Speed and Love-Bab 15
Jin Chao membuka tirai dan masuk ke ruangan kecil di belakang, lalu berkata kepada Jiang Mu, "Masuk."
Ini adalah pertama kalinya Jiang Mu memasuki ruangan kecil milik Jin Chao. Selain tempat tidur besi dan meja samping tempat tidur yang pernah ia lihat sebelumnya, ada juga lemari pakaian sederhana berwarna gelap. Di bagian belakang, ada sebuah pintu. Jin Chao membukanya dan memperlihatkan kamar mandi kecil di dalamnya. Jin Chao mengambil sebuah kaus lengan panjang yang bersih, meletakkannya di atas tempat tidur, dan berkata kepada Jiang Mu, "Aku di luar. Panggil aku jika ada apa-apa."
Setelah mengatakan itu, Jin Chao keluar dan menutup pintu ruang istirahat.
Sepanjang malam, satu kejadian demi kejadian membuat Jiang Mu tidak sempat memikirkan kondisi fisiknya. Baru setelah Jin Chao pergi, ia menyadari bahwa ia tidak bisa mandi saat ini. Ia membuka pintu ruang istirahat dan menatap hujan di luar, ragu-ragu apakah ia harus keluar lagi. Namun, tubuhnya sudah sangat kelelahan, dan perutnya terasa nyeri — begitu sakit sehingga ia tidak ingin melangkah selangkah pun.
Ia pun berjongkok dan mengeluarkan ponselnya untuk mencari layanan antar online, tetapi ia menyadari bahwa tidak ada satu pun pengemudi yang mau menerima pesanan di daerah ini. Jiang Mu belum pernah mengalami situasi sesulit ini seumur hidupnya.
Jin Chao berbincang sebentar dengan San Lai di sebelah. Sekitar sepuluh menit kemudian, ia kembali ke bengkel. Ia melihat pintu ruang istirahat terbuka, cahaya memancar dari dalam, dan tampak sesosok bayangan di ambang pintu. Ia membuang puntung rokoknya dan berjalan mendekat. Semakin dekat, semakin jelas ia melihat — Jiang Mu belum mandi. Rambutnya masih basah, dan berjongkok di depan pintu ruang istirahat, tangannya memegang perutnya. Di bawah cahaya dari ruang istirahat, Jin Chao melihat wajah Jiang Mu sangat pucat, dan ekspresinya meringis kesakitan.
Jin Chao membungkuk dan bertanya, "Kamu merasa sakit di bagian mana?"
Jiang Mu mengangkat matanya. Cahaya di matanya lemah seperti kaca pecah, menusuk ke dalam hati Jin Chao. Jin Chao menurunkan suaranya dan bertanya lagi, "Perutmu sakit?"
Jiang Mu mengatupkan bibirnya. Di wajahnya yang pucat, muncul ekspresi malu. Ia mengangguk. Jin Chao hendak mencari obat maag, tetapi tiba-tiba menyadari sesuatu. Jin Chao berbalik lagi dan bertanya dengan sedikit canggung, "Apa kamu..."
Lalu, seperti ada tali yang putus di dalam kepalanya, matanya membelalak menatap gadis rapuh di hadapannya, "Apa kamu tadi lari ke tengah hujan hanya untuk membeli itu?"
Rasa malu dan kepedihan berkumpul di tenggorokan Jiang Mu seperti batu besar. Ia berbisik pelan, "Jatuh."
Satu kata yang diucapkan dengan suara bergetar itu membuat semua kesulitan dan rasa malu Jiang Mu semakin terlihat jelas. Jin Chao ingin memaki dirinya sendiri, "Bodoh!" Ia terdiam beberapa saat, mengacak-acak rambut pendeknya dengan kasar, lalu menurunkan suaranya, "Kamu mandi dulu. Aku yang beli."
Setelah mengatakan itu, Jin Chao melangkah keluar dengan langkah besar. Mata Jiang Mu terasa perih melihat bayangan Jin Chao yang masuk ke dalam hujan. Cahaya di matanya perlahan kembali hangat.
Jin Chao menutup pintu rana. San Lai berdiri di depan pintu sambil memegang semangkuk besar mi dan menyeruputnya. Melihat Jin Chao hendak keluar lagi, San Lai berteriak, "Mau ke mana?"
Jin Chao melirik San Lai tanpa berkata apa-apa. Di dekat bengkel, sebenarnya ada sebuah toko kecil yang masih buka. Namun, ia sering ke sana untuk membeli rokok, dan pemilik toko itu sudah sangat mengenalnya—selalu memanggilnya "Kakak" [哥 (gē)] dengan hormat. Jika ia tiba-tiba datang di tengah malam untuk membeli barang-barang wanita (pembalut), hal itu pasti akan tersebar ke seluruh jalan keesokan harinya. Setelah berpikir sejenak, Jin Chao memutuskan untuk mengendarai mobil ke toko serba ada di jalan belakang.
Toko itu tidak besar—hanya tiga rak barang. Pemiliknya adalah seorang wanita paruh baya yang gemuk. Ketika wanita paruh baya itu melihat Jin Chao mondar-mandir di rak produk wanita, dia menatap Jin Chao dengan tatapan yang aneh. Tatapan itu membuat Jin Chao merasa tidak nyaman. Ia belum pernah membeli barang-barang wanita (pembalut) sebelumnya. Ia mengambil beberapa barang secara acak dan membawanya ke kasir.
Wanita itu memindai barang-barang satu per satu sambil berkata, "Apakah kamu ingin mengikuti promo tukar tambah? Hanya tambah satu yuan, dan kamu bisa memilih banyak barang di sini..."
Jin Chao mendengar omongan wanita itu yang panjang dan mulai merasa tidak sabar. Ia menunjukkan kode pembayarannya, "Baiklah, cepatlah."
Pemilik toko itu memang menjadi lebih cepat. Wanita itu bertanya apa yang ingin Jin Chao tukar. Jin Chao ingin segera pergi, jadi ia menjawab, "Terserah."
Melihat pemuda itu membeli pembalut untuk pacarnya di tengah malam, pemilik toko itu berpikir bahwa pemuda ini pasti adalah pemuda yang perhatian. Maka dengan sangat bijaksana, ia mengambil sekotak kondom dari rak belakang dan memasukkannya ke dalam kantong plastik.
Jin Chao tidak melihat apa yang di masukan pemilik toko ke kantong plastik. Ia mengambil kantong plastik itu dan keluar dari toko. Roda mobil melaju melewati genangan air, dan percikan air beterbangan. Ia kembali ke bengkel. San Lai masih memegang mangkuknya dan mengintip ke luar, matanya tertuju pada kantong plastik yang dibawa Jin Chao. Ia menyipitkan mata dan bertanya, "Membeli barang bagus apa?"
Jin Chao memindahkan kantong plastik ke tangan yang lain, menyembunyikannya di belakang punggung, lalu membuka pintu rana dengan satu tangan, "Bagaimana cara mengatasi sakit perut pada wanita?"
"Sakit di bagian mana?"
Jin Chao melirik San Lai, "Menurutmu?"
San Lai tertawa, meletakkan mangkuknya, dan mengeluarkan ponsel, "Aku tanyakan pada Xiao Pingzi."
Xiao Pingzi adalah teman masa kecil San Lai. Di SMA, Xiao Pingzi mengejar San Lai selama tiga tahun. Saat itu, San Lai kecanduan game online dan tanpa sengaja mengubur perasaan gadis itu. Kemudian, Xiao Pingzi sadar bahwa San Lai memang ditakdirkan untuk hidup sendiri, jadi dia memutuskan hubungan dengan San Lai.
Setelah bertahun-tahun tidak berhubungan, tiba-tiba di malam hujan deras, San Lai menelepon Xiao Pingzi. Pertanyaan pertamanya adalah, "Pingzi, biasanya kalau sakit perut saat datang bulan, bagaimana cara mengatasinya?"
"...Minumlah air bekas cucian kaki nenekmu." Tut — telepon ditutup.
Ponsel San Lai dalam mode speaker, dan udara dipenuhi keheningan yang canggung. Jin Chao memegang kantong plastik dan melirik San Lai. San Lai berdeham, "Menurutku, cara itu tidak masuk akal."
Jin Chao tidak menggubris San Lai lagi. Ia masuk ke dalam ruangan, meletakkan barang-barang di luar kamar mandi, dan berkata, "Barangnya aku taruh di lantai." Lalu ia keluar.
Kamar mandi itu sangat sempit, tetapi bersih dan rapi—tidak ada yang membuatnya merasa tidak nyaman. Sebenarnya, sejak kecil Jin Chao memang cukup menjaga kebersihan. Dibandingkan anak laki-laki seusianya yang sering bermain kotor, Jin Chao jarang terlihat kumuh. Jiang Yinghan sudah mengajarinya mencuci pakaian sendiri sejak dia masih kecil. Dalam ingatan Jiang Mu, pakaian Jin Chao selalu dia cuci sendiri. Yang memalukan adalah, meskipun ia sudah sebesar ini, ketika di rumah, pakaiannya masih dicuci oleh Jiang Yinghan. Dulu ia tidak menyadarinya, tetapi sekarang ia baru merasa bahwa ibunya memang pilih kasih secara terang-terangan.
Setelah selesai mandi, Jiang Mu melihat satu-satunya handuk berwarna biru tua di kamar mandi dan mengambilnya. Handuk itu memiliki aroma yang sangat harum—aroma mint yang segar, sama seperti yang ia cium pada tubuh Jin Chao setelah Jin Chao selesai mandi beberapa hari lalu. Berbagi handuk dengan lawan jenis membuat Jiang Mu merasa sangat canggung. Pikirannya tanpa sadar kembali pada ucapan Jin Chao sebelumnya, "Aku bukan kakakmu. Kamu pikir itu pantas?"
Tidak pantas, tetapi sepertinya tidak ada pilihan lain.
Setelah mandi, Jiang Mu membuka pintu kamar mandi sedikit dan melihat bahwa Jin Chao tidak ada di sana. Ia menunduk dan melihat sebuah kantong plastik di lantai—di dalamnya ada beberapa pembalut dan bahkan satu paket celana dalam wanita baru. Jiang Mu merasa ingin menghilang saat itu juga, tetapi kenyataan memaksanya untuk mengalah pada rasa malunya.
Ia mengenakan kaus yang diberikan Jin Chao—terlalu besar hingga bisa dipakai seperti daster. Lalu ia memasukkan kantong plastik itu ke dalam laci samping tempat tidur. Mengingat bahwa Jin Chao juga basah kuyup, ia membuka tirai dan keluar dari ruang istirahat, lalu berkata kepada Jin Chao yang berada di ruang perbaikan, "Aku sudah selesai. Sekarang kamu sudah bisa mandi."
Jin Chao melirik kaki Jiang Mu—kaki kecil ukuran 35 yang mengenakan sandal hitam ukuran 43 miliknya. Pemandangan itu seperti anak kecil yang memakai sepatu orang dewasa—lucu dan menggelikan.
Mata Jin Chao berbentuk panjang. Ketika ia tidak menunjukkan emosi, ia terlihat sangat dingin. Namun, ketika matanya menyimpan senyum, mata itu memancarkan cahaya yang hangat dan tajam. Jiang Mu merasa sangat canggung di bawah tatapan Jin Chao. Ia mengikuti arah pandangan Jin Chao ke sandal di kakinya, lalu tiba-tiba menyadari sesuatu. Ia berkata, "Aku naik ke tempat tidur. Sendalnya aku tinggalkan."
Setelah mengatakan itu, ia kembali ke kamar, naik ke tempat tidur besi, dan meninggalkan sandal di bawah tempat tidur.
Jin Chao masuk ke kamar, membuka lemari sederhana, mengambil pakaian bersih, dan masuk ke kamar mandi. Ketika ia membuka pintu, ia melihat handuknya telah dicuci dan dilipat rapi berbentuk persegi, diletakkan di atas wastafel. Ia mengambil handuk itu — sentuhan lembut handuk itu terasa di ujung jarinya, dan ada sesuatu yang bergetar di dalam hatinya.
Air mengalir dari kamar mandi. Sepatu Jiang Mu basah, dan karena tidak ada sandal cadangan, ia harus tetap berada di tempat tidur. Ia mengangkat pandangannya. Di dinding dekat tempat tidur, ada tiga rak hitam. Dua rak diisi dengan buku-buku, dan satu rak berisi korek api, kunci cadangan mobil, dan beberapa barang kecil yang tidak ia kenali.
Dua rak yang penuh dengan buku-buku itu sebagian besar berisi tentang konstruksi dan perakitan mobil, beberapa buku panduan tiga dimensi yang tebal, dan buku-buku teknik industri yang sama sekali tidak dimengerti oleh Jiang Mu—bahkan ada yang khusus mempelajari koefisien hambatan angin.
Dulu, Jin Chao juga suka membaca. Bahkan saat itu, buku-buku Jin Chao sudah sulit dipahami oleh Jiang Mu. Ia tidak menyangka bahwa setelah dewasa, buku-buku Jin Chao tetap tidak bisa ia pahami.
Pintu kamar mandi terbuka. Jiang Mu segera mengalihkan pandangannya dan menatap Jin Chao yang baru saja keluar. Jin Chao melihat Jiang Mu duduk dengan patuh di tepi tempat tidur, seolah-olah takut mengotori tempat tidurnya. Dari ia masuk hingga keluar, posisi Jiang Mu tidak berubah. Kaus panjang itu menutupi lututnya dan membungkus seluruh tubuhnya seperti sebungkus ketan yang lembut dan menggemaskan.
Jin Chao teringat bahwa kaus lengan panjang ini dibeli ketika ia baru saja meninggalkan Wanjian (bengkel tempat Jin Chao kerja dulu) tahun lalu. San Lai mengajaknya ke Shijiazhuang (nama kota) untuk bersantai, dan memaksanya pergi ke Northface Outlets (pusat perbelanjaan besar). Karena San Lai mengatakan bahwa ia tidak membeli apa pun selama perjalanan itu, San Lai memaksa Jin Chao untuk membeli sesuatu sebagai bentuk hiburan. Jin Chao lalu mengambil kaus ini secara sembarangan—merek ternama, tidak murah. Sejak dibeli, kaus itu hanya tergeletak di sana. Setiap hari ia bekerja dan tidak pernah memakainya sekali pun. Meskipun sekarang kaus itu telah berubah bentuk karena dipakai Jiang Mu, ia malas mempedulikannya. Ia berbalik dan mencari sesuatu di bawah lemari.
Tidak lama kemudian, Jin Chao menemukan sekantong kapas, sebotol antiseptik, dan satu bungkus plester. Ia berjalan langsung ke hadapan Jiang Mu dan meletakkan barang-barang itu di atas meja samping tempat tidur. Lalu, ia berjongkok dan berkata, "Tunjukkan tanganmu."
Setelah malam yang penuh gejolak, Jiang Mu hampir melupakan lukanya. Ia tidak menyangka Jin Chao akan memperhatikannya. Ia mengulurkan tangannya dari lengan kaus panjang itu. Ketika Jin Chao melihat bekas-bekas kuku yang dalam dan mencolok di punggung tangan Jiang Mu yang putih mulus, tatapannya terhenti sejenak.
Tanpa berkata apa-apa, Jin Chao mencelupkan kapas ke dalam antiseptik, dengan lembut memegang ujung jari Jiang Mu. Jakunnya bergerak, "Sakit?"
Jiang Mu menyandarkan dagunya di atas lututnya dan menarik napas pendek pelan, "Hm."
Gerakan Jin Chao menjadi lebih lembut. Sambil merawat luka Jiang Mu, ia berkata, "Dia masih kecil. Dia tidak tahu seberapa keras dia bertindak. Kamu..."
Sebelum Jin Chao selesai berbicara, Jiang Mu bergumam, "Aku juga masih anak kecil."
Jin Chao menunduk dan tersenyum. Jiang Mu sedikit terkejut. Meskipun sulit menemukan bayangan masa lalu pada diri Jin Chao, senyum Jin Chao tampaknya tidak pernah berubah—bibirnya yang indah, dan ketika dia tersenyum, bahkan udara di sekitarnya terasa lebih lembut.
Jin Chao menundukkan pandangannya, suaranya santai, "Kalau begitu, apa yang kamu mau? Harus aku mencarinya untuk menuntut keadilan?"
Jiang Mu mengalihkan pandangannya dengan kesal, "Apa kau tega mencarinya dan menuntut keadilan demi aku?"
Jin Chao mengangkat matanya dan melirik wajahJiang Mu yang merengut. Ia menunduk dan tersenyum, lalu mengucapkan dua kata, "Kamu berbeda."
Jiang Mu tidak mengerti, jadi ia bertanya lagi, "Apa yang berbeda?"
Ia sangat ingin tahu—apakah yang dimaksud adalah perbedaan usia antara dirinya dan Jin Xin, atau perbedaan tempat di hati Jin Chao?
Namun, Jin Chao tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya berkata, "Aku tidak bisa memperlakukan anak kecil dengan cara yang sama seperti aku memperlakukanmu. Apa yang harus aku lakukan agar kamu merasa lebih baik?"
Jiang Mu terdiam sejenak, lalu berkata, "Bukan hanya satu malam. Beberapa malam."
Jin Chao masih memegang ujung jari Jiang Mu. Jiang Chao mengangkat matanya dan menatap Jiang Mu. Udara seolah berhenti bergerak sejenak. Ruangan terasa sangat sunyi. Sentuhan di ujung jarinya semakin terasa jelas. Sejak ia tumbuh dewasa, ia belum pernah digenggam oleh tangan sebesar dan sekokoh ini. Rasa malu mulai muncul di hatinya. Jiang Mu ingin mengalihkan pandangannya, tetapi ia tahu bahwa ia harus memenangkan negosiasi ini.
Jadi Jiang Mu melanjutkan, "Aku ingin kembali ke Suzhou, tetapi aku tidak tahu bagaimana cara pindah sekolah. Aku akan mencari tahu dalam beberapa hari. Kalau benar-benar tidak bisa, aku akan mencari kontrakan di luar. Pokoknya aku tidak akan kembali ke rumah itu lagi. Jadi... tolong biarkan aku tinggal di sini beberapa hari lagi."
Jin Chao tersenyum lagi. Kali ini, senyumnya menyebar ke seluruh wajahnya—dengan sedikit nada menggoda.
Jiang Mu mengerutkan alisnya dan berkata dengan serius, "Apakah itu lucu?"
Senyum Jin Chao perlahan mereda. Ia mengangkat alisnya dan bertanya, "Kamu merasa tersakiti?"
Jika Jin Chao tidak menanyakan itu, Jiang Mu mungkin masih bisa berpura-pura baik-baik saja. Namun, pertanyaan itu membuatnya kehilangan kendali—ia hampir menangis tersedu-sedu. Demi menjaga harga dirinya, ia memalingkan wajah dan mengatupkan bibirnya erat-erat.
Jin Chao melihat ujung hidung Jiang Mu yang memerah. Ia menempelkan plester di tangan Jiang Mu dan berkata, "Sudah larut. Tidurlah dulu. Kita tidak akan membicarakan ini hari ini."
Jiang Mu bertanya dengan lesu, "Lalu, kamu tidur di mana nanti?"
"Di tempat San Lai. Kamu tidur saja disini."
Jin Chao berdiri, membuang kapas bekas, dan kembali ke kamar. Ia melihat Jiang Mu masih duduk di tepi tempat tidur. Ia mengambil botol antiseptik dari meja samping tempat tidur dan bertanya, "Kamu duduk di sini menunggu aku menyelimutimu?"
Mendengar itu, Jiang Mu segera berbaring dengan patuh. Begitu kepalanya menyentuh bantal, rasa kantuk mulai menyelimutinya. Di sela kantuknya, Jiang Mu melihat Jin Chao berbalik dan menyimpan barang-barang di bawah lemari. Ia bertanya, "Kapan dia mulai menderita penyakit ini?"
Jin Chao tidak menoleh. Sambil menyimpan barang-barang satu per satu, ia menjawab, "Usia tiga tahun."
"Apakah dia rewel?"
"Entahlah." Jin Chao menutup lemari.
"Entahlah?"
Jin Chao menegakkan tubuhnya, lalu berkata dengan suara pelan, "Saat itu aku tidak ada di rumah. Ketika aku kembali, dia sudah tidak rewel lagi."
Suara Jin Chao datar, tanpa nada naik turun—seolah-olah dia sedang menceritakan hal yang sepele.
Jiang Mu bertanya dengan bingung, "Kamu pergi ke mana?"
Jin Chao menopang satu tangannya di lemari, tanpa menoleh ke belakang. Beberapa detik berlalu, ia berbalik. Matanya sudah tenang, tanpa menunjukkan sedikit pun perasaan yang aneh. Ia berkata, "Cepat tidur." Lalu ia mematikan lampu dan keluar.
Setelah Jin Chao pergi, mata Jiang Mu akhirnya terpejam. Namun, tidurnya tidak nyaman—karena kondisi fisiknya maupun lingkungan. Hanya saja, ia terlalu lelah, sehingga ia berada dalam keadaan setengah sadar yang berkepanjangan. Tidak tahu sudah berapa lama ia tidur, hujan di luar masih terus mengguyur tanpa henti. Dalam mimpinya, hujan juga turun. Ia kembali ke malam hujan deras saat ia berusia sembilan tahun. Ia menempel di jendela, berteriak memanggil ayah dan Jin Chao. Namun, mereka seperti berada di dunia yang berbeda—mereka tidak mendengar suaranya, bahkan tidak menoleh sekalipun. Tubuh kecilnya merayap melewati pagar jendela dan keluar ke luar. Air hujan membasahi pakaian dan rambutnya. Ia mengulurkan tangan ke arah mereka, tetapi kakinya tergelincir dan tubuhnya jatuh dari ketinggian. Dengan ketakutan, ia berteriak sambil menangis, "Chao Chao, Chao Chao, Kak..."
Jin Chao mendengar suara Jiang Mu, masuk ke dalam ruangan, dan menyalakan lampu. "Ada apa?"
Jiang Mu menutupi wajahnya dengan tangan dan berkata dengan suara samar, "Silau."
Jin Chao mematikan lampu lagi dan berjalan ke sisi tempat tidur. Ia melihat Jiang Mu masih memejamkan mata — keringat tipis di dahi Jiang Mu berkilauan dalam gelap, membuatnya tampak semakin rapuh dan kesakitan. Ia memanggilnya, "Mu Mu."
Jiang Mu berguling, tangannya meraba-raba di udara. Ketika ia tidak meraih apa pun, alisnya mengerut dengan cemas. Tepat sebelum tangannya jatuh, Jin Chao menggenggamnya. Seperti menemukan tali penyelamat, Jiang Mu berkata dengan suara lembut di tenggorokannya, "Sakit."
Jin Chao membungkuk, "Perutmu sakit?"
Jiang Mu tidak menjawab. Alisnya tetap mengerut erat — tidak jelas apakah ia sadar atau masih tertidur, ia tampak sangat linglung.
Jin Chao hendak keluar untuk mengambil segelas air hangat, tetapi Jiang Mu menariknya. Tangan Jiang Mu tidak kuat; dengan sentuhan ringan, Jin Chao melepaskan genggamannya. Namun, Jiang Mu mengeluarkan suara rintihan pelan di tenggorokannya. Kepala Jin Chao terasa berdengung. Tiba-tiba ia teringat pada suatu sore di masa lalu — ketika Jiang Yinghan tidak bisa menjemput Jiang Mu, dia juga mengeluarkan suara lembut dan menyedihkan seperti itu. Jin Chao tidak tega melepaskannya lagi. Ia menggenggam tangan Jiang Mu kembali dan mencoba menenangkannya dengan suara lembut, "Aku tidak pergi. Aku hanya ambil segelas air, lalu kembali. Kamu tunggu di sini."
Tidak jelas apakah Jiang Mu benar-benar mendengarnya. Ketika Jin Chao mencoba melepaskan tangannya lagi, Jiang Mu tidak bersuara — seperti tertidur lelap.
Jin Chao tidak menyalakan lampu di kamar, tetapi menyalakan lampu di ruang istirahat di luar. Dengan cahaya dari luar, ia berjalan kembali ke kamar dan melihat tubuh kecil Jiang Mu yang meringkuk sempurna. Ia berjongkok dan berkata, "Bangun, minum air."
Jiang Mu tidak bergerak. Jin Chao menyentuhnya dengan lembut dan berkata dengan sabar, "Bangun, minum sedikit air hangat, ya?"
Jiang Mu akhirnya menunjukkan sedikit reaksi. Jiang Mu menggelengkan kepalanya dengan susah payah—seolah-olah tidak ingin bergerak sama sekali. Jin Chao menyentuh dahinya—Jiang Mu tidak demam. Ia tidak tahu bagaimana cara meredakan rasa sakitnya. Ia pun duduk di tepi tempat tidur dan membantu Jiang Mu duduk. Tangannya yang besar menopang punggung Jiang Mu, tetapi tubuh Jiang Mu sangat lemas—tidak ada tenaga sama sekali. Jin Chao terpaksa menopang Jiang Mu di dekat dadanya dan mendekatkan cangkir ke bibir gadis itu. Jiang Mu akhirnya mau minum dua teguk, lalu seluruh tubuhnya meluncur ke bawah lagi dan meringkuk menjadi satu.
Jin Chao meletakkan cangkir itu, lalu mengeluarkan ponsel dan mencari cara untuk meredakan rasa sakit. Banyak jawaban berbeda yang muncul di internet. Pada jam selarut ini, ia tidak mungkin menemukan gula merah atau permen jeli khas Tiongkok. Namun, ia melihat ada yang menjawab bahwa memijat titik akupunktur Sanyinjiao (Titik Akupunktur untuk Meredakan Nyeri Haid) bisa membantu. Ia berjalan ke ujung tempat tidur, meletakkan ponsel di sampingnya, dan mencocokkan gambar titik akupunktur itu. Lalu ia meletakkan kaki Jiang Mu di atas pangkuannya.
Titik akupunktur San yin jiao terletak sedikit di atas mata kaki. Jin Chao mengusap dan memijatnya berulang kali dengan ujung ibu jarinya. Awalnya, tubuh Jiang Mu masih sangat tegang, tetapi setelah lebih dari sepuluh menit, perlahan-lahan Jiang Mu mulai rileks. Dengan cahaya dari luar, Jin Chao meliriknya—alisnya yang tadinya mengerut mulai mengendur.
Ketika Jiang Mu masih bayi, kesenangan Jin Chao setiap pulang sekolah adalah menggigit kaki kecil Jiang Mu yang beraroma susu. Tindakan itu selalu membuat bayi kecil itu tertawa dan melambaikan tangan serta kakinya dengan gembira di dalam tempat tidurnya.
Bertahun-tahun kemudian, kakinya masih sekecil itu. Meskipun tidak lagi montok seperti saat kecil, jari-jari kakinya yang ramping dan punggung kakinya yang halus masih membuat Jin Chao menganggapnya sama imutnya seperti kaki seorang anak kecil. Jin Chao tersenyum tanpa suara. Namun, tiba-tiba pikirannya melayang—sebelum ia menerima telepon dari Jin Qiang bulan lalu, ia berpikir bahwa ia tidak akan pernah bertemu dengan Jiang Mu lagi seumur hidupnya.
Namun sekarang, Jiang Mu terbaring di tempat tidurnya, dan ia bisa merasakan kehangatan tubuh Jiang Mu. Semuanya terasa begitu nyata, tetapi juga terasa tidak nyata.
Sebenarnya, Jiang Mu tidak sepenuhnya tidak sadar. Ia tahu bahwa ia sedang bermimpi. Dalam keadaan setengah sadar, ia mendengar Jin Chao menyuruhnya minum air, tetapi ia tidak ingin bergerak dan matanya tidak bisa terbuka sama sekali. Yang ia rasakan hanyalah sakit di perutnya. Kemudian, ia merasakan Jin Chao memegang kakinya dan memijat area di sekitar mata kakinya. Ujung jarinya yang berlapis kapas tipis bergerak dengan tekanan yang tidak terlalu keras dan tidak terlalu ringan. Di malam yang gelap, sentuhan itu mengusir ketakutannya terhadap lingkungan yang asing, dan kesadarannya perlahan-lahan mulai rileks.
Ia tidak tahu berapa lama Jin Chao memijatnya malam itu. Namun setelah itu, ia tidak bermimpi lagi dan tertidur lelap.
Tetapi Jin Chao hampir tidak tidur sama sekali malam itu. Ia tidak tahu apakah karena menyaksikan Jin Xin jatuh dari balkon membuat Jiang Mu ketakutan, tetapi setiap beberapa saat tubuh Jiang Mu akan gemetar tanpa sadar, mengeluarkan suara-suara kecil yang menyakitkan—seperti orang yang sangat ketakutan. Jin Chao hanya bisa menggabungkan dua kursi, bersandar di ruang istirahat, dan memejamkan mata sebentar. Setiap kali ia mendengar suara dari dalam, ia masuk dan menepuk punggung Jiang Mu, barulah Jiang Mu bisa tidur lagi dengan tenang.
......
Pagi harinya, Xiao Yang datang ke bengkel dan melihat pintu rana sudah terbuka lebar. Jin Chao, dengan lengan baju kerjanya digulung hingga siku, sedang berjongkok di ruang perbaikan. Xiao Yang mengangkat dua roti isi daging besar dan berseru, "Wah, Guru! Kenapa mulai kerja pagi-pagi sekali hari ini? Mau roti?"
Jin Chao menatap Xiao Yang, "Kecilkan suaramu. Tidak mau."
Kemudian ia menambahkan, "Jangan masuk ke ruang istirahat."
Xiao Yang, dengan heran, mengintip ke dalam, tetapi Jin Chao menampar kepalanya dan mendorongnya keluar.
Xiao Yang bertanya dengan penasaran, "Siapa di dalam?"
Jin Chao tiba-tiba teringat nama pengguna WeChat Jiang Mu—sudut bibirnya sedikit melengkung, "Pengidap Susah Bangun."
Tiě Gōng Jī datang agak terlambat. Begitu tiba, Xiao Yang memberitahunya bahwa ada seseorang di ruang Jin Chao dan dia tidak boleh pergi ke ruang istirahat. Sepanjang pagi, setiap kali mereka membuat sedikit suara, Jin Chao akan menatap mereka dengan tatapan dingin. Ruang perbaikan yang biasanya ramai berubah menjadi mode senyap. Xiao Yang dan Tiě Gōng Jī biasanya banyak bicara, dan situasi ini benar-benar menyiksa mereka.
Ketika mereka berdua pergi ke luar untuk merokok, mereka masih mendiskusikan siapa yang ada di dalam ruangan itu. Sejak Jin Chao memulai bengkel ini sendiri, ia jarang pulang ke rumah. Ruangan kecil di dalam bengkel menjadi tempat persinggahan sementara baginya. Meskipun ruangannya kecil, ia sangat tidak suka orang lain masuk ke kamarnya. Jadi, meskipun Xiao Yang dan Tiě Gōng Jī kadang pergi ke ruang istirahat untuk mencari sesuatu atau duduk sebentar sambil bermain game, mereka tidak pernah masuk ke kamar Jin Chao.
Suatu ketika, Ular Hijau Kecil datang untuk bermain dan dengan santai masuk ke kamar Jin Chao dan berbaring di tempat tidurnya. Ketika Jin Chao kembali dari luar, tanpa berkata-kata ia menarik kerah baju Ular Hijau Kecil dan melemparkannya keluar. Ular Hijau Kecil sangat marah dan sudah lama tidak datang lagi.
Jadi Xiao Yang dan Tiě Gōng Jī juga bingung — siapa sebenarnya yang membuat Jin Chao begitu toleran?
Hingga Jiang Mu, yang tidur sampai siang, keluar dari kamar. Xiao Yang dan Tiě Gōng Jī terpana. Mereka terpana bukan hanya karena Jiang Mu mengenakan pakaian Jin Chao, tetapi juga karena di balik kaus besar itu, terlihat sepasang kaki putih yang jenjang dan memikat, ditambah rambut pendeknya yang rapi sebatas telinga. Pemandangan itu seperti gadis muda yang polos namun memikat — cukup untuk membuat hidung berdarah. Kedua pria itu langsung membeku.
Jin Chao melemparkan puntung rokok ke arah mereka, dan mereka langsung tersadar. Ia berjalan ke arah Jiang Mu, menutupi Jiang Mu dengan tubuhnya, dan mendorong Jiang Mu kembali ke dalam, "Kamu sadar kamu keluar tanpa celana?"
Jiang Mu perlahan mengingat apa yang terjadi tadi malam — ia tampaknya memegang erat tangan Jin Chao dan tidak mau melepaskannya di tengah malam. Sekarang mengingatnya, ia merasa sangat malu. Ia sengaja menjaga jarak, dan setiap sudut wajahnya menunjukkan rasa malunya. Namun, ia berusaha terdengar percaya diri, "Apa aku punya celana untuk dipakai?"
Jin Chao berbalik, mengambil sepasang celana olahraga dari lemari, dan melemparkannya kepada Jiang Mu sebelum keluar. Jiang Mu mengenakan celana olahraga itu. Namun, celana itu terlalu besar untuknya — seperti celana raksasa. Ia tidak tahu berapa kali ia harus menggulung ujung celana itu agar kakinya bisa terlihat. Ia juga harus mengikat tali pinggang beberapa kali agar celana itu tidak jatuh. Ketika ia bercermin di depan kaca besar di ruang istirahat, rasanya sangat jelek — Apa-apaan ini?
Di ruang perbaikan, sebuah mobil terangkat dan Jin Chao sedang memeriksa bagian bawahnya. Ketika ia melihat Jiang Mu keluar, Jin Chao menatap Jiang Mu sekilas. Jiang Mu jelas melihat senyum yang tidak bisa Jin Chao sembunyikan di matanya, dan ia merasa semakin malu.
Jin Chao menoleh dan memanggil Xiao Yang, "Kamu yang lanjutkan."
Jin Chao melepas sarung tangannya, berjalan ke lorong, dan melirik Jiang Mu, "Kamu lapar? Mau makan apa?"
Jiang Mu memegang ujung celananya yang panjang dan menjawab, "Apa saja, asal bukan pangsit."
"......"
Hujan di luar telah berhenti, tetapi tanah masih basah. Jiang Mu melihat Jin Chao pergi ke luar bengkel dan menyalakan kompor listrik. Dengan sangat terampil, Jin Chao memotong sosis menjadi dadu-dadu kecil di atas talenan. Kemudian Jin Chao mengeluarkan wortel dan hendak memotongnya. Jiang Mu segera maju dan mencegahnya, "Aku tidak makan wortel."
Jin Chao hanya menjawab, "Oh." Namun, tetap memotong wortel dengan keterampilan pisau yang sangat baik. Jiang Mu hampir berpikir bahwa jika ia berkata sepatah kata lagi, Jin Chao akan memotongnya. Ia hanya bisa bergumam pelan, "Tidak usah pakai daun bawang."
Setelah memastikan bahwa Jin Chao tidak memotong daun bawang, Jiang Mu lega dan mengintip ke atas panci. Jin Chao menuangkan minyak ke dalam wajan dan menoleh ke belakang, "Minggir."
"Kenapa?"
Detik berikutnya, Jin Chao menuangkan nasi putih ke dalam wajan. Suara "desis" keras membuat Jiang Mu melompat mundur. Jin Chao melirik Jiang Mu dan menarik sudut bibirnya — Jiang Mu jelas terkejut tetapi berusaha terlihat tenang.
Jiang Mu melihat Jin Chao dengan terampil memecahkan telur dengan satu tangan, lalu memasukkan sosis dan wortel ke dalam wajan dan mengaduknya. Jiang Mu bergumam, "Tertawa apa? Aku tidak takut minyak panas. Aku hanya tidak menyangka akan tiba-tiba seperti itu."
"Kamu bisa masak?"
"Ya... bisa sedikit."
Jin Chao tahu bahwa Jiang Mu tidak bisa masak. Jin Chao membalikkan wajan, urat-urat di lengannya menonjol, dan nasi goreng itu terbalik dengan sempurna — tidak ada sebutir nasi pun yang jatuh ke luar. Gerakannya sangat terampil dan cepat, dan ternyata cukup keren.
Aroma nasi goreng dengan cepat membuat perut Jiang Mu berbunyi. Ia bertanya, "Bagaimana kabar Jin Xin?"
"Tidak apa-apa. Sudah pulang siang ini."
Jiang Mu baru saja lega, tetapi kemudian ia mengucapkan "Oh" dengan nada kecewa. Itu berarti Zhao Meijuan dan yang lain sudah pulang — ia tidak mungkin kembali ke rumah itu.
Ia mengikuti Jin Chao ke kiri dan ke kanan, lalu bertanya dengan hati-hati, "Apakah kamu ada waktu nanti? Bisakah kamu kembali ke rumah untuk mengambil barang-barang dan tasku?"
Jin Chao tidak menatap Jiang Mu. Dia menambahkan bumbu ke dalam wajan. Melihat Jin Chao diam, Jiang Mu bertanya lagi, "Boleh?"
Jin Chao mematikan kompor dan menoleh ke arah Jiang Mu, "Apa aku bilang aku mengizinkanmu tinggal disini?"
Mata hitam Jiang Mu menunduk — ekspresinya tampak sedih dan kesal pada saat yang sama. Jin Chao menyembunyikan senyumnya, lalu mengangkat tangannya ke arah Jiang Mu. Jiang Mu tanpa sadar memejamkan mata. Ketika ia membukanya lagi, ia melihat tangan Jin Chao melewati kepalanya untuk mengambil piring. Dengan canggung, ia menarik pinggang celananya yang mulai melorot.
Jin Chao menyendok nasi goreng ke dalam piring dan meletakkannya di atas meja kecil di samping Jiang Mu, "Wortel tidak boleh dipisahkan."
Jiang Mu bergumam dengan kesal, "Bukan kakakku, tapi suka mengatur."
Jin Chao mengangkat alisnya dan menatap Jin Chao sekilas sebelum kembali bekerja. Jiang Mu duduk sendirian di depan bengkel, menatap kendaraan yang lalu lalang sambil menghela napas.
San Lai mencium aroma masakan dan keluar. Begitu melihat Jiang Mu duduk di depan toko sambil makan nasi goreng, dan melihat pakaiannya, San Lai langsung tertawa, "Hei, adik (lǎo mèi er panggilan untuk adik perempuan dialek Cina Utara)! Kamu pergi memancing? Pakaian apa ini? You Jiu juga punya selera yang aneh — gadis cantik begini didandaninya seperti baru ditarik dari laut."
Jiang Mu menarik ujung celananya dan memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya dengan kesal. Meskipun begitu, rasanya cukup enak.
Namun, memikirkan apa yang akan terjadi setelah makan membuatnya gelisah — ia merasa Jin Chao ingin mengusirnya dengan sepiring nasi goreng.
San Lai masuk ke tokonya lagi, dan tidak lama kemudian ia keluar sambil membawa anak anjing hitam. "Ayo, adik, lihat anak anjingmu — bukankah dia sudah lebih gemuk?"
Jiang Mu mengangkat kepalanya dan melihat anak anjing hitam itu. Ia meraihnya dan menggendongnya. Beberapa hari tidak bertemu, anak anjing itu memang sudah tumbuh lebih besar, dan bahkan mengibaskan ekor ke arahnya. Ia meletakkan anak anjing itu di pangkuannya dan bertanya, "Anak anjingku?"
San Lai mengangkat alisnya, "Apa You Jiu tidak memberitahumu? Anak anjing ini sekarang milikmu."
"Hah?" Jiang Mu agak tidak percaya. "Dia tidak memberitahuku. dia bahkan ingin mengusirku. Bagaimana mungkin dia memberiku anjing?"
San Lai juga terkejut, "Mengusirmu? Dia bilang begitu?"
Jiang Mu mengelus bulu lembut anak anjing itu, "Tidak juga."
San Lai bersandar di depan toko hewan peliharaannya dan tersenyum tipis, "Kamu tidak berpikir, kalau dia benar-benar mau mengusirmu, kenapa dia repot-repot membelikanmu sandal dan handuk baru pagi-pagi?"
Jiang Mu terdiam sejenak. Ia menatap sandal wanita berwarna merah muda dengan motif kartun di kakinya, dan teringat bahwa ketika ia bangun tadi pagi, sudah ada handuk dan sikat gigi baru di kamar mandi—semuanya berwarna merah muda.
Dulu, ketika ia masih kecil, ia memang sangat menyukai warna merah muda. Ia pernah memaksa untuk membeli segala sesuatu yang berwarna merah muda, dan jika tidak, ia akan marah. Namun sekarang, ia sudah melewati usia di mana ia peduli dengan hal-hal seperti itu. Ibunya sering mengatakan bahwa ia suka memakai pakaian berwarna hitam, putih, dan abu-abu yang terlihat tua. Jiang Mu tidak menyangka bahwa Jin Chao masih mengingat kebiasaan masa kecilnya yang aneh itu.
Ia tidak bisa menahan diri untuk menatap Jin Chao yang sedang bekerja, lalu menoleh ke San Lai. San Lai tersenyum padanya dengan malas.
Jiang Mu tiba-tiba merasa bahwa ada harapan. Ia menghabiskan nasi gorengnya dengan cepat, menggendong anak anjing hitam itu, dan berjalan ke sisi Jin Chao. Jin Chao meliriknya. Jiang Mu mengangkat anak anjing itu ke hadapannya dan bertanya, "Imut, kan?"
Jin Chao tidak menjawab. Jin Chao pergi ke sisi lain mobil. Jiang Mu mengikutinya lagi, "Kakak San Lai bilang kamu mengizinkanku memeliharanya?"
Jin Chao berjongkok dan mencari sesuatu di kotak peralatannya. Jiang Mu juga berjongkok sambil menggendong anak anjing itu, memiringkan kepalanya untuk menatap Jin Chao, "Anjing ini masih kecil. Aku harus tinggal untuk menjaganya, kan?"
Tanpa mengangkat kepalanya, Jin Chao menjawab, "Aku bukan kakakmu. Harus menjagamu juga?"
"Aku sudah makan wortelnya."
Jin Chao mengangkat kepalanya. Mata Jiang Mu yang berbinar menatapnya, seperti sedang meminta pujian. Ia memindahkan kotak peralatannya ke samping dan berdiri tegak. Jiang Mu memanfaatkan kesempatan itu dan melanjutkan, "Ada juga PR yang belum dikerjakan, harus dikumpulkan besok. Ada di rumah Ayah."
Jin Chao merasa lucu — Jiang Mu masih ingat tentang PR. Ia mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya dan mengulurkan tangannya ke arah Xiao Yang. Xiao Yang melemparkan korek api kepadanya. Jin Chao berjalan beberapa langkah ke samping, menyalakan rokok, dan menatap Jiang Mu dengan tatapan datar, "Coba panggil aku sekali."
Jiang Mu berdiri di ruang perbaikan sambil menggendong anjing itu dan menatap Jin Chao, "Panggil apa?"
Jin Chao mengepulkan asap, nada suaranya penuh tawa, "Seperti tadi malam."
Xiao Yang dan Tiě Gōng Jī menatap mereka berdua seperti menonton pertunjukan. Jiang Mu mengatupkan bibirnya erat-erat. Meskipun ia masih setengah sadar tadi malam, ia masih bisa mengingat — sepertinya, mungkin, ia dengan memalukan memanggil Jin Chao "Kakak." Terutama setelah ia marah dan mengatakan bahwa Jin Chao bukan kakaknya.
Tetapi itu terjadi saat ia tidak sadar. Sekarang, di depan banyak orang, ia tidak akan mau merendahkan diri.
Dengan kesal, ia berbalik dan berjalan menuju ruang istirahat sambil menggendong anjing itu. Saat ia hendak membuka tirai, ia teringat bahwa ia bahkan tidak punya bra untuk diganti — bra yang ia kenakan masih lembap dan basah, sangat tidak nyaman. Berpakaian seperti ini, dengan celana pria yang terus melorot, dan harus pergi ke toko untuk membeli bra — itu sama saja dengan memintanya mati.
Harga diri tidak ada artinya ketika menyangkut kelangsungan hidup. Seorang wanita sejati bisa rendah hati ketika diperlukan. Setelah berjuang dengan batinnya beberapa detik, Jiang Mu berbalik lagi. Jin Chao masih berdiri di tempat yang sama, menatap Jiang Mu sambil memegang puntung rokok di antara jari-jarinya.
Jiang Mu, dengan sandal kartun di kakinya, bergeser perlahan — keluar dari ruang istirahat, melirik Xiao Yang dan yang lainnya sekilas, lalu melihat ke luar bengkel. Setelah memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang memperhatikannya kecuali Jin Chao, ia memanggil dengan suara yang sangat pelan, "Kakak."
Tiě Gōng Jī dan Xiao Yang tidak bisa menahan diri dan tertawa terbahak-bahak. Wajah Jiang Mu memerah, dan bahkan mata Jin Chao pun dipenuhi dengan senyum.
Dengan punggung menghadap Xiao Yang dan Tiě Gōng Jī, Jiang Mu bergeser perlahan lagi menuju Jin Chao. Jin Chao membuang rokoknya dan menginjaknya, lalu menundukkan kepalanya untuk menatap Jiang Mu. Jiang Mu sama sekali tidak berani menatap mata Jin Chao. Ia mengalihkan pandangannya dan berkata dengan suara pelan seperti nyamuk, "Bra... tergantung di jemuran. Jangan lupa ambilkan." Setelah mengatakan itu, ia berlari kembali ke kamar tanpa menoleh ke belakang.
Ketika Jin Chao kembali ke rumah, Jin Qiang bertanya kabar Jiang Mu. Jin Chao mengatakan bahwa Jiang Mu tidak mau kembali dan bersikeras ingin kembali ke Suzhou. Mendengar itu, Jin Qiang pusing dan bertanya balik kepada Jin Chao apa yang harus dilakukan. Jin Chao mengangkat bahunya, "Tidak ada cara lain. Dia sedang marah. Beri waktu beberapa hari dulu."
Jin Qiang hanya bisa berulang kali mengingatkan Jin Chao untuk menjaga Jiang Mu dengan baik. Ia mengatakan bahwa ia akan berbicara dengan Zhao Meijuan dalam beberapa hari ke depan, dan meminta Jin Chao untuk juga berbicara dengan Jiang Mu. Kejadian ini tidak diinginkan oleh siapa pun.
Jin Chao tidak mengatakan apa-apa. Ia masuk ke kamar, mengumpulkan semua kertas ujian dan buku PR yang terbuka di meja Jiang Mu, dan memasukkannya ke dalam tas. Kemudian ia pergi ke balkon untuk mengumpulkan pakaian Jiang Mu. Tiba-tiba ia teringat bahwa Jiang Mu memintanya untuk tidak lupa mengambil bra-nya. Ia melihat selembar kain renda putih kecil tergantung di gantungan, tertiup angin. Sebenarnya, pikiran Jin Chao cukup murni, tetapi ketika ia mengingat ekspresi canggung Jiang Mu, ia juga merasa tidak nyaman. Ia mengalihkan pandangannya dan dengan cepat memasukkan bra itu ke dalam tas.
Setengah jam kemudian, Jin Chao kembali dengan barang-barang itu. Ia meletakkan barang-barang itu dan pergi lagi. Jiang Mu akhirnya bisa mengganti pakaian "nelayan" itu.
Sore harinya, Xiao Yang dan Tiě Gōng Jī sesekali pergi ke ruang istirahat untuk mencari sesuatu, jadi Jiang Mu duduk di meja kecil di depan pintu sambil mengerjakan PR. Lima atau enam mobil datang dan pergi. Duduk di depan pintu agak mengganggu — setiap kali ada mobil yang lewat, ia harus berdiri dan memberi jalan. San Lai melihat Jiang Mu melalui pintu kaca, lalu membuka pintu dan memindahkan meja ke depan tokonya, "Duduk di sini mengerjakan PR."
Jiang Mu sedikit malu, "Apa aku tidak mengganggu bisnismu?"
San Lai tersenyum, "Tidak mengganggu. Nanti isi ulang kartu member saja cukup."
"......"
Jiang Mu meletakkan anak anjing hitam itu di pangkuannya sambil mengerjakan PR. Anak anjing itu sangat patuh — dia tidur dengan lembut di pangkuannya sepanjang waktu.
Sekitar pukul empat sore, sebuah mobil tiba-tiba berhenti di pinggir jalan. Tiga orang pria turun dari mobil dan langsung menuju bengkel. Salah satu dari mereka, seorang pria dengan rambut pendek, berteriak ke dalam bengkel, "Di mana Jiu Ge?"
Jiang Mu sedang memakai headphone, tetapi suaranya begitu keras sehingga ia mengangkat kepalanya untuk melihat. Xiao Yang dan Tiě Gōng Jī berhenti bekerja dan menatap kelompok itu dengan waspada. Pemimpin kelompok, pria berambut pendek, pertama-tama berjalan ke sebuah SUV di depan toko dan menepuk kap mesinnya, lalu berteriak lagi, "Apa aku berbicara dalam bahasa asing? Apa kalian tidak mengerti?"
Xiao Yang menunjukkan ekspresi marah, tetapi Tiě Gōng Jī menepuk bahunya dan melangkah maju. Ia menawarkan sebatang rokok kepada pria itu dan menjawab, "Jiu Ge pergi ke pusat suku cadang mobil. Jika kamu ada urusan..."
Sebelum ia selesai berbicara, pria berambut pendek dengan hoodie bermotif itu mematahkan rokok itu dan meludah, "Kamu ini siapa?"
Jiang Mu melepas headphone-nya dan mengerutkan kening. San Lai juga keluar dari tokonya setelah mendengar keributan. Jiang Mu bertanya dengan suara rendah, "Siapa mereka?"
San Lai mendengus dingin, "Orang-orang dari Bengkel Wanjian."
Saat San Lai mengatakan itu, kelompok itu masuk ke ruang perbaikan dan menendang rak penyimpanan. Sekrup dan suku cadang berhamburan ke lantai dengan suara berisik.
Jiang Mu tiba-tiba berdiri. San Lai menekan bahunya dan berkata, "Jangan pedulikan mereka."
Jiang Mu menatap kelompok itu dengan tajam, "Apa yang mereka lakukan?"
San Lai memberitahunya, "You Jiu bekerja di Wanjian selama lebih dari tiga tahun. Setelah dia keluar dan memulai usahanya sendiri tahun lalu, orang-orang dari sana sering datang mencari masalah. Jangan mendekat."
Setelah mengatakan itu, San Lai berjalan ke sisi lain dengan senyum di wajahnya, "Hei, saudara-saudara. Kalau ada masalah, bicaralah baik-baik. Mencuri dan merusak saat bos tidak ada — bukankah itu tindakan pengecut? Orang akan mengira kalian hanya berani menyerang saat orang lemah. Kita semua berada di area yang sama. Sungguh memalukan."
Pemimpin kelompok, pria berambut pendek, berbalik dan menatap San Lai dengan jijik, "Apa urusanmu, brengsek? Lai, pergi ke samping dan mainkan kucingmu. Kalau bukan karena ayahmu, aku akan menghabisimu juga."
San Lai tampak acuh tak acuh, "Jika kamu ingin mengobrol denganku, aku siap kapan saja. Tapi jangan bawa-bawa ayahku. Dia suka berjudi dan minum, tapi aku adalah warga negara yang baik. Kamu tidak perlu melindungiku hanya karena dia. Aku memang bukan orang baik, tapi aku tidak butuh perlindungan dari preman."
Pria lain berkata kepada pemimpin berambut pendek, "Jangan buang-buang waktu bicara dengan orang gila ini. Dia memang selalu bicara omong kosong."
Pemimpin berambut pendek tahu bahwa ia tidak bisa menyentuh San Lai, jadi ia tidak mau membuang waktu. San Lai sengaja melangkah ke samping dan memberi isyarat kepada Xiao Yang yang menatap dengan marah, lalu melanjutkan, "Apa yang kamu maksud dengan 'omong kosong'? Jika kamu memiliki mata seperti monyet, kamu tidak akan salah mengira pria tampan ini sebagai 'keledai' (Orang bodoh)."
Namun, Xiao Yang sama sekali tidak menangkap isyarat San Lai. Melihat kekacauan di sekitarnya, Xiao Yang sangat marah dan ingin mengayunkan kunci pasnya ke kelompok itu. Pemimpin berambut pendek melihat ekspresi Xiao Yang dan langsung menendangnya hingga jatuh ke lantai, "Apa yang kamu lihat?"
San Lai mengatupkan rahangnya erat-erat. Pria berambut pendek itu kembali menendang ember beras yang tergeletak di samping, lalu mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya. Ia memeriksa mobil-mobil yang terparkir di depan dan memilih mobil BMW termahal, lalu mulai menggoreskan kunci dari pintu depan mobil hingga ke belakang. Namun, tepat sebelum kunci itu mencapai pintu belakang, sesosok bayangan tiba-tiba bersandar di pintu mobil dan menghalangi tangannya. Pria berambut pendek itu mengangkat kepalanya dan melihat seorang gadis berwajah mulus.
Pria berambut pendek itu sedikit terkejut, "Hei, adik, ada apa?"
Jiang Mu menggendong anak anjing hitam dan berkata, "Tanganmu. Lepaskan."
Pria berambut pendek itu memasukkan kuncinya kembali dan merasa tertarik, "Kenapa? Apakah ini tempatmu?"
Jiang Mu mengangguk, "Tebakanmu benar."
Pria berambut pendek itu mundur selangkah dengan heran dan menatap Jiang Mu. Tiba-tiba matanya berbinar, "Kamu pasti gadis yang dicari You Jiu, ya? Memang cantik! Da Guang, Xiang Zi, kemarilah!"
San Lai segera melangkah maju dan mencoba menarik mereka pergi, "Jangan main-main. Dia masih anak kecil."
Namun, Da Guang, yang beratnya hampir seratus kilogram, meletakkan tangannya di bahu San Lai dan menahannya. Xiang Zi dan pria berambut pendek itu segera mengepung Jiang Mu dengan ekspresi yang menjijikkan.
Anak anjing hitam yang berbaring di pangkuan Jiang Mu sepertinya merasakan sesuatu—tiba-tiba dia menggonggong dengan suara kecil yang marah ke arah pria berambut pendek itu.
Pria berambut pendek itu mendengus kesal, "Berlagak jadi Labrador!"
Sambil berkata, ia mencengkeram bagian belakang leher anak anjing itu dan menariknya dari pelukan Jiang Mu, membawanya seperti kantong plastik hitam di tangannya. Ia hendak mengganggu Jiang Mu.
Jiang Mu mengeluarkan ponsel dari sakunya, membuka kamera, dan mengarahkannya ke arah mereka. Pria berambut pendek itu terkejut sejenak—tindakannya berhenti—lalu ia berteriak, "Dasar perempuan brengsek! Kamu mau mati? Matikan ponselmu!"
Pria berambut pendek mengangkat tangannya dan hendak menampar ponsel Jiang Mu. Tetapi sebelum tangannya menyentuh Jiang Mu, tangannya dengan keras dibuka. Kemudian bahu Jiang Mu terasa berat. Ia mengangkat kepalanya dan melihat Jin Chao yang melindunginya. Wajah Jin Chao tampak sangat dingin dan marah—ia melangkah mendekati pria berambut pendek dengan tatapan yang mengancam. Pria berambut pendek itu sedikit pucat dan tanpa sadar mundur.
Jin Chao melirik Xiao Yang yang tampak kacau, lalu melihat ke pintu mobil BMW di sampingnya, dan akhirnya menatap anak anjing hitam yang digantung di tangan pria berambut pendek itu. Ia mengangkat tangannya ke arah pria itu dan menunjuk dengan matanya ke arah anak anjing itu. Entah karena auranya yang sangat menekan, pria berambut pendek yang tadi begitu sombong itu benar-benar mengembalikan anak anjing itu kepada Jin Chao.
Jin Chao memberikan anak anjing itu kepada Jiang Mu dan menarik Jiang Mu ke belakang. Dengan ekspresi yang tenang namun kejam, Jiang Mu menatap pria berambut pendek itu dan berkata dengan suara rendah, "Jika kamu merusak mobilku, aku masih bisa memperbaikinya. Tetapi jika kamu menyentuh orangku, kau tampaknya sudah bosan hidup."
Setelah mengatakan itu, Jin Chao mengangkat tinjunya. Pria berambut pendek itu mengira Jin Chao akan memukulnya, jadi dia menunduk untuk menghindar. Tetapi Jin Chao tidak menyentuhnya sama sekali — tinjunya melenceng dan menghantam wajah Da Guang. Kemudian Jin Chao menambahkan satu tendangan. Dalam hal tinggi badan, Da Guang tidak setinggi Jin Chao; dia hanya lebih gemuk. Namun, lemaknya tidak berguna, dan dia langsung jatuh ke tanah. Tanpa cengkeraman Da Guang, San Lai bebas dan segera memeluk pria berambut pendek itu dari belakang sambil berteriak, "Aduh, jangan berkelahi! Kita semua mantan rekan kerja. Buat apa berkelahi? Damai itu lebih baik!"
San Lai berpura-pura melerai, tapi ia memutar lengan pria berambut pendek itu ke belakang. Jin Chao tidak ragu-ragu dan langsung memukul pria berambut pendek itu beberapa kali.
Keduanya bergerak dengan sangat cepat dan terkoordinasi sehingga Jiang Mu tercengang. Di sisi lain, Tiě Gōng Jī dan Xiao Yang masing-masing mengangkat kunci pas ke arah kepala Da Guang. Melihat situasi itu, Da Guang duduk di tanah dan tidak berani bergerak.
Mungkin karena anak anjing hitam itu terus merengek, induknya, Xishi, akhirnya tidak tahan. Ia berlari keluar dari toko hewan peliharaan sambil menggonggong dengan keras dan menerkam Da Guang, menggigit lengannya dan tidak melepaskannya. Da Guang yang ketakutan berteriak, "Mengapa selalu aku yang jadi sasaran? Apa yang aku lakukan?"
Di seberang jalan, beberapa ayam yang dipelihara dengan bebas di depan restoran kecil, setelah melihat ember beras yang terguling, mengepakkan sayap dan berbondong-bondong mendekat, mematuk-matuk beras di sekitar pintu bengkel dengan paruh mereka.
Pemandangan itu benar-benar kacau balau — ayam beterbangan, anjing menggonggong, dan semakin banyak orang di pinggir jalan yang keluar untuk menonton. Di tengah kekacauan itu, Xiang Zi mengambil palu dari tanah dan bergegas ke belakang Jin Chao, hendak menyerangnya. Jiang Mu menoleh dan melihat seorang pria kurus kering yang mengangkat benda seperti palu besar, berlari seolah-olah dia rela mengorbankan dirinya demi saudaranya.
Karena itu, Jiang Mu melangkah maju beberapa langkah sambil menggendong anak anjing hitam, dan dengan diam-diam mengulurkan kakinya. Detik berikutnya, bersamaan dengan palu yang terlempar ke samping, wajah Xiang Zi membentur tanah tepat di samping tumit Jin Chao dengan suara "dug". Jin Chao mendengar suara itu dan menoleh — apa yang ia lihat adalah Xiang Zi yang bersujud di tanah di depannya.
Jiang Mu melangkah ke samping, menyembunyikan peran dan jasanya.
Catatan Penerjemah:
[Shijiazhuang atau 石家庄 adalah nama sebuah kota besar di Tiongkok. Lebih tepatnya, ini adalah ibu kota Provinsi Hebei, terletak di bagian utara Tiongkok dan relatif dekat dengan Beijing. Kota ini memiliki populasi lebih dari 10 juta jiwa dan dikenal sebagai pusat industri serta transportasi yang penting, terutama untuk produk farmasi, mesin, dan tekstil.]
[Northface Outlets atau lebih tepatnya "北国奥特莱斯" (Běiguó Àotèlái Sī) adalah sebuah pusat perbelanjaan besar yang terletak di kota Shijiazhuang, Provinsi Hebei, Tiongkok]
["permen jeli khas Tiongkok" "阿胶糕 (Ā jiāo gāo)" adalah camilan kesehatan tradisional Tiongkok yang populer. Terbuat dari 阿胶 (ē jiāo) — gelatin yang terbuat dari kulit keledai, dicampur dengan kacang kenari, biji wijen hitam, kurma merah, gula merah, dan anggur masak. Berbentuk seperti permen padat, lengket, dan kenyal. Dalam pengobatan Tiongkok, diyakini dapat menyehatkan darah, menghangatkan tubuh, dan meredakan nyeri haid — itulah sebabnya Jin Chao mencarinya untuk Jiang Mu yang sedang sakit perut]
[三阴交 (Sān Yīn Jiāo) adalah salah satu titik akupunktur yang paling penting dan sering digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok, terutama untuk masalah kesehatan wanita. Sān Yīn Jiāo artinya "Pertemuan Tiga Yin" — dinamakan demikian karena ini adalah titik pertemuan dari tiga meridian Yin di kaki (Limpa, Ginjal, dan Hati). Terletak Di bagian dalam betis, sekitar 3-4 jari di atas mata kaki (tepat di belakang tulang kering). Dalam pengobatan Tiongkok, titik ini dipercaya dapat: Meredakan nyeri haid (dismenore), Melancarkan peredaran darah, Mengatasi gangguan pencernaan, Membantu masalah tidur dan kecemasan.]
Komentar
Posting Komentar