Legend of the Female General-Bab 107 Suku Qiang

Musim dingin telah tiba, membawa hawa dingin yang menusuk. Musim dingin di Prefektur Liang lebih dingin daripada di ibu kota. Siang hari suhunya masih dapat ditahan, dan latihan membantu para prajurit tetap hangat, tetapi di malam hari, hawa dinginnya menusuk. Api kecil yang menyala di baskom jauh dari cukup.

Kini, semakin sedikit prajurit yang pergi mandi di Sungai Wulu, dan mereka lebih memilih memanaskan air untuk mandi. He Yan pun tak berbeda. Dalam sekejap mata, lebih dari setengah bulan telah berlalu sejak kepergian Xiao Jue.

Menurut perkiraannya, Xiao Jue seharusnya sudah tiba di Zhangtai sekarang. Namun, para instruktur tidak pernah membahas hal ini, jadi He Yan tidak tahu seperti apa situasi di sana. Ia melanjutkan latihan harian bersama para rekrutan, meskipun karena pemulihannya yang belum sempurna, ia tidak bisa mengikuti perkataan Xiao Jue untuk "latihan tiga kali lebih keras".

Hari itu, He Yan sedang berlatih formasi bersama para rekrutan di tempat latihan. Menjelang malam setelah kelompok latihan bubar, ia mengobrol dengan Hong Shan dan yang lainnya.

Hong Shan menggosok-gosokkan kedua tangannya dan mengembuskan napas ke dalamnya, lalu bertanya, "He Yan, tidakkah menurutmu cuaca beberapa hari ini sangat dingin?"

"Tidak terlalu buruk," jawab He Yan. Dulu selama masa tugasnya bersama pasukan Fu Yue, ia pernah bertempur di dekat tepi sungai pada musim dingin. Perkemahan didirikan di sepanjang tepi sungai, dengan angin sungai yang terasa sangat dingin di malam hari dan tanpa kayu bakar. Para prajurit harus berkumpul untuk menghangatkan diri – sungguh dingin yang menusuk tulang.

"Anak muda sepertimu memang lebih tahan dingin," Hong Shan mendesah, menatap Gunung Bulan Putih. "Kenapa salju turun setiap hari di Prefektur Liang, dan saljunya bertahan semalaman?"

He Yan mengikuti arah tatapannya Hong Shan. Musim dingin telah melucuti Gunung Bulan Putih dari kehijauan musim panasnya, membuatnya sekarang tertutup salju. Para rekrutan yang mendaki gunung setiap beberapa hari untuk mengumpulkan kayu bakar tidak dapat melangkah lebih jauh dari titik tengah – salju semakin tebal di bagian atas, membuatnya terlalu berbahaya.

"Cuaca seperti ini sangat bagus untuk berburu," Xiao Mai menimpali. "Aku dan kakakku biasa merendam makanan dalam anggur di siang hari dan meninggalkannya di dekat pintu masuk gua. Di musim dingin seperti ini makanan akan langka, kelinci dan rubah akan memakan makanan yang kami taruh. Di malam hari, aku dan kakaku hanya perlu mengumpulkan kelinci dan rubah yang telah mabuk. Tidak perlu repot, sesederhana itu. Gunung Bulan Putih sangat luas, pasti ada banyak kelinci dan rubah." Xiao Mai menjilat bibirnya.

"Berhenti bermimpi," He Yan memperingatkan. "Kusarankan kau lupakan saja ide itu. Medan pegunungan ini berbahaya dan saljunya tebal. Kau mungkin akan berakhir seperti kelinci sebelum menangkapnya."

"Kakak He Yan meremehkanku," gerutu Xiao Mai.

Saat mereka sedang berbicara, sekelompok rekrutan menuruni jalan setapak pegunungan menuju tempat latihan. Di antara mereka terdapat seorang perawat wanita bernama Shen Muxue, mengenakan gaun musim dingin.

Ia mengenakan gaun musim dingin seputih bulan dengan jubah bordir berwarna aprikot berhiaskan bunga plum. Pita rambutnya berwarna putih polos. Saat ia mendekat melalui pemandangan bersalju, kecantikannya yang bak bidadari semakin memukau.

Hong Shan menatap tanpa berkedip, berkata, "Bagaimana mungkin wanita seperti itu ada di dunia ini? Dia tidak hanya sangat cantik, tetapi hatinya juga sangat baik. Dalam cuaca sedingin ini, seorang wanita yang rapuh mendaki gunung untuk mengumpulkan obat herbal untuk yang terluka – hanya seorang dewi yang bisa memiliki belas kasihan seperti itu." Akhirnya, ia bertanya kepada He Yan, "Tidakkah kau setuju?"

He Yan menjawab, "Benar."

Setiap beberapa hari ketika para rekrutan bergantian mengumpulkan kayu bakar, Shen Muxue akan mengikuti mereka dan dia akan mengumpulkan obat herbal yang masih bisa ditemukan di musim dingin. Garnisun kekurangan persediaan obat, terutama di musim dingin ketika tentara terserang flu yang sulit disembuhkan. Shen Muxue akan menyuruh orang-orang menyeduh minuman obat hangat, yang dibagikan dalam tong, satu mangkuk per orang. Setelah minum, mereka akan berkeringat yang sangat bermanfaat.

Meskipun penampilannya tidak sekuat He Yan, kemauannya untuk mendaki gunung bersama para rekrutan di cuaca dingin seperti itu sungguh mengagumkan.

"Siapa itu yang digendong di punggung rekrutan di belakang dokter Shen Muxue?" tanya Shi Tou dengan alis berkerut.

Semua orang menoleh dan melihat seseorang digendong di punggung seorang rekrutan yang mengikuti Shen Muxue. Orang ini tidak mengenakan seragam latihan, jelas bukan rekrutan dari Garnisun Prefektur Liang. Sebelum mereka sempat berdiskusi lebih lanjut, para rekrutan yang penasaran telah bergegas untuk menanyakan situasi tersebut.

Tak lama kemudian, mereka yang telah mengumpulkan informasi kembali untuk berbagi dengan rekan-rekan mereka. He Yan mendengar mereka berkata: "Orang itu adalah seorang pemburu dari sisi lain gunung. Keluarganya sangat miskin sehingga mereka tidak mampu membeli makanan, jadi dia memberanikan diri mendaki gunung untuk berburu. Dia akhirnya terjebak oleh salju tebal. Ketika kelompok Nona Shen menemukannya, separuh tubuhnya terkubur salju. Mereka harus menggalinya, nyaris tidak bisa menyelamatkan nyawanya."

"Orang ini pasti memiliki keberuntungan yang sangat bagus. Gunung Bulan Putih sangat dingin. Jika dia tinggal di sana beberapa saat lebih lama, bahkan dewa pun tidak akan bisa menyelamatkannya."

"Tepat sekali!"

Xiao Mai bergumam, "Mendaki gunung dalam cuaca seperti ini, sungguh nekat."

"Mau bagaimana lagi. Nyawa orang miskin tidak dihitung sebagai nyawa. Kalau tidak ada uang untuk makan di rumah, siapa yang bisa memikirkan hal lain?" Hong Shan mendesah.

Setelah berbincang beberapa saat, semua rekrutan bubar.

Namun masalahnya tidak berakhir di situ. Malam itu, Cheng Lisu kembali dan berkata akan tinggal di kamar Xiao Jue. He Yan bertanya dengan penasaran, "Bukannya kau menolak untuk kembali?"

Cheng Lisu menjawab dengan ekspresi jelek, "Orang yang diselamatkan Nona Shen hari ini tinggal di kamar kami, jadi aku diusir. Kita tidak bisa membiarkan orang itu tinggal di kamar Paman. Paman pasti akan memukuliku sampai mati saat pulang nanti. Baiklah, aku akan tinggal di sini selama beberapa hari dengan berat hati. Setelah orang itu pergi, aku akan pindah lagi kesana. Kakak He Yan, bisakah kau membantuku membawa barang-barangnya besok? Aku tidak bisa memindahkannya sendirian."

"Tentu saja, tapi kurasa kau tidak akan tinggal di sini hanya beberapa hari, melainkan sangat lama," He Yan menggelengkan kepalanya.

"Kenapa?"

He Yan tersenyum tanpa menjawab, tetapi Cheng Lisu akan segera mengerti mengapa dia mengatakan ini.

Keesokan harinya, setelah latihan hariannya berakhir, He Yan menemani Cheng Lisu mengambil barang-barangnya dari asrama. Mereka kebetulan bertemu Shen Muxue yang akan merawat pemburu yang mereka selamatkan kemarin.

He Yan memperhatikan bahwa selain beberapa ramuan penguat qi dan salep radang dingin, Shen Muxue juga membawa obat-obatan untuk luka luar. He Yan bertanya, "Nona Shen, apakah orang itu terluka?"

"Ada binatang buas di hutan. Dia bertemu dengan beruang dan diserang. Saat ingin menghindari beruang, dia jatuh dari tebing, sehingga terkubur di salju. Dia mengalami beberapa luka luar."

Cheng Lisu bertanya, "Apakah lukanya parah? Apakah orang itu perlu tinggal di Garnisun Prefektur Liang untuk waktu yang lama? Apakah ini berarti aku tidak akan bisa kembali ke asrama untuk sementara waktu?"

"Tuan Muda Cheng," kata Shen Muxue tidak berdaya, "Sekalipun lukanya sembuh, untuk sementara dia tidak bisa meninggalkan garnisun. Orang ini datang dari seberang gunung. Sekarang Gunung Bulan Putih tertutup salju tebal, kita harus menunggu sampai salju mencair atau cuaca cerah selama beberapa hari berturut-turut baru orang itu bisa mendaki dan melintasi gunung. Jika kita membiarkannya kembali sekarang, dia hanya akan mati kedinginan di gunung lagi."

Mendengar ini, Cheng Lisu hampir melompat, "Itu berarti aku harus menunggu sepanjang musim dingin!"

"Mungkin ketika Tuan Muda Kedua kembali, akan ada solusi lain," hibur Shen Muxue.

He Yan memperhatikan bahwa Shen Muxue menyebut Xiao Jue sebagai "Tuan Muda Kedua", bukan "Komandan", yang menunjukkan keakraban mereka, alih-alih hubungan sebagai tuan dan pelayan. Sambil merenungkan hal ini, mereka tiba di asrama.

Ruangan itu kosong saat itu – setelah berlatih di lapangan latihan, semua orang telah pergi untuk makan dan beristirahat. Orang itu berbaring di tempat tidur yang berada di dekat dinding tempat He Yan biasa tidur. Dia mengenakan pakaian tipis satu lapis dan membungkus tubuhnya dengan selimut, tampak kedinginan. Shen Muxue meletakkan nampan obat di atas meja dan berbalik memanggil orang itu: "Hu Yuanzhong?"

Orang di balik selimut itu sedikit bergerak. Setelah beberapa saat, ia menopang dirinya dengan kedua tangan dan perlahan duduk.

Dia adalah seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun, berkulit gelap dan bibir pecah-pecah serta mengelupas. Orang ini tampak agak lemah. Ia mengangkat selimut dan menjawab Shen Muxue dengan gugup dan tergesa-gesa: "Nona-Nona Shen."

"Sudah waktunya mengganti perbanmu," kata Shen Muxue. "Duduklah di tepi tempat tidur dan gulung celanamu."

Pria bernama Hu Yuanzhong itu tampak semakin gugup, menggosok-gosok tangannya dan tergagap, "Mana mungkin aku merepotkan dokter? Aku akan mengganti perbannya sendiri." Ia segera membungkuk tetapi langsung mendesis kesakitan.

Melihat ini, Shen Muxue berlutut di depan Hu Yuanzhong dan membantu menggulung celananya. Celananya digulung keatas memperlihatkan kakinya yang penuh luka dengan kedalaman yang bervariasi, kemungkinan besar akibat terbentur batu di gunung dan tergores dahan pohon.

"Belum sembuh," kata Shen Muxue. "Aku akan mengoleskan obat lagi hari ini."

Hu Yuanzhong mengangguk dengan bingung.

"Biar aku saja yang mengoleskan obatnya," He Yan tiba-tiba menyela. Sebelum Shen Muxue sempat bereaksi, He Yan mengambil obat itu dari tangannya dan berlutut. "Silakan berdiri, Nona Shen."

"Ini..." Hu Yuanzhong tampak terkejut. "Adik kecil ini..."

"Aku He Yan. Kau sekarang tidur di tempat yang dulunya adalah tempat tidurku. Karena Nona Shen seorang wanita, tempat ini kurang nyaman baginya. Aku bisa mengoleskan obat untuk Saudara Hu – seharusnya tidak masalah, kan?" He Yan tersenyum pada Hu Yuanzhong.

Hu Yuanzhong menghela napas lega: "Tentu saja, aku juga tidak ingin merepotkan Nona Shen."

"He Yan, jangan konyol," Shen Muxue sedikit mengernyit. "Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita di hadapan dokter. Kau tidak tahu cara mengoleskan obat dengan benar."

"Aku tahu cara mengoleskan obat luka, Nona Shen. Jangan khawatir. Sebaiknya kau periksa saja Cheng Lisu—Aku perhatikan dia batuk-batuk pagi ini. Semoga dia tidak masuk angin."

Cheng Lisu menambahkan, "Iya, Nona Shen, tenggorokanku terasa agak kering."

Shen Muxue berhenti sejenak, bertanya, "Benarkah?" Lalu ia berdiri dan berkata kepada Cheng Lisu, "Keluarlah bersamaku, biar kuperiksa."

Setelah mereka pergi, hanya Hu Yuanzhong dan He Yan yang tersisa di ruangan itu.

He Yan pertama-tama membersihkan darah yang merembes dari luka di kaki Hu Yuanzhong, lalu mengoleskan lapisan tipis obat sambil bertanya, "Saudara Hu, luka-luka ini terlihat serius. Pasti cukup menyakitkan."

"Tidak apa-apa," kata Hu Yuanzhong, "Hanya luka luar." Meskipun ia berkata demikian, suaranya terdengar tegang, seolah berbicara sambil menggertakkan gigi.

Tangan He Yan berhenti sejenak, lalu menekan sedikit lebih keras. Hu Yuanzhong berteriak kesakitan: "Ah—"

"Maaf, Saudara Hu," kata He Yan dengan nada meminta maaf. "Aku kurang hati-hati."

"Tidak apa-apa."

"Nona Shen memang lebih berhati-hati dan teliti. Aku sangat ceroboh membuat Saudara Hu kesakitan. Kuharapa saudara Hu tidak menyimpan dendam."

Hu Yuanzhong memaksakan senyum: "Sama sekali tidak."

He Yan tersenyum dan melanjutkan mengoleskan obat sambil mencibir dalam hati.

Sebelumnya, He Yan telah melihat bahwa meskipun Hu Yuanzhong menolak untuk membiarkan orang lain mengobatinya, dia menjerit kesakitan hanya dengan sedikit gerakan. Ketika Shen Muxue berlutut, kilatan kegembiraan melintas di matanya. Meskipun tersembunyi dengan baik, He Yan telah menangkapnya. He Yan selalu membenci orang-orang seperti ini yang memiliki pikiran-pikiran yang tidak pantas. Shen Muxue telah menyelamatkan nyawa Hu Yuanzhong, tetapi ia masih bisa memiliki pikiran-pikiran yang menyimpang terhadap orang yang menyelamatkannya – orang macam apa dia ini?

Ketika Hu Yuanzhong menggulung celananya, He Yan dapat melihat apa yang disebut "luka serius" ini – meskipun tampak berantakan dan parah, luka-luka itu hanyalah luka dangkal. He Yan, sebagai seorang wanita, telah menanggung luka yang jauh lebih parah tanpa membuat banyak suara. Pria ini yang katanya begitu miskin hingga mempertaruhkan nyawanya untuk berburu di gunung, namun ia bertindak begitu manja. Ketika orang-orang kelaparan dan tidak mampu membeli makanan, bagaimana mungkin mereka memiliki niat untuk merencanakan rencana jahat yang begitu rumit?

Beberapa kata saja sudah cukup untuk mengungkapkan karakter orang ini. Shen Muxue baik hati dan tulus, dan sebagai seorang dokter yang merawat pasien, ia tidak dapat melihat nada-nada kecil ini. Namun, He Yan, sebagai pengamat, melihat semuanya dengan jelas dan merasa tidak nyaman.

"Saudara Hu, apa rencanamu setelah lukamu sembuh?" tanya He Yan.

Hu Yuanzhong menggaruk kepalanya, "Aku... aku belum memikirkannya."

"Kenapa tidak tinggal saja di Garnisun Prefektur Liang? Menjadi prajurit berarti punya cukup makanan, kau tidak akan kelaparan," canda He Yan.

"...Itu ide yang bagus," jawab Hu Yuanzhong sambil tersenyum tipis.

Orang ini benar-benar setuju? He Yan bahkan lebih terkejut sekarang. Dia hanya bercanda, tetapi Hu Yuanzhong langsung setuju tanpa berkata, "Bagaimana mungkin aku membebankan kalian?" Ini menunjukkan, pertama, bahwa dia tidak merasa bersyukur telah ditolong, dan kedua, bahwa dia tidak pernah memikirkan rencana masa depannya.

Seseorang yang tidak yakin apa yang akan terjadi kedepannya harusnya mengkhawatirkan rencana masa depannya – bagaimana mungkin orang ini begitu santai? He Yan merasakan ketidaksenangan yang membuncah di hatinya. Mungkinkah orang ini berencana memanfaatkan garnisun Liangzhou untuk tetap dekat dengan Shen Muxue?

Dengan pikiran ini, He Yan segera menyelesaikan olesan obatnya dan menyerahkan mangkuk obat kepada Hu Yuanzhong, sambil berkata, "Saudara Hu, minum obatmu dulu."

Hu Yuanzhong mengulurkan tangan untuk mengambilnya: "Terima kasih."

Hu Yuanzhong meminum obat itu dengan mudah, memiringkan kepalanya ke belakang dan meneguk obat. Ketika ia mengembalikan mangkuk itu kepada He Yan, He Yan menyadari bahwa tangannya yang terulur dipenuhi ruam merah dari pangkal telapak tangan hingga bagian dalam pergelangan tangannya.

Gerakan He Yan terhenti.

Hu Yuanzhong memperhatikan He Yan yang tiab-tiba berhenti sejenak dan bertanya, "Ada apa, Saudara He Yan?"

"Saudara Hu, mungkin kau harus meminta perawat untuk memeriksa ruam-ruam di tanganmu ini," kata He Yan. "Apakah ruam-ruam ini kau dapatkan juga di gunung?"

Hu Yuanzhong tersentak, menggosok pergelangan tangannya beberapa kali, lalu tersenyum, "Tidak perlu. Lukanya akan memudar dalam beberapa hari. Tidak serius. Tidak perlu merepotkan petugas medis."

"Oh Begitu," He Yan mengangguk dan tersenyum. "Kalau begitu, tidak apa-apa."

He Yan menatap Hu Yuanzhong tanpa bicara, membuat Hu Yuanzhong merasa tidak nyaman. Hu Yuanzhong menyentuh wajahnya dan bertanya, "Saudara He Yan, apakah ada sesuatu di wajahku?"

"Tidak." He Yan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Aku akan mengambil mangkuk kosongnya. Meskipun Nona Shen seorang tabib, dia tetaplah seorang wanita muda. Aku tidak ada kegiatan akhir-akhir ini, jadi Aku akan membantu Nona Shen. Biar Aku yang mengantarkan obat untuk Saudara Hu mulai sekarang." Setelah itu, He Yan pura-pura tidak menyadari kekecewaan yang terlintas di mata Hu Yuanzhong, ia berbalik dan pergi.

Di luar, Shen Muxue sedang memeriksa lidah Cheng Lisu. Melihat He Yan muncul, ia bertanya dengan curiga, "Cepat sekali?"

"Lukanya tidak banyak," tanya He Yan. "Bagaimana keadaan Cheng Lisu?"

"Dia terlalu banyak makan makanan pedas akhir-akhir ini, tenggorokannya radang," Cheng Lisu mengakui dengan malu. "Tidak ada yang serius."

"Kalau begitu semuanya baik-baik saja, ayo kembali." He Yan mengembalikan nampan obat kepada Shen Muxue dan menambahkan, "Aku sudah sepakat dengan Saudara Hu untuk mengantarkan obatnya beberapa hari ke depan. Mulai besok, aku akan datang ke kamar Nona Shen pada jam segini untuk mengambil obat untuk Saudara Hu. Nona Shen tidak perlu pergi jauh-jauh."

Shen Muxue ragu-ragu: "Ini..."

"Kalau begitu semuanya sudah beres. Anggap saja ini ucapan terima kasihku atas salep penghilang bekas luka dan regenerasi daging yang kau berikan." He Yan merangkul bahu Cheng Lisu. "Kami pamit dulu."

Mereka pun pergi.

Dalam perjalanan, Cheng Lisu bertanya, "Kakak He Yan, ada apa?"

"Ada apa?" He Yan tersadar kembali.

"Kau belum bicara sejak meninggalkan kamar Hu Yuanzhong. Apa terjadi sesuatu di sana? Apa kalian bertengtur?"

"Tidak." He Yan berjalan beberapa langkah, berpikir sejenak, lalu berhenti dan berkata kepada Cheng Lisu, "Kamu kembali dulu. Aku perlu bertemu Hong Shan dan yang lainnya untuk membicarakan sesuatu."

"Tapi kamu belum makan."

"Aku akan mengambilkan beberapa roti kukus." He Yan melambaikan tangannya. "Kamu kembali dan tunggu aku. Sampai jumpa."

...

Hong Shan dan Xiao Mai sedang minum bubur ketika He Yan tiba. Mereka memberi ruang untuknya, sambil berkata, "Kenapa kamu terlambat hari ini? Kukira kamu tidak akan datang."

"Ada beberapa hal yang harus diselesaikan di jalan." He Yan mengambil roti kukus, tetapi tidak seperti biasanya yang nafsu makannya seperti serigala, ia hanya menggigitnya sekali sebelum berhenti. Setelah merenung cukup lama, ia berkata, "Saudara Shan, Shi Tou, aku butuh bantuanmu."

"Kenapa begitu serius?" Hong Shan meletakkan mangkuknya. "Apa yang membuatmu memerlukan bantuan kami?"

"Si pemburu Hu Yuanzhong yang diselamatkan Nona Shen dari gunung kemarin, dia tinggal di kamarmu sekarang, kan?" tanya He Yan. "Beberapa hari ke depan, latihan di siang hari mungkin tidak bisa, tapi bisakah kau mengawasinya di malam hari?"

Hong Shan dan Shi Tou saling pandang, lalu Hong Shan bertanya, "Aku tidak mengerti. Ada apa dengan Hu Yuanzhong? Kenapa kita perlu mengawasinya?"

"...Aku merasa ada yang tidak beres dengannya."

Pada titik ini, bahkan Xiao Mai pun berhenti makan. Suasana menjadi serius, dan Shi Tou bertanya pelan, "Ada apa?"

"Mungkin aku terlalu berlebihan memikirkannya. Aku belum yakin. Tapi kurasa mungkin dia diselamatkan oleh Nona Shen di gunung bukanlah suatu kebetulan."

Mendengar ini, mata Hong Shan melebar: "Mata-mata?"

"Pelankan suaramu," kata He Yan. "Ini hanya kecurigaanku, itulah sebabnya aku butuh bantuanmu mengawasinya, untuk melihat apakah dia melakukan sesuatu yang tidak biasa di malam hari."

"Tidak," Hong Shan masih merasa itu tidak masuk akal. "Kau harus memberi tahu kami apa yang salah dengannya yang membuatmu mencurigainya."

He Yan menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Aku akan memberitahumu dalam beberapa hari. Untuk saat ini, aku hanya butuh bantuanmu untuk mengawasinya."

"Kuharap aku yang terlalu berlebihan memikirkannya," kata He Yan lembut.

...

Malam itu, setelah berpisah dengan Hong Shan dan yang lainnya, He Yan kembali ke kamarnya. Meskipun sudah terbiasa dengan lingkungan sekitar, ia berbaring di tempat tidur dan tidak bisa tidur, pikirannya dipenuhi kekhawatiran.

Bertemu dengan Hu Yuanzhong hari ini memang hanya sebuah kebetulan, namun justru membuatnya begitu khawatir hingga ia merasa gelisah.

Apa yang ia katakan kepada Hong Shan dan yang lainnya bukanlah mengada-ada. Ia benar-benar curiga bahwa Hu Yuanzhong adalah mata-mata yang telah menyusup ke Garnisun Prefektur Liang dengan motif tersembunyi. Adapun bagaimana ia menemukan poin-poin mencurigakan itu karena ketika ia menyerahkan mangkuk obat kepada Hu Yuanzhong dan Hu Yuanzhong mengembalikan mangkok obat itu, ia melihat ruam merah pekat yang menyebar dari pangkal telapak tangan hingga bagian dalam pergelangan tangannya.

Ruam-ruam itu mengingatkan He Yan pada suku Qiang.

Suku Qiang tinggal di daerah hutan lebat dengan iklim yang selalu lembap. Prajurit mereka sering mengalami ruam merah dari pangkal telapak tangan hingga bagian dalam pergelangan tangan akibat memegang pedang. Ketika He Yan menjadi Jenderal Fei Hong, ia secara khusus meneliti hal ini dengan para dokter militer. Bahkan setelah suku Qiang tinggal di Dataran Tengah, ruam-ruam ini tidak mudah dihilangkan.

Maka, ketika melihat ruam merah di area pangkal telapak tangan milik Hu Yuanzhong, ia langsung teringat pada para prajurit Qiang tanpa ragu. Namun, ia tidak sepenuhnya yakin, karena semua ruam merah yang terlihat seperti itu – bisa jadi disebabkan oleh iklim lembap atau kontak dengan alergen. Tidak perlu mencurigai seseorang hanya karena ruam.

Namun, mungkin karena He Yan telah mempunyai kebiasaan berhati-hati sebagai seorang jenderal dikehidupan sebelumnya, terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan suku Qiang. Atau mungkin karena ia telah menyadari niat buruk Hu Yuanzhong terhadap Shen Muxue dan sudah memiliki kesan buruk terhadapnya, ia langsung curiga begitu melihat ruam merah itu.

Kalau dipikir-pikir lagi, memang ada banyak hal yang mencurigakan. Misalnya, dengan salju yang begitu tebal di gunung, sisi lain Gunung Bulan Putih membelakangi matahari, sehingga saljunya justru semakin tebal. Bahkan para rekrutan mereka pun kesulitan menyeberang – bagaimana Hu Yuanzhong bisa menyeberang sendirian dari sisi itu? Jika ia benar-benar miskin sehingga keluarganya tidak mampu membeli makanan, sehingga ia terpaksa berburu di gunung karena putus asa, mengapa ia tidak mencari alternatif yang lebih mudah? Seperti membantu mengangkut barang di dermaga atau melakukan pekerjaan kasar lainnya– setidaknya ini bisa untuk sementara waktu menahan lapar dan kedinginan. Pergi berburu di Gunung Bulan Putih – skenario terbaiknya adalah menangkap hewan buruan untuk memenuhi kebutuhan mendesak, tetapi kemungkinan besar, ia akan mati di gunung, kehilangan nyawa dan makanan.

Mengabaikan jalan yang lebih mudah demi menempuh rute yang sulit ini jelas bukanlah tentang menghadapi tantangan – melainkan kebodohan. Namun, dilihat dari bagaimana ia berpura-pura kesakitan demi mendapatkan perawatan Shen Muxue, orang ini tidak tampak bodoh.

Semakin He Yan memikirkannya, semakin ia curiga. Sayangnya, Xiao Jue tidak ada di sini, jadi ia tidak bisa memperingatkan Xiao Jue. Sekalipun Xiao Jue ada di sini, He Yan tidak bisa langsung memberitahu poin yang paling mencurigakan pada Xiao Jue. Suku Qiang berada ribuan mil jauhnya dari Shuo Jing, dan para rekrutan Garnisun Prefektur Liang tidak mungkin melihat tentara suku Qiang. Bahkan Xiao Jue pun mungkin tidak pernah berperang melawan suku Qiang. Bagaimana mungkin He Yan, yang lahir di ibu kota, mengetahui kebiasaan rahasia suku Qiang? Jika ia angkat bicara, Xiao Jue mungkin akan mencurigainya sebelum Hu Yuanzhong.

Bertahun-tahun yang lalu, ketika ia memimpin pasukan Fu Yue untuk menumpas pemberontakan suku Qiang Barat, pemimpin suku Qiang yang bernama Ri Damuji, gugur dalam pertempuran, dan seluruh rakyat Qiang yang tersisa menyerah. Tahun-tahun berikutnya berjalan damai, tanpa ada kerusuhan yang terdengar dari pihak Qiang. Namun... ini bukan berarti mereka bisa benar-benar bersantai.

Jika orang ini hanyalah warga sipil biasa suku Qiang yang tidak tahu cara menggunakan senjata, bagaimana mungkin dia mendaki Gunung Bulan Putih di tengah salju yang begitu tebal, secara kebetulan ditemukan oleh Shen Muxue dan memasuki Garnisun Prefektur Liang?

Terlalu banyak kebetulan yang tak lagi menjadi kebetulan – seseorang pasti telah mengaturnya dengan sengaja.

Sekarang Xiao Jue tidak di garnisun, bagaimana mereka bisa menangani konspirasi yang mungkin muncul?

Xiao Jue tidak ada di sini... Xiao Jue tidak ada di sini?

Tiba-tiba, He Yan terduduk ketika sebuah pikiran menakutkan terlintas di benaknya.

Mengapa orang ini muncul secara khusus ketika Xiao Jue sedang pergi? Mungkinkah... teriakan minta tolong dari Zhangtai juga palsu? "Mengklaim menyerang timur sambil menyerang barat" – bagaimana mungkin dia melupakan strategi militer dasar yang harus mereka hafalkan setiap hari?

Saat ini salju telah berhenti.

He Yan memandang ke luar jendela. Di luar, angin bertiup pelan, salju menutupi tanah, begitu sunyi sehingga bahkan jarum yang jatuh pun dapat terdengar jelas.

Namun di balik ketenangan ini, mungkin tersembunyi arus bawah yang menggetarkan bumi, menunggu saat yang tepat untuk meluap bagai banjir.

Disclaimer: Terjemahan ini dilakukan secara sukarela untuk tujuan berbagi hobi dan apresiasi karya. Seluruh hak cipta, termasuk karakter, alur cerita, dan judul adalah milik penuh penulis asli dan penerbit. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas konten ini. Jika Anda menyukai ceritanya, dukung penulis aslinya melalui platform resmi.

Komentar