Legend of the Female General-Bab 194 Bertemu Yunsheng
He Yan begadang malam itu di kediaman Xiao. Tidak seperti di Liangzhou, di sini kamar-kamarnya dipisahkan oleh pintu bagian dalam. Mungkin karena ia tahu Xiao Jue ada di sebelah, He Yan merasa sangat gugup. Ia tidak tahu apakah itu hanya imajinasinya, tetapi ia merasa Xiao Jue menjadi jauh lebih lembut padanya akhir-akhir ini. Mungkin tindakan itu hanya biasa saja untuk Xiao Jue namun tindakan Xiao Jue yang seperti itu dengan mudah membangkitkan emosi terpendam di lubuk hatinya.
He Yan membalikkan badan di tempat tidur, merenungkan situasinya yang rumit. Identitasnya sudah istimewa, dan begitu kembali ke Shuojing, semua tentang Xu Zhiheng dan He Rufei akan langsung terpampang di depan matanya. Berpasangan dengan siapa pun hanya akan membebani mereka. Xiao Jue sudah menanggung dendam mendalam keluarga Xiao – jika ia menjadi beban lagi bagi Xiao Jue... He Yan menarik napas dalam-dalam, menatap kanopi di atas. Itu sungguh bukan ide yang bagus.
Dengan berbagai pikiran kacau yang memenuhi benaknya, ia akhirnya tertidur sekitar tengah malam. Ketika ia bangun keesokan harinya, matahari sudah tinggi di langit.
He Yan duduk, terkejut. Setelah berganti pakaian dan membuka pintu, ia melihat seorang gadis pelayan bertubuh gempal berusia delapan atau sembilan tahun duduk di tangga halaman, dengan serius memperhatikan semut-semut di sudut ruangan. Mendengar gerakan, gadis itu mengangkat kepalanya, memperlihatkan wajah bulat seperti boneka lukis Tahun Baru, matanya menyipit sambil tersenyum: "Tuan Muda He, kau sudah bangun!"
Ia menepuk-nepuk debu di pakaiannya dan berdiri, berlari ke arah He Yan dengan kaki pendek yang membuat He Yan khawatir ia akan tersandung.
He Yan bertanya, "Kau...?"
"Hamba bernama Bai Guo," jawab gadis kecil itu dengan patuh. "Tuan Muda Kedua meminta ku untuk menjaga mu, tetapi dia bilang aku tidak boleh masuk ke kamarmu kecuali dipanggil. Karena kau sudah bangun, aku akan pergi ke dapur menyiapkan sarapan untuk mu."
Suaranya lembut dan manis. He Yan menepuk kepalanya, dan bertanya, "Di mana Tuan Muda Keduamu?"
"Tuan Muda Kedua pergi pagi-pagi sekali," jawab Bai Guo sambil tersenyum. "Sebelum pergi, Tuan Muda Kedua bilang Tuan muda He tidak perlu merasa terkekang. Jika Tuan Muda tidak ingin tinggal di rumah, Tuan Muda bisa pergi mengurus urusanmu, dan kembalilah lebih awal nanti malam." Ia teringat sesuatu dan menambahkan, "Tuan Muda, ada uang kertas di laci kayu di meja kamarmu. Tuan Muda Kedua bilang kau bisa menggunakannya, dan jika Tuan Muda membutuhkan sesuatu lagi, beri tahu aku. Aku akan melapor kepada Nyonya Pertama."
Meskipun masih cukup muda dan masih memiliki aura kekanak-kanakan, ia berbicara dengan sangat bijaksana. He Yan tersenyum, "Kau masih sangat muda, mengapa Tuan Muda Kedua menyuruhmu melayaniku?"
"Ayah ku adalah pengurus seluruh rumah besar ini," Bai Guo dengan bangga menegakkan dadanya. "Karena Tuan Muda Kedua memilih ku, Aku akan menjaga mu dengan baik, Tuan Muda."
"Terima kasih kalau begitu." He Yan tersenyum.
Bai Guo sangat gembira, seolah-olah baru pertama kali menerima tugas penting. Ia menjawab, "Tuan Muda adalah teman Tuan Muda Kedua, tidak perlu berterima kasih. Aku akan pergi ke dapur sekarang! Mohon tunggu sebentar. Air panas tersedia di ketel perak di dekat pintu masuk halaman. Jika Tuan Muda ingin mandi, kau bisa menuangkannya langsung. Tuan Muda Kedua bilang Tuan Muda tidak suka disentuh, jadi hamba tidak perlu membantu Tuam Muda mandi." Ia menjulurkan lidah dan berlari pergi.
He Yan memperhatikan kepergiannya, berpikir bahwa Xiao Jue cukup Perhatian. Memilih seorang gadis muda yang sederhana dan polos – bahkan jika dia melihat sesuatu yang aneh, dia tidak akan terlalu mempermasalahkannya. Jika itu adalah seorang pelayan yang cerdas dan tanggap, bagaimana jika mereka secara kebetulan mengetahui identitasnya?
He Yan menundukkan kepalanya sambil tersenyum, pertama-tama pergi mengambil air seperti yang dikatakan Bai Guo, lalu kembali ke kamarnya untuk menyegarkan diri.
Tepat setelah selesai He Yan selesai mandi, Bai Guo datang membawa keranjang makanan. Bai Guo melangkah melewati ambang pintu dan meletakkan keranjang makanan di atas meja, "Tuan Muda, setelah selesai makan, tinggalkan saja keranjangnya di sini. Aku akan membersihkannya. Jika ada yang Tuan Muda butuhkan, panggil aku untuk masuk." Tanpa menunggu jawaban He Yan, ia segera pergi.
He Yan: "..."
He Yan bertanya-tanya apa yang dikatakan Xiao Jue pada gadis kecil itu.
Hidangannya terdiri dari bubur ringan dan hidangan kecil, seperti tadi malam – tidak mewah, tetapi disiapkan dengan cermat dan teliti. He Yan menghabiskan makanannya dan meletakkan kembali mangkuk serta piring kosong ke dalam keranjang. Setelah merapikan pakaiannya, He Yan pergi ke meja, mengingat apa yang Bai Guo katakan sebelumnya, He Yan membuka laci kayu meja itu. Ia menemukan setumpuk uang kertas tebal di dalamnya.
Ia mengira hanya ada satu atau dua lembar uang, tetapi tidak disangka Xiao Jue begitu murah hati – uang ini cukup untuk hadiah pertunangan seorang wanita muda. Mengutuk para bangsawan kaya dalam hati, He Yan berpikir, tidak heran Xiao Jue bahkan tidak berkedip saat membeli pakaian di Jiyang, dan langsung memilih kain kasa sutra seharga seratus tael.
Memiliki uang berarti bisa melakukan apa pun yang dia inginkan.
He Yan tidak menyentuh uang kertas itu, ia menutup laci, dan berjalan keluar ruangan.
He Yan memiliki ingatan yang baik dan tahu cara menuju gerbang utama rumah dari halaman ini. Sepanjang jalan, ia tidak bertemu Bai Rongwei atau Xiao Jing. Adapun para pelayan lainnya, baik yang diinstruksikan oleh Xiao Jue sebelumnya atau tidak, tidak ada yang memperhatikannya, hanya fokus pada tugas mereka. Seolah-olah kehadiran He Yan di rumah Xiao Jue sudah sangat alami, seolah-olah ia sudah lama tinggal di sana sebagai bagian dari keluarga Xiao.
He Yan meninggalkan gerbang utama kediaman besar itu tanpa banyak usaha.
Begitu melangkah keluar, ia dikejutkan oleh sinar matahari yang cerah. He Yan menyipitkan mata dan mulai berjalan ke arah tertentu.
Sebelum meninggalkan ibu kota untuk bergabung dengan militer, ia telah memenangkan sejumlah besar uang di Le Tong Manor dan menyekolahkan He Yunsheng. Kini setelah satu setengah tahun berlalu, ia bertanya-tanya apakah He Yunsheng masih bersekolah di sana. Ia tidak bisa langsung pergi ke rumah keluarga He, karena para tetangga telah menyaksikan Nona Muda He tumbuh dewasa – bahkan dengan pakaian pria, ia mungkin masih dikenali. Teman-teman sekelas He Yunsheng belum pernah melihat He Yan, jadi akan lebih aman.
Waktunya tepat. He Yan tiba di gerbang "Akademi Helu" tanpa susah payah. Meskipun tidak sebanding dengan gedung Xianchang, Akademi Helu tetap dianggap sebagai sekolah yang layak di kalangan keluarga biasa. Di masa Dinasti Da Wei yang saat ini lebih mengutamakan urusan sipil daripada urusan militer, Akademi Helu tidak hanya mengajarkan ilmu sastra tetapi juga memiliki guru seni bela diri – inilah yang paling dihargai oleh He Yan. He Yunsheng memulai pendidikannya agak terlambat, dan meskipun ia tidak terlalu tertarik pada sastra, ia cukup mahir dalam seni bela diri. Menempuh karis sebagai seorang prajurit di masa depan bukanlah hal yang mustahil.
Saat itu pagi sekali, waktu terbaik untuk belajar, dan suara-suara membaca terdengar dari dalam Akademi Helu. He Yan bukan bagian dari sekolah dan tidak bisa langsung masuk. Ia memesan secangkir teh di kedai teh terdekat dan duduk selama sekitar setengah jam. Setelah kelas berakhir, ia memanfaatkan waktu istirahat para guru untuk memanjat tembok masuk ke dalam akademi.
Para siswa meninggalkan akademi, dan tepat ketika He Yan hendak bertanya kepada seorang pemuda tentang keberadaan He Yunsheng, tanpa sadar ia berjalan ke jendela kelas. Dari dalam terdengar suara tawa anak-anak muda, diwarnai ejekan jahat, "Kakak Yunsheng, kau tidak ikut denganku hari ini? Hari ini ulang tahun Kakak Wang!"
Orang lain berkata, "Bagaimana mungkin Kakak Yunsheng memperhatikan kita? Pernahkah kau melihatnya ikut kegiatan kita? Kakak Yunsheng sangat jago bela diri, dan dengan wajah tampan yang disukai para gadis – dia mungkin akan menikah dengan baik dan meraih kesuksesan di masa depan. Kenapa dia mau bergaul dengan kita!"
Ejekan kembali terjadi. He Yan sedikit mengernyit – ejekan seperti itu terlalu menyakitkan. Bagaimana mungkin He Yunsheng, dengan sifatnya yang angkuh dan cepat marah, menoleransi hal ini? Bukankah itu akan berujung pada perkelahian?
Khawatir, He Yan mengintip ke dalam dan melihat seorang pemuda berbaju biru berdiri di depan meja dikelilingi siswa lain. Ia menundukkan kepala, mengemasi buku-bukunya, dan tidak mengatakan sepatah kata pun.
Ia telah menahan penghinaan seperti itu.
Mungkin merasa ingin meninju kapas tanpa respons, setelah membuat keributan beberapa saat, para pemuda merasa bosan dan meninggalkan kelas berkolompok berdua-tiga orang. Sementara itu, He Yunsheng selesai mengemasi buku-bukunya dan pergi.
He Yan mengikuti He Yunsheng dari kejauhan.
He Yunsheng memasuki gang kosong, dan setelah berjalan beberapa langkah, tiba-tiba ia merasakan angin kencang datang dari belakang. He Yunsheng secara spontan berbalik, ia membalas dengan telapak tangan, tetapi alih-alih mengenai siapa pun, telapak tangan itu justru mengenai telapak tangan lain yang lembut namun tangguh, diam-diam menahan kekuatannya dan dengan mudah membuatnya mundur beberapa langkah.
"Siapa itu!" teriaknya waspada.
Sesaat kemudian, sebuah suara familiar dengan sedikit tawa terdengar, "Lumayan, Nak. Sepertinya tahun ini dan seterusnya sekolahmu tidak sia-sia – kekuatanmu meningkat pesat."
Mendengar suara ini, He Yunsheng membeku, hampir tidak percaya. Telapak tangan di depannya ditarik, memperlihatkan wajah orang itu. Wajah dengan fitur yang agak mirip dengannya, yang sesekali muncul di benaknya – wajah yang cantik, familiar, namun asing.
Kakaknya... He Yan.
"Kau..." Suara He Yunsheng bergetar.
He Yan menepuk kepalanya pelan, lalu mengacak-acak rambutnya, "Apa 'kau'? Panggil aku Kakak!"
"Bagaimana kau bisa kembali!" He Yunsheng akhirnya tersadar, dan baru pada saat inilah pemuda itu menunjukkan sekilas apa yang He Yan ingat sebelumnya. He Yunsheng melangkah maju, meraih siku He Yan seolah memastikan apakah ini mimpi atau kenyataan. "Kau kembali? He Yan! Kapan kau kembali? Tahukah kau betapa khawatirnya Ayah dan aku setahun terakhir ini!"
Matanya memerah, suaranya tercekat.
Melihat pemuda di hadapannya, He Yan tidak bisa menahan emosinya. Anak muda ini tumbuh dengan cepat, dan dalam satu setengah tahun, He Yunsheng telah tumbuh jauh lebih tinggi. He Yan harus mendongak untuk menatapnya. Ia juga jauh lebih kurus dari sebelumnya, tampak tinggi dan tegap—hampir seperti orang dewasa.
He Yan meraih tangannya dan menarik He Yunsheng pergi, "Ini bukan tempat untuk bicara. Ikut aku."
Di ruang teh, kue-kue lezat tersaji, tetapi He Yunsheng sama sekali tidak berselera makan. Namun, orang di seberangnya terus mendorong piring ke arahnya, "Bukankah dulu kau suka ini? Makanlah lebih banyak."
He Yunsheng dengan keras kepala berkata, "Aku tidak suka yang manis-manis."
He Yan memutar bola matanya dalam hati, teringat bagaimana dulu ia selalu ngiler melihat kue-kue pemberian He Sui saat mereka pergi menebang kayu bakar di pegunungan. Melihat pemuda di hadapannya, He Yan menyadari bahwa anak-anak tumbuh dewasa dan belajar untuk menjaga harga diri mereka.
Anehnya, meskipun ia pernah bertemu Cheng Lisu dan Song Taotao, yang keduanya lebih muda darinya, hanya dengan He Yunsheng ia merasakan kekhawatiran yang tulus dan tidak terjelaskan ini. Kekhawatiran ini tersembunyi dengan baik selama di Liangzhou, tetapi setelah bertemu langsung dengan He Yunsheng, kekhawatiran itu tidak terbendung lagi. He Yan hanya ingin memberikan yang terbaik untuk anak ini, berharap masa depan yang cerah. Mungkin karena tubuh ini milik Nona Muda He – keajaiban ikatan darah terletak di sini.
"Kau masih belum memberitahuku kenapa kau kembali?" He Yunsheng menatap He Yan, ragu-ragu sebelum menambahkan, "Dan kenapa kau terlihat seperti ini sekarang?"
He Yan tersenyum padanya, "Penampilan ini... tidak bagus?"
He Yunsheng tidak mengatakan bagus atau buruk, tetapi hanya merasa aneh di dalam hatinya. Ia terbiasa melihat He Yan mengenakan gaun dan pernah melihatnya mengenakan pakaian pria sebelumnya, tetapi bahkan saat itu, penampilannya tidak sealami sekarang. Jika He Yan bukan saudara perempuannya, jika ia melihat orang seperti itu di jalan, He Yunsheng tidak akan pernah percaya bahwa dia adalah seorang wanita.
He Yan memang cantik – bahkan ketika hubungan He Yunsheng dengannya sedang buruk-buruknya, ia harus mengakui fakta ini. Namun, kecantikannya selalu tampak agak sembrono dan murahan, terutama ketika ia berencana meminta uang dari He Sui untuk membeli pakaian dan aksesori. He Yan yang sekarang sedikit lebih gelap dari sebelumnya, hampir tanpa riasan. Alih-alih cantik, ia kini tampak lebih gesit. Semburat kecerahan dan semangat itu membuat matanya bersinar bak bintang.
Sebenarnya... dia masih cantik, mungkin bahkan lebih menarik daripada sebelumnya.
Tapi bukan itu intinya. He Yunsheng tersadar dan bertanya, "Apakah kau masih di kamp militer? Tidak, jika masih di sana, bagaimana kamu bisa keluar?"
"Kakakmu ini luar biasa dan sangat dihargai oleh atasannya," He Yan mengangkat tehnya dan menyesapnya. "Selama bertugas, aku cukup beruntung diangkat ke posisi pejabat kecil. Meskipun bukan yang tertinggi, aku lebih baik daripada kebanyakan orang."
"Bagaimana kau bisa menjadi pejabat?" He Yunsheng terkejut. "Tidak tahukah kau kalau kau seorang wanita? Kau mungkin bisa menyembunyikannya untuk sementara waktu, tapi tidak selamanya! Jika identitasmu ketahuan nanti, tamatlah riwayatmu! Tidak, tidak," He Yunsheng mulai cemas, "Kau harus segera mengundurkan diri, mengundurkan diri besok!"
He Yan memiringkan kepalanya dan menatap He Yunsheng, "Tidakkah kau ingin bertanya posisi apa yang aku jabati?"
"Apa pun jabatanmu, kau tidak bisa mempertahankannya!" kata He Yunsheng tidak sabar. "Sekalipun kau Perdana Menteri, itu tidak akan bisa diterima. Lagipula, semakin tinggi jabatanmu, semakin berbahaya. Kau tidak bisa mempertaruhkan nyawamu demi kejayaan dan kekayaan. Kau harus mengundurkan diri!"
He Yan tertegun, sejenak tenggelam dalam pikirannya.
Jika He Yunsheng yang masih kanak-kanak saja bisa memahami logika ini, bagaimana mungkin kedua pejabat keluarga He di istana tidak memahaminya? Menggunakan tipu daya sangatlah berbahaya – begitu ketahuan, ia pasti sudah mati, tetapi keluarga He tetap membiarkannya melakukan ini, dan selama bertahun-tahun.
Itu bukan apa-apa selain... keserakahan manusia, tidak mau melepaskan sedikit kejayaan dan kekayaan, atau mungkin di mata mereka, nyawa He Yan hanyalah alat tawar-menawar, tidak bernilai dibandingkan dengan potensi kemajuan karier yang bisa mereka peroleh.
"Hei, apa kau mendengarkanku?" He Yunsheng melambaikan tangannya di depan He Yan.
He Yan mendongak dan tersenyum, "Tentu saja, aku mengerti maksudmu. Aku akan mengundurkan diri, tapi sekarang bukan saatnya. Aku masih punya beberapa hal yang harus kulakukan. Aku akan mengundurkan diri setelah semuanya selesai."
Tepat ketika He Yunsheng hendak menanyakan hal apa yang masih harus diurus, He Yan kembali berbicara, "Cukup tentang ku, bagaimana dengan kalian semua? Bagaimana kabar Ayah selama aku tidak di Shuojing? Apakah keluarga Fan membuat masalah?"
Ekspresi He Yunsheng menjadi muram, "Bajingan-bajingan itu, bagaimana mungkin mereka tidak membuat masalah?"
Ternyata setelah He Yan bergabung dengan militer, karena pembunuh Fan Chengzhi tidak pernah ditemukan, keluarga Fan melampiaskan amarah mereka kepada keluarga He. Meskipun He Yan juga seorang "korban", justru karena jasadnya tidak pernah ditemukan, perbandingan tidak mungkin terjadi. Keluarga Fan Cheng sering membuat masalah bagi He Sui di markas militer, memfitnahnya atas perbuatan buruk, yang menyebabkan He Sui kehilangan jabatannya sebagai Polisi Militer.
Untungnya, tidak lama kemudian, sebuah keluarga pedagang di Shuojing ingin mempekerjakan seorang pengawal. Setelah mengetahui bahwa He Sui adalah mantan Prajurit yang memiliki keterampilan bela diri yang baik, mereka pun mempekerjakannya. Meskipun tampaknya kurang bergengsi dibandingkan menjadi Prajurit, keluarga pedagang itu murah hati dan gajinya tinggi.
He Yan agak curiga, "Gajinya bagus, tapi kenapa kamu pakai baju lama? Dari omongan teman-teman sekelasmu, sepertinya mereka mengeluh kau tidak mau belanja dengan mereka."
He Yunsheng menatap He Yan dengan tatapan tidak percaya, "Kamu menguping..."
"Ssst," He Yan tersenyum, "Aku cuma lewat dan kebetulan dengar. Kamu menabung tanpa menggunakannya – uang itu tidak mungkin untuk hadiah pertunanganmu, kan?"
He Yunsheng tetap diam. Dia tidak bisa memberi tahu He Yan bahwa meskipun keluarga mereka sekarang lebih baik, dia dan He Sui telah berdiskusi bahwa sejak He Yan bergabung dengan militer, mereka tidak tahu kapan He Yan akan kembali. Seorang wanita muda di luar sana pasti sangat menderita – hidup saja sudah cukup. Jika dia kembali ketika sudah tua, atau jika orang-orang memandang rendah dirinya dan dia tidak menikah, mereka ingin menabung lebih banyak uang sehingga jika He Yan ingin tinggal sendiri di Shuojing, memiliki lebih banyak uang akan membuat hidup lebih mudah.
Melihat He Yunsheng terdiam, He Yan mengira tebakannya benar dan tersenyum, "Jangan terlalu pelit. Lagipula aku sekarang sudah dapat gaji." He Yan mengeluarkan dua lembar uang kertas dari dadanya dan berkata lembut, "Kita menang perang tadi, ini dari rampasan perang, hadiah dari Yang Mulia. Ambil uang ini dan buatkan baju baru untuk Ayah dan dirimu. Perlakukan dirimu lebih baik – pakaian mencerminkan kepribadian pria, jika kamu berpakaian bagus, bukankah wanita yang kamu sukai akan memperhatikanmu? Semua wanita muda menyukai pria tampan. Meskipun wajahmu tampan, kepribadianmu kurang menarik, jadi kamu perlu berdandan sedikit."
He Yunsheng memegang uang kertas itu dan setelah beberapa saat bertanya, "Memenangkan pertempuran? Apakah kau pergi ke medan perang? Yang mana? Pertempuran air di kota Jiyang, pertempuran di garnisun Liangzhou, atau pertempuran di kota Rundu?"
He Yan tidak menyangka He Yunsheng akan mengikuti peristiwa-peristiwa ini, menggaruk kepalanya dan berkata, "Sebenarnya... aku ada di semua pertempuran itu."
He Yunsheng tersentak.
Ketika He Yan pergi dengan tergesa-gesa, ia hanya meninggalkan sepucuk surat. He Yunsheng kemudian bertanya-tanya dan mengetahui bahwa seluruh rekrutan dari Shuojing saat itu pergi ke garnisun Liangzhou. Setelah itu, ia terus-menerus memperhatikan berita dari garnisun Liangzhou.
Mendengar perjalanan yang panjang dan banyak orang lemah yang meninggal di tengah jalan, ia berdoa setiap hari agar ibu mereka di surga melindungi He Yan. Kemudian, mendengar bahwa garnisun Liangzhou terasa getir dan dingin, serta pelatihannya keras, ia hanya berharap He Yan bisa menjadi juru masak. Ketika Ri Damuzi memimpin pasukan ke garnisun Liangzhou, ia dan He Sui tidak bisa tidur semalaman, kemudian menghibur diri bahwa He Yan akan baik-baik saja – ia bahkan tidak bisa membawa pedang, dan karena pintar, mungkin ia bahkan tidak akan melihat musuh.
Pertempuran air di kota Jiyang... pertahanan di Kota Rundu... Singkatnya, sejak He Yan bergabung dengan militer, He Sui dan He Yunsheng menjalani kehidupan yang sangat sulit. Jika mereka tidak takut keluarga Fan akan mengikuti mereka untuk menemukan keberadaan He Yan, keduanya mungkin sudah berkemas dan pergi ke Liangzhou sendiri.
"Bukankah aku sudah menyuruh seseorang membawakan pesan untukmu?" tanya He Yan.
He Yunsheng mengerutkan kening, berpikir sejenak, "Ada dua kali, tapi sangat singkat dan hanya catatan yang dilemparkan ke dalam rumah. Kami tidak bisa bertemu langsung dengan utusan itu, jadi kami tidak tahu situasimu." Saat ini, He Yunsheng marah sekaligus cemas, "Apa yang kau pikirkan saat itu, bagaimana kau bisa berpikir untuk bergabung dengan militer? Kau seorang wanita muda..."
"Tidak ada yang bilang perempuan tidak boleh masuk militer." He Yan, takut akan omelannya, dan langsung memotong omongan He Yunsheng, "Lagipula, lihat aku sekarang, bukankah aku aman dan sehat? Ngomong-ngomong, sekarang Ayah sudah bukan Polisi lagi, apakah keluarga Fan masih mengganggumu?"
He Yunsheng menggelengkan kepalanya, "Mereka berhenti datang beberapa bulan yang lalu." Ia berkata dengan nada sarkastis, "Mereka memukul dan memaki kami, dan kami pasrah saja. Mereka mungkin tahu tidak ada gunanya melanjutkan. Kudengar kepala keluarga Fan punya putra lagi, jadi mereka mungkin sudah tidak peduli lagi dengan putra sebelumnya."
He Yan tidak bisa menahan diri untuk mendecakkan lidahnya. Kepala keluarga Fan sudah cukup tua, tetapi masih bisa memiliki anak di usia senjanya – He Yan tidak tahu harus berkata apa.
"Ikutlah denganku," He Yunsheng menatap He Yan. "Ayah akan pulang malam ini. Ia akan sangat senang melihatmu saat kau kembali."
He Yan menggelengkan kepalanya, "Aku tidak bisa kembali sekarang."
"Kenapa?"
"Yunsheng," He Yan menatapnya dengan sabar, "Identitasku saat ini sangat rapuh. Semua tetangga sudah pernah melihat wajahku sebelumnya. Kalau aku dikenali... pasti akan ada masalah. Kalaupun aku ingin bertemu Ayah, tidak bisa bertemu di rumah. Lagipula, sekarang bukan waktu yang tepat." Ia menyodorkan uang kertas itu ke tangan He Yunsheng, "Aku datang hari ini hanya untuk menjengukmu. Melihatmu baik-baik saja, aku lega. Katakan pada Ayah aku baik-baik saja. Nanti kita cari tempat untuk bertemu."
He Yunsheng merasa agak sedih – akhirnya bertemu dengan He Yan, namun harus bersembunyi seolah-olah tidak terlihat. Namun, dalam hatinya ia mengerti bahwa He Yan benar.
"Lalu bagaimana denganmu?" Ia mencoba mendorong uang kertas itu kembali kepada He Yan, "Apa kau tidak butuh uang juga? Simpan saja sendiri. Dan di mana kau menginap sekarang? Penginapan? Penginapan sangat tidak aman, kudengar ada banyak tempat usaha ilegal..."
He Yan tidak mau repot-repot berbasa-basi, langsung memasukkan uang kertas itu ke dalam dada He Yunsheng, sambil berkata, "Aku punya banyak lagi, setumpuk tebal, aku bisa menggunakannya kapan pun aku mau. Jangan khawatir, Nak. Aku tidak menginap di penginapan, aku sedang mencarikan rumah untuk disewa, dan sebelum itu, aku menginap di rumah teman."
"Teman?" Telinga He Yunsheng menajam, menatap He Yan dengan curiga, dan bertanya dengan tidak sabaran, "Teman yang mana? Bertemu di garnisun Liangzhou? Berapa umurnya? Laki-laki atau perempuan?"
He Yan: "..."
Sikap ini entah bagaimana terasa seperti seorang ayah yang mengatur penginapan putrinya. He Yan berpikir, jika ia menyebut nama Xiao Jue, He Yunsheng mungkin akan mengikutinya kembali ke kediaman Xiao malam ini – lagipula, ia masih ingat kata-kata He Yunsheng.
"Jika aku seorang wanita, aku hanya akan mencintainya!"
Mulut He Yan berkedut, tidak dapat membayangkan He Yunsheng dan Xiao Jue berdiri bersama hanya untuk sebentar, He Yan akhirnya berkata, "Kenapa anak kecil sepertimu bertanya begitu banyak, hanya cukup tahu bahwa teman ku adalah seseorang yang penting."
Komentar
Posting Komentar