Legend of the Female General-Bab 111 Berikutnya
Di atas panggung yang sedang terjadi pertarungan, Pedang Naga Air milik Wei Huan terkunci melawan kapak batu milik Wala.
Wei Han adalah rekrutan muda sederhana dari Garda Depan Dataran Tengah, sementara Wala adalah veteran di medan perang yang sangat brutal dan ganas dari Qiang Barat. Meskipun teknik pedang Wei Huan luar biasa, ia kurang berpengalaman dalam pertarungan sungguhan. Terlebih lagi, lawannya adalah seorang prajurit yang mampu mengangkat ribuan jin (1 jin sama dengan 500 gram).
Dibandingkan dengan Wei Huan yang lincah, kapak batu milik Wala sangat besar dan berat. Serangannya tidak menggunakan teknik, hanya tebasan brutal. Kapak itu tampak lamban, tetapi dengan kekuatannya yang luar biasa, ketika Wei Huan menghindar, kapak itu akan menghantam tanah dan bahkan menghancurkan lantai batu.
Stamina Wei Huan perlahan-lahan menurun.
Bagaimanapun Wei Huan masih muda, dan tidak sekuat Wala. Wei Huan tidak sanggup menahan tebasan yang sangat brutal seperti itu terlalu lama. Selain meninggalkan satu luka di wajah Wala, Wei Juan bahkan tak mampu mendekati tubuh lawannya—lagipula, wala mengenakan baju zirah!
Pertarungan ini memang tidak adil sejak awal. Luka Wei Huan semakin parah, tetapi Wala tidak ingin langsung membunuhnya. Setiap kali ia bisa melancarkan serangan fatal, ia akan bergeser sedikit, menghindari titik vital tetapi meninggalkan Wei Huan penuh dengan luka.
Rasanya seperti kucing yang sedang bermain dengan tikus, tidak langsung memakannya setelah ditangkap, melainkan mempermainkannya sampai tikus itu benar-benar kelelahan sebelum menelannya.
Ini hanyalah siksaan sepihak.
Shen Han menyaksikan pertarungan itu dari bawah panggung, tinjunya mengepal hingga berderak. Ia hendak maju, tetapi dihalangi oleh Ri Damu Zi.
Pria berotot bagaikan burung nasar itu bersandar di kudanya, senyumnya haus darah. "Instruktur, Kau tidak bisa membantu."
Shen Han menghunus pedangnya.
"Apa? Kau ingin bertarung denganku juga?" Ri Damu Zi tersenyum, tatapannya sinis. "Baiklah, aku akan dengan senang hati melayani mu."
Di sekitar panggung, para prajurit Qiang sengaja berkumpul. Jika ada rekrutan dari Garda Liangzhou yang mencoba membantu, orang-orang Qiang akan menyerang mereka, membuat bantuan apapun akan lambat.
Di atas panggung, pandangan Wei Huan perlahan memudar, gerakannya menghindar semakin lambat. Tenaganya terkuras dengan cepat dan ia terengah-engah. Tak mampu menghindar serangan tepat waktu, kapak Wala mengenai kaki kanannya. Rasa sakitnya luar biasa, tetapi entah bagaimana ia berhasil menahan tangisnya.
Wala berjalan ke depannya. Wei Huan tak punya tenaga lagi untuk menghindar. Ia memperhatikan Wala yang menatapnya seperti tukang daging yang sedang memeriksa domba di talenan. Wala berkata, "Ciihh, cepat sekali selesai? Membosankan. Orang-orang Dataran Tengah begitu lemah, bahkan tak sebanding dengan satu jari pun orang Qiang."
Wei Huan tetap diam, tetesan keringat bercampur darah bercucuran di wajahnya, memperlihatkan pemandangan yang menyedihkan.
"Jangan khawatir, tidak akan sakit," Wala menjilat bibirnya, matanya menatap Wei Huan dengan rakus. "Saat kapak batu ini diturunkan, otakmu akan terbang keluar dengan indah. Sayang sekali kau tidak akan bisa melihatnya sendiri."
Setelah itu, ia mengayunkan kapak besar itu, langsung mengincar kepala Wei Huan!
"Wei Huan!" teriak Ma Dame tanpa sadar. Sebelum Wei Huan bergabung dengan Kamp Garda Depan, ia berada di bawah komando Ma Dame, dan ikatan mereka begitu erat. Ma Dame mencoba menerjang maju untuk menyelamatkan Wei Huan, tetapi dihalangi oleh pedang seorang prajurit Qiang. Nyawa Wei Huan akan segera berakhir.
Saat itu.
Di belakang panggung yang sedang terjadi pertarungan berdiri pohon beringin yang rimbun, meskipun saat ini sedang musim dingin, pohon itu tidak menunjukkan tanda-tanda layu. Karena semua orang fokus ke panggung, tak seorang pun menyadari ada seseorang yang telah duduk di atas pohon itu.
Saat mereka akhirnya menyadari ada orang diatas pohon beringin yang rimbun, orang itu melesat bagai sambaran petir hitam, berayun di atas kain yang diikatkan ke pohon bak ayunan. Orang itu melepaskan cengkeramannya saat masih berada di udara—semuanya terjadi begitu cepat—Orang itu terbang menuju panggung dan menendang kapak yang hendak membelah kepala Wei Huan—
Memanfaatkan momentum tersebut, meskipun Wala kuat, tendangan orang itu mampu membuatnya terhuyung mundur. Kapak yang berat dan tajam itu malah melukai tuannya sendiri. Namun karena tenaganya luar biasa itu memungkinkan Wala untuk menyeimbangkan dirinya setelah dua langkah mundur, jika tidak kapak batu itu mungkin akan mengiris dirinya lebih dalam lagi.
"He Yan?" gumam Wei Huan.
Para rekrutan Garda Liangzhou juga tercengang.
Semua orang tahu He Yan telah dipenjarakan di penjara bawah tanah Garda Liangzhou karena insiden Gunung Bulan Putih. Bagaimana dia tiba-tiba muncul di sini? Apakah dia sudah dibebaskan?
Wala menatap orang di hadapannya.
Pemuda berpakaian hitam itu berdiri dengan tangan di pinggul, memiringkan kepala sambil tersenyum, "Tuan, Kau terlalu galak. Jika Aku tidak turun tangan tadi, kepala saudaraku pasti sudah hilang."
Para rekrutan Garda Liangzhou memandang orang Qiang bagai duri dalam daging, dan setelah pembantaian semua penjaga, terjadilah pertumpahan darah. Mereka semua menatap keatas panggung dengan mata memerah—reaksi terbaik adalah wajah Wei Huan yang tanpa ekspresi. Namun pemuda didepannya ini tersenyum seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Wala mendapati dirinya tertarik seakan telah menemukan mangsa baru.
"Siapa kau?" tanyanya.
Pemuda berpakaian hitam itu menyibakkan rambutnya yang berantakan, tersenyum, "Aku He Yan, baru-baru ini meraih peringkat pertama dalam kompetisi bendera Garda Liangzhou." Ia melirik Wala. "Mungkin kau tidak tahu apa arti kompetisi bendera. Tidak masalah, ingat saja bahwa akulah prajurit nomor satu di Garda Liangzhou."
"Nomor satu?" Ri Damu Zi di bawah panggung menyipitkan mata padanya, berkata, "Kau?"
He Yan terlihat terlalu kecil dan rapuh. Jika Wala dan Wei Huan berdiri bersama, mereka terlihat bagaikan harimau dan domba yang kuat, maka He Yan, yang bahkan terlihat lebih lemah daripada Wei Huan, jika dibandingkan dengan Wala makan He Yan terlihat seperti anak ayam di samping elang.
"Maaf, Aku agak terlambat. Bolehkah Aku bertanya apa yang sedang Kau lakukan?" Pemuda itu berbicara dengan senyum ramah. "Kalau kau sedang mengadakan kompetisi bela diri, sayang sekali kalau tidak mencariku."
Wala tertawa terbahak-bahak: "Kau benar-benar lancang!"
"He Yan!" teriak Shen Han.
"Kepala Instruktur Shen," He Yan menatapnya, "Aku telah menahan frustrasi beberapa hari terakhir ini tanpa ada tempat untuk melampiaskannya. Bertarung akan membantuku melepaskan sedikit amarah. Tolong kepala Instruktur, jangan hentikan aku lagi."
Shen Han tidak bisa berkata apa-apa.
Ri Damu Zi datang untuk bertarung melawan para rekrutan Garda Liangzhou. Oleh karena itu ia tidak mengizinkan para instruktur bertarung, hanya rekrutan yang boleh berpartisipasi. Di antara para rekrutan, selain He Yan, tidak banyak yang bisa melawannya. Mereka yang memiliki keterampilan luar biasa kurang berpengalaman dalam pertarungan yang sesungguhnya, sementara mereka yang berpengalaman kini sudah lebih tua dan tidak bisa menandingi stamina anak muda. He Yan memiliki keterampilan bela diri yang luar biasa dan cerdas serta cerdik, memberinya peluang besar untuk menang.
Menarik perhatian ke sisi panggung dibagian ini memang bagus, tetapi yang lebih penting...
He Yan bertanya, "Bolehkah aku bertanya apakah ini pertandingan sparring? Jika ya, bolehkah aku menggantikan saudaraku di sini?"
"Kau?"
"Iya. Akulah orang nomor satu Garda Liangzhou. Mengalahkanku akan jauh lebih memuaskan daripada mengalahkannya," He Yan melirik Wei Huan yang terduduk di tanah. "Bagaimana menurutmu?"
Orang-orang Qiang di bawah tertawa terbahak-bahak.
Ri Damu Zi menatapnya: "Aku suka sikap orang ini! Biarkan dia bertarung!"
He Yan berkata, "Tolong bawa saudara ini pergi."
Saat Wei Huan digendong, ia menatap He Yan dan berkata dengan lembut, "Kau... hati-hati."
He Yan: "Aku tahu."
Di panggung, hanya tersisa dua orang.
Di bawah, para rekrutan yang menonton, semuanya mengkhawatirkan He Yan.
Selama setengah tahun terakhir, He Yan telah pamer di panggung ini lebih dari sekali atau dua kali. Beberapa orang sungguh-sungguh mengagumi dan memujanya, sementara yang lain iri dan tidak menyukainya. Namun saat ini, para rekrutan Garda Liangzhou bersatu dalam kebencian mereka terhadap musuh, berharap He Yan dapat mengalahkan Wala dan menunjukkan kepada orang-orang Qiang siapa mereka sebenarnya, memberi tahu mereka bahwa Garda Liangzhou tidak boleh diganggu!
Sementara para rekrutan di bawah cemas, He Yan di atas panggung tetap tenang. Ia tersenyum dan berkata, "Ngomong-ngomong, aku tidak tahu apa taruhannya di sini. Biar kuberi saran: jika aku kalah, kalian boleh melakukan apa saja padaku, tapi jika kalian kalah," ia teringat Xiao Jue dalam ingatannya dan terkekeh nakal, "kalian harus memanggilku ayah."
Mendengar ini, para rekrutan Garda Liangzhou tertawa terbahak-bahak.
Liang Ping merasa khawatir sekaligus bangga: "Masih bercanda di saat seperti ini!"
Tak satu pun anak buah Ri Damu Zi bisa tertawa. Wala memelototi He Yan dengan tajam, menyeka darah dari bibirnya, dan berkata, "Kita tak butuh taruhan. Setelah tiga ronde, yang kalah mati, dan yang menang hidup. Itulah aturannya."
"Bertarung sampai mati?" tanya He Yan.
"Kenapa, Kau takut?"
"Tidak juga." He Yan berkata: "Instruktur, lemparkan aku cambuk baja, yang panjang!"
Shen Han mengambil cambuk baja yang paling panjang dari atas rak senjata dan melemparkannya. He Yan menangkapnya dengan mulus, memainkannya di tangannya sambil menatap Wala: "Bolehkah aku menggunakan senjata?"
"Tentu." Wala mencibir: "Tapi kau yakin tidak ingin beralih ke pedang? Cambuk tidak bisa membunuh."
Bibir pemuda itu sedikit melengkung: "Cukup untuk membunuhmu."
Sebelum Wala sempat mencerna makna kata-katanya, ia melihat He Yan tiba-tiba menyerbu ke depan sambil membawa cambuk. Wala terkejut, lalu tertawa terbahak-bahak, mengayunkan kapak raksasanya untuk menghadapi serangan itu.
He yan menerjang mendekat tetapi tidak menyerang, hanya menghindari serangan kapak lalu berputar ke punggung Wala. Ketika Wala berbalik dan mengayunkan kapaknya, He Yan hanya menghindar lagi.
He Yan tampak menyerang tetapi tidak pernah menyerang, cambuk itu melingkar di tangannya dan tidak melakukan apa pun, seolah hanya mengitari Wala. Dalam sekejap, He Yan berbalik dan berlari, Wala mengikutinya. Begitu Wala mengangkat kakinya, ia merasakan sesuatu melilitnya, Wala kehilangan keseimbangan dan terjatuh kesamping.
Namun raksasa ini bereaksi sangat cepat. Menyadari kakinya terlilit cambuk milik He Yan, ia mencoba menyeimbangkan diri, tetapi He Yan tidak memberinya kesempatan. He Yan meletakkan cambuk di belakang punggungnya seperti membawa muatan, dan menarik cambuk itu dengan kuat—
Wala tak mampu lagi menjaga keseimbangannya. Tubuhnya yang besar dan berat berdiri kokoh dengan dua kaki, tetapi karena satu kaki kehilangan keseimbangan, kaki lainnya kesulitan untuk tetap stabil. Dengan He Yan menarik ujung kakinya, ia jatuh ke tanah dengan bunyi "gedebuk".
Panjang cambuk itu terlihat hanya seukuran tinggi manusia, namun entah bagaimana He Yan berhasil menarik cambuk itu dari bawah Wala, dan dengan mudah kembali ke tangannya. Tanpa henti, He Yan bergegas menghampiri Wala, satu tangan melingkari lehernya, dan cambuk itu melingkari tenggorokannya.
Wala secara naluriah mencoba menarik cambuk itu.
He Yan mengencangkan kedua tangannya—
Latihan hariannya melempar kunci batu telah membangun kekuatan lengan yang luar biasa. Prajurit aneh ini mengenakan baju zirah, tetapi lehernya tidak terlindungi. Daging biasa adalah titik paling rentan, karena tubuh prajurit ini tidak terbuat dari baja dan besi.
Semua orang di lapangan mendengar suara "krak—" yang menusuk tulang.
Kepala Wala terkulai lemas.
"Kau bukan manusia, kau binatang buas," kata He Yan lembut. "Itulah mengapa cambuk saja sudah cukup untuk membunuhmu."
He Yan mengangkat kepalanya lagi, dan meskipun tersenyum, matanya memancarkan hawa dingin yang menusuk, lalu He Yan berbicara pada penonton di bawah dengan tenang, "Dia sudah mati. Aku menang. Pertandingan sudah selesai. Berikutnya."
Di panggung, situasi tiba-tiba berbalik.
Sebelumnya, ketika Wala menyiksa Wei Huan seperti kucing yang bermain dengan tikus, menunda serangan terakhir untuk membunuh Wei Huan, ia mungkin tak pernah menyangka akan mati di tangan pemuda yang terlihat rapuh ini.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membunuh seseorang? Secangkir teh, sebatang dupa, atau seperempat jam?
Tidak satu pun.
Para rekrutan baru Garda Liangzhou tahu He Yan sangat tangguh—adegan pertandingan sebelumnya dengan Huang Xiong Jiao masih segar dalam ingatan mereka. Namun, He Yan kini tampak berbeda dari yang pernah "bertarung" di atas panggung sebelumnya. Ketika He Yan menyingkirkan sikap main-mainnya, He Yan menjadi dingin dan beku, membawa aura pembunuh yang kuat membuat tidak seorang pun berani menatapnya langsung.
Ia tersenyum dan berkata, "Medan perang tidak butuh pertunjukan yang megah. Setelah kau tahu cara membunuh, kau bisa bisa langsung membunuh." Tatapannya jatuh pada Ri Damu Zi.
Ri Damu Zi balas menatapnya.
Perlahan, para rekrutan Liangzhou di bawah mulai bereaksi, berteriak penuh semangat, "He Yan menang! He Yan membunuh Wala!"
"Kakak He luar biasa!" Bahkan saat sedang di sandera, Cheng Li Su tak kuasa menahan diri untuk bersorak mendukung He Yan, "Kalahkan mereka sampai babak belur!"
Liang Ping dan Ma Dame bertukar pandang—kecepatan membunuh He Yan luar biasa cepat, bahkan untuk seorang jenius alami.
"Kalian semua," He Yan berdiri di panggung tinggi, tersenyum kepada orang-orang Qiang, "bukankah kalian pecundang sejati? Siapa selanjutnya?"
Di antara orang-orang Qiang, tak seorang pun berbicara untuk saat ini.
He Yan tersenyum lagi, senyumnya membawa sedikit provokasi, "Aku mengerti, mempertaruhkan nyawa memang agak menakutkan. Siapa sangka para prajurit Qiang yang berani dan suka bicara besar akan mengalami saat-saat di mana mereka tidak berani naik ke panggung? Tapi tak apa—kami, orang-orang Dataran Tengah dari Wei Agung, selalu baik hati. Jika kau tidak ingin melanjutkan pertarungan ini, akui saja kekalahanmu. Seperti yang kukatakan sebelumnya, panggil aku ayah, dan pertarungan ini akan berakhir. Bagaimana?"
"Tapi siapa yang akan memanggilku ayah?" He Yan menatap Ri Damu Zi: "Kau pemimpin mereka, kenapa tidak kau saja yang memanggil ku Ayah?"
"Keterlaluan!" Seorang prajurit di belakang Ri Damu Zi melangkah maju dengan marah.
He Yan tidak menunjukkan rasa takut, berbicara dengan polos: "tidak bisa memanggil ku Ayah?"
Wang Ba berbisik, "Sungguh memuaskan!"
"Dia sengaja memprovokasi lawan," kata Huang Xiong dengan serius. "Tapi dalam situasi saat ini, sepertinya tidak perlu memprovokasi lawan."
He Yan selalu sombong dan percaya diri seperti ini. Dulu, orang lain menganggapnya sebagai sifat anak muda yang masih suka pamer, tetapi sekarang, dalam situasi ini, memprovokasi Ri Damu Zi bukanlah tindakan yang bijaksana.
"Aku akan melawanmu." Sebuah suara datang dari belakang Ri Damu Zi. "Komandan, Ba Zhu bersedia bertarung."
Ri Damu Zi meliriknya, tanpa menunjukkan emosi, dan hanya berkata: "Maju."
Pria yang bernama Ba Zhu itu, naik ke atas panggung.
Berbeda dengan Wala, meskipun Ba Zhu tegap, ia tidak sebesar Wala. Ia juga lebih tua dari Wala, sekitar tiga puluhan. Seluruh tubuhnya terbungkus jubah hitam, kepalanya tersembunyi di balik tudung, hanya memperlihatkan separuh dagunya, wajahnya nyaris tak terlihat, membuatnya tampak pucat dan aneh, seperti hantu. Suaranya juga serak, seolah terbakar api, tidak enak didengar seperti kicauan gagak.
Ba Zhu berjalan ke sisi Wala dan, meskipun mereka adalah rekan, ia tidak menunjukkan simpati. Ia menendang mayat Wala dari panggung tinggi sambil mengumpat, "Benda ini menghalangi jalan."
Saat mayat Wala berguling turun, ia bahkan tidak meliriknya, hanya berkata kepada He Yan: "Kau punya luka lama."
Hati He Yan mencelos—Ba Zhu ini pasti lebih merepotkan daripada Wala.
Wala hanyalah seorang pria brutal dengan kekuatan alami, namun tidak meiliki teknik yang bagua. Berurusan dengan orang seperti Wala hanya membutuhkan identifikasi dan eksploitasi kelemahannya untuk mengakhiri pertarungan dengan cepat. Dalam pertempuran apa pun, lawan yang paling menakutkan adalah mereka yang memiliki otak, seperti yang ada di hadapannya sekarang. Ba Zhu bisa melihat kelemahan lawannya, yang akan memengaruhi setiap gerakan serangan selanjutnya.
B Zhu perlahan mengangkat pisaunya. He Yan melingkarkan cambuk besi di tangannya dan menerjang ke arah Ba Zhu.
Ketika Wei Huan dan Wala bertarung, He Yan hanya menjadi penonton, oleh sebab itu ia dapat melihat kelemahan dan kekurangan Wala, sehingga mampu menghadapinya dengan cepat dan tepat. Namun kali ini, Ba Zhu adalah seseorang yang belum pernah dilihatnya sebelumnya, sementara saat bertarung dengan Wala, Ba Zhu justru telah mengamatinya.
Dengan kata lain, Ba Zhu memahami He Yan, tetapi He Yan tidak tahu apa-apa tentang Ba Zhu.
Di balik jubahnya, Ba Zhu tampak menyembunyikan banyak hal lain. He Yan harus tetap berhati-hati. Pria ini juga sangat licik, menghindari berhadapan dengan He Yan. Belajar dari kasus Wala, Ba Zhu menjaga jarak. Setiap kali cambuk itu mengenainya, Ba Zhu akan segera mengubah arah. Tubuhnya jauh lebih lincah daripada Wala, dan untuk saat ini, cambuk besi itu tidak bisa mendekat.
Pinggang He Yan mulai terasa sakit.
Sebelumnya di Kota Liangzhou, ia terluka saat bertarung dengan Ding Yi. Kemudian, ia ditipu untuk pergi ke Gunung Bulan Putih dan bertarung dengan seseorang yang bersembunyi di balik bayangan. Beberapa kali, lukanya yang hampir sembuh kembali kambuh. Bukan itu saja—ia kemudian dijebloskan ke penjara bawah tanah Garda Liangzhou. Tidak seperti Shen Mu Xue akan membawakan obat setiap hari, kondisi dingin dan lembap kemungkinan memperburuk lukanya.
Kekuatan yang digunakan untuk membunuh Wala sebelumnya telah memperparah lukanya. Meskipun sempat tertahan, kini setelah bertarung melawan Ba Zhu dalam waktu yang lama, rasa sakitnya semakin menusuk tulang.
Ba Zhu tertawa, "Kenapa kau terlihat kurang sehat? Apa karena luka lamamu kambuh?"
He Yan terkejut. Pedang lengkung Ba Zhu telah melilit cambuk besinya, menariknya ke depan. Kerumunan di bawah terkesiap saat Ba Zhu, dengan pedangnya yang terlilit, tanpa ragu menyerang luka lama He Yan dengan tangannya yang bebas.
He Yan menerima pukulan itu, tetapi tidak berhenti bergerak. Ia melepaskan cambuknya, yang mengenai wajah Ba Zhu. Meskipun Ba Zhu mengelak, cambuk itu merobek tudungnya dan memperlihatkan wajahnya.
Keduanya mundur dan berdiri tegap.
Pukulan telapak tangan itu tepat mengenai luka lamanya. He Yan nyaris tak mampu menelan darah di tenggorokannya namun masih tersenyum tipis sambil menatap lawannya dan mengejek, "Ciss, jelek sekali."
Tanpa tudungnya, wajah asli Ba Zhu terungkap. Separuh wajahnya baik-baik saja, bahkan tampan, tetapi separuhnya lagi terbakar, dipenuhi bekas luka merah tua seperti kelabang yang tumbuh di wajahnya, mengubah wajah yang tampan menjadi mengerikan.
Seseorang di bawah berteriak ketakutan.
Tudungnya terlepas dan wajah aslinya terekspos, ekspresi Ba Zhu berubah menjadi sangat buruk, tatapannya tertuju pada He Yan seolah ingin memakan dagingnya dan meminum darahnya.
He Yan tersenyum, memberi isyarat dengan jarinya: "Ayo!"
Ba Zhu tersenyum dingin dan menyerang.
Begitu He Yan bergerak, ia tahu ada yang tidak beres. Serangan telapak tangan milik Ba Zhu sebelumnya dilakukan dengan keras dan tanpa ragu-ragu sehingga kini darah dari lukanya merembes keluar. Untungnya, ia telah berganti pakaian hitam milik Lei Hou untuk menghangatkan diri saat ia datang, jadi meskipun ia berdarah, darahnya tak terlihat. Namun, ia tak tahu berapa lama lagi ia bisa bertahan seperti ini.
Sebenarnya, sparring di panggung ini bukanlah tujuan utamanya. Tujuan utamanya adalah memanfaatkan tiga pertandingan ini untuk mengulur waktu. Jika tak seorang pun mampu menahan tebasan pedang lengkung suku Qiang, maka kedepannya tidak akan ada kesempatan untuk menang.
Ia harus membunuh Ba Zhu agar ada ronde ketiga.
Suku Qiang terampil menggunakan pedang lengkung, masing-masing disesuaikan dengan bentuk tubuh dan kekuatan mereka. Pedang lengkung milik Ba Zhu cenderung lincah, sehingga menyulitkan cambuk besi milik He Yan untuk menjeratnya.
Cambuk He Yan hendak menjerat kaki Ba Zhu. Ba Zhu mencibir, "Menggunakan jurus yang sama pada dua orang? Naif sekali!" Ia mengelak di sekitar He Yan, bilah lengkungnya menebas leher He Yan—
Berbeda dengan Wala, Ba Zhu langsung mengincar nyawa He Yan sejak awal, tanpa tipuan apa pun. He Yan memegang cambuknya dengan kedua tangan, menangkis bilah melengkung Ba Zhu di depan matanya. Ba Zhu tertawa ganas dan jatuh ke belakang. He Yan tak sempat menghindar dan melihat Ba Zhu mencabut belati dari balik jubahnya dengan tangan kanannya.
Belati ini hanya sepanjang ibu jari, setipis kertas. Alih-alih belati, belati itu lebih seperti bilah pisau—mustahil untuk dilihat dengan jelas kecuali dari dekat. Telapak tangan Ba Zhu terjulur ke depan, dan bagi mereka yang menonton dari bawah, geralan Ba Zhu saat ini tampak seperti ia baru saja memukul pinggang He Yan, tetapi hanya He Yan yang tahu bahwa senjata tajam di telapak tangan Ba Zhu telah sepenuhnya menancap ke dalam daging He Yan.
He Yan merasakan sakit yang luar biasa di pinggangnya dan tiba-tiba ia melancarkan pukulan. Wajah Ba Zhu tepat di depannya, ia mencibir, "Sakit? Kalau sakit, kau harus—"
Kata-katanya tiba-tiba terputus.
Tinju He Yan yang terkepal menekan tenggorokan Ba Zhu, menolak untuk melepaskannya.
Ba Zhu mulai meronta dengan panik, tetapi entah bagaimana cambuk besi itu telah mengikat kaki He Yan ke kakinya, membuatnya tak bisa melarikan diri. Semakin keras ia meronta, semakin matanya berputar ke belakang, hingga akhirnya, darah menyembur dari mulutnya, dan ia perlahan berhenti bergerak.
Wajah He Yan tanpa ekspresi ia menekan tinjunya lebih keras ke tenggorokan Ba Zhu, dan baru melepaskan cengkramannya setelah memastikan pria di bawahnya tidak lagi bernapas.
Di atas leher milik Ba Zhu, sebuah benda besi kecil terlihat, hanya sedikit —sisanya tak terlihat, karena telah menembus jauh ke dalam tenggorokannya. Benda itu adalah caltrop besi.
He Yan telah mengambil caltrop besi dari tanah ketika ia keluar dari penjara bawah tanah.
Selalu menyimpan senjata tersembunyi setiap saat hanya akan bermanfaat untuknya, dan tidak ada ruginya. Kita tidak pernah tahu musuh seperti apa yang mungkin Kita hadapi, situasi apa yang akan datang, atau kapan hal itu akan terjadi. Satu-satunya hal yang harus dilakukan adalah meningkatkan peluang bertahan hidup.
He Yan tak bisa mendekati Ba Zhu karena Ba Zhu sudah waspada terhadapnya dari awal. Serangan terakhir tak lebih dari strategi saling menghancurkan di mana kedua belah pihak akan terluka. Namun, ia masih lebih baik daripada Ba Zhu—ia hanya terluka oleh belati yang tertancap di luka lamanya, sementara Ba Zhu kini telah tiada.
"Kau punya kartu As mu, tapi kau pikir aku tak punya?" gumam He Yan.
Sesaat kemudian, He Yan dengan susah payah menarik cambuk besi dari Ba Zhu dan dirinya sendiri, melilitkan cambuk itu kembali ke pergelangan tangannya. Ia berdiri—pakaian hitam yang dikenakannya tidak semeriah pakaian merah miliknya yang menambahkan sentuhan ketegasan. Ia berdiri tegak sempurna, tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan, memainkan cambuk di pergelangan tangannya, tersenyum tipis sambil mengulangi kata-kata yang sama seperti sebelumnya.
"Dia sudah mati. Aku menang. Pertandingannya sudah selesai. Berikutnya."
Komentar
Posting Komentar