Legend of the Female General-Bab 112 Kembali

Penonton di bawah tidak bisa melihat bagaimana He Yan dan Ba Zhu mendapatkan kemenangan mereka. Penonton hanya melihat keduanya saling bergulat, Ba Zhu memukul He Yan dengan telapak tangannya, dan He Yan menusuk leher Ba Zhu dengan senjata tersembunyi.

Meskipun bukan kemenangan yang didaptkan dengan cara terhormat karena menggunakan senjata tersembunyi, itu tetap sebuah kemenangan.

"Kakak He hebat!" Cheng Li Su yang pertama bersorak. "Pertarungan yang hebat! Pertarungan yang hebat!"

"Diam!" Song Tao Tao memarahi dari samping.

Cheng Li Su protes, "Apa salahnya menyemangati kakakku?"

"Belum waktunya untuk bersantai." Song Tao Tao menggelengkan kepalanya. Sebagai seorang gadis, ia lebih jeli daripada anak laki-laki dan menyadari bahwa wajah He Yan terlihat lebih pucat dari sebelumnya. Jantungnya berdebar kencang, menduga He Yan terluka. Namun, karena pakaian yang dikenakan He Yan berwarna hitam, ia tidak dapat memastikan di mana letak luka itu.

Di atas panggung, pemuda yang menggunakan pakaian berwarna hitam itu mengangkat dagunya dan tersenyum, lalu bertanya, "Tidak adakah orang lain yang cukup berani untuk naik?"

Ketika He Yan selasai berbicara, Ri Da Mu Zi tiba-tiba tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan. "Menarik, menarik! Aku tak pernah menyangka Garda Liangzhou punya orang semenarik ini!" Sebelum kata-katanya selesai, ia menunggang kudanya menuju panggung latihan.

Gerakannya begitu cepat sehingga orang-orang di sekitarnya terkejut. Beberapa rekrutan garda Liangzhou hampir terinjak kuku kudanya, dan untungnya, mereka ditarik oleh orang-orang di dekat mereka. Ri Da Mu Zi tiba-tiba menghentikan kudanya dengan kasar setelah selangkah lebih dekat dari panggung dan melompat, mendarat di hadapan He Yan.

"Komandan tidak berniat untuk ikut bertarung secara langsung kan?" tanya pemuda itu terkejut. "Aku hanya seorang rekrutan biasa, bagaimana mungkin aku pantas mendapatkan kehormatan seperti itu?"

"Kau mampu membunuh dua prajuritku, sama sekali tidak terlihat seperti rekrutan biasa," tawa Ri Da Mu Zi, tidak menunjukkan rasa kesal karena kehilangan jenderal-jenderal kesayangannya.

"Hanya sedang beruntung, tidak lebih."

"Tidak perlu terlalu rendah hati. Aku melihatmu bertarung melawan mereka berdua, kau benar-benar pantas disebut prajurit terbaik di Garda Liangzhou!" kata Ri Da Mu Zi, menatap kerumunan di bawah dengan senyum meremehkan. "Kulihat kau satu-satunya di sini yang pantas disebut pemberani dan cerdik. Namun..." nadanya berubah, "Aku ingin tahu berapa lama kau bisa bertahan dengan luka di pinggangmu itu?"

He Yan tetap diam.

Ri Da Mu Zi mengamati He Yan dengan penuh minat. "Ba Zhu adalah bawahanku yang paling terampil. Dia menyerang pinggangmu dua kali tadi, itu berarti kau punya luka lama di pinggangmu. Pertarungan terakhir tadi, ketika kau menusukkan senjata tersembunyi ke tenggorokannya, dia..." Ri Da Mu Zi berjalan ke sisi Ba Zhu dan menyenggol mayat itu dengan kakinya. Ba Zhu berguling terlentang. "Tangannya mengendur, tapi apa yang dia tusukkan ke pinggangmu? Pisau?"

Ri Da Mu Zi bertanya dengan nada pura-pura khawatir, "Astaga, pasti sangat sakit?"

"Tidak terlalu sesakit." He Yan tersenyum. "Tidak sesakit kondisi bawahanmu yang paling terampil."

Ri Da Mu Zi menatap He Yan sejenak, lalu tersenyum. "Bagus sekali. Aku suka orang yang memiliki tulang keras sepertimu—rasanya manis sekali saat diremukkan." Seperti yang dilakukan Ba Zhu pada Wa La sebelumnya, Ri Da Mu Zi menendang mayat Ba Zhu dari panggung sambil terkekeh, "Sampah tak berguna."

Lalu ia perlahan menghunus pedang melengkung dari pinggangnya.

Melihat ini, mata Shen Han menyipit marah. "Ri Da Mu Zi, sebagai seorang Komandan, bagaimana mungkin kau bisa bertarung melawan rekrutan baru Garda Liangzhou? Jika kau ingin menguji kemampuanmu, akulah lawanmu!"

"Kau?" Ri Da Mu Zi perlahan menggelengkan kepalanya. "Kau bahkan tidak sehebat dia. Aku menginginkannya – Rekrutan yang bernama He Yan ini."

"Kepala Instruktur Shen, biarkan aku yang bertarung melawan dia," kata He Yan.

Apa pun yang dikatakan He Yan dan Shen Han tidak penting – Ri Da Mu Zi sudah mengarahkan perhatiannya pada He Yan. Ini adalah situasi terburuk, tetapi sekaligus menguntungkan, karena akan memberi Garda Liangzhou lebih banyak waktu.

"Kau tidak ingin mengganti senjatamu?" Ri Da Mu Zi tersenyum. "Pedangku akan memotong cambukmu."

"Mungkin cambukku yang akan mematahkan pedangmu," jawab He Yan dengan senyum cerah, menggenggam cambuk itu dengan kedua tangan dan memegang cambuk itu di depan matanya.

Semua prajurit Qiang menggunakan pedang melengkung, namun masing-masing berbeda. Pedang milik Ri Da Mu Zi sangat besar dan panjang, tingginya setengah manusia. Permukaannya, yang sudah membunuh banyak orang, telah berubah warna menjadi merah tua. Begitu pedang itu dikeluarkan dari sarungnya, sinar matahari menyinari pedang itu memancarkan aura berdarah.

He Yan hanya bisa memilih cambuk. Selama bertahun-tahun melawan suku Qiang di kehidupan sebelumnya, ia selalu menggunakan pedang. Jika di sini ada orang yang pernah melihat "Jenderal Fei Hong" bertarung menggunakan pedang, mereka akan langsung menyadari bahwa teknik pedangnya sama dengan teknik pedang milik Jenderal Fei Hong. Menggunakan pedang melawan suku Qiang juga bukan keputusan yang terlalu bagus karena suku Qiang unggul dalam teknik pedang. Menggunakan pedang melawan Suku Qiang sama saja seperti menyerang kekuatan mereka dengan kelemahan, bukan ide yang bagus. Setelah He Yan mempertimbangkannya, cambuk besi tampaknya menjadi satu-satunya pilihan yang tepat.

Ri Da Mu Zi menerjang maju dengan pedangnya.

Gerak kakinya cepat, dan meskipun tubuhnya kekar, gerakannya sangat lincah. Ia juga cerdik, menjaga jarak tepat di luar jangkauan cambuk milik He Yan.

Ketika He Yan mencoba melilitkan cambuknya di pedang milik Ri Da Mu Zi, Ri Da Mu Zi menghindar dan membalas dengan tebasan ke cambuk besi itu. Meskipun cambuk itu tidak patah, suara "bang" yang keras itu sangat mencekam.

Jika terus seperti ini, siapa yang tahu berapa lama cambuk itu akan bertahan? Senjata-senjata yang ada di rak memang digunakan untuk latihan para prajurit—kokoh dan tahan lama saja sudah cukup. Namun, pedang milik Ri Da Mu Zi adalah harta karun, tidak bisa dibandingkan dengan senjata biasa.

Ri Da Mu Zi tertawa terbahak-bahak sambil mengayunkan pedangnya secara horizontal. Cambuk milik He Yan menangkap pedang itu tetapi tidak bisa menariknya—Ri Da Mu Zi terlalu kuat. Ia berkata, "Naif sekali!" dan menarik pedang itu ke arahnya, membuat tubuh He Yan dengan terpaksa terlempar ke arahnya.

"Kakak He, hati-hati!" Xiao Mai tak kuasa menahan teriakannya.

Saat He Yan terlempar ke arah Ri Da Mu Zi, terlihat seperti He Yan hendak bertabrakan dengan pedang lengkung itu, namun He Yan tiba-tiba tersenyum. Cambuk itu membentuk lengkungan yang anggun, menyelinap di tepi bawah pedang, dan mengenai wajah Ri Da Mu Zi. Sementara itu, He Yan memanfaatkan kesempatan itu untuk melayang di atas kepala Ri Da Mu Zi, berguling sekali di tanah sebelum akhirnya berhenti.

Kerumunan di bawah akhirnya menghela napas mereka yang sempat tertahan.

Ri Da Mu Zi perlahan menoleh kearah He Yan.

Wajahnya yang semula garang dan brutal, kini dipenuhi darah yang mengalir di pipinya karena cambukan He Yan, wajah Ri Ma Mu Zi kini terlihat semakin menakutkan. Ri Da Mu Zi tampak sama sekali tidak terpengaruh oleh darah di mukanya, dia dengan santai menyeka itu darah dan menjilati darah yang telah mencapai bibirnya. Ia menatap tajam ke arah He Yan dan berkata, "Kau cukup terampil."

Suaranya lembut, tetapi membuat semua orang merinding.

He Yan menjawab, "Aku juga merasakan hal yang sama."

Luka di pinggang milik He Yan terasa sakit setiap kali ia bergerak. Gerakan terakhir yang ia lakukan telah membuat pisau yang ada dipinggangnya semakin terdorong kedalam tubuhnya. Tapi ia tak bisa mencabut pisau itu sekarang – pertama, tak ada waktu dalam situasi ini, dan kedua, jika He Yan mencabut pisau itu, pendarahannya tidak akan berhenti, dan ia akan cepat kehilangan tenaga.

Namun kini, He Yan tak setenang seperti apa yang terlihat dipermukaan. Pisau yang ditusukkan Ba Zhu ke tubuhnya tidak panjang—melaikan pisau pendek dan halus, selebar jari, dan ditusukkan secara horizontal ketubuhnya. Meskipun tidak terkena organ vital, pisau itu tepat mengenai luka lama. Luka lama itu kini terbuka kembali, dan gerakan bertarung telah menyebabkan pisau itu menancap semakin dalam, seperti badan yang teriris saat masih sadar sepenuhnya.

He Yan menunduk, diam-diam menggigit bibirnya dengan cepat untuk memberikan warna pada bibir yang pucat itu, dan sekali lagi terlihat seperti pemuda yang bersemangat.

"Berapa lama lagi kau bisa bertahan?" tanya Ri Da Mu Zi tanpa khawatir, sambil tersenyum. "Keringatmu hampir mengering."

"Benarkah?" He Yan mengusap dahinya. "Pasti karena cuaca yang panas."

Ri Da Mu Zi perlahan mengangkat pedangnya, menyeringai ganas sambil menerjang ke depan. "Darahmu juga akan mengering!"

He Yan juga menyerbu kedepan untuk menyambut Ri Da Mu Zi.

Di bawah, para rekrutan Garda Liangzhou menyaksikan pertarungan itu sambil menahan napas. He Yan tidak menghadapi Ri Da Mu Zi semudah dua lawan sebelumnya. Ri Da Mu Zi licik dan kejam, dan sebagaimanapun terampilnya He Yan, ia hanya seorang pemuda yang baru berusia enam belas tahun.

Jiang Jiao bergumam, "Dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi."

"Mungkin terluka," Huang Xiong mengerutkan kening. "Kalau keadaan makin parah," ia menyentuh pedang emas di sampingnya, "kita akan maju bersama. Kita tidak bisa melihatnya mati sia-sia."

Wang Ba mengumpat, "Sialan! Bagaimana mungkin para instruktur ini hanya diam saja dan membiarkan anak kecil berkelahi? Apa mereka tidak malu?"

Shen Han berdiri di antara kerumunan, matanya terpaku pada sosok He Yan diatas panggung tangannya meremas sebuah kertas dan hampir meremukkan kertas itu. Di sampingnya, Liang Ping berbisik dengan cemas, "Kepala Instruktur, kita tidak bisa terus menunggu. Kita tidak bisa membiarkan orang-orang Qiang Barat ini mendominasi. Mungkin kita harus..."

"Jangan bertindak gegabah!" desis Shen Han. "Tunggu sedikit lagi."

Tunggu? Tunggu apa?

Di panggung, He Yan bertukar selusin jurus dengan Ri Da Mu Zi.

Gerakan He Yan tidak secepat sebelumnya, terlihat lebih lambat. Ia telah terkena beberapa tebasan pedang milik Ri Da Mu Zi di lengannya, hampir menghindarinya beberapa kali, tetapi masih terluka.

Namun senyum diwajah He Yan tak pernah pudar dari awal hingga akhir. Seolah-olah ini bukan pertarungan hidup-mati, melainkan hanya pertarungan yang biasa dilakukan para rekrutan di penggung latihan santai dan menyenangkan..

Hal ini membingungkan Ri Da Mu Zi.

Ri Da Mu Zi berkata, "Apakah semua orang Dataran Tengah pandai berpura-pura sepertimu?"

"Tidak banyak," suara He Yan bergetar menahan rasa sakit, tetapi ia tetap tersenyum. "Aku sangat pandai berpura-pura."

Senyum di wajah Ri Da Mu Zi sedikit memudar dari ketenangannya sebelumnya.

He Yan tidak berani menurunkan kewaspadaannya terhadap Ri Da Mu Zi.

Selama berperang melawan suku Qiang Barat dikehidupan sebelumnya, komandan mereka, Ri Da Mu Ji, adalah orang yang sangat brutal, pedang lengkung milik Ri Da Mu Ji telah merenggut banyak nyawa. Ke mana pun ia pergi, tulang-tulang akan berserakan. Aktivitas favorit Ri Da Mu Ji adalah memenggal kepala tawanan dengan pedang lengkung dan mengikat kepala mereka ke ekor kuda miliknya. Kepala-kepala itu berlumuran darah dan hancur menjadi mimpi buruk seumur hidup bagi banyak warga Dataran Tengah.

Pasukan Fuyue yang dipimpin oleh He Yan telah bertempur dalam banyak pertempuran sengit dengan pasukan suku Qiang dan jenderal mereka Ri Da Mu Ji. Dalam setiap pertempuran, He Yan dapat merasakan kelicikan dan kebrutalannya.

Dalam pertempuran terakhir, Ri Da Mu Ji tewas di tangan He Yan.

Semasa hidupnya, Ri Da Mu Ji gemar memenggal kepala orang lain, mungkin tak pernah membayangkan bahwa setelah mati, kepalanya akan dipenggal, dimasukkan ke dalam kotak bertahtakan permata, dan dibawa ke istana kekaisaran di ibu kota. Dipersembahkan di hadapan kaisar, kepala itu menjadi prestasi militer seorang jenderal, dan ditukar dengan imbalan yang besar.

Setelah kematian Ri Da Mu Ji, suku Qiang Barat kehilangan pemimpin mereka, dan pemberontakan segera dipadamkan. Kini, pria bernama Ri Da Mu Zi ini memiliki wajah yang identik dengan Ri Da Mu Ji.

He Yan telah menyaksikan Ri Da Mu Ji mengembuskan napas terakhirnya – Ri Da Mu Ji tidak mungkin hidup kembali. Terlebih lagi, mata Ri Da Mu Ji berwarna hijau tua, sementara mata Ri Da Mu Zi berwarna biru tua. He Yan ingat pernah mendengar bahwa Ri Da Mu Ji memiliki saudara kembar, yang secara alami memiliki kekuatan kasar dan dikenal karena kekejamannya. Namun, karena konflik dengan Ri Da Mu Ji mengenai posisi komandan, ia pergi, tanpa diketahui keberadaannya.

Kini tampaknya orang ini memang saudara kembar Ri Da Mu Ji, yang bernama Ri Da Mu Zi.

Ri Da Mu Zi mungkin mengetahui kematian saudaranya dan mengumpulkan sisa pasukan suku Qiang lalu memimpin pasukannya ke Garda Liangzhou. Ia juga licik, mengetahui dari mata-mata bahwa Xiao Jue saat ini tidak berada di Garda Liangzhou dan bahwa para rekrutannya tidak berpengalaman, membuat Ri Da Mu Zi cukup berani untuk bertindak begitu terang-terangan.

Namun, Ri Da Mu Zi bukanlah orang bodoh. Sekalipun bawahannya berani dan garang, seribu orang tidak akan mampu mengalahkan puluhan ribu prajurit elit Garda Liangzhou. Oleh karena itu, pasukannya pasti jauh lebih besar daripada yang terlihat. Ini adalah jebakan yang direncanakan dengan matang untuk melawan Garda Liangzhou. Dengan Gunung Bulan Putih di depan dan Sungai Lima Rusa di belakang, jika mereka memiliki pasukan, menyeberangi Gunung Bulan Putih di tengah salju yang begitu tebal mustahil unutk dilakukan. Oleh karena itu, rencana yang paling mungkin adalah menggunakan jalur air terdekat di malam hari, menyeberang melalui sungai.

He Yan belum pernah bertemu Ri Da Mu Zi sebelumnya, tetapi setelah berkali-kali bertemu dengan Ri Da Mu Ji, ia memahami betul metodenya. Ri Da Mu Ji senang membangun panggung pertempuran, berkata inign menguji kemampuan para prajurit namun menggunakan taktik-taktik licik. Para prajurit Dataran Tengah yang bertarung dengan terhormat biasanya terjerumus ke dalam rencananya, membuat mereka kehilangan semangat juang sebelum pertempuran yang sesungguhnya dimulai. Begitu ketakutan mereka terhadap orang-orang Qiang mengakar, kekalahan seringkali menyusul. Banyak komandan Wei Agung telah terjerumus ke dalam kelicikan yang dilakukan Ri Da Mu Ji.

Dalam peperangan, menjadi licik memang wajar, tetapi moral sangatlah penting. He Yan memahami dengan jelas bahwa meskipun Ri Da Mu Zi tidak terlalu dekat denagn saudaranya, metode mereka sama. Para rekrutan Garda Liangzhou pasti akan menghadapi pertempuran sengit dengan pasukan milik Ri Da Mu Zi hari ini. He Yan telah melakukan segala yang bisa ia lakukan, dan tugas terakhirnya adalah membangun semangat juang para pasukan garda Liangzhou daari panggung ini.

Dengan moral yang tinggi, mereka akan menunjukkan kekuatan mereka yang sebenarnya dalam pertempuran pertama mereka.

"Aku paling benci orang-orang Daratan Tenga yang suka berpura-pura." Ri Da Mu Zi akhirnya kehilangan kesabaran. Ia melirik ke kejauhan, seolah menunggu kabar, tetapi tak kunjung mendapat kabar, ia berbalik dan berkata, "Ayo kita akhiri ini dengan cepat!"

He Yan tersenyum, "Itulah yang kupikirkan."

He Yan mengulurkan tangannya kebawah mengencangkan ikat pinggang di atas lukanya, untuk mencegah terjadi pendarahan yang berlebihan, meskipun hal ini justru membuat lukanya semakin sakit dan tidak nyaman.

Melihat gerakannya, Ri Da Mu Zi tiba-tiba berkata, "Kau mengingatkanku pada seseorang."

He Yan bertanya, "Siapa?"

"Meskipun aku belum pernah bertemu dengannya, adikku yang malang pernah bercerita tentang seorang jenderal Dataran Tengah bernama He Ru Fei, yang bisa terus memimpin pertempuran bahkan setelah ditembak panah. Adikku akhirnya tewas di tangan He Ru Fei. Kau sangat mirip dengan orang itu."

Mendengar ini, He Yan tersenyum, "Kau salah. Aku bukan He Ru Fei, aku juga tidak seperti dia."

He Yan melirik kerumunan pasukan Liangzhou di bawah: "Tapi setiap putra Wei Agung sama sepertiku – selama kita belum mati, kita akan berjuang sampai akhir! Dataran Tengah akan memiliki ribuan Jenderal seperti Jenderal Fei Hong, tetapi Qiang Barat-mu," He Yan mendongak dengan nada mengejek, "berapa banyak yang bisa kau hasilkan?"

Setelah itu, He Yan mengayunkan cambuk besinya dan langsung menyerang Ri Da Mu Zi!

Ri Da Mu Zi mencibir, tak peduli. Dalam pandangannya, He Yan sudah terluka, luka lama dan luka baru – hanya pertarungan terakhir yang sia-sia dari kekuatan yang telah habis. Meskipun daya tahan He Yan mengejutkan, ia tak bisa bertahan lebih lama lagi.

Pedang lengkung dan cambuk besi saling melilit, menghasilkan suara benturan logam.

"Kakak He..." Xiao Mai memperhatikan dari bawah, hatinya berdebar kencang karena khawatir.

Gerakan He Yan semakin cepat.

Serangan cambuknya semakin cepat, melampaui gerakan pedang milik Ri Da Mu Zi. Meskipun pedang melengkung besar dan berat, gerakan Ri Da Mu Zi sudah sangat cepat untuk standar orang normal. Namun, gerakan Ri Da Mu Zi tidak bisa mengimbangi gerakan cambuk baja milik He Yan, cambuk baja itu menembus setiap celah dari pedang lengkung sebelum pedang itu bisa berayun, menghantam wajah Ri Da Mu Zi. Sebelumnya hanya ada satu bekas darah, tetapi sekarang beberapa bekas darah menghiasi wajahnya.

"Hanya ini yang bisa kau lakukan?!" Ri Da Mu Zi murka oleh cambukan beruntun diwajahnya itu, raut wajahnya berubah menjadi buas. Pedang lengkungnya langsung menancap ke leher He Yan, tetapi tubuh mungil He Yan dengan mudah menghindari serangannya.

"Kau sendiri tidak sehebat itu," pemuda itu bahkan punya tenaga untuk mengejek.

Apa yang terjadi? Ri Da Mu Zi semakin bingung – bagaimana mungkin gerakan He Yan semakin cepat seiring berjalannya waktu? Bukankah dia terluka? Bagaimana dia masih bisa bergerak begitu lincah, tanpa menunjukkan tanda-tanda cedera? Apakah dia hanya berpura-pura sebelumnya? Apakah anak muda ini tidak memiliki luka lama sama sekali?

He Yan menghindari ujung pedang, jari-jari kakinya menyentuh tanah lalu ia berputar ke belakang Ri Da Mu Zi.

Baju zirahnya tidak tertembus – cambuk mlik He Yan telah mengenai baju zirah itu beberapa kali, tetapi tidak meninggalkan bekas apa pun disana.

Jika begitu, seperti Ba Zhu dan Wa La, Ri Da Mu Zi hanya punya satu kelemahan.

Mata He Yan menyipit lalu ia menyerang dari belakang.

Ri Da Mu Zi berbalik dan menangkis cambuk besi milik He Yan dengan pedangnya, membuat He Yan terlempar. Namun, dalam sekejap mata, He Yan memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang balik.

Gaya bertarung ini tampak gegabah, penuh serangan tanpa pertahanan.

"Mungkinkah He Yan mencoba mati bersama lawan?" gumam Jiang Jiao.

Meskipun gerakannya terlihat putus asa bagi orang-orang yang menonton dari bawah, He Yan sebenarnya tidak dalam kesulitan yang begitu besar. Sebaliknya, Ri Da Mu Zi-lah yang telah beranjak dari kemenangan mutlak menjadi kekalahan telak.

Pemuda itu tampaknya mengetahui setiap jejak gerakan pedangnya, dia menghindari setiap serangan pedangnya di awal sambil dengan cepat mengidentifikasi dan mengeksploitasi kelemahan dalam teknik pedang miliknya, membuat Ri Da Mu Zi agak bingung.

Berapa usianya? Lima belas atau enam belas tahun? Mampu mengenali kelemahan seseorang dengan begitu cepat dan langsung melawannya – sungguh musuh yang menakutkan. Dan jika, seperti kata pemuda ini, Dataran Tengah memiliki banyak orang seperti dia, bagaimana dengan Qiang Barat? Berapa banyak orang hebat seperti itu yang bisa Qiang Barat hasilkan? Tidak ada – tidak satu pun.

Untuk sesaat, Ri Da Mu Zi merasa ingin mundur.

Harga dirinya telah runtuh.

Namun, dalam hal ini, Ri Da Mu Zi telah salah menilai He Yan. Sehebat apa pun He Yan, ia tidak bisa menilai pola serangan lawan hanya setelah beberapa kali bertukar serangan, terutama lawan seperti Ri Da Mu Zi. He Yan bisa mengetahui pola seranagn Ri Da Mu Zi, karena hubungan darahnya dengan Ri Da Mu Ji dan karena saudara kembar itu memiliki guru yang sama, sehingga teknik pedang milik Ri Da Mu Zi identik dengan teknik pedang milik Ri Da Mu Ji.

Di kehidupan sebelumnya, He Yan telah bertarung berkali-kali melawan Ri Da Mu Ji, mengenalnya luar dalam, dan hafal gerakan-gerakannya. Pengetahuan itu kini membantunya melawan Ri Da Mu Zi. Rasa takut yang diperlihatkan Ri Da Mu Zi justru menguntungkan He Yan.

He Yan hanya menggunakan metode milik Ri Da Mu Ji untuk melawan Ri Da Mu Zi.

Mereka terbiasa menghancurkan Harga diri orang lain untuk meningkatkan Harga diri mereka sendiri. Kini mereka akhirnya merasakan sendiri rasa putus asa – inilah kesempatannya.

Cambuk milik He Yan bergerak semakin cepat, begitu cepat sehingga orang-orang yang melihatnya hampir tak bisa mengikuti gerakan cambuk itu. Bagi Ri Da Mu Zi, cambuk besi itu tampak seperti ular hidup, melingkar dan menari di hadapannya, bayangan cambuk itu berkelap-kelip didepannya. Pedangnya melesat menebas udara kosong sementara sebuah cambuk menghantam dahinya – cambuk yang sebenarnya ada di sana.

Ri Da Mu Zi menebas He Yan dengan ganas, tetapi pemuda itu sudah berputar ke belakangnya. Teknik ini pernah digunakan sebelumnya saat berhadapan dengan Wa La. Hati Ri Da Mu Zi mencelos, melihat cambuk besi menari-nari di depan matanya seperti rantai berat yang kini siap melilit lehernya.

Lalu, dengan sekali tarikan, tenggorokannya akan remuk, dan ia akan mati seperti Wa La.

Di saat genting itu, Ri Da Mu Zi berteriak, "Ke Mu Zhi—"

Sepertinya ini nama salah satu bawahannya. Detik berikutnya, teriakan seorang wanita terdengar di udara – itu Song Tao Tao, yang dilempar ke atas panggung oleh seorang prajurit Qiang.

Prajurit Qiang itu tegap, sementara Song Tao Tao hanyalah seorang gadis muda yang ramping. Tiba-tiba dilempar seperti muatan, jika Song Taotao jatuh, ia akan terluka parah atau bahkan terbunuh.

Tak seorang pun di bawah sana yang bisa menangkap Song Taotao tepat waktu.

Cambuk di tangan He Yan menjauh dari leher Ri Da Mu Zi, melesat ke arah Song Tao Tao saat Song Taotao terlempar ke arah itu.

Cambuk besi itu melilit tubuh Song Tao Tao lalu He Yan terbang mendekat, menangkap Song Taotao dalam pelukannya. Mereka berdua jatuh terbanting ke tanah bersama-sama, He Yan melindungi tubuh Song Tao Tao. Benturan itu semakin memperdalam luka di pinggangnya, dan ia tak kuasa menahan desisan tajam kesakitan.

"Kakak, awas!" teriakan Cheng Li Su tiba-tiba terdengar.

"He Yan!"

"Kakak He!"

Suara-suara cemas datang dari segala arah. Suara Liang Ping terdengar sangat melengking. He Yan menoleh dan melihat kilatan cahaya pedang melesat ke arahnya.

Saat ia menangkap Song Tao Tao, punggungnya terekspos. Pedang lengkung milik Ri Da Mu Zi mengarah kearahnya dengan ganas, hampir membelahnya menjadi dua.

He Yan mendorong Song Tao Tao menjauh dan menutup matanya siap mati.

"Mati!"

"Bang—"

Tidak ada rasa sakit, tidak ada darah yang menyembur. Sesuatu telah menjatuhkan pedang melengkung itu, dan seseorang tampaknya berdiri di depannya.

He Yan perlahan membuka matanya.

Sosok familiar berjubah biru tua berhiaskan ular berulir perak berdiri di hadapannya, tegak bak pohon pinus, ketenangannya menenangkan. Pedang panjang di tangannya masih terbungkus sarung, sebening kristal es dan salju, memancarkan cahaya terang.

Pedang Yinqiu yang ramping dan tipis ini telah menangkis tebasan pedang melengkung.

"Komandan... Komandan! Itu Komandan!" Kerumunan di bawah tertegun sejenak sebelum meledak.

"Komandan kembali!"

"Paman!"

Xiao Jue... sudah kembali?

He Yan menoleh, pandangannya mulai kabur.

Xiao Jue menariknya dari tanah. He Yan tak berdaya dan terkulai lemas bersandar pada Xiao Jue. Xiao Jue menopang pinggang milik He Yan, seolah menyadari sesuatu, lalu melihat kebawah.

Pemuda berjubah hitam ini hanya terlihat lemah, namun tidak terlukan, tetapi ketika tangan Xiao Jue menyentuh pinggang He Yan, pinggang itu terasa basah.

Tangannya berlumuran darah.

Ekspresi Xiao Jue sedikit berubah lalu ia perlahan menatap Ri Da Mu Zi, namun kata-katanya ditujukan kepada He Yan, dengan sarkasme khasnya: "Mengapa setiap kali aku bertemu denganmu, kau selalu membuat dirimu terlihat menyedihkan seperti ini?"

"..."

He Yan tersenyum tipis dan berkata dengan lembut, "Mungkin karena aku selalu tahu kau akan datang untuk menyelamatkanku."

Disclaimer: Terjemahan ini dilakukan secara sukarela untuk tujuan berbagi hobi dan apresiasi karya. Seluruh hak cipta, termasuk karakter, alur cerita, dan judul adalah milik penuh penulis asli dan penerbit. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas konten ini. Jika Anda menyukai ceritanya, dukung penulis aslinya melalui platform resmi.

Komentar