Legend of the Female General-Bab 197 Saling Mengamati

Lin Shuanghe belum mengirimkan kabar apa pun tentang rumah yang telah dicarinya untuk He Yan selama beberapa hari. Sejak kembali ke Ibu Kota Shuo, Lin Shuanghe menghilang sepenuhnya. He Yan merasa tidak soapn jika mengunjunginya tanpa diundang, dan rasanya tidak benar untuk mendesak orang yang sedang membantunya. Seiring berjalannya waktu, He Yan mulai curiga bahwa Lin Shuanghe mungkin sengaja melalaikan tugas itu.

Xiao Jue melanjutkan rutinitasnya pergi pagi dan pulang malam, sibuk dengan urusan yang tidak diketahui. He Yan tetap bangun di siang hari tetapi belum mengunjungi keluarga Xu sejak bertemu Fu Wang hari itu. Ia harus membuat Fu Wang menunggu – ketidak hadirannya akan membuat Fu Wang cemas kehilangan sumber pendapatan ini. Untuk membuktikan kemampuannya, Fu Wang akan bekerja lebih keras lagi untuk menemukan informasi berguna di kediaman Xu.

He Yan tidak terburu-buru.

Selama masa senggangnya ini, selain diam-diam bertemu He Yunsheng lagi, He Yan telah mengamati kediaman keluarga He. Mungkin karena pengaruh He Rufei, penjagaan di pintu masuk bertambah lebih dari dua kali lipat, sehingga sulit bagi He Yan untuk menunjukkan diri. Ia hanya bisa mengamati sambil bersemmbunyi. Selain menghadiri pengadilan Istana, He Rufei tidak banyak melakukan hal lain. Pertemuan sosialnya dengan rekan-rekannya sebagian besar dilakukan di restoran, dan tidak pernah membawa siapa pun pulang. He Rufei pernah mengunjungi kediaman Xu sekali, membawa ramuan yang konon katanya untuk saudara sepupu perempuannya. Tetapi apakah ia datang untuk menemui He Xinying? He Yan tidak berpikir demikian.

Namun, bagi orang luar, tindakan He Rufei menunjukkan kedekatannya dengan saudara sepupu perempuannya. Beberapa orang bahkan mengatakan bahwa setelah insiden dengan mantan Nyonya Pertama Xu, He Rufei menjadi lebih perhatian kepada saudara sepupu perempuan satu-satunya, yang pada akhirnya memberinya reputasi yang baik.

He Yan merasa agak lucu, memperhatikan bagaimana pertunjukan teater keluarga He seolah tidak ada habisnya.

Musim gugur telah tiba, menggantikan panasnya musim panas. Suatu hari, ketika He Yan pulang, ia tiba-tiba mendapati halaman luar biasa ramai. Karena pergi pagi-pagi sekali, ia tidak menyadari apa yang telah terjadi. Bai Guo berlari menghampiri He Yan dengan gembira, lalu berbisik, "Nyonya Pertama sedang menjamu tamu di halaman, Tuan Muda. Kau harus membersihkan diri dan melihat-lihat." Bai Guo mencondongkan tubuh lebih dekat, menambahkan secara misterius, "Hari ini, ada beberapa nona muda yang hadir, dan Tuan Muda Kedua juga ada di sana."

Karena masih muda, Bai Guo berbicara tanpa merasa malu seperti pelayan yang lebih tua, mempertahankan sikap polos seperti anak kecil. Namun, kata-kata ini tidak terdengar menyenangkan di telinga He Yan.

Bai Rongwei sebelumnya pernah menyebutkan akan mengadakan perjamuan sebelum Festival Pertengahan Musim Gugur, yang konon untuk menjamu para wanita, tetapi sebenarnya untuk menjodohkan Xiao Jue. He Yan tidak menyangka hal itu akan terjadi secepat ini. Ia teringat bagaimana Xiao Jue biasanya pulang terlambat, terkadang setelah ia tidur, tetapi hari ini Xiao Jue pulang lebih awal ketika para wanita muda hadir.

Melihat He Yan terdiam, Bai Guo bertanya, "Tuan Muda?"

He Yan tersentak, tersadar dari lamunannya lalu memaksakan senyum, "Aku tidak mau ikut. Aku sudah seharian di luar dan cukup lelah. Aku ingin beristirahat di kamar dulu."

Bai Guo terkejut, "Tapi..." Ia menyadari suasana hati He Yan yang sedang buruk dan merasa aneh. Tuan Muda He ini biasanya lembut dan rendah hati, bahkan membantunya membersihkan piring dan diam-diam menyimpan camilan untuknya saat ia menginginkannya. Bai Guo merasa bahwa di antara semua tuan yang pernah dilayaninya, selain Tuan Muda Pertama dan istrinya, Tuan Muda He adalah yang paling baik hati. Namun hari ini, kesedihan Tuan Muda He terpancar jelas di wajahnya. Setelah menjadi pelayan dan tuan selama beberapa waktu, Bai Guo penasaran apakah Tuan Mudah He telah mendapat perlakuan tidak menyenangkan diluar sana?

Sebelum ia tahu alasan yang sebenarnya, ia melihat He Yan sudah berjalan cepat menyusuri koridor dengan kepala tertunduk.

He Yan mengira ia bisa menghindari situasi itu – tidak terlihat, tidak dipikirkan. Namun, koridor itu terhubung langsung ke taman halaman utama, dan Bai Rongwei langsung melihatnya dan memanggil, "Tuan Muda He!"

Berpura-pura tidak mendengar akan terlalu kentara, jadi He Yan dengan enggan berbalik, tersenyum pada Bai Rongwei, "Nyonya Pertama Xiao."

Bai Rongwei bangkit dan berjalan ke arah He Yan, "Aku baru saja bertanya pada Huaijin kapan kau akan kembali, Aku khawatir kau akan melewatkan pesta musim gugur hari ini. Kau datang di waktu yang tepat – kita belum mulai."

Dengan keramahan seperti itu dari tuan rumah, tidak ikut akan terasa tidak sopan. He Yan tidak punya pilihan selain mendekat dan membungkuk, "Nyonya Pertama terlalu baik."

Kediaman keluarga Xiao telah direnovasi secara khusus sesuai dengan keinginan istri Jenderal Tua Xiao semasa hidupnya. Karena nenek Xiao Jue berasal dari Suzhou, halaman keluarga Xiao paling menonjol di Ibu Kota Shuo karena gayanya yang elegan dan khas. Bai Rongwei tidak mengundang banyak tamu, hanya empat atau lima orang. Apakah mereka teman-temannya atau orang lain tidak jelas, tetapi keempat wanita muda yang duduk masing-masing memiliki kecantikan yang unik, menarik perhatian semua orang.

Xiao Jue duduk di samping Xiao Jing. Kedua bersaudara itu, yang dikenal di seluruh Wei Agung akan kecantikan mereka yang luar biasa, membuat halaman tersebut tampak hampir seperti alam surgawi.

Aturan Wei Agung terhadap interaksi antar pria-wanita, termasuk aturan pemisahan jenis kelamin pada usia tujuh tahun, telah dihapuskan tidak lama setelah Kaisar Wenxuan naik takhta. Kaisar Wenxuan mengagumi sifat bebas para cendekiawan kuno dan percaya untuk tidak terikat oleh adat istiadat yang ketinggalan zaman. Dengan demikian, Wei Agung tidak terlalu ketat pada pria dan wanita yang belum menikah tidak seperti pada dinasti-dinasti sebelumnya.

Bai Rongwei menjelaskan kepada tamu-tamu yang lain sambil tersenyum, "Ini Tuan Muda He, teman baik Huaijin. Meskipun masih muda, dia telah dianugerahi gelar Wu'an Lang oleh Yang Mulia." Bai Rongwei memerintahkan para pelayan untuk menyiapkan peralatan makan untuk He Yan, meskipun anehnya mereka menempatkannya di samping Xiao Jing. Bai Rongwei sendiri duduk di sebelah seorang wanita berwajah bulat dan berkata kepada He Yan, "Hari ini aku mengundang beberapa teman untuk mencoba kue krisan yang baru dibuat. Anggap saja ini sebagai pertemuan keluarga biasa dan jangan bersikap formal."

Terlepas dari kata-kata ini, hanya pasangan Xiao Jing dan Bai Rongwei, para wanita tua, dan Xiao Jue yang acuh tak acuh dan benar-benar merasa nyaman. Yang lainnya hampir tidak bisa disebut santai.

He Yan duduk di samping Xiao Jing dan melirik Xiao Jue, yang duduk berhadapan dengan Xiao Jing. Xiao Jue hampir tidak menyentuh sumpitnya, hanya duduk di sana dengan diam. Meskipun tersembunyi dengan baik, jika diperhatikan lebih dekat, sedikit ketidaksabaran terpancar di antara alisnya.

Para wanita muda yang hadir itu berbeda. Mereka duduk di seberang Xiao Jue di meja panjang, para wanita yang lebih pemalu mencuri-curi pandang ke arah Xiao Jue, perasaan lembut mereka tidak bisa ditutupi. Sedangkan para wanita yang lebih berani menatap langsung ke arah Xiao Jue, mata indah mereka dipenuhi kekaguman yang dapat melelehkan tulang.

"Astaga," pikir He Yan. Bai Rongwei tahu Xiao Jue tidak menyukai wanita seperti Shen Muxue, namun keempat wanita ini, meskipun tidak memiliki kesombongan dingin seperti Shen Muxue, tetap saja kecantikan mereka setara dengan Shen Muxue. Duduk di sini membuat He Yan ingin membalik meja dan pergi. Jika Shen Muxue ada di sini, dia pasti akan marah besar juga.

Meskipun demikian, ia tidak bisa menunjukkan rasa marahnya secara terbuka. He Yan menundukkan kepala untuk makan, berpikir bahwa pada saat seperti ini, diam saat makan adalah yang terbaik – anggap saja seperti makan malam biasa, hanya tambahan empat wanita cantik duduk berhadapan.

Makan malam itu terasa sangat canggung.

Bukan hanya He Yan – pada akhirnya, bahkan Xiao Jing dan Bai Rongwei pun kesulitan mengendalikan situasi. Meskipun kepribadian Xiao Jue tidak selembut Xiao Jing, wajahnya cukup menarik untuk di perhatian. Karena Xiao Jing sudah menikah, keempat wanita itu memusatkan perhatian mereka pada Xiao Jue.

Sebagai wanita bangsawan yang dibesarkan dengan hati-hati di Ibukota Shuo, mereka memahami etiket dengan baik. Namun, sambil tetap menjaga sikap sopan, mereka masih menemukan cara untuk bercakap-cakap dengan Xiao Jue, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak berarti seperti "Apakah Tuan Muda Kedua Xiao menikmati musim gugur?" "Apa yang biasanya Tuan Muda kedua lakukan?" "Apakah Tuan Muda Kedua akan tinggal di Ibukota Shuo?"

Xiao Jue memang menjawab tetapi hanya menggunakan satu kata, tidak pernah dua. Seringkali, Bai Rongwei dan Xiao Jing harus mengisi percakapan.

He Yan merasa sangat senang dalam hati, tetapi kemudian berpikir dirinya bodoh karena gembira akan hal-hal seperti ini – apakah dia kerasukan?

Malam semakin larut dan acara makan malam pun berakhir, para wanita berpamitan kepada Tuan dan Nyonya Xiao, sementara He Yan dan Xiao Jue berdiri di samping. Tatapan mata keempat wanita itu seolah menusuk Xiao Jue. Seorang wanita muda yang lebih berani menatap Xiao Jue dengan senyum manis dan bertanya, "Tuan Muda Kedua Xiao tidak tertandingi keanggunannya di tempat berburu saat itu. Kalau ada waktu luang, maukah kau berlatih memanah denganku?"

Xiao Jue menatap wanita itu tanpa ekspresi, lalu sedikit melengkungkan bibirnya, "Aku punya kebiasaan saat berlatih."

Wanita muda itu tampak penuh harap.

"Hidup dan mati tidak bisa dipastikan."

"Uhuk, uhuk, uhuk—" Xiao Jing segera menyela sambil tertawa, "Huaijin bercanda, dia suka bercanda."

Namun, satu pernyataan ini saja sudah cukup membuat wajah ibunya wanita muda itu berubah drastis, dan ia segera pergi bersama putrinya.

Bai Rongwei merasa kesal sekaligus geli. Setelah semua orang pergi, ia berkata kepada Xiao Jue, "Nak, kenapa kau masih sama seperti dulu? Kalau kau tidak menyukai seseorang, katakan saja. Kenapa kau sengaja menakut-nakuti orang? Nona Tian juga berlatih bela diri dan memiliki kepribadian yang terbuka dan bermartabat. Kurasa dia cukup cocok."

Melihat Xiao Jue terdiam, Bai Rongwei melanjutkan, "Bagaimana dengan Nona Li? Yang duduk di hadapannya tadi, yang lembut. Dia memiliki keterampilan kaligrafi yang luar biasa dan dapat menggubah puisi secara spontan, sangat lembut dan tenang."

Xiao Jue tetap diam.

Bai Rongwei melihat He Yan dan bertanya, "Tuan Muda He, kau juga bertemu dengan keempat nona muda hari ini. Tolong berikan pendapat mu – bukankah mereka luar biasa?"

He Yan: "..."

Apa urusannya dengan ini? Benar-benar masalah dari langit. Namun, di depan semua orang, He Yan harus mencari hati nuraninya dan perlahan menjawab, "Keempat wanita muda itu luar biasa, temperamen dan penampilan mereka luar biasa. Siapa pun yang menikahi mereka pasti sudah mengumpulkan kekayaan dari kehidupan mereka sebelumnya..."

Merasa telah mendapatkan persetujuan dari teman Xiao Jue, Bai Rongwei merasa ia juga mendapatkan setengah persetujuan Xiao Jue, berkata, "Huaijin, lihat, bahkan Tuan Muda He menganggap mereka baik..."

Xiao Jue tiba-tiba berbicara, suaranya tenang, "Jika Kakak Ipar menganggap mereka begitu baik, mengapa tidak mengundang mereka kembali untuk Kakak? Dengan temperamen dan penampilan Kakak, mereka pasti tidak akan merasa dirugikan."

Kata-kata ini kasar, dan bahkan Xiao Jing yang biasanya lembut pun tidak bisa menahan diri untuk memperingatkan, "Xiao Huaijin!"

Xiao Jue tetap tidak bergeming, tatapannya melewati Xiao Jing lalu ia berkata dengan dingin, "Kakak mungkin perlu mengingat bagaimana sikapmu ketika Ibu ingin mengatur pernikahanmu. Kau seharusnya lebih memahami prinsip untuk tidak memaksakan pada orang lain apa yang tidak kau inginkan untuk dirimu sendiri daripada aku." Tanpa menunggu reaksi Xiao Jing dan Bai Rongwei, Xiao Jue pergi sambil mengibaskan lengan bajunya.

Berdiri di sana, He Yan merasa agak canggung dan diam-diam membela Xiao Jue, "Komandan mungkin sedang dalam suasana hati yang buruk hari ini, Nyonya Pertama, tolong jangan tersinggung."

"Aku tidak tersinggung." Bai Rongwei tertegun sejenak, seolah baru tersadar, dan menatap suaminya, "Tapi baru saja apakah Huaijin... marah?"

Terlepas dari bagaimana orang luar membicarakan metode latihan keras dan sikap dingin Komandan Tentara Kanan, di dalam kediaman, hampir tidak seorang pun pernah melihat Xiao Jue marah. Sering kali, ia sama sekali tidak peduli. Melihat Xiao Jue begitu jelas menunjukkan kemarahannya, sampai-sampai "Aku marah" seakan terukir di wajahnya, terasa seperti sesuatu yang sudah terjadi sangat lama.

"Xiao Jue pernah melakukan ini sebelumnya, jadi kenapa dia... begitu marah kali ini?" tanya Bai Rongwei, bingung.

...

Seseorang mengetuk pintu.

Ketukan demi ketukan, terdengar teratur dan terus-menerus. Meskipun orang di dalam tidak mau repot-repot menjawab, orang di luar tetap tidak gentar, tampak bertekad untuk mengetuk terus sampai akhir jika pintu tidak dibuka.

Di seluruh halaman, hanya pahlawan wanita itu yang memiliki keberanian seperti itu saat ini.

Xiao Jue terdiam sejenak, lalu berkata, "Masuk."

Kepala He Yan mengintip dari balik pintu.

Mengetahui Xiao Jue sedang dalam suasana hati yang buruk, He Yan memasang senyum menenangkan. Ia menutup pintu di belakangnya dan melangkah maju, "Komandan, kau baik-baik saja?"

Xiao Jue duduk di kursinya, "Baik-baik saja."

Dilihat dari ekspresinya, ia sama sekali tidak terlihat "baik-baik saja".

Kata-katanya kepada Bai Rongwei sebelumnya agak kasar. Meskipun He Yan diam-diam merasa senang mendengarnya berbicara seperti itu, ia segera menegur dirinya sendiri dalam hati. Bagaimana mungkin ia bersikap seperti ini? Ketika anggota keluarga bertengkar, ia, sebagai orang luar, bersorak riang dari pinggir lapangan karena alasan egoisnya – apa bedanya ia dengan orang-orang picik itu? Selama tinggal di sini, Bai Rongwei sangat memperhatikannya. Seharusnya, ia membantu mendamaikan mereka, bukan menambah bahan bakar ke api.

He Yan berlari untuk duduk di hadapan Xiao Jue, setengah bersandar di atas meja sambil menatap Xiao Jue, "Komandan, Nyonya Pertama Xiao bermaksud baik. Apa yang kau lakukan tadi agak menyakitkan."

Xiao Jue mengalihkan pandangannya ke wajah He Yan, matanya mendingin, "Nona Muda He, lalu menurutmu apa yang seharusnya kulakukan?"

Xiao Jue telah memanggilnya "Nona Muda He" berkali-kali sebelumnya – terkadang dengan nada menggoda, terkadang dengan nada sarkastis. Namun kali ini, suaranya sedingin es dan bahkan mengandung sedikit amarah.

He Yan dengan hati-hati memilih kata-katanya, "Setidaknya, kau bisa lebih bijaksana."

Xiao Jue tertawa dingin, "Kenapa harus?"

He Yan terkejut.

"Apakah Nona He akan lebih bijaksana dalam situasi seperti ini?" tanya Xiao Jue tiba-tiba.

He Yan menjawab dengan bingung, "Aku seorang wanita."

"Jika ayah dan saudara-saudaramu melakukan hal yang sama hari ini, membawa beberapa pemuda berprestasi ke hadapanmu," kata Xiao Jue dengan nada sarkastis, "bukankah kau akan langsung menolak mereka?"

He Yan berpikir dalam hati, dulu ia akan bersikap sopan di depan semua orang. Namun sekarang, karena sudah memiliki seseorang yang disukainya, akan sangat sulit untuk berpura-pura sopan.

Ia tidak bisa mengatakan ini kepada Xiao Jue, tetapi Xiao Jue mengabaikan He Yan yang tidak ingin menjawab dan menatapnya tajam, lalu bertanya lagi, "Nona He, apa yang akan kau lakukan?"

Bertatapan dengan Xiao Jue, He Yan tidak sanggup berbohong. Setelah jeda yang lama, He Yan menggebrak meja, "Kalau dipikir-pikir, kalau aku jadi Komandan, mungkin aku akan melakukan hal yang sama, bahkan mungkin lebih kasar. Komandan, kau benar, benar sekali! Kalau kau tidak menyukai seseorang, tolak saja. Tidak perlu memberi harapan palsu. Terkadang bersikap soapn justru terlihat seperti rayuan di mata orang lain, membuat mereka tidak bisa tidur di malam hari padahal kau tidak berniat seperti itu – bukankah itu menipu!"

Pada akhir kalimat, nada suara He Yan terdengar sedikit mengeluh, meskipun tidak jelas siapa yang ia bicarakan.

Melihat He Yan yang benar-benar marah, ekspresi Xiao Jue sedikit melunak, dan ia melengkungkan bibirnya, "Setidaknya kau mengerti sesuatu."

Melihat suasana hati Xiao Jue membaik, He Yan mengeluarkan sebuah sache dari lengan bajunya, "Ini untukmu."

Xiao Jue mengambil sache itu, melihatnya, lalu mengangkat matanya, "Kau yang membuat ini?"

"Bagaimana mungkin aku?" He Yan menjawab tanpa berpikir, "Aku tidak tahu cara membuat benda-benda ini. Nyonya Pertama Xiao yang membuatnya. Dia juga membuatkan satu untukku, tapi aku lupa memberikan punyamu tadi." He Yan mengeluarkan sache bermotif awan miliknya, "Kudengar isinya herbal penenang dan jimat pelindung."

Melihat Xiao Jue memegang sache itu tanpa bicara, He Yan pun mendekat: "Aku tidak menyangka Nyonya Pertama Xiao akan menyiapkan satu untukku juga. Komandan, Nyonya Pertama Xiao lembut dan baik hati, ia melakukan semua ini karena ia peduli padamu. Meskipun caranya... tidak sesuai dengan keinginanmu, kau bisa membicarakannya dengannya. Tak perlu merusak keharmonisan di antara kalian. Kenapa harus terlalu rewel dengan keluarga..."

Sambil mengoceh, kepalanya semakin mendekat, Xiao Jue tertawa dan menggunakan jarinya untuk mendorong kepala He Yan ke belakang, "Hentikan, aku tidak marah."

Awalnya ia memang marah, tapi bukan karena Bai Rongwei... Orang ini masih belum mengerti apa-apa, pikir Xiao Jue dengan sedikit pasrah. Marah pada seseorang yang tidak tahu – kemarahan seperti itu memang ditakdirkan untuk tidak diungkapkan.

"Benarkah?" He Yan mengamati Xiao Jue.

"Benar." Xiao Jue menurunkan pandangannya, seolah memikirkan sesuatu, dan setelah beberapa saat ia berkata, "Aku akan meninggalkan kota selama beberapa hari. Apa kau tidak apa-apa tinggal di sini sendirian?"

He Yan terkejut, "Apakah kau butuh bantuanku?"

Xiao Jue selalu pergi pagi sekali dan pulang larut akhir-akhir ini, He Yan bisa merasakan ada urusan mendesak yang harus diselesaikan. Ia pikir itu pasti terkait dengan Xu Jingfu dan Xiao Zhongwu. Meskipun ia sibuk dengan urusan keluarga He dan keluarga Xu, jika Xiao Jue membutuhkan bantuannya, He Yan tidak akan menolak.

"Tidak perlu, aku bisa mengurusnya sendiri."

He Yan mengangguk, "Lalu kapan kau akan kembali?"

"Tidak yakin," Xiao Jue menatap sumbu lampu yang menyala, "Aku akan berusaha kembali sebelum Festival Pertengahan Musim Gugur."

...

Di rumah Menteri Xu di ibu kota, lampu-lampu menyala terang saat ini.

Menteri Xu adalah seorang cendekiawan yang tidak menyukai gadis-gadis penari di jamuan makan keluarganya, paling-paling hanya mengundang dua musisi untuk memainkan sitar. Chu Zhao berlutut didepan sebuah meja kecil, menatap cangkir teh di hadapannya. Uap yang mengepul dari cangkir itu bagaikan kain tipis, menutupi ekspresinya dan membuat wajahnya tampak agak kabur.

Xu Jingfu tidak suka minum alkohol, hanya teh. Mereka yang datang ke rumah Xu dan membawa hadiah tahu betul kesukaannya ini, dan bahkan teh yang diberikan kepada para pelayan pun bisa laku terjual dengan harga tinggi.

Para pelayan berdiri di kedua sisi, penuh hormat. Xu Jingfu tidak memiliki putra, dan semua orang di rumah Xu tahu bahwa ia menganggap murid kesayangannya ini seperti putranya sendiri. Terlebih lagi, putri tunggal Xu Jingfu, Xu Pingting, memiliki perasaan yang mendalam terhadap Chu Zilan... Cepat atau lambat, guru dan murid itu akan menjadi ayah dan menantu.

"Perjalananmu ke Jiyang sangat sukses," kata Xu Jingfu sambil tersenyum. Di masa mudanya, ia tampan dan berkelas; di masa tuanya, ia tampak ramah dan lembut – hanya dengan melihat penampilannya, orang akan mengira ia adalah seorang tetua yang mudah didekati. Ia menyesap teh lalu melanjutkan, "Namun, mengapa kau tinggal beberapa hari di Rundou?"

Chu Zhao menjawab dengan lembut, "Penduduk Rundou sedang menderita kelaparan. Zilan tidak tega pergi sendirian, berharap bisa tinggal dan membantu mengatur pasukan bantuan. Tanpa diduga, Jenderal Yan membawa pasukan untuk membantu, menyelesaikan krisis mendesak di Rundou."

Hal-hal semacam ini dapat dengan mudah diverifikasi dengan melakukan penyelidikan sederhana; dia tidak berbohong. Xu Jingfu terus tersenyum ramah, tidak menyetujui maupun mencela.

Suasana menjadi agak tegang.

Saat suasana mulai canggung, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita: "Ayah! Mengapa Ayah tidak memberi tahu aku bahwa Kakak Zilan ada di sini!" Detik berikutnya, seorang wanita muda berjubah kuning terbang masuk bagai bunga, duduk di samping Chu Zilan.

Gadis ini sangat cantik, sehalus boneka porselen, dengan kebanggaan alami dalam ekspresinya. Dia tampak berusia tujuh belas atau delapan belas tahun, mengenakan pakaian dan perhiasan mahal. Jepit rambut ruby ​​di rambutnya begitu berkilau hingga terlihat seperti akan menetes, membuatnya tampak semakin berkilau bagai mawar.

Ini adalah putri tunggal Xu Jingfu, Xu Pingting.

Xu Jingfu memiliki putri yang berharga ini di usia senjanya dan langsung memanjakannya hingga ke surga – bahkan sang putri Istana saat ini mungkin tidak hidup semewah Xu Pingting. Begitu Xu Pingting memasuki ruang perjamuan, suasana langsung terasa rileks. Xu Jingfu menggelengkan kepala dan tertawa, "Kau datang menuntut jawaban, bahkan tanpa memikirkan ayahmu lagi. Kata orang, anak perempuan akan menjadi orang asing setelah menikah, benar sekali..."

Mendengar ini, Xu Pingting sama sekali tidak malu. Sebaliknya, ia mengangkat alisnya dan berkata dengan genit, "Aku bertemu Ayah setiap hari, tapi aku sudah lama tidak bertemu Kakak Zilan. Ayah, lain kali bisakah Ayah tidak mengirim Kakak Zilan sejauh ini?" Ia secara spontan memegang lengan Chu Zhao dan menatapnya, "Kakak Zilan, ketika aku mendengar Ayah mengirimu pergi ke Jiyang, Pingting ketakutan. Bagaimana Ayah bisa melakukan ini? Untungnya, Kakak Zilan selamat. Selama Kakak Zilan pergi, Pingting berdoa di hadapan Buddha setiap hari agar Kakak Zilan kembali dengan selamat. Sepertinya Buddha mendengar doa Pingting dan melindungi Kakak Zilan."

Xu Jingfu berkata dengan masam, "Belum pernah melihatmu berdoa untuk ayahmu."

"Ayah!"

"Baiklah, baiklah, leluhur kecilku, aku akan berhenti bicara, oke?" Xu Jingfu mengalah, menatap Chu Zhao, "Namun, kedatangan Zilan tepat waktu. Aku kebetulan punya sesuatu untuk dibicarakan."

Chu Zilan menatap Xu Jingfu, "Silakan bicara, Guru."

"Kudengar hari ini, istri Xiao Rubi mengundang beberapa putri rekan kerja ke kediaman Xiao sebagai tamu. Meskipun mereka bilang itu hanya kunjungan, jelas itu untuk mencarikan istri untuk Xiao Huaijin. Kalau dipikir-pikir, kau dan Xiao Huaijin seumuran. Sebagai gurumu, aku juga seharusnya memikirkan hal-hal ini untukmu."

Xu Pingting terkejut, wajahnya langsung memerah, "Ayah, kau..."

"Sekarang kau tahu caranya bersikap malu?" canda Xu Jingfu sambil tersenyum, lalu melanjutkan, "Zilan, kau muridku yang paling berprestasi, dan kau tumbuh bersama Pingting sebagai teman masa kecil. Aku sudah lama berencana menikahkan Pingting denganmu saat kau besar nanti, dan melihat keadaan sekarang, saat itu telah tiba. Bagaimana menurutmu?"

Para pelayan di gedung semua menundukkan kepala, menyembunyikan keterkejutan mereka. Meskipun mereka tahu hari ini akan tiba, mendengarnya dibicarakan masih terasa tidak terduga. Lagipula, mengingat status Chu Zhao, menikahi putri Menteri Xu berarti Cho Zhao menikah diatas statusnya.

Chu Zhao berdiri, mengangkat ujung jubahnya, dan berlutut dengan hormat di hadapan Xu Jingfu, membungkuk dalam-dalam.

"Murid ini berterima kasih kepada Guru atas kebaikanmu yang luar biasa. Bisa menikahi Pingting adalah berkah dari tiga masa kehidupanku. Untuk urusan pernikahan ini, murid ini akan sepenuhnya mengikuti pengaturan Guru."

Disclaimer: Terjemahan ini dilakukan secara sukarela untuk tujuan berbagi hobi dan apresiasi karya. Seluruh hak cipta, termasuk karakter, alur cerita, dan judul adalah milik penuh penulis asli dan penerbit. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas konten ini. Jika Anda menyukai ceritanya, dukung penulis aslinya melalui platform resmi.

Komentar