Legend of the Female General-Bab 182 Meninggalkan Kota

Kembali ke kamarnya, He Yan berbaring di tempat tidur, berguling-guling. Jendela terbuka, membiarkan angin sepoi-sepoi masuk yang membuatnya tetap terjaga. Percakapannya dengan Xiao Jue tadi seakan masih terngiang di telinganya.

Ternyata pada malam ia meninggalkan keluarga He untuk bergabung dengan militer, Xiao Jue datang menemuinya. Namun takdir bermain licik, membuat mereka tidak saling bertemu. Sekali terlewat, tidak ada kesempatan kedua. Sebagaimana He Yan yang dulu tidak pernah tahu bahwa Xiao Jue-lah yang diam-diam membimbing belajar pedang, kini Xiao Jue tidak pernah tahu bahwa orang yang diam-diam ia bantu saat itu telah digantikan oleh orang lain.

Sekeras apa pun ia berusaha menyembunyikan identitasnya, ia juga ingin berterima kasih pada Xiao sebagai mantan teman sekelas. Sepertinya, baik di kehidupan lampau maupun sekarang, ia dan Xiao Jue memiliki banyak hubungan aneh, meskipun hanya singkat – dan terutama sekarang...

He Yan duduk, berpikir sejenak, lalu dengan buru-buru turun dari tempat tidur. Ia berjalan ke meja dan menyalakan lampu minyak dengan tongkat api. Zhao Shiming adalah seorang sarjana, dan perlengkapan menulis berserakan di seluruh kamarnya. He Yan menggiling tinta, mencari kertas, duduk di meja, dan perlahan mulai menulis.

...

Semua urusan di Kota Rundou diselesaikan dalam tiga hari. Sudah waktunya bagi rombongan Xiao Jue untuk pergi.

Sebelum berangkat, He Yan pergi menemui Zhao Shiming.

Setelah insiden dengan Qi Luo, He Yan tidak berbicara sepatah kata pun kepada Li Kuang. Setiap kali ia melihat Li Kuang, ia akan teringat wanita muda manis berlesung pipit itu ketika tersenyum. Li Kuang tampaknya merasakan hal yang sama – setiap kali ia bertemu He Yan, ia akan menghindari tatapannya.

Oleh karena itu, ada beberapa hal yang tidak ingin ia bicarakan dengan Li Kuang.

Zhao Shiming sedang duduk di kamarnya, memeriksa dokumen-dokumen resmi. Saat Kota Rundou dikepung oleh orang-orang Wutuo, para pedagang di kota menutup usaha mereka, dan semuanya menjadi kacau balau. Kini setelah orang-orang Wutuo mundur dan Kota Rundou kembali damai, masih butuh waktu untuk memulihkan ketenangan seperti sedia kala.

"Tuan Zhao," panggil He Yan saat memasuki ruangan.

Zhao Shiming mendongak dari dokumen-dokumennya. Melihat He Yan, ia terkejut sesaat lalu berdiri dengan senyum antusias. "Apa yang membuat Tuan Muda He datang berkunjung hari ini?"

Zhao Shiming sangat menyayangi He Yan. Sebagai seorang cendekiawan, ia tidak bisa bergaul dengan prajurit kasar seperti Li Kuang. Sedangkan Xiao Jue dan Yan He, yang satu bersikap dingin dan yang satunya arogan, membuatnya merasa terintimidasi. Namun He Yan berbeda – pemuda ini cerdas dan berani meskipun usianya masih muda, baik hati dan jujur, dengan paras yang halus dan menyenangkan. Jika cucunya tidak terlalu muda, Zhao Shiming pasti sudah mempertimbangkan untuk mengangkat pemuda ini sebagai menantu

He Yan tersenyum dan berkata, "Tuan Zhao sungguh baik hati. Aku datang untuk berpamitan, karena aku akan kembali ke Ibu Kota Shuo bersama Komandan besok. Terima kasih atas perhatian mu selama aku tinggal di Kota Rundou."

Zhao Shiming semakin menyayangi pemuda ini – sungguh perhatian datang untuk mengucapkan selamat tinggal secara langsung, sungguh sopan. Ia tersenyum dan menjawab, "Tuan Muda He, tolong jangan berkata begitu. Kau adalah penyelamat Kota Rundou. Kami tidak dapat menjamu mu dengan baik selama kau tinggal di sini dan malah menyebabkan banyak masalah untuk mu. Ketika Tuan Muda He mengunjungi Kota Rundou lagi di masa mendatang, aku pasti akan memberikan pelayanan yang lebih baik. Mohon maaf atas segala kekasaran kali ini."

He Yan menopang tangan Zhao Shiming yang mencoba membungkuk, sambil berkata, "Junior ini tidak akan berani."

Junior? Zhao Shiming terkejut. Sebelum ia sempat memproses hal ini, ia melihat pemuda di hadapannya menatapnya dengan ekspresi serius: "Sebenarnya, aku punya permintaan lain kepada Tuan Zhao hari ini."

Ungkapan ini terdengar familier bagi Zhao Shiming – He Yan pernah memakainya saat meminta bantuan orang-orangnya untuk menyampaikan pesan kepada Yan He. Permintaan lain? Zhao Shiming diam-diam senang karena He Yan yang datang kepadanya, alih-alih Li Kuang, menunjukkan bahwa ia dipercaya. Permintaan Perwira Pertahanan Militer biasanya sederhana, dan bisa membantu sungguh merupakan suatu kehormatan. Dengan pemikiran ini, Zhao Shiming tersenyum dan berkata, "Tuan Muda He, silakan bicara langsung. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu."

Begitu ia selesai berbicara, Zhao Shiming menyaksikan dengan kaget ketika orang di depannya mengangkat jubahnya dan berlutut.

"Kau..." ia terkejut.

"Kalau begitu, aku berterima kasih kepada Tuan Zhao."

...

Para pelayan di luar tidak tahu apa yang sedang dibicarakan di dalam. Ketika seorang pelayan masuk untuk menyajikan teh beberapa saat kemudian, mereka mendapati Zhao Shiming terkulai di mejanya, tampak bingung dan linglung.

"Tuan?" panggil pelayan itu.

Zhao Shiming akhirnya tersadar, menelan ludah, dan berkata, "Bukan apa-apa, bukan apa-apa."

Ia menggenggam surat erat-erat ditangannya.

Sementara itu, He Yan berjalan keluar dan menarik napas dalam-dalam. Ia tidak yakin apakah keputusannya benar atau salah, tetapi sepertinya itu cara terbaik untuk menjaga Xiao Jue tetap aman.

Seseorang mendekat dari depan, secantik bunga – itu Ying Xiang. Melihat He Yan, Ying Xiang membungkuk sedikit: "Pejabat He."

Ia kini tidak lagi memanggil He Yan "Tuan Muda He", melainkan "Pejabat He".

"Nona Ying Xiang," jawab He Yan, menyadari Ying Xiang membawa sesuatu yang tampak seperti pakaian. He Yan tidak kuasa menahan diri untuk tidak meliriknya dua kali.

Ying Xiang memperhatikan tatapan He Yan dan tersenyum, "Tuan Muda Keempat meminta pelayan ini untuk mengurus semua ini, karena kita akan kembali ke Ibu Kota Shuo besok. Sinar matahari Kota Rundou cukup bagus; pakaiannya cepat kering."

"Kembali ke Ibu Kota Shuo?" He Yan sedikit mengernyit, "Kalian juga akan berangkat besok?"

Chu Zhao awalnya sedang dalam perjalanan ke Ibu Kota Shuo namun terjebak di dalam kota Rundu akibat pengepungan Wutuo. Karena orang-orang Wutuo telah pergi, wajar saja jika mereka harus pergi. He Yan hanya tidak menyangka Chu Zhao akan pergi di hari yang sama dengan Xiao Jue.

"Iya," jawab Ying Xiang sambil tersenyum, "Tuan Muda Keempat akan ikut dengan kalian semua. Komandan Xiao juga sudah tahu hal ini. Dengan kemungkinan adanya orang Wutuo yang lain di jalan, lebih baik kita berpergian bersama-sama."

Xiao Jue bukanlah tipe orang yang ingin melindungi Chu Zhao, tetapi karena ia sudah tahu tentang pengaturan ini, He Yan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ketika Li Kuang ingin membunuh para wanita tawanan itu, Chu Zhao juga telah angkat bicara. Apa pun motifnya, He Yan harus berterima kasih kepadanya secara terbuka.

"Mohon ucapkan terima kasih kepada Tuan Muda Keempat karena telah membela para tawanan wanita itu di hadapan Jenderal," kata He Yan.

Mata Ying Xiang melengkung membentuk senyum: "Tentu, Pejabat He."

Setelah He Yan pergi, Ying Xiang kembali ke kamar sambil membawa pakaian-pakaian yang telah kering. Chu Zhao berdiri di dekat jendela. Ying Xiang segera mengemas pakaian-pakaian itu menjadi satu bundel, menyelesaikan pekerjaannya dalam sekejap.

"Tuan Muda Keempat," Ying Xiang menghampiri Chu Zhao dan berkata lembut, "Baru saja di jalan, pelayan ini bertemu Nona He. Dia memintaku untuk menyampaikan terima kasih kepada Tuan Muda karena telah berbicara di hadapan Jenderal Li atas nama para wanita tawanan itu."

Chu Zhao tersenyum tipis, tidak membantah maupun tidak setuju.

Setelah hening sejenak, Ying Xiang berkata, "Tuan Muda Keempat seharusnya tidak melakukan itu."

Chu Zhao: "Oh?"

"Mungkin ada orang-orang Perdana Menteri di kota ini. Perdana Menteri tidak akan senang melihat Tuan Muda Keempat bertindak seperti ini..."

Xu Jingfu adalah orang yang sangat tidak suka orang lain bertindak atas inisiatif mereka. Karena masalah Kota Rundou tidak ada hubungannya dengan dirinya, Chu Zhao tidak hanya angkat bicara tetapi juga menyebut nama Xu Jingfu. Begitu Xu Jingfu mengetahui hal ini, ia pasti akan marah kepada Chu Zhao.

"Apa yang sudah terjadi ya sudah, tidak perlu khawatir," Chu Zhao tersenyum tipis, "Soal Perdana Menteri, aku sendiri yang akan menjelaskannya."

"Mengapa Tuan Muda melakukan itu?" tanya Ying Xiang lembut, "Bahkan tanpa campur tangan Tuan Muda, dengan kemampuan Nona He, tidak seorang pun bisa mengganggunya."

Chu Zhao tidak menjawab, hanya menatap langit yang jauh melalui jendela.

Benar sekali, Kenapa?

Mungkin karena sikap He Yan di hadapan para wanita itu mengingatkannya pada masa mudanya di rumah bordil, ketika orang-orang menindasnya, dan Ye Runmei berdiri di hadapannya dengan protektif. Seumur hidupnya, ia jarang dilindungi – selain Ye Runmei, hanya ada He Yan.

He Yan melindungi para wanita itu sama seperti He Yan telah melindunginya di Ji Yang. Satu orang melindungi yang lain, tanpa motif tersembunyi, tanpa ikatan darah, bahkan tanpa hubungan dekat – semata-mata karena ia yakin itu benar, dan ia pun melakukannya.

Tindakannya sungguh berani dan patut dikagumi, jujur, bagaikan seberkas cahaya yang menerangi bahkan mereka yang mendekat. Maka pada saat itu, ia pun berdiri, percaya bahwa dirinya juga orang yang jujur dan berani.

Namun...

Ia bukanlah cahaya, melainkan hanya bayangan.

...

Hari keberangkatan dari Kota Rundou pun tiba.

Li Kuang dan Zhao Shiming pergi ke gerbang kota untuk melepas kepergian mereka. Pasukan Garda Selatan dan Garda Liangzhou tidak ikut pergi bersama Xiao Jue – mereka bergegas kembali ke ibu kota, hanya membawa pasukan Yan He.

Kota Rundu sunyi. Meskipun disinari matahari, semuanya tampak tertutup kabut abu-abu samar. He Yan merasa emosional – terakhir kali ia meninggalkan Kota Rundou, ia masih menjadi "Wakil Komandan He", tertawa dan mengobrol dengan Li Kuang. Kini, saat mereka meninggalkan Kota Rundou lagi, keduanya tidak lagi sama seperti sebelumnya.

Waktu berlalu dengan cepat; tanaman anggur di Kota Rundou telah tumbuh lebat. Saat kelompok itu berdiri di gerbang kota, He Yan hendak menunggang kudanya namun tiba-tiba ia mendengar suara dari belakang memanggil: "Tuan Muda He!"

He Yan menoleh.

Di gerbang Kota Rundou, kerumunan orang biasa telah berkumpul tanpa ada yang memperhatikan. Mereka berdiri di kedua sisi jalan, diam-diam memperhatikan kelompok Xiao Jue. Sekelompok perempuan muncul dari ujung kerumunan – perempuan paling depan yang memanggilnya.

Mereka mengenakan pakaian bersih, tetapi masih terdapat luka yang belum sembuh di wajah mereka. Mereka adalah para tawanan yang diselamatkan He Yan dari orang-orang Wutuo pada penyerbuan malam itu, perempuan yang sama yang ia selamatkan dari pedang Li Kuang. He Yan teringat perempuan yang memanggi itu – hari itu, dialah yang, dengan berlinang air mata, mencoba mencegah He Yan menghadapi Li Kuang, dan rela mengorbankan dirinya.

Setelah kejadian itu, He Yan mengetahui dari Zhao Shiming bahwa wanita ini awalnya tinggal di sebuah pertanian di luar kota. Ketika orang-orang Wutuo datang, mereka membunuh suami dan putranya, meninggalkannya sebagai satu-satunya yang selamat dari keluarganya. Setelah dilecehkan oleh orang-orang Wutuo, ia takut akan tatapan aneh dari orang lain, dan tanpa keluarga yang tersisa, ia telah bertekad untuk mati. Itulah sebabnya ketika Li Kuang ingin membunuhnya, ia adalah yang tercepat menerima takdirnya.

Hari itu, jika He Yan tidak berdiri disana dan menghalangi dan Xiao Jue tidak tiba tepat waktu, mungkin para wanita ini akan mati ditikam pedang Li Kuang.

Ekspresi Li Kuang menunjukkan ketidaknyamanan. Banyak hal yang tampak baik-baik saja saat ini, tetapi jika dipikir-pikir kembali setelah kejadian-kejadian itu berlalu, kita akan menyadari betapa gilanya semua itu.

Para wanita itu menghampiri He Yan dan berlutut bersama, bersujud beberapa kali dalam diam.

He Yan tertegun: "Kalian..."

"Terima kasih, Tuan Muda He," kata mereka.

Semangat para wanita tampak jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya, mungkin karena makanan yang dibawakan Yan He yang membuat mereka kenyang, atau mungkin karena kata-kata He Yan hari itu telah memberi mereka keberanian untuk terus hidup.

Zhao Shiming berjalan ke sisi He Yan dan berkata pelan, "Tuan Muda He, di antara para wanita ini, mereka yang masih memiliki keluarga telah kembali ke rumah. Mereka yang tidak memiliki rumah telah dimukimkan bersama oleh para pejabat. Mereka akan bekerja di pertanian dan menenun. Di masa depan... situasi yang kau khawatirkan tidak akan terjadi."

Ia dengan sungguh-sungguh berjanji pada He Yan: "Aku akan menjaga mereka dengan baik."

He Yan merasa sedikit lega dan membungkuk kepada Zhao Shiming: "Terima kasih, Tuan Zhao."

Zhao Shiming mengelus jenggotnya dan tersenyum, "Ini tugasku. Karena mereka adalah warga Kota Rundou, sebagai Pejabat kota ini, aku harus menyelesaikan masalah mereka dengan baik."

He Yan juga tersenyum. Banyak hal di dunia ini perlahan membaik. Selama seseorang bertindak, perubahan pada akhirnya akan terjadi, sekecil apa pun perubahan itu.

Ia membantu wanita di depan berdiri dan berkata dengan lembut, "Biarkan mereka juga berdiri. Hiduplah dengan baik mulai sekarang, dan ingat, aku telah menyelamatkan nyawa kalian. Apapun yang terjadi, jangan pernah mengorbankan nyawa kalian sendiri."

Wanita itu mengangguk.

Yan He berdiri di gerbang kota, menyilangkan tangan, berkata, "Bagaimana mungkin orang bernama He ini tampaknya telah memenangkan lebih banyak hati orang daripada dirimu?" Ia melirik Xiao Jue, "Bukankah dia bawahanmu? Kenapa kau tidak sebaik dia?"

Lin Shuanghe tersenyum dan berkata, "Kakak He lembut dan baik hati, wajar saja semua orang menyukainya. Tidak banyak orang di dunia ini yang peduli pada sesama, dan lebih sedikit lagi yang berani menghunus pedang untuk melindungi orang lain."

Yan He sangat tidak menyukai sikap Lin Shuanghe yang sembrono dan mencibir, "Kau memanggilnya 'Kakak He'? Apa semua yang ada di Garda Liangzhou-mu kacau seperti ini?"

"Kacau?" Lin Shuanghe mengangguk, "Ada hal-hal yang lebih kacau lagi, kau hanya tidak tahu."

Ying Xiang berdiri di samping Chu Zhao, diam-diam memperhatikan wanita muda itu mengucapkan selamat tinggal kepada para wanita yang telah diselamatkannya dan menaiki kudanya. Rakyat jelata Kota Rundou dan para prajurit kota, meskipun tidak berkata apa-apa, mengikuti He Yan dengan tatapan penuh terima kasih.

Dia memang wanita muda yang mudah disukai, baik di Kota Ji Yang maupun Kota Rundou.

"Ayo pergi," Chu Zhao berbalik dan masuk ke keretanya.

Gerbang kota terbuka, pasukan bergerak keluar, dan sinar matahari bersinar jauh di ujung jalan, seperti jalan terang menuju masa depan.

...

Perjalanan sepuluh hari dari Kota Rundou ke Jinling, dan setelah Jinling, langsung menuju Ibu Kota Shuo.

Di semak-semak, pasukan yang sedang bepergian berhenti sejenak untuk beristirahat. Lin Shuanghe memperhatikan He Yan yang sedang memanggang telur burung. Sebagai seorang tuan muda yang belum pernah melakukan pekerjaan kasar dan terbiasa dimanja, tentu saja ia tidak bisa melakukan pekerjaan kasar seperti itu. Meskipun Yan He juga bisa memasak, He Yan pernah melihat ikan yang dipanggangnya sebelumnya – hangus hitam dan hampir tidak bisa dimakan – jadi ia mengambil alih tugas itu sendiri.

Xiao Jue sedang berbicara dengan Chi Wu di seberang. He Yan duduk bersama Lin Shuanghe, yang sedang memperhatikan gerakan-gerakan terampil He Yan dan mendesah, "Kakak He, kau benar-benar bisa melakukan semuanya – hebat di aula, hebat di dapur, memanjat tembok, dan melawan preman. Di antara semua..." ia merendahkan suaranya, "wanita-wanita yang pernah kutemui, tidak ada yang sebanding denganmu. Kakak He, saat kau sampai di Ibu Kota Shuo, kau akan tetap menjadi nomor satu di hatiku."

He Yan melemparkan telur panggang ke pangkuan Lin Shuanghe, "... Kau terlalu menyanjungku."

Lin Shuanghe terbata-bata mengupas kulit telur sambil bertanya, "Setelah kita sampai di Ibu Kota Shuo, apa yang ingin kau lakukan? Liangzhou tidak punya apa-apa, tapi Ibu Kota Shuo makmur. Kalau kau punya waktu luang, kakakmu ini akan mengajakmu menjelajahi pasar setiap hari."

Di saat seperti ini, Lin Shuanghe masih memikirkan untuk bersenang-senang. He Yan terdiam sesaat, tetapi kemudian teringat sesuatu yang lain dan bertanya kepada Lin Shuanghe, "Ngomong-ngomong, kenapa Tabib Shen tidak ikut denganmu ke Kota Rundou kali ini? Dia... seharusnya kembali ke Ibu Kota Shuo juga, kan?"

Ketika He Yan meninggalkan Garda Liangzhou, ia telah menyegel titik-titik akupuntur Shen Muxue. Meskipun itu untuk melindunginya, He Yan tidak yakin bagaimana keadaan Shen Muxue setelahnya. Kali ini ketika Xiao Jue dan Yan He datang, bahkan Lin Shuanghe ada di sana, tetapi ia tidak melihat Shen Muxue. Namun dengan Xiao Jue yang kembali ke Ibu Kota Shuo, tidak ada alasan bagi Shen Muxue untuk tinggal sendirian di Garda Liangzhou.

"Tabib Shen?" Lin Shuanghe menjawab dengan tenang, "Dia seorang wanita muda. Ketika Huai Jin dan aku bergegas ke Kota Rundou, kami bepergian siang dan malam tanpa istirahat. Bagaimana mungkin dia bisa bertahan? Membawanya hanya akan memperlambat kami. Jadi kami tidak membawanya. Mengenai posisinya tabib, aku sendiri sudah cukup. Huai Jin menyuruh Shen Han dan yang lainnya membawa Tabib Shen ke ibu kota."

He Yan mengangguk, tetapi sesaat kemudian, wajah Lin Shuanghe tiba-tiba mendekat, menatap He Yan dengan nakal: "Mengapa kamu secara khusus bertanya tentang Tabib Shen? Apakah kamu cemburu?"

"C-cemburu apa?" He Yan begitu terkejut hingga hampir memukul kepala Lin Shuanghe dengan ranting yang sedang ia gunakan. Ia menegakkan tubuh dan berkata dengan tenang, "Aku sudah menyegel titik-titik akupunturnya sebelum pergi, aku hanya merasa bersalah."

"Hanya itu?" Lin Shuanghe sengaja mengulur-ulur kata, "Kalau begitu, semua rencana yang disusun dengan hati-hati oleh Huai Jin akan sia-sia..."

He Yan: "Rencana yang disusun dengan hati-hati?"

Lin Shuanghe memasukkan sebutir telur burung ke mulutnya dan berkata dengan santai, "Kalaupun kukatakan, kau tidak akan peduli, jadi lebih tidak membicarakannya."

He Yan begitu cemas hingga ingin meraih kepala Lin Shuanghe dan menggelengkannya kuat-kuat untuk melihat apa sebenarnya yang terjadi. Namun, Lin Shuanghe sangat cerdik dalam urusan pria dan wanita, dan ia dekat dengan Xiao Jue. Jika ia mendapatkan informasi yang He Yan sembunyikan dan memberi tahu Xiao Jue, akan terlalu canggung untuk tetap berteman.

He Yan hanya bisa duduk dengan tenang dan menjaga ketenangannya, meskipun dalam hati ia marah, ekspresinya tetap tenang: "Kalau begitu aku benar-benar tidak peduli, lebih baik jangan beri tahu aku."

Melihat sikap He Yan yang berpura-pura, Lin Shuanghe berusaha keras menahan tawa, berpikir dalam hati, mari kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan.

Ah, anak muda... anak muda!

...

Ribuan mil jauhnya di Liangzhou, kompleks militer ramai dengan berbagai aktivitas.

Liang Ping sedang membantu memeriksa apakah ada barang yang tertinggal di kamar-kamar, karena mereka akan berangkat ke Ibu Kota Shuo. Beberapa pasukan akan tetap berada di Garda Liangzhou, sementara yang lain akan pergi ke ibu kota. Shen Han akan pergi bersama mereka, sementara Liang Ping, Ma Damei, dan instruktur lainnya harus tetap di Garda Liangzhou.

Shen Muxue tentu saja akan pergi juga.

Beberapa hari yang lalu, ketika Xiao Jue dan Lin Shuanghe hendak berangkat ke Kota Rundu, Shen Muxue menyatakan keinginannya untuk ikut, tetapi ditolak oleh Xiao Jue. Xiao Jue menolaknya dengan tegas tanpa memberikan alasan apa pun. Lin Shuanghe-lah yang, melihat ekspresi Shen Muxue yang gelisah, mencoba menenangkan keadaan dengan senyuman: "Nona Shen, situasi Kota Rundu sedang genting. Huai Jin dan aku harus bepergian siang dan malam tanpa istirahat. Bagaimana mungkin seorang wanita muda seperti mu bisa mengimbangi kami? Jika kau terluka, bahkan jika kau tidak peduli, aku akan merasa sangat tidak enak."

"Lagipula, Instruktur Shen dan yang lainnya akan segera berangkat. Kau bisa ikut dengan mereka nanti. Dia akan menjagamu dengan baik. Pasukan bergerak lebih lambat dan jumlah orangnya lebih banyak, jadi aku dan Huai Jin akan merasa tenang dengan keselamatanmu. Benar, kan?"

Shen Muxue tidak berkata apa-apa, dan Lin Shuanghe menganggap Shen Muxue yang diam sebagai persetujuan. Sambil tersenyum, ia berbalik untuk pergi, tetapi Shen Muxue memperhatikan sosoknya yang menjauh dan bertanya, "Tuan Muda Lin, Tuan Muda Kedua Xiao akan pergi ke Kota Rundu untuk He Yan, kan?"

Lin Shuanghe terdiam sejenak dan menatap Shen Muxue dengan kebingungan yang nyata: "Kenapa kau berpikir begitu?"

Shen Muxue mengatupkan bibirnya tanpa bicara. Ia tahu itu terdengar absurd – Xiao Jue bukanlah orang yang mudah mengubah rencananya untuk siapa pun, tapi... ia tetap merasa gelisah.

Suara-suara dari luar membuyarkan ingatannya dan Liang Ping berseru: "Dokter Shen, apakah ada barang lain yang harus dimuat ke kereta?"

Shen Muxue tersadar dan merespons sambil berjalan keluar. Di luar berdiri Liang Ping, wajahnya merah karena matahari, berkeringat deras, membawa setumpuk kotak sambil tertatih-tatih menuju kereta. Ketika Xiao Jue pergi terburu-buru, tidak ada barang di kamarnya yang sudah dikemas. Sebelum pergi, ia telah menginstruksikan Shen Han untuk membawa semua barangnya saat kembali ke Ibu Kota Shuo.

Untungnya, Xiao Jue tidak memiliki banyak barang – hanya beberapa buku dan pakaian, tidak lebih.

Melihat Liang Ping berjalan goyah, Shen Muxue melangkah maju dan berkata, "Biarkan aku membantumu."

Wajah Liang Ping semakin memerah, "Tidak perlu, tidak perlu. Kepala Instruktur mengatakan kepadaku bahwa ini semua adalah barang milik Komandan dan memintaku untuk mengurusnya sendiri. Bagaimana mungkin aku merepotkan Tabib Shen?"

Dalam hati, ia mengagumi betapa baik hatinya Nona Shen. Meskipun berasal dari keluarga bangsawan, ia tidak meremehkan prajurit seperti mereka.

Shen Muxue, yang tidak menyadari pikiran Liang Ping, hanya mendengar bahwa ini adalah barang-barang Xiao Jue dan berkata, "Kau membawa terlalu banyak sekaligus, bisa-bisa ada yang jatuh. Tidak apa-apa, aku akan membantu."

Sambil berbicara, ia mengambil kotak paling atas, yang tidak terlalu besar, dan berjalan maju bersama Liang Ping.

Terlambat bagi Liang Ping untuk menghentikannya, tetapi melihat Shen Muxue tampak tidak kesusahan, ia sedikit rileks dan tersenyum, "Kalau begitu, terima kasih, Tabib Shen."

Mereka berjalan bersama menuju kereta kuda. Liang Ping meminta Shen Muxue untuk naik terlebih dahulu sementara ia pergi mengambil muatan lain. Di luar panas, jadi Shen Muxue setuju. Ia duduk diam memegang kotak itu, memperhatikan para prajurit yang sibuk di kejauhan, tatapannya tertuju pada kotak di tangannya.

Kotak itu tampak biasa saja, tetapi ia penasaran apa isinya. Xiao Jue tidak membawa banyak barang, tetapi karena Xiao Jue meminta Shen Han untuk membawanya kembali ke Ibu Kota Shuo, pastilah barang itu penting. Namun, ketika ia mengangkat kotak itu, rasanya sangat ringan, seolah kosong.

Rasa ingin tahunya sangat besar tidak seperti biasanya. Mungkin itu bukan dokumen atau surat resmi milik Xiao Jue – Xiao Jue pasti menyimpan dokumen penting seperti itu dengannya. Membuka kotak ini untuk melihat... seharusnya tdaik masalah, kan?

Jari-jari Shen Muxue menyentuh kotak itu sambil memandang ke luar. Para prajurit berada jauh di sana; tidak seorang pun bisa melihat apa yang ia lakukan.

Dengan bunyi "klik", kotak itu terbuka.

Di dalamnya terdapat beberapa kuas, batu tulis, dan pemberat kertas. Hanya beberapa benda kecil. Ia hendak menutupnya ketika tatapannya tiba-tiba membeku. Setelah beberapa saat, ia meraih dan mengeluarkan dua benda.

Salah satunya adalah patung adonan tanah liat, patung ini kini kering dan berwarna abu-abu, berbentuk seperti perempuan dengan senyum menawan dan ekspresi menyentuh. Yang satunya lagi adalah bingkai kayu dengan lukisan kapal perang terbalik dilalap api yang ganas, dan seorang jenderal berdiri di haluan kapal—gagah dan familiar.

Itu adalah seorang jenderal perempuan.

Disclaimer: Terjemahan ini dilakukan secara sukarela untuk tujuan berbagi hobi dan apresiasi karya. Seluruh hak cipta, termasuk karakter, alur cerita, dan judul adalah milik penuh penulis asli dan penerbit. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas konten ini. Jika Anda menyukai ceritanya, dukung penulis aslinya melalui platform resmi.

Komentar