Speed and Love-Bab 08
Selama beberapa hari berikutnya, Jin Chao tampak sangat sibuk. Jiang Mu hampir tidak pernah melihatnya kembali ke rumah. Jin Qiang harus bekerja pada siang hari, sehingga Jiang Mu harus menghabiskan sebagian besar waktunya bersama Zhao Meijuan dan putrinya—hal itu membuatnya merasa canggung. Untungnya, tidak lama setelah ia tiba di Tonggang, hari pertama sekolah segera tiba.
Namun, pada suatu hari dalam perjalanan pulang dari sekolah, ketika Jiang Mu sedang menaiki bus, ia tampaknya melihat seorang pria yang mengendarai mobil Ford hitam dan sangat mirip dengan Jin Chao. Jiang Mu berpikir bahwa ia mungkin salah lihat, karena terakhir kali Jin Chao mengendarai mobil Volkswagen putih.
Sebagai seseorang yang sedikit mengalami kecemasan sosial, Jiang Mu merasa tidak nyaman ketika pertama kali bergabung dengan kelas 12 IPA 6 di Sekolah Menengah Atas Tonggang. Ia tidak terlalu banyak berbicara dengan teman-teman sekelasnya. Selama minggu pertama sekolah, ia selalu datang dan pergi sendirian. Karena ia juga tidak terbiasa tersenyum, hal itu memberinya kesan sebagai seseorang yang dingin dan sulit didekati.
Sebagian besar gadis di sini memiliki sifat yang tegas atau sangat terbuka (ekstrover)—suara mereka nyaring dan tubuh mereka cenderung lebih besar. Sebagai contoh, teman sebangkunya, Yan Xiaoyi,—namanya sama sekali tidak mencerminkan kepribadiannya yang berarti "bergantung pada orang lain." Pada hari pertama dia duduk di samping Jiang Mu, bahkan meja Jiang Mu ikut bergetar. Ketika mereka duduk bersebelahan, pemandangan itu mengingatkannya pada karakter Xiaohong dan Dahong dalam film animasi Big Hero 6.
Kontras yang sangat jelas itu semakin menonjolkan tubuh Jiang Mu yang mungil dan ramping. Tidak sampai tiga hari, banyak orang mulai memperhatikan gadis dengan fitur wajah yang halus dan kulit pucat ini. Terlebih lagi, ia adalah seorang siswa pindahan yang mengulang tahun ajaran, sehingga banyak orang menjadi sangat penasaran tentang dirinya.
Di antara semua orang yang penasaran, yang paling ingin tahu mungkin adalah Pan Kai, yang duduk di seberang lorong. Sejak hari pertama Jiang Mu datang ke kelas, pemuda itu menatapnya seolah-olah melihat bidadari turun dari langit—baik saat pelajaran berlangsung maupun saat jam istirahat. Pria itu hampir memasang kata "suka" di dahinya.
Di sekolah sebelumnya, Jiang Mu juga pernah menerima perhatian dari pria secara tidak langsung. Namun, ia belum pernah bertemu dengan anak laki-laki yang begitu terang-terangan. Bahkan saat pergi ke toilet, ia sengaja mengambil jalan memutar untuk menghindari Pan Kai. Meskipun demikian, candaan dari teman-teman laki-laki tetap berlanjut dengan cepat. Tidak sampai seminggu, beberapa orang mulai memanggilnya "Nyonya Pan" di belakangnya.
Pada suatu hari saat istirahat panjang, Yan Xiaoyi berkata kepadanya, "Pan Shuai adalah anak orang kaya. Keluarganya memiliki pabrik—bergerak di bidang suku cadang otomotif."
Jiang Mu menoleh dan bertanya, "Menurutmu, kalau aku minta dia memberikan pabriknya kepadaku, apakah dia akan setuju?"
Yan Xiaoyi tersenyum kikuk, "Kamu terlalu banyak khayalan."
"Lalu apa hubungannya keluarganya punya pabrik denganku?"
"......"
Saat mereka sedang mengobrol, ketua kelas—yang gerakannya seperti kejang dan diamnya seperti orang lumpuh—berlari menghampiri. Ketua kelas enam ini bertubuh bulat, bernama Huang He. Namun, entah mengapa semua orang memanggilnya Chang Jiang. Ia berkata kepada Jiang Mu, "Guru Ma memanggilmu."
Jiang Mu pergi ke kantor guru. Guru Ma mengatakan kepadanya bahwa sekolah akan mengadakan pertunjukan seni budaya Tiongkok sebelum liburan Hari Nasional. Siswa kelas dua belas mungkin tidak diharuskan untuk ikut serta, tetapi karena akan ada tamu dari pemerintah kota, mereka sebaiknya memakai seragam sekolah.
Mengingat Jiang Mu adalah siswa yang mengulang, dan satu tahun akan berlalu dengan cepat, Guru Ma berkata bahwa tidak perlu membeli seragam baru. Ia menyuruh Jiang Mu untuk meminjam dari teman sekelas. Jika tidak ada yang bisa meminjam, ia bisa memberitahunya. Jiang Mu mengangguk.
Setelah jam pelajaran malam selesai, Jiang Mu membereskan barang-barangnya dan baru saja keluar dari kelas ketika beberapa orang di lorong berbicara dengan suara rendah sambil melihat ke bawah.
"Apakah itu teman Guru Ma? Tadi Guru Ma turun, dan orang di seberang itu memberi Guru Ma sebatang rokok. Mereka berbincang cukup lama."
Seorang siswa dari kelas lima menimpali, "Bukan teman. Guru Ma tadi menyebutkan bahwa itu adalah murid kesayangannya dari dulu. Mungkinkah itu kakak kelas yang pernah ia ceritakan di kelas? Kenapa tidak diajak naik saja? Aku belum pernah melihatnya secara langsung."
"Kamu pikir aku pernah lihat."
Jiang Mu menatap ke bawah sekilas dan melihat sekelompok orang berdiri di seberang sekolah. Penampilan mereka tidak seperti siswa SMA. Ia tidak terlalu mempedulikannya, lalu mengenakan ranselnya dan berjalan menuruni tangga.
Jarak antara halte bus dan gerbang sekolah masih cukup jauh. Saat Jiang Mu keluar dari gerbang dan hendak berjalan menuju halte, tanpa sengaja ia melirik ke seberang sekolah. Dua mobil terparkir di sana, dan salah satunya adalah Ford hitam yang terasa familiar. Pandangannya kembali terfokus pada mobil itu. Ia melihat beberapa orang berdiri di depan Ford, lalu matanya tertuju pada seorang pria yang bersandar di kap mesin. Salah satu sudut kemeja hitamnya terselip dengan santai ke dalam celana jins. Sepasang kaki panjangnya yang bersandar di mobil itu sangat mencolok. Namun, pria itu mengenakan topi baseball hitam polos, kepalanya menunduk, dan sebatang rokok di bibirnya—topi itu hampir menutupi seluruh wajahnya.
Saat Jiang Mu berhenti dan mengamatinya, pria itu seolah merasakan sesuatu. Pria itu tiba-tiba mengangkat pandangannya, dan tatapannya bertemu langsung dengan Jiang Mu. Ternyata, itu adalah Jin Chao yang sudah seminggu tidak ia temui.
Jin Chao jelas juga melihat Jiang Mu. Perlahan ia menurunkan rokok yang terjepit di bibirnya, sementara ekspresi wajahnya hampir tidak terlihat di balik bayangan topi.
Jiang Mu baru saja hendak berjalan menuju Jin Chao ketika tiba-tiba bahunya ditepuk seseorang. Kemudian, sesosok bayangan melintas di hadapannya dan menutupi pandangannya sepenuhnya. Jiang Mu mendongak dan melihat bahwa itu adalah Pan Kai. Ia bertanya, "Ada perlu?"
Pan Kai tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya, dan dengan sedikit canggung ia berkata, "Kamu naik bus 8 pulang? Ayo pulang bareng?"
Jiang Mu melangkah ke samping dan menjawab, "Tidak searah."
Jiang Mu kembali mengalihkan pandangannya ke seberang jalan. Tatapan Jin Chao tidak bergeser sedikit pun. Meskipun ia sedang berbicara dengan orang di sampingnya, matanya tetap lurus tertuju pada Jiang Mu.
Melihat Jiang Mu hendak pergi, Pan Kai segera menghadangnya lagi, "Sebenarnya kita searah. Aku juga naik bus 8. Kamu pasti harus ganti bus lagi, kan? Itu tidak aman. Aku antar kamu saja? Lagipula aku tidak ada kegiatan lain."
Jiang Mu sedikit mengerutkan kening dan menatap Pan Kai, "Kertas latihanmu sudah kamu kerjakan?"
Pan Kai menanggapi dengan cepat, "Berbicara tentang kertas, aku ada beberapa soal yang ingin kutanyakan padamu. Kita bicara di jalan saja?"
Jin Chao memperhatikan Jiang Mu bergulat dengan siswa laki-laki itu untuk waktu yang lama tanpa suara. Ia menghabiskan sebatang rokok terakhir dan mematikan puntungnya.
Jiang Mu berkata kepada Pan Kai, "Aku ada urusan. Besok saja."
Kemudian Jiang Mu berjalan langsung menyeberang jalan. Selain Jin Chao yang bersandar di kap mesin, ada tiga orang lainnya—dua di antaranya berdiri, dan satu lagi berjongkok di tepi jalan. Jiang Mu langsung mengenali pria yang berjongkok itu sebagai pria kurus tinggi yang pernah datang ke rumah untuk menemui Jin Chao beberapa hari yang lalu.
Pria itu hari ini mengenakan kaus putih bergaya Tionghoa dengan tulisan "中国" besar di bagian dada, dipadukan dengan celana pendek bermotif bunga. Jenggotnya yang tipis dan tidak terawat membuatnya terlihat semakin santai dan kurang serius.
Ketika rombongan itu berdiri di depan gerbang sekolah, mereka memancarkan aura yang sulit didekati. Pan Kai terus memanggil Jiang Mu dari belakang, "Kamu mau ke mana? Jangan pergi ke sana."
Mereka sedang mengobrol santai ketika seorang gadis berpenampilan bersih dan manis berjalan mendekati mereka. Percakapan mereka langsung terhenti.
Jiang Mu berhenti tepat di depan mereka, lalu menatap Jin Chao dan bertanya, "Kamu datang menjemputku?"
Meskipun di depan gerbang sekolah yang baru saja usai jam belajar malam masih dipenuhi oleh siswa yang hilir-mudik, pertanyaan Jiang Mu berhasil membuat suasana hening sejenak.
Kedua pria yang berdiri itu saling berpandangan dengan heran, lalu menoleh ke arah Jin Chao. Namun, pria kurus tinggi yang berjongkok itu justru tiba-tiba terkekeh.
Jin Chao menatap Jiang Mu dengan tatapan datar, lalu sorot matanya yang gelap tiba-tiba beralih ke belakang Jiang Mu. Pada saat yang sama, Jiang Mu merasakan seseorang berhenti di sampingnya dan juga menatap ke arah Jin Chao, "Qi Ge (Kakak Qi), maaf sudah membuatmu menunggu. Aobai banyak bicara, jadi aku tertahan setengah jam."
Jin Chao menundukkan pandangannya, jari-jarinya sibuk memainkan korek api. Pria kurus tinggi itu mengangkat dagunya dan menegur, "Hei, bocah, ganti panggilanmu. Dia sudah bukan Tóu Qī (kepala tujuh) lagi. Panggil dia You Jiu."
Pria itu segera mengangguk dan berkata, "Maaf, You Jiu."
Jin Chao bertanya, "Barangnya sudah dibawa?"
Pria itu menepuk ransel yang tergantung di tangannya, "Sudah. Semua ada di dalam."
Jiang Mu baru kemudian mengalihkan pandangannya dan melihat orang yang berdiri di sampingnya memakai anting-anting dan tidak mengenakan seragam Sekolah Menengah Atas Tonggang. Namun, dari percakapannya, ia bisa menduga bahwa orang itu mungkin juga seorang siswa dari sekolah yang sama. Melihat situasinya, jelas bahwa Jin Chao dan teman-temannya datang untuk menemui orang ini—tidak heran pertanyaannya tadi membuat semua orang terdiam.
Jiang Mu dengan canggung menarik tali ranselnya dan berkata, "Aku pergi dulu." Setelah itu, ia berbalik dan melangkah pergi.
Jin Chao kembali mengangkat pandangannya, matanya beralih dari Jiang Mu ke Pan Kai yang masih berdiri di seberang jalan. Pan Kai masih berada di tempatnya, sesekali melirik ke arah mereka. Pandangan Jin Chao dan Pan Kai bertemu sejenak, lalu Jin Chao berseru ke arah punggung Jiang Mu, "Hei."
Mendengar suara itu, Jiang Mu berhenti dan menoleh. Jin Chao perlahan menegakkan tubuhnya dan melirik Jiang Mu, "Aku antar kamu pulang."
Setelah berkata demikian, Jin Chao menoleh ke teman-temannya, "Kalian urus sisanya. Aku menyusul." Ia menepuk bahu pemuda dari SMA Tonggang itu, lalu menatap Jiang Mu.
Jiang Mu masih diam di tempatnya. Jin Chao menyentuh pinggiran topinya, alisnya sedikit terangkat, "Kamu mau berdiri di situ sampai kapan? Harus aku jemput?"
Jiang Mu tidak lagi sungkan. Ia berjalan kembali dan membuka pintu di sisi penumpang, lalu dengan rapi memasang sabuk pengaman di bawah tatapan semua pria itu. Jin Chao masih berbicara beberapa kalimat di luar mobil, sementara para pria itu satu per satu naik ke mobil di belakang. Sebelum pergi, pria kurus tinggi itu sengaja berjalan ke sisi penumpang dan mengetuk kaca jendela dengan sengaja. Jiang Mu menoleh ke arahnya, dan pria itu tersenyum nakal sebelum pergi.
Sementara itu, Jin Chao membuka pintu sisi pengemudi dan masuk ke mobil. Begitu ia duduk, topi baseball hitamnya ia lepaskan dan lemparkan ke kursi belakang, lalu ia mengacak-acak rambut pendeknya. Jiang Mu bertanya, "Kau pakai topi meskipun sudah malam?"
Jin Chao menyalakan mesin, memutar setir, dan melaju, "Kalau tidak, repot."
"Repot apa?"
"Terlalu banyak orang, terlalu banyak mulut."
Jiang Mu teringat bahwa ini adalah sekolah lama Jin Chao. Mungkin Jin Chao tidak ingin dikenali oleh orang-orang. Maka ia bertanya, "Jadi, dulu kamu terkenal di sekolah?"
Cahaya lampu jalan menyinari bagian dalam mobil dengan lembut. Jin Chao sedikit menyeringai, "Aku bukan orang yang memiliki reputasi baik. Jangan katakan bahwa kamu mengenalku di sekolah."
Jiang Mu mengangguk patuh, "Aku tidak akan mencari masalah untuk diriku sendiri."
Jin Chao sedikit mengangkat alisnya. Mereka tidak berbicara lagi. Jin Chao mengemudi dengan sangat cepat, seolah-olah dia sedang terburu-buru untuk pergi ke suatu tempat. Meskipun Jiang Mu sudah pernah menyaksikan kecepatan mengemudinya, ia tetap merasa tegang.
Mungkin karena kecepatan mobil yang tinggi, pikirannya juga bekerja dengan cepat. Barang apa yang dibawa siswa SMA itu untuk mereka? Mereka datang hanya untuk satu tas—begitu berhati-hati?
Mengingat bahwa Jin Chao terlibat dalam sesuatu yang berbahaya, pikiran Jiang Mu mulai melayang liar. Mungkinkah itu sebungkus narkoba atau senjata? Jin Chao bilang dia mencari uang di luar, dan orang-orang di sekitarnya tampak sangat tidak teratur—mungkinkah uang itu kotor?
Jantung Jiang Mu mulai berdebar kencang. Biasanya perjalanan pulang dengan bus memakan waktu setengah jam lebih, tetapi Jin Chao berhasil mengantar mobil ke depan gerbang perumahan tua itu dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Namun, kali ini Jin Chao tidak masuk ke dalam perumahan. Dia menghentikan mobil dan menatap Jiang Mu, "Kita sudah sampai."
Jiang Mu kembali melihat mobil itu dan bertanya, "Aku ingat mobil yang kau kendarai waktu itu berbeda."
Jin Chao menurunkan kaca jendela dan hanya menjawab, "Hm." Jiang Mu tidak turun dari mobil. Ia bertanya lagi, "Mengapa kau sering mengendarai mobil yang berbeda?"
Jin Chao hanya menjawab dengan acuh, "Karena pekerjaan."
Tubuh Jiang Mu semakin tegang. Pekerjaan apa yang mengharuskan seseorang mengendarai mobil yang berbeda? Mungkinkah karena Jin Chao takut dilacak dan perlu berganti-ganti kendaraan?
Ia segera bertanya lagi, "Apa yang dibawa oleh siswa laki-laki itu untuk kalian?"
Benar saja, begitu pertanyaan itu diajukan, Jin Chao tiba-tiba menoleh, sedikit mengangkat kelopak matanya, dan menatap Jiang Mu dengan ekspresi dingin. Meskipun tatapan Jin Chao sangat tajam, Jiang Mu tidak mengalihkan pandangannya. Ia mencoba mencari celah di mata Jin Chao, tetapi tidak menemukannya. Jin Chao hanya menatap Jiang Mu dengan diam selama beberapa detik, lalu tiba-tiba berkata, "Dengan banyaknya pertanyaan yang kau ajukan, kenapa tidak membeli buku 'Sepuluh Ribu Mengapa' saja?"
Jiang Mu memang masih memiliki segudang pertanyaan—misalnya, bagaimana Jin Chao bisa berganti mobil hampir setiap hari? Dari mana dia mendapatkan uang? Apakah orang yang ia lihat di bus kemarin benar-benar dia? Ke mana mereka akan membawa siswa laki-laki itu nanti?
Namun, tampaknya ini bukanlah saat yang tepat untuk mengobrol, karena Jin Chao tampaknya harus segera kembali. Setelah mengucapkan kalimat itu, Jin Chao mengalihkan pandangannya ke luar jendela, jari-jarinya mengetuk-ngetuk pinggir jendela, seolah-olah dia sedang terburu-buru. Namun, dia tidak mendesak Jiang Mu untuk pergi.
Jiang Mu mengerti maksud Jin Chao. Ia membuka sabuk pengaman dan bersiap turun, tetapi tiba-tiba ia mendengar pria di sampingnya bertanya, "Siapa orang itu?"
"Orang yang mana?"
"Pria berwajah persegi yang berdiri di seberang jalan menunggumu."
Jiang Mu terdiam selama lebih dari sepuluh detik sebelum akhirnya ingat bahwa ia sedang berbicara tentang Pan Kai. Ia menjawab, "Teman sekelas."
Jin Chao mengalihkan pandangannya kembali ke arah Jiang Mu. Di dalam ruang mobil yang sempit itu, tatapan matanya yang gelap dan tajam terasa seperti memiliki kehangatan—seolah-olah membuat suhu di dalam mobil ikut naik beberapa derajat, terasa semakin panas dan pengap.
Jin Chao memperhatikan tatapan Jiang Mu yang menghindar dan sikapnya yang canggung. Ia tidak bertanya lebih lanjut, hanya berkata, "Jaga dirimu baik-baik."
Kemudian Jin Chao membuka kunci pintu mobil. Jiang Mu baru saja turun ketika tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia menunduk kembali dan bertanya, "Apakah jaket seragam sekolah lamamu masih ada?"
Jin Chao meletakkan satu tangan di atas kemudi dan menjawab dengan acuh, "Entahlah."
Lalu lanjut bertanya, "Kenapa?"
Jiang Mu menjelaskan, "Guru Ma menyuruhku meminjam satu seragam, katanya ada acara."
Jin Chao mengangguk, meskipun Jiang Mu tidak mengerti apa maksud anggukan itu.
Jiang Mu mundur selangkah. Jin Chao menutup kaca jendela, mesin Ford menderu, dan dalam sekejap mobil itu lenyap di ujung jalan.
Malam itu, setiap kali Jiang Mu mengingat kejadian di gerbang sekolah, ia merasa sangat malu. Ia bahkan bertanya kepada Jin Chao apakah dia datang menjemputnya? Jelas sekali Jin Chao tidak menyangkalnya di depan umum untuk menjaga perasaannya, dan bahkan menyempatkan diri untuk mengantarnya pulang. Rasa malu itu membuatnya berguling-guling di tempat tidur.
Sebenarnya ia sudah sangat tidak ingin mengingat kejadian itu lagi. Namun, keesokan paginya, begitu ia tiba di sekolah, Pan Kai sudah menunggunya dan bertanya, "Bagaimana kamu bisa kenal dengan 'Suo Zhang' (Kepala atau Pimpinan)?"
Jiang Mu tampak sangat kebingungan, "Kepala Stasiun? Kepala Stasiun apa?"
"Kepala toilet!"
"......"
Jiang Mu memandang Pan Kai selama lima detik tanpa berkedip. Tiba-tiba ia teringat bahwa Jin Chao memanggil Pan Kai dengan sebutan "wajah persegi" kemarin. Jika bukan karena julukan itu, Jiang Mu mungkin tidak akan pernah menyadari bahwa wajah Pan Kai benar-benar berbentuk seperti cetakan—terlalu persegi. Ia tanpa sadar tersenyum kecil, lalu berjalan memutar melewati Pan Kai menuju tempat duduknya. Senyum itu membuat Pan Kai bingung. Pan Kai berbalik dan menarik Yan Xiaoyi yang baru saja keluar dari toilet, "Jiang Jiang tersenyum padaku! Apa dia mungkin tertarik padaku?"
"Aku juga melihat dia tersenyum pada patung Aristoteles di bukunya tadi pagi. Kalau begitu, dia pasti juga tertarik pada Aristoteles."
"......" Percakapan ini tidak ada gunanya dilanjutkan.
Pan Kai berbalik dan masuk ke dalam kelas, lalu duduk di kursi kosong di depan Jiang Mu. Ia menjelaskan bahwa "Kepala Stasiun" yang dimaksud sebenarnya bernama Zhang Fan, seorang siswa dari kelas 12 IPA 1. Mereka semua adalah siswa yang tidak berniat melanjutkan kuliah dan menghabiskan waktu dengan sia-sia. Julukan "Kepala Toilet" muncul karena mereka sering melakukan hal-hal buruk di toilet—setiap kali mereka menutup toilet di lantai tiga dan bersembunyi di dalamnya untuk merokok, siswa lain terpaksa pergi ke toilet di lantai dua. Seiring waktu, toilet lantai tiga menjadi tempat berkumpulnya para siswa nakal, dan "Kepala Toilet" dari tempat itu adalah Zhang Fan.
Pan Kai masih terus berbicara, mengatakan bahwa Jiang Mu sebaiknya menjauh dari Zhang Fan—karena dia sama sekali bukan orang baik. Namun, di benak Jiang Mu, justru muncul bayangan Zhang Fan yang bersikap sangat hormat dan patuh kepada Jin Chao malam sebelumnya.
Jiang Mu tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menatap Pan Kai dengan tajam, membuat jantung Pan Kai berdegup kencang. Pan Kai bertanya dengan ragu, "Ada apa lagi? Kamu kerasukan?"
Jiang Mu langsung bertanya, "Kamu bilang tadi, Kepala Toilet itu dari kelas berapa?"
"Kelas satu."
Jiang Mu meletakkan pulpennya dan berjalan menuju kelas satu. Pan Kai buru-buru mengikutinya sambil memperingatkan, "Kamu tidak akan pergi menemuinya, kan? Aduh, sudah kubilang jangan bergaul dengannya. Dia seorang 'sosialita'—kau tahu apa itu 'sosialita'? Jiang Mu, Jiang Jiang..."
Pan Kai terus memanggil-manggil Jiang Mu sepanjang jalan, menarik perhatian banyak orang. Jiang Mu merasa seperti ada seekor lalat raksasa yang terus berdengung di telinganya. Ia menoleh dan melontarkan dua kata, "Diam."
Pan Kai menjawab dengan lantang, "Baik."
Keduanya lalu tiba di depan pintu kelas satu. Jiang Mu memberi isyarat dengan matanya kepada Pan Kai, "Kamu yang tanya."
Pan Kai memang mengenal banyak orang di kelas satu. Ia memanggil seorang siswa laki-laki dan bertanya, "Di mana Kepala Toilet?"
Siswa itu menatap gadis di belakang Pan Kai dengan rasa ingin tahu, lalu menjawab, "Hari ini tidak masuk. Sepertinya izin."
Kemudian ia bertanya, "Siapa gadis itu?"
Pan Kai menurunkan suaranya dan berbisik di telinga siswa itu, "Calon kakak iparmu."
Mereka saling bercanda beberapa saat, lalu ketika mereka menoleh, tidak ada seorang pun di belakang mereka—Jiang Mu sudah pergi. Pan Kai segera berpamitan dan berlari mengejar Jiang Mu.
Ketika ia melihat Pan Kai menyusul, Jiang Mu menoleh dan bertanya, "Pernahkah kamu mendengar tentang 'Tou Qi'?"
"Pernah. Malam arwah kembali, bukan? Saat kakekku meninggal, seluruh keluarga berjaga sepanjang malam. Ayahku dan yang lain bermain mahjong, sementara aku bermain game di kamar kakekku. Tepat tengah malam, aku mendengar suara memanggil, 'Xiao Kai, Xiao Kai'—aku mati beberapa kali karena itu. Aku kesal dan membuka tirai, lalu melihat bayangan kakekku di kaca jendela! Rumah kakekku di lantai tiga, dan bayangan itu melayang di luar..."
Melihat Jiang Mu berjalan semakin cepat, Pan Kai berseru dengan cemas, "Hei, tunggu aku! Aku tidak berbohong, sungguh! Kamu harus percaya padaku."
Saat Jiang Mu hampir tiba di depan kelas, ia tiba-tiba berhenti dan berkata, "'Tou Qi' yang aku maksud adalah orang."
Pan Kai tertegun, sudut bibirnya berkedut, "Orang itu pasti sangat aneh!"
Catatan Penerjemah:
[Xiaohong dan Dahong dalam film animasi Big Hero 6. Xiaohong Tokoh protagonis utama. Seorang jenius teknologi berusia 14 tahun yang tinggal di kota fiksi "San Fransokyo" (perpaduan San Francisco dan Tokyo) bertubuh mungil, pendiam, dan terkesan rapuh. Dahong Robot medis pelukan yang diciptakan oleh kakak laki-laki Hiro. Bentuknya besar, lembut, dan menggemaskan—berbeda dengan robot-robot pada umumnya.]
[Dalam sistem pendidikan di Tiongkok, siswa SMA sering mengikuti "晚自习" (wǎn zì xí) — yaitu jam belajar malam di sekolah setelah jam pelajaran reguler selesai. Biasanya berlangsung sekitar pukul 19.00–21.00 atau lebih, dan siswa mengerjakan PR atau belajar mandiri di kelas.]
["中国" (Zhōngguó) artinya "Tiongkok" atau "China"]
["Sepuluh Ribu Mengapa" adalah buku ensiklopedia sains populer yang sangat terkenal di Tiongkok. Nama buku ini berasal dari karya penulis sains terkenal asal Rusia, M. Ilin.]
["所长" (Suǒ Zhǎng). 所 (Suǒ) = tempat / institusi / kantor dan 长 (Zhǎng) = kepala / pemimpin. Jadi, "所长" secara umum berarti "Kepala" atau "Pimpinan" dari suatu institusi]
["sosialita" biasanya, Orang yang suka bergaul dan aktif di acara-acara sosial. Sering dikaitkan dengan kalangan atas, selebriti, atau orang kaya. Kata yang digunakan Pan Kai dalam bahasa Mandarin adalah "社会人" (shèhuì rén) — yang bukan berarti "sosialita" seperti dalam bahasa Indonesia. Artinya disini adalah Seseorang yang tidak patuh pada aturan, bergaul dengan orang-orang di luar sekolah, dan sering terlibat dalam aktivitas yang berbahaya atau tidak sah (seperti merokok, berkelahi, berperilaku tidak benar).]
Komentar
Posting Komentar