Legend of the Female General-Bab 215 Jenderal He
Salju turun sepanjang malam. Keesokan paginya, lapisan es berwarna keperakan menyelimuti halaman.
Qingmei bangun pagi-pagi sekali untuk memasak bubur. Sebelum mulai nekerja, ia secara khusus memeriksa apakah ada orang di kamar He Yan. Melihat He Yan sedang memakai jubah luarnya, Qingmei bertanya dengan rasa ingin tahu, "Nona Muda, kenapa kau bangun pagi-pagi sekali? Dingin sekali diluar, kenapa tidak tidur lebih lama?"
"Tidak apa-apa," He Yan meregangkan badan, "Aku sudah terbiasa."
Di Garda Liangzhou (pasukan militer di perbatasan Liangzhou), ia harus bangun pagi setiap hari. Setelah kembali ke Shuojing, kebiasaan ini tidak mudah dihilangkan. Saat Qingmei sedang memasak bubur, He Yan mengambil sapu dari sudut halaman untuk menyapu salju.
"Nona Muda, tolong letakkan itu! Bagaimana bisa kau melakukan pekerjaan seperti itu? Biar pelayan ini yang mengurusnya," kata Qingmei cemas.
He Yan tersenyum, "Kamu masih memasak bubur. Bagaimana mungkin satu orang melakukan dua hal? Ini hanya menyapu salju. Aku bekerja jauh lebih keras di pos militer, jangan khawatir."
Qingmei bersikeras, "Tidak, Nona Muda. Silakan ambil penghangat tangan dan duduklah di dalam. Pelayanmu bisa menangani ini."
"Tidak apa-apa."
Chiwu, yang berjongkok di sudut, merasa sangat tidak nyaman. Meskipun ia ditugaskan untuk melindungi He Yan, keluarga He benar-benar miskin, hanya memiliki Qingmei sebagai pelayan mereka. Kini, menyaksikan nona muda dan pelayan itu bertengkar karena menyapu salju, sulit baginya, seorang pria dewasa, untuk berpura-pura tidak memperhatikan.
Setelah ragu-ragu sejenak, Chiwu berdiri dan berkata, "Biar aku saja."
Sebelum He Yan sempat berbicara, Qingmei tersenyum cerah dan menyodorkan sapu ke tangan Chiwu, "Kalau begitu, terima kasih, Penjaga Chiwu!"
Chiwu: "..." Ia menduga pelayan kecil itu memang sedang menunggu hal ini.
He Yan merasa agak malu. Lagipula, Chiwu adalah anggota berbakat dari Kamp Sembilan Bendera, dan mengikuti Komandan Xiao Jue, dia mungkin belum pernah melakukan tugas seperti menyapu. Menggunakan penjaga bersenjata pedang sebagai pelayan terlihat seperti keluarga He memanfaatkannya. He Yan berkata, "Tidak apa-apa, aku yang akan melakukannya."
"Tidak apa-apa," kata Qingmei riang, "Penjaga Chi Wu sangat baik dan kuat. Nona Muda, kau kurang sehat, istirahatlah saja."
Chiwu berpikir dalam hati, pelayan kecil ini mungkin tidak pernah melihat nona muda mereka mengangkat batu seratus jin (satuan berat, 1 jin = 0,5 kg) sendirian di Garda Liangzhou.
Namun, dengan kehadiran dua wanita, menyapu salju adalah sesuatu yang harus ia tangani. Chiwu mengambil sapu dan menyapu halaman sementara Qingmei mengawasi bubur di dapur dan menginstruksikannya, "Penjaga Chiwu, jangan hanya menyapu bagian tengah, kau juga perlu menyapu bagian sudutnya. Bagaimana jika tuan muda pulang malam-malam dan terpeleset karena tidak bisa melihat? Masih ada salju tersisa di sisi kiri..."
He Yan duduk di bangku dekat pintu, merasa cukup lucu melihat seorang penjaga jangkung diperintah oleh seorang pelayan kecil.
Setelah Chiwu selesai menyapu dan Qingmei selesai memasak bubur, ketiganya makan bersama di meja. He Sui dan He Yunsheng telah pergi lebih awal, dan Qingmei telah menyiapkan panekuk pada malam sebelumnya untuk mereka bawa. Setelah makan, He Yan duduk di kamarnya, melamun.
Ia ingin mengunjungi kediaman Xu untuk mencari Fu Wang lagi, tetapi ketika ia membuka laci, tidak ada sehelai uang perak pun yang tersisa. Ia merasa sedih, berpikir bahwa saat berada di kediaman Xiao, seharusnya ia meminjam dari tumpukan uang perak yang diberikan oleh Xiao Jue didalam laci lemari itu. Dengan statusnya saat ini, akan sulit untuk meminjam sekarang. Mungkin... ia bisa meminjam pada Lin Shuanghe?
Saat He Yan sedang memikirkan uang, di gudang yang ditempati Chiwu, seekor merpati berbulu abu-abu terbang masuk dan bertengger di balok, matanya yang hitam seperti kacang menatap Chi Wu. Chiwu membuka tangannya, dan merpati itu terbang menghampirinya. Ada sebuah tabung tembaga kecil yang diikatkan ke kaki merpati itu. Chiwu melepaskan ikatannya dan mengeluarkan sebuah catatan dari dalam tabung itu.
Setelah membaca catatan itu, matanya menunjukkan sedikit kebingungan, tetapi ia segera menenangkan diri. Ia melepaskan merpati itu dan pergi mengetuk pintu kamar He Yan.
He Yan membuka pintu dan melihat Chiwu, lalu bertanya, "Ada apa?"
"Pedang Yinqiu milik Tuan Muda rusak saat pertempuran melawan orang-orang Wutuo di kota Jiyang, sarung pedangnya retak," kata Chiwu. "Pedang Yinqiu ditempa oleh Ahli Pedang Lu Daichuan, dan saat ini sedang diperbaiki oleh Tuan Lu."
He Yan mengangguk, tidak mengerti mengapa Chi Wu memberitahunya hal ini.
"Hari ini adalah hari untuk mengambil pedang, tetapi Tuan Muda telah meninggalkan kota. Aku juga harus meninggalkan kota dan tidak bisa pergi mengambilnya. Tuan Lu punya aturan – dia tidak akan menunggu lebih dari waktu yang ditentukan. Jika kita melewatkan hari ini, kita harus menunggu seratus hari (sekitar tiga bulan) lagi sebelum Tuan Lu muncul kembali. Hanya pemilik pedang atau orang terdekatnya yang boleh mengambilnya."
"Ah?" He Yan tertegun, "Kedengarannya agak ketat."
Namun, pengrajin yang terampil seringkali memiliki aturan mereka masing-masing. Karena Lu Daichuan mampu menempa harta karun seperti pedang Yinqiu, memiliki aturan seperti itu wajar saja.
"Nona He," Chiwu menatap He Yan dan berkata, "kau sekarang tunangannay Komandan. Tuan Lu akan setuju jika kau pergi mengambil pedang itu. Jadi, bisakah kau membantu Tuan Muda dan mengambil pedang itu dari Tuan Lu?"
He Yan menjawab, "Tidak sulit, tapi bagaimana aku bisa membuktikan bahwa aku... ehem, tunangannya Komandan?"
"Bukankah kau punya giok hitam bermotif ular milik Tuan Muda?" Chiwu berkata, "Itu sudah cukup."
He Yan melepaskan Liontin giok hitam dari pinggangnya: "Ini bisa membuktikan identitas Tuan Muda?"
Chiwu: "Benar."
"Lalu, bisakah ini digunakan di rumah uang untuk menarik perak?"
Chiwu: "...Kalau Nona He butuh uang, bilang saja padaku. Tuan Muda tidak akan tinggal diam."
He Yan tertawa, "Aku hanya bercanda." Namun, He Yan diam-diam mengerti bahwa giok hitam ini sepertinya bisa digunakan di mana saja, jadi menukarnya dengan perak seharusnya tidak menjadi masalah.
He Yan berkata, "Baiklah, ini bukan masalah besar. Berikan saja alamat Tuan Lu, dan aku akan segera pergi."
"Tuan Lu tinggal di pegunungan di utara kota, cukup jauh," kata Chiwu. "Aku akan menyiapkan kereta dan pengawal untuk Nona He agar kau aman selama perjalanan."
He Yan: "Tidak perlu, para pengawalmu itu bahkan tidak bisa mengalahkanku. Kalau kita dalam bahaya, Siapa yang akan menyelamatkan siapa? Berikan saja alamatnya, ini siang bolong, jadi tidak akan terjadi apa-apa. Lagipula, setelah insiden pembunuhan baru-baru ini, jumlah pengawal kota sudah dua kali lipat, jadi tidak akan ada masalah."
He Yan bersikeras, dan Chiwu tidak bisa membujuknya, jadi ia terpaksa mengalah.
Chiwu tampaknya memiliki urusan mendesak yang harus diselesaikan. Setelah menuliskan alamat Tuan Lu untuk He Yan, ia bergegas meninggalkan kediaman. He Yan menenangkan Qingmei sebelum membawa Xiangxiang keluar. Meskipun kediaman Tuan Lu jauh, tidak sulit untuk menemukannya. Salju di Gunung Utara kota lebih tebal daripada di kota, dan semuanya tertutup salju putih. Jika dia naik kereta melewati pegunungan, mungkin akan memakan waktu sehari semalam. He Yan senang ia tidak mengikuti saran Chiwu untuk naik kereta; setidaknya dengan menunggang kuda, ia bisa mencapai Tuan Lu sebelum matahari terbenam.
Lu Daichuan ini adalah karakter yang cukup menarik. He Yan awalnya mengira bahwa tinggal di pegunungan dia pastilah seorang bijak yang tidak peduli dengan masalah duniawi, tetapi yang mengejutkan, Lu Daichuan telah membangun kediaman bak istana di pegunungan, sungguh megah. Begitu He Yan masuk, dua harimau besar berlari menghampirinya, menggeram ke arahnya.
Xiangxiang terkejut dan hampir menjatuhkan He Yan. He Yan memegang kendali erat-erat, menenangkan Xiangxiang, lalu turun dan mendapati kedua harimau belang itu terbuat dari kayu. Bola mata mereka adalah permata hitam yang bersinar hijau dalam kegelapan, sekilas tampak hampir mirip dengan harimau asli.
He Yan terkesima – ini pasti hasil karya Lu Daichuan. Ia benar-benar seorang ahli, mampu mengukir bulan dan membentuk awan.
Pintunya tidak terkunci, hanya sedikit terbuka. Kedua harimau itu terus menggeram pada He Yan, tetapi tidak bergerak. Setelah berpikir sejenak, He Yan mendorong pintu hingga terbuka dan masuk. Saat masuk, ia merasa seperti melangkah ke dalam miniatur Wei Agung.
Di rumah besar di utara ini, terdapat sebuah kanal kecil seperti yang ada di Kota Air Jiangnan, dengan perahu-perahu kecil berpenumpang tunggal yang mengapung di atasnya. Perahu-perahu itu memiliki tirai kasa yang menggantung, dan alunan musik yang indah terdengar darinya. Setelah diperhatikan dengan saksama, tidak ada orang di dalam perahu, hanya kotak-kotak kayu.
Bunga dan tanaman di dinding memang buatan, tetapi membuatnya begitu hidup sehingga bahkan di musim dingin, menciptakan suasana kemakmuran yang meriah. Batu-batu berwarna yang tersebar di tanah bukanlah permata berharga, namun berkilauan dengan cahaya yang indah, memikat mata. He Yan merasa seolah-olah memasuki istana naga legendaris atau negeri dongeng, dan tidak bisa menahan diri untuk mengagumi bagaimana seorang ahli seperti itu dapat menempa harta karun seperti pedang Yinqiu.
Tepat saat He Yan mencapai ruang utama, terdengar suara "wusss" dan pintu terbuka sendiri. He Yan melangkah masuk dan melihat seorang pria berjubah putih duduk di ruangan yang luas. Ia sedang mengukir capung dari bambu, terlihat capung itu hampir selesai dibuat. He Yan memperhatikan sambil menarik ekor capung itu, dan capung itu mulai berdengung dan terbang sendiri.
He Yan berseru kaget. Pria itu menoleh, membuat He Yan bisa melihat wajahnya.
Sebenarnya, pakaian pria ini memang seperti orang dari dunia lain – jubah putihnya terbuat dari bahan yang luar biasa ringan dan mengalir. Melihat pakaiannya saja, ia tampak seperti seorang pertapa dari dinasti sebelumnya, tetapi penampilannya benar-benar berbeda. Ia sangat bulat, tidak berlebihan jika dikatakan seperti bola. Ketika pria itu tersenyum padanya, ia menyerupai Buddha Maitreya, tidak terlihat seperti orang yang memiliki aura "sarjana mulia". Ia juga cukup muda, tampak baru berusia dua puluhan – seorang pria muda yang bulat.
Hal ini sungguh tidak terduga bagi He Yan, yang telah mengantisipasi akan bertemu dengan seorang pria tua yang dingin, angkuh, dan eksentrik berjanggut putih. Namun, ia justru menemukan pria gemuk yang cukup ramah ini.
"Kita kedatangan tamu," pria itu tersenyum.
"Apakah kau Tuan Lu?" He Yan melepaskan liontin giok dari pinggangnya dan menunjukkannya, "aku datang untuk mengambil pedang Komandan Xiao."
"Oh?" Lu Daichuan menatap liontin giok di tangan He Yan dan terdiam sejenak, "Mengapa pedang Xiao Huaijin ada bersamamu? Apakah kau tunangannya Xiao Jue?"
He Yan terkejut dengan pertanyaan ini dan sempat bingung harus menjawab apa. Setelah beberapa saat, He Yan mengangguk, "Ya, benar."
"Jadi, kau tunangan Huaijin," Lu Daichuan mengangguk dan menatap He Yan, "Lumayan, lumayan."
He Yan merasa agak tidak nyaman dan berpikir sejenak sebelum bertanya, "Tuan Lu sepertinya cukup dekat dengan Komandan Xiao?" Orang ini tampak begitu ramah, sama sekali tidak seperti karakter sulit didekati yang digambarkan Chiwu.
"Tidak terlalu dekat maupun jauh," Lu Daichuan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan bertepuk tangan. Terdengar suara berderit, tatapannya mengikuti arah suara itu dan melihat sebuah patung kayu di rungan, tingginya sekitar 30 cm, yang dibuat menyerupai wanita cantik. Patung itu berjalan "tap tap tap" ke dalam ruangan, tanpa diketahui tujuannya.
"Apakah... Tuan Lu yang membuat semua ini?"
"Hanya beberapa boneka," Lu Daichuan tersenyum, "Tidak ada orang hidup di vilaku, hanya boneka yang membantuku melakukan pekerjaan sehari-hari."
Ini terdengar agak menakutkan, tetapi anehnya, He Yan tidak merasa takut. He Yan bertanya, "Mengapa kau tidak menyewa beberapa pengrajin untuk membantu? Atau turun saja dari gunung?"
"Tidak bisa seperti itu," kata Lu Daichuan, "Aku sudah tinggal di gunung ini selama lebih dari tiga puluh tahun. Kehidupan di luar sana tidak cocok untuk ku."
He Yan: "Bolehkah aku bertanya berapa usia mu, Tuan?"
Bagaimana mungkin seseorang yang terlihat baru berusia dua puluhan tahun bisa tinggal di gunung selama lebih dari tiga puluh tahun?
"Mau menebak?"
Tidak mampu menebak, He Yan hanya berkata, "Tuan terlihat tidak lebih dari dua puluh tahunan bagiku."
Hal ini tampaknya menyenangkan Lu Daichuan, yang memegang perutnya dan tertawa terbahak-bahak, "Nak, kata-katamu semanis madu. Pantas saja Xiao Huaijin menyukaimu. Kau benar-benar menyenangkan."
He Yan: "..."
Tepat ketika He Yan bertanya-tanya mengapa ahli pedang ini tampak begitu ramah, patung kayu yang tadi keluar berjalan masuk dengan bunyi "tap tap tap", membawa sebuah kotak panjang dan diletakkannya di hadapan He Yan.
He Yan membuka kotak itu dan melihat sebilah pedang panjang tergeletak di dalamnya, bilahnya seputih salju dan sedingin es – memang Yinqiu.
"Sudah diperbaiki?" seru He Yan riang, tidak melihat retakan di sarungnya.
"Itu hanya pedang, tidak butuh waktu lama," Lu Daichuan menatap He Yan, senyumnya ramah. "Karena kau tunangannya Xiao Huaijin, demi dia, aku juga bisa menempa senjata atau harta karun untukmu. Apa yang kau inginkan?"
He Yan bercanda, "Bisakah Tuan menempa pedang seperti Yinqiu untukku?"
Lu Daichuan menatap He Yan dan tersenyum, "Tidak."
"Kenapa?" tanya He Yan sambil tersenyum, "Apakah Tuan menganggapku tidak layak untuk pedang buatanmu?"
"Kau sudah punya pedang, kau tidak butuh pedang lagi."
Senyum He Yan langsung membeku lalu dia menatap Lu Daichuan.
Bagaimana orang ini tahu dia punya pedang?
"Tuan, aku tidak punya pedang," kata He Yan, "aku bahkan tidak punya senjata yang layak."
"Kau akan punya," Lu Daichuan menggelengkan kepalanya, tatapannya seolah menembus semua rahasianya, "Pedangmu akan kembali ke sisimu lagi."
He Yan menatap Lu Daichuan, mencoba menemukan kekurangan dalam ekspresinya, tetapi sayangnya, selain senyum ramahnya yang selalu tersungging, He Yan tidak dapat menemukan apa pun.
He Yan berdiri sambil memegang kotak berisi Yinqiu, "Tuan, hari sudah mulai malam. Aku datang hari ini hanya untuk mengambil pedang. Karena sudah mendapatkannya, aku harus kembali." He Yan membungkuk kepada Lu Daichuan, "Terima kasih, Tuan."
"Tidak perlu formalitas." Lu Daichuan juga berdiri, terlihat cukup merepotkan mengingat tubuhnya yang gemuk – sebuah bola yang mencoba berdiri tegak membutuhkan usaha. Ia menggenggam tangannya dan mengantar He Yan ke pintu, diapit oleh dua harimau belang dan patung kayu, bagaikan seorang kaisar eksentrik yang tersembunyi di pegunungan yang dalam. "Ayo."
He Yan menaiki kudanya dan berbalik, kepergiannya agak menyerupai langkah mundur yang tergesa-gesa.
Saat derap kaki kuda perlahan menghilang, Lu Daichuan mendecak lidah dan menatap sosok kayu yang tingginya hanya sebatas betis, "Feicui, apa kau pikir aku membuat nona muda takut?"
Sosok kayu itu berpegangan erat pada kakinya, terdiam.
"Baiklah," Lu Daichuan menggelengkan kepalanya lagi, berbalik sambil bergumam pada dirinya sendiri, "Huaijin, Huaijin, hanya ini yang bisa dilakukan gurumu untuk membantumu."
...
Kegelapan turun dengan cepat di pegunungan.
Ketika He Yan tiba, matahari belum terbenam, dan ia belum lama tinggal di "villa" Tuan Lu, tetapi saat ia pergi, langit sudah benar-benar gelap.
Untungnya, bulan bersinar terang malam ini, menerangi pegunungan yang tertutup salju lebih terang dari biasanya. He Yan mengingat rutenya dengan baik, dan ia menunggang Xiangxiang menuruni gunung, pikirannya berulang kali memikirkan percakapannya dengan Tuan Lu.
Bagaimana Tuan Lu tahu bahwa ia sudah memiliki pedang berharga? Apakah ia sudah mengetahui sesuatu sebelumnya, ataukah ia benar-benar seorang ahli dari dunia lain yang bisa melihat kebenaran jiwa yang dipinjam?
Namun sekarang, sendirian dan tidak tahu apa-apa tentang Lu Daichuan, He Yan memutuskan untuk menunggu hingga bertemu Xiao Jue setelah turun gunung untuk menanyakan identitas Lu Daichuan sebelum membuat rencana apa pun.
He Yan menghela napas pelan. Tepat ketika masalah menjadi "Nona He" yang menyamar sebagai pria untuk bergabung dengan Garda Liangzhou telah teratasi, masalah lain muncul. Hidup seolah-olah hanya tentang menyelesaikan satu demi satu masalah.
Tatapan He Yan tertuju pada kotak kayu di depannya, setidaknya ia telah mengambil pedang Yinqiu. Ia bertanya-tanya di mana He Rufei menyimpan pedang Qinglang-nya sekarang. Mengingat He Rufei yang sangat berhati-hati, kecuali benar-benar diperlukan, ia tidak akan menunjukkan Qinglang kepada siapa pun. Jika He Yan masih memiliki Qinglang, ia akan memolesnya setiap hari.
Kuda itu berlari kencang menembus pegunungan, angin yang bertiup menusuk wajahnya, dan napasnya seketika berubah menjadi kabut putih di udara malam – udara pegunungan sangat dingin.
Tiba-tiba, sesuatu terbang ke arahnya dari belakang, mengejutkan kudanya yang tiba-tiba berdiri tegak dengan kasar. He Yan menarik kendali, dan sesaat kemudian, seseorang terbang dari belakangnya, ujung pedang yang dingin dan berkilauan mengarah ke punggungnya.
Seorang pembunuh!
He Yan menghindar ke samping, turun dari kudanya, dan sebelum ia sempat melihat siapa orang itu, orang itu telah kembali, menerjangnya dengan pedang yang diarahkan langsung ke jantungnya. Orang ini berniat menghabisi nyawanya tanpa sepatah kata pun.
Di tempat terpencil tanpa siapa pun di sekitarnya, bahkan berteriak pun tidak akan menarik perhatian para penjaga kota. Dan ia tidak memiliki senjata, cukup merepotkan. Tidak punya pilihan lain, He yan memecahkan kotak kayu yang terselip di bawah lengannya dengan bunyi "gedebuk", dan pedang Yinqiu jatuh ke tangan He Yan.
Baik di kehidupannya yang lalu maupun kehidupannya yang sekarang, meskipun ia pernah melihat dan menyentuhnya, ini adalah pertama kalinya ia menghunus pedang Yinqiu. Begitu ia menggenggamnya, ia merasakan pedang itu benar-benar sedingin es, setajam dan sekeras pemiliknya.
Maaf, Xiao Jue, He yan meminta maaf dalam hati, "Aku harus meminjam pedangmu sebentar."
He Yan tiba-tiba menghunus Yinqiu dan menatap orang di depannya, sambil berteriak, "Siapa kau?"
Di bawah sinar bulan yang menyelimuti tanah, He Yan akhirnya bisa melihat dengan jelas bahwa lawannya terbungkus jubah hitam, tudung menutupi sebagian besar wajahnya, hanya memperlihatkan sedikit dagu yang tampak seperti batu giok di malam hari. Sebelum He yan sempat melihat lebih dekat, orang itu sudah dengan tidak sabaran mengayunkan pedangnya ke leher He Yan.
Mulai bertarung tanpa sepatah kata pun? He Yan terkejut, tetapi niat membunuh di wajahnya menunjukkan satu hal – orang itu ingin membunuhnya.
Sepertinya orang ini hanya ingin merenggut nyawanya. He Yan mengerutkan kening, bertanya-tanya apakah orang ini adalah orang-orang yang dikirim oleh He Rufei lagi. Tapi terakhir kali ada beberapa orang, mengapa kali ini hanya satu?
Namun, tidak lama kemudian, He Yan mengerti mengapa hanya ada satu orang kali ini. Dibandingkan dengan para pembunuh sebelumnya, keahlian orang ini jauh lebih unggul. Bahkan He Yan, yang sedang melawan orang ini, tidak kuasa menahan rasa takjub. Ilmu pedang orang ini begitu dahsyat, tampak setenang air namun sarat dengan niat membunuh, setara dengannya.
He Yan terkesima – siapa gerangan orang ini? Bahkan di Shuojing, keahlian seperti itu langka. Apakah He Rufei sekarang memiliki orang sekuat itu di bawah komandonya?
Tak ada waktu untuk berpikir lebih jauh saat pedang mereka menari-nari, menimbulkan suara berdenging. He Yan menghindari ujung pedang orang itu dan menusukkan sikunya ke perut orang itu, tetapi orang itu tampaknya telah mengantisipasi serangan mendadaknya. Orang itu menghindar ke samping dan melesat ke belakang He Yan, menusukkan pedangnya. tidak mampu menghindar tepat waktu, He Yan hanya bisa membalas dengan tusukan ke belakang sambil membelakangi orang itu. Pedang mereka beradu dengan bunyi "bang", dan keduanya mundur beberapa langkah.
He Yan berhenti sejenak, entah kenapa merasakan keakraban. Ia tidak tahu dari mana perasaan ini berasal, tetapi sebelum ia sempat menyadarinya, orang itu telah menyerang lagi dengan pedangnya.
Lawan bergerak sangat cepat, tidak membiarkan celah atau membuang waktu setiap selesai melakukan serangan lalu menyerang lagi. Gerakan pedang mereka bagaikan badai, halus dan padat. Yinqiu di tangan He Yan lincah dan tajam, kini ia sudah terbiasa menggunakannya, sehingga kebiasaan dan kelemahan "Jenderal Fei Yun" itu tidak lagi sepenuhnya tersembunyi.
Salju menari-nari tertiup angin, dan di malam hari, rumpun bambu seakan berbisik, mengubur niat membunuh dengan lembut.
Jari-jari kaki He Yan menyentuh tanah dengan ringan, dan Yinqiu tampak beresonansi dengan jiwanya. Akhirnya menyadari kelemahan dalam permainan pedang lawannya, He Yan tidak ragu – sosoknya bergerak secepat kilat, ia menikam ke arah lawan.
Pada saat yang sama, orang itu juga menikam ke arah He Yan.
Kedua pedang itu menghasilkan suara benturan yang tajam di udara, dan saat mereka saling berpapasan, dengan bunyi "jepret", kilatan dingin terbelah dua – pedang orang berpakaian hitam itu telah dipotong menjadi dua oleh pedang Yinqiu. He Yan segera berbalik, menusukkan pedangnya dengan cepat ke arah punggung orang yang belum berbalik itu.
Ujung pedang itu hanya sehelai rambut lagi untuk menembus punggung orang dengan pakaian hitam itu.
Namun pada jarak sekecil itu, pedang itu berhenti.
Segala sesuatu di sekitarnya terasa sunyi mencekam, hanya suara salju yang turun dan kicauan burung bangau liar dari lembah yang samar. He Yan menatap punggung orang itu, seolah merasakan sesuatu, tangannya yang memegang gagang pedang sedikit gemetar.
Orang itu tetap tidak bergerak. Perlahan, He Yan berbicara dengan suara serak: "Siapa kau?"
Pada saat itu, bulan di gunung menerobos awan gelap, ribuan puncak gunung bertabur batu giok, dan sepuluh ribu jurang terbentang dengan perak. Orang itu perlahan berbalik, dan membuka tudungnya, memperlihatkan wajah yang familiar.
"Xiao Jue..." gumam He Yan.
Jubah hitamnya berkibar pelan tertiup angin malam bersalju, raut wajah pemuda itu secantik giok yang dipahat, sempurna tidak terjelaskan, mata hitamnya yang sebiru air musim gugur seakan menyimpan emosi yang tida terjelaskan, tatapannya terpaku pada He Yan, seolah dari masa lalu ke masa kini, dan mungkin ke masa depan.
"Ilmu pedangmu telah meningkat pesat."
Xiao Jue melengkungkan bibirnya: "Lama tidak bertemu, Jenderal He."
Komentar
Posting Komentar