A Love Confession-Bab 03 Pernyataan Cinta
Saat Xu Sui baru masuk kuliah, aplikasi sosial media seperti WeChat baru saja mulai populer. Tepatnya pada bulan Oktober tahun itu, Xu Sui dan Zhou Jingze resmi bertemu untuk pertama kalinya.
Awal Oktober, hawa panas belum juga pergi meski musim gugur sudah tiba. Hawa panas menggulung, udaranya lengket. Kalau seseorang berdiri agak lama di luar, keringat di siku tangannya menetes ke tanah, lalu cepat menguap.
Para mahasiswa kedokteran angkatan mereka resmi memulai kehidupan kuliah setelah menyelesaikan latihan militer. Seharusnya anatomi adalah mata kuliah semester dua, tapi profesor mereka justru berbuat sebaliknya—meminta mereka mempelajarinya lebih awal.
Hari ini baru kedua kalinya mereka belajar anatomi, dan profesor sudah memberi tugas: secara berkelompok, membedah kodok dan mencatat reaksi sarafnya.
Sebagai pemula, laboratorium pun menjadi kacau balau.
"Sial, Da Jie (sebutan untuk perempuan yang artinya (jie)Kakak perempuan (Da)besar), tahan kodoknya!" seorang mahasiswa pria berkata dengan wajah kesal, "Jangan sampai kabur lagi."
"Huuuu, tidak bisa, aku takut, aku lihat saja sudah ngeri." Suara mahasiswi itu bergetar.
Keduanya bekerja sama, tapi mahasiswi itu tidak berani menyentuh kodok. Tanpa sengaja mahasiswi itu menyentuh kodok, dan makhluk hijau itu langsung menghadap ke arah mahasiswa pria, menyemprotkan kencingnya ke seluruh tubuh mahasiswa pria itu.
Udara membeku, lalu meledak dalam tawa. Mahasiswa di meja sebelah tertawa sampai bahunya bergetar: "Bro, pembukaan yang panas."
Eksperimen gagal berkali-kali. Mahasiswa kelompok lain bahkan lebih parah—sebelum tangan mereka menyentuh kodok, hanya dengan melihat penampilannya saja, mereka sudah muntah beberapa kali ke kamar mandi.
Di sisi lain, beberapa orang mengerumuni seorang mahasiswi, menyaksikan caranya membedah kodok. Gadis itu bertubuh ramping, rambutnya diikat ke belakang, memperlihatkan lehernya yang putih. Ia memakai jas putih, dan di balik kacamata pelindung, sepasang matanya tenang dan bersih.
Ia tanpa rasa takut menangkap kodok itu, menahannya dengan kuat, lalu menusukkan jarum baja ke belakang kepala kodok itu. Ia tidak takut, langsung mengeluarkan isi kepala kodok itu dan menghancurkannya, lalu memutus tulang belakang kodok tersebut. Tangan yang lain menggunting leher kodok itu dengan gunting, menjepit lidahnya dengan pinset, dan mengamatinya.
Seluruh proses berjalan mulus dalam satu tarikan napas, gerakannya bersih dan lancar. Tepuk tangan kecil pun terdengar di sekitarnya. Seorang mahasiswa pria memuji: "Aku benar-benar kagum, Xu Sui. Lihat penampilanmu, aku kira kamu tipe yang penurut dan tidak berani. Tahu-tahunya, saat membedah, kamu berani dan cekatan."
Mahasiswi di sampingnya ternganga: "Xu Sui, kamu hebat sekali. Kamu tidak takut?"
Bulu mata Xu Sui yang hitam legam menunduk, membentuk lengkungan tipis. Ia tersenyum tenang: "Tidak takut."
"Tadi caramu membedah sangat bagus. Bisakah kamu mengajariku?" Mahasiswi yang bicara bernama Liang Shuang, teman sekelas Xu Sui.
"Bisa." Xu Sui mengangguk.
Di bawah bimbingan Xu Sui, Liang Shuang menguasai teknik membedah. Dengan susah payah, ia akhirnya berhasil menaklukkan rasa takutnya, dan saat sedang mengarahkan jarum baja besar ke otak kodok itu—
Atap ruangan bergoyang pelan, disusul suara gemuruh pesawat yang cukup keras. Suara "wung wung wung" itu terus-menerus terdengar. Liang Shuang terkejut, jarumnya melenceng, dan langsung menusuk kaki kodok itu. Darah pun menyemprot keluar.
Gagal lagi.
Liang Shuang kesal dan mulai mengeluh: "Aku benar-benar tidak paham, kenapa dulu pendiri universitas kedokteran ini memindahkan kampusnya ke sebelah universitas penerbangan dan antariksa, hanya dipisahkan satu jalan. Sekelompok pilot itu latihan di lapangan terbang, pagi berisik, malam berisik, benar-benar menyebalkan."
Seorang mahasiswi mendengar keluhan Liang Shuang, lalu menggoda: "Eh, Liang Shuang, aku ingat waktu kamu baru datang, bukankah kamu bilang mau cari pilot untuk dijadikan pacar? Kenapa begitu cepat berubah pikiran?"
Mendengar kata "pilot", jantung Xu Sui menegang, lalu ia kembali ke meja eksperimen seolah tidak terjadi apa-apa, mengamati data.
Liang Shuang menjawab: "Itu dua hal yang berbeda. Lagipula aku belum menemukannya."
Xu Sui kembali ke meja eksperimen dan melanjutkan eksperimennya. Satu mahasiswi di kelompoknya bernama Bai Yuyue. Sepanjang waktu, selain menyerahkan pinset, jarum baja, dan alat-alat lain, ia tidak memberi kontribusi apa pun untuk tugas kelompok mereka.
Karena Bai Yuyue setiap beberapa saat melihat ponselnya, pikirannya sama sekali tidak di atas meja bedah. Tiba-tiba, ponselnya yang diletakkan di samping berbunyi "ding" tanda ada pesan. Bai Yuyue membukanya, lalu tersenyum manis.
Xu Sui sedang membungkuk mengamati reaksi saraf otak kodok di komputer, tiba-tiba Bai Yuyue memanggilnya: "Xu Sui, aku ada urusan sebentar, sisanya tolong bantu, bantu aku kerjakan sekalian."
Maksudnya: tugasnya dikerjakan oleh Xu Sui seorang diri, tapi nama yang tercantum di akhir harus dua orang.
Xu Sui melihat eksperimennya sudah hampir selesai, lalu mengangguk tanpa ekspresi. Ia tidak terlalu peduli soal hal-hal semacam itu, karena malas.
Bai Yuyue pergi dengan wajah gembira. Karena Xu Sui sendirian, ia menyelesaikan eksperimennya lebih lambat dari orang lain. Saat selesai, ternyata Liang Shuang masih menunggunya.
"Kamu belum pulang?" Xu Sui melepas sarung tangan sekali pakainya.
"Tentu saja aku sedang menunggumu." Liang Shuang mencubit pipinya Xu Sui. Teksturnya ternyata lumayan bagus.
Setelah Xu Sui berganti pakaian, Liang Shuang menyeretnya berlari menuruni tangga, mulutnya terus mengoceh: "Cepat, kentang tumis iga kesukaanku mau habis."
Di kantin satu, keduanya akhirnya berhasil mengambil makanan dan duduk. Tiba-tiba seorang mahasiswa pria berkacamata membawa nampan dan bertanya dengan ragu apakah boleh duduk bersama.
Xu Sui dengan wajah manis dan polos, tapi tanpa ampun menolak permintaannya.
Liang Shuang duduk di seberangnya mengamati Xu Sui—wajah sebesar telapak tangan, putih dengan semburat merah muda, mata almond yang bening, dua lesung pipi saat tersenyum, rambut diikat rapi ke belakang, rambut-rambut halus di dahi jatuh dengan nakal.
Khas wajah orang selatan, segar dipandang dari sudut mana pun.
Liang Shuang menggigit iga dan menghela napas: "Tsk tsk, bulan ini sudah berapa orang? Sui Sui, kamu tahu tidak, forum jurusan kita sedang mengadakan voting bunga jurusan, dan namamu ada di daftar kandidat."
Xu Sui tidak menunjukkan reaksi besar. Ia menusukkan sedotan ke dalam kotak susu, menggembungkan pipinya: "Tapi waktu SMA aku benar-benar biasa saja."
Tipe yang akan tenggelam di keramaian.
Kalau Liang Shuang melihat foto Xu Sui waktu SMA, ia tidak akan berkata begitu. Waktu SMA, karena sering sakit, Xu Sui minum obat herbal terus-menerus. Tubuhnya membengkak, wajahnya pucat, dan ia selalu memakai seragam sekolah yang polos dan kebesaran—gadis yang biasa saja.
Untungnya setelah sehat, saat kuliah ia turun dua puluh kilogram. Ditambah kulitnya yang putih dan fitur wajahnya yang kecil dan halus, seolah benar-benar berubah total. Perhatian orang padanya pun bertambah.
Dan memang karena kuliah dan SMA benar-benar berbeda. Di sini selera kecantikannya beragam, setiap kepribadian diterima apa adanya, sehingga orang mulai memperhatikannya.
"Eh, siapa yang waktu SMA tidak lusuh, semua demi belajar," Liang Shuang mengambil sepotong daging dengan sumpitnya dan meletakkannya di mangkuk Xu Sui, lalu bertanya, "Tapi aku lihat kamu sudah menolak beberapa orang, kamu sebenarnya suka tipe yang seperti apa?"
Xu Sui menggigit sedotan tanpa bergerak. Di kepalanya muncul wajah seseorang yang gemar bermain-main dengan perasaan, lalu cepat ia tekan kembali. Ia menggeleng: "Aku juga tidak tahu."
"Tidak apa-apa, waktu masih panjang," Liang Shuang menusuk-nusuk makanannya dengan sumpit. Setelah beberapa saat ia baru sadar—ia mengambil bayam, dan wajahnya pun muram, "Sial, aku tidak bisa. Sekarang saat aku lihat yang hijau-hijau aku langsung mual, terlalu menjijikkan."
"Biar aku yang makan, aku tidak takut." Xu Sui berkata dengan mata tersenyum, lalu memindahkan bayam itu ke mangkuknya.
Pukul lima sore, Xu Sui berdiri di atap salah satu gedung kampus, menikmati angin. Angin senja meniup kertas ujian yang ia bentangkan di pagar besi, menimbulkan suara berisik, seperti merpati putih yang mengepakkan sayap hendak terbang.
Xu Sui menancapkan earphone ke ponselnya, berdiri di atap mengerjakan soal listening. Tempat ini hampir tidak pernah didatangi orang—sepi, pemandangannya bagus. Ia sering ke sini; tempat yang bagus untuk bersantai.
Kalau lelah, Xu Sui menekan kertas ujiannya dengan siku, memandang ke kejauhan untuk melepas penat matanya. Saat itu, ia selalu memandang ke satu arah—sudut timur laut kampus, yang tepat mengarah ke lapangan Universitas Penerbangan dan Antariksa Jingbei.
Di sana, setiap hari mahasiswa fakultas penerbangan berlatih tanpa henti. Dilihat dari atap, hanya terlihat lautan hijau dengan kepala-kepala manusia yang riuh.
Tidak ada yang bisa dilihat dengan jelas. Ia pun tidak tahu apa yang ia harapkan.
Xu Sui sedang melamun, ponsel di tangannya bergetar—panggilan dari ibunya. Xu Sui menjawab. Ibunya menanyakan kehidupan kuliahnya, lalu mengalihkan topik ke soal cuaca.
"Sebentar lagi Shuangjiang (musim turunnya embun beku), setelah Shuangjiang, cuaca akan mulai dingin. Kamu ingat beli selimut lagi." Ibunya cerewet.
Xu Sui tertawa, nadanya ringan: "Bu, ini masih jauh dari Shuangjiang. Di sini masih panas. Lagipula aku sudah pernah tinggal di utara."
Mendengar itu, ibunya menghela napas. Xu Sui tumbuh besar di keluarga single parent di selatan, di sebuah kota kecil bernama Liying di Jiangzhe. Ibunya adalah guru bahasa Tionghoa SMP. Saat Xu Sui SMA, ibunya khawatir sumber daya pendidikan di kota kecil kurang baik, dan berencana menyekolahkannya ke luar.
Kebetulan paman Xu Sui berbisnis di Kota Jingbei, dan mengusulkan agar Xu Sui bersekolah di sana. Demi pendidikan anaknya, ibunya menguatkan hati dan mengirimnya ke sana.
Xu Sui pindah ke SMA Tianhua No. 1 pada semester dua kelas satu SMA, dan tinggal di utara selama dua setengah tahun.
Saat mengisi pilihan universitas, ibunya sudah berdiskusi dengan Xu Sui—ia boleh memilih universitas mana pun di selatan. Tapi ternyata Xu Sui hanya ingin mendaftar ke universitas kedokteran di Jingbei.
Mengingat itu, ibunya mengeluh pelan: "Sudah kuliah, kamu masih jauh dari ibumu, tidak ada yang merawatmu. Kamu ini, begitu musim dingin tangan dan kakimu dingin, dan kamu sangat tidak tahan dingin. Aku benar-benar tidak paham kenapa kamu harus ke sana."
Xu Sui hanya bisa mengalihkan topik, membujuk ibunya beberapa kalimat, lalu menutup telepon.
Xu Sui berdiri di atap, termenung. Ia pun tidak bisa menahan diri untuk bertanya pada diri sendiri: kenapa harus ke sini?
Mungkin ia sudah gila.
Saat sedang melamun, tiba-tiba dari tikungan tidak jauh terdengar erangan penuh gairah, disertai nada manja. Xu Sui menoleh ke arah sumber suara.
Di dinding tikungan berdiri dua orang. Gadis itu bertubuh tinggi, wajahnya memikat, seluruh tubuhnya menempel pada pemuda itu dengan pose yang intim. Pemuda itu bersandar di dinding, pakaian longgar menempel di tubuhnya.
Xu Sui terpisah dari mereka oleh rak besi tua yang berkarat. Melalui kerangka kecil itu, pandangannya perlahan menyempit, tapi gerakan keduanya justru terlihat lebih jelas.
Pemuda itu tidak banyak bergerak, tapi gadis itu menempel sangat erat. Jari-jarinya tanpa sadar bergerak ke bawah, mengaitkan ujung celana hitam pemuda itu—isyaratnya jelas.
Saat gadis itu ingin berbuat lebih jauh, pemuda itu mengulurkan tangan dan dengan mudah menahan buku-buku jari gadis itu, membuatnya tidak bisa bergerak, lalu menatapnya dengan senyum menggoda.
Gadis itu merasa panas karena tatapan itu, dan langsung memanfaatkan kesempatan untuk menyatakan cinta: "Aku benar-benar sangat menyukaimu."
Pemuda itu tidak memberi reaksi apa pun. Kemalasan mengalir dari tulangnya, disertai tawa pelan: "Seberapa suka?"
Setelah mengatakan itu, jari-jari pemuda yang panjang melingkari pita merah di dada gadis itu. Ujung jarinya yang bersih menyentuh kulit gadis itu seinci, hendak melepas tapi tidak—ia yang memegang kendali sepenuhnya. Dada gadis itu perlahan naik turun, napasnya memburu.
Harapan tersirat muncul di dasar hati gadis itu. Saat ia mengangkat pandangan, bertemu tatapan menggoda pemuda itu, wajahnya memerah. Ia pun mengubur seluruh wajahnya di dada pemuda yang bidang itu, dan berkata dengan manja: "Kamu menyebalkan."
Angin berhenti. Awan senja yang membara di langit hangat dan terang. Xu Sui merasa agak terik—panas, pengap. Ia hampir tidak tahan lagi.
Awan berbentuk sisik ikan berwarna oranye kemerahan bergerak mendekat, dan cahaya pun menjadi terang saat itu. Pemuda itu tiba-tiba menoleh ke arah Xu Sui, dan pandangan mereka bertemu di udara.
Rambut pemuda itu sangat pendek, memperlihatkan kulit kepala. Lipatan kelopak matanya tipis, pupilnya hitam legam dan acuh tak acuh, garis rahangnya tegas dan halus, jakunnya yang menonjol bergerak naik turun perlahan.
Matanya berhenti pada Xu Sui tanpa emosi.
Angin senja yang kencang melintas, masuk ke tenggorokannya, kering sampai ia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Xu Sui kabur. Percakapan gadis dan pemuda itu terbawa angin, terdengar samar-samar tapi sangat jelas di telinganya.
Ia mendengar gadis itu bertanya dengan suara lembut: "Kenapa melamun? Ketemu orang yang kamu kenal?"
Suara pemuda itu sedingin logam, menggelinding dari tenggorokannya dalam dua kata: "Tidak kenal."
Catatan Penulis:
Terima kasih sudah membaca bab ini sampai selesai! Suka dengan terjemahan novel ini? Kalau mau mendukung saya agar lebih semangat update bab baru secara gratis, yuk bantu klik tautan di bawah ini ya:
👉 Dukung Terjemahan Ini di Sini
Terima kasih banyak atas dukungan kalian! 💜
Komentar
Posting Komentar