Legend of the Female General-Bab 137 Sepuluh Rahasia
Pemuda yang mengenakan baju berkuda warna biru tua itu menangkap bendera, lalu turun dari kudanya dengan satu lompatan, dan mendarat dengan anggun di tanah, membuat orang-orang yang melihatnya terkesima.
Tuan penjaga arena, yang murah hati, menyerahkan cambuk giok ungu kepada Xiao Jue dan memuji, "Tuan Muda memiliki keterampilan yang luar biasa. Dalam ajang Menangkap Angin beberapa tahun terakhir, kaulah yang tercepat menangkap bendera!"
Cui Yuezhi tak kuasa menahan diri untuk bertepuk tangan, "Huanqing, sebelum kau tiba, kudengar ayah angkatmu telah mencarikan seorang guru bela diri untukmu. Sekarang kulihat guru itu sungguh-sungguh mencurahkan hatinya untuk mengajarimu. Keterampilan seperti itu jarang bahkan di Kota Jiyang."
Xiao Jue mengangguk sambil tersenyum, "Paman, kau terlalu memujiku."
He Yan berpikir dalam hati, Cui Yuezhi tidak tahu bahwa apa yang baru saja di tunjukan Xiao Jue adalah hanya sebagian kecil dari kemampuannya. Jika Xiao Jue benar-benar bertanding dengan kekuatan penuh, pasti akan mengejutkan semua orang dan akan berisiko mengungkap identitasnya.
Sementara He Yan tenggelam dalam pikirannya, Xiao Jue berjalan mendekat dan melemparkan cambuk giok ungu ke pelukannya.
He Yan terkejut dengan bantuan ini, "Te-terima kasih."
He Yan merasa Xiao Jue yang sekarang sangat berbeda. Ia tampak sangat ramah dan baik hati.
Namun, karena tidak tahu alasan Xiao Jue menjadi begitu baik, He Yan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Karena kita sudah punya cambuk giok ungu," kata Selir Wei sambil tersenyum, "Bagaimana kalau kita pergi menonton upacara di tepi sungai? Upacaranya sangat meriah, dan kalian bisa menerima persembahan yang telah diberkati oleh Dewa Air. Jika kalian memakan persembahan yang telah diberkati dan mandi di air suci, kalian akan diberkati dengan keberuntungan sepanjang tahun mendatang."
Cui Yuezhi tepuk dahinya, "Benar, benar, benar, aku hampir lupa. Huanqing dan Yuyan, kalian berdua harus pergi dan memohon berkat! Bagaimana kita bisa datang ke Festival Dewa Air tanpa menghadiri upacara Dewa Air?"
He Yan bingung dengan isi upacara Dewa Air, tetapi karena tidak kuasa menolak keramahan yang tulus tersebut, He Yan pun mengikuti rombongan itu menuju kanal. Saat mereka mendekat, mereka melihat sebuah lahan terbuka luas di dekat kanal tempat dimana sebuah panggung melingkar telah didirikan. Di atasnya, banyak orang bertopeng bernyanyi dan menari. Musik yang dimainkan terdengar seperti musik rakyat Jiyang dengan melodi yang ceria, dan orang-orang dari segala usia berpartisipasi, menciptakan suasana yang meriah.
Tepat saat mereka berhenti, terdengar suara seorang wanita memanggil, "Pejabat Cui."
Mereka menoleh dan melihat Nona Ling Xiu dari Kantor Upacara, yang pernah memainkan Qin di kediaman Cui beberapa hari yang lalu. Di sampingnya berdiri Yan Miner, yang menatap mereka dengan tatapan permusuhan yang kentara.
Ling Xiu mengenakan pakaian terbaiknya hari ini, mengenakan gaun panjang pas badan berwarna merah muda dan sepatu bot pendek favorit para wanita Jiyang. Rambut panjangnya dikepang halus, memberinya kesan lembut dan ceria. Ia tersenyum manis dan berkata, "Aku baru saja tiba di sini bersama Miner dan kebetulan bertemu Pejabat Cui. Sungguh kebetulan yang luar biasa. Ini pasti takdir."
Cui Yuezhi tersenyum, "Xiu'er, Miner, di mana orang tuamu?"
"Ayah dan Ibu ada di perahu. Miner dan aku sedang berjalan-jalan dengan para pelayan dan pengawal, kami ingin melihat upacara dan mengumpulkan beberapa persembahan untuk dibawa pulang." Tatapannya tertuju pada Xiao Jue, tetapi Xiao Jue hanya melihat ke arah panggung upacara, tanpa meliriknya sedikit pun. Kilatan kegelapan melintas di hati Ling Xiu.
Lin Xiu dan Yan Miner pertama kali melihat Xiao Jue bukan di sini, melainkan sebelumnya di lapangan berkuda saat acara Menangkap Angin. Sikap pemuda itu seanggun rembulan, sungguh menawan. Bayangannya menangkap bendera dengan senyum tipis itu langsung terukir di hati, tak terlupakan. Namun, pria seperti itu telah pamer di depan semua orang hanya untuk memenangkan cambuk yang disukai wanita itu.
Ling Xiu diliputi rasa cemburu.
Dia cantik, berbakat, dan berasal dari keluarga bangsawan. Banyak talenta muda di Kota Jiyang yang mengaguminya, tetapi dia memandang rendah mereka semua. Kemudian suatu hari, seorang pria muncul yang melampaui semua orang di kota, tetapi sayangnya, dia sudah menikah dan menunjukkan pengabdian yang begitu besar kepada istrinya yang tampak biasa saja. Jika awalnya, dia hanya marah pada ketidakpedulian Xiao Jue terhadapnya, setelah beberapa pertemuan, Ling Xiu juga membenci He Yan.
Jika bukan karena Wen Yuyan, jika dia yang pertama kali bertemu Qiao Huanqing... hasilnya tidak akan seperti ini. Apa bagusnya wanita itu? Qiao Huanqing pasti telah dibutakan sehingga mengira mata ikan adalah mutiara.
He Yan dengan antusias memperhatikan para penari dan penyanyi bertopeng di panggung lalu ia bertanya pada Selir Wei, "Mengapa mereka semua memakai topeng?"
"Setiap topeng mewakili identitas yang berbeda, semuanya berkaitan dengan legenda Dewa Air. Tarian dan nyanyian selama upacara menceritakan kisah-kisah Dewa Air," jelas Selir Wei sambil tersenyum. "Jika Nona Yuyan tertarik, kau juga bisa naik dan menari, memainkan salah satu peran. Menjelang akhir, para tetua akan mencelupkan ranting-ranting willow ke dalam air suci dan memercikkannya kepada semua orang. Diberkati oleh air suci akan mengubah kemalangan menjadi keberuntungan."
He Yan belum pernah mendengar adat istiadat seperti itu dan berkata, "Menarik sekali."
Ling Xiu melangkah maju sambil tersenyum, "Apakah Nyonya Qiao ingin bergabung dengan kami di atas panggung?"
He Yan melambaikan tangannya, "Aku hanya asal bicara."
"Miner dan aku juga ingin menari di atas panggung. Jika Nyonya ikut, pasti akan lebih meriah." Ling Xiu menatap He Yan, tersenyum lembut dan penuh perhatian, tetapi entah mengapa, He Yan secara aneh merasa tidak ingin bergabung dengan mereka. Meskipun He Yan tidak terlalu ahli dalam memahami hubungan interaksi antarwanita, dan bahkan bisa dianggap bodoh, He Yan masih bisa membedakan antara aura permusuhan aura biasa saja dan aura keramahan.
Ling Xiu memendam aura permusuhan yang terselubung terhadapnya, tapi kenapa? He Yan berpikir keras, tetapi tidak terpikirkan bagaimana mungkin ia menyinggung wanita muda ini.
"Kalian semua seumuran," kata Cui Yuezhi sambil tersenyum. "Yuyan, ikut mereka. Upacara Dewa Air di Jiyang sederhana dan tidak sulit. Jika ada yang tidak kau mengerti, biarkan Xiu'er dan Miner yang mengajarimu."
Karena Cui Yuezhi sudah bicara, jika He Yan terus menolak, itu akan dianggap tidak menghormati adat istiadat Jiyang. Jadi He Yan berkata, "Baiklah kalau begitu. Tapi aku tidak bisa menari, tolong jangan menertawakanku."
"Tidak akan," kata Ling Xiu manis. "Kami akan mengajarimu semuanya." Setelah itu, dia menarik Yan Miner ke panggung, sambil berkata, "Ayo kita ambil topengnya dulu."
He Yan menghela napas enggan. Meskipun Ling Xiu dan Yan Miner menyimpan dendam padanya, mereka bukanlah wanita yang bisa bela diri dan tidak bisa berbuat hal-hal yang membahayakan padanya. Paling-paling, mereka hanya akan melakukan lelucon yang tidak berbahaya. He Yan hanya perlu tetap waspada.
Saat He Yan memikirkan hal ini, ia mendengar seseorang di sampingnya berkata, "Kenapa kau tidak menolak?"
He Yan terkejut dan berbalik. Tatapan Xiao Jue tertuju pada wajah He Yan, ekspresinya tidak terbaca lalu ia berkata dengan nada mengejek, "Kalau kau tidak suka, kenapa kau tidak menolaknya?"
"Tidak sopan jika aku menolaknya," He Yan ragu sejenak sebelum melanjutkan, "Kalau aku menolak, Pejabat Cui mungkin akan menjadi tidak senang."
Xiao Jue tertawa kecil, seolah tidak setuju dengan pendekatan He Yan, lalu berkata, "Kalau ada yang tidak kau sukai, tolak saja. Kau boleh menolak, Nona He. Kau tidak bisa membuat semua orang senang."
Memang benar, tapi...
Mencoba membuat semua orang senang dan mencapai keharmonisan yang sempurna tampaknya sudah menjadi kebiasaan untuknya.
Sementara itu, Yan Miner menarik Ling Xiu ke samping dan berbisik, "Apa maksudmu? Siapa yang mau menari dengannya? Aku tidak tahan dengannya! Aku tidak mau pergi!"
"Tunggu," Ling Xiu menarik Yan Miner, "Biar aku jelaskan."
"Apa yang bisa kau jelaskan?"
"Aku sudah mendengar tentang apa yang terjadi di Butik Xiuluo."
Mendengar kata-kata ini, wajah Yan Miner langsung memerah. Setelah tercekat sejenak, ia berkata, "Bagaimana kau tahu tentang itu!"
"Siapa yang tidak tahu kejadian di Butik Xiuluo sekarang? Sudah menyebar ke mana-mana," Ling Xiu menatap Yan Miner sambil tersenyum. "Jangan marah, aku jelas berada di pihakmu. Lagipula, aku juga tidak suka Wen Yuyan, jadi bagaimana mungkin aku membiarkannya bersenang-senang?"
"Apa rencanamu?" tanya Yan Miner kesal.
"Karena kita menari, kita pasti tidak akan membiarkannya bersinar. Akan lebih baik jika dia mempermalukan dirinya sendiri," Ling Xiu tersenyum dan menunjuk topeng-topeng di dekatnya. "Biarkan dia membuat masalah bagi dirinya sendiri. Kami para wanita dari Jiyang tidak mudah diganggu."
"Aku belum pernah melihat Nyonya menari sebelumnya," Lin Shuanghe melambaikan kipasnya, berkata dengan santai, "Kesempatan untuk memperluas wawasan ku hari ini sungguh sesuatu yang sangat dinantikan."
He Yan berpikir dalam hati bahwa ia tidak bisa menari, paling-paling ia hanya bisa menari dengan pedang. Namun, sebagai orang luar, meskipun ia menari di festival, orang lain tidak akan terlalu menuntut padanya. Ia hanya perlu menghindari melakukan kesalahan besar. Ini hanya tentang ikut serta dalam perayaan.
Saat He Yan sedang larut dalam pikirannya, Ling Xiu dan Yan Miner kembali. Yan Miner memegang beberapa topeng sementara Ling Xiu membawa sebuah kotak kayu. Ketika mereka sampai di dekat He Yan, Ling Xiu menunjukkan ekspresi cemas dan berkata, "Aku baru saja bertanya kepada petugas upacara, ada banyak orang di upacara hari ini dan hanya beberapa topeng yang tersisa. Aku tidak tahu bagaimana cara membagikannya, haruskah kita mengundi untuk menentukannya?"
Hanya sebuah topeng, He Yan tidak terlalu khawatir dan bertanya, "Apa bedanya?"
"Topeng yang berbeda mewakili peran yang berbeda. Dalam mitologi Dewa Air di Jiyang, ada beberapa peran jahat, peran lucu..." Ling Xiu terdiam sejenak, lalu tersenyum cerah, "Tapi Nyonya mungkin tidak akan mendapatkan peran lucu, persentasenya sangat kecil."
He Yan bergumam "mm" dan berkata dengan rendah hati, "Kau bisa mengambil undiannya duluan."
"Nyonya bukan dari Jiyang, jadi kau harus mengambil undiannya duluan," Ling Xiu tersenyum.
Tidak ada gunanya berbasa-basi tentang hal-hal seperti ini, jadi He Yan berkata, "Baiklah kalau begitu." He Yan meraih kotak kayu yang dipegang Ling Xiu dan mengambil selembar kertas terlipat dari dalamnya.
He Yan membuka kertas yang dilipat dan melihat tulisan "Li Huang" tertulis di atasnya.
"Li Huang... apa maksudnya?" tanya He Yan ragu-ragu.
Cui Yuezhi terkejut, Selir Wei juga tampak terkejut, tetapi Ling Xiu menutup mulutnya karena terkejut dan berkata, "Nyonya mendapatkan Li Huang, Nyonya... sungguh sangat tidak beruntung."
"Apakah ini sangat buruk?" He Yan bingung.
"Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, dalam mitologi Dewa Air di Jiyang, terdapat peran-peran jahat dan lucu – Li Huang adalah salah satunya. Ia adalah seorang pembohong penuh tipu daya yang membuat onar di tepi air di dunia fana, merampas kekayaan banyak orang, bahkan orang yang sudah tua dan anak-anak pun disiksa olehnya. Ia melakukan tindakan paling tidak tahu malu di dunia hingga para dewa tidak tahan lagi melihatnya dan mengirim seorang peri, salah satu bawahan Dewa Air, untuk menangkapnya. Penipu ini bisa saja berbohong kepada orang lain, tetapi berhadapan dengan hukum para Dewa, ia hanya bisa mengatakan kebenaran di dalam hatinya. Setelah mengungkapkan sepuluh rahasia tentang dirinya, ia akhirnya dikurung oleh sang dewa di penjara air bawah tanah, tidak pernah kembali ke daratan."
Sambil mendengarkan, He Yan tanpa sadar menempatkan dirinya di posisi karakter tersebut, dan ketika mendengar tentang tidak pernah bisa kembali ke daratan, He Yan tidak kuasa menahan diri untuk berkata, "Sungguh tragis."
"Sungguh tragis," kata Yan Miner sambil tersenyum dingin. "Tapi karena kau sudah mendapatkan undian ini, kau harus berperan sebagai Li Huang. Jika kau setuju untuk berpartisipasi dalam upacara Dewa Air tetapi mundur di tengah jalan, kau akan menghadapi hukuman Dewa Air."
He Yan ingin bertanya bagaimana tepatnya Dewa Air akan menghukumnya, tetapi kemudian ia teringat bahwa di kehidupan sebelumnya, ia telah mati di air – meskipun ia tidak yakin apakah itu hanya kebetulan.
He Yan berkata, "Baiklah, jika itu peran penjahat, biarlah. Di dunia ini, seseorang harus berperan sebagai penjahat, kan?"
Cui Yuezhi masih ragu, "Tapi Yuyan, topeng itu..."
"Kenapa dengan topengnya?"
Ling Xiu mengambil topeng dari tangan Yan Miner dan memberikannya kepada He Yan sambil bekata: "Ini topeng Li Huang."
Baru ketika He Yan melihat topeng itu, ia mengerti mengapa ekspresi Cui Yuezhi tidak terlihat baik. Topeng Li Huang tampak seperti anjing rakun, bahkan lebih buruk lagi. Topeng itu dilukis agar tampak garang dan ganas, tetapi memiliki corak putih besar yang dilukis di antara mata dan hidung, membuatnya tampak licik sekaligus mengerikan. Tidak ada gadis yang mau memakai topeng seperti itu di wajahnya. Lagipula, topeng itu sangat berat, membuat kepala seseorang terlihat jauh lebih besar saat dikenakan.
He Yan menimbang topeng itu ditangannya: "Tidak apa-apa."
He Yan memang tidak pernah terlalu peduli dengan penampilan. Namun, raut wajah Selir Wei berubah muram. Setelah menghabiskan beberapa hari terakhir bersama He Yan, ia mendapati He Yan lembut dan ceria, memperlakukan orang lain dengan hangat dan terbuka. Meskipun orang lain mungkin tidak mengerti, ia tumbuh besar di lingkungan istana dan langsung menyadari kecemburuan dan persaingan antar wanita. Ling Xiu-lah yang sengaja menjebak He Yan
Bayangkan saja – memainkan peran lucu di depan suaminya, harus melakukan segala macam tindakan konyol. Tidak peduli apa yang mungkin dipikirkan orang lain, bukankah wanita mana pun akan merasa sangat malu dan terhina? Wanita mana yang tidak ingin tampil secantik Xi Shi atau Diao Chan di mata kekasihnya?
Selir Wei berkata, "Bagaimana mungkin kita membiarkan Nona Yuyan berperan sebagai penjahat? Tidak bisakah kita bicara dengan petugas upacara?"
"Tidak apa-apa," He Yan tersenyum. "Dalam upacara seperti ini, ketulusanlah yang terpenting. Tidak perlu meributkan hal kecil seperti ini."
Tanpa menyadari ketegangan yang terjadi, Cui Yuezhi mendengar kata-kata He Yan dan tersenyum, "Bagus sekali! Yuyan benar-benar berpikiran terbuka!"
Sementara itu, Lin Shuanghe dan Xiao Jue mengerutkan kening bersamaan.
Lin Shuanghe menutupi wajahnya dengan kipasnya dan berbisik kepada Xiao Jue, "Dasar iblis tampan, kaulah yang menyebabkan masalah ini, tapi He meimei, yang harus menderita karenanya."
Ekspresi Xiao Jue menjadi sedikit mendingin. Ia melirik Lin Shuanghe, terdiam sejenak, lalu tiba-tiba berkata: "Tadi kau bilang rahasia Li Huang harus diungkapkan kepada para Dewa."
Melihat Xiao Jue memulai percakapan dengannya, hati Ling Xiu berdebar gembira. Ia tersenyum manis dan berkata, "Iya. Saat Nyonya naik ke panggung upacara, ia harus menceritakan sepuluh rahasia kepada orang yang berperan sebagai Dewa." Setelah jeda, Ling Xiu melanjutkan sambil tersenyum, "Dan kesepuluh rahasia ini semuanya sepertinya benar. Karena dalam legenda, ketika Li Huang yang licik menghadapi peri yang terikat oleh sihir para Dewa, ia hanya bisa mengatakan yang sebenarnya. Saat itu, Nyonya juga harus menceritakan sepuluh rahasia lengkap."
He Yan terdiam, menduga peri ini adalah wanita gila yang senang mengorek rahasia orang lain.
"Bahkan Dewa pun punya peran," tatapan Xiao Jue beralih dingin pada Ling Xiu, "Kalau begitu, aku akan melakukannya."
"Ap...apa?" Ling Xiu tertegun.
He Yan juga tercengang.
"Tidak mengerti?" Tatapan pria itu setajam kilat, dan meskipun nadanya tenang, ekspresinya dingin, "Aku akan berperan sebagai pendengar."
He Yan hampir tersedak air liurnya. Maksud Xiao Jue adalah dia akan naik ke panggung untuk menari bersama. Apakah Xiao Jue sudah gila, atau dunia yang sudah gila? He Yan tidak mengerti. Jika ada orang di Kota Shuojing yang mendengar Tuan Muda Xiao akan melakukan hal seperti ini, tidak seorang pun akan percaya!
Chi Wu dan Fei Nu juga tidak percaya, mengira telinga mereka yang bermasalah dan mereka salah dengar.
Ling Xiu tidak menyangka Xiao Jue akan menawarkan diri untuk masalah ini dan tidak tahu harus menjawab apa. Namun, tatapan pria itu begitu dingin hingga membuatnya takut, membuatnya tanpa sadar bertanya, "Ke...kenapa?"
"Karena," kata Xiao Jue sambil tersenyum tipis, "bagaimana mungkin aku membiarkan orang lain tahu rahasia istriku?"
Hanya satu kalimat saja membuat Ling Xiu, yang beberapa saat lalu agak takut, memucat karena marah.
He Yan: "..."
He Yan hampir pingsan, merasa Xiao Jue yang sekarang benar-benar berbeda dari dirinya yang biasanya, aneh tidak dapat dipahami.
Xiao Jue mengabaikan ekspresi He Yan dan hanya bertanya pada Ling Xiu, "Topeng yang mana?"
Ling Xiu menunjuk sebuah topeng di tangan Yan Miner. Yan Miner agak takut pada Xiao Jue dan segera menyerahkan topeng itu. He Yan melirik Xiao Jue – topeng Dewa ini tidak terlalu istimewa, hanya setengah topeng hitam yang terbuat dari besi dengan pola awan di dahinya.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Xiao Jue.
Selir Wei memahami situasi, tersenyum dan berkata "Sebenarnya, tidak banyak aturan untuk menari di panggung upacara. Penduduk setempat tentu mengerti, tetapi bagi orang luar, selama hatimu tulus berdoa kepada Dewa Air, caramu menari hanyalah formalitas. Dewa Air sangat toleran dan tidak akan mempermasalahkan masalah kecil."
Xiao Jue: "Mengerti."
Xiao Jue melirik He Yan, melihat He Yan masih mencengkeram topengnya, Xiao Jue meraih pergelangan tangan He Yan sambil berkata: "Kemari."
Setelah berjalan beberapa langkah menuju panggung upacara, He Yan menoleh ke belakang dan melihat tatapan Ling Xiu dan Yan Miner tertuju padanya, aura permusuhan mereka tidak berkurang dari sebelumnya. He Yan bertanya, "Apa yang kau lakukan? Komandan, apa kau sudah gila?"
"Kau yang gila," kata Xiao Jue kesal. "Kenapa kau menyetujuinya?"
"Sudah kubilang, karena kita di sini, aku takut membuat Pejabat Cui tidak senang. Lagipula, hanya memakai topeng dan menari, tidak menghunus senjata atau kehilangan beberapa anggota tubuh, apa masalahnya?"
Xiao Jue berbalik menatap He Yan dan tertawa sinis: "Kalau soal aku, kenapa kau tidak begitu patuh?"
He Yan: "...Apa aku kurang patuh?"
Betapa menuntutnya Xiao Jue!
"Nanti dimasa depan, kalau kau tidak mau, kau bisa menolak," mata indah Xiao Jue menyipit. "Jangan sampai orang-orang berpikir kau mudah dibodohi, mengerikan untuk dilihat."
"Aku tidak bodoh."
"Kau memang bodoh." Xiao Jue menatap He Yan, bibirnya melengkung mengejek, "Kau suka menipu orang lain, apa kau sekarang menipu dirimu sendiri?"
He Yan tidak bisa bicara. He Yan tentu saja ingin membantah, tetapi samar-samar merasa kata-kata Xiao Jue benar.
Namun, dalam banyak situasi seperti ini, dimana dirinya mengorbankan perasaan dan pilihannya telah menjadi kebiasaan. Ada lebih banyak masalah yang lebih penting untuk dipertimbangkan. Dan tidak seorang pun pernah mengatakan kepadanya bahwa ia bisa menolak, bisa keras kepala, bisa merasa tidak senang.
Maka perlahan-lahan, perasaan-perasaan ini menghilang.
Melihat wajah He Yan yang lesu, Xiao Jue berhenti sejenak, lalu menepuk kepala He Yan dan berkata, "Cepat pakai topengnya." Sambil berbicara, Xiao Jue menempelkan topengnya ke wajahnya.
Topeng itu terbuat dari besi, dipoles sangat halus, tetapi tetap sangat berat. Xiao Jue menggunakan satu tangan untuk menempelkan topeng itu ke wajahnya, sementara tangan lainnya meraih ke belakang kepalanya untuk mengencangkan mekanisme topengnya, tetapi tidak berhasil. Melihat ini, He Yan menyingkirkan topeng "Li Huang"-nya dan berkata, "Biar kubantu."
He Yan berjalan di belakang Xiao Jue dan berkata, "Pegang topengnya dengan benar, aku akan memasangnya dari belakang."
Xiao Jue bertubuh tinggi, jadi He Yan harus berjinjit untuk mencapai mekanisme topeng yang digunakan Xiao Jue, sambil bekerja He Yan berkata, "Kau belum pernah pakai topeng sebelumnya? Bagaimana mungkin kau tidak bisa memakai sesuatu yang sesimpel ini?"
Xiao Jue mengejek, "Memangnya kau sering pakai topeng?"
He Yan terdiam sejenak, lalu tertawa, "hhmm, bahkan jika aku belum pernah makan babi, aku pernah melihat babi berlari." Setelah membantu Xiao Jue memakai topengnya, He Yan memasang topeng "Li Huang" di wajahnya.
Mereka berdua, yang satu mengenakan topeng yang membuatnya tampak misterius dan mulia, sementara yang lain terlihat licik dan lucu, tampak konyol bersama.
Xiao Jue menggandeng tangan He Yan dan mereka naik ke panggung upacara bersama. Petugas upacara mengangguk pelan kepada mereka dan mendorong mereka ke tengah panggung.
Di sekeliling mereka, orang-orang bertopeng bernyanyi dan menari. He Yan tidak mengerti dan bertanya pada Xiao Jue, "Komandan, bagaimana kita menari?"
Xiao Jue: "Entahlah."
He Yan mencoba meniru orang-orang di sekitar mereka untuk beberapa waktu, tetapi segera merasa terlalu sulit dan menyerah. He Yan menarik Xiao Jue ke sudut panggung agar mereka tidak terlihat dan berkata, "Lupakan saja, lupakan saja, jangan menari, ayo lakukan hal lain."
Meskipun ekspresi Xiao Jue tidak terlihat di balik topengnya, bisa dibayangkan wajahnya pasti penuh dengan ketidaksabaran saat ini.
"Komandan, jika kita hanya melakukan gerakan seperti ini, apakah Dewa Air akan marah?"
Xiao Jue berkata: "Takut?"
"Lebih baik mencegah daripada mengobati."
Xiao Jue merespon dengan sangat dingin: "Kalau begitu teruslah menari."
"Aku benar-benar tidak bisa menari lagi."
Setelah beberapa saat, He Yan berkata: "Komandan... tadi Nona Ling bilang Li Huang perlu memberi tahu sepuluh rahasia pada para Dewa. Karena kita sudah di sini, mari kita mainkan peran kita sampai akhir. Aku akan memberi tahu sepuluh rahasiaku. Itu sudah cukup, dan mungkin melihat betapa tulusnya kita, Dewa tidak akan keberatan jika kita tidak menari."
Xiao Jue tertawa malas: "Baiklah, katakan padaku."
Sepuluh rahasia dan semuanya harus jujur. Ini sungguh sulit.
He Yan mulai menghitung dengan jarinya.
"Dulu toleransi alkoholku baik, tapi sekarang makin buruk."
"Aku bisa menghafalkan Seni Perang karya Wu Zi."
"Aku yang paling hebat di Garda Liangzhou."
"Aku ingin bergabung dengan Kamp Sembilan Bendera."
"Aku melepas semua kancing baju Cheng Lisu untuk dijual."
Sudah lima. Mendengar ini, Xiao Jue terdiam dan hanya berkata: "Membosankan."
Namun He Yan merasa bersemangat dan terus memberitahu rahasianya.
"Komandan adalah orang yang sangat baik di hatiku, aku sangat berterima kasih padanya."
Xiao Jue tertawa dingin: "Aku tidak akan membiarkanmu bergabung dengan Kamp Sembilan Bendera."
"Setiap kali Komandan salah paham, aku merasa sangat sedih!"
Xiao Jue: "Teruslah berbohong."
"Komandan dan aku punya hubungan di kehidupan kami sebelumnya!"
Xiao Jue bahkan tidak melirik He Yan sedikit pun.
He Yan: "Di kehidupanku sebelumnya, aku adalah seorang jenderal wanita."
Ini bahkan lebih absurd.
Hanya satu rahasia yang tersisa.
He Yan mengangkat kepalanya untuk menatap orang di hadapannya. Wajahnya tertutup topeng namun ia menatap lurus ke arah He Yan, hanya rahangnya yang indah yang terlihat, garis-garisnya sangat elegan, bibirnya tipis dan memikat, melengkung malas, memperlihatkan dingin dan lembutnya pemuda itu.
Wajah He Yan juga tersembunyi di balik topeng, tersembunyi dalam bayangan, seolah saat ini malam hari, memberinya rasa aman yang tidak berujung.
"Rahasia terakhir," He Yan berjinjit, mencondongkan tubuhnya dekat ke arah dagu Xiao Jue, suaranya lembut, "Aku suka bulan."
"Bulan tidak tahu."
Komentar
Posting Komentar