Speed and Love-Bab 11
Kebiasaan memilih-milih makanan Jiang Mu tidak banyak berubah meskipun ia sudah tumbuh dewasa. Terutama dalam hal sayuran—cabai hijau, daun krisan, seledri, dan wortel adalah sayuran yang tidak akan pernah ia sentuh. Ia juga tidak makan daging kambing dan daging angsa. Ia tidak bisa memisahkan biji semangka saat memakannya, dan ia juga malas makan anggur. Kiwi membuat tenggorokannya gatal. Untuk apel, ia hanya mau makan yang renyah—apel yang lembek sama sekali tidak bisa ia telan.
Soal kebiasaan ini, sejak kecil hingga besar Jiang Mu tidak jarang dimarahi oleh Jiang Yinghan. Setelah ia beranjak dewasa, meskipun Jiang Yinghan tidak lagi memaksanya dengan keras untuk memakan makanan yang sulit ia telan itu, Jiang Yinghan tetap sering melontarkan kalimat, "Nanti siapa yang mau menikah denganmu? Ini tidak mau makan, itu tidak mau disentuh, bagaimana orang bisa hidup serumah denganmu?"
Jiang Mu tidak pernah berpikir sejauh itu. Ia selalu menjawab dengan acuh tak acuh, "Kalau begitu aku tidak akan menikah. Aku hidup bersamamu seumur hidup juga tidak apa-apa."
Namun, saat ia mengatakan itu, ia sama sekali tidak menyangka bahwa suatu hari ibunya akan menikah lebih dulu dan meninggalkannya.
Jiang Mu menghabiskan nasi dalam mangkuknya dengan cepat, tetapi lauknya hampir tidak ia sentuh. Dari rebusan besar itu, ia hanya memakan kentangnya saja. Ketika ia meletakkan sumpitnya, yang lain masih belum mulai makan.
Melihat Jiang Mu sudah selesai, Jin Chao berdiri dan berjalan ke ruang belakang. Tidak lama kemudian, ia keluar membawa sebuah kantong dan memberikannya kepada Jiang Mu, "Coba lihat apakah ini bisa kamu pakai."
Jiang Mu menerima kantong itu dan membukanya. Di dalamnya terdapat seragam SMA Tonggang. Ia mengeluarkan atasan berwarna merah tua dengan garis-garis putih, dan di bagian dada terdapat lambang sekolah. Seragam itu sangat bersih, dengan aroma deterjen yang segar—seperti baru.
Xiao Yang menyela, "Ini benar-benar barang berharga yang disimpan oleh guruku. Aku kira dia menyimpannya untuk acara reuni sekolah. Aku hampir memasukkannya ke mesin cuci bersama baju kerjanya."
Jiang Mu mencium aroma deterjen yang segar dari seragam itu dan berkata, "Tidak apa-apa. Ini sangat bersih."
Xiao Yang menjawab, "Tentu saja bersih. Guruku mencucinya dengan tangan sendiri."
Jiang Mu sedikit terkejut dan menatap Jin Chao. Jin Chao memegang botol bir dengan satu tangan, ekspresinya datar.
San Lai tertawa, "Jadi begitu! Dua hari yang lalu aku melihat seragam itu dijemur di depan pintu. Tiba-tiba aku teringat masa sekolah dan ingin mencobanya. Tapi gurumu memarahiku, katanya banyak bulu anjing di tubuhku, suruh aku menjauh dari barangnya. Ternyata itu untuk diberikan pada orang lain."
San Lai lalu menatap Jiang Mu dengan senyum lebar, "Seragam ini harus kamu jaga baik-baik. You Jiu sendiri tidak pernah punya kesempatan untuk memakainya. Hanya ini satu-satunya. Oh iya, aku juga lulusan SMA Tonggang. Kalau soal angkatan, seharusnya kamu memanggilku Kakak San Lai."
Sebelum Jiang Mu sempat bereaksi, Jin Chao sudah lebih dulu bersuara, "Kalau sudah selesai makan, cepat pulang."
Jiang Mu melipat seragam itu kembali dengan rapi dan memasukkannya ke dalam kantong. Ia mengangkat kepalanya dan bertanya kepada Jin Chao, "Bolehkah aku mengerjakan PR di sini dulu sebelum pulang?"
Jiang Mu tidak bisa membaca apa pun dari sorot mata Jin Chao. Itulah perbedaan terbesar yang ia rasakan sejak bertemu kembali dengan Jin Chao.
Dulu, mata Jin Chao selalu berbinar. Melalui jendela matanya, Jiang Mu bisa merasakan segala macam emosi yang Jin Chao rasakan—baik saat dia bersemangat maupun saat dia kecewa, perasaannya selalu jelas tergambar. Namun sekarang, cahaya di matanya telah padam. Kapan pun ia menatap Jin Chao, sorot matanya selalu datar dan kosong, seolah-olah dia telah menyembunyikan seluruh masa lalunya di balik pupil hitam yang dalam—tanpa gelombang, tanpa celah untuk ditembus.
Jin Chao hanya menatap balik ke arah Jiang Mu dengan sikap yang dingin dan acuh tak acuh. Jiang Mu tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Mereka seperti sedang saling menguji dalam diam.
Xiao Yang dan Tiě Gōng Jī tidak mengerti situasi yang sebenarnya terjadi. Mereka mengira Jiang Mu adalah adik perempuan Jin Chao, tetapi dari situasi ini, tampaknya Jin Chao tidak terlalu ingin membiarkan Jiang Mu tinggal. Karena itu, mereka memilih untuk tidak ikut campur. Hanya San Lai yang menyunggingkan senyum sinis sambil terus menyesap birnya dengan tenang.
Setelah beberapa saat, Jin Chao akhirnya bersuara dengan nada santai, "Telepon ke rumah, kasih tahu."
Jiang Mu mengangguk, lalu berdiri dan berjalan menuju ruang perbaikan. San Lai baru kemudian bersuara untuk mencairkan suasana, "Kucing di tokoku makan lebih banyak darinya."
Jin Chao menoleh, melirik tubuh kecil Jiang Mu, dan sorot matanya sedikit menjadi gelap.
Jiang Mu menelepon Jin Qiang dan memberitahunya bahwa ia sedang mengerjakan PR di toko milik Jin Chao. Jin Qiang bertanya mengapa Jiang Mu pergi ke tempat Jin Chao. Jiang Mu menjawab bahwa sekolah selesai lebih awal dan ia merasa lapar, jadi ia datang untuk makan. Jin Qiang tidak mengatakan apa-apa lagi.
Sejak tiba di Tonggang, Jiang Mu hanya pergi ke sekolah lalu pulang ke rumah itu. Hari ini ia ingin pulang lebih lambat. Bukan karena Zhao Meijuan memperlakukannya dengan buruk—sebenarnya, Jiang Mu tidak mengerti sikap Zhao Meijuan terhadapnya. Ramah? Tidak juga. Tidak ramah? Zhao Meijuan tetap memanaskan air untuknya mandi. Sikap Zhao Meijuan selalu membingungkan, sehingga Jiang Mu tidak tahu bagaimana harus bersikap dengannya.
Lebih sering, ketika ia melihat Zhao Meijuan, Jin Qiang, dan Jin Xin bersama, ia merasa bahwa mereka adalah sebuah keluarga, dan ia hanyalah orang luar.
Selama bertahun-tahun, Jiang Mu hanya ditemani oleh ibunya, sementara ayahnya telah membangun keluarga baru. Dulu, gambaran itu hanya ada di dalam pikirannya, tetapi sekarang sering terhampar di hadapannya—hidup, nyata, dan membuatnya merasa tidak cocok di tempat itu.
Di sisi lain, masa depan yang akan dijalani ibunya juga membuatnya merasa kecewa, cemas, dan khawatir.
Jiang Mu tidak tahu bagaimana Jin Chao dulu menghadapi semua ini. Menghadapi kenyataan bahwa Jin Qiang membangun keluarga baru dengan wanita lain, menghadapi orang-orang yang dulu dia kenal menjauh darinya—apakah dia juga merasa tidak nyaman? Apakah di suatu saat Jin Chao merasakan kekecewaan yang sama seperti yang ia rasakan?
Jiang Mu tidak bisa mencari tahu jawabannya. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak—duduk di ruang istirahat yang berantakan itu, mengerjakan soal-soal, dan sesekali mengangkat kepalanya. Melalui kaca, ia masih bisa melihat Jin Chao dan teman-temannya sedang minum dan bercanda di depan toko. Pemandangan itu memberinya sedikit kehangatan, setidaknya di tempat asing ini, ia merasa tidak begitu sendirian.
Mereka minum bir hingga hampir pukul sembilan. Setelah semuanya dibereskan, Tiě Gōng Jī pulang. Xiao Yang masih bersama Jin Chao di ruang perbaikan untuk menyelesaikan pekerjaan akhir. Mereka tidak masuk ke ruang istirahat untuk mengganggu Jiang Mu—dari balik kaca, mereka bisa melihat Jiang Mu yang terus menunduk dengan tekun, sesekali membalik-balik kertas ujiannya.
Sekitar pukul sepuluh, San Lai mengetuk kaca dari luar dua kali. Jiang Mu mendengar suara itu dan mengangkat kepalanya. Ia melihat San Lai memegang dua es krim Cornetto. San Lai mengangkat es krim dan berteriak, "Keluar, makan es krim dulu. Jangan belajar sampai pusing."
Jiang Mu meletakkan pulpennya, membuka pintu, dan keluar. San Lai memberikan es krim di tangan kanannya kepada Jiang Mu, "Cuma rasa cokelat yang tersisa. Ini buatmu."
Jiang Mu sedikit terkejut, "Bagaimana kamu tahu aku suka cokelat?"
"You Jiu yang menyuruhku ambilkan."
Jiang Mu menoleh mencari Jin Chao, tetapi ia tidak melihatnya di ruang perbaikan. Ia bertanya, "Dia di mana?"
San Lai menjawab dengan santai, "Di belakang, sibuk. Mau main ke tokoku?"
Jiang Mu tidak menolak. Ia membuka bungkus es krimnya dan mengikuti San Lai ke toko hewan peliharaan di sebelah. Begitu pintu terbuka, anjing dan kucing di dalam seperti kehilangan kendali—mereka mengeluarkan berbagai suara aneh secara bersamaan. Jiang Mu melihat San Lai berhenti sejenak, lalu mengangkat lengannya tinggi-tinggi dan melambai dengan anggun seperti seorang dirigen orkestra.
Yang lucu adalah penampilannya sama sekali tidak elegan—kakinya masih memakai sandal jepit biru-putih, membuat adegan itu terlihat seperti aksi seorang penipu.
Yang mengejutkan, gerakannya sangat ampuh. Toko hewan peliharaan itu tiba-tiba menjadi sunyi. Semua hewan kecil berhenti bersuara.
Jiang Mu bertanya dengan heran, "Bagaimana kamu melakukannya?"
San Lai menoleh, memegang dadanya, dan berkata, "Sebagai seorang raja, kemampuan bertahan di hutan adalah keahlian wajib."
"......Kamu kebanyakan main game, ya?"
San Lai tertawa, "Sekarang bisnis sedang lesu. Main game adalah cara terbaik untuk menghabiskan hari-hari yang membosankan dan sepi. Lihatlah sekeliling."
Jiang Mu berjalan ke sebuah etalase kaca. Toko itu memiliki banyak ras kucing populer—beberapa kucing biru Rusia, kucing biru-putih, dan kucing bulu pendek Amerika. Namun, semua kucing di sini berbaring dengan santai, terlihat sangat malas dan bosan. Tidak peduli bagaimana Jiang Mu menggoda mereka dari balik kaca, mereka sama sekali tidak tertarik padanya.
Es krim Cornetto di tangan Jiang Mu sudah habis. San Lai melambai kepada Jiang Mu dari dalam toko, "Kemari, lihat ini."
Jiang Mu melihat ada sebuah kandang di dalam. Ia berjalan mendekat dan mengintip ke dalam—ternyata di dalamnya terbaring seekor anjing Golden Retriever, yaitu "Nona Xishi" yang mereka bicarakan saat makan malam tadi.
Di depan Xishi, ada empat ekor anak anjing yang masih sangat kecil sedang menyusu. Yang aneh adalah, meskipun induknya adalah Golden Retriever, anak-anak anjing itu berwarna-warni—ada yang belang, ada yang abu-abu, dan bahkan ada satu yang hitam pekat.
Entah karena penampilannya yang terlalu aneh, anak anjing hitam itu terus didorong ke pinggir oleh saudara-saudaranya. Induknya pun tampaknya tidak terlalu menyukainya. Anak anjing hitam kecil itu berulang kali mencoba mendekati induknya, tetapi kakinya yang masih lemah membuatnya sering jatuh terguling-guling—pemandangan yang menyedihkan sekaligus lucu.
Jiang Mu menunjuk ke arah anak anjing hitam kecil itu dan bertanya, "Mengapa induknya tidak peduli padanya?"
San Lai melirik sekilas, "Manusia saja sulit perberilaku adil, apalagi anjing. Anak yang hitam ini baru lahir sudah hampir mati—bahkan sempat dibawa ke depan toko oleh Xishi. Aku yang menemukannya dan berhasil menyelamatkannya."
Jiang Mu berjongkok di samping kandang dan menatap anak anjing itu, "Kasihan sekali."
San Lai membungkuk, lalu dengan hati-hati mengangkat si kecil hitam itu. Xishi hanya melirik dengan malas, tidak berusaha melindungi anaknya. Jiang Mu mendekat, dan karena melihat Jiang Mu tertarik pada anak anjing itu, San Lai menyerahkan anak anjing itu kepadanya, "Ini, gendong sebentar."
Jiang Mu menerima anak anjing hitam kecil itu dengan hati-hati, lalu menggendongnya di telapak tangannya. Ia belum pernah menggendong anak anjing yang baru berusia dua hari. Begitu menyentuh makhluk kecil itu, hatinya meleleh. Tubuh si kecil terasa sangat lembut, dan begitu berada di tangan Jiang Mu, kepalanya yang mungil terus bergerak mencari-cari, mengendus-endus tubuh Jiang Mu dengan penuh rasa ingin tahu. Jiang Mu merasa geli, dan tanpa sadar sudut bibirnya terangkat. Ia menundukkan kepalanya dan menggesekkan pipinya dengan lembut ke tubuh si kecil.
Jiang Mu tiba-tiba teringat sesuatu dan berkata kepada San Lai, "Dulu, ketika aku masih kecil, aku pernah bertemu dengan seekor anak anjing hitam di perumahan tempat tinggalku. Anak anjing itu mengikutiku sepanjang jalan, tetapi ibuku tidak mengizinkanku untuk memeliharanya."
Jiang Mu hanya menceritakan separuh dari kejadian itu. Yang tidak ia ceritakaln adalah, ia dan Jin Chao bermain sampai kotor dan membawa pulang seekor anjing liar. Melihat mereka berdua dalam keadaan kotor dan membawa anjing, Jiang Yinghan sangat marah dan menyuruh mereka membuang anjing itu.
Jiang Mu menangis sambil menarik-narik lengan Jin Chao, tetapi Jin Chao juga tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan anjing itu. Jin Chao mengatakan akan mengantar Jiang Mu turun untuk melepaskan anjing itu, tetapi diam-diam dia mencari sebuah kardus dan menyembunyikan anjing itu di bawah jembatan di belakang perumahan. Setiap hari sepulang sekolah, mereka berdua pergi ke toko kecil untuk membeli sosis dan berlari memberikan makanan kepada anjing itu. Mereka juga memberinya nama—"Kilat" —karena mereka berdua menganggap nama itu sangat keren. Namun, setelah beberapa hari, anjing itu menghilang. Sejak itu, mereka tidak pernah melihat anjing itu lagi.
San Lai tiba-tiba tersenyum dan berkata, "Kamu mau pelihara? Aku berikan padamu."
Meskipun Jiang Mu selalu menyukai binatang kecil, ia belum pernah benar-benar memiliki hewan peliharaan. Saat di SMP, ia pernah membicarakannya dengan Jiang Yinghan, tetapi ibunya langsung menolak idenya itu tanpa kompromi. Jiang Yinghan adalah seorang wanita yang sangat memperhatikan kebersihan—dia tidak suka adanya bulu atau bau hewan peliharaan di rumah. Karena itu, memelihara hewan tidak pernah masuk dalam pertimbangan Jiang Yinghan.
Sekarang, ia tinggal di rumah Jin Qiang. Dalam arti tertentu, ia sendiri seperti orang asing di rumah itu. Jadi bagaimana mungkin ia bisa membawa pulang seekor hewan peliharaan? Ia berkata kepada San Lai, "Terima kasih, tapi aku tidak punya tempat untuk memeliharanya."
Kemudian, dengan lembut Jiang Mu meletakkan anak anjing hitam itu kembali di dekat induknya. Namun, hal aneh terjadi—begitu Jiang Mu meletakkannya, anak anjing itu merangkak kembali ke arahnya dengan susah payah, bahkan San Lai pun merasa heran melihatnya.
Jiang Mu mengulurkan satu jarinya ke arah anak anjing itu, dan si kecil langsung meletakkan kepalanya di atas jari Jiang Mu. Sentuhan lembut itu langsung menyentuh hatinya dan membangkitkan rasa iba dalam dirinya.
Pintu kaca toko hewan peliharaan itu diketuk dua kali. Jiang Mu dan San Lai serentak menoleh ke arah suara itu dan melihat Jin Chao yang sudah membereskan barang-barang Jiang Mu ke dalam ranselnya. Jin Chao berdiri di depan pintu toko sambil membawa ransel itu dan berkata kepada Jiang Mu, "Ayo pulang."
San Lai tiba-tiba membungkuk dan berbisik di sisi Jiang Mu, "Kalau kamu benar-benar ingin memeliharanya, bukan tidak ada tempat. Coba bilang pada You Jiu."
Jiang Mu mengangkat kepalanya dan menatap San Lai. San Lai tersenyum dan mengedipkan mata padanya.
Setelah keluar dari toko hewan peliharaan, Jiang Mu baru menyadari bahwa pintu rana bengkel sudah ditutup. Jin Chao meletakkan ransel Jiang Mu ke dalam mobil, lalu mengantarnya pulang.
Di perjalanan, Jiang Mu beberapa kali menoleh ke arah Jin Chao, tetapi ia tidak tahu bagaimana harus memulai pembicaraan. Namun, sebelum ia sempat mengumpulkan kata-kata, mereka sudah tiba di perumahan tempat Jin Qiang tinggal.
Jin Chao memasukkan mobil ke dalam perumahan, memarkirkannya di dekat gedung, lalu mematikan mesin dan berkata, "Kamu sudah menatapku sepanjang jalan. Kalau ada yang mau dikatakan, katakan saja."
Jiang Mu memulai pembicaraan dengan cara berputar-putar, "Aku tadi di toko San Lai melihat anak-anak anjing yang dilahirkan oleh Golden Retriever itu."
"Hm."
"Mereka sangat lucu."
"......" Diam.
"Ada satu anak anjing hitam yang San Lai bilang hampir mati saat lahir, tapi dia berhasil menyelamatkannya. Entah kenapa Xishi sepertinya tidak terlalu menyukainya."
"......" Diam lagi.
Melihat Jin Chao tidak memberikan reaksi apa pun, Jiang Mu hanya bisa bergumam, "Bukankah itu sangat menyedihkan?"
Jin Chao baru kemudian membuka suara, "Dia hanya bercerita omong kosong, dan kamu sudah terharu setengah mati? Kalau begitu, kenapa kamu tidak tanya bagaimana San Lai menyelamatkan anjing itu? Apakah dengan pernapasan buatan?"
Jiang Mu belum pernah memikirkan hal itu. Jin Chao langsung menoleh dan menatapnya dengan tatapan datar, "Kamu ingin memeliharanya?"
Jiang Mu belum pernah memikirkan hal itu. Jin Chao langsung menoleh dan menatapnya dengan tatapan datar, "Kamu ingin memeliharanya?"
Jin Chao membuka pintu mobil dan turun. Jiang Mu pun mengikutinya. Mereka berdiri di sisi yang berlawanan dari mobil. Jin Chao berdiri di bawah pohon yang tampak layu dan menyalakan sebatang rokok. Di bawah sinar bulan yang dingin, bayangannya tampak jauh dan asing. Suaranya terdengar dari kejauhan, "Dari empat anak anjing itu, dua di antaranya sudah dipesan oleh orang lain. Dua yang tidak laku, salah satunya akan diberikan kepadamu—dengan syarat kamu memintaku untuk memeliharanya di tempatku. Biaya makanan dan perawatan akan ditanggung oleh orang lain. Kamu tidak menyadari itu?"
Jiang Mu tertegun sejenak. Ia sama sekali tidak menyangka ada maksud tersembunyi seperti itu. Ia mengenakan ranselnya dan membawa kantong berisi seragam di tangannya.
Jin Chao tampaknya tidak berniat naik ke atas. Ia melemparkan kunci rumah kepada Jiang Mu dari balik mobil. Jiang Mu menangkapnya dan bertanya, "Kapan aku harus mengembalikannya?"
Jin Chao menghisap rokoknya dan menjawab, "Aku tidak akan kembali dalam waktu dekat. Kau simpan dulu."
Jiang Mu mengangguk dan berbalik untuk pergi. Namun, setelah beberapa langkah, ia berbalik lagi dan bertanya, "Bagaimana kalau... semua biaya makanan dan perawatannya aku yang tanggung, tetapi aku titipkan dulu di tempatmu? Apakah itu boleh?"
Jin Chao menoleh ke samping dan mendengus kecil. Kemudian, ia menoleh kembali dan berkata dengan nada serius, "Lalu setelah kamu lulus? Apa kamu akan membawa anjing itu pergi, atau membuangnya?"
Jiang Mu tidak menjawab, karena bahkan ia sendiri belum memikirkan ke mana ia akan pergi setelah ujian masuk perguruan tinggi berakhir.
Jin Chao kemudian melanjutkan dengan suara pelan, "Karena pada akhirnya kamu akan pergi juga, aku sarankan sebaiknya kamu tidak memeliharanya. Kalau sudah tumbuh perasaan, itu akan merepotkan."
Jiang Mu berdiri diam di tempatnya, seluruh tubuhnya terasa panas—bukan karena anjing itu, tetapi karena perkataan Jin Chao. Apakah itu yang sebenarnya Jin Chao pikirkan?
Karena mereka sudah berpisah dan menjalani hidup masing-masing, mengapa harus ada keterlibatan yang berlebihan?
Karena mereka bukanlah saudara kandung, mengapa harus tetap berhubungan?
Jika terlalu banyak berhubungan, akan timbul perasaan, dan itu akan merepotkan—bukan begitu?
Wajah Jiang Mu perlahan menjadi dingin. Ia tidak lagi bersikeras, hanya menjawab dengan satu kata, "Hm."
Setelah itu, tanpa menoleh, ia berbalik dan melangkah besar menuju gedung. Dadanya terasa sesak. Jin Chao memanggilnya dari belakang, "Hei."
Jiang Mu berhenti, lalu berbalik dan berteriak ke arah Jin Chao, "Apa aku tidak punya nama? Kenapa selalu memanggilku 'Hei'? Namaku bukan 'Hei'!"
Jin Chao menatap Jiang Mu, melihat wajahnya yang memerah, ia sedikit menarik sudut bibirnya, "Hanya karena tidak memberimu seekor anjing, kamu bisa marah seperti ini? Sepenting itukah anjing kampung itu?"
Jiang Mu menjawab dengan tegas, "Itu bukan anjing kampung. Itu adalah makhluk malang yang tidak diinginkan oleh ayahnya dan tidak disayangi oleh ibunya."
Wajah Jin Chao perlahan menjadi dingin,hingga tidak ada lagi sedikit pun kehangatan yang tersisa. Jiang Mu merasakan tekanan yang begitu berat hingga ia hampir sulit bernapas. Ia menghindari tatapan Jin Chao dan ingin segera melarikan diri dari tempat itu. Namun, sebelum ia memasuki gedung, ia berhenti. Ia tahu bahwa kata-katanya telah menyentuh bagian paling sensitif di antara mereka. Ia tidak berani menatap Jin Chao, hanya dengan suara yang sangat pelan ia berkata, "Aku tidak kecewa padamu. ika ada satu hal yang membuatku kecewa, itu hanya satu: kamu memutuskan kontak denganku."
Bayangan Jiang Mu menghilang di pintu masuk gedung, tetapi Jin Chao masih berdiri di tempatnya untuk waktu yang lama. Di antara alisnya, terukir kerutan yang dalam. Selama bertahun-tahun, ia sudah terbiasa dengan kekecewaan orang-orang di sekitarnya. Hampir setiap orang yang mengenalnya dari masa lalu, ketika melihat dirinya yang sekarang, selalu menyembunyikan ejekan, rasa iba, dan kekecewaan di balik tatapan mereka. Namun terhadap semua itu, ia sudah lama menjadi mati rasa dan tidak peduli lagi.
Ia tidak menyangka masih ada orang yang mengatakan bahwa dia tidak kecewa padanya—atau setidaknya, kekecewaannya tidak berhubungan dengan siapa dirinya sekarang.
Senyum pahit terukir di sudut bibir Jin Chao. Ia menghisap asap rokok dalam-dalam, membiarkan semua kenangan buruk itu berubah menjadi asap yang ia hisap ke dalam paru-parunya, meninggalkan rasa pahit yang bergema di dadanya.
Baru setelah beberapa lama ia naik ke mobil dan kembali melaju. San Lai masih duduk di kursi malas di depan toko, bermain game. Ketika ia melihat Jin Chao kembali, ia melirik dengan santai dan bertanya, "Lama sekali?"
Jin Chao tidak menjawab. Ia berjalan mendekat dan melemparkan sebatang rokok ke arah San Lai, "Kapan anak anjing itu disapih (berhenti menyusu)?"
San Lai terkekeh, segera keluar dari permainan, dan duduk tegak, "Hanya dengan satu anjing, kamu sudah terbongkar. Bagaimana caranya kamu bisa membalas kebencian dengan kebaikan? Hanya dengan beberapa kata, gadis kecil itu sudah bisa mengalahkanmu? Sungguh di luar dugaanku."
Jin Chao menatap San Lai dengan kesal, "Kamu tidak ada kerjaan lain?"
San Lai menyelipkan rokok di telinganya dan mendorong sebuah bangku ke arah Jin Chao. Jin Chao duduk beberapa langkah dari San Lai, dengan kaki panjangnya yang santai terlipat.
Ia mendengar San Lai berkata, "Aku memang sangat bosan sampai tidak ada kerjaan. Dulu, mereka membiarkanmu begitu saja. Kalau aku jadi kamu, aku pasti tidak akan bisa sebesar hati itu."
Jin Chao menunduk, menggulir layar ponselnya tanpa mengatakan apa pun. San Lai melanjutkan, "Aku benar-benar tidak menyangka adik kecilmu yang terkenal itu ternyata begitu cantik—hidung mungil, bibir kecil, dua mata yang berbinar. Pantas saja kamu selalu mengingatnya. Sebenarnya, dia tidak ada hubungannya denganmu. Kalau aku jadi kamu, aku akan merebutnya, hanya untuk membuat ibunya kesal. Bukankah kita semua seperti pahlawan dari Liangshan? Kalau kamu tidak tega, aku bisa melakukannya untukmu."
Tatapan Jin Chao tetap terpaku pada gambar di ponselnya. Ia memperbesar salah satu sudut dan memeriksanya dengan saksama. Nada suaranya terdengar santai, tetapi ada sedikit kedinginan di dalamnya, "Coba saja kau berani menyentuhnya."
San Lai bersandar di kursi malasnya dan tertawa berlebihan, "Sialan, kau benar-benar menganggap perkataanku serius? Apa aku bodoh? Harus kehilangan calon pelanggan karena menjadikannya sebagai 'orang dalam'(Kekasih)? Nanti setelah anak anjing hitam itu disapih, aku akan mengantarkannya sendiri kepadamu. Maukah kau top up lima ribu dulu untuk menjadi VIP Premium?"
"Pergi sana kau terlalu berisik (Pergi saja ke tempat yang sejuk)."
"......"
Catatan Penerjemah:
["Daun krisan" di sini merujuk pada sayuran yang biasa disebut chrysanthemum greens atau tōng hāo (茼蒿) dalam bahasa Mandarin. Ini adalah sayuran hijau berdaun yang sering digunakan dalam masakan Asia, terutama di Tiongkok, Jepang, dan Korea. Daunnya memiliki aroma yang khas dan sedikit pahit, dan biasanya diolah dengan cara ditumis, direbus sebentar (blanching), atau dimasukkan ke dalam hot pot.]
["一边凉快去" (Yī biān liáng kuài qù) Pergilah ke tempat yang sejuk adalah ungkapan kasual/makna kiasan yang berarti "pergilah" atau "jangan ganggu aku" —sering digunakan untuk menyuruh seseorang pergi karena mereka mengganggu atau berbicara omong kosong.]
Komentar
Posting Komentar