Yunchu's Vengeance-Bab 2 Pendosa bagi Keluarga Xie
Aula Anshou.
Nyonya Tua Xie duduk di kursi kehormatan, dengan Xie Shi'an, yang pipinya merah dan bengkak, duduk di bawahnya. Sekelompok Mama [Mama (妈妈): Bukan berarti "Ibu" kandung. Di zaman dulu, pelayan senior atau wanita paruh baya yang bekerja di rumah besar sering dipanggil Mama.] dan pelayan mengelilingi mereka.
"Ibu."
Xie Shi'an berdiri dan memberi hormat kepada Yun Chu.
"An'geer adalah anak baik yang sangat berbakti padamu, ibunya, dalam segala hal." Nyonya Tua berucap dengan nada menyalahkan. "Anak sebaik ini—tega-teganya kau menamparnya, tega-teganya kau membuatnya berlutut di aula leluhur (zuci)... Lihat wajahnya, begitu bengkak. Tabib bilang butuh tiga hari agar bengkaknya mereda..."
"Jadi Nyonya Tua memanggilku karena masalah ini." Sebuah senyum misterius muncul di bibir Yun Chu. "An'geer, tidakkah kau memberi tahu Nyonya Tua mengapa aku menghukummu?"
Xie Shi'an tetap menundukkan kepalanya. "Putramu tidak tahu."
Suara Yun Chu berubah menjadi agak dingin. "Berlutut di aula leluhur (zuci) agar kau merenungkan di mana letak kesalahanmu. Jika kau belum menyadarinya, maka kembalilah berlutut."
"Chu'er, kau selalu murah hati dan lembut. Mengapa kau begitu keras hari ini?" Nyonya Tua mengernyitkan dahi. "Apa sebenarnya yang telah dilakukan An'geer?"
Yun Chu tertawa.
Selama ini dia memang bersikap lembut terhadap putra dan putri haram itu, murah hati terhadap para selir dan istri sampingan, mengelola urusan rumah tangga di dalam dan membina hubungan di luar, menyokong separuh langit bagi keluarga Xie.
[Ce Shi (侧室) — Istri Sampingan / Istri Pendamping Secara hierarki, dia berada di bawah Istri Sah (Di Qi), tetapi di atas selir biasa. Dia biasanya berasal dari keluarga baik-baik dan dinikahi dengan upacara sederhana (namun tidak semegah istri utama).]
["Menyokong separuh langit" (atau dalam bahasa Mandarin disebut Ding Qi Yi Pian Tian) adalah sebuah metafora yang sangat kuat dalam budaya Tiongkok yang artinya menjadi penopang utama atau pilar terpenting dalam menjaga kehormatan, ekonomi, dan keberlangsungan sebuah keluarga. Istilah ini menegaskan bahwa tanpa peran sang wanita, seluruh struktur keluarga tersebut akan runtuh.]
Tetapi selama ini, bagaimana orang-orang ini memperlakukannya?
Nyonya Tua dan para nyonya lainnya, begitu juga Xie Jingyu, mereka menghormatinya di permukaan saja, tetapi kenyataannya mereka mengeksploitasi dirinya, memeras keluarga Yun hingga benar-benar kering.
Anak-anak haram itu selalu memanggilnya "Ibu" dalam setiap embusan napas mereka, tetapi kenyataannya, mereka tidak pernah benar-benar menganggapnya sebagai ibu di dalam hati mereka.
Begitu banyak selir, termasuk mantan pelayan pribadinya, Selir Yu—siapa di antara mereka yang tidak diam-diam mencemooh dirinya yang tidak bisa melahirkan anak...
Lembut dan Murah hati yang disebut ini hanyalah manipulasi keluarga Xie terhadap dirinya, sekaligus bentuk belenggu yang dia pasang pada dirinya sendiri.
Yun Chu berucap dengan nada bicara yang ringan. "Tingshuang, pergilah ke Paviliun Qingsong dan ambilkan lukisan serta kaligrafi terbaru milik tuan muda."
Tingshuang segera bergegas melaksanakan perintah tersebut.
Nyonya Tua Xie mengernyitkan dahi. Karena Yun Chu menyuruh mengambil kaligrafi dan lukisan, ini pastilah berkaitan dengan pendidikan tuan muda.
An'geer sudah cerdas sejak kecil dan sangat unggul dalam pendidikannya. Semua orang memujinya. Nyonya Tua benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang mungkin salah dalam pendidikannya.
Tidak lama kemudian, Tingshuang kembali dengan membawa kaligrafi dan lukisan milik Tuan Muda.
Yun Chu membolak-balik halaman, lalu mengambil selembar tulisan dan menyodorkannya kepada Xie Shi'an. "Bacalah dengan lantang."
Raut wajah Xie Shi'an seketika berubah. Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat sebelum mulai membaca dengan perlahan. "Mereka yang mengharapkan pohon tumbuh besar, haruslah memperkuat akarnya; mereka yang menginginkan aliran sungai mengalir jauh..."
[Kalimat yang dibaca Xie Shi'an adalah kutipan dari teks klasik Tiongkok yang terkenal (biasanya dari naskah Wei Zheng tentang memerintah negara). Pilihan teks ini biasanya digunakan untuk menyindir karakter atau moralitas seseorang.]
Nyonya Tua Xie bukanlah wanita tua yang bodoh dan buta huruf. Suaminya dulu adalah seorang cendekiawan, putranya adalah sarjana yang berhasil lulus ujian kerajaan, dan cucunya, Xie Jingyu, adalah seorang (Zhuangyuan) peraih gelar sarjana terbaik.
[Top scholar (Zhuangyuan): Dalam sistem ujian kerajaan Tiongkok kuno, ini adalah gelar bagi peringkat pertama di seluruh negeri.]
Nyonya Tua sering membanggakan dirinya yang berasal dari keluarga cendekiawan. Karena berada dalam lingkungan terpelajar selama bertahun-tahun, ia tentu paham bahwa ini adalah sebuah petisi yang ditulis oleh seorang menteri untuk kaisar ratusan tahun yang lalu, yang bertujuan untuk menasihati kaisar agar tetap waspada di masa damai serta senantiasa memupuk kebajikan dan kebenaran.
Nyonya Tua mengernyitkan dahi. "Apa yang salah dengan tulisan ini?"
"Tentu saja tidak ada yang salah dengan tulisan ini," ujar Yun Chu dengan nada dingin. "Tetapi di bagian akhir esai ini, dia menuliskan kata-kata yang mengandung pengkhianatan besar."
Nyonya Tua itu menyambar kertas tersebut.
"...Kaisar Sui Yang merampas kemakmuran rakyat, mandat Langit tidak lagi berpihak padanya, mempersembahkan obat kepada Yang Mulia, jangan biarkan suap merajalela..." Membaca sampai titik ini, Nyonya Tua terkejut dan wajahnya pucat pasi. "An'geer, kenapa kamu menulis hal seperti ini?!"
[Tulisan ini sangat berbahaya karena menuduh penguasa telah kehilangan restu Tuhan (Mandat Langit) akibat bertindak zalim kepada rakyat seperti Kaisar Sui Yang yang dikenal sebagai tiran. Dengan menyebutkan bahwa pemimpin tidak lagi layak berkuasa dan menyindir adanya praktik korupsi (suap) di lingkungan istana, kalimat-kalimat tersebut secara langsung dianggap sebagai tindakan makar atau penghinaan berat terhadap Kaisar yang sedang bertakhta, yang dalam hukum kerajaan bisa mengakibatkan seluruh keluarga Xie dijatuhi hukuman mati.]
Yun Chu mendengus dengan dingin.
Di seluruh esai yang di tulis oleh Xie Shi'an, kata-kata semacam itu dapat ditemukan di mana-mana, sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa Xie Shi'an menyimpan dendam yang besar terhadap kaisar saat ini.
Maka setelah Xie Shi'an menjadi Pejabat Tinggi Kekaisaran, tindakan pertamanya adalah mencari berbagai cara untuk menyingkirkan keluarga Yun yang setia dan mendukung seorang pangeran untuk memaksa kaisar turun takhta...
Yun Chu tidak pernah mengerti bagaimana seorang remaja berusia dua belas tahun bisa memendam kebencian sedalam itu terhadap kaisar.
"An'geer, kau tahu apa konsekuensinya jika orang luar melihat tulisan seperti ini?" ujar Yun Chu tegas. "Kau terdaftar di bawah namaku, menjadikanmu putra sulung sah dari keluarga Xie. Setiap kata dan tindakanmu mewakili seluruh keluarga Xie!"
Tiba-tiba, aura kewibawaan yang kuat terpancar dari tubuh Yun Chu. "Kau berani mencerca kaisar saat ini sebagai penguasa yang bejat dan tidak bermoral, yang begitu mudah dihasut oleh para pejabat pengkhianat..."
Wajah Xie Shi'an berubah pucat pasi dan tampak mengerikan. "Aku... aku tidak melakukannya...'
"Hal ini bukanlah sesuatu yang bisa kau sangkal hanya dengan mengatakan 'aku tidak melakukannya'!" Ekspresi Yun Chu menjadi semakin mengintimidas. "Kata-kata hitam di atas kertas putih adalah bukti nyata. Jika seseorang mengajukan petisi kepada kaisar mengenai hal ini, paling ringan ayahmu akan diturunkan jabatannya, dan paling buruk seluruh keluarga Xie akan dinyatakan bersalah dan dipenjarakan. Entah itu hukuman ringan atau berat, kau tidak akan sanggup menanggung konsekuensinya! Leluhur keluarga Xie telah belajar selama tiga generasi, hingga akhirnya berhasil meraih posisi resmi di generasi ayahmu. Beberapa baris tulisanmu ini akan membuat upaya beberapa generasi sia-sia begitu saja. Kau akan menjadi pendosa bagi seluruh keluarga Xie!"
Ia melemparkan kertas itu dengan kasar ke wajah Xie Shi'an.
Nyonya Tua Xie duduk tercengang di kursinya seolah-olah baru saja disambar petir. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa konsekuensinya bisa seberat itu.
Pantas saja cucu menantunya yang biasanya bersikap lembut itu tiba-tiba meledak dalam kemarahan—An'geer benar-benar telah melakukan kesalahan yang sangat fatal.
Yun Chu menurunkan kelopak matanya.
Jika bicara soal seberapa parah masalah ini, kenyataannya, meskipun hal ini menjadi persoalan besar, paling buruk pun hanya akan mendapat pemotongan gaji selama beberapa bulan.
Terlebih lagi, suaminya, Xie Jingyu, sangatlah cerdik—dia punya banyak cara untuk membereskan masalah ini.
Namun, karena telah terlahir kembali, banyak hal perlu direncanakan dengan sangat matang.
Yun Chu berkata dengan suara lirih, "Semenjak An'geer terdaftar di bawah namaku, aku telah merawatnya dengan segala perhatian. Selama empat tahun terakhir, baru kali inilah aku benar-benar murka, dan itu pun terjadi di depan Nyonya Tua. Sepertinya, aku sebagai seorang ibu bahkan tidak diberi wewenang untuk mendidik anakku sendiri... Atau mungkinkah meski nama An'ge-er sudah tercatat sebagai putraku, aku tetap dianggap tidak layak untuk mendisiplinkannya? Jika memang begitu, maka aku tidak berani lagi menganggapnya sebagai putraku."
Sesaat yang lalu ia tampak murka bagaikan badai, namun kini ekspresinya berubah menjadi penuh kesedihan, seolah-olah ia sedang patah hati.
Nyonya Tua seketika menjadi cemas. "Chu'er, aku tidak bermaksud menyalahkanmu."
Jika Yun Chu tidak menginginkan An'geer lagi, maka An'geer akan menjadi anak haram. Anak-anak haram dipandang rendah di mana-mana, dan akan sulit bagi An'geer untuk meniti karier menjadi pejabat.
Meskipun nama An'geer sudah tercatat dalam silsilah keluarga dan tidak bisa dihapus begitu saja hanya karena ucapan Yun Chu, namun hanya jika Yun Chu benar-benar menerima An'geer dengan tulus, maka keluarga Yun akan mau menerima An'geer.
Keluarga Yun adalah klan Jenderal Besar peringkat pertama, tidak mungkin bisa dibandingkan dengan keluarga Xie yang hanya berada di peringkat kelima...
Nyonya Tua menolehkan kepalanya. "An'geer, mengapa kamu masih berdiri bodoh di sana?"
Xie Shi'an berjalan mendekat. "Pepatah mengatakan bahwa ibu yang tegas akan melahirkan putra yang hebat, sementara ibu yang memanjakan hanya akan membesarkan membesarkan pecundang. Ketegasan Ibu adalah bukti bahwa Ibu menaruh harapan besar padaku, namun aku justru gagal memahami ketulusan hati Ibu. Aku telah bersalah. Aku akan kembali berlutut di aula leluhur untuk merenungi kesalahanku."
Bibir Yun Chu sedikit melengkung.
Sedari awal, Xie Shi'an memang tidak berniat menerima hukuman darinya, itulah sebabnya anak ini menyeret Nyonya Tua ke dalam masalah ini.
Hanya ketika bukti-bukti sudah terpampang nyata di depan matanya, hanya ketika ia tidak bisa lagi berdalih, barulah ia menundukkan kepala dan mengambil pilihan yang paling menguntungkan bagi dirinya sendiri.
Anak ini sangat mirip dengan Xie Jingyu—penuh perhitungan, licik, dan pandai belajar. Jika tidak, mustahil baginya untuk lulus tiga ujian tertinggi secara berturut-turut dan menjadi Pejabat Tinggi Kekaisaran di usia yang begitu muda.
Yun Chu berbicara dengan tenang. "An'geer tidak perlu berlutut, lagipula Nyonya Tua pasti akan merasa sangat sedih."
Nyonya Tua memang benar-benar merasa sedih.
Bagaimanapun juga, sejak Keluarga Xie didirikan, belum pernah ada sejarahnya seseorang dihukum berlutut di aula leluhur.
Namun, sudah menjadi hal yang wajar dan benar bagi seorang ibu untuk mendidik putranya. Jika ia sebagai nenek buyut mencampuri urusan ini dengan komentar yang tidak perlu, bukankah itu akan membuat Yun Chu merasa tidak dihargai?
Nyonya Tua hanya bisa berkata melawan kata hatinya sendiri, "Jika An'geer memang harus berlutut, maka berlututlah."
"Karena Nyonya Tua sudah berkata demikian." Yun Chu menghela napas. "Udara dingin di musim semi sangatlah menusuk—tidak perlu berlutut terlalu lama. Dua hari sepertinya sudah cukup."
Nyonya Tua membelalak kaget hingga matanya nyaris keluar.
Baginya, dua jam saja sudah keterlaluan, namun sekarang malah menjadi dua hari—bukankah ini sama saja dengan ingin membunuh orang!
Tetapi Xie Shi'an sudah terlanjur setuju. "Baik, dalam dua hari aku akan datang untuk memberi hormat kembali kepada Ibu."
Mata Yun Chu tampak begitu dalam dan dingin, sulit untuk ditebak.
Hanya dua hari...
Sebelum kematiannya, ia telah berlutut selama dua bulan penuh, Kala itu, ia tidak mendapatkan pembelaan sedikit pun dari keluarga Xie untuk menolong keluarga Yun, melainkan justru menerima secangkir arak beracun...
Saat berjalan keluar dari Aula Anshou, Tingshuang berucap dengan penuh rasa khawatir. "Nyonya menghukum Tuan Muda dengan cara seperti ini kemungkinan besar akan membuat Tuan Muda menjadi asing dengan Anda."
Yun Chu tersenyum.
Sejak awal Xie Shi'an memang tidak pernah benar-benar tulus menganggapnya sebagai ibu—jadi apa yang perlu dikhawatirkan soal hubungan yang merenggang?
Dalam kehidupan sebelumnya, segala pengorbanan dan jerih payahnya hanya dibalas dengan kelicikan dan pengkhianatan. Untuk apa ia membuang-buang perasaan tulusnya lagi?
Komentar
Posting Komentar