Legend of the Female General-Bab 108 Mata-mata

Dengan banyak pikiran yang membebani pikirannya, He Yan tidak bisa tidur nyenyak di malam hari. Keesokan harinya, ia bangun sebelum fajar. Setelah latihan pagi, ia pergi untuk berbicara dengan Hong Shan.

Hong Shan berkata, "Kemarin, aku dan Shitou bergantian berjaga selama setengah malam, tetapi kami tidak menemukan sesuatu yang aneh."

He Yan menatap Shitou, yang mengangguk padanya.

"Tidak ada pergerakan sepanjang malam?"

"Tidak ada. Dia tidur lebih nyenyak daripada kita semua." Hong Shan menatap He Yan dengan curiga. "Tidakkah kau terlalu berlebihan memikirkannya? Hu Yuanzhong hanyalah seorang pemburu biasa. Aku tidak melihat ada yang salah dengan ucapannya. Kemiskinan keluarganya membuatnya cukup menyedihkan."

"Kakak He, apa sebenarnya yang salah dengan orang ini sehingga membuatmu begitu curiga?" tanya Xiao Mai.

Apa yang salah? Sebenarnya, semuanya bermuara pada ruam merah di pergelangan tangannya tepatnya di pangkal pergelangan tangannya – bukan hal yang terlalu mencurigakan. Namun, waktu kedatangan orang ini yang bertepatan dengan kepergian Xiao Jue membuatnya merasa ada yang tidak beres.

Setelah berkali-kali berjalan di antara hidup dan mati di medan perang, terkadang tubuh membuat penilaian yang lebih baik daripada pikiran. Seorang jenderal tua yang pernah ia ikuti sering berkata: "Intuisi orang biasa mungkin salah, tetapi bagi orang seperti kita, intuisi kita tentang bahaya benar delapan atau sembilan kali dari sepuluh."

Setelah merenung sejenak, ia berkata, "Biar aku yang mengamatinya lebih lanjut."

Hong Shan mengangkat bahu dan tidak melanjutkan masalah itu.

Menjelang sore, semua latihan harian telah selesai. He Yan pertama-tama pergi ke kamar Shen Muexue untuk mengambil obat, lalu pergi menemui Hu Yuanzhong. Ia sendirian di kamarnya, menatap selembar kertas.

Ketika He Yan mendorong pintu, ia langsung menyembunyikan kertas itu di balik pakaiannya.

"Saudara Hu, apa yang kau lakukan sendirian di kamar?" He Yan pura-pura tidak memperhatikan tindakannya barusan dan bertanya sambil tersenyum.

"Tidak ada," desah Hu Yuanzhong, "Kakiku belum sembuh, jadi aku tidak bisa bangun dari tempat tidur. Aku hanya bisa berdiam diri di kamar, merepotkan kalian semua."

"Sama sekali tidak merepotkan" kata Huo Yan sambil tersenyum. "Dengan luka seserius itu, kau tentu perlu waktu untuk pulih dengan baik."

He Yan menggulung kaki celana Hu Yuanzhong dan berjongkok untuk mengoleskan obat. Kemarin ia tidak memeriksanya dengan saksama, tetapi hari ini, karena telah mencurigai pria ini, He Yan memeriksa semua luka-luka itu dengan lebih teliti.

Kaki pemburu ini penuh bekas luka, dengan bekas luka terbesar kemungkinan terluka oleh batu – cukup dalam hingga tulang terlihat, dan luka itu yang paling parah dari semua luka.

"Aku dengar dari Nona Shen bahwa Saudara Hu bertemu beruang saat mendaki gunung," tanya Huo Yan santai. "Apakah ada beruang di musim dingin?"

Beruang-beruang di Gunung Bulan Putih kemungkinan besar sedang berhibernasi bahkan di siang hari. Rasanya sangat tidak mungkin bagi Hu Yuanzhong untuk bertemu dengan mereka.

"Iya," Hu Yuanzhong menggaruk kepalanya, "Aku hanya kurang beruntung. Alih-alih menemukan rubah, aku malah bertemu beruang."

"Bagaimana bisa kau sebut itu kurang beruntung?" He Yan menggelengkan kepalanya. "Bisa lolos hidup-hidup setelah bertemu beruang bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan semua orang. Kudengar beruang memiliki penglihatan yang buruk tetapi sangat sensitif terhadap bau. Saudara Hu terluka dan berlumuran darah saat itu, tetapi beruang itu tidak mengejarmu – itu cukup mengesankan."

"Selain itu," He Yan terus mengoleskan obat tanpa melihat ekspresi Hu Yuanzhong, "Untung saja Saudara Hu terkubur di salju dan diselamatkan oleh Nona Shen. Rekrutan Garda Liangzhou hanya naik gunung beberapa hari sekali. Jika Saudara Hu naik gunung sehari kemudian, atau jatuh di tempat lain, kau mungkin tidak akan berada di Garda Liangzhou sekarang."

Hu Yuanzhong terdiam sejenak, lalu mengangguk, "Memang, aku berhutang budi pada Nona Shen."

He Yan tersenyum tipis, selesai mengoleskan obat, lalu menurunkan kaki celana Hu Yuanzhong. Ketika He yan menyerahkan mangkuk obat, tatapannya kembali tertuju pada pergelangan tangan Hu Yuanzhong. Meskipun ia telah menurunkan lengan bajunya lebih panjang, bercak merah masih samar-samar terlihat di pangkal pergelangan tangannya.

"Sudah berapa tahun Saudara Hu menjadi pemburu?"

Hu Yuanzhong menjawab sambil meminum obatnya, "Tujuh atau delapan tahun."

"Apakah Kau selalu berburu di Gunung Bulan Putih?"

He Yan dengan bertanya cepat, dan Hu Yuanzhong ragu sebelum menjawab, "Iya."

"Apakah kau pernah mendaki Gunung Bulan Putih dalam kondisi bersalju seperti ini di tahun-tahun sebelumnya?"

"Tidak... tidak pernah."

"Lalu kenapa kamu mendaki tahun ini?"

"Hanya karena aku tidak mempunyai makanan sama sekali." Hu Yuanzhong menatap He Yan dengan aneh setelah menghabiskan obat terakhirnya. "Saudara He, kenapa kau bertanya seperti itu?"

He Yan menundukkan kepalanya dan tersenyum, "Hanya ingin tahu."

He mengulurkan tangan untuk mengambil mangkuk kosong dari Hu Yuanzhong.

Huo Yuanzhong mengulurkan tangannya.

Saat tangan He Yan bergerak ke arah Hu Yuanzhong, tiba-tiba tangan itu berubah arah, langsung menghantam wajahnya. Hu Yuanzhong tak sempat menghindar dan hanya bisa mundur dengan panik. Tangan He Yan menghantam dadanya, dan ia menjerit kesakitan, menyemburkan darah segar dari mulutnya—

Namun gerakan pemuda itu tak berhenti disitu, He Yan langsung merogoh pakaian Hu Yuanzhong dan menarik selembar kertas.

"Kembalikan—" teriak Hu Yuanzhong, tetapi karena serangan He Yan sebelumnya, suaranya serak dan tidak menyenangkan, seperti balon kempes. Ia berbaring miring di sofa, sia-sia meraih He Yan.

Keributan itu terlalu besar yang membuat orang-orang di sekitarnya khawatir. Mendengar suara itu, para rekrutan di sekitarnya bergegas masuk dan mendapati Hu Yuanzhong memegangi dadanya dan memuntahkan darah, sementara He Yan berdiri di samping sofa sambil memegang selembar kertas.

"Apa yang terjadi? Apa yang sedang terjadi!"

Hu Yuanzhong berkata dengan susah payah, "Dia mencuri barangku..."

"Apa yang kau curi darinya?" tanya para rekrutan itu.

He Yan menatap kertas kuning di tangannya.

Di kertas kuning itu tertulis sebuah puisi: "Pikiranku tentangmu bagaikan air Sungai Barat, mengalir ke timur siang dan malam tanpa henti."

Tulisan tangannya halus, jelas ditulis oleh seorang wanita.

"Apa ini?" He Yan mengerutkan kening dan bertanya kepadanya.

Hu Yuanzhong menatap He Yan dengan geram tetapi tetap diam.

"Ada apa?" Suara Shen Muexue terdengar dari belakang. Ia kebetulan berada di dekat asrama dan mendengar keributan tersebut, dan datang untuk menyaksikan adegan menegangkan ini.

"He Yan?" Shen Muexue menatap Huo Yan dengan curiga, lalu Hu Yuanzhong yang sedang memegangi dadanya, lalu berjalan ke samping Hu Yuanzhong, bertanya dengan heran, "Bagaimana lukamu bisa bertambah parah?" Melihat darah di bibir Hu Yuanzhong, ia bertanya, "Siapa yang melakukan ini?"

Hu Yuanzhong memelototi He Yan.

Shen Muexue mengerutkan kening, "He Yan, apa yang kau lakukan?"

"Aku hanya menepuknya dengan pelan," He Yan tersenyum. "Mungkin aku kurang mengontrol kekuatanku."

"Absurd sekali! Dia masih terluka – bagaimana mungkin dia bisa menahan seranganmu?"

Hu Yuanzhong berusaha keras untuk duduk, mengulurkan tangannya ke arah He Yan, suaranya masih marah, "Kembalikan!"

He Yan mengangkat bahu dan mengembalikan kertas berisi puisi cinta itu kepadanya.

"Apa itu?" tanya seorang rekrutan. "Apa yang kau ambil darinya?"

Shen Muexue juga menoleh, dan Hu Yuanzhong berkata dengan sedih, "Ini ditulis oleh mendiang istriku..."

Jadi itu kenang-kenangan dari mendiang istrinya.

"He Yan, kenapa kau mengambil kenang-kenangan milik orang lain?" Beberapa rekrutan tak bisa tinggal diam, "Pantas saja Hu Yuanzhong begitu marah."

"Aku hanya bercanda dengan Saudara Hu, aku tidak tahu itu kenang-kenangan dari istrinya," kata He Yan meminta maaf. "Saudara Hu tidak akan mempermasalahkannya, kan?"

Hu Yuanzhong menatap Huo Yan, tampak tak mampu mengungkapkan amarahnya, dan akhirnya dengan terpaksa menahannya, berkata, "Tidak apa-apa, asal jangan lakukan hal seperti ini lagi." Setelah berbicara, ia mulai batuk hebat, tampak sangat lemah.

Melihat situasi ini, raut wajah Shen Muexue pun menjadi tidak senang. Ia berkata kepada He Yan, "Cukup, He Yan, kau tak dibutuhkan lagi di sini. Pergilah dulu. Mulai sekarang, aku yang akan mengurusi semua obat-obatan Hu Yuanzhong. Kau tak perlu datang ke sini setiap hari lagi."

Seolah-olah Huo Yan adalah dewa wabah yang suka membuat onar.

"Baiklah." He Yan tidak marah, menjawab sambil tersenyum, melirik Hu Yuanzhong sebelum berbalik untuk pergi.

Begitu ia melangkah keluar ruangan, senyumnya lenyap.

Dia memang sengaja menyerang Hu Yuanzhong tadi. Di saat-saat berbahaya, orang secara naluriah akan bereaksi. Sama seperti ketika Ding Yi menguji apakah dia benar-benar buta di Kota Liangzhou. Jika Hu Yuanzhong tidak terluka separah seperti yang terlihat di permukaan, tentu saja dia akan membalas serangan He Yan.

Namun, Hu Yuanzhong tidak melakukannya, malah menerima serangan He Yan secara langsung. Jika hanya menerima serangannya saja mungkin tidak masalah, tetapi He Yan juga sangat berhati-hati saat melancarkan serangan itu.

Serangan yang ia berikan kepada Hu Yuanzhong, meskipun tampak ganas, sebenarnya hanya menggunakan sedikit tenaga. Paling-paling, Hu Yuanzhong hanya merasakan nyeri otot, tentu saja tidak sampai berdarah. Lagipula, He Yan tidak ingin merenggut nyawa seseorang – jika semua ini hanya karena dirinya terlalu berpikir berlebihan, bukankah Hu Yuanzhong akan menderita secara sia-sia?

Masalahnya terletak di sini – He Yan sangat percaya diri dalam mengendalikan tenaganya. Bagaimana mungkin serangan yang begitu ringan membuat Hu Yuanzhong batuk darah? Kecuali jika dirinya salah menaksir kekuatan tenaganya, orang ini berbohong.

He Yan yakin Hu Yuanzhong berbohong.

Adapun kertas dengan puisi cinta di pakaiannya, itu bahkan lebih aneh lagi. Seseorang yang membawa kenang-kenangan mendiang istrinya tentu saja orang yang sentimental, dan orang seperti itu seharusnya tidak mempunyai pemikiran lain terhadap seorang dokter wanita cantik.

Bagi He Yan, semua ini terasa seperti menonton drama yang buruk. Sayangnya, meskipun ia curiga, ia tidak bisa memberi tahu orang lain tentang hal ini. Jika ia memberi tahu orang lain bahwa serangan sebelumnya hanyalah tipuan, mereka mungkin berpikir ia menghindari tanggung jawab dengan sengaja meringakan permasalahan.

Ini memang merepotkan.

Saat sedang berjalan, tidak lama kemudian Xioa Mai dan yang lainnya datang mencarinya. Melihat He Yan, mereka menghela napas lega dan bertanya pelan, "Kakak He, mereka bilang kau memukul Hu Yuanzhong? Benarkah?"

Bagaimana mungkin seluruh garda Liangzhou tahu tentang kejadian ini dalam waktu yang dibutuhkan untuk membakar dupa?

"Benar."

"Kau masih mencurigainya?" Hong Shan mengerutkan kening. "Jika kau mencurigainya, kami bisa membantumu mengawasinya. Kenapa kau perlu memukulnya? Apa kau tahu apa yang dikatakan semua orang di Garda Liangzhou tentangmu... mengatakan..." Ia ragu untuk melanjutkan.

He Yan bertanya, "Apa yang mereka katakan?"

"Mereka bilang Kakak He menindas yang lemah dan bersikap arogan," kata Xioa Mai.

Huo Yan terdiam.

Keadaan menjadi semakin aneh.

"Kakak He, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Xioa Mai menatap He Yan dengan cemas. "Haruskah kita menjelaskannya kepada yang lain?"

"Tidak perlu." He Yan menurunkan pandangannya. Karena orang ini telah menyebarkan rumor begitu cepat, mereka pasti menargetkannya. Penjelasan akan sia-sia. Alih-alih menjelaskan rumor yang tidak berarti ini, ia lebih curiga pada tujuan Hu Yuanzhong dan bagaimana cara membongkar wajah aslinya.

"Terus awasi dia di malam hari," kata He Yan. "Aku akan mengamatinya lebih lanjut."

Xioa Mai dan Hong Shan saling bertukar pandang, tidak berkata apa-apa lagi.

Hari-hari berlalu dengan damai...

Tidak ada kejadian aneh yang terjadi di Garda Liangzhou. Xiao Mai membantu He Yan mengawasi Hu Yuanzhong setiap hari, tetapi tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Namun, Hong Shan dan yang lainnya tidak tidur nyenyak di malam hari, tampak linglung selama latihan keesokan harinya dengan lingkaran hitam di bawah mata mereka, membuatnya mendapat beberapa teguran dari Liang Ping.

Adapun He Yan, ia ingin memeriksa situasi Hu Yuanzhong setiap hari untuk mengumpulkan lebih banyak informasi. Namun, Shen Muexue bersikap waspada seperti pencuri, melarang keras Huo Yan mendekati Hu Yuanzhong, karena khawatir He Yan akan "bermain-main" dan melukai Hu Yuanzhong lagi. Oleh karena itu, selama beberapa hari, He Yan bahkan tidak bisa mendekati Hu Yuanzhong, apalagi memergokinya melakukan kesalahan.

Malam itu, He Yan pergi sendirian ke tempat latihan. Karena cedera yang dialaminya, latihan malam dikurangi menjadi tiga hari sekali.

Xiao Jue telah pergi selama lebih dari setengah bulan tanpa kabar. He Yan diam-diam bertanya kepada Cheng Lisu apakah ada kabar dari Zhangtai, tetapi bahkan Cheng Lisu pun tidak tahu. Ketika Xiao Jue ada di sini, mereka tidak merasakan betapa pentingnya Xiao Jue, tetapi sekarang setelah ia pergi, mereka menyadari bahwa Garda Liangzhou tidak dapat berfungsi tanpa Xiao Jue. Jika ia memberitahu informasi ini pada Xiao Jue, dengan pengetahuannya yang luar biasa, Xiao Jue pasti akan menemukan sesuatu yang mencurigakan tentang Hu Yuanzhong. Sekarang ia tidak memiliki siapa pun untuk diajak berkonsultasi, membuat segalanya menjadi sangat sulit.

He Yan berjalan menuju area panahan, berencana berlatih memanah tiba-tiba He Yan mendengar suara gerakan dari jalur kuda. Mendongak, ia melihat sosok gelap menunggang kuda berlari menuju Gunung Bulan Putih.

Siapa yang berani mendaki gunung di tengah malam seperti ini? Meskipun cuaca cerah beberapa hari terakhir telah mencairkan salju di gunung, membuat jalan lebih mudah dilalui daripada sebelumnya. He Yan ingin memanggil yang lain, tetapi tempat latihan terlalu jauh dari asrama para rekrutan – jika ia pergi meminta bantuan, ia akan kehilangan jejak orang ini.

Melihat sosok itu menghilang ke dalam hutan yang gelap, He Yan tidak bisa sabar lagi. Ia menarik seekor kuda dari kandang, menungganginya, dan mengejar sosok gelap itu.

Tanah musim dingin di Gunung Bulan Putih terasa sangat dingin menusuk tulang, salju yang mencair membuat jalanan menjadi licin untuk dilalui oleh kuda. Orang di depan tidak menyalakan obor, hanya berjalan dengan bantuan cahaya bintang menembus hutan. He Yan tidak dapat melihat dengan jelas dan tidak dapat menyalip saat mengikuti.

Sosok itu jelas mengenal medan Gunung Bulan Putih dengan baik, memilih jalur-jalur kecil, dan beberapa kali mencoba mengarahkan He Yan ke parit. Namun, He Yan telah menghafal jalur-jalur ini lebih baik daripada kebanyakan orang yang telah tinggal disini selama bertahun-tahun – sekali saat lomba bendera, dua kali saat memotong kayu bakar. Ia hafal semua titik berbahaya dan tidak tertipu. Setelah beberapa kali gagal, melihat bahwa He Yan tidak terpancing, sosok itu membelokkan kudanya ke arah yang berbeda.

Huo Yan mengejar dengan rapat.

Ia menduga orang itu adalah Hu Yuanzhong, tetapi mengapa ia mendaki gunung larut malam? Tentu saja bukan untuk diam-diam pulang di tengah kegelapan.

Ketika kita hanya bisa melihat gambaran kecil, sulit untuk melihat gambaran utuhnya. Daripada membuang waktu mencoba menyatukan gambaran-gambaran kecil itu, lebih baik langsung mencari sumbernya dan mendapatkan jawaban yang jelas.

He Yan bertekad untuk menangkap orang ini hari ini.

Dari jalan setapak kecil, jalan menjadi jauh lebih lebar. Jarak antara He Yan dan sosok gelap itu semakin dekat. Ketika hanya tersisa beberapa langkah, He Yan melompat, separuh tubuhnya menerjang ke arah kuda milik sosok gelap itu. Orang itu tak sempat menghindar dan terpaksa menahan kudanya. Saat orang itu mencoba melarikan diri, He Yan menerkam, terlibat dalam pertarungan dengan orang itu.

Karena pergi denganterburu-buru, He yan hanya mengambil tongkat berujung besi dari rak senjata, lebih baik daripada tangan kosong. Dalam kegelapan, sosok itu melompat, dan He Yan akhirnya bisa melihat sosok itu mengenakan topeng, menutupi seluru wajah kecuali matanya. Perawakan orang ini mirip dengan Hu Yuanzhong, tetapi karena cahaya yang redup membuat identitas orang ini mustahil untuk dipastikan hanya dengan mata. Orang ini berdiri tegap, menghunus pedang melengkung besar yang berkilau dingin di malam hari seperti bulan sabit.

"Pedang melengkung?"

Jantung Huo Yan berdebar kencang.

Para prajurit Qiang menyukai pedang melengkung karena efisiensinya dalam memotong daging – baik untuk membunuh maupun memakan daging. He Yan telah menyaksikan sendiri betapa mematikannya pedang melengkung itu, melihat rekan-rekannya dihantam pedang melengkung – kepala mereka jatuh sebelum darah sempat mengalir. Selama invasi Qiang Barat ke Dataran Tengah, latihan favorit Komandan Ri Damuji adalah menggunakan pedang melengkung untuk memenggal kepala tawanan, merangkai kepala yang telah dipenggal tersebut, lalu mengikatnya ke ekor kuda kesayangannya, menebar teror ke mana pun ia pergi.

Melihat pedang melengkung ini, He Yan tahu orang ini menggunakan teknik Qiang.

Ia mengerutkan kening: "Jadi, kau orang Qiang?"

Mendengar ini, orang itu tertawa menyeramkan, suaranya serak dan teredam, "Bagaimana kau tahu?"

"Cukup bicaranya," He Yan menancapkan tongkat besinya ke tanah, melotot dingin, "Katakan padaku, apa tujuanmu menyusup ke Garda Liangzhou?"

"Ssst—" Orang itu menempelkan jari ke bibirnya, berkata, "Tenangkan diri, jangan sampai ada yang menemukan kita." Melihat Huo Yan terdiam, dia tampak geli dan menambahkan, "Kalahkan aku, nanti kuberitahu."

"Sombong!" bentak Huo Yan, langsung menyerang orang itu.

Meskipun tongkat besi miliknya tidak setajam pedang melengkung, daya tahan tongkat yang kokoh membuatnya sulit didekati. Cedera He Yan belum sepenuhnya pulih, membatasi pergerakannya, tetapi meskipun begitu, He Yan bertarung melawan orang ini hingga titik darah penghabisan.

Orang bertopeng itu mengayunkan pedang lengkungnya dengan sangat terampil, serangannya tanpa ampun mengincar dada He Yan. Serangan itu membuat He Yan dipaksa mundur selangkah demi selangkah, tiba-tiba He Yan berhenti, berhentinya yang mendadak itu membuat He Yan menendang salju di kakinya. Menoleh ke belakang, He Yan melihat jurang di belakangnya.

"Ketahuan?" Orang itu tertawa, "Kenapa kau tidak tertipu?"

"Karena teknikmu terlalu payah," kata Huo Yan dingin. Kemudian, sambil menancapkan tongkatnya di tanah, He Yan menggunakannya untuk melompat ke depan, mendarat di belakang orang bertopeng itu. Tanpa berhenti, He Yan mengayunkan tongkatnya dengan keras ke kepala orang itu.

Serangannya meleset karena orang bertopeng itu menghindar ke samping, tetapi tongkat itu malah mengenai bahu orang bertopeng itu. Ini saja sudah cukup – latihan kunci batu harian yang dilakukan He Yan telah membuatnya jauh lebih kuat daripada saat pertama kali bergabung dengan Garda Liangzhou. Bahkan orang sekuat Huang Xiong pun akan menderita karena pukulan seperti itu, apalagi orang ini.

Orang bertopeng itu menjerit kesakitan karena serangan Huo Yan, dan hampir menjatuhkan pedang melengkungnya. Lengan kanan orang itu kehilangan kekuatan, untuk sementara waktu tidak bisa menggunakan pedangnya.

"Bagaimana rasanya?" cibir Huo Yan.

Orang bertopeng itu tidak merespons, malah berbalik untuk melarikan diri. He Yan mengerutkan kening dan mengejar orang itu dengan rapat. Dengan stamina, kekuatan, dan kecepatannya yang luar biasa, orang bertopeng itu tak mampu menghindari He Yan.

Jika dia bisa menangkap orang ini dan melepas topengnya, dia akan tahu identitas orang ini. Dengan saksi dan bukti, tertangkap basah berpakaian seperti ini di gunung bulan putih di tengah malam – jika itu Hu Yuanzhong, Shen Han bisa menyiksanya untuk memberitahu tentang rencana mereka.

Tepat pada saat itu, orang di depan tiba-tiba berhenti dan berteriak kepada He Yan, "Ini hadiah untukmu!" Orang itu melemparkan pedang melengkung itu ke dadanya. He Yan secara naluriah menangkap gagang pedang tersebut dan kemudian melihat seseorang berguling keluar dari hutan.

Dalam kegelapan, orang ini mengenakan seragam latihan merah khas rekrutan Garda Liangzhou.

Jalur pegunungan ini berupa lereng yang panjang – jika rekrutan ini terus berguling, dia akan jatuh ke jurang tak berdasar. He Yan memperhatikan orang bertopeng itu tertawa dan menghilang ke dalam hutan lebat. Sambil menggertakkan gigi, He Yan berbalik untuk mengejar rekrutan yang jatuh itu.

Rekrutan berseragam merah itu berguling semakin cepat tanpa bersuara. Hati He Yan mencelos saat ia melompat maju, mengejar rekrutan itu di tengah lereng, menangkap rekrutan itu dalam pelukannya dan mereka berdua pun berguling ke samping, akhirnya berhenti di sebuah pohon.

Tubuh dalam pelukannya masih terasa hangat tetapi tidak bersuara. He Yan melihat ke bawah, dan di bawah cahaya bintang, wajah rekrutan itu pun terlihat yang ternyata masih sangat muda.

He Yan membeku sesaat.

Di antara puluhan ribu rekrutan Garda Liangzhou, ia tak bisa mengingat setiap nama, hanya mengenali beberapa wajah yang familiar. Ia ingat wajah ini – Wang Xiaohan, sosok pemalu yang ditemuinya saat menuruni Gunung Bulan Putih setelah lomba bendera.

Pemuda yang beberapa hari lalu mengucapkan terima kasih dengan wajah memerah kini sama sekali tidak memiliki warna diwajahnya. Matanya terbelalak lebar, seakan dipenuhi ketakutan sebelum kematiannya. Seragam merah basah kuyup di bagian dadanya. He Yan menatap tangannya yang berlumuran darah. Dengan gemetar, ia membuka pakaian pemuda itu dan menemukan lubang besar berdarah di bagian dadanya, dengan daging yang terkoyak, membuatnya tampak kosong.

Dia telah mati oleh sayatan pedang lengkung.

Seberapa banyak pun ia melihat kematian, He Yan tak pernah bisa tetap tenang ketika melihat kematian seseorang yang dekat. Ia memejamkan mata, amarah membuncah di dalam dirinya, ia bergumam, "Binatang!"

Wang Xiaohan masih sangat muda, bahkan belum pernah ke medan perang sungguhan, namun tewas di malam yang sunyi di Gunung Bulan Putih. Jika He Yan tidak mengejar orang bertopeng itu malam ini, kematiannya pasti tak akan diketahui sampai rekan-rekannya menyadari seseorang telah hilang keesokan harinya.

Hilang... seseorang?

Mengapa menyeret pemuda ini ke atas gunung untuk membunuhnya? Apakah dia menyaksikan sesuatu dan dibungkam, atau adakah alasan lain?

Tidak, tidak!

Cengkeraman He Yan pada pemuda itu semakin erat – dia telah jatuh ke dalam perangkap!

Tepat saat pikiran ini terlintas, ia mendengar suara gemerisik dan suara-suara mendekat: "Apakah kau melihat seseorang? Di mana mereka?"

Tiba-tiba, semak-semak di depan terbelah, menampakkan wajah seorang rekrutan, memegang obor, dan bertatapan langsung dengan He Yan.

Pemandangan di depan mereka tak perlu dijelaskan lagi agar tampak mengerikan.

He yan memegang pedang lengkung, tangannya berlumuran darah, dan di lengannya terbaring seorang rekrutan Liangzhou, matanya terbuka dalam kematian, dengan lubang berdarah yang mengerikan di dadanya.

"K-ketemu mereka!" teriak rekrutan itu panik, sambil mundur terhuyung-huyung, "Pembunuhan! He Yan telah melakukan pembunuhan!"

Lebih banyak orang segera berdatangan, termasuk Shen Han, Liang Ping, dan instruktur lainnya. Mereka menatap He Yan dengan tatapan curiga, dan Du Mao berteriak, "Huo Yan, kau membunuh seseorang?"

Senjata pembunuh ada di tangannya, mayat di kakinya, menyelinap mendaki gunung di tengah malam – perilakunya mencurigakan dari segala sudut. Ia tampak seperti mata-mata dengan motif tersembunyi, yang membungkam saksi.

Inilah adalah hadiah sesungguhnya dari orang bertopeng itu untuknya.

Disclaimer: Terjemahan ini dilakukan secara sukarela untuk tujuan berbagi hobi dan apresiasi karya. Seluruh hak cipta, termasuk karakter, alur cerita, dan judul adalah milik penuh penulis asli dan penerbit. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas konten ini. Jika Anda menyukai ceritanya, dukung penulis aslinya melalui platform resmi.

Komentar