Speed and Love-Bab 54

Tidak lama kemudian, dua orang pria datang ke bengkel mencari Jin Chao. Karena di ruang perbaikan tidak leluasa untuk berbicara, Jin Chao berniat membawa mereka ke kedai teh di seberang jalan. Sebelum pergi, ia kembali ke kamar istirahat dan bertanya pada Jiang Mu, "Kamu masih harus ke sekolah lagi?"

Jiang Mu melirik dua pria di luar bengkel dan menjawab, "Besok aku masih harus ke sekolah sebentar. Mereka itu siapa?"

Jin Chao menjawab, "Mereka agen properti. Sebaiknya kamu pulang sekarang. Setelah selesai di sini, aku masih harus ke tempat Master Ren, mungkin akan pulang sangat malam."

Orang-orang di depan pintu masih menunggu Jin Chao, jadi Jiang Mu tidak sempat bertanya lebih lanjut. Setelah Jin Chao pergi, Jiang Mu pulang ke rumah Jin Qiang.

Jiang Mu tahu bahwa Jin Chao sedang sangat sibuk akhir-akhir ini. Jika balapan harus digelar pertengahan bulan ini, maka waktu yang tersisa untuk Jin Chao tidak banyak lagi. Dari komponen hingga teknologi hingga peralatan—semuanya perlu diintegrasikan. Meskipun Jiang Mu tidak paham soal itu, ia tahu ini bukan pekerjaan mudah. Bahwa Jin Chao masih bisa meluangkan waktu untuk bertemu dengannya sudah merupakan hal yang sangat sulit.

Namun bagi orang yang sedang dimabuk cinta, satu menit berpisah pun terasa menyiksa. Malam itu, saat Jiang Mu berbaring di tempat tidur dan memejamkan mata, yang terbayang hanyalah wajah Jin Chao. Anehnya, dulu mereka pernah berpisah lama tanpa perasaan sekuat ini. Tapi sekarang, meskipun baru bertemu pagi tadi, ia tidak bisa berhenti memikirkan Jin Chao—seolah-olah mereka sudah berpisah sangat lama.

Jiang Mu mengeluarkan ponselnya dan tanpa bisa menahan diri, mengirimkan sederet pesan: Chao Chao, Chao Chao, Chao Chao...

Awalnya ia hanya iseng mengirimkan pesan itu. Namun seperti mantra, setengah jam kemudian pintu rumah Jin Qiang berbunyi. Jiang Mu mendengar suara itu dan berlari keluar kamar. Jin Chao muncul di depannya seperti sulap. Ia menatap bayangan Jin Chao—kemeja denim dan celana hitam, tampak rapi dan tegap di ambang pintu, dengan senyum tipis di bibirnya. Kegembiraan yang tidak tertahankan segera memenuhi wajah Jiang Mu.

Pada saat yang sama, Jin Qiang juga mendengar suara itu dan keluar dari kamar besar. Dia bertanya dengan heran, "Kenapa datang larut malam begini?"

Jin Chao dengan santai mengganti sandal dan berkata, "Bukankah kamu bilang ponselmu bermasalah? Aku ke sini untuk melihatnya."

Jin Qiang menjawab, "Iya, lihat berita saja harus nunggu setengah jam. Lagi di-charge di kamar. Tunggu sebentar."

Jin Chao memutar gantungan kunci di tangannya dan menjawab, "Santai, biarkan di-charge dulu."

Setelah itu, Jin Chao memasukkan kunci ke sakunya dan melirik Jiang Mu sekilas sebelum berbelok ke dapur. Jiang Mu melihat Jin Qiang masuk ke kamar, lalu mengambil gelas airnya dan berjalan menuju dapur.

Begitu sampai di pintu dapur, ia melihat bayangan tinggi Jin Chao bersandar di tepi meja marmer. Mendengar langkah kakinya, Jin Chao menoleh. Saat Jiang Mu masuk, Jin Chao mengangkat kakinya dan menutup pintu dapur.

Jiang Mu menahan tawa, meletakkan gelas airnya di samping, dan bertanya, "Kamu datang khusus untuk menemuiku?"

Mata Jin Chao berbinar dengan senyum tipis. "Kalau bukan itu, untuk apa?"

Jiang Mu mengerucutkan bibir dan memalingkan wajah—rasanya seperti jatuh ke dalam tempayan madu, senyumnya tidak bisa disembunyikan.

Ia teringat sesuatu, lalu menoleh lagi dan bertanya, "Ngomong-ngomong, siang tadi agen properti itu datang menemuimu untuk apa?"

"Aku berencana menyewakan bengkel."

"Apa?" Jiang Mu terkejut.

"Kamu tidak akan membuka bengkel lagi?"

Jin Chao menunduk dan berkata, "Awalnya Feichi, aku buka bersama Tie Gong Ji. Setelah keluarga Tie Gong Ji bermasalah, awal tahun ini aku sudah mengembalikan uang bagiannya. Modifikasi mobil ini butuh banyak biaya. Guang Yu cuti untuk membantuku, masa aku suruh dia terus mengeluarkan uang."

Jiang Mu tiba-tiba menyadari bahwa langkah yang diambil Jin Chao ini berarti dia mempertaruhkan seluruh hartanya. Keberhasilan atau kegagalan ada di satu langkah ini. Namun bagi Jin Chao, sepertinya hanya ada jalan sukses—bahkan tidak ada jalan untuk gagal. Ekspresi Jiang Mu menjadi serius. Ia bertanya, "Sampai kapan bengkel ini bertahan?"

Jin Chao menjawab, "Paling lama sampai akhir bulan ini."

Setelah itu, Jin Chao menatap Jiang Mu dengan penuh arti. Dia tersenyum dan bertanya, "Kamu yakin mau terus membicarakan ini? Bukankah kamu merindukanku?"

Jiang Mu berpura-pura keras kepala, "Kapan aku bilang aku merindukanmu?"

Jin Chao meraih pinggang Jiang Mu dan menariknya mendekat. "Kalau tidak merindukanku, kenapa kamu memanggil namaku berkali-kali?"

Di dapur yang sempit, pintu hanya tertutup setengah. Jin Qiang sedang sibuk dengan ponselnya di kamar, dan langkah kaki Zhao Meijuan terdengar di ruang tamu. Jiang Mu merasa Jin Chao terlalu berani, tapi daya tarik kuat dari Jin Chao membuatnya tidak berdaya. Jiang Mu berbisik, "Tidak sama sekali."

Jin Chao bergumam pelan, "Kalau begitu, aku yang merindukanmu."

Suara Jin Chao sangat rendah, berbisik di telinga Jiang Mu. Telinga Jiang Mu langsung terasa panas membara. Jin Chao belum pernah mengucapkan kata-kata seperti itu—bahkan saat mereka kecil sekalipun, dia tidak pernah selembut ini. Jiang Mu perlahan mulai merasakan bagaimana rasanya diperlakukan dengan serius oleh Jin Chao. Seolah-olah dia memberikan semua kelembutannya padanya, membuat hatinya terisi penuh.

Jiang Mu terpengaruh oleh buaian Jin Chao dan tidak lagi mendengar suara dari ruang tamu. Tubuhnya lemas dalam pelukan Jin Chao—menegangkan sekaligus mengasyikkan. Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah seberani ini.

Dalam pelukan singkat itu, Jin Qiang sudah selesai dengan ponselnya dan berkata, "Sudah selesai? Chao'er ke mana?"

Jin Chao melepaskan Jiang Mu, mengusap pipi Jiang Mu, dan menjawab dari dalam dapur, "Aku di sini."

Mungkin karena perasaan bersalah, Jiang Mu berdiri di dapur dan menghabiskan setengah gelas air sebelum keluar. Saat ia sampai di ruang tamu, Jin Chao sedang duduk di sofa membantu Jin Qiang mengatur ponselnya. Jin Qiang memakai kacamata baca dan berdiri di samping Jin Chao dengan kepala menjulur. Zhao Meijuan sudah kembali ke kamar untuk menidurkan Jin Xin.

Jiang Mu memegang gelas airnya dan berdiri di samping kura-kura peliharaan Jin Xin, jarinya mengetuk-ngetuk kaca akuarium. Secara alami ia tampak sedang bermain dengan kura-kura itu, tapi pandangannya terus tertuju pada Jin Chao.

Saat menunggu cache WeChat dibersihkan, Jin Chao mendongak dan berkata pada Jin Qiang, "Masih ada teh Longjing yang kemarin?"

Jin Qiang melepas kacamata bacanya dan berkata, "Ada. Aku seduhkan untukmu."

Saat Jin Qiang pergi ke meja makan untuk menyeduh teh, barulah Jin Chao mendongak dan membalas tatapan Jiang Mu dengan senyum tipis di sudut bibirnya.

Di balik punggung Jin Qiang, aliran listrik tak kasat mata mengalir di udara, menggelitik hati.

Setelah ponsel selesai diatur, Jin Chao mengembalikannya ke Jin Qiang. Jin Qiang asyik mengutak-atik ponselnya di samping. Jin Chao menghabiskan tehnya, lalu berdiri dan pamit pergi.

Jin Qiang memanggil Jin Chao untuk kembali makan malam nanti, dan Jin Chao menjawab dengan santai, "Nanti setelah pekerjaan selesai."

Jiang Mu kembali ke kamarnya. Saat mendengar suara pintu depan tertutup, perasaan kehilangan kembali menyelimutinya.

Namun ponsel di sisinya menyala lagi. Jin Chao menelepon. Jiang Mu segera mengangkatnya, dan suara Jin Chao yang merdu terdengar di telinganya seperti berbisik, "Buka jendela."

Jiang Mu berlari ke jendela dan membuka jendela. Jin Chao berdiri di bawah dengan ponsel di tangannya, menatap Jiang Mu. Di samping Jin Chao terparkir sebuah SUV hitam yang belum pernah dilihat Jiang Mu sebelumnya. Ia tidak tahu dari mana mobil itu datang. Ia hanya mendengar Jin Chao berkata, "Aku mau menunjukkan sesuatu padamu."

Bagian depan mobil menghadap ke bangunan, jadi Jiang Mu tidak bisa melihat apa yang ada di bagasi. Ia pikir Jin Chao akan mengeluarkan sesuatu dari bagasi untuk ditunjukkan padanya, dan ia menunggu dengan penuh harap. Tapi Jin Chao hanya menggerakkan tangannya sebentar, lalu menariknya kembali dan tersenyum ke arah Jiang Mu.

Detik berikutnya, ribuan balon warna-warni melesat keluar dari bagasi. Hamparan warna mengejutkan itu menyapa mata Jiang Mu tanpa diduga. Benturan visual yang luar biasa membuat pupil matanya membesar. Ratusan balon melayang di depannya, terbang menuju langit malam yang lebih tinggi, tanpa suara mempersembahkan kisah paling romantis malam itu. Dan bayangan Jin Chao larut dalam keindahan malam yang berwarna-warni—gambaran itu selamanya terpatri di benak Jiang Mu.

Tahun ketika film Up (Fly Away Home) tayang di bioskop, Jin Chao pergi meninggalkan Jiang Mu. Cuplikan balon-balon besar yang melayang di langit itu membuat Jiang Mu kecil terpesona. Jin Chao berjanji akan menemaninya menonton film itu setelah tayang. Namun dia tidak pernah menunggu sampai hari tayang itu tiba—dia pergi meninggalkan Suzhou. Meskipun Jiang Mu kemudian menonton film itu berkali-kali sendirian, orang yang dulu berjanji menemaninya sudah tidak ada lagi di sisinya.

Jiang Mu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Jin Chao akan kembali ke dalam hidupnya membawa lautan balon. Menatap warna-warni di langit, mata Jiang Mu terasa hangat.

Jin Chao mengerti kerinduannya. Dan hanya dia yang mengerti.

Malam itu, Jiang Mu tertidur dengan senyum di bibirnya. Orang bilang semua hal di dunia ini telah diatur oleh takdir. Di usia sembilan tahun, ia kehilangan seorang kakak yang sangat dicintainya. Di usia delapan belas tahun, takdir mengembalikannya dalam wujud seorang pria yang dicintainya.

Ia tidak lagi mengeluh.

Keesokan paginya, Jiang Mu pergi ke sekolah. Teman-teman sekelasnya seperti kuda yang terlepas dari kendali. Tahun lalu di waktu yang sama, Jiang Mu masih diliputi kegelisahan karena gagal ujian dan ibunya yang akan pindah ke luar negeri. Waktu berlalu begitu cepat, kini sudah tahun kedua. Suasana yang sama, tapi perasaan yang berbeda. Dibandingkan tahun lalu yang penuh ketidakpastian, tahun ini ia merasa lebih percaya diri.

Sepulang sekolah, Pan Kai bertanya mau ke mana. Jiang Mu tidak punya tempat tujuan. Setelah berpikir, mereka memutuskan makan KFC lalu langsung menuju gudang milik Pan Kai.

Sesampai di Gudang Nomor 3, Jiang Mu melihat Master Ren, Zhang Guangyu, dan seorang pria lain sedang sibuk. Jin Chao tidak terlihat. Jiang Mu berjalan memutar beberapa kali, dan akhirnya tidak tahan lagi, ia mendekati Zhang Guangyu untuk bertanya. Zhang Guangyu menunjuk ke arah kiri.

Jiang Mu melewati beberapa deret kotak besar sebelum melihat Jin Chao, Tie Gong Ji, dan seorang pria lain sedang mengutak-atik sesuatu di papan komputer. Tidak ingin mengganggu Jin Chao, Jiang Mu bermain ponsel di tempat yang agak jauh.

Saat Jin Chao mendongak, pandangannya menangkap sekilas bayangan di sudut mata—di tengah ruangan yang penuh pria ini, bayangan itu sangat mencolok. Gaun pendek berwarna merah muda di atas lutut, dengan lipatan asimetris di pinggang yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Rambut pendek segar menempel di telinga, kulitnya putih dan lembut.

Senyum tipis terbit di sudut bibir Jin Chao. Saat Jiang Mu mendongak, Jin Chao sudah mengalihkan pandangannya, tapi senyum di wajahnya belum hilang, dan pekerjaannya diam-diam berjalan lebih cepat.

Di sore yang tenang, Jiang Mu jarang bisa bersantai tanpa melakukan apa-apa. Melihat Jin Chao yang sibuk, ia perlahan mulai mengerti apa yang dimaksud Wan Qing dengan "cinta pada pandangan pertama".

Jin Chao yang saat serius di bidang keahliannya sangat memikat. Ada semacam ketenangan dan fokus seolah-olah seluruh dunia ada di genggamannya. Jiang Mu terpaku memandang Jin Chao.

Hanya saja para pekerja yang sesekali lewat selalu menatapnya sambil tersenyum, membuatnya merasa sedikit tidak nyaman.

Jin Chao mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya dan melemparkannya ke pemuda yang bekerja dengannya. "Istirahat sebentar, hisap rokok."

Lalu Jin Chao pergi ke arah lain. Jiang Mu hanya lengah sesaat, dan ketika ia menoleh lagi, Jin Chao sudah tidak terlihat. Ia segera berdiri dan berlari beberapa langkah ke arah Jin Chao bekerja tadi untuk mencari. Tie Gong Ji dan pekerja itu juga sudah tidak ada.

Jiang Mu baru hendak mengeluarkan ponselnya, tapi saat berbalik, Jin Chao sudah bersandar di dinding beberapa langkah di belakangnya, menatapnya sambil tersenyum. Jiang Mu tahu bahwa ekspresi paniknya pasti sudah terlihat oleh Jin Chao. Dengan cemberut, ia berjalan mendekat dan bertanya, "Kamu sengaja, ya?"

Jin Chao tersenyum sambil mengulurkan tangannya, "Aku pergi cuci tangan. Begitu kembali, aku melihatmu seperti kehilangan jiwamu. Kamu takut tidak menemukanku?"

Semakin Jin Chao menggoda, Jiang Mu semakin berpura-pura serius, "Aku mencari Pan Kai."

Begitu kata-kata itu keluar, pergelangan tangannya sudah digenggam oleh Jin Chao, dan ia ditarik ke sudut sepi di sisi lain gudang. Di sini tidak terkena cahaya, dan tidak banyak orang. Jin Chao menunduk, suaranya cukup dalam, "Coba ulangi lagi, kamu semakin berani, ya?"

Jiang Mu mendongak dan tersenyum. Jin Chao bertanya, "Kamu pergi ke sekolah pagi ini?"

Jiang Mu mengangguk, "Guru Ma mengajari kami evaluasi ulang."

"Bagaimana hasilnya?"

Jiang Mu mengangkat pandangan kecilnya yang penuh kebanggaan dan menjawab, "Masuk universitas 211 seharusnya tidak masalah."

Setelah itu, Jiang Mu berkata dengan misterius, "Sebenarnya, waktu Pan Kai bertanya mau daftar di mana dulu, aku sudah memikirkannya sejak lama. Setengah tahun yang lalu, aku sudah memikirkannya."

Jin Chao mengangkat alisnya dengan penuh minat, menunggu Jiang Mu melanjutkan.

Mata Jiang Mu berbinar, "Nanjing. Universitas yang aku tuju ada di Nanjing. Apa kamu pernah ke Nanjing?"

Jin Chao menggeleng. Sebenarnya Jiang Mu juga belum pernah ke sana. Meskipun jaraknya sangat dekat dengan Suzhou, ia belum pernah mengunjunginya.

Rencana yang dipendam selama setengah tahun ini belum pernah diceritakan Jiang Mu kepada siapa pun—bahkan kepada Jiang Ying Han pun tidak.

Jin Chao adalah orang pertama yang mengetahuinya. Jiang Mu sedikit bersemangat, dan pipinya memerah. Matanya menatap Jin Chao dengan tajam, "Nilainya seharusnya cukup untuk masuk. Kamu bilang tadi malam bengkel ditutup sampai akhir bulan? Lalu... apa rencanamu selanjutnya?"

Jin Chao merenung sejenak, "Belum pasti."

Jiang Mu berpikir sejenak, lalu bertanya dengan ragu, "Kamu mau ikut denganku ke Nanjing?"

Jin Chao menatap Jiang Mu dalam diam. Jiang Mu memutuskan untuk mengeluarkan semua isi hatinya sekaligus, "Katanya Nanjing itu kota yang sangat inklusif. Karena ini ibu kota provinsi, peluangnya pasti banyak. Kalau kamu masih mau membuka bengkel, kita cari solusi bersama. Kalau tidak mau, nanti setelah aku lulus, kita buka kedai kopi bersama, bagaimana?"

Ide Jiang Mu terlihat terlalu idealis di mata Jin Chao. Wilayah Tiongkok Timur secara ekonomi sudah maju. Sewa tempat, peralatan, dan biaya karyawan adalah anggaran yang tidak sedikit. Terlebih lagi bisnis kedai kopi yang bergaya kontemporer ini—renovasi saja sudah membutuhkan banyak tenaga dan biaya. Di tempat yang ritme hidupnya cepat, kebanyakan orang masih akan memilih merek kedai kopi rantai yang sudah terkenal. Mereka berdua bukan orang yang punya banyak uang, mungkin sulit untuk kembali modal.

Saat Jiang Mu mengajukan saran ini, Jin Chao sudah memperhitungkan semuanya di kepalanya. Tapi ia tidak ingin merusak suasana hati Jiang Mu. Jin Chao tersenyum dan bertanya, "Kenapa kedai kopi?"

Jiang Mu kembali mengingat ciuman yang penuh lapisan itu. Pipinya memerah, dan dengan sedikit canggung ia menunduk dan berkata, "Aku merasa... bisa membuka kedai kopi di kaki gunung bersamamu—itu terdengar sangat indah."

Jiang Mu sudah membayangkan gambaran itu di kepalanya, tapi ia tidak begitu tahu cara mengungkapkannya. Menurutnya, mungkin itulah gambaran terindah dari sebuah kehidupan.

Tatapan Jin Chao seperti kail, menyimpan kedalaman yang sulit diterka. Senyum tipis muncul di bibirnya. Jin Chao mengangkat Jiang Mu dan meletakkannya di atas kotak besar, lalu mendekat sehingga wajah mereka sejajar. Matanya serius seperti api, "Tunggu beberapa hari lagi. Aku akan memberimu jawaban."

Jiang Mu menatap Jin Chao dengan tajam. Ia tahu Jin Chao harus menyelesaikan urusan besar itu. Jin Chao tidak akan pergi membawa beban masa lalu. Jika dia pergi, dia akan pergi dengan bersih. Jiang Mu tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk pada Jin Chao.

Jin Chao melingkarkan lengannya di sekeliling Jiang Mu. Keduanya terdiam, napas mereka berdekatan. Pandangan Jin Chao terus bergerak di sekitar bibir Jiang Mu. Jiang Mu merasa dirinya seperti terkena racun Jin Chao. Jin Chao bahkan tidak melakukan apa-apa, hanya menatapnya seperti itu, tapi hatinya sudah meleleh, dan matanya tampak tidak berdaya.

Jin Chao tiba-tiba bertanya, "Di luar panas?"

Jiang Mu mendongak hendak menjawab, tapi Jin Chao langsung menciumnya. Dia tidak butuh jawaban—dia hanya butuh Jiang Mu mendongak. Ciuman yang sangat singkat, tapi membuat otak Jiang Mu kosong seketika. Jin Chao tidak melanjutkan, segera melepaskan Jiang Mu, lalu menegakkan tubuh dan menarik Jiang Mu ke dalam pelukannya. Jin Chao berkata, "Baru bersama, tapi aku tidak bisa sering menemanimu. Aku takut kehilangan kendali dan mengganggu pekerjaan. Kamu marah?"

Jiang Mu menggeleng. Bagaimana mungkin ia marah? Ia tahu Jin Chao punya banyak hal yang harus dipikirkan. Yang ada hanya rasa sayang.

Jin Chao mengusap belakang kepala Jiang Mu dan berkata, "Tanggal 15 sore, aku akan berusaha selesai lebih cepat untuk menjemputmu."

Jiang Mu masih bingung dan belum sempat merespons, ketika dari jarak dekat terdengar teriakan kaget, "Waduh, waduh, waduh... kalian... bukannya saudara?"

Jin Chao dan Jiang Mu serentak menoleh, dan yang mereka lihat adalah ekspresi Pan Kai—melompat setinggi-tingginya dengan wajah penuh ketakutan dan keraguan akan keberadaan dirinya.

Catatan Penerjemah:

[Film 《Up》 (judul Indonesia: "Up", judul Tionghoa: "飞屋环游记") adalah film animasi 3D produksi Pixar yang dirilis pada tahun 2009. Singkatnya, ini adalah film tentang seorang kakek tua bernama Carl yang menerbangkan rumahnya ke Amerika Selatan dengan ribuan balon, untuk mewujudkan mimpi masa kecilnya bersama mendiang istrinya. Di tengah perjalanan, ia tanpa sengaja membawa serta seorang anak pramuka bernama Russell.]

↑ Kembali ke cerita

[Universitas 211 adalah sebutan untuk universitas pilihan yang masuk dalam proyek prioritas pemerintah Tiongkok. Proyek 211 (Hanzi: 211工程) adalah inisiatif besar pemerintah Tiongkok yang dimulai pada tahun 1995 untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di negara. Nama "211": Angka ini memiliki arti khusus. "21" merujuk pada abad ke-21, dan "1" berarti pemerintah berencana membangun sekitar 100 universitas dengan standar dunia di masa depan. Saat ini, ada sekitar 116 universitas yang tergabung dalam proyek ini.]

↑ Kembali ke cerita




Catatan Penulis:

Terima kasih sudah membaca bab ini sampai selesai! Suka dengan terjemahan novel ini? Kalau mau mendukung saya agar lebih semangat update bab baru secara gratis, yuk bantu klik tautan di bawah ini ya:

👉 Dukung Terjemahan Ini di Sini

Terima kasih banyak atas dukungan kalian! 💜

Disclaimer: Terjemahan ini dilakukan secara sukarela untuk tujuan berbagi hobi dan apresiasi karya. Seluruh hak cipta, termasuk karakter, alur cerita, dan judul adalah milik penuh penulis asli dan penerbit. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas konten ini. Jika Anda menyukai ceritanya, dukung penulis aslinya melalui platform resmi.

Komentar