Legend of the Female General-Bab 157 Serangan Api

Pertempuran berkecamuk sengit di sepanjang Kanal Besar.

Xiao Jue memerintahkan dua puluh prajurit elit untuk menyelam ke dalam air dengan cakar besi untuk melubangi lambung kapal perang Wutuo. Karena Wutuo memiliki ribuan kapal, mustahil bagi mereka untuk melubangi semuanya, dan mengerahkan kekuatan di bawah air terbukti sulit. Mereka bekerja dalam kelompok yang terdiri dari sepuluh orang, mereka menargetkan dua kapal utama dengan serangan yang terkonsentrasi. Akibatnya, formasi kapal perang Wutuo yang dihubungkan oleh kait besi menjadi kacau. Para prajurit Wutuo dengan panik mencoba memotong kait besi, mereka hanya bisa menyaksikan dengan tidak berdaya ketika perahu kecil yang di tumpangi He Yan lolos di depan mata mereka.

"Bajingan-bajingan ini!" Maka geram. Ia menyambar busur dan anak panah dari seorang prajurit yang berada di dekatnya, lalu menembak para perenang di air. Namun, kedua puluh prajurit terpilih itu semuanya perenang handal dengan gerakan yang lincah, sehingga mereka langsung menghindar serangan tersebut. Pola kejar-kejaran dan mundur ini benar-benar mengacaukan ritme pasukan Wutuo.

"Terus gunakan kait besi itu," perintah MaKa dengan ekspresi muram. "Mereka tidak bisa terus-menerus berada di bawah air. Tangkap wanita itu terlebih dahulu!"

Wanita yang menyamar sebagai Mu Hongjin telah sangat mempermalukannya. Pria Wutuo sangat menghargai Harga diri mereka. Jika ia tidak bisa menangkap wanita ini hari ini, bawahan dan orang kepercayaannya akan diam-diam mengejeknya. Sekalipun mereka memenangkan pertempuran, sekembalinya ke Kota Wutuo, insiden ini akan tetap menjadi bahan tertawaan, dan ceritanya akan menyebar ke mana-mana.

Hanya dengan menangkap dan menyiksa wanita itu dengan kejam, ia dapat menyelamatkan harga dirinya.

"Kejar mereka!"

Angin sepoi-sepoi menerpa wajah He Yan, menimbulkan sensasi geli yang samar. Meskipun sensainya tidak besar, namun sensasi itu langsung terasa.

He Yan menatap Mu Yi, yang matanya dipenuhi kegembiraan: "Angin telah datang!"

Meskipun angin sepoi-sepoi, surga akhirnya berpihak pada mereka.

Dengan kapal-kapal musuh yang terus mengejar, He Yan mengerutkan kening: "Bawa mereka ke zona penyergapan."

"Iya!"

Perahu kecil itu seakan lari terombang-ambing di air, mendayung dengan putus asa, tampak agak menyedihkan di samping kapal-kapal besar yang mengelilinginya.

"Ke mana tujuan mereka?" tanya Wakil Komandan di samping Xiao Jue.

Xiao Jue memperhatikan arah perahu kecil yang ditumpangi He Yan. Jika ia ingat dengan benar, ada beberapa karang tersembunyi di bagian Kanal Besar yang tenang itu. Perahu-perahu kecil dapat dengan mudah menghindarinya, tetapi kapal-kapal besar...

Xiao Jue berkata: "Ikuti mereka. Bubarkan pasukan Wutuo."

"Komandan?"

"Anginnya telah datang," kata Xiao Jue dengan dingin, sambil menurunkan pandangannya.

Angin sepoi-sepoi tetap lembut, bak belaian kasih sayang sepasang kekasih, berputar-putar di sekitar semua orang. Mu Yi mendayung dengan putus asa, hanya bertanya pada He Yan: "Nona He, bisakah kita menyalakan api sekarang?"

"Belum," jawab He Yan. "Anginnya tidak cukup kencang."

Tanpa angin kencang, sekalipun mereka menyalakan api, mereka tidak akan bisa langsung membakar ribuan kapal perang Wutuo. Musuh memiliki berbagai cara untuk memadamkan api dengan cepat, jadi waktu sangatlah penting.

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Mereka masih terus mengejar!" kata Mu Yi dengan khawatir.

He Yan menoleh sekali dan berkata: "Aku akan menahan mereka."

"Kau?" Mu Yi khawatir. "Bisakah kau melakukannya sendiri? Biar aku ikut denganmu."

"Tidak perlu," He Yan menepuk bahu Mu Yi. "Naik perahu ini dan tetap di posisi bersama yang lain. Ketika kapal-kapal Wutuo melihat kapal kita, kemungkinan besar mereka akan datang untuk menyerang. Kalian harus melindungi perahu-perahu itu," He Yan berhenti sejenak lalu menambahkan, "dan lindungi diri kalian sendiri."

Sebelum Mu Yi selesai berbicara, "Tapi..." He Yan sudah melompat dari haluan kapal, terbang menuju kapal besar dimana MaKa berada.

"Kenapa Nona He pergi sendirian!" seru Wakil Komandan terkejut.

Xiao Jue berkata: "Mulailah menyerang."

Dengan suara benturan yang keras, perahu kecil itu bertabrakan dengan kapal besar, membuat perahu besar itu sedikit miring. Wajah Ma Ka memucat karena marah. "Kenapa kau tidak menghilang?" Ia mencibir, "Kau pikir kau bisa menghentikan pasukan hanya dengan beberapa ribu orang? Karena kau begitu ingin mati, jenderal ini akan mengabulkan keinginanmu!"

Maka mengayunkan pedangnya dan berteriak kepada mereka yang berada di belakangnya: "Prajurit, serang!"

Kedua pasukan itu saling berhadapan. Meskipun kalah jumlah, pasukan Kota Jiyang tidak menunjukkan rasa takut. Pemimpin mereka, He Yan dan Xiao Jue, berbaur di antara pasukan Ma Ka yang mengelilingi mereka. Cambuk He Yan, yang dilengkapi cakar besi, terbukti sama efektifnya pada manusia seperti ketika digunakan pada kapal. Dengan satu tebasan, He Yan menerbangkan seorang pria.

Namun, cambuk yang digunakan He Yan tidak cepat seperti pedang atau bilah pisau – begitu menyambuk seseorang, butuh waktu untuk menariknya kembali. Semakin banyak prajurit Wutuo menyerbu ke depan, dengan musuh yang terus mendesak di belakangnya, He Yan baru saja menendang satu penyerang namun serangan lain datang dari belakang. He Yan menghindar ke samping, dan sebilah pedang panjang berkilau muncul di hadapannya.

Xiao Jue berdiri membelakangi He Yan, pedangnya meneteskan darah. Xiao Jue menarik pedang Yinqiu dari dada seorang prajurit Wutuo, ia dengan lembut mengingatkan He Yan: "Hati-hati."

"Komandan," kata He Yan, "mari kita bertarung bersama!"

Berdiri saling membelakangi, satu dengan pedang dan satu dengan cambuk, mereka saling mempercayakan punggung mereka. Meskipun mereka belum pernah bertarung bersama sebelumnya, mereka memiliki chemistry yang luar biasa di momen hidup-mati ini. Seperti jiwa yang sama yang berbagi pikiran yang sama, gerakan mereka tidak memerlukan komunikasi verbal, secara alami saling melengkapi.

Untuk sementara waktu, para prajurit Wutuo tidak dapat mendekati mereka.

Wakil Jenderal menangkis serangan seorang prajurit Wutuo dan berbalik untuk menyaksikan pemandangan ini, sambil merenung: "Apa latar belakang Nona He? Keterampilan bela dirinya luar biasa."

He Yan tidak bergantung pada perlindungan atau campur tangan Xiao Jue – ia berjuang bersama Xiao Jue dan skillnya setara dengan Xiao Jue, tidak hanya menghindari menjadi beban tetapi juga mengimbangi gerakan Xiao Jue dengan sempurna.

"Jenderal, wanita ini hebat!" kata seorang penasihat kepada Ma Ka.

Kehebatan Xiao Jue sudah diketahui sebagai Panglima Tentara Kanan Wei Agung dan Jenderal Feng Yun, namun nama wanita ini tidak diketahui, dan ia tampak masih sangat muda. Bagaimana mungkin ia begitu terampil? Mungkinkah militer Wei Agung dipenuhi dengan orang berbakat seperti Xiao Huaijin?

Ma Ka mulai menyesali kesediaannya untuk menyerang Jiyang. Melihat pasukan Jiyang yang terbatas dan Mu Hongjin seorang wanita yang memerintah, ia mengira merebut kota akan mudah dan akan mengklaim pencapaian ini untuk dirinya sendiri. Siapa sangka ia akan bertemu Xiao Jue dan wanita yang merepotkan ini? Bersama-sama, keterampilan mereka luar biasa. Bahkan pasukan Kota Jiyang pun tidak terduga – beberapa hari yang lalu, mata-mata melaporkan bahwa mereka sudah bertahun-tahun tidak bertempur, formasi mereka ketinggalan zaman, dan mereka bukan tandingan pasukan Wutuo. Namun dalam pertempuran sesungguhnya, semangat perang prajurit Jiyang tinggi, semangat mereka tidak tergoyahkan, dan taktik mereka berbeda dari sebelumnya.

Meskipun pasukan Jiyang telah berkurang setengahnya, kegagalan pasukan Wutuo yang berjumlah 150.000 orang untuk segera merebut kota dan malah menderita kerugian merupakan penghinaan yang tidak terkatakan!

"Perkuat serangan pada mereka! Serang!" Ma Ka memperhatikan He Yan dan Xiao yang terkepung oleh prajurit Wutuo dengan gigi terkatup. "Aku tidak percaya mereka bisa mengalahkan 150.000 pasukanku!"

Tiang kapal berdiri kokoh, tetapi bendera-bendera mulai bergerak – bukan dengan getaran kecil seperti sebelumnya, melainkan dengan gerakan yang lebih besar, seperti burung yang mengembangkan sayapnya.

"Anginnya kencang!" Suara He Yan tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. "Komandan, anginnya benar-benar kencang!"

Bukan lagi angin sepoi-sepoi yang menggelitik, melainkan angin yang besar yang terasa, mungkin sebentar lagi akan menguat menjadi angin kencang atau badai.

Terlebih lagi....

"Angin tenggara!" Mata He Yan berbinar gembira. "Angin tenggara, Komandan."

Xiao Jue melirik He Yan dan berkata: "Sekarang kita bisa memancing mereka ke dalam perangkap."

He Yan membalas tatapan Xiao Jue, senyum merekah di antara mereka, lalu mereka melompat dan berkata: "Ayo pergi!"

Keduanya menerobos kepungan, tampak kelelahan saat melompat ke sebuah perahu kecil milik pasuka Jiyang. Para prajurit Jiyang di atas perahu mendayung mati-matian, seolah berusaha membawa keduanya ke tempat yang aman.

"Mau kabur?" Ma Ka mencibir sambil melambaikan tangannya. "Kejar mereka! Hari ini kita harus mengambil kepala mereka berdua!"

Saat ini, dengan pasukan Jiyang yang semakin menipis, Xiao Huaixin dan wanita itu kalah jumlah. Meskipun secercah keraguan terlintas di benak Ma Ka – apakah Xiao Huaijin tipe orang yang akan meninggalkan pasukannya dan melarikan diri? – kecurigaan ini dengan cepat diliputi oleh kegembiraan akan kemenangan yang akan segera diraih. Seberani dan tidak terkalahkannya Xiao Jue, dengan jumlah pasukan yang begitu sedikit, Xiao Jue tidak derdaya. Bangsa Wei Agung punya pepatah, "Selama pegunungan hijau masih ada, selalu akan ada kayu bakar untuk dibakar." Mungkin keduanya, melihat situasi berbalik melawan mereka, berencana untuk melarikan diri dan menunggu waktu yang tepat untuk kembali. Namun Ma Ka bertekad untuk memburu mereka hari ini.

Penasihatnya ragu-ragu: "Jenderal, kita seharusnya tidak mengejar musuh yang putus asa. Kita harus menghabisi sisa pasukan Jiyang di sini dan merebut kota ini – itulah jalan yang tepat."

"Tahu apa kau!" Ma Ka mencibir. "Pasukan Jiyang sudah tersebar. Jika kita menangkap Xiao Huaijin..." Keserakahan terpancar di matanya. "Raja kita akan memberiku banyak hadiah. Ini akan menjadi kemenangan bersejarah!"

Semua orang di Wutuo tahu dia datang untuk merebut kota, dan sekarang dia tidak hanya akan merebut Jiyang tetapi juga membunuh Xiao Huaijin yang ditakuti. Ini pantas dibanggakan seumur hidup! Terlebih lagi, dia telah menderita penghinaan yang tidak sedikit dari wanita yang menyamar sebagai Mu Hongjin. Karena sifatnya yang pendendam, Ma Ka tidak bisa membiarkan kejadian itu diabaikan begitu saja.

Yang diinginkannya sekarang hanyalah memburu Xiao Jue dan wanita itu.

"Kejar mereka!"

Perahu kecil itu melesat maju, sementara terumbu karang tersembunyi tidak terhitung jumlahnya terhampar di bawah permukaan Kanal Besar yang luas. Kapal-kapal dagang biasa tahu untuk menghindari area ini berdasarkan pengalaman, tetapi pasukan Wutuo ini mungkin tidak tahu.

Pasuka Wutuo juga tidak tahu senjata apa yang tersembunyi di dalam perahu-perahu kecil yang terlihat biasa saja yang tersebar di sekitar kapal besar mereka.

"Jenderal, apakah kau memperhatikan perahu-perahu kecil itu?" tanya sang penasihat kepada Ma Ka.

Puluhan perahu kecil muncul di perairan di sekitar kapal mereka. Perahu-perahu itu tampak seperti kapal militer Jiyang, meskipun awaknya tampak lebih kecil daripada pasukan Jiyang sebelumnya. Mereka ditempatkan di berbagai titik di sekitar armada Wutuo, menjaga jarak yang samar, seolah-olah menyimpan niat jahat.

Firasat buruk semakin kuat, sang penasihat pun angkat bicara: "Jenderal, mungkinkah ini penyergapan? Haruskah kita..."

"Penyergapan apa! Kalau takut, merangkak pulang saja – pasukan Wutuo tidak punya tempat untuk pengecut!" Ma Ka menendang pria di sampingnya. "Hanya beberapa perahu dan kau menyebutnya penyergapan? Apa kau mencoba membuat orang tertawa? Dengan armada dan jumlah kita, ini bukan penyergapan – melainkan bunuh diri! Perhatikan baik-baik, semua orang sudah siap. Saat mereka mendekat, lepaskan anak panahnya!"

Sang penasihat mempertimbangkan kembali dan merasa kata-kata Ma Ka masuk akal. Perahu-perahu Jiyang ini bagaikan ngengat yang tertarik pada api – bahkan ketika mendekat dari segala arah, mereka tidak berpeluang untuk menang.

He Yan telah memberi sinyal, dan kapal-kapal yang tersisa yang dipimpin oleh Mu Yi semuanya berkumpul di posisi mereka. He Yan menoleh ke belakang ke arah kapal-kapal perang Wutuo yang mengejar mereka, dan semakin mendekat.

Pada saat yang sama, angin semakin kencang membuat bendera-bendera yang ada diatas kapal mengeluarkan bunyi kibaran yang cuku keras. Hati He Yan berdebar dengan suka cita yang tidak dapat ditahan

"Haruskah kita menyalakan apinya sekarang?" tanya He Yan pada Xiao Jue.

Bibir Xiao Jue sedikit melengkung, "Nyalakan."

Keduanya memerintahkan prajurit Jiyang di sekitar mereka untuk berhenti mendayung. "Cepat, masuk ke air!"

"Cebur, ciprat, ciprat—"

Suara orang-orang yang menyelam ke dalam air terdengar silih berganti, membingungkan para prajurit Wutuo di kapal mereka. "Kenapa mereka semua melompat ke dalam air?"

"Siapkan kait besi! Kita masih bisa melawan mereka meskipun mereka di dalam air," kata Ma Ka dengan muram, berasumsi prajurit Jiyang telah kehabisan semua pilihan dan memilih untuk bunuh diri.

He Yan tersenyum tipis, melangkah ke haluan kapal dan mengeluarkan batu api dari jubahnya.

"Ts—"

Suara percikan samar keluar dari tangannya, terlalu halus untuk didengar pasukan lawan. Mata gadis itu berbinar-binar dengan senyum nakal, "Ini hadiah istimewa untukmu, tangkap dengan baik!"

Percikan api melesat di udara bagai bintang jatuh, mendarat di kapal. Bersamaan dengan itu, suara prajurit Jiyang yang menyelam ke dalam air bergema dari segala arah.

Percikan api mendarat di tirai yang terangkat dan kayu bakar yang berlumuran minyak. Dengan suara "DUM" yang dahsyat, perahu kecil itu meletus menjadi bola api raksasa yang seolah menerangi seluruh langit.

Kapal-kapal perang Wutuo dengan cepat dilalap api saat angin semakin kencang, meniupkan api secara diagonal ke arah armada mereka.

...

Keributan di Kanal Besar tampaknya mencapai Kota Jiyang.

Lin Shuanghe berjalan keluar dari halaman belakang kediaman keluarga Cui, memandang ke kejauhan, dan bergumam, "Suara apa itu?"

Zhong Fu di sampingnya juga mendengarkan dengan saksama tetapi tidak dapat menjawab. Setelah beberapa saat, Zhong Fu menatap Lin Shuanghe dan bertanya, "Tuan Muda Lin, apakah kau menginap di sini?"

Zhong Fu kini tahu identitas asli Lin Shuanghe. Bayangan "Pengurus Lin yang elegan" memang tidak ada di dunia ini—setidaknya selama bertahun-tahun, ia belum pernah melihat Pengurus Kediaman yang elegan. Pemuda ini tampak anggun dan sopan, kabarnya dia seorang dokter, tidak seperti Xiao Jue dan He Yan, pemuda ini tidak memiliki keterampilan bela diri. Mengapa ia tetap tinggal di sini, bukannya mengungsi bersama warga sipil?

"Ada begitu banyak perempuan di rumah ini," Lin Shuanghe tersenyum. "Jika aku pergi, siapa yang akan melindungi mereka?"

Zhong Fu terdiam sesaat—pemuda ini berbicara seolah-olah ia benar-benar mampu melindungi orang lain.

"Selir-selir Komandan Cui masih ada di kediaman. Kalau para wanita ini berani tinggal, bagaimana mungkin aku bisa kabur sendirian? Lagipula aku kan laki-laki," Lin Shuanghe mengibaskan kipasnya, senyumnya tetap riang seperti biasa. "Seorang pria seharusnya melindungi para wanita."

Selir Kedua memperhatikan Lin Shuanghe yang sedang berbicara dengan Zhong Fu melalui jendela, sambil menopang dagunya dengan tangannya ia berkata: "Tuan Muda Lin ini terlihat sangat lembut, tetapi dia cukup jantan dalam hal-hal penting. Jika aku sepuluh tahun lebih muda..."

"Lalu bagaimana?" Selir Wei memelototinya. "Bagaimana mungkin kau memikirkan hal-hal seperti itu di saat seperti ini!"

"Aku hanya bicara sembarangan, kakak, mengapa kau begitu khawatir?" Selir Kedua meregangkan badan dengan malas. "Kita bahkan tidak tahu apakah kita akan selamat hari ini, tidak bisakah aku bermimpi sedikit?"

"Pah, pah, pah," kata Selir Keempat. "Kakak Kedua, jangan mengucapkan kata-kata buruk seperti itu. Tuan pasti akan mengalahkan orang-orang Wutuo itu. Kita tidak hanya akan selamat hari ini, tetapi juga besok, dan hidup untuk waktu yang sangat lama! Bukankah Tuan mengatakan bahwa Qiao Huanqing adalah Jenderal Feng Yun dari Kerajaan Wei? Dengan Jenderal Feng Yun ada di sini, kita akan memenangkan pertempuran ini. Jangan khawatir!" Ia berbicara dengan cepat dan cemas, tampak percaya diri, meskipun tidak jelas apakah ia sedang menghibur orang lain atau meyakinkan dirinya sendiri.

Selir Ketiga hampir menangis, air mata telah menggenang di matanya sejak lama. Mendengar ini, ia akhirnya terisak: "Apa bedanya jika Jenderal Feng Yun ada disini atau tidak? Kota kita sudah bertahun-tahun tidak berperang, jumlah tentara kita lebih sedikit daripada warga sipil, dan Jenderal Feng Yun bukan dewa. Aku masih sangat muda, aku tidak ingin mati, aku... Tuan bahkan belum lama menyayangiku, aku sangat takut..."

"Berhenti menangis!" bentak Selir Wei dengan tegas. Melihat Selir Ketiga tersentak namun masih tidak kuasa menahan air matanya, selir Wei akhirnya menghela napas dan menyerahkan sapu tangan pada selir ketiga, lalu dengan suara lembut berkata, "Apa yang perlu ditakutkan? Meskipun kita selir, kita tetap anggota keluarga Komandan. Kita tidak boleh menangis dan menjadi beban sementara Tuan mempertaruhkan nyawanya di garis depan."

"Bahkan sebagai selir, sebagai perempuan, kita tetaplah perempuan dari kediaman Komandan Cui. Kita harus bermartabat dan tidak takut mati. Jika kita memenangkan pertempuran ini dan Tuan kembali hidup-hidup, kita akan merayakan dan menyiapkan pesta untuk menghiburnya. Jika kita kalah... jika Tuan tidak kembali, kita tidak akan hidup di bawah kekuasaan Wutuo. Kita semua sudah siap—semua orang pada akhirnya akan mati, hanya masalah sekarang atau nanti."

"Setidaknya kita tetap bersama. Sekalipun benar-benar tidak ada jalan keluar, kita akan saling menemani di jalan menuju dunia bawah. Apa yang perlu ditakutkan?" katanya.

Selir Kedua tertawa terbahak-bahak, matanya berkaca-kaca lalu ia menggenggam tangan Selir Ketiga, berkata, "Benar, kita selalu bersama, tidak ada yang perlu ditakutkan."

Selir Ketiga terisak sambil menyeka air matanya, menolak berbicara. Selir Keempat memandang ke luar jendela dan bergumam, "Anginnya kencang."

...

"Anginnya kencang," Mu Hongjin memandangi pepohonan di luar.

Awalnya, hanya angin sepoi-sepoi, tetapi dengan cepat menjadi lebih kencang, membuat ranting-ranting willow bergoyang liar seolah-olah bisa tumbang kapan saja. Permukaan kolam beriak dengan ombak kecil.

Kediaman pangeran kosong di dalam dan luar, kecuali beberapa pelayan tua yang tetap di berada sisinya. Mereka yang bisa pergi, telah ia kirim pergi bersama warga sipil yang dievakuasi. Lebih baik menyelamatkan sebanyak mungkin daripada membiarkan mereka mati sia-sia di sini.

"Suara apa itu tadi?" tanya Mu Hongjin kepada pelayannya.

Pelayan itu menggelengkan kepalanya.

"Tentu saja," Mu Hongjin mendesah, "bagaimana mungkin kau tahu?"

Ledakan dahsyat itu sungguh mengejutkan, terdengar di seluruh kota. Sepertinya datang dari arah Kanal Besar. Para pelayan yang dikirim untuk mengumpulkan informasi telah kembali dua kali, melaporkan bahwa pasukan Jiyang yang dipimpin Xiao Jue sedang bertempur melawan pasukan Wutuo di atas air. Pasukan Wutuo belum menepi untuk memasuki kota, tetapi... pasukan Jiyang telah kehilangan separuh jumlah mereka.

Kekuatan yang tidak seimbang dan kekuatan yang tidak memadai—pertempuran ini benar-benar menempatkan Xiao Huaijin dalam posisi yang sulit. Mu Hongjin berpikir dalam hati, membenci ketidakberdayaannya. Jika dia tahu cara memimpin pasukan dan memimpin serangan, dia tidak perlu duduk tidak berdaya di Istana kosong ini, menunggu hasil dengan cemas.

Jika kota ini jatuh, dia akan mati bersamanya; jika kota ini berdiri, dia akan tetap hidup—ini adalah satu-satunya hal yang dapat dia lakukan sekarang.

Angin bertiup masuk melalui jendela, menjatuhkan cermin dari kursi empuk dengan keras. Mu Hongjin tersentak, hendak mengambil cermin itu.

Cermin itu pernah jatuh sekali sebelumnya, meninggalkan sedikit retakan. Jatuh kali ini lebih keras daripada sebelumnya, membuat seluruh permukaan cermin itu penuh dengan retakan. Begitu Mu Hongjin menyentuhnya, cermin itu pecah. Pecahannya jatuh ke karpet lembut seperti permata yang bertebaran di langit, atau seperti kenangan yang tersebar di lubuk hatinya.

Hatinya tiba-tiba terasa sakit. Mu Hongjin membungkuk, dan entah kenapa, air mata mulai mengalir.

...

Jauh di dalam hutan lebat, seorang pendekar pedang berjubah putih dikelilingi oleh ratusan prajurit Wutuo.

Darah menetes terus menerus dari pedang panjangnya, dan jubah putihnya sebagian besar bernoda merah—mustahil untuk memastikan apakah itu darahnya sendiri atau darah orang lain.

"Serang!" Para prajurit Wutuo datang bergelombang, tetapi ilmu pedang pria ini luar biasa. Ia mampu melawan sepuluh atau seratus orang sendirian dan masih belum tumbang.

Namun pria berjibah putih itu menderita banyak luka.

Lengannya sudah teriris pedang orang Wutuo, meninggalkan bekas luka yang panjang, dan kakinya juga berdarah. Namun gerakannya tetap anggun, bagaikan awan di Gunung Qiyun, tidak bisa terpahami. Pria berjubah putih itu tampak seperti dewa yang turun dari surga untuk menjalani cobaan, selalu tenang dan tersenyum.

Ia membuat pembantaian di sekitarnya tampak nyaris tidak bermakna, seperti para pemuda heroik dari kisah-kisah legendaris—para pendekar pedang dunia persilatan, dengan pedang dan sitar, di bawah langit yang luas.

Tetapi bahkan para pahlawan pun memiliki batasnya.

Pandangan Liu Buwang mulai kabur dan kabur. Membentuk formasi sebelumnya telah menguras banyak energinya, memperparah penyakit lamanya. Kini ia berada di titik terendah kekuatannya.

Namun, setiap dia bisa menahan pasukan Wutuo disini berarti momen kedamaian lainnya bagi Kota Jiyang.

Angin perlahan bertiup kencang, dan senyum Liu Buwang semakin cerah dan berseri, seperti tahun-tahun yang lalu ketika ia berpura-pura acuh tak acuh kepada seorang gadis muda berbaju merah yang menggodanya dengan lonceng perak terikat dikepangannya, diam-diam tersenyum sendiri ketika ia berpaling dari gadis itu.

Sebilah pisau menancap di wajahnya. Liu Buwang melompat menghindarinya, dan dalam gerakan itu, sesuatu melayang dari balik jubahnya. Ia secara naluriah mengulurkan tangan untuk menangkapnya, menggenggamnya erat.

Benda yang melayang itu adalah sebuah gelang perak, berukir bunga aster liar kecil di tepinya. Waktu telah menghaluskan tepinya yang kasar hingga menjadi halus, dan masih menyimpan kehangatan manusia, sedikit hangat saat disentuh.

Seseorang pernah berkata kepadanya: "Ini disebut Gelang Kenikmatan Hati. Berikan satu kepada kekasihmu untuk dipakai, dan kau tidak akan pernah terpisahkan seumur hidup."

Mu Hongjin yang berusia tujuh belas tahun memohon padanya: "Pahlawan Liu, belikan aku satu!" Namun ia dengan dingin menjawab: "Dia bukan kekasihku."

Namun, ketika kembali ke gunung bersama Yu Shu, dan bertemu lagi dengan perempuan tua yang menjual gelang itu di kaki Gunung Qiyun, ia entah kenapa membeli gelang itu.

Liu Buwang tidak mengerti mengapa ia melakukannya saat itu. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia khawatir Mu Hongjin akan bosan menunggu sendirian di penginapan, dan ketika dia kembali, Mu Hongjin pasti akan bersikap manja dan merengek—gelang itu akan menjadi hadiah untuk membungkamnya. Sayangnya, selama bertahun-tahun berikutnya, ia tidak pernah memiliki kesempatan untuk memberikan gelang ini padanya.

"Squelch—"

Sebilah pedang panjang menusuknya dari belakang, ujungnya menembus dadanya seolah mencoba membelah hatinya agar ia dapat melihat dengan jelas siapa sebenarnya pemilik hatinya.

Prajurit Wutuo di belakangnya tertawa terbahak-bahak, berkata: "Kepala ini milikku! Tidak ada seorang pun dapat menandingiku untuk prestasi militer ini!"

Tawa riuh meledak di sekelilingnya.

Liu Buwang jatuh.

Saat ia jatuh, ia masih menggenggam erat Gelang Kenikmatan Hati.

Angin, bagai tangan seorang gadis, membelai lembut keningnya saat ia berbaring, tidak kuat lagi untuk berdiri.

Dalam lamunan, ia seakan kembali ke masa lalu, saat pertama kali ia meninggalkan gunung.

Tahun itu, pemuda itu telah maju dengan pedangnya, penuh dengan cita-cita besar. Para senior menggodanya, mengatakan bahwa perempuan di dunia fana adalah harimau, memperingatkannya untuk tidak membiarkan dunia fana mengaburkan pandangannya. Ia cemberut dengan acuh, lalu berbalik dan melihat seorang gadis berbaju merah dengan kepang panjang duduk di bawah pohon bunga persik berjatuhan bagai hujan.

Disclaimer: Terjemahan ini dilakukan secara sukarela untuk tujuan berbagi hobi dan apresiasi karya. Seluruh hak cipta, termasuk karakter, alur cerita, dan judul adalah milik penuh penulis asli dan penerbit. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas konten ini. Jika Anda menyukai ceritanya, dukung penulis aslinya melalui platform resmi.

Komentar