Legend of the Female General-Bab 238 Raja dan Subjek
Setelah Yan He pergi, langit berangsur-angsur menjadi gelap. Lin Shuanghe juga harus pergi. Sebelum pergi, ia berpesan kepada Xiao Jue: "Ingatlah untuk memberikan obatnya pada He meimei. Setelah meminumnya, ia harusnya segera bangun. Aku akan datang lagi besok. Huai Jin, jangan terlalu khawatir."
Setelah mengantar Lin Shuanghe pergi, meskipun He Sui dan He Yunsheng sangat mengkhawatirkan He Yan, dengan Xiao Jue yang berjaga di samping tempat tidur He Yan, mereka merasa tidak pantas untuk masuk. He Sui dengan paksa menarik He Yunsheng pergi.
Obat di dalam mangkuk perlahan mendingin. Xiao Jue menopang He Yan, mengambil mangkuk, dan dengan hati-hati menyendokkan sesendok ke dalam mulutnya. Cairan itu mengalir keluar dari sudut bibirnya. Xiao Jue buru-buru meletakkan mangkuk dan mengambil sapu tangan untuk menyeka sisa obat dari mulut He Yan, ia sedikit mengernyit.
Wajah He Yan masih pucat. Ia selalu riang, tersenyum dan tertawa, sosok ceria yang masih bisa bercanda dan memberi tahu orang lain untuk tidak khawatir meskipun ia sendiri terluka parah. Ini pertama kalinya ia melihat He Yan tampak kesakitan, bahkan dalam mimpinya.
Ia mengulurkan tangan dan membelai lembut puncak kepala He Yan. Menoleh ke arah mangkuk berisi obat yang hampir dingin di atas meja, ia ragu sejenak lalu akhirnya mengambil keputusan. Mengambil mangkuk itu lagi, ia menundukkan kepala dan meneguknya.
Gadis di tempat tidur itu memejamkan mata rapat-rapat, bulu matanya sedikit terkulai, memperlihatkan kerapuhan yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Tatapan mata pemuda itu terpaku padanya, tubuhnya agak kaku. Setelah bergulat dengan batinnya, ia perlahan membungkuk dan menempelkan bibirnya ke bibir gadis itu.
Obatnya tidak lagi panas, hanya hangat, suhunya pas. Saat ia selesai menyuapi He Yan, telinganya sudah memerah. Menghela napas lega, ia duduk tegak dan menyelimuti He Yan dengan selimut.
Menjadi seorang pria bangsawan yang memperhatikan tatakrama bukanlah seuatu yang menjadi pertimbangan bagi Xiao Jue. Dulu, ia selalu bertindak berdasarkan perasaannya. Hanya dengan gadis di hadapannya ia merasa terbebani kekhawatiran, selalu takut membuatnya punya perasaan membenci.
Xiao Jue mengeluarkan mangkuk kosong itu. Begitu ia melangkah keluar, ia melihat seorang anak laki-laki berjongkok di bawah atap di seberang halaman, menggambar sembarangan di tanah yang tertutup salju dengan ranting pohon.
Itu He Yunsheng.
Melihat Xiao Jue keluar, mata He Yunsheng berbinar. Xiao Jue membawa mangkuk kosong itu ke dapur. Saat ia kembali, He Yunsheng sudah berdiri didepan pintu kamar He Yan, menatap Xiao Jue seolah ingin mengatakan sesuatu.
Xiao Jue menutup pintu kamar He Yan agar angin tidak masuk lalu menoleh ke arah He Yunsheng. "Ada yang ingin kau katakan padaku?"
He Yunsheng menelan ludah.
Dulu, ia sangat mengagumi dan menghormati Xiao Jue. Mungkin semua pemuda di Ibukota Shuo merasakan hal yang sama. Kapan itu berubah? Mungkin sejak He Yan mengambil tanggung jawab atas pembunuhan Fan Cheng di Sungai Chunlai, dan berhasil memancing para pengejarnya pergi. He Yunsheng tiba-tiba menyadari bahwa mengagumi orang lain saja tidak ada gunanya. Hanya dengan menjadi kuat, ia dapat melindungi He Yan, He Sui, dan orang-orang yang ingin ia lindungi. Daripada menaruh perhatian pada seseorang yang jauh, lebih baik ia berusaha lebih keras untuk memperbaiki diri.
Kemudian, He Yan kembali dan menjadi Marquis Wu'an, bahkan membawa kembali seorang tunangan.
Tunangan itu ternyata tidak lain adalah Xiao Jue.
He Yunsheng tidak menyimpan dendam sedikit pun terhadap Xiao Jue. Perlawanan yang ditunjukkannya bermula dari kecemasannya terhadap He Yan. He Yan hampir kehilangan nyawanya karena Fan Cheng. Siapa yang bisa memastikan bahwa Xiao Jue bukan Fan Cheng yang lain?
Namun hari ini ia juga menyaksikan bagaimana ketika He Yan pingsan, Xiao Jue terus berjaga di samping tempat tidurnya, menyeka tangannya dan menyiapkan obatnya, tidak pernah meninggalkannya sedetik pun. Ia berpikir bahwa Xiao Jue pasti benar-benar peduli pada kakaknya, dan rasa sayang itu lebih dalam dari yang dibayangkannya dan He Sui.
"Jenderal Xiao," anak laki-laki itu memulai, merasa khawatir namun tegas, "apakah kau akan selalu memperlakukan He Yan sebaik ini?"
Xiao Jue menatapnya dengan sedikit terkejut. Setelah jeda, ia menjawab, "Aku akan selalu memperlakukannya dengan sangat baik."
"Kakakku... sangat berbeda dari wanita lain," kata He Yunsheng setelah berpikir sejenak. "Tidak ada yang bisa menghentikannya melakukan apa yang ingin ia lakukan. Dan tidak ada yang bisa memaksanya melakukan apa yang tidak ia inginkan, apa pun yang terjadi."
"Tapi dia orang baik. Jangan sakiti dia." Suara He Yunsheng berubah serius. "Jika kau menyakitinya, bahkan dengan mengorbankan segalanya, aku akan membuatmu menerima akibatnya."
Xiao Jue menatapnya cukup lama lalu tersenyum. "Baiklah." Setelah jeda, ia menambahkan, "Tapi kau tidak akan mendapatkan kesempatan itu."
He Yunsheng juga tersenyum. "Ini percakapan antara dua pria. Jangan beri tahu He Yan setelah dia bangun."
Xiao Jue menundukkan pandangannya ke tumpukan salju di tanah. Halaman belum sepenuhnya disapu, meninggalkan lapisan tipis es. Ia bertanya kepada He Yunsheng, "Kau sangat peduli pada He Yan?"
Anak laki-laki itu secara spontan ingin menyangkalnya, tetapi kata-kata itu tertahan di lidahnya. Ia mendesah, lalu berkata, "Dia kakakku."
He Yan adalah Kakak perempuannya. Meskipun He Yan selalu menindas, memarahi, dan mencuri kue-kue kesukaannya sejak kecil, dia juga akan berdiri di hadapannya, diam-diam melindunginya.
Di dunia ini, selain He Sui, merekalah yang paling dekat satu sama lain. Bagaimana mungkin dia tidak peduli?
"Baguslah," kata pemuda itu lembut. "Nanti, teruslah peduli padanya seperti ini."
"Tentu saja, aku akan selalu peduli padanya." He Yunsheng tidak kuasa menahan diri untuk melirik pemuda di sampingnya lagi. Entah kenapa, kekhawatirannya sebelumnya telah sirna.
Xiao Jue... adalah tipe orang yang berbeda dari Fan Cheng.
...
He Yan bermimpi sangat panjang.
Dalam mimpi itu, ia masih anak-anak dan mengenakan topeng. Saat itu, ia belum belajar di Akademi Xianchang dan merupakan makhluk menyedihkan yang hanya bisa tinggal di rumah besar dan selalu menyelinap keluar melalui lubang anjing setiap hari. Suatu pagi, ia pulang setelah mengambil air untuk para biksu di Gunung Kaisar Timur. Saat merangkak kembali melalui lubang anjing, ia tidak sengaja bertemu seorang pelayan yang bangun pagi untuk membuang sisa dupa yang digunakan tadi malam. Karena terkejut, ia berbalik dan berlari, bertabrakan dengan seseorang.
Rok wanita itu sangat harum, bagaikan bunga musim semi, begitu manis hingga membuat orang betah berlama-lama. Suaranya juga lembut, dengan sedikit tawa.
Sepasang tangan membantunya berdiri.
Mata wanita itu agak mirip dengannya. Tatapan yang menatapnya lembut. Ia menarik He Yan ke sisinya, melindunginya dari pandangan pelaya tadi. Setelah pelayan itu pergi, ia menepuk tangan He Yan dengan lembut dan berkata, "Tidak apa-apa sekarang, mereka sudah pergi. berati-hatilah."
He Yan mengenakan topeng, jadi orang lain tidak bisa melihat wajahnya. Namun, ia berpikir bahwa saat itu, di balik topeng itu, ia pasti terlihat linglung dan penuh kerinduan untuk mendekat.
Wanita itu berbalik dan pergi. He Yan mengikutinya dari belakang, ingin memanggilnya ibu. Namun entah mengapa, meskipun jaraknya dekat, ia tidak mampu mengejarnya. Ia menatap tidak berdaya saat wanita itu berjalan semakin menjauh hingga menghilang dari pandangan. Ia jatuh ke tanah, merasa sedih sekaligus bersalah, dan tidak kuasa menahan isak tangisnya.
"He Yan?" Seseorang sepertinya memanggil namanya.
He Yan membuka matanya dan bertemu dengan tatapan Xiao Jue yang cemas. Wajahnya terasa dingin. Ia memegang wajahnya dan mendapati wajahnya basah oleh air mata.
Dalam sekejap, ia mengerti segalanya.
Peristiwa di panggung Tianxing terputar kembali di benaknya. Ia memejamkan mata, rasa sakit menerpanya bagai gelombang pasang.
"Ibuku, dia..." Saat ia mengucapkan sepatah kata, air matanya mengalir deras.
He Yan mengira meskipun ia dan Nyonya kedua He adalah ibu dan anak dalam nama, mereka tidak memiliki perasaan yang mendalam. Selama ini ia merindukan kasih sayang seorang ibu, Nyonya kedua He selalu tidak ada untuknya. Itu bukan dendam, tetapi pasti ada rasa bersalah. Bahkan setelah kelahirannya kembali, ia tidak pernah tahu sikap apa yang harus ia tunjukan ketika menghadapi Nyonya Kedua He lagi. Sekarang, tidak akan pernah ada kesempatan.
"Yang Mulia telah mengizinkanku untuk mengurus pemakaman Nyonya kedua He," kata Xiao Jue lembut. "He Yan..." Ia tidak bisa memikirkan kata-kata untuk menghibur gadis di hadapannya. "Kau tidak perlu menahan diri. Menangislah jika kau mau."
Cui Luo sudah memberitahu semuanya. Nyonya kedua He sudah lama mempersiapkan hari ini. Racun itu tidak diberikan oleh He Rufei, melainkan disembunyikan oleh Nyonya He sendiri. Ia sudah bertekad untuk mati, dan dengan kesehatannya, ia toh tidak akan hidup lebih lama lagi. Ia mendapatkan token untuk masuk ke panggung Tianxing dari Cui Luo, lalu memanfaatkan ketidakpedulian keluarga He padanya untuk merangkak keluar melalui lubang anjing yang digali He Yan, bergegas ke sana hanya untuk menggunakan hidupnya demi menjadi bukti terakhir bagi He Yan.
Kesepakatan yang dibuat dengan Xiao Jue adalah caranya melindugi He Xinying, sekaligus kebebasan yang ia atur untuk He Yan.
Xiao Jue selalu meremehkan siasat para wanita di istana belakang (Haren) untuk memanipulasi orang lain, dan metode Nyonya He memang tidak mengesankan sejak awal. Ia mencoba menciptakan ilusi bahwa ia lebih memihak He Xinying, tetapi ia tetap peduli pada He Yan. Pada akhirnya, ia mengorbankan nyawanya sendiri untuk membersihkan nama baik He Yan dari ketidakadilan di kehidupan sebelumnya. Jika seorang ibu tidak mencintai putrinya, ia tidak akan pernah bertindak sejauh ini.
Namun, jika ini adalah keinginan terakhirnya, Xiao Jue bersedia bekerja sama dan membiarkannya merasakan sedikit kepuasan atas keberhasilan rencananya.
Sepanjang hidupnya, Nyonya keduda He jarang sekali memiliki momen di mana ia bisa menentukan nasibnya. Ia tidak bisa memilih kelahirannya, tetapi ia bisa memilih kematiannya, menggunakannya untuk membuka jalan bagi kedua putrinya, meskipun ia sendiri tidak akan pernah melihat hasilnya.
He Yan tersedak, "Xiao Jue, aku tidak punya ibu lagi... Di masa depan, aku tidak akan punya ibu."
Tidak peduli seberapa jarang kata "ibu" muncul dalam hidupnya, selama orangnya masih ada, mungkin secercah harapan masih tersisa. Namun dengan kepergian Nyonya He, ia tidak akan pernah punya kesempatan lagi. Fantasi memiliki ikatan ibu-anak akan selamanya menjadi fantasi, tidak akan pernah terwujud.
Langit begitu kejam menghapus kesempatan ini, membuatnya sangat menyesal tidak berbicara lebih banyak kepada Nyonya Kedua He, saat terakhir kali mereka bertemu di Kuil Yuhua.
Xiao Jue menatap He Yan, hatinya sakit. Tentu saja ia mengerti rasa sakit yang dirasakan He Yan saat ini karena ia juga pernah mengalaminya di masa lalu.
Jika itu penderitaan fisik, ia bisa menanggungnya menggantikan He Yan. Namun, kesedihan karena kehilangan orang terkasih ini adalah sesuatu yang tidak seorang pun mampu tanggung untuknya.
"Apa yang dia katakan padamu sebelum meninggal?" tanya He Yan.
Saat itu, hanya Xiao Jue yang berada di sisi Nyonya He. Tidak seorang pun mendengar kata-kata terakhir mereka. Dia tidak tahu apa yang dikatakan Nyonya He di saat-saat terakhirnya, apakah ada sesuatu yang dimaksudkan untuknya.
"Dia berkata," Xiao Jue berhenti sejenak sebelum melanjutkan perlahan, "'Teratai yang bergoyang dalam riak lembut, betapa luas dan tak berujungnya seperti samudra yang perkasa...'"
"Dia mencintaimu dan ingin kau hidup dengan baik."
Ruangan itu langsung dipenuhi isak tangis He Yan yang tertahan.
Setelah waktu yang entah berapa lama, ruangan itu menjadi sunyi. He Yan menyeka air mata dari wajahnya, suaranya perlahan kembali tenang. "Xiao Jue, bagaimana dengan adik perempuanku, He Xinying, setelah Yang Mulia menyita kediaman He dan Xu?"
"Dia tidak terlibat dalam masalah ini. Jika..."
"Aku akan menjelaskannya kepada Yang Mulia. Jangan khawatir." Xiao Jue terdiam sejenak lalu mengulurkan tangan untuk memeluknya. Ia berkata dengan lembut, "He Yan, aku akan selalu bersamamu."
...
Di istana.
Di gedung tempat Selir Lan tinggal, Pangeran Keempat menatap lilin yang menyala, tenggelam dalam pikirannya.
"Apakah kau datang ke sini hanya untuk melamun?" Kata-kata Selir Lan menyadarkan Guangshuo dari lamunannya.
Setelah tersadar dari lamunannya, Guangshuo berkata, "Ibu, aku baru saja memikirkan apa yang terjadi di Panggung Tianxing hari ini."
Peristiwa hari ini membuat seluruh istana Wei Agung terkejut.
"Siapa sangka Jenderal FeiHong ternyata seorang wanita?" Guangshuo masih sulit mempercayainya. "Jadi wanita juga bisa berperang dan menjadi jenderal hebat."
"Ah, jangan remehkan wanita." Selir Lan tersenyum dan mengambil cangkir teh di depannya. Suaranya ringan. "Kalian para pria bertempur di medan perang sementara para wanita bertempur di halaman belakang (Harem). Keduanya tidak lebih mudah dari yang lain. Di antara semua wanita di dunia, apa yang bisa dilakukan pria, wanita juga bisa. Hanya saja terlalu sedikit yang mau menonjol. Guangshuo, ingatlah, jika kau meremehkan wanita, kau akan menderita kerugian besar di masa depan."
Guangshuo berkata dengan hormat, "Putramu akan mengingatnya." Setelah jeda, ia menghela napas, "Tapi Jenderal Fei Hong, Nona Pertama He, tetap dikhianati dan dibunuh oleh keluarganya sendiri pada akhirnya. Keluarga He benar-benar kejam, bahkan rela mencelakai putri mereka sendiri."
Selir Lan tersenyum acuh tak acuh. "Bukannya waktunya belum tiba, tetapi momennya belum tiba. Penyebabnya ditabur oleh keluarga He, bukankah sudah waktunya bagi mereka untuk menuai akibatnya?"
"Itu benar." Guangshuo mengangguk mendengar kata-kata selir Lan. "Sekarang Ayah Kaisar sedang menyelidiki dan menyita kediaman He dan Xu dengan bukti yang meyakinkan, keluarga He jelas tidak bisa membalikkan keadaan. Kurasa ini bisa sedikit menghibur Jenderal He yang sebenarnya di akhirat sana."
Selir Lan menatap Pangerah Guangshuo, tersenyum tanpa berkata apa-apa.
"Ibu, mengapa kau menatap putramu seperti itu?"
"Bagaimana pendapatmu tentang masalah Menteri Xu?" tanya Selir Lan.
Guangshuo terkejut.
"Xiao Huaijin dan Menteri Xu kini telah benar-benar saling menghancurkan sekarang. Karena Xiao Huaijin telah mengirim Menteri Xu ke penjara, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kurasa dia seharusnya memiliki bukti lain di tangannya."
"Putramu juga percaya begitu," jawab Guangshuo. "Hanya saja..."
"Hanya apa?"
"Aku khawatir Ayah Kaisar tidak akan bersikap keras pada Menteri Xu."
"Ayahmu adalah pria yang berpegang teguh pada masa lalu." Selir Lan menatap ke kejauhan. "Dulu ketika Ayah Kaisarmu naik takhta, Menteri Xu-lah yang membantunya mengamankan posisi itu. Tentu saja, ia memiliki rasa terima kasih khusus pada Menteri Xu yang tidak dimiliki orang lain. Namun, ayahmu sudah tua."
Guangshuo menatap wanita di hadapannya.
"Seorang kaisar yang sudah tua akan membuat rencana untuk masa depan. Sebagaimanapun mengecewakannya ayahmu, ia tentu tidak ingin sungai dan gunung Wei Agung hancur di tangannya. Demi Putra Mahkota atau pewaris masa depan, Kaisar akan menghukum Menteri Xu. Guangshuo, jika kau ingin bersaing, kau harus bersaing untuk mendapatkan hati Xiao Huaijin."
"Dalam peperangan, ada pepatah yang mengatakan menyerang hati adalah strategi tertinggi. Xiao Huaijin melakukan ini untuk membalas dendam terhadap kematian ayahnya. Jika kau menambahkan sedikit kekuatan saat ini, itu akan seperti mengirim arang di cuaca bersalju."
Guangshuo terdiam beberapa saat lalu berkata, "Ibu, putramu mengerti."
"Kau baik hati seperti ayahmu." Selir Lan menatapnya dengan lembut. "Aku tahu kau tidak suka perebutan kekuasaan dan manipulasi, tapi Guangshuo, jika kau ingin menjadi kaisar, kau harus belajar memerintah rakyatmu. Ini bukan hal yang buruk. Karena kau lahir di istana dan ingin menentukan takdirmu, kau harus melakukannya. Di dunia ini, tidak ada solusi yang sempurna. Lihatlah ayahmu – dia selalu riang sepanjang hidupnya, tetapi pada akhirnya, bukankah dia juga tertekan?"
Guangshuo tidak menjawab.
Lilin menetes ke seluruh meja bagaikan air mata merah. Aula besar itu sunyi senyap, hanya aroma dari lengan baju wanita itu yang menembus ke dalam atmosfer yang luas dan dingin.
...
Xiao Jue memasuki istana di tengah malam.
Ketika kasim mengumumkan kedatangannya di ruang belajar kekaisaran, Kaisar Wenxuan belum juga beristirahat. Meja dipenuhi dengan tugu peringatan dan dokumen kasus yang berserakan sembarangan. Kaisar sama sekali tidak berniat membacanya.
Ia bukanlah seorang Pemimpin yang rajin. Mungkin dalam beberapa tahun pertama setelah naik takhta, ia telah mencoba untuk menjadi seorang kaisar yang rajin, tetapi kemudian, ia menyerah. Di dunia ini, ada kaisar yang pekerja keras dan juga yang biasa-biasa saja. Hampir sepanjang hidupnya, Kaisar Wenxuan merasa tidak ada yang salah dengan menjadi kaisar biasa-biasa saja. Yang ia inginkan hanyalah menjalani kehidupan biasa seperti ini. Ketika saatnya tiba, ia akan mewariskan takhta kepada putranya, dan itu sudah cukup.
Ia memang telah menjalani sebagian besar hidupnya dengan cara ini. Terkadang Kaisar Wenxuan sendiri menganggapnya cukup baik. Tidak seperti ayahnya yang khawatir dan bekerja keras setiap hari, dan tidak seperti kaisar-kaisar sebelumnya yang secara pribadi memimpin pasukan ke medan perang, hidupnya lebih mudah daripada mereka semua dan juga berumur panjang.
Bukankah Wei Agung baik-baik saja? Selama dia bisa mempekerjakan orang, dengan para jenderal yang menjaga wilayah dan pejabat sipil yang memerintah istana, era itu masih bisa damai dan makmur. Hingga hari ini, ketika semua yang ia yakini benar telah dijungkirbalikkan, Kaisar Wenxuan duduk di sana dan tiba-tiba menyadari bahwa selama ini, ia bukanlah seorang kaisar yang benar-benar baik.
Ia memang tidak ditakdirkan menjadi kaisar sejak awal. Seandainya ia tidak terlahir dalam keluarga kekaisaran, ia pasti lebih suka menjadi pangeran yang malas, putra pejabat biasa, atau bahkan putra saudagar kaya. Tanpa ambisi atau bakat besar, ia akan puas menulis puisi, melukis, dan menikmati kesenangan hidup, alih-alih duduk di posisi di mana setiap langkahnya memengaruhi hidup dan mati jutaan orang. Jika ia berbuat buruk, orang-orang akan mengutuknya di belakangnya. Jika ia berbuat baik, orang lain akan menganggapnya wajar saja.
Seorang kaisar yang mendambakan kebebasan merupakan tabu besar bagi keluarga kerajaan. Ia menyembunyikan pikirannya yang sebenarnya jauh di dalam, tetapi ternyata, semua orang dapat melihatnya.
Xiao Jue masuk.
Kaisar Wenxuan menatap pemuda di hadapannya.
Ia masih ingat pertama kali Xiao Zhongwu membawa Xiao Jue ke hadapannya. Xiao Jue masih muda saat itu, sungguh tampan, bahkan mengalahkan para pangeran kekaisaran dengan ketampanannya. Sikapnya angkuh, namun juga membawa sedikit kesan acuh tak acuh, sangat berbeda dari kakak laki-lakinya yang lembut dan sopan. Saat itu, Kaisar Wenxuan berpikir dalam hati, Xiao Zhongwu, prajurit itu, ternyata memiliki dua putra yang luar biasa, yang cukup patut ditiru. Siapa yang sangka dalam sekejap mata, Xiao Jue telah tumbuh begitu besar? Kehijauan masa mudanya telah sepenuhnya memudar. Tatapan yang menatapnya tenang dan penuh hormat, namun juga menyimpan jejak ketidak pedulian.
Tiba-tiba ia teringat Xiao Zhongwu.
"Sekarang setelah kulihat, kau memang agak mirip ayahmu," kata Kaisar Wenxuan.
Ia selalu merasa Xiao Jue mirip Nyonya Xiao dalam penampilan, dengan wajah cerah dan cantik, tetapi sebenarnya, ketajaman dan ketenangannya semua berasal dari ayahnya.
"Yang Mulia masih ingat ayahku?" tanya Xiao Jue dengan tenang.
Kaisar Wenxuan terkejut.
Ia mengira setelah sekian lama, ingatannya akan memudar, tetapi ketika ia mengingatnya sekarang, bayangan Xiao Zhongwu begitu jelas. Pria jangkung yang selalu mengenakan baju zirah emas dan membawa pedang, tidak seperti para pejabat sipil terpelajar di istana, bagaikan angin barat laut – garang, tidak terkendali, dan penuh dengan keberanian yang terus terang yang membuat iri semua orang yang mendambakan kebebasan.
Kaisar Wenxuan juga merasa iri.
Namun pada akhirnya, Xiao Zhongwu meninggal, dan keluarga Xiao hampir runtuh. Jika bukan karena pemuda di hadapannya yang memimpin tiga ribu pasukan ke Kota Guo, mungkin tidak akan ada lagi keluarga Xiao di Wei Agung.
Ia menatap Xiao Jue. "Dulu, apakah kau membenci Kami?"
"Pejabat rendahan ini tidak akan berani."
Kaisar Wenxuan tertawa pelan. Ia tidak berani—itu artinya ia berani. Di bawah langit, hanya pria di hadapannya yang berani mengatakan hal ini langsung di hadapannya, namun ia tidak merasa marah. Mungkin karena, selama bertahun-tahun, tidak seorang pun berani mengatakan kebenaran di hadapannya.
"Yang Mulia," kata Xiao Jue, "pejabat rendah ini memohon Yang Mulia untuk mengampuni nyawa istri dari Akademisi Hanlin Xu Zhiheng, He Xinying."
"He Xinying?"
"Adik kandung dari Nona pertama He, Jenderal Fei Hong yang asli," jelas Xiao Jue. "Setelah Nona Pertama He terbunuh karena konspirasi dan tenggelam di kolam, keluarga He menikahkan adiknya, He Xinying, untuk menjadi istri kedua Xu Zhiheng." Ia menatap Kaisar Wenxuan. "Nyonya kedua He sudah meninggal. Nona He Xinying adalah satu-satunya kerabat Jenderal Fei Hong yang masih hidup di dunia ini. Lagipula, subjekmu sudah menyelidiki – He Xinying adik kandungnya Jenderal Fei Hong sama sekali tidak tahu bahwa Jenderal Fei Hong dan He Rufei bertukar identitas."
"Yang Mulia sungguh baik hati. Mohon ampuni nyawa He Xinying demi mendiang Jenderal Fei Hong."
"Ah, Jenderal Fei Hong..." gumam Kaisar Wenxuan.
Segala yang terjadi di Panggung Tianxing hari ini berawal dari Jenderal Fei Hong. Namun, ia sungguh tidak menyangka bahwa Fei Hong yang ia tunjuk saat itu adalah seorang wanita.
Ketika He Rufei melepas topengnya, menampakkan wajah tampannya, Kaisar Wenxuan bahkan meragukan apakah klaim bahwa ia memiliki tanda lahir dan penampilannya yang buruk itu salah. Kini, tampaknya keluarga He telah memulai penipuan besar mereka sejak saat itu.
Seandainya Nona Pertama He masih hidup, Kaisar Wenxuan mungkin masih akan menghukumnya atas kejahatan menipu kaisar. Namun, Nona Pertama He telah wafat dan meninggal dengan sangat tragis. Kematian seseorang, bagaikan lampu yang padam, tidak seorang pun mengingat hal-hal buruk semasa hidupnya. Ketika memandang orang yang telah meninggal, orang cenderung sangat pemaaf, merasa mereka yang meninggal tidak memiliki kesalahan sama sekali.
"Lupakan saja, biarkan dia hidup." Kaisar Wenxuan mendesah. "Lagipula, Jenderal Fei Hong memang benar-benar maju berperang untuk Wei Agung dan memadamkan pemberontakan orang Qiang Barat."
"Subjek ini berterima kasih atas rahmat ilahi Yang Mulia atas nama Jenderal Fei Hong."
Kaisar Wenxuan memandang Xiao Jue dan tersenyum. "Kudengar kau dan Jenderal Fei Hong dulu teman sekelas. Melihatmu membantunya dengan begitu gigih, sepertinya kau juga pria yang menghargai ikatan lama. Jika Jenderal Fei Hong mengetahui hal ini di akhirat, dia seharusnya merasa senang."
Xiao Jue tidak menjawab. Kaisar Wenxuan melambaikan tangannya. "Kau bisa pergi."
Saat pemuda itu memberi hormat dan hendak pergi, Kaisar Wenxuan memanggilnya lagi.
Suara kaisar terdengar sangat lelah. "Selama ini, Aku telah memperlakukan Menteri Xu dengan baik. Bagaimana mungkin Menteri Xu masih menyimpan pikiran untuk mengkhianatiku?"
Kasim menundukkan kepalanya, tidak berani berbicara.
Setelah beberapa saat, pemuda itu menjawab dengan acuh tak acuh, "Kebaikan yang berlebihan menyebabkan kesombongan, dan terlalu banyak kebaikan menimbulkan kebencian. Mungkin Yang Mulia memperlakukannya terlalu baik."
Komentar
Posting Komentar