Legend of the Female General-Bab 159 Selamat tinggal
Air mata gadis muda itu jatuh bagai tetesan embun yang rapuh, air mata terasa panas membara saat mengalir di pipinya. Setelah dipikir-pikir lagi, ini adalah pertama kalinya Xiao Jue melihat He Yan meneteskan air mata.
Xiao Jue tertegun, memikirkan bahwa bagaimanapun juga, He Yan adalah seorang wanita muda. Sehebat apa pun biasanya He Yan, menyaksikan pembantaian di medan perang untuk pertama kalinya dengan darah dan daging yang berceceran dimana-mana sungguh menakutkan. Namun... selama pertempuran sebelumnya dengan Ri Da Mu Zi, reaksi He Yan tidak sekuat sekarang.
Setelah berpikir sejenak, Xiao Jue akhirnya mengerutkan kening dan melembutkan suaranya untuk menghibur He Yan: "Semuanya baik-baik saja sekarang, berhentilah menangis."
Xiao Jue melirik sekeliling – hanya tersisa prajurit Wuto yang sedang sekarat, sementara bala bantuan Cui Yue Zhi telah tiba, sekarang tidak ada yang perlu di takutkan.
"Komandan!" Fei Nu bergegas mendekat, terkejut melihat He Yan yang ada didalam pelukan Xiao Jue.
"Mau sampai kapan kau berdiri di sini sambil menangis?" Xiao Jue merasakan sakit kepala yang mulai menyerang.
He Yan segera menghapus air matanya, menyadari bahwa ia telah kehilangan ketenangannya. Meskipun pertarungan telah selasai, ini bukan saatnya untuk bersedih. He Yan berbalik dan berkata, "serangga baru saja masuk ke mataku. Aku baik-baik saja sekarang. Ayo kita selesaikan ini!"
Suaranya masih dipenuhi jejak air mata yang tidak terbendung, dan alasan yang dibuatnya begitu lemah hingga terkesan asal-asalan. Xiao Jue tidak mau repot-repot mengungkap kebohongannya. He Yan lalu berbalik hendak berjalan kembali dengan pedang terhunus, Xiao Jue terus menatap He Yan, dan tiba-tiba, ia meraih lengan He Yan.
"Ada apa?" He Yan berbalik dengan bingung.
Xiao Jue tetap diam, hanya melihat ke belakang. He Yan mengikuti arah tatapan Xiao Jue, dan melihat beberapa tetes darah perlahan menetes dari pinggangnya ke air sungai, hanya menyisakan jejak darah tipis.
He Yan membeku, lalu ia mengulurkan tangan untuk menyentuh pinggangnya, dan rasa sakit yang telah lama mati seakan kembali saat itu juga. Mungkin sebelumnya karena marah, ia menyerang pasukan Wuto, dan hanya menyerang tanpa menagkis serangan, dan pasukan Wuto telah menemukan celah untuk melukainya. Kemudian, ia terlalu cemas untuk menemukan keberadaan Xiao Jue dan tidak menyadari bahwa dirinya terluka.
Baju zirah berat, dan ketika dikenakan, luka-lukanya tidak mudah terlihat. Jika bukan karena darah yang menetes, akan sulit untuk mendeteksinya. He Yan merasa lukanya sakit, tetapi masih bisa ditahan. Ia pernah mengalami luka yang lebih parah sebelumnya, jadi ia tidak terlalu mempermasalahkannya. He Yan malah membetulkan zirahnya dan berkata dengan acuh, "Aku mungkin terluka. Aku akan membalutnya saat kita kembali."
"Cari Lin Shuanghe sekarang," kata Xiao Jue. "Kau tidak dibutuhkan lagi di sini."
Pasukan Wuto telah dikalahkan, Ma Ka telah gugur, dan ribuan kapal besar milik Wuto sudah terbakar dengan api yang menyela ganas di tengah sungai. Sisa pasukan wuto yang tertinggal dapat ditangani oleh Cui Yue Zhi dan pasukan Kota Ji Yang yang. Namun, He Yan tidak terbiasa membiarkan bawahannya berperang sementara ia beristirahat, jadi He Yan berkata, "Tidak perlu. Ini hanya luka kecil."
Ekspresi Xiao Jue menjadi sedikit mendingin lalu ia mengerutkan kening pada He Yan.
"Aku benar-benar tidak apa-apa." He Yan mencoba melepaskan diri dari genggaman tangan Xia Jue, tetapi cengkeraman Xiao Jue terlalu kuat untuk dilepaskan.
Pemuda berbaju zirah gelap itu menatap He Yan, posturnya tegap dan tinggi, tatapan dinginnya seakan menggenggam pisau, namun nadanya tetap datar, "Apa kau tidak tau rasa sakit? Apa kau tidak bisa merasakan sakit? tidak bisakah kau berteriak jika kesakitan?"
He Yan dengan peka menyadari bahwa Xiao Jue tampak agak marah.
He Yan menjawab, "...Tidak sakit."
Sekilas Ejekan terpancar di mata pemuda itu lalu ia menatap He Yan dengan tenang dan berkata, "Apakah karena tidak sakit, atau karena kau tidak berani merasakan sakit? Apakah karena kau mengannggap tidak perlu diobati, atau karena kau memang tidak perlu diobati?"
Setelah mengatakan ini, Xiao Jue melepaskan tangan He Yan dan berbalik untuk pergi, tanpa menoleh sedikit pun ke arah He Yan.
"Sikap macam apa ini?" He Yan berdiri di tempatnya sejenak lalu bergumam pelan, "Tidak ada yang pernah mengajariku, dan tidak ada yang pernah menghiburku."
He Yan mengikuti Xiao Jue dari belakang.
...
Perang berakhir jauh lebih awal dari yang dibayangkan.
Dari saat kapal perang Wuto memasuki kanal, hingga serangan api yang dibantu angin, hingga pembersihan sisa-sisa prajurit, butuh waktu dua hari. Bahkan tidak sampai tiga hari penuh.
Meskipun hal ini tentu saja berkat keberanian pasukan Kota Ji Yang dan komando serta formasi brilian Xiao Jue, faktor terpenting adalah angin tenggara. Jika angin itu datang sedikit lebih lambat atau lebih singkat, hasilnya pasti akan berbeda.
Angin tenggara membuat api berkobar tanpa henti, mengubur ribuan kapal perang Wuto di kanal di luar Kota Ji Yang. Warga Ji Yang yang tidak terhitung jumlahnya berlutut, bersujud ke arah kanal, berdoa dengan air mata berlinang: "Terima kasih, Dewi Air, atas perlindunganmu. Terima kasih, Jenderal Feng Yun, atas kehebatan militermu yang agung. Terima kasih telah memberkati Ji Yang dan Wei Agung."
Matahari pagi mewarnai seluruh permukaan sungai, mengubah air yang berlumuran darah menjadi merah keemasan. Entah itu darah para prajurit yang gugur atau cahaya fajar, pemandangan saat ini luar biasa menyedihkan.
Para prajurit Kota Ji Yang yang tersisa di tepi sungai melepas baju zirah mereka dan duduk di tanah, menatap matahari terbit dengan linglung, wajah mereka berlumuran darah menunjukkan kelegaan.
Kota Ji Yang berhasil di pertahankan.
Di kediaman Cui, He Yan duduk di sofa sambil memperhatikan Lin Shuanghe meracik obat.
"Kakak Lin, biarkan Cui Jiao saja yang mengurus ini," kata He Yan. "Tidak perlu repot-repot."
Lin Shuang He duduk di dekat tungku, mengipasi tungku sambil berkata, "Apa yang gadis kecil itu tahu? Kalau orang biasa menyeduh obat ini, khasiatnya tidak keluar. Aku harus membuatnya sendiri. He meimei, kau hebat sekali – bagaimana mungkin kau tidak menyadari luka sebesar itu di tubuhmu? Pantas saja Huai Jin begitu marah. Kalau kau mati di sini, orang-orang disini pasti akan merasa sangat bersalah."
"Lukanya tidak terlalu besar," He Yan merasa Lin Shuanghe agak melebih-lebihkan, "hanya seukuran telapak tangan, dan tidak mengenai titik vital mana pun."
Dalam pertempuran sungguhan, semua luka hanyalah luka ringan. Luka terparah yang pernah dialaminya adalah ketika anak panah mengenai bahunya, tetapi pertempuran harus terus dilanjutkan, dan tidak ada dokter yang tersedia, ia terpaksa mencabut anak panah itu sendiri dan melanjutkan pertempuran dengan mata panah yang masih tertancap di kulitnya. Ketika dokter militer akhirnya datang untuk memeriksanya, seluruh lengan baju He Yan berlumuran darah, dan lukanya menempel di pakaiannya, mustahil untuk dipisahkan.
Selama masih bisa berjalan dan betarung, selama tidak mengancam jiwa, lukanya masih dianggap luka ringan.
"Meimei, kapan kau akan ingat kalau kau adalah nona muda? Ketika aku merawat nons muda di Kota Shuo Jing, beberapa dari mereka akan hancur karena tanda lahir seukuran kuku. Lukamu akan sangat mengganggu bagi mereka."
Lin Shuanghe mengangkat tutup panci obat untuk memeriksa, memperhatikan ramuan obat yang menggelegak. Lin Shuang He menutup kembali tutup panci dan menggunakan kain untuk memegang gagangnya, lalu meletakkan panci itu di meja terdekat.
"Kesampingkan tentang apakah nyawamu dalam bahaya atau apakah kau sangat pandai menahan rasa sakit. Tapi apa kau tidak peduli dengan penampilanmu?" Lin Shuanghe mengambil mangkuk obat bersih dan menuangkan ramuan itu ke dalamnya. "Apa kau tidak khawatir calon suamimu akan keberatan? Maafkan kata-kataku yang blak-blakan, tapi bagi para wanita muda, ini hal yang wajar untuk dipertimbangkan."
He Yan bersandar di sofa, memperhatikan setiap gerakan Lin Shuanghe, lalu tersenyum, "Aku tidak memiliki rencana untuk menikah."
"Kenapa tidak?" Gerakan Lin Shuang He terhenti lalu menatap He Yan, "Kamu masih sangat muda, tidak jelek, dengan kepribadian yang lugas dan menyenangkan, dan kamu tidak memiliki penyakit serius. Kenapa kamu tidak ingin menikah?"
"Pernikahan itu membosankan," desah He Yan, "hanya tinggal dirumah, berkeliling di tempat yang sama terus-menerus. Aku lebih suka tinggal di kamp militer."
"Pemikiranmu agak aneh." Lin Shuang He mendiamkan obat yang sudah dituang agar dingin. "Kalau nanti kamu ketemu orang yang kamu suka, kamu tidak akan berpikir seperti ini."
"Kalaupun ketemu orang yang aku suka, aku tetap tidak akan menikah," kata He Yan.
Lin Shuang He menyipitkan matanya: "He Meimei, kamu sudah punya orang yang kamu suka, kan?"
"Tidak."
Meskipun He Yan segera menjawab, Lin Shuang He mulai curiga. Mengapa He Yan tiba-tiba menunjukkan perasaan sedih seperti ini? Berdasarkan pengalamannya selama bertahun-tahun berurusan dengan wanita, ketika seorang wanita muda berkata "tidak ingin menikah," kemungkinan besar itu karena patah hati.
He Yan selalu menjadi prajurit Garda Liang Zhou, berlatih bela diri setiap hari – bagaimana mungkin ia patah hati?
Hati Lin Shuanghe tersentak – mungkinkah He Yan jatuh cinta pada Chu Zi Lan? Mengetahui status dan hubungan Chu Zi Lan dengan Xu Ping Ting membuat pernikahan He Yan dan Chu Zi Lan menjadi mustahil, He Yan pun menjadi putus asa?
Tapi kalau begitu, bagaimana dengan Xiao Jue?
Lin Shuang He tiba-tiba merasa situasi ini cukup serius.
Melihat Lin Shuanghe tenggelam dalam pikirannya, He Yan bertanya, "Kakak Lin, apakah kau melihat guruku?"
Dari awal perang hingga akhir ketika semua orang mulai memberishkan sisa perang, He Yan belum bertemu Liu Bu Wang. Lin Shuang He berkata, "Tadi pagi, Tuan Liu pergi bersama Cui Zhong Qi. Cui Zhong Qi sedang sibuk merawat prajurit yang terluka dan belum kembali, jadi Tuan Liu pasti bersamanya."
He Yan mengangguk, meskipun begitu ia merasa agak gelisah
Lin Shuang He berjalan ke sisi He Yan dan mengeluarkan sebuah kotak bundar dari lengan bajunya, lalu meletakkannya di samping bantal sandaran yang He Yan gunakan: "Ini adalah salep penghilang bekas luka rahasia keluarga ku. Jika dioleskan langsung ke tubuh, meskipun tidak dijamin sembuh total, penyembuhannya bisa mencapai tujuh puluh hingga delapan puluh persen."
Luka He Yan telah dibalut oleh tabib wanita Kota Ji Yang. Mendengar perkaraan Lin Shuanghe, He Yan mengambil kotak itu dan melihat empat karakter "Penghilang Bekas Luka, Regenerasi Daging" tertulis di atasnya, tulisan itu tampak sangat familiar. Jika diingat kembali, ketika ia dan Xiao Jue pergi ke Kota Liang Zhou dan ia terluka saat melawan Ding Yi di malam hari, setelah kembali ke Garnisun Liang Zhou, Shen Mu Xue memberinya obat, dan ada sebuah kotak di atas nampan obat. Setelah menggunakannya, efek penghilang bekas lukanya memang luar biasa, dan bekas lukanya kini sangat samar. Saat itu, He Yan sangat berterima kasih atas perhatian Shen Mu Xue dan tidak henti-hentinya memuji khasiat salep tersebut. Sayangnya, kotak itu kecil dan hanya berisi sedikit obat, dan isinya sudah habis.
"Ini resep rahasia keluargamu?" tanya He Yan.
Lin Shuang He menunjukkan sedikit rasa bangga, "Lebih tepatnya, ini resep rahasiaku."
"Apakah ini sangat mahal?"
"He Meimei, bagaimana kau bisa mengukur nilai obat dengan uang? Aku tidak menjual obat ini. Jika aku menjualnya, saru ini saja sudah cukup untuk menghidupi beberapa generasi keluarga di Kota Shuo Jing. Uang tidak berarti apa-apa bagiku. Obat ini khusus dibuat untuk Huai Jin. Dia selalu terluka, dan ketika Xiao Rubai melihat luka itu, ia patah hati. Membuat obat penghilang bekas luka berarti Xiao Rubai tidak akan menyadari bahwa Huaijin terluka, dan Huaijin akan merasa lebih baik."
Untuk menenangkan kakak laki-lakinya? He Yan berpikir dalam hati bahwa Xiao Jue cukup perhatian. Namun, ia ingat betul Shen Mu Xue yang memberikannya obat ini, jadi ia bertanya kepada Lin Shuang He, "Apakah kau membuat obat ini untuk orang lain? Misalnya memberikannya untuk wanita muda?"
"Apa maksudmu?" tanya Lin Shuang He penasaran, "Kalau obat ini sampai keluar, lupakan saja aku, ayah dan kakekku pasti akan diganggu sampai mati. Aku tidak akan memberi tahu orang lain. Aku hanya membuatnya untuk Huai Jin, itu pun tidak banyak, hanya beberapa kotak. Karena hubungan kita baik, aku memberimu satu kotak. Jangan beri tahu orang lain juga – obat ini sulit dibuat, dan aku masih ingin hidup tenang untuk beberapa tahun lagi."
He Yan: "...Baiklah."
"Minum obatnya pelan-pelan, lalu istirahat setelah selesai," Lin Shuang He melambaikan kipasnya dengan puas. "Aku akan keluar dulu dan melihat apakah ada hal lain yang bisa kubantu di kediaman ini."
Setelah Lin Shuang He pergi, He Yan melihat kotak obat di tangannya. Kotak itu tampak halus, digenggamannya.
Dari Xiao Jue?
...
Para prajurit yang terluka telah dipulangkan, dan para prajurit yang gugur dicatat satu per satu dalam buku catatan. Pasukan Kota Ji Yang pada awalnya tidak banyak, dan setelah pertempuran ini, hanya sedikit yang tersisa.
Cui Yue Zhi memimpin pasukannya membersihkan medan perang. Ia juga mendapat banyak luka, wajahnya berlumuran darah, luka di kepalanya dibalut kasar kain putih.
Melihat Xiao Jue mendekat dari kejauhan, Cui Yue Zhi bergegas menyambut Xiao Jue, sambil berkata, "Komandan Xiao."
Meskipun Xiao Jue jauh lebih muda darinya, Cui Yue Zhi tidak berani lagi meremehkan pemuda di hadapannya ini. Jika bukan karena Xiao Jue kali ini, mustahil Kota Jiyang mampu bertahan melawan 150.000 prajurit Wuto. Meskipun keberuntungan berperan penting dalam kemenangan tipis mereka, sebagian besar berkat jenderal yang diberkati ini – atau seperti kata He Yan, seorang jenderal yang hebat tidak pernah kalah ketika tidak seharusnya, dan mungkin menang ketika tidak mampu menang. Bahkan situasi terburuk pun dapat diubah dari kekalahan menjadi kemenangan di tangannya.
Tentu saja, Nona He juga tangguh. Namun, ia mendengar bahwa Nona He terluka dan telah dikirim kembali ke kediaman untuk beristirahat.
"Medan perang telah dibersihkan," kata Cui Yue Zhi. "Setelah kita mendapatkan jumlah korban dari pihak pasukan Wuto, kita dapat melaporkan situasinya kepada Yang Mulia Putri di kediaman pangeran. Yang Mulia Putri akan menulis sebuah memorabilia tentang pertempuran ini untuk dilaporkan ke istana. Kebaikan Komandan yang menyelamatkan nyawa Kota Ji Yang tidak akan pernah dilupakan oleh rakyat Jiyang."
Xiao Jue melangkah maju, "Tidak perlu berterima kasih padaku. Ucapkan terima kasih pada diri mereka sendiri."
Cui Yue Zhi merasa agak emosional, mungkin karena pernah berjuang bersama, dan menyimpan kehangatan yang tulus terhadap Xiao Jue. Tepat saat ia hendak berbicara, tiba-tiba seseorang datang—salah satu bawahan Cui Yue Zhi.
Bawahan itu melirik Xiao Jue, raut wajahnya ragu-ragu.
"Ada apa?" tanya Cui Yue Zhi.
"Tuan Zhong Qi, kami... kami menemukan Tuan Liu."
Sejak pertempuran dimulai, Liu Bu Wang tidak bersama mereka. Cui Yue Zhi khawatir dan bertanya dengan cemas, "Di mana?"
"Di tepi hutan di depan Muara Hulu." Bawahan itu tergagap, "Tuan Liu..."
Hati Cui Yue Zhi perlahan mencelos. Ia menatap Xiao Jue, yang sedang menundukkan pandangannya dan setelah beberapa saat Xiao Jue dengan tenang berkata, "Antar aku kesana."
Liu Bu Wang tewas di tengah formasi.
Kematiannya brutal, dengan luka-luka berceceran di sekujur tubuhnya. Luka fatal adalah luka pedang di dadanya, menembus dari belakang ke depan menembus jantungnya. Bahkan dalam kematian, bibirnya melengkung ke atas, tanpa jejak keengganan atau kebencian, seolah-olah ia telah melihat sesuatu yang sangat indah, benar-benar damai.
Di sekelilingnya tergeletak banyak prajurit Wuto yang gugur di bawah pedangnya. Ada juga mayat-mayat di tengah hutan lebat. Cui Yue Zhi menatap lama lalu ragu-ragu bertanya, "Qi Men Dun Jia?"
Xiao Jue: "Benar."
Cui Yue Zhi dipenuhi rasa hormat yang mendalam. Saat ini, hanya sedikit orang yang mengetahui Qi Men Dun Jia. Liu Bu Wang telah membentuk formasi di sini, membunuh banyak prajurit Wuto, dan memberi mereka waktu yang cukup lama. Jika Liu Bu Wang tidak menahan pasukan Wuto di garis depan, mereka tidak akan bertahan sampai angin bertiup. Seandainya para prajurit Wuto itu mencapai Muara Hulu dan memasuki kota, pembantaian yang terjadi pasti tidak terbayangkan.
Liu Bu Wang tidak memberi tahu siapa pun, berada di posisi ini sendirian begitu lama, meninggal tanpa sepengetahuan siapa pun.
Pedangnya tergeletak di sampingnya, sitarnya hancur berkeping-keping, pakaian putihnya telah lama berlumuran darah.
Cui Yue Zhi menatap Xiao Jue dengan cemas, tahu bahwa Liu Bu Wang adalah guru seni bela diri Xiao Jue. Dengan kematian Liu Bu Wang, Xiao Jue pasti sangat terpukul.
Xiao Jue berlutut, perlahan merapikan pakaian Liu Bu Wang yang telah dikotori oleh para prajurit Wuto, dan mengeluarkan sapu tangan dari dadanya untuk menyeka darah dari wajah Liu Buwang.
Setelah melakukan semua ini, Xiao Jue akhirnya menatap wajah Liu Bu Wang dan berkata dengan lembut, "Bawa dia kembali."
...
He Yan tinggal di kediaman Cui hingga malam.
Keempat selir Cui Yue Zhi bergantian mengunjunginya, membawakan berbagai makanan. Meskipun He Yan menyukai makanan manis, ia tidak sanggup makan lagi karena begitu banyak makanan penutup yang menumpuk. Setelah para selir pergi, seseorang dari luar datang melapor: "Tuan telah kembali! Komandan telah kembali!"
He Yan bersemangat, bangkit dari tempat tidur, dan memakai sepatunya untuk berjalan keluar. Cui Yue Zhi baru saja sampai di ambang pintu dan ia langsung dikelilingi oleh keempat selirnya, terutama Selir Ketiga, yang memeluk Cui Yue Zhi erat-erat sambil menangis memilukan, membuat yang lain ikut menangis.
Tangisan yang begitu dramatis.
Saat He Yan sedang melihat pemandangan hal ini, ia melihat seseorang berjalan melewati Cui Yue Zhi ke arahnya. Orang itu adalah Xiao Jue, yang belum melepas baju zirahnya, masih tertutup debu dari perjalanan. He Yan tidak mempermasalahkan debu-debu itu, hanya berpikir bahwa kecantikan yang sesungguhnya tidak dapat disembunyikan meskipun tertutup debu dan tanah.
Xiao Jue berjalan ke arah He yan, sedikit mengerutkan kening: "Siapa yang membiarkanmu keluar?"
"Lukanya tidak begitu serius," He Yan menepuk tangannya. "Bahkan Kakak Lin merasa kalian semua terlalu membesar-besarkan masalah ini. Ngomong-ngomong, Komandan, apakah kau melihat guruku? Aku sudah bertanya-tanya, tetapi tidak ada yang melihatnya. Seharusnya dia sudah kembali di jam segini."
Mendengar ini, mata Xiao Jue berkelip, menatap wajah He Yan.
Mata hitam dingin itu memancarkan secercah rasa kasihan yang samar, bagaikan desahan pelan yang jatuh di hati.
Senyum He Yan perlahan memudar.
He Yan bertanya: "Apa terjadi sesuatu?"
Xiao Jue berkata: "Pergi temui dia."
Seluruh tubuh He Yan membeku.
Liu Bu Wang berbaring di kasur yang berada di kamar, pakaiannya telah diganti. Selain kulitnya yang pucat, ia tampak seperti sedang tidur. Seolah-olah jika He Yan memanggil, Liu Buwang akan duduk, tersenyum padanya, dan memanggilnya: "A He."
Mata He Yan langsung memerah.
He Yan hampir tidak bisa berdiri tegak, berjalan ke sisi Liu Bu Wang dan memegang tangannya.
Tangan Liu Buwang terasa sangat dingin, tidak sehangat saat Liu Buwang menariknya dari tumpukan mayat bertahun-tahun lalu. Dulu gurunya mudah terbangun karena suara sekecil apa pun, tetapi kini Liu Buwang tetap tidak bergerak bahkan saat ia memanggilnya Guru.
Tangan He Yan menyentuh bahu Liu Buwang dan berhenti sejenak. Ia dengan lembut menarik pakaian Liu Bu Wang. Pakaiannya telah diganti, dan ia tahu Liu Bu Wang terluka. Namun, He Yan tidak menyangka gurunya akan mendapat begitu banyak luka. Para prajurit Wuto itu telah sangat menderita di tangan Liu Bu Wang dan tentu saja ingin membalasnya seratus kali lipat. Ketika kekuatan Liu Bu Wang melemah, mereka bergegas menambah luka lagi pada Liu Buwang.
Tubuh Liu Buwang hancur, namun ekspresinya begitu damai seolah-olah ia baru saja tertidur di bawah pohon berbunga, bermimpi indah. Tatapan He Yan jatuh pada tangan Liu Bu Wang yang terkepal erat. Setelah jeda sejenak, He Yan mengerahkan sedikit tenaga untuk membuka jari-jarinya, melihat apa yang disembunyikan di telapak tangannya.
Benda itu adalah Gelang perak yang dibuat dengan kasar, seperti barang tua yang sudah sangat lama. Mungkin karena sering dipegang dan disimpan, beberapa pola ukirannya telah aus dan tidak jelas. Namun, orang masih dapat melihat ukiran bunga aster liar kecil di tepi gelang tersebut.
Inilah yang Liu Bu Wang lindungi hingga napas terakhirnya. Liu Buwang tidak memiliki anak dan hanya mengangkatnya sebagai murid tunggalnya. Di akhir hayatnya, selain sitar, pedang, dan gelang perak ini, ia tidak meninggalkan apa pun.
Kosong dan luas, bersih dan tegas.
Tenggorokan He Yan tercekat, tidak mampu berkata-kata. Mereka baru saja bertemu kembali setelah sekian lama berpisah, nyaris tidak bertukar kata, dan kini berpisah untuk selamanya. He Yan mati-matian menahan air matanya lalu sebuah sapu tangan muncul di hadapannya.
"Menangislah kalau kau mau," kata Xiao Jue. "Aku akan tunggu di luar. Tidak akan ada yang masuk."
Suara Xiao Jue sangat lembut dan ringan, membawa rasa nyaman yang nyaris tidak terdengar. Tanpa menunggu He Yan berbicara, ia berbalik dan meninggalkan ruangan.
Pintu tertutup di belakangnya, dan dari baliknya terdengar tangisan gadis itu. Awalnya, isak tangisnya tertahan, lalu, seolah tak mampu lagi menahannya, tangisannya semakin keras, hingga akhirnya, bagaikan anak kecil yang tidak diberi permen, ia pun menangis sekeras-kerasnya.
Tangisan itu terdengar oleh Selir Wei di kamar sebelah. Ia berdiri, dengan cemas memilin sapu tangannya, "Haruskah aku pergi menjenguknya?"
"Tidak," Selir Kedua menggelengkan kepala, melihat ke luar, di mana Xiao Jue sedang berdiri dengan tangan di belakang punggungnya di depan pintu, seperti seorang penjaga yang melindungi sesuatu yang berharga dalam kerapuhan. "Di saat duka seperti ini, kita berdua tidak bisa memberikan hiburan."
"Biarkan mereka mengurusnya sendiri."
Ratapan di ruangan itu berhenti entah kapan. Setelah beberapa lama, pintu berderit terbuka, dan seseorang keluar.
Xiao Jue menoleh kearah pintu.
Wanita muda yang keluar telah menyeka air matanya, dan selain matanya yang sedikit merah, tidak menunjukkan tanda-tanda lain. Ekspresinya tenang, bahkan terkesan ringan.
"Komandan, terima kasih telah menjaga pintu untukku," kata He Yan.
Xiao Jue mengerutkan kening pada He Yan.
He Yan menoleh: "Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada sesuatu di wajahku?"
"Jelek."
"Apa?"
"Aktingmu jelek," mata hitamnya berbinar, kata-katanya sedingin es, seolah mengerti akan segalanya, lalu ia berkata dalam-dalam: "Sudah kubilang, kau boleh menangis saat kau ingin menangis, tertawa saat kau ingin tertawa. Lebih baik daripada berpura-pura seperti sekarang, terlihat sangat jelek."
Kata-kata ini tentu saja tidak menyenangkan untuk didengar.
He Yan tertegun sejenak, tetapi kemudian tersenyum, berkata: "Ini bukan berpura-pura, hanya saja... hanya ini yang bisa kulakukan sekarang."
Liu Bu Wang telah tiada, sebuah fakta yang tidak terbantahkan. Ia bisa berduka atas kepergian Liu Bu Wang, tetapi ia harus menatap masa depan. Seseorang tidak bisa menceritakan kesedihan dan dukanya kepada semua orang; itu hanya akan membuat orang-orang membencinya. Beberapa hal yang menyakitkan sebaiknya disimpan dalam hati. Jika seseorang selalu menunjukkan wajah berduka kepada orang lain, lama kelamaan, orang lain akan bosan, dan ia pun tidak akan bisa melupakannya.
Ia memanfaatkan pengalaman dua kehidupan untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa hal tersulit sekalipun akan berlalu.
Namun...
"Kau tahu," desah He Yan, "di dunia ini, tidak banyak orang yang baik padaku, aku bisa menghitung orang yang baik padaku dengan satu tangan."
"Sekarang, berkurang satu."
Komentar
Posting Komentar