkan hormat serta kekaguman dari banyak anak muda, banyak cendekiawan yang menudingnya, mengutuk kekejaman dan pembunuhannya yang berlebihan. Lagipula, di antara mereka yang tewas dalam Pertempuran Changgu terdapat banyak warga sipil dari suku Barbar Selatan.
"Dokter Lin sepertinya tahu alasan komanda Xiao melakukan perang air," tanya He Yan, "Apa itu?"
"Awalnya aku tidak tahu," desah Lin Shuanghe. "Coba pikirkan, dengan tiga ribu tentara melawan enam puluh ribu, apa pilihan lain selain perang air?"
"Tiga ribu tentara?" He Yan tiba-tiba mendongak, "Bukankah itu seratus ribu pasukan Tentara Selatan?"
"Seratus ribu?" Lin Shuang He tertawa, "Jika Xiao Jue punya seratus ribu pasukan Tentara Selatan, dia tidak perlu melakukan tindakan seperti itu."
Setelah kematian Xiao Zhongwu, Nyonya Xiao pun menyusul suaminya. Saat itu, kediaman Xiao dipenuhi ratapan dan duka. Semua orang di istana mengatakan bahwa kekalahan Xiao Zhongwu dalam Pertempuran di Mingshui disebabkan oleh kekeraskepalaannya dan kesalahan komando, yang mengakibatkan puluhan ribu prajurit Wei Agung gugur dalam pertempuran.
Kaisar berbelas kasih dan, mengingat pengabdian keluarga Xiao selama bertahun-tahun, ia tidak menuntut Xiao Zhongwu atas kegagalannya menjalankan tugas. Namun, kaisar mengambil kembali wewenang militer yang dipegang keluarga Xiao. Xiao Jue baru berusia enam belas tahun saat itu, Xiao Jing baru berusia delapan belas tahun, dan Bai Rongwei baru menikah dengan keluarga Xiao kurang dari setengah tahun ketika bencana ini terjadi. Untuk sementara waktu, semua orang cemas, tidak tahu jalan apa yang sedang menunggu mereka di depan.
Lin Shuanghe masih ingat pertemuan pertamanya dengan Xiao Jue setelah kemalangan yang menimpa keluarga Xiao.
Pemuda itu selalu mempertahankan penampilan yang dingin dan malas, seolah tak ada yang bisa menyentuh hatinya. Namun, ia juga membuat orang-orang mengerti bahwa tak ada di dunia ini yang bisa mengalahkannya.
Namun, ketika sebuah keluarga menghadapi bencana sebesar itu, mereka pasti akan hancur, atau setidaknya, menjadi sangat berbeda dari sebelumnya. Namun, Xiao Jue yang dilihat Lin Shuanghe tidak seperti itu. Selain terlihat sedikit lebih lesu dari sebelumnya, Xiao Jue tidak menunjukkan tanda-tanda depresi atau bersedih.
"Apakah kau punya obat yang bisa membuat seseorang untuk tidur seharian?" tanya Xiao Jue langsung.
Lin Shuanghe menjawab, "Ada di apotek keluarga ku. Kalau Kau mau, aku akan segera mengambilkannya."
Apotek milik keluarga Lin tersebar di seluruh Wei Agung, beberapa di antaranya berada di pasar-pasar ramai di Ibu Kota Shuo. Lin Shuanghe memerintahkan seorang pelayan untuk mengambil dua dosis dari apotek terdekat dan menyerahkannya kepada Xiao Jue, sambil berkata, "Minum ini akan membuatmu tidur selama sepuluh jam." Lin Shuanghe tiba-tiba teringat sesuatu: "Jika kau sulit tertidur di malam hari, aku bisa menyiapkan versi yang lebih ringan untukmu."
Mungkin, karena musibah yang menimpa keluarganya, Xiao Jue tidak bisa tidur di malam hari dan ingin minum obat untuk membantunya beristirahat.
Xiao Jue menyelipkan obat itu ke lengan bajunya, melambaikan tangan, dan berkata, "Terima kasih." Ia berbalik untuk pergi.
"Huaijin!" panggil Lin Shuanghe.
Xiao Jue berhenti dan menatapnya.
"Obat itu... apakah itu untuk mu?"
Wajah pemuda itu halus dan rupawan. Tatapannya melewati Lin Shuanghe dan jatuh di kejauhan, di mana gedung-gedung istana megah tampak samar-samar terlihat. Ia berkata dengan datar, "Aku akan pergi ke istana."
Lin Shuanghe bukan orang bodoh – ia langsung mengerti maksud dari perkataan Xiao Jue dan berseru dengan kaget, "Kau berencana pergi ke istana tanpa memberi tahu kakakmu?"
"Apa gunanya memberitahunya?" Pemuda itu menundukkan kepalanya dan tersenyum tipis. "memberitahunya hanya akan membuatnya khawatir."
"Kau gila!" seru Lin Shuanghe khawatir. "Tidakkah kau tahu bahwa karena masalah Jenderal Xiao, istana menjadi kacau? Tidak ada yang berani membela Jenderal Xiao sekarang. Tahukah kau mengapa Menteri Xu menempel pada Kaisar setiap hari?"
"Aku tahu," kata Xiao Jue. "Tapi mau bagai mala lagi? Kekuasaan militer harus kembali ke keluarga Xiao."
"Kau bisa kehilangan nyawamu karena ini!"
Xiao Jue menoleh dan menatap Lin Shuanghe dengan tajam. "Kalau begitu, biarlah aku kehilangan nyawa ini."
"Kau-!"
"Ngomong-ngomong, aku ingin meminta bantuan mu untuk sesuatu," kata Xiao Jue.
Pemuda itu jarang menunjukkan ekspresi serius ini. Firasat buruk tiba-tiba muncul di hati Lin Shuanghe. Bibirnya bergetar lalu ia bertanya, "Bantuan apa?"
"Jika aku kembali hidup-hidup, anggap saja ini tidak pernah terjadi. Jika aku mati," Xiao Ju berhenti sejenak, "jangan repot-repot mengambil jenazahku. Tabib Istana Lin memiliki koneksi dengan Ibu Suri. Tolong bantu kakakku—masalah ini tidak ada hubungannya dengan dia."
"Apa maksudmu... jika kau mati?" Lin Shuanghe mendengar suaranya sendiri bergetar.
"Sederhana saja. Setelah malam ini, kita akan lihat apakah aku mati sekarang, atau dia mati besok," katanya tenang seolah sedang membicarakan takdir orang lain. "Tapi aku tidak yakin bagaimana hasilnya nanti, jadi," bibirnya sedikit melengkung, "kau boleh berdoa kalau mau."
"Xiao Huaijin!"
Xiao Jue membungkuk dalam-dalam kepada Lin Shuanghe, dan setelah menegakkan tubuh, ia hanya mengucapkan dua kata.
"Terima kasih."
Mata Lin Shuanghe memerah.
Xiao Jue melambaikan tangan padanya: "Kembalilah sekarang."
Lin Shuanghe tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
Xiao Jue tertawa pelan dan berbalik untuk pergi.
Kejadian itu sudah lama sekali, tetapi bayangan Xiao Jue saat itu seakan masih terbayang jelas di matanya. Di jalanan pasar yang ramai, sosok pemuda itu tegap dan angkuh, namun terlihat sangat kesepian.
Tak seorang pun tahu jalan mana yang akan Xiao Jue tempuh, tetapi Lin Shuanghe yakin akan satu hal.
Xiao Jue tak akan melihat ke belakang.
Larut dalam pikirannya, Lin SHuanghe tiba-tiba disadarkan oleh pertanyaan He Yan: "Jadi setelah itu, apakah Komandan Xiao pergi ke istana sendirian?"
Lin Shuanghe tersadar dari lamunan masa lalu itu dan terus berjalan dengan pelan, sambil berkata, "Aku tidak pergi ke istana bersama Xiao Jue. Apa yang terjadi setelahnya, aku hanya mendengarnya dari kakekku."
Malam itu, hujan mulai turun.
Hujan musim gugur terasa dingin dan menusuk tulang, seakan meresap ke dalam hati. Beberapa hari lagi, Festival Pertengahan Musim Gugur akan tiba. Jika Xiao Zhongwu tidak mengalami musibah, kediaman Xiao pasti sudah sibuk menyiapkan kue bulan dan menyelenggarakan jamuan makan untuk festival tersebut. Namun, kini semuanya sunyi senyap, dengan kain duka berserakan di mana-mana.
Ketiga orang yang duduk mengelilingi meja itu terdiam.
Tidak seorang pun ingin menyentuh makanan diatas meja itu sampai akhirnya Bai Rongwei berkata dengan lembut, "Setidaknya makanlah sedikit. Tubuhmu tidak akan kuat jika tidak makan seperti ini."
Makanan yang disajikan hanya bubur sederhana dan hidangan kecil. Setelah hening sejenak, Xiao Jing mengambil mangkuknya. Ia menyesap sedikit buburnya lalu meletakkan mangkuknya kembali keatas meja, lalu berkata, "Huaijin, besok pagi, aku akan pergi ke istana bersamamu."
Xiao Jue: "Oke."
Bai Rongwei bertanya: "Untuk apa kau pergi ke istana...?"
"Tanpa otoritas militer, keluarga Xiao akhirnya akan menjadi santapan lezat, bergantung pada belas kasihan orang lain," kata Xiao Jing. "Apa pun yang terjadi, Tentara Selatan harus kembali ke tangan keluarga Xiao, kalau tidak..."
Kalau tidak, siapa yang tahu berapa lama keluarga Xiao bisa bertahan?
"Bahkan jika Kaisar mengembalikan wewenang militer kepada kita, lalu bagaimana?" Bai Rongwei berbicara dengan hati-hati. "Ruyi, kau adalah seorang Grand Master Remonstran, dan meskipun Huaijin meniti karir militer, usianya baru enam belas tahun."
Gerakan Xiao Jing terhenti.
Ia harus mengakui fakta bahwa keluarga Xiao sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Meskipun Xiao Jue sangat berbakat, usianya baru enam belas tahun, baginya Xiao Jue masih seperti anak kecil. Bagaimana mungkin Xiao Jue memimpin puluhan ribu pasukan Tentara Selatan?
Akan sangat sulit untuk Xiao Jue mendapatkan rasa hormat dari para tentara.
"Ada banyak hal yang bisa dilakukan anak berusia enam belas tahun," kata Xiao Jue dengan santai sambil mengunyah makanannya. "Kakak, terlalu berhati-hati tidak akan menghasilkan apa-apa."
Xiao Jing menghela napas dan berkata, "Baiklah, kita akan melakukannya selangkah demi selangkah. Sekarang, kita tidak punya jalan lain."
"Akankah Kaisar mengembalikan wewenang militer kepada kita?" Bai Rongwei sangat khawatir. "Pengaruh Menteri Xu sangat besar sekarang; dia tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk menjatuhkan keluarga Xiao."
"Kaisar akan memberikan otorotas militer kepada kita," pemuda itu dengan malas menuangkan teh untuk mereka. "Jangan takut. Bagaimanapun, Xu Jingfu hanyalah manusia biasa."
Tidak seorang pun berbicara lagi.
Hujan malam itu terus turun dengan deras. Para pelayan membantu Bai Rongwei dan Xiao Jing kembali ke kamar tidur mereka.
Xiao Jue berdiri, mengenakan jubah luarnya, dan berjalan keluar.
Di luar, Fei Nu sedang menunggu. Hujan turun ke tanah, menciptakan genangan air yang beriak ke luar, membasahi lentera-lentera putih yang tergantung di ambang pintu.
Xiao Jue berhenti di ambang pintu.
Fei Nu berkata: "Tuan Muda."
Xiao Jue menundukkan kepalanya dan menginstruksikan kepada kepala pelayan: "Jaga mereka baik-baik." Kemudian ia berbalik dan masuk ke dalam kereta kuda yang terparkir.
"Ayo pergi."
Setelah itu, Xiao Jue menghilang di kegelapan malam.
Kereta itu menuju ke istana kekaisaran. Di dalam istana, Perdana Menteri Xu Jingfu sedang bermain catur dengan Kaisar Wenxuan.
Seorang pelayan istana melaporkan: "Yang Mulia, tuan muda kedua dari kediaman Jenderal Xiao ingin bertemu."
Langkah catur Kaisar Wenxuan terhenti, "Xiao Huaijin? Apa yang dia inginkan?"
"Mungkin tentang urusan ayahnya," Xu Jingfu tersenyum. "Yang Mulia, hati-hati." Ia menangkap sebuah bidak catur berwarna hitam.
"Kau, jangan manfaatkan kesempatan selagi aku sedang teralihkan," Kaisar Wenxuan tertawa dan memarahi. "Licik."
Xu Jingfu juga tertawa: "Yang Mulia membiarkan menteri tua ini menang."
Keduanya terus bercanda dan bermain catur, seolah-olah telah melupakan kehadiran Xiao Jue. Setelah waktu yang dibutuhkan untuk membakar dupa, pelayan istana datang lagi untuk mengingatkan mereka: "Yang Mulia, Tuan Muda Xiao masih menunggu di luar aula, dan hujan masih turun."
"Kalau hujan, sebaiknya suruh dia pulang," Kaisar Wenxuan merasa terganggu dengan situasi catur di hadapannya. "Apa gunanya terus menunggu disana?"
"Yang Mulia, jangan kesal," kata Xu Jingfu. "Tuan muda kedua dari keluarga Xiao ini baru saja mengalami tragedi besar, dan dia masih anak-anak. Pasti ada banyak keluhan di hatinya. Biarkan menteri tua ini keluar dan membujuknya – akan lebih baik jika aku bisa membujuknya untuk pulang."
"Pergilah." Kaisar Wenxuan melambaikan tangannya dengan tidak sabaran. "Semuanya membicarakan tentang Xiao Zhongwu selama pertemuan pagi, dan sekarang masih saja mendengar namanya. Selalu saja keluarga Xiao ini, keluarga Xiao itu – aku bosan mendengarnya. Suruh dia pulang! Dan kau cepat kembali – kau masih harus menyelesaikan permainan catur ini denganku."
Xu Jingfu bangkit dan membungkuk hormat: "Baik."
Saat meninggalkan aula, ia langsung melihat Xiao Jue sedang berlutut dan menunggu di pintu.
Xu Jingfu berusia lebih dari enam puluh tahun. Di masa mudanya, ia pernah menjadi guru di Akademi Hanlin, dan murid-muridnya tersebar di seluruh wilayah. Sebagian besar pemuda berprestasi di Wei Agung memiliki hubungan dengannya. Meskipun Xiao Jue bukan muridnya, ia pernah mendengar tentang kehebatan Xiao Jue. Ia pernah melihat Xiao Jue sekali saat kegiatan berburu kerajaan dan ingat bagaimana pemuda berjubah putih itu begitu cemerlang, bagaikan mutiara yang berkilauan.
Xu Jingfu mendesah dalam hati, membayangkan betapa hebatnya jika pemuda sehebat itu menjadi bagian dari keluarga Xu. Sayangnya, ia harus menyia-nyiakan Xiao Jue demi Xiao Zhongwu si binatang itu.
Ia berdiri di hadapan Xiao Jue dan berkata, "Tuan Muda Kedua Xiao."
Pemuda itu mengangkat kepalanya dan menatapnya, "Menteri Xu."
"Di luar hujan deras sekali, kenapa Tuan Muda Kedua Xiao tidak membawa payung?" Ia menginstruksikan para pelayan istana di sekitarnya, "Tolong bawakan payung untuk Tuan Muda Kedua Xiao."
Seorang pelayan istana berdiri di belakang Xiao Jue sambil membawa payung. Xu Jingfu memberi isyarat pada pelayan untuk membantu Xiao Jue berdiri, lalu berbicara seperti seorang tetua yang sungguh-sungguh memperhatikan seorang junior: "Mengapa terus berlutut? Silakan berdiri."
Xiao Jue tetap diam dan berkata, "Saya ingin bertemu Kaisar."
"Yang Mulia sedang sibuk saat ini. Jika Tuan Muda Kedua benar-benar memiliki sesuatu untuk dibicarakan, datang lagi besok tidak akan terlambat. Hari sudah sangat larut, dan Yang Mulia perlu beristirahat. Ini bukan waktu yang tepat untuk bertemu."
Pemuda itu tetap tidak bergeming, hanya mengulangi, "Menteri Xu, saya harus bertemu Yang Mulia hari ini."
Xu Jingfu mundur dua langkah, tangannya tetap di dalam lengan baju sambil menatap Xiao Jue, mempertahankan senyum ramahnya, "Tuan Muda Kedua Xiao, Yang Mulia sungguh penyayang. Sebelumnya, keluarga Xiao memiliki jasa besar, dan Kau sangat dimanjakan. Sekarang ayahmu telah gagal dalam tugasnya, Pertempuran Mingshui mengakibatkan kekalahan telak bagi pasukan Wei Agung. Sudah seharusnya ada konsekuensinya, tetapi Yang Mulia mengingat ikatan lama dan memberikan belas kasihannya pada keluarga Xiao. Bagaimana Kau bisa begitu lancang dan tidak bijaksana?"
Hujan malam turun secara diagonal, menyelinap melewati payung dan membasahi pakaian pemuda itu. Wajahnya sangat tampan, ekspresinya tenang, suaranya kini tanpa rasa malas seperti dulu lalu ia berkata, "Menteri Xu benar."
Senyum Xu Jingfu tetap tidak berubah.
"Oleh karena itu," Xiao Jue mengangkat kepalanya untuk menatap Xu Jingfu, "Saya mohon Menteri Xu untuk berbicara sepatah kata kepada Yang Mulia. Xiao Jue ingin bertemu Yang Mulia."
"Tuan Muda Kedua Xiao pasti bercanda. Mengapa menteri tua ini harus berbicara kepada Yang Mulia atas nama Anda?" tanya Xu Jingfu.
Pemuda itu menatapnya dan sedikit menundukkan kepalanya: "Tolong, Menteri Xu, kabulkan permintaan ini."
Tulang-tulang kebanggaan seorang pemuda paling mudah patah. Terkadang, begitu tulang belakangnya sedikit bengkok, tulang itu tidak akan pernah bisa tegak kembali.
Jika Xiao Zhongwu tahu dari nereka, melihat putra keduanya yang sombong kini berlutut di hadapan musuhnya, memohon belas kasihan, ekspresi apa yang akan Xiao Zhongwu tunjukkan?
Saat itu, Xu Jingfu tak ingin lagi langsung mengakhiri hidup Xiao Jue. Menyaksikan orang yang sombong jatuh bagaikan debu, diinjak bagaikan lumpur, harga dirinya terlihat tidak berharga lagi bagai sampah – itu jauh lebih menarik.
Xu Jingfu sedikit memiringkan kepalanya, berpura-pura khawatir: "Tuan Muda Kedua Xiao, bukannya menteri tua ini tidak mau membantu mu. Namun, Yang Mulia sedang marah kepada keluarga Xiao saat ini. Bahkan saya pun akan kesulitan jika ikut campur tangan dalam masalah ini."
Xiao Jue hanya berkata: "Tolong, Menteri Xu, kabulkan permintaan ini."
Xu Jingfu menatapnya. Setelah beberapa saat, ia berkata, "Jika Tuan Muda Kedua bersikeras menemui Yang Mulia, mungkin Kau harus menerima hukuman terlebih dahulu. Keluarga Xiao sudah bersalah, jika Tuan Muda Kedua dapat menerima hukuman ini, Yang Mulia mungkin akan melihatnya dan amarahnya mungkin sedikit mereda. Dengan begitu, menteri tua ini dapat berbicara mewakili Mu."
"Mohon beri saya instruksi, Menteri Xu."
"Kamu masih muda sekarang, dan tidak sanggup menanggung hukuman yang terlalu berat. Jadi, pertama-tama, terimalah lima puluh pukulan dengan papan," katanya.
Xu Jingfu berbicara dengan sangat tenang seolah-olah ia sudah bersikap lunak terhadap Xiao Jue. Para pelayan istana menundukkan kepala dalam diam, tetapi tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka.
Lima puluh kali hantaman dengan papan bisa membunuh seseorang dengan kondisi fisik yang lebih lemah. Bahkan bagi orang biasa, lima puluh kali hantaman akan merenggut separuh nyawa mereka, membutuhkan waktu satu tahun atau lebih untuk bisa pulih.
Xiao Jue berkata: "Baiklah."
Xu Jingfu tersenyum: "Tuan Muda Kedua benar-benar memiliki semangat seperti ayahnya." Xu Jinfu berbalik dan menginstruksikan orang-orang di belakangnya, "Bawa Tuan Muda Kedua Xiao untuk menerima hukumannya."
Hujan malam turun dengan deras. Lima puluh kali hantaman ke tubuh tidaklah semudah yang dibayangkan, terutama karena para pelayan istana telah "diinstruksikan" khusus oleh Xu Jingfu.
Pemuda itu tidak membuat suara apapun, hanya menggertakkan giginya selama menerima pukulan. Setelah lima puluh kali hantaman, Xiao Jue menyeka darah dari sudut mulutnya dan perlahan bangkit berdiri.
Saat Xiao Jue berdiri, langkahnya goyah, hampir kehilangan keseimbangan. Para pelayan istana di dekatnya memperhatikan dengan iba. Siapa yang bisa meramalkan bahwa mantan Tuan Muda Kedua Xiao, yang pernah berpakaian brokat dan bulu rubah, mulia dan cemerlang, akan berakhir dalam keadaan menyedihkan seperti ini? Tidak seorang pun bisa meramalkannya.
Xu Jingfu tidak tertarik menyaksikan hukuman Xiao Jue. Ia memasuki aula untuk berbicara dengan Kaisar Wenxuan terlebih dahulu.
Kaisar Wenxuan berkata: "Bukankah Kau bilang kau akan mengusirnya?"
"Yang Mulia," Xu Jingfu menggelengkan kepalanya, "Tuan Muda Kedua Xiao bersikeras ingin bertemu Yang Mulia. Menteri tua ini tak mampu membujuknya. Anak muda memang keras kepala – begitu mereka bertekad, bahkan sembilan ekor lembu pun tak mampu menarik mereka kembali. Sekarang Jenderal Xiao Zhongwu, dan istrinya pun telah tiada... Menteri tua ini mengasihani anak muda itu. Mungkin Yang Mulia bisa menemuinya sekali saja, dan mendengar apa yang ingin ia katakan. Jika ia berbicara buruk, suruh saja ia pergi, dan jangan terima dia lagi."
Kaisar Wenxuan mendesah: "Menteri, hatimu telah melunak."
"Yang Mulia berbelas kasih."
"Baiklah," Kaisar Wenxuan menginstruksikan para pelayan istana, "Lagipula, Kami melihatnya tumbuh dewasa. Biarkan dia masuk."
Di luar aula terasa sangat dingin, di dalam terasa sangat hangat. Jauh dari hujan malam yang tak terhindarkan, hanya ada aroma bunga yang memusingkan. Dalam cahaya lampu yang berkelap-kelip, seseorang mendekat.
Xiao Jue berlutut di hadapan Kaisar Wenxuan dan berkata: "Hamba memberi salam kepada Yang Mulia."
"Bangun," kata Kaisar Wenxuan dengan santai, mengangkat matanya menatap Xiao Jue, lalu membeku, bertanya, "Bagaimana kau bisa berakhir seperti ini?"
Hujan turun di luar, dan payung yang diberikan Xu Jingfu hanya bertahan sebentar. Xiao Jue basah kuyup dari ujung kepala hingga ujung kaki, berada dalam kondisi yang mengerikan, dan baru saja menerima lima puluh hantaman, tubuhnya sangat lemah. Wajahnya seputih kertas, bibirnya pucat, seolah-olah ia bisa pingsan kapan saja.
Benar-benar berbeda dari sebelumnya.
Karena menyaksikan Xiao Jue tumbuh dewasa, Kaisar Wenxuan tak kuasa menahan rasa iba, menunjukkan sedikit kekhawatiran yang tulus sambil melembutkan nadanya: "Katakan pada ku, apakah ada yang menindasmu?"
"Tidak," jawab Xu Jingfu dari samping: "Tuan Muda Kedua Xiao tahu kesalahan keluarga Xiao dan dengan sukarela menerima lima puluh pukulan sebagai hukuman, untuk menenangkan hati nuraninya dan menunjukkan rasa terimakasih karena Yang Mulia telah mengampuni keluarga Xiao."
Kaisar Wenxuan menatap Xu Jingfu dan mendesah, "Lima puluh pukulan... rasanya berlebihan."
"Tuan Muda Kedua juga menghargai kebaikan Yang Mulia," Xu Jingfu tersenyum.
"Mengapa Kau datang menemui ku?" Kaisar Wenxuan berkata, "Aku tidak ingin membahas masalah keluarga Xiao lagi."
Tatapan Xiao Jue menyapu papan catur di atas meja, tempat bidak-bidak hitam dan putih terjalin dalam pola yang rumit, menciptakan hawa dingin yang mencekam di bawah cahaya lampu yang hangat.
Seperti lika-liku kehidupan yang aneh, tak seorang pun bisa memprediksi masa depan.
Namun, masa lalu tetaplah masa lalu, dan jika seseorang tak bisa memprediksi masa depan, maka ciptakanlah.
Pemuda itu bersujud, suaranya tenang, dengan keteguhan hati yang tak terbendung saat ia mengucapkan setiap kata dengan jelas:
"Hamba memohon rahmat Yang Mulia untuk secara pribadi memimpin Pasukan Selatan kembali ke Mingshui untuk melawan kaum Barbar Selatan."
Komentar
Posting Komentar