Legend of the Female General-Bab 211 Pengasuh Qin

Selama dua hari berikutnya, He Yan terus menunggu kabar dari Fu wang. Sayangnya, terlepas dari apakah Xu Zhiheng juga sedang mencari keberadaan Pengasuh Qin atau tidak, pencarian Fuwang tidak berjalan mulus. Sementara itu, pada malam He Yan dan Xiao Jue bertemu dengan Nyonya Fan, seseorang memang mencoba menyelinap ke penjara untuk membungkamnya.

Berkat peringatan Xiao Jue, Hakim Liu telah menambah jumlah penjaga yang menjaga penjara. Meskipun si pembunuh gagal, para penjaga tidak berhasil menangkap pelaku bertopeng yang berhasil melarikan diri. Meskipun demikian, Nyonya Fan tetap mengigau. Hakim Liu tidak berani menggunakan penyiksaan, dan penyelidikan terhadap orang-orang yang terkait dengan keluarga Fan dan pembantu yang bunuh diri tetap berlanjut. Kasus ini menemui jalan buntu.

Upaya pembunuhan terhadap He Yan terjadi di sebuah gang. Setelah Garda Kota tiba, banyak warga sipil berkumpul untuk menyaksikan kejadian itu. Ketika He Yan mengungkapkan identitasnya, masalah ini tidak bisa dirahasiakan. Keesokan harinya, semua orang di Ibu Kota Shuo tahu bahwa tunangan Xiao Jue, Marquise Wu'an yang ditunjuk oleh Kekaisaran, telah diserang di siang bolong, tetapi untungnya berhasil lolos berkat keterampilan bela dirinya. Selanjutnya, semakin sedikit orang yang berani keluar malam di ibu kota karena takut bertemu dengan bandit-bandit liar.

Sebelum semuanya jelas, penduduk ibu kota hanya bisa berasumsi bahwa itu adalah ulah "bandit".

Di kediaman Putra Mahkota, para dayang cantik sedang bermain sitar dan menari.

Putra Mahkota Guang Yan yang selalu mencari kenikmatan seksual bukanlah hal baru. Meskipun Putri Mahkota murka, ia tidak memiliki kekuatan untuk campur tangan. Jadi Putri Mahkota memusatkan seluruh perhatiannya pada dirinya sendiri, berharap segera memiliki pewaris untuk mengamankan posisi Putra Mahkota. Sayangnya, rahimnya belum menunjukkan tanda-tanda kehidupan sejak memasuki kediaman Putra Mahkota. Ketidakpuasan Guang Yan terhadap Putri Mahkota membuatnya semakin tidak terkendali. Kini, tidak seorang pun di seluruh kediaman bisa mengendalikannya.

Hari ini, Putra Mahkota mengadakan perjamuan, mengundang Menteri Xu dan Chu Zhao.

"Sejak Ayah Kaisar mengatur pernikahanmu, aku belum sempat memberi selamat kepada Zilan," Putra Mahkota tersenyum kepada Chu Zhao. "Kali ini, Zilan telah memenuhi keinginannya untuk mempererat hubungan dengan keluarga Menteri Xu. Ini adalah berkah yang luar biasa. Selamat." Ia mengangkat cangkir anggurnya ke arah Chu Zhao.

Chu Zhao segera mengangkat cangkirnya, berulang kali mengatakan bahwa ia tidak berani menerima pujian seperti itu. Ia pun meneguk anggurnya bersama Putra Mahkota.

"Sekarang Xiao Huaijin telah kembali ke Ibu Kota Shuo," Guang Yan mendesah, "utusan bangsa Wutuo akan segera memasuki ibu kota. Xiao Huaijin pasti akan mencoba segala cara untuk menghalangi pendirian pos perdagangan di Wei Agung. Namun, karena sebagian besar pejabat istana sekarang adalah orang-orang kita, aku tidak khawatir." Putra Mahkota terdiam, kilatan kekejaman melintas di matanya. "Yang aku khawatirkan adalah pangeran Keempat. Jika Xiao Huaijin bersekutu dengan pangeran Keempat..."

Meskipun koneksi Guang Shu di istana tidak seluas Guang Yan, dan keluarga Selir Lan tidak sekuat Permaisuri Zhang, ia memiliki keunggulan alami yang tidak mereka miliki—Kaisar Wenxuan sangat menyayanginya.

Kaisar Wenxuan sangat menyayangi Guang Shu, dan beberapa pejabat istana yang tua dan keras kepala diam-diam mendukung Pangeran Keempat Guang Shu.

"Pangeran Keempat biasa-biasa saja dan tidak ambisius, Yang Mulia tidak perlu khawatir," Menteri Xu tersenyum saat berbicara.

"Anak itu mungkin tidak kompeten, tapi..." Putra Mahkota menyipitkan matanya, "dia benar-benar merusak pemandangan."

Mungkin karena meskipun tidak ada yang mengatakannya secara terbuka, semua orang tahu bahwa bakat dan karakternya tidak sebanding dengan Guang Shu. Bahkan rakyatnya pun berpikir demikian, termasuk rubah tua di hadapannya ini... Tatapan Putra Mahkota menyapu Menteri Xu, tetapi ia teringat hal menarik lainnya.

"Zilan," Putra Mahkota tiba-tiba menatap Chu Zhao, "Kudengar kau punya dayang yang cantik dan pintar. Benarkah?"

Mendengar ini, Chu Zhao merasa seolah-olah kepalanya disiram air es, perlahan membeku, tetapi wajahnya tidak menunjukkan perubahan apa pun lalu ia menjawab dengan hormat, "Benar, aku punya orang orang seperti itu."

"Dengan kecantikan seperti itu, mengapa aku belum pernah melihatmu membawanya ke Istana?" tanya Putra Mahkota sambil tersenyum, meskipun matanya tidak menunjukkan sedikit pun kegembiraan.

Mengapa? Tentu saja, karena begitu dibawa ke Istana dan dilihat oleh Putra Mahkota, Yingxiang tidak akan bisa lagi tinggal di kediaman Chu. Mengingat karakter Putra Mahkota Guang Yan, ia selalu merebut wanita cantik mana pun untuk dirinya sendiri. Kecantikan Yingxiang hanya akan membawa malapetaka bagi dirinya sendiri.

"Pelayan ini tidak terlalu cekatan, dan karena dia sangat cantik, akan merepotkan untuk membawanya. Aku menyuruhnya tinggal di kediaman untuk melakukan tugas-tugas kecil seperti menyapu," jawab Chu Zhao.

Mendengar ini, Putra Mahkota tertawa terbahak-bahak, "Zilan, kau menyia-nyiakan pelayan itu. Kau tidak bisa menghargai wanita cantik, kau harus berubah setelah menikah dengan Pingting, atau Menteri Xu akan marah."

Menteri Xu Jingfu hanya duduk di samping, tersenyum dan minum teh, seolah tidak mendengar sindiran dalam kata-kata Putra Mahkota.

Chu Zhao menunjukkan ekspresi agak bingung.

"Akan sangat disayangkan jika dia hanya tinggal begitu saja dikediamanmu. Kenapa tidak diberikan saja padaku?" kata Putra Mahkota dengan santai. "Kebetulan aku membutuhkan gadis secerdas itu untuk melayaniku, dan Istana Timur tidak akan kekurangan biaya untuk memberi makan satu orang lagi. Bagaimana menurutmu?"

Chu Zhao membeku, mengangkat matanya untuk melihat Guang Yan.

Alunan sitar di aula telah berhenti, dan para dayang penari telah pergi dengan tenang. Dalam keheningan, udara terasa menegang seperti darah kental, membawa rasa mual yang menyesakkan.

Wajah pemuda itu terlihat cukup tampan, tetapi mungkin karena terlalu sering mencari kepuasan seksual, lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas. Ketika memandang orang lain, selalu ada sedikit kedengkian dan kegilaan. Meskipun bibirnya tersenyum, tatapannya yang menatap Chu Zhao memancarkan kesombongan yang penuh penghinaan.

Itu adalah penghinaan yang tulus, penghinaan seorang atasan yang menatap seekor serangga.

"Ada apa?" Putra Mahkota bercanda, "Zilan, kau tidak keberatan untuk berpisah dengannya, kan?"

Menteri Xu hanya menatap cangkir tehnya tanpa berkata apa-apa.

Chu Zhao berdiri, berjalan di hadapan Putra Mahkota, dan berlutut, "Bagaimana mungkin Zilan bisa seberani itu? Yingxiang beruntung terpilih untuk melayani Yang Mulia. Namun, pelayan ini ceroboh dan mungkin akan menyinggung Yang Mulia. Karena Yang Mulia menginginkannya, aku akan mengirim seseorang untuk membawa Yingxiang ke sini segera setelah aku kembali ke kediaman."

Sikap hormatnya jelas menyenangkan Putra Mahkota, lalu Putra Mahkkota dengan sengaja membiarkan Chu Zhao berlutut sebentar sebelum bangkit dari duduknya untuk membantu Chu Zhao berdiri, dan berkata dengan puas, "Tidak perlu upacara seperti ini. Kau adalah salah satu orang kepercayaanku. Begitu pelayan itu tiba di kediaman, aku akan menjaganya dengan baik."

Setelah Chu Zhao menunjukkan kesetiaan yang besar, yang sangat menyenangkan Putra Mahkota, ia kembali ke tempat duduknya.

Di meja panjang yang penuh dengan anggur dan hidangan lezat, ia memegang sumpit dan makan, tampak tenang, ketika ia meletakkan cangkirnya, tatapannya jatuh pada Menteri Xu di sampingnya.

Wajah lelaki tua itu tampak ramah dan penuh kasih, seolah menunjukkan kemurahan hati, balas tersenyum pada CHo Zhao dengan ekspresi lembut yang sama seperti ketika Chu Zhao pertama kali menjadi muridnya dulu.

Chu Zhao membalas senyuman menteri Xu dan mengangkat cangkirnya sebagai ucapan selamat. Namun, ketika diperhatikan lebih dekat, tangannya yang lain berada di bawah meja, ujung jarinya menekan telapak tangannya, meninggalkan bekas darah yang dangkal.

Ketika ia kembali ke kediaman Chu, hari sudah sangat larut.

Begitu ia melewati gerbang, senyum Chu Zhao lenyap sepenuhnya. Biasanya ia tetap tersenyum lembut dan anggun, bahkan ketika menghadapi para pelayan keluarga Chu, tetapi hari ini senyumnya tampak tidak bisa dipertahankan. Begitu ia memasuki gerbang kediaman, raut wajahnya menjadi sekelam air yang hampir menetes, dan para pelayan tidak berani mendekat.

Semua orang di keluarga Chu tahu Tuan Muda Keempat ini luar biasa. Ketika pertama kali dibawa kembali ke kediaman, semua orang mengira Tuan Muda Keempat ini tidak akan berumur panjang. Seorang anak haram, yang lahir dari seorang wanita yang kerja di rumah bordil, tidak akan pernah diterima oleh Nyonya Chu. Sebelum bertemu Menteri Xu, Chu Zhao telah mengalami masa-masa sulit di masa kecilnya. Meskipun dilindungi oleh Chu Lingfeng, Chu Lingfeng bukanlah seorang ayah yang penuh perhatian. Di sudut-sudut yang tidak terjangkau oleh Chu Lingfeng, Chu Zhao sering diganggu dan dipukuli.

Namun, anak ini mampu bertahan dengan baik, bertahan hingga keberuntungan datang ketika Perdana Menteri Xu Jingfu memilihnya, dan segera menjadi murid kesayangan Menteri Xu.

Setelah itu, Chu Zhao bangkit dengan pesat. Lambat laun, Nyonya Chu tidak lagi bisa menyentuhnya, dan Chu Lingfeng pun patuh kepada putranya ini. Namun, Chu Zhao tidak pernah mengubah kepribadiannya karena hal ini. Ia tetap bersikap lembut kepada para pelayan keluarga Chu, dan seiring waktu, banyak orang Nyonya Chu diam-diam beralih setia kepada Chu Zhao.

Tuan yang lebih menjanjikan dan lebih lembut—bahkan orang bodoh pun tahu bagaimana memilih.

Namun, Chu Zhao hari ini tampaknya sedang tidak ingin bersikap lembut dan baik.

Begitu Chu Zhao memasuki halamannya, ia melihat lentera yang familiar bergoyang di pintu. Chu Zhao masuk, dan Yingxiang melangkah maju untuk menyambutnya: "Tuan Muda Keempat."

Ia memasuki ruangan tanpa sepatah kata pun.

Mungkin karena ekspresinya yang tidak biasa hari ini, Yingxiang ragu-ragu sejenak, lalu mengikutinya masuk, berdiri di samping Chu Zhao, dan bertanya dengan lembut, "Tuan Muda Keempat, ada sesuatu yang terjadi?"

Chu Zhao mengangkat pandangannya untuk menatap wanita di depannya.

Yingxiang sangat cantik, anggun, dan mempesona. Berdiri di sana, pesonanya melampaui bunga. Dengan kecantikan seperti ini, Yingxiang bahkan memenuhi syarat untuk memasuki istana. Di keluarga Chu, jika Yingxiang bukan dayang Chu Zhao yang membuatnya tidak bisa disentuh, Chu Lingfeng mungkin sudah menjadikan Yingxiang selirnya yang kedua puluh.

Sulit membayangkan bagaimana orang tua Yingxiang yang berpenampilan biasa saja bisa memiliki anak perempuan dengan wajah secantik dan seanggun ini.

Pertama kali Chu Zhao melihat Yingxiang adalah di depan sebuah rumah bordil. Ayah Yingxiang, seorang penjudi, mencengkeram pergelangan tangannya, berbicara dengan nyonya rumah bordil dengan nada menawar tentang berapa banyak uang yang bisa ia dapatkan dengan menjual putrinya. Ibu Yingxiang, seorang wanita yagn sedang hamil, hanya berdiri di samping sambil menangis dalam diam, tidak berani berkata apa-apa.

Saat itu, Chu Zhao baru berusia sembilan tahun, baru mengikuti Xu Jingfu sebentar, dan Nyonya Chu tidak lagi berani menindasnya secara terbuka. Yingxiang terlihat seusia dengannya, mengenakan pakaian yang sangat lusuh, tetapi kulitnya sangat putih, dan bahkan tanpa riasanpun, wajahnya menunjukkan kecantikan alami. Ekspresinya selalu tenang, tidak menangis atau ribut, berdiri diam. Ketika Chu Zhao berhenti di seberang jalan untuk melihatnya, gadis itu mengangkat kepalanya dan melirik Chu Zhao.

Meskipun wajahnya tanpa ekspresi, kesedihan dan keputusasaan yang mendalam dapat terlihat melalui matanya. Seperti menyerah pada takdir, tidak berdaya untuk melawan.

Saat itu, Chu Zhao teringat Ye Runmei.

Ia memerintahkan pelayannya untuk menggunakan dua perak untuk membeli Yingxiang, dan setelah kembali, ia memberi tahu Chu Lingfeng bahwa ia membutuhkan seorang pelayan pribadi. Chu Lingfeng mengira Chu Zhao punya niat lain. Sebagai seorang yang romantis, ia tidak hanya tidak marah dengan perilaku putranya, tetapi juga sangat mengaguminya. Karena itu, Yingxiang selalu berada di sisi Chu Zhao.

Selama bertahun-tahun, Yingxiang jarang bicara. Kontras dengan penampilannya yang menawan dan memukau, ia memiliki sifat pendiam dan penurut. Ia semakin cantik, dan Chu Zhao mengerti betul bahwa kecantikan mengundang kemalangan. Kemampuannya untuk melindungi Yingxiang sangat terbatas.

Mungkin merasakan belas kasihan yang terpancar di matanya, Yingxiang ragu sejenak lalu mengatupkan bibirnya dan bertanya, "Tuan Muda Keempat, apakah masalah ini menyangkut hamba?"

"Hari ini aku pergi ke kediaman Putra Mahkota," kata Chu Zhao. "Putra Mahkota tahu tentang mu."

Ruangan itu hening sejenak.

Setelah beberapa saat, Yingxiang dengan tenang berkata, "Pelayan ini mengerti."

Tanggapannya patuh dan lembut, persis seperti saat di luar rumah bordil ketika ia akan dijual oleh ayah kandungnya. Ia menerima nasibnya dengan lapang dada, seolah-olah ia telah mengantisipasinya sejak lama.

Chu Zhao menggerakkan bibirnya, akhirnya mengucapkan dua kata, "Maafkan aku."

Sebaliknya, Yingxiang tersenyum. Ia berjalan ke meja dan, seperti biasa, menuangkan teh untuk Chu Zhao. Tehnya telah dihangatkan di atas kompor sebelumnya, jadi ketika Chu Zhao kembali, ia bisa minum teh hangat. Di hari sedingin ini, seseorang membutuhkan sesuatu yang hangat untuk perutnya. Ia menyerahkan cangkir teh kepada Chu Zhao, sambil berkata lembut, "Setelah melayani Tuan Muda Keempat begitu lama, hamba sudah merasa puas. Setelah hamba ini pergi, Tuan Muda harus ingat untuk menjaga diri baik-baik."

Chu Zhao menerima tehnya, tetapi tidak berkata apa-apa.

Yingxiang berlutut.

"Selama ini, berkat perhatian Tuan Muda hamba bisa hidup dengan baik, Yingxiang tidak punya cara untuk membalas kebaikan Tuan Muda. Sebelum pergi, biarkan hamba ini bersujud kepada Tuan Muda." Ia dengan lembut bersujud kepada Chu Zhao tiga kali, setiap sujud tampak seberat emas.

Setelah sujud terakhir, ia tetap bersujud untuk waktu yang lama tidak bangkit.

Chu Zhao tidak menghentikan tindakannya. Setelah beberapa saat, Yingxiang berdiri lagi. Ia membungkuk kepada Chu Zhao, "Kalau begitu, hamba akan kembali untuk mengemasi barang-barang. Tuan Muda, jaga diri."

Setelah itu, ia berbalik untuk pergi.

"Yingxiang," Chu Zhao memanggil namanya.

Yingxiang berhenti dan berbalik, secercah harapan tiba-tiba muncul di matanya. Harapan itu sangat samar, namun di malam hari, harapan itu lebih terang daripada bintang-bintang.

Chu Zhao menghindari tatapannya, tidak tahan melihatnya, dan setelah hening sejenak, ia mengucapkan dua kata.

"Hati-hati."

......

He Yan tidak tahu apa-apa tentang urusan keluarga Chu.

Akhir-akhir ini, semua perhatiannya terpusat pada keluarga Xu. Uang membuat dunia berputar dan didorong oleh perak, Fuwang berhasil menemukan keberadaan Pengasuh Qin beberapa hari lebih awal dari yang ia inginkan delapan atau sembilan hari.

Ketika He Yan menerima kabar tersebut dan pergi ke kedai teh di dekat kediaman Xu, Fuwang menghampirinya sambil tersenyum, seolah bangga atas suatu perbuatan baik, dan berharap mendapatkan imbalan.

Melihatnya seperti ini, He Yan tahu bahwa Fuwang pasti telah menemukan sesuatu yang penting dan juga merasa senang, jadi ia bertanya, "Sudahkah kau menemukan keberadaannya?"

"Tuan Muda," Fuwang tahu bagaimana menangani masalah, pertama-tama berbicara panjang lebar tentang kesulitan dan bahaya yang dialami dalam penyelidikannya beberapa hari terakhir lalu berkata, "Aku mempertaruhkan nyawa ku untuk menangani masalah ini untukmu. Tuan Muda harus menunjukkan sedikit perhatian."

He Yan tersenyum dan meletakkan keping perak terakhir dari lengan bajunya di atas meja. Dengan ini, ia pun benar-benar tidak punya uang. Namun, ia tetap harus menjaga penampilannya di depan Fuwang.

"Saudara, karena kau telah membantuku dalam masalah ini, aku pasti akan memastikan kau mendapatkan imbalan yang pantas. Perak ini baru permulaan. Jika kau bisa membantuku dengan lebih banyak masalah di masa mendatang, kau akan memiliki lebih banyak perak daripada yang bisa kau belanjakan."

Mendengar ini, mata Fuwang berbinar, merasa tenang. Ia takut setelah urusan ini selesai, orang misterius ini akan menghilang. Dengan perak yang mudah didapat, ia tentu ingin membangun hubungan bisnis jangka panjang. Makna orang ini jelas – akan ada tugas lain yang dipercayakan kepadanya, yang membuat Fuwang semakin bahagia.

"Mengenai keberadaan Pengasuh Qin, aku sudah menyelidiki Tuan Muda. Pengasuh Qin memiliki kekasih yang sebelumnya tinggal di Desa Keluarga Niu di luar kota. Namun, aku juga mengetahui bahwa setelah Pengasuh Qin melarikan diri untuk mencari kekasih ini, mereka tidak lagi tinggal di Desa Keluarga Niu. Nama belakang kekasih ini adalah Niu,ia awalnya seorang pandai besi. Pandai Besi Niu memiliki kerabat yang tinggal di pegunungan liar sekitar sepuluh li dari Desa Keluarga Niu. Gunung itu begitu luas sehingga menemukan seseorang tidaklah mudah. ​​Namun, karena tinggal di pegunungan, mereka masih perlu menukar beras, kain, dan minyak. Pada tanggal sepuluh setiap bulan, Pandai Besi Niu turun gunung ke pasar terdekat untuk membeli makanan. Ia juga bekerja untuk orang lain, dan pada hari-hari ia membeli makanan, ia menjual barang-barang besi tempaanya di sebuah tempat bernama 'Toko Besi Changmao'."

"Jika Tuan Muda ingin menemukan Pengasuh Qin, kau bisa menemukan 'Toko Besi Changmao' itu terlebih dahulu. Pada hari kesepuluh, ketika Pandai Besi Niu turun gunung, kau bisa menemukannya. Hanya Pandai Besi Niu yang tahu di mana Pengasuh Qin berada." Fuwang tersenyum licik, "Soal bagaimana cara membuat Pandai Besi Niu bicara, itu tergantung bagaimana Tuan Muda akan menanganinya."

"Apakah informasi yang kau berikan ini benar?" tanya He Yan.

"Benar, mana berani aku menipu Tuan Muda?" Fuwang buru-buru berkata, "Namun, Tuan Xu juga sedang menyuruh orang mencari keberadaan Pengasuh Qin. Aku harus mencari informasi ini melalui berbagai cara, tetapi Tuan Xu juga mungkin sudah menemukannya. Jika Tuan Muda sedang terburu-buru, sebaiknya cepat pergi ke toko besi itu. Jika Tuan Xu sampai di sana lebih dulu..."

Ia tidak benar-benar peduli dengan kepentingan orang misterius ini, melainkan takut jika orang misterius itu tidak dapat menemukan Pengasuh Qin dan menghilang, ia akan kehilangan sumber perak yang mudah didapat ini.

He Yan merasa agak gembira. Awalnya ia datang ke kediaman Xu hanya berharap menemukan bukti, bukan berharap menemukan saksi hidup. Kini setelah Fuwang menyelidiki dengan saksama, itu merupakan berkah yang tidak terduga.

"Kau telah menangani masalah ini dengan sangat baik."

Menerima pujian itu, Fuwang menjadi sangat gembira, seolah melihat perak mengalir tanpa henti ke arahnya, dan segera berkata, "Merupakan keberuntungan bagi ku untuk melayani Tuan Muda. Jika Tuan Muda memiliki tugas lain, silakan perintahkan. Meskipun aku tidak pandai dalam hal lain, aku cepat tanggap. Akan sangat menyenangkan jika aku bisa lebih membantu Tuan Muda."

Lebih baik tidak diucapkan, tetapi begitu terucap, He Yan teringat hal lain. Ia ragu sejenak lalu bertanya, "Apakah kau tahu jika ada yang tidak biasa dengan Nyonya Xu di kediaman akhir-akhir ini?"

"Nyonya?" Fuwang terkejut, mendapati orang di hadapannya semakin tidak terduga. Sebelumnya mereka menyebut Selir He sebagai mantan kekasihnya, mungkinkah Nyonya Xu yang sekarang juga memiliki hubungan yang samar dengannya? Jika demikian, bukankah kepala majikan mereka akan tertutup awan hijau? Untuk sesaat, Fuwang merasa sangat simpatik terhadap Xu Zhiheng.

He Yan tidak tahu bahwa pelayan di hadapannya telah membiarkan imajinasinya menjadi liar, dan hanya bertanya, "Apakah kau tidak tahu tentang situasi Nyonya Xu?"

"Aku hanya seorang penjaga gerbang," Fuwang tersenyum, "Halaman Nyonya dilayani oleh para dayang dan wanita tua, dengan sangat sedikit pelayan pria. Jika Tuan Muda benar-benar ingin bertanya, aku bisa menjalankan beberapa tugas, namun..."

"Tapi apa?" tanya He Yan.

Tidak lama setelah bertemu Nyonya Kedua He dan He Xinying di Kuil Yuhua, ia bertemu dengan para pembunuh. He Yan memikirkannya berulang kali dan merasa itu pasti ada hubungannya dengan He Rufei. Meskipun He Xinying tidak tahu apa-apa, mengingat He Rufei yang sangat berhati-hati, ia tidak serta merta akan mengampuninya. Meskipun ia tidak menghabiskan banyak waktu dengan saudari ini, He Yan tidak ingin terjadi apa-apa padanya.

"Namun, beberapa hari terakhir ini Nyonya sepertinya merasa lemah dan jarang keluar. Ketika Nyonya Xu Tua keluar, dia juga tidak mengajak Nyonya muda," kata Fuwang.

Hati He Yan tegang.

Nyonya Xu Tua tidak mengajak He Xinying keluar seharusnya bukan hal yang aneh, tetapi itu terjadi tepat setelah dia pergi ke Kuil Yuhua... Hal itu benar-benar membuat orang curiga bahwa He Xinying sedang ditahan di rumah oleh keluarga Xu.

"Fuwang," He Yan menatap orang di depannya, "Aku minta bantuanmu satu hal lagi – awasi Nyonya Xu. Jika terjadi sesuatu pada Nyonya Xu, atau jika ada masalah, tolong cari pekerja bopeng di kedai teh dan beri tahu dia."

Meskipun bingung, Fuwang tetap mengangguk, "Baiklah."

Setelah urusan selesai, mereka pergi secara terpisah. He Yan pergi lebih dulu, diikuti Fuwang. Ketika Fuwang pergi, ia tidak menyadari bahwa di seberang jalan, di sudut toko sutra, seseorang bersembunyi di balik pilar bundar toko. Setelah sosok Fu wang menghilang, orang itu muncul.

Seorang wanita berpakaian hitam.

......

Malam harinya, pintu ruang kerja di kediaman Xiao terbuka, dan seseorang masuk dari luar.

Xiao Jue menggantungkan pedangnya di dinding dan melepas pakaian luarnya. Tepat saat ia berbalik, seseorang mengetuk pintu.

"Masuk."

Yang masuk adalah Luanying dengan pakaian hitam.

Xiao Jue tidak memandangnya, berjalan ke meja tempat setumpuk surat tergeletak. Ia dengan santai mengambil beberapa dan membolak-baliknya.

Luanying berkata, "Tuan Muda, masalah yang kau minta pelayan ini selidiki memiliki beberapa petunjuk."

Pemuda itu mengeluarkan sepucuk surat, setelah mendengar ini, ia tidak mengangkat kepalanya tetapi hanya berkata, "Bagaimana kelanjutannya?"

Luanying ragu-ragu.

Tangan Xiao Jue berhenti, lalu melirik Luanying.

Tatapan itu saja membuat Luanying membulatkan tekad, dan ia berkata lirih, "Pelayan ini mengawasi gerbang keluarga Xu selama tiga hari dan hari ini akhirnya melihat Nona He."

Ruangan itu begitu sunyi hingga bisa terdengar suara jarum jatuh.

"Nona He duduk bersama seorang penjaga gerbang dari kediaman Xu di kedai teh terdekat selama setengah jam sebelum pergi. Pelayan ini bertanya kepada para pekerja kedai teh, dan sebelumnya, mereka telah bertemu beberapa kali."

Xiao Jue melemparkan surat di tangannya ke atas meja, duduk di kursi, menatapnya, dan berkata dengan tenang, "Apa yang kau temukan?"

"Penjaga gerbang itu bernama Fuwang, dan akhir-akhir ini ia memiliki banyak uang, mencari seseorang bernama Pengasuh Qin di kediaman Xu. Pengasuh Qin adalah ibu susu selir kesayangan Xu Zhiheng, Hè Wanru, tetapi setelah Hè Wanru meninggal karena sakit, Pengasuh Qin menghilang."

"Pelayan ini curiga Nona He memberi Fuwang sejumlah uang perak untuk menanyakan keberadaan Pengasuh Qin. Namun anehnya, Tuan Xu Zhiheng juga sedang mencari Pengasuh Qin ke mana-mana."

Setelah berbicara, Luanying tidak berani menatap ekspresi Xiao Jue. Bahwa He Yan diam-diam memiliki hubungan yang tidak jelas dengan keluarga Xu tentu saja bukan kabar baik bagi Xiao Jue. Seorang wanita yang menyimpan banyak rahasia selalu menimbulkan kecurigaan.

"Orang bernama Pengasuh Qin ini sepertinya sangat penting." Pemuda itu memainkan pemberat kertas di tangannya. Di bawah bayangan lampu minyak, ekspresinya tidak terlihat jelas.

"Kau sudah menemukan keberadaan Pengasuh Qin?"

Luanying mengangguk: "Iya."

Disclaimer: Terjemahan ini dilakukan secara sukarela untuk tujuan berbagi hobi dan apresiasi karya. Seluruh hak cipta, termasuk karakter, alur cerita, dan judul adalah milik penuh penulis asli dan penerbit. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas konten ini. Jika Anda menyukai ceritanya, dukung penulis aslinya melalui platform resmi.

Komentar