Speed and Love-Bab 16

Meskipun pria berambut pendek dan teman-temannya itu tidak lagi mencari masalah di bengkel, sebelum pergi mereka masih ingat untuk mampir ke toko hewan peliharaan San Lai dan meminta biaya vaksin rabies, karena lengan gemuk milik Da Guang penuh dengan bekas gigitan anjing. Namun, San Lai hanya menyilangkan kakinya dengan santai dan berkata, "Bukankah kalian ingin melihat wajah ayahku? Anak yang berbuat ulah, ayah yang bertanggung jawab. Minta saja vaksinnya pada ayahku."

Ayah San Lai adalah seorang penipu terkenal di Tonggang. Pada akhir tahun 1990-an, ia menghabiskan seluruh bisnis keluarga yang telah diwariskan selama beberapa generasi. Meskipun ia dikejar-kejar oleh para penagih utang dan hampir semua orang di kalangan mencarinya, ia masih tetap bertahan di Tonggang yang sekecil ini—ia adalah sosok yang ditakuti. Tentu saja, pria berambut pendek dan teman-temannya tidak punya keberanian untuk meminta uang kepada ayahnya San Lai, jadi mereka akhirnya pergi dengan malu.

Kerumunan di pinggir jalan perlahan bubar. Bahkan ayam-ayam yang mencuri beras pun pergi dengan perut kenyang. Yang tersisa hanyalah kekacauan di dalam dan di luar bengkel.

Yang membuat Jiang Mu heran adalah, di tempat asalnya, jika dua kelompok bertikai di jalan, sebelum perkelahian benar-benar terjadi, warga yang peduli akan menelepon 110, dan polisi akan segera datang. Namun, di sini, meskipun keributan berlangsung lama, tidak ada seorang pun yang melaporkannya ke polisi.

Jiang Mu bertanya dengan heran kepada San Lai, "Mengapa tidak ada yang melapor ke polisi?"

San Lai tertawa, "Ini termasuk konflik internal masyarakat. Selama tidak mengancam nyawa kedua belah pihak, polisi yang datang hanya akan ikut menonton. Apa yang bisa mereka mediasi? Setelah mediasi, beberapa hari kemudian mereka akan datang lagi. Mengapa membuang-buang waktu polisi?"

Namun, dari sikap mereka tadi, Jiang Mu bisa melihat bahwa beberapa orang itu jelas merasa segan pada Jin Chao. Ia tidak mengerti — kalau begitu, kenapa mereka masih repot-repot datang dan mencari masalah? Apa mereka senang dipukul?

Melihat Jiang Mu yang tampak masih polos dan tidak mengerti, San Lai mengambil sebuah bangku kecil, lalu mengambil segenggam biji bunga matahari dan juga menaruh segenggam di tangan Jiang Mu. Ia mulai bercerita, "Kamu pikir mereka benar-benar datang untuk berkelahi? Bukan aku sombong, lihatlah You Jiu sekarang — seharian hanya sibuk bekerja, sederhana dan rendah hati. Tapi itu karena kamu belum pernah melihatnya saat masih sekolah dulu. Dulu..."

San Lai tiba-tiba menyadari bahwa suaranya mulai keras. Ia melirik Jin Chao yang sedang memeriksa goresan di mobil BMW, dan setelah memastikan bahwa Jin Chao tidak memperhatikan, ia menurunkan suaranya dan berkata, "Dulu, ketika You Jiu masih menjadi Tóu Qī, bahkan jika ada sepuluh orang di sini, mereka tidak berani mengusiknya. Karena dia tidak takut mati, sementara orang lain tetap takut mati."

"Bahkan sekarang, jika You Jiu mau, dia bisa menghadapi beberapa orang sekaligus — hanya tergantung apakah dia mau berkelahi atau tidak. Beberapa kali sebelumnya, orang-orang dari Wanjian datang mencari masalah, tetapi You Jiu tidak pernah melawan; dia hanya mengusir mereka. Mungkin kali ini karena mereka menyentuh Xiao Yang, atau mungkin karena dirimu."

"Mereka juga tidak benar-benar akan datang untuk membakar atau merampok. Setiap kali mereka hanya membuat keonaran kecil, tujuannya hanya untuk mengganggu You Jiu dan membuat usahanya tidak tenang."

Jiang Mu bertanya dengan bingung, "Mengapa mereka melakukan ini? Apakah ada dendam?"

Mata San Lai menyipit dan ia berkata dengan nada bijak, "You Jiu dulu ketika masih bekerja di Wanjian sudah mencapai posisi sebagai mekanik senior dan mempunyai banyak murid. Banyak pelanggan hanya mau mendengarkan kata-katanya. Lalu karena..."

San Lai tiba-tiba berhenti bicara. Jiang Mu menoleh ke arahnya, dan San Lai melanjutkan dengan cepat, "Karena suatu alasan, You Jiu memutuskan untuk keluar dari Wanjian, dan Tiě Gōng Jī juga ikut pergi bersamanya. Kepergian mereka berdua adalah kerugian besar bagi Wanjian. Setelah mereka pergi, Wanjian menjadi kacau, dan banyak desas-desus mulai beredar. Banyak pekerja magang juga mengundurkan diri atau pindah. Setelah You Jiu dan Tiě Gōng Jī membuka bengkel ini, banyak pelanggan lama juga beralih ke sini. Menurutmu, apakah mereka di sana akan membiarkan You Jiu hidup dengan tenang?"

Jiang Mu perlahan mengerutkan kening. San Lai melanjutkan, "Kamu pikir mereka mau datang cari masalah? Semua itu karena suruhan bos Wanjian. Di satu sisi, dia iri. Di sisi lain, dia mungkin masih ingin You Jiu kembali membantunya. Lagipula, saat You Jiu masih bekerja disana, dia bisa tenang—pergi ke Makau berjudi sebulan penuh, You Jiu bisa mengurus tiga tokonya dengan rapi."

Jiang Mu tidak tahu apa yang menyebabkan Jin Chao meninggalkan tempat yang sudah dia tempati selama lebih dari tiga tahun itu. Namun, dari potongan-potongan cerita San Lai, ia mulai mengerti bahwa kehidupan Jin Chao sekarang juga tidak berjalan mulus.

Xiao Yang dan Tiě Gōng Jī sedang membersihkan ruang perbaikan. Jiang Mu merasa tidak enak hanya duduk diam, jadi ia mengembalikan biji bunga matahari kepada San Lai dan berdiri, "Aku bantu mereka."

Jin Chao sedang menangani goresan di BMW di luar. Jiang Mu masuk ke ruang perbaikan dan melihat banyak komponen kecil berserakan di bawah lemari besi. Ketika ia melihat Xiao Yang hendak memindahkan lemari itu, ia segera membantunya. Xiao Yang mengangkat kepalanya dan melihat Jiang Mu, sedikit terkejut, "Kamu tidak akan bisa mengangkatnya."

Jiang Mu menyingsingkan lengan bajunya, "Coba saja. Angkat!"

Begitu ia memberi perintah, Xiao Yang mengangkat dengan kuat—separuh lemari terangkat, tetapi sisi yang dipegang Jiang Mu tidak bergerak sama sekali. Ia kesal, "Isinya apa sih?"

Xiao Yang tertawa dan memanggil Tiě Gōng Jī untuk membantu. Jiang Mu hanya bisa membersihkan barang-barang lain. Namun, dengan lengan dan kaki yang mungil, ia jelas tidak dibuat untuk pekerjaan kasar. Jin Chao melirik Jiang Mu, "Kalau kamu lebih kuat sedikit, kamu bisa menggerakkan bumi (Candaan yang berarti: "kamu terlalu lemah, tapi semangatmu luar biasa."). Jangan kotori pakaianmu. Pergilah ke samping."

Jiang Mu bergumam, "Aku hanya ingin membantu."

Mendengar itu, Jin Chao mengambil sebuah kaleng besi dan meletakkannya di lantai, "Kalau begitu, kumpulkan baut-baut ini."

Jiang Mu curiga bahwa Jin Chao hanya mencari alasan untuk menyingkirkannya. Ia bertanya kepada Xiao Yang, "Apa aku dianggap mengganggu?"

Ketiga pria itu menahan tawa. Xiao Yang menghiburnya, "Tidak, tidak. Mengumpulkan baut itu pekerjaan yang sulit. Aku sendiri tidak bisa melakukannya karena tanganku tidak punya ulir (Candaan Xiao Yang bahwa ia tidak bisa mengumpulkan baut karena tangannya tidak memiliki alur seperti baut.)."

Jiang Mu menatap Xiao Yang dengan tatapan penuh belas kasihan dan tiba-tiba merasa bahwa ia memiliki tugas yang sangat penting.

Maka ia pun mulai mengumpulkan baut dengan sungguh-sungguh sambil berjongkok di lantai. Tiě Gōng Jī tertawa, "Ada apa dengan Xiang Zi tadi? Belum Tahun Baru, kenapa dia sudah sujud menyembah You Jiu? Aku jadi ingin memberinya angpao dua yuan."

Xiao Yang juga tertawa terbahak-bahak. Jiang Mu terus mengumpulkan baut tanpa berkata apa-apa, tetapi ia merasakan tatapan seseorang tertuju padanya. Ia mengangkat kepalanya dan bertemu dengan mata Jin Chao yang penuh makna. Jantungnya berdegup kencang—jangan-jangan Jin Chao memiliki mata di belakang kepalanya dan melihat aksi diam-diamnya tadi?

Sejak kecil hingga sekarang, Jiang Mu tidak pernah terlibat dalam perkelahian apa pun—apalagi pertarungan besar seperti ini. Ia menatap Jin Chao dengan pandangan kosong. Ia pernah melihat Jin Chao kecil berkelahi, tetapi itu sangat berbeda dengan sekarang. Jin Chao yang tadi mengepalkan tangan seperti besi, matanya seperti serigala, dan ekspresi bengis di antara alisnya membuat orang gemetar. Itu adalah sisi lain dari Jin Chao yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Jin Chao melirik Jiang Mu beberapa kali, melihat gadis itu tampak seperti kehilangan akal, lalu bertanya, "Kamu takut?"

Jiang Mu mengangguk, lalu menggeleng, "Aku tidak takut pada mereka. Aku takut padamu. Lain kali... bisakah kamu sedikit mengendalikan diri?"

Jin Chao menjawab dengan acuh, "Bagaimana mengendalikannya? Apa aku harus berbicara tentang kehidupan dan cita-cita dengan orang itu setelah tangannya menyentuhmu?"

Jiang Mu menunduk dan tersenyum. Senja mewarnai langit dengan warna jingga, angin musim gugur berhembus pelan di telinganya. Ia merasakan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sejak tiba di tempat ini.

Anjing hitam kecil melompat-lompat di sekeliling Jiang Mu. Ada sebuah anak tangga kecil antara ruang perbaikan dan luar. Ketika anak anjing itu berlari keluar, dia jatuh dengan kikuk, tubuh kecilnya yang montok terbalik, keempat kakinya terus mengayuh, tetapi tidak bisa membalikkan tubuhnya. Jiang Mu tertawa lebih keras. Ia berteriak ke dalam, "Lihatlah anjing hitam ini!"

Xiao Yang dan yang lain menoleh dan tertawa, "Apakah dia tidak punya nama yang layak? Memanggilnya 'anjing hitam' terus-menerus bisa membuatnya merasa tidak dihargai."

Jiang Mu menoleh ke Jin Chao. Jin Chao mengangkat alisnya dan berkata, "Itu bukan anjingku."

Artinya, JIang Mu harus memberi nama sendiri.

Hampir tanpa berpikir, Jiang Mu langsung berkata, "Kalau begitu, panggil saja Kilat."

Tiě Gōng Jī mengeluh, "Dia berlari seperti kura-kura. Bagaimana kamu bisa menganggapnya seperti kilat?"

Jiang Mu mengatupkan bibirnya dan tidak menjawab. Namun, Jin Chao berhenti bekerja dan menatap Jiang Mu. Jiang Mu bertemu dengan tatapan Jin Chao. Tidak ada kata-kata yang diucapkan, tetapi pada saat mata mereka bertemu, Jiang Mu yakin bahwa Jin Chao juga mengingat nama itu.

San Lai, sambil mengupas biji bunga matahari, menyela, "Nama yang kamu pilih itu terdengar seperti angin topan tahun 80-an. Kenapa begitu kuno?"

Jiang Mu dan Jin Chao hampir bersamaan menatap San Lai dengan tatapan membunuh, membuat San Lai merasa tidak nyaman. Ia tertawa canggung, "Baiklah, Kilat Pendekar. Yang penting kalian senang."

Mereka bekerja sampai matahari terbenam untuk membersihkan ruang perbaikan. Tidak ada waktu untuk memasak, jadi San Lai merebus beberapa porsi pangsit dan membawanya, dengan sangat antusias memanggil Jiang Mu untuk makan terlebih dahulu, dan memaksa sepasang sumpit ke tangan Jiang Mu.

Jiang Mu melihat pangsit di depannya dan tidak tega menolak kebaikan San Lai. Ia mengambil satu pangsit dan mencelupkannya ke dalam saus. Namun, sebelum ia memasukkannya ke mulut, ia mencium aroma yang tidak biasa. Ia mengangkat kepalanya dengan heran dan bertanya kepada San Lai, "Ini bukan cuka?"

"Ini kecap asin."

"Bukankah pangsit seharusnya dicelupkan ke dalam cuka?"

San Lai menjawab dengan santai, "Dicelupkan ke dalam kecap asin."

Jiang Mu menoleh ke Xiao Yang yang baru saja selesai mencuci tangan. Xiao Yang mengangguk, "Kecap asin."

Ia tidak percaya dan menoleh ke Tiě Gōng Jī, "Dicelupkan ke dalam kecap asin?"

Tiě Gōng Jī menjawab dengan tegas, "Tentu saja."

Jiang Mu belum pernah makan pangsit dengan kecap asin. Dengan setengah hati, ia menggigit pangsit itu. Lalu ia terdiam. Ia melihat pangsit itu dan bertanya dengan ragu, "Isiannya apa?"

San Lai menjawab, "Adas."

Jiang Mu tercengang, "Bukankah adas itu bumbu dapur?"

San Lai, "Bukan."

Ia menoleh ke Xiao Yang. Xiao Yang memasukkan satu pangsit ke mulutnya. Ia menoleh ke Tiě Gōng Jī. Tiě Gōng Jī bertanya balik, "Kamu belum pernah makan ini?"

Jiang Mu benar-benar bingung. Dalam pikirannya, ia terus memikirkan ketumbar, bunga lawang, dan rempah-rempah berbentuk butiran. Ia tidak tahu apa yang sedang ia makan.

Jin Chao berjalan mendekat dan membagi pangsit milik Jiang Mu kepada Xiao Yang dan yang lain. Ia bertanya, "Kamu mau makan apa?"

Jiang Mu menjawab dengan suara pelan, "KFC atau McDonald's."

Kemudian ia merasa bahwa mereka sudah bekerja keras sepanjang hari dan makanan apa pun terasa sudah cukup. Ia menunjuk ke pangsit itu, "Sebenarnya ini juga enak."

Jin Chao terkekeh dan menepuk bahu Tiě Gōng Jī, "Berikan aku kuncinya."

Jin Chao naik ke sepeda motor milik Tiě Gōng Jī dan pergi. Sepuluh menit kemudian, Jin Chao kembali dengan KFC. Aroma ayam goreng membuat Jiang Mu semakin sadar bahwa ia sangat lapar.

Jin Chao menarik kursi dan duduk di seberang Jiang Mu, memperhatikan Jiang Mu yang sedang makan burger dengan perlahan. Ia merenung dengan tatapan kosong. Ketika ia menghabiskan sepiring pangsitnya, Jiang Mu baru setengah menghabiskan burgernya. Cara makan Jiang Mu yang tidak terburu-buru mengingatkannya pada masa kecil mereka—dulu juga seperti itu, makan lebih sulit daripada mendaki gunung. Jin Chao sering terpaksa menyuapi Jiang Mu, kalau tidak, makanannya bisa berubah dari panas menjadi dingin.

Memikirkan itu, dan melihat Jiang Mu yang sekarang begitu bersih dan cantik, senyum tipis melintas di sudut bibirnya—seolah-olah Jiang Mu adalah seseorang yang ia besarkan dengan tangannya sendiri.

Xiao Yang dan yang lain juga sudah selesai makan dan duduk mengobrol di sekitar meja. Jin Chao melirik Jiang Mu dan berkata, "Dengan begini, kamu masih ingin tinggal sendiri? Setiap hari pesan makanan online?"

Jiang Mu menjawab, "Yang penting tidak mati kelaparan."

Jin Chao menundukkan kepalanya dan menyalakan rokok, "Kamu masih harus menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. Tahun lalu aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kondisi tubuhmu. Apa kamu ingin mengulanginya tahun ini? Meskipun makanan di rumah tidak sesuai seleramu, itu masih lebih baik daripada di luar. Kami semua laki-laki kasar—makan kadang teratur, kadang tidak. Jika kamu ikut kami, apakah nutrisimu akan cukup? Lebih baik kamu kembali setelah beberapa hari."

Jiang Mu tiba-tiba merasa burger di tangannya tidak lagi enak. Ekspresinya muram. Xiao Yang dan Tiě Gōng Jī juga diam. Melihat mereka kembali ke topik itu, San Lai menepuk meja, "Sudah, sudah. Ini bukan masalah besar. Besok aku akan membeli ayam kampung untuk adik kita. Jangan sampai anak ini kekurangan gizi."

Jin Chao melirik San Lai dan tidak menjawab, lalu pergi bekerja di samping. San Lai mendekati Jiang Mu dan berbisik, "Kamu ingin melihatnya menyerah?"

Mata Jiang Mu berbinar. Ia menoleh ke San Lai. San Lai mengusap janggutnya yang tipis, matanya yang dalam menunjukkan ekspresi penuh perhitungan.

Setelah semua selesai makan, Xiao Yang membereskan meja. San Lai membiarkan Xishi keluar untuk buang air kecil dan sengaja mondar-mandir di depan pintu. "Hei, adik. Aku punya kamar di lantai atas. Kamu bisa tinggal di tempatku jika mau."

Jiang Mu menanggapi, "Benarkah? Bagaimana dengan harga sewanya?"

Sambil berbicara, Jiang Mu melirik Jin Chao dengan pandangan samping. Jin Chao tidak bereaksi—dia terus bekerja dengan kepala menunduk.

San Lai berkata, "Bagaimana kalau begini: kamu angkat aku sebagai kakak, aku gratiskan listrik, air, dan gasmu. Uang sewa hanya simbolis."

Jiang Mu berdiri, "Kalau begitu, mari kita lihat kamarnya sekarang." Ia berjalan menuju toko San Lai.

San Lai bersandar di tiang lampu jalan, jari-jarinya mengetuk udara—satu kali, dua kali. Saat ketukan ketiga, Jiang Mu hendak membuka pintu toko. Jari San Lai berhenti. Jin Chao melemparkan peralatannya, berdiri, dan memanggil Jiang Mu, "Kemarilah."

Sudut bibir Jiang Mu sedikit terangkat, tetapi ketika ia menoleh, ekspresinya kembali polos. Ia berjalan patuh ke arah Jin Chao. Jin Chao tidak mengatakan apa-apa—dia menunduk dan melepas sarung tangannya, lalu mengangkat tangannya dan menekan kepala Jiang Mu, sedikit memutar tubuh Jiang Mu dan mendorongnya ke dalam bengkel.

Sebelum Jiang Mu masuk ke kamarnya, ia menoleh dan menyeringai pada San Lai. San Lai mengedipkan mata pada Jiang Mu. Jin Chao menatap San Lai dengan tatapan tajam.

Setelah sosok Jiang Mu menghilang di ruang perbaikan, San Lai akhirnya berkata dengan santai, "Jangan sering-sering bicara seperti itu. Perempuan itu sensitif. Orang yang tahu, tahu bahwa kamu tidak ingin dia hidup susah. Orang yang tidak tahu, akan mengira kamu mengusirnya. Nanti kalau dia menangis di tengah malam, yang pusing juga kamu."

Jin Chao menunduk dan memakai kembali sarung tangannya dengan suara berat, "Semakin sedikit yang dia tahu, semakin baik. Semakin lama dia tinggal, semakin rumit."

Senyum di wajah San Lai hilang. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Begitu Jiang Mu masuk ke kamar, Xiao Yang dan Tiě Gōng Jī secara otomatis tidak lagi masuk ke ruang istirahat. Jin Chao tidak masuk untuk mandi malam itu. Ketika Jiang Mu membereskan tas, ia melihat rambut Jin Chao basah dan pakaiannya sudah berganti. Mungkin dia mandi di tempat San Lai untuk menghindari ketidaknyamanan.

"Kilat" masih kecil dan perlu minum susu, jadi ia dikembalikan ke sisi Xishi. Ketika Jiang Mu hendak tidur, tidak ada seorang pun di ruang perbaikan—bahkan pintu rana sudah terkunci. Ia kembali ke kamarnya, berbaring di tempat tidur, dan berguling-guling tanpa bisa tidur.

Setiap kali Jiang Mu melirik, ia selalu melihat tirai itu bergoyang pelan. Di ruang yang sunyi dan tertutup, pemandangan itu terasa cukup menyeramkan—sehingga tanpa sadar ia terus menatap ke arah tirai. Namun, di balik tirai itu hanyalah ruang istirahat, dan di balik kaca ruang istirahat terdapat ruang perbaikan yang gelap dan kosong. Pada siang hari, dengan orang-orang yang lalu-lalang, hal itu tidak terasa menakutkan. Tetapi di malam yang sunyi, pantulan kaca membuat Jiang Mu merasa sangat tidak nyaman. Ia sudah berusaha untuk tidak melihat ke luar, tetapi ia tidak bisa berhenti menatap tirai yang bergoyang pelan itu—hatinya terasa gelisah. Dalam pikirannya, muncul gambaran yang mengganggu: seorang wanita berbaju putih berdiri di depan cermin di ruang istirahat, dan setiap kali tirai bergoyang, ia bisa melihat sepasang mata menatapnya.

Kadang-kadang, begitu pikiran seperti itu muncul, ia tidak bisa menghentikannya—dan rasa takutnya semakin meningkat.

Jiang Mu berguling-guling di tempat tidur untuk waktu yang lama. Ia mengambil ponselnya, membuka WeChat Jin Chao, dan mengirim pesan: "Kamu sudah tidur?"

Setelah mengirim, Jiang Mu menatap layar ponselnya, menunggu tulisan "Sedang mengetik..." muncul. Namun, matanya hampir menempel pada layar, tetapi tidak ada balasan sama sekali.

Namun, pada saat itu, sebuah suara tiba-tiba datang dari balik tirai: "Ada apa? Perutmu sakit lagi?"

Jiang Mu terkejut dan melompat dari tempat tidur, menatap bayangan di balik tirai. Dengan suara gemetar, ia bertanya, "Kamu datang dari mana?"

Jin Chao menyalakan lampu ruang istirahat, "Dari belakang."

"Belakang yang mana?"

"...... Di atas kepalamu ada jendela."

Jiang Mu berdiri dari tempat tidur. Ia memang menyadari bahwa ada jendela dengan tirai lipat di atas tempat tidurnya, tetapi selama ini tertutup. Kali ini, ia membuka tirai lipat itu dengan jarinya dan melihat ada sebuah halaman kecil di belakangnya, dengan barang-barang berserakan di lantai. Ia bertanya, "Apa kamu di sana sepanjang waktu tadi? Lagi apa?"

Jin Chao menjawab, "Lembur."

Jiang Mu baru sadar—tadi malam, ketika ia berteriak dalam mimpi, Jin Chao datang. Ia mengira Jin Chao berada di ruang perbaikan, tetapi ternyata dia berada di belakang. Rupanya, dia memang sedang lembur di sana tadi malam. Ternyata jaraknya sangat dekat dengan kamar—hanya satu jendela. Untunglah ia tidak berbicara sendiri tentang hal-hal aneh, karena kalau tidak, Jin Chao pasti akan mendengarnya.

Jin Chao berdiri di luar dan bertanya lagi, "Ada apa?"

Jiang Mu melepaskan tirai lipat itu. Ia tidak bisa mengatakan bahwa tirai bergoyang, kaca ruang istirahat memantulkan cahaya, dan ruang perbaikan terlalu gelap—sehingga ia takut. Ia tidak bisa mengatakannya. Jadi ia menjawab dengan tegas, "Aku mau minum air."

"......"

Jin Chao membuka tirai dan melihat botol air mineral di atas meja samping tempat tidur. Jiang Mu juga melihatnya dan segera menambahkan, "Air itu sudah dingin. Aku takut perutku sakit kalau minum itu."

Jin Chao melepaskan tirai, mengambil ketel listrik, dan pergi. Tidak lama kemudian, ia kembali dengan ketel yang sudah terisi air, mencolokkannya, dan menarik kursi untuk duduk di luar sambil menunggu air mendidih.

Air cepat mendidih. Jin Chao mencampurnya dengan air dingin dan memberikannya kepada Jiang Mu dalam gelas kertas. Jiang Mu mengenakan pakaian rumah berkerah dengan motif warna terang. Jin Chao berdiri di samping tempat tidur, dan dari ketinggiannya, ia dapat melihat renda putih kecil dari kerah baju Jiang Mu. Ia segera mengalihkan pandangannya. Namun, Jiang Mu minum dengan sangat lambat—seperti anak kucing yang menjilat air. Sambil minum sedikit demi sedikit, Jiang Mu terus melirik Jin Chao.

Hingga akhirnya Jin Chao merasa tidak sabar, "Kamu berencana minum sampai besok pagi?"

Jiang Mu hanya bisa menyerahkan gelasnya. Jin Chao melirik gelas itu—masih tersisa setengah gelas. Tidak terlihat seperti orang yang sangat haus.

Jin Chao mengangkat alisnya dan berbalik untuk pergi. Jiang Mu menatap punggung Jin Chao dan bergumam, "Kamu pergi?"

Jin Chao berbalik dan menatap Jiang Mu. Rambut pendeknya menempel di wajahnya, matanya yang berbinar menatap dengan penuh harap. Jin Chao tiba-tiba bertanya, "Kenapa kamu memotong rambutmu?"

Jiang Mu menjawab dengan jujur, "Aku takut nutrisi yang aku makan terserap rambut dan mempengaruhi kemampuan berpikirku."

"......"

Jin Chao menatap tubuh kecil Jiang Mu sekali lagi, lalu sudut matanya melengkung dan ia pergi. Kemudian, Jiang Mu melihat Jin Chao mematikan lampu ruang istirahat. Ia mengira Jin Chao sudah pergi, tetapi di balik tirai, cahaya redup dari ponsel mulai terlihat. Melalui celah tirai, Jiang Mu tidak lagi melihat kaca yang memantulkan cahaya—melainkan bayangan Jin Chao yang duduk di kursi, membelakangi tirai.

Jin Chao duduk dengan tenang di ruang istirahat sambil bermain ponsel, kaki panjangnya disilangkan di atas meja, seolah-olah ia tidak berniat pergi dalam waktu dekat.

Jiang Mu menghela napas lega dan berbaring lagi. Sambil menatap langit-langit yang gelap, ia berkata, "Apa Guru Ma sangat menyukaimu? Begitu melihatku, dia selalu menyuruhku belajar darimu. Dia bilang kamu bisa masuk sepuluh besar dengan lengan kanan yang terkilir—hanya menggunakan lengan kiri. Bagaimana kamu bisa melakukannya? Kamu juga bisa menulis dengan tangan kiri? Kenapa aku tidak tahu kamu kidal? Apa kamu kidal? Aku ingat dulu kamu sering dimarahi karena makan dengan tangan kiri, bukan? Lalu kamu berubah, kan..."

Jin Chao diam-diam mengecilkan volume game di ponselnya, sambil mendengar gumaman Jiang Mu. Malam begitu sunyi, dan ia belum tidur. Sudah lama ia tidak mendengar logat selatan yang lembut ini. Setelah datang ke tempat ini, ia perlahan melupakan suara yang begitu akrab itu. Kini, saat ia mendengarnya, rasanya waktu seolah kembali ke masa lalu—saat hidup terasa lambat dan tanpa beban.

Jin Chao tidak bersuara. Ia mendengarkan dengan tenang, seolah-olah jika ia tidak mengganggunya, Jiang Mu akan terus berbicara. Setiap kalimat yang penuh dengan kata-kata penegas, setiap suku kata yang menjadi kabur di tenggorokan karena kantuk—setiap nada terdengar lembut dan manja, seperti lagu pengantar tidur di malam musim gugur, menenangkan hatinya yang gelisah dan resah.

Hingga akhirnya Jiang Mu berhenti, menguap, dan bergumam, "Apa kamu mendengarkanku? Kamu tidak menjawab aku sama sekali."

Sunyi selama lebih dari sepuluh detik. Cahaya dari ponsel di luar tiba-tiba padam. Suara Jin Chao terdengar rendah, "Kapan kamu mengetahuinya?"

Sunyi. Sunyi yang mematikan. Jiang Mu tahu apa yang Jin Chao tanyakan—tentang kenyataan bahwa mereka tidak memiliki hubungan darah.

Setelah beberapa lama, Jiang Mu menjawab, "Sebelum aku datang ke sini."

Diam lagi. Kemudian Jin Chao bertanya, "Apa yang kamu pikirkan setelah mengetahuinya?"

Jiang Mu berguling menghadap dinding, bulu matanya bergetar pelan, dan ia menggenggam erat ujung selimut sambil memejamkan mata.

Disclaimer: Terjemahan ini dilakukan secara sukarela untuk tujuan berbagi hobi dan apresiasi karya. Seluruh hak cipta, termasuk karakter, alur cerita, dan judul adalah milik penuh penulis asli dan penerbit. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas konten ini. Jika Anda menyukai ceritanya, dukung penulis aslinya melalui platform resmi.

Komentar