Legend of the Female General-Bab 180 Ilmu pedang

Kota Rundou perlahan-lahan kembali pulih. Pasukan Yan He tidak hanya mengusir orang-orang Wuto, tetapi mereka juga membawa makanan. Beras yang dikirim dari Huayuan telah meringankan krisis yang mendesak di Rundou.

"Jenderal Fei Hong tidak ada di Huayuan?" Li Kuang menatap Yan He dengan penuh tanya di seberangnya. "Dia sudah kembali ke Suojing? Bagaimana mungkin?"

"Apakah kau meragukan kata-kataku?" Yan He mengerutkan kening.

"Tidak," kata Li Kuang, "Hanya saja... Ketika Rundou pertama kali dikepung oleh orang-orang Wuto, aku segera mengirim orang untuk meminta bantuan Jenderal He. Tiga kelompok terpisah dikirim – mustahil tidak ada tanggapan sama sekali. Aku pikir dia tidak datang karena situasi di Huayuan sedang sulit, tetapi... bagaimana mungkin dia kembali ke Suojing?"

"Kau harus menanyakan itu padanya," jawab Yan He acuh tak acuh, meletakkan tangannya di belakang kepala dan bersandar di kursinya. "Aku dan He Rufei tidak dekat."

Li Kuang tetap diam.

Saat mereka duduk diam, seseorang masuk – ternyata Zhao Shiming. Ia melirik Yan He terlebih dahulu sebelum dengan hati-hati berkata kepada Li Kuang: "Komandan, soal itu... Hari ini adalah pemakaman Nona Qiluo. Maukah kau..."

Mendengar ini, ekspresi Li Kuang menghitam. Setelah beberapa saat, ia berdiri dan berkata, "Ayo pergi.

Qiluo sebenarnya bukan dari Rundou, tetapi orang tuanya telah meninggal dunia lebih awal, dan ia tidak memiliki kerabat lain. Karena sedang musim panas, mereka tidak dapat membawa jenazahnya kembali ke Suojing, sehingga mereka hanya dapat menguburkannya di tempat yang sama. Ia dimakamkan di hutan lebat di Kota Rundou, di tempat yang indah tidak jauh dari kebun anggur yang luas. Qiluo sangat suka makan anggur semasa hidupnya; dimakamkan di sini mungkin akan membuatnya sedikit lebih bahagia.

Setibanya di lokasi, mereka secara tidak terduga mendapati Xiao Jue dan He Yan juga ada di sana, bersama seorang pemuda berpakaian putih yang memegang kipas lipat. Meskipun kehadiran Xiao Jue tidak mengejutkan, melihat He Yan membuat Li Kuang merasa sangat tidak nyaman.

Hari itu, ia dan He Yan hampir saling menghunus pedang. Meskipun semuanya terhenti mendadak karena kemunculan Xiao Jue, setelah kekacauan mereda, di tengah malam, kata-kata He Yan terus terngiang di telinganya, membuatnya tidak bisa tidur. Di tempat tidur di sampingnya, ia merasa bisa menoleh dan melihat wajah Qiluo yang tersenyum, tetapi ketika sinar matahari masuk melalui jendela dan ia membuka matanya, ia tidak menemukan apa pun – ia tidak bisa menggapai apa pun.

Ia belum menjadi Zhang Xun, namun ia telah kehilangan Qiluo selamanya.

Ini terasa ironis, dan akan menjadi rintangan yang tidak pernah bisa ia atasi. Mulai sekarang, setiap hari ketika ia memikirkan Qiluo, ia akan diliputi rasa bersalah dan sakit yang tidak berkesudahan.

He Yan tidak memandang Li Kuang; sebenarnya, ia sama sekali tidak ingin memandang pria bodoh itu. Ia pernah berjuang bersama Li Kuang dan tahu Li Kuang setia dan jujur, tetapi mungkin karena ia seorang perempuan, ia selalu berpihak pada Qiluo dalam hal ini, merasa bahwa perempuan begitu polos.

Saat peti mati diturunkan ke tanah, semuanya beres. He Yan menyaksikan nisan kecil itu didirikan. Ironisnya, meskipun Qiluo meninggal di tangan Li Kuang, di batu nisan itu, ia tetap menjadi selir Li Kuang.

He Yan menundukkan pandangannya dan melangkah maju, meletakkan karangan bunga kecil berhiaskan bunga ungu di depan batu nisan. Gadis ini pernah berkata bahwa ia berharap tetap menjadi selir Li Kuang yang paling dicintai sepuluh tahun kemudian. Hidup memang tidak terduga – sebelum sepuluh tahun itu berlalu, ia telah tiada. Dalam arti tertentu, keinginannya seolah menjadi kenyataan; bukan hanya selama sepuluh tahun, tetapi seumur hidupnya, Li Kuang tidak akan pernah melupakan Qiluo.

Ia tidak tahu apakah yang menggenang di hatinya rasa kesedihan atau ironi, tetapi dengan orang yang sudah terkubur, tidak ada lagi yang bisa dikatakan.

Saat orang-orang perlahan bubar, mungkin karena Li Kuang tidak sanggup menatap tatapan He Yan, ia bergegas pergi tanpa menyapanya. He Yan dan kedua temannya berjalan di belakang, dan Lin Shuanghe diam-diam melirik He Yan, lalu berkata lembut, "He meimei, jangan bersedih."

He Yan adalah seorang wanita, dan wanita cenderung lebih berhati lembut. Lin Shuanghe juga tahu bahwa He Yan sangat tidak menyukai ketidakadilan dunia terhadap wanita. Keinginan Li Kuang untuk mempertahankan kota tidaklah salah, tetapi beban itu sepenuhnya jatuh pada selirnya, yang membayarnya dengan nyawanya. Menurut Lin SHuanghe, itu terlalu kejam.

Akhir-akhir ini ia sibuk membantu petugas medis kota Rundou merawat para prajurit yang terluka dan tidak sempat bertemu dengan He Yan. Ini pertama kalinya ia bertemu He Yan sejak tiba di Rundou, dan ia menyadari berat badan He Yan turun drastis. He Yan memang selalu kurus, tetapi sekarang ia tampak begitu rapuh hingga angin sepoi-sepoi pun bisa membuatnya roboh. Sepertinya kekurangan makanan di kota telah membuatnya kelaparan seperti ini.

He Yan menggelengkan kepalanya: "Aku hanya merasa... agak tidak berdaya."

Di dunia ini, kebanyakan orang berpikir seperti Li Kuang, sementara hanya sedikit yang berpikir seperti dirinya. Belum lagi semua ketidakadilan di dunia – saat ini, ia bahkan tidak mampu menyelamatkan satu Qiluo pun. Kekuatan satu individu sungguh tidak berarti. Mengubah perspektif semua orang sama sulitnya dengan naik ke surga.

"Namun," He Yan tersenyum tipis, "Aku tidak menyangka hari itu, ketika Komandan datang, dia akan memihakku." Ia menatap Xiao Jue, "Aku masih ingat apa yang dikatakan Komandan."

Xiao Jue berkata: "Itu bukan kata-kataku."

He Yan terkejut.

Ia tentu tahu itu bukan kata-kata Xiao Jue – itu adalah jawabannya kepada gurunya ketika ia berada di Xianchangguan. Ia tidak menyangka Xiao Jue akan mengingatnya, apalagi berbicara kepada mereka dalam situasi seperti itu.

"Lalu... kata-kata siapa itu?" tanya He Yan memancing.

Xiao Jue menatap ke depan tanpa bicara, pikirannya melayang ke suatu sore bertahun-tahun yang lalu di Xianchangguan, Suojing.

Saat itu, ia masih muda, belajar di akademi bersama teman-teman sekelasnya. Matahari musim semi terasa hangat, membuat orang mengantuk. Ia memejamkan mata dan berpura-pura tidur sambil mendengarkan ceramah guru dengan setengah hati. Pahlawan dari dinasti sebelumnya telah membunuh selirnya untuk memberi makan pasukannya, mendapatkan reputasi sebagai orang yang saleh. Para siswa muda dengan bersemangat menyuarakan pendapat mereka, masing-masing menganggap diri mereka "pahlawan." Ia tidak berpartisipasi – dunia ini seperti permainan catur, manusia seperti semut. Jika diberi waktu yang cukup, entah "pahlawan" atau "selir tercinta", semuanya hanyalah tetesan kecil dalam aliran sejarah; apakah mereka dapat menciptakan riak tidaklah penting.

Segalanya pada akhirnya akan berlalu.

Lamunannya baru setengah jadi tiba-tiba ia mendengar sang guru berbicara: "He Rufei, apakah kau punya pendapat yang berbeda?"

He Rufei?

Xiao Jue ingat bahwa Tuan Muda He, di antara semua siswa berbakat di Xianchangguan, menonjol karena kebodphannya, namun tekadnya sangat besar tidak tertandingi. Seandainya saja ia menyadari keterbatasannya sejak dini seperti Lin Shuanghe – sebaliknya, seluruh dirinya memancarkan hasrat ambisius untuk "menentang takdir." Orang-orang seperti itu umumnya dianggap menggelikan, tetapi semangat murni pemuda ini tidaklah buruk.

Ketika dipanggil oleh gurunya, ia mungkin hanya akan memberikan jawaban samar sebagai tanda setuju. Xiao Jue memejamkan mata, mendengarkan dengan acuh tak acuh.

"Semua orang bilang Zhang Xun adalah menteri yang setia dan orang yang saleh, yang memang benar, tapi bukankah mereka yang dimakan juga tidak bersalah? Aku bisa mengerti pilihannya, tapi kalau aku... aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu."

Bulu mata pemuda yang berpura-pura tidur itu sedikit bergetar, seperti sayap kupu-kupu yang hinggap di bunga-bunga namun terganggu oleh angin sepoi-sepoi yang lewat.

"Oh? Apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan memimpin pasukan yang tersisa untuk bertempur sampai mati melawan para pemberontak di luar kota. Mereka yang menghunus pedang seharusnya tahu ke mana pedang mereka harus diarahkan – entah ke musuh di depan mereka atau yang lemah di belakang mereka."

Kata-kata yang begitu kekanak-kanakan, naif, dan penuh amarah. Senyum mengejek tersungging di bibir pemuda itu lalu ia perlahan membuka matanya.

Saat itu juga, sinar matahari menerobos jendela, membuyarkan lamunannya. Cahaya keemasan menyinari sosok kurus dan mungil di depannya – seseorang yang biasanya biasa-biasa saja kini menjadi seindah pelangi di aliran sungai pegunungan.

"Aku takkan pernah menghunus pedangku melawan yang lemah."

Sepertinya ini pertama kalinya ia benar-benar memperhatikan penampilan He Rufei. Meskipun topeng menutupi wajahnya, terlepas dari situasinya, betapa pun bodoh dan tidak kompetennya orang ini, sikapnya selalu jujur dan selalu melihat ke depan.

Ejekan itu memudar dari bibir pemuda itu, perlahan berubah menjadi senyuman. Ia memandang ke luar jendela, merasakan hari musim semi yang indah dan gemilang, dan bahkan si bodoh yang biasanya diejek pun tampak mengagumkan.

Mungkin ia sama sekali bukan orang bodoh.

Di ujung hutan lebat, Xiao Jue belum menjawab pertanyaan He Yan. Sesampainya di sana, Xiao Jue berhenti dan berkata, "Aku ada urusan dengan Li Kuang, jangan ikuti aku."

He Yan mengangguk, memperhatikan Xiao Jue pergi lebih dulu.

Hubungannya saat ini dengan Xiao Jue agak aneh. Ia tidak bisa disebut bawahannya – berdasarkan gelarnya yang diberi Kaisar, posisi resminya secara alami lebih rendah daripada Xiao Jue, tetapi ia bukan bagian dari pasukannya. Namun, jika ia bukan bawahan, posisi Wuanlang tidak memiliki kekuatan nyata; jika ia tidak mengikuti Xiao Jue, ia tidak akan bisa berbuat apa-apa.

Lin Shuanghe melambaikan tangannya di depan He Yan: "He meimei?"

He Yan tersadar, "Kakak Lin."

"Aku terlalu sibuk beberapa hari terakhir ini. Petugas medis di Rundou tidak cukup, jadi aku terpaksa turun tangan." Saat ini, Lin Shuanghe sedikit mengeluh, "Sekarang gelar ku sebagai 'Dokter Ilahi Berbaju Putih' menjadi murahan, mengobati orang hampir gratis. Orang-orang mungkin berpikir aku hanya suka berbuat baik seperti biasa. Memei, ketika kita kembali ke ibu kota, jangan beri tahu orang lain bahwa aku mengobati wanita di luar Suojing. Aturan tidak boleh dilanggar – jika orang lain tahu, semua orang akan datang berobat kepada ku, dan keluarga Lin akan tergerus oleh semua pengunjung."

Lin Shuanghe adalah tipe orang yang selalu mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu dikhawatirkan. He Yan terdiam sesaat sebelum berkata, "Aku akan mengingatnya."

Baru setelah itu Lin Shuanghe merasa lega, lalu melanjutkan, "Aku belum bertanya padamu, bagaimana kabarmu di sini? Kau mengesankan, datang ke Rundou tanpa pamit. Garda Liangzhou hampir terjadi keributan besar – apa yang kau pikirkan? Sekalipun kau ingin meraih prestasi dan ketenaran, kau harus meraihnya pelan-pelan. Mengapa datang ke tempat berbahaya seperti ini? Sekalipun keberuntungan berpihak pada yang berani, kau harus menyelamatkan nyawa mu terlebih dahulu sebelum merencanakan masa depan."

Tahu ia sedang menggoda, He Yan hanya tersenyum.

"He meimei," Lin Shuanghe menatapnya, menghentikan gerakannya mengipasi dirinya dan merenung sejenak, "Mengapa aku merasa kau telah banyak berubah sejak terakhir kali aku melihatmu?"

"Benarkah?"

"Iya," jawab Lin Shuanghe dengan yakin.

Sejak pertama kali Lin Shuanghe bertemu He Yan di Garda Liangzhou, bahkan ketika ia terluka oleh parahnya Ridamuzi dan hampir meninggal, gadis ini selalu bersemangat dan energik, memancarkan kehangatan bagai matahari setiap saat. Matanya selalu memancarkan cahaya, penuh kehidupan. Kini, tepat sebulan setelah bertemu He Yan lagi, gadis ini tampak dibebani banyak kekhawatiran, menunjukkan ketenangan yang tidak biasa. Seolah-olah ada sesuatu yang telah merenggut semua kebahagiaannya dalam semalam, melahirkan jati dirinya yang lain.

Sesuatu yang asing, melankolis, sesuatu yang memisahkannya dari orang lain, membuatnya tidak mudah didekati.

"Ada sesuatu yang terjadi?" tanyanya.

He Yan menggelengkan kepalanya dan tersenyum, "Tidak ada." Namun, ia tiba-tiba teringat sesuatu yang lain dan bertanya kepada Lin Shuanghe: "Saudara Lin, selama aku pergi dari Garda Liangzhou, apakah ada sesuatu yang terjadi di sana?"

"Mengapa kau bertanya begitu?" Lin Shuanghe mengelus dagunya, "Apakah kau merasa ada yang salah?"

He Yan ragu sejenak sebelum berkata: "Saat aku bertemu komandan kali ini, komandan tidak bertanya mengapa aku datang ke Rundou sendirian, juga tidak memarahiku. Komandan tampak sangat tenang. Tidakkah kau merasa aneh? Komandan biasanya tidak seperti ini."

Mata Lin Shuanghe berkilat sambil tersenyum: "Ini cukup jelas. Kau datang ke Rundou untuk menyelamatkan rakyat. Karena tujuannya adalah menyelamatkan rakyat, Huaijin tentu saja tidak akan mengatakan apa-apa. Kau sibuk dan lelah akhir-akhir ini, Huaijin lebih mengkhawatirkanmu daripada apa pun, bagaimana mungkin dia memarahimu? He meimei, kau mungkin salah paham tentang Huaijin. Dia bukan orang yang tidak berperasaan; dia sangat lembut, terutama kepada orang-orang yang dia sayangi."

He Yan: "..."

Jawaban Lin Shuanghe yang tidak relevan membuat He Yan kehilangan kata-kata. Setelah terdiam sejenak, He Yan hanya bisa berkata, "Sudahlah, kalau dia tidak mau membahas masalah ini, aku tidak perlu terus mengkhawatirkannya." Yang lebih penting sekarang adalah He Rufei. Dengan He Rufei yang telah melakukan kejahatan sebesar itu, ia tidak punya banyak waktu untuk membalas dendam secara bertahap. Selama He Rufei masih menyandang gelar "Jenderal Fei Hong" untuk satu hari lagi, itu akan menjadi bencana bagi rakyat Wei Agung.

"Jangan terlalu banyak berpikir," Lin Shuanghe menghiburnya, "Beberapa hari lagi, kita akan kembali ke Suojing. Setelah pulang, aku akan mengajakmu berkeliling untuk bersantai. Oh ya, keluargamu juga dari Suojing, kan? Bertemu kembali dengan ayah dan saudara-saudaramu setelah pulang akan baik untukmu. Meskipun situasi identitasmu agak rumit... tapi itu bukan masalah besar. Kita akan menghadapi masalah yang datang dan menemukan solusinya bersama."

"Kembali ke Suojing?" He Yan tertegun. Ia ingin kembali ke Suojing, tetapi itu idenya sendiri. Dari kata-kata Lin Shuanghe, sepertinya Xiao Jue juga akan kembali.

"Tidak lama setelah kau meninggalkan Garda Liangzhou, Huaijin menerima perintah dari ibu kota untuk membawa beberapa rekrutan dari Garda Liang Zhou dan Tentara Selatan kembali ke Suojing. Tapi kami semua khawatir dengan situasi di Rundou saat itu, jadi Huaijin dan aku datang kesini lebih dulu, diikuti oleh pasukan. Semua orang pada akhirnya harus kembali. Dengan situasi saat ini dengan orang-orang Wuto, dunia tidak mungkin setenang sebelumnya. Lebih baik kembali lebih awal."

Lin Shuanghe menatap He Yan dengan rasa ingin tahu, "Ada apa? Apa kau tidak ingin kembali?"

He Yan menggelengkan kepalanya: "Bukan begitu. Aku hanya terkejut."

Jika Xiao Jue juga akan kembali, bukankah mereka harus bepergian bersama lagi? Ia telah bertekad untuk menjauh dari Xiao Jue agar tidak menimbulkan masalah, tetapi sekarang tampaknya hubungan mereka yang buruk ini sangat keras kepala. Interaksi mereka tidak bisa dihindari. Namun, perasaannya saat ini terhadap Xiao Jue sangat rumit, karena tindakan He Rufei memaksanya menghadapi masalah tertentu.

Melibatkan Xiao Jue hanya akan membawa kerugian tanpa manfaat.

Sudah sampai pada titik ini; memikirkannya lebih lanjut tidak akan membantu. Benar seperti yang dikatakan Lin Shuanghe – mereka akan menghadapi masalah saat datang dan melihat bagaimana cara mengatasinya.

Setelah bertukar beberapa kata lagi dengan Lin Shuanghe, He Yan pergi. Lin Shuanghe memperhatikan sosoknya yang menjauh, menyandarkan gagang kipasnya ke dagu, merenung sejenak lalu bergumam pada dirinya sendiri: "Bahkan tidak ada teguran... Sepertinya begitu Tuan Muda Xiao menyadari segalanya, dia menjadi mahir. Sungguh pintar, pantas menjadi orang nomor satu di Xianchangguan."

Lin Shuanghe dengan senang hati berjalan mengikuti arah yang He Yan lalui

...

Setelah berpamitan dengan Lin Shuanghe, He Yan berencana kembali ke kamarnya untuk menulis tentang pertemuannya dengan orang-orang Wuto di Rundou. Setiap pertempuran dapat memberikan petunjuk; mengenali diri sendiri dan musuh dapat memastikan kemenangan. Sebelum sampai di kamarnya, ia kebetulan melihat seseorang berlatih bela diri di halaman belakang. Gerakannya praktisi besar dan dramatis. Vegetasi di Rundou sudah gundul akibat kelaparan, dan latihan senjata orang itu telah mematahkan cabang-cabang pohon, hanya menyisakan batang-batang pohon telanjang yang tampak sangat menyedihkan.

Mendengar seseorang mendekat, orang itu menghentikan gerakannya, membawa tombak panjang bertaring tajamnya ke samping sambil menoleh. Jubah perak dan tombak panjang, rambut diikat tinggi, dengan sikap angkuh dan bangga – siapa lagi kalau bukan Yan He?

"Jenderal Yan," kata He Yan.

"Oh, hai He Yan," Yan He berjalan ke samping tempat seorang bawahan menyerahkan handuk basah. Ia menyeka tangannya dengan santai lalu melemparkan handuk itu ke samping, lalu duduk di tangga dan memberi isyarat kepada He Yan: "Duduk."

He Yan berpikir sejenak lalu duduk di sampingnya.

"Apa kau tadi melihatku berlatih tombak?" Yan He bertanya, "Bagaimana? Pernahkah kau melihat teknik tombak sehebat itu?"

He Yan terdiam sesaat lalu tersenyum tipis: "Sungguh luar biasa. Di seluruh Wei Agung, selain Jenderal Yan, tidak akan ada orang lain yang memiliki kemampuan tombak seperti itu."

Mendengar ini, bibir Yan He melengkung bangga, dan tatapannya ke arah He Yan melembut lalu ia mendengus: "Setidaknya kau punya penilaian yang baik."

He Yan mendesah dalam hati – setelah bertahun-tahun, temperamen Yan He sama sekali tidak berubah. Cukup puaskan egonya, dan mudah untuk memenangkan hatinya.

Dulu di Xianchangguan, Lin Shuanghe dan He Yan bersaing memperebutkan posisi terakhir, sementara Yan He dan Xiao Jue bersaing memperebutkan posisi pertama. Namun, persaingan mereka tidak menegangkan – Yan He selalu berada di posisi kedua, dan Xiao Jue selalu di posisi pertama.

Para siswa muda yang belajar di akademi semuanya berasal dari keluarga baik-baik dan merupakan individu yang berprestasi, jadi wajar saja jika memiliki semangat kompetitif. Namun, semangat kompetitif Yan He sangat kuat. He Yan masih ingat bagaimana, di akademi, Yan He akan menantang Xiao Jue setiap beberapa hari, seperti yang pernah dilakukan Wang Ba di Garda Liangzhou.

Xiao Jue biasanya mengabaikan tantangan semacam itu, tetapi ketika benar-benar kesal dengan kegigihannya, Xiao Jue akan bertanding dengan Yan He sekali. Baik dalam sastra, seni bela diri, panahan berkuda, atau lainnya, hasilnya selalu sama – Yan He berulang kali kalah tetapi terus bangkit. Sebenarnya, dalam hal ini, He Yan selalu merasa dirinya dan Yan He memiliki beberapa kesamaan, tetapi sayangnya, meskipun He Yan merasa meraka memiliki nasib yang sama, Yan He tidak menghargainya.

Yan He tidak menyukai He Yan.

Ia memang sombong dan meremehkan orang lain, umumnya menganggap orang yang tidak berguna tidak layak diperhatikan. Jika seseorang memiliki keahlian seperti Lin Shuanghe, itu tidak masalah, tetapi He Yan tampak tidak berguna. Di Xianchangguan, menjadi tidak berguna adalah dosa. Di masa mudanya, Yan He berusaha keras untuk mengolok-olok He Yan, membuatnya terlihat bodoh di depan orang lain, memasang jebakan untuknya, dan sengaja menabrak kudanya saat kompetisi berkuda – ia mencoba segala cara yang terpikirkan untuk menindas He Yan.

Ngomong-ngomong, jika ditanya siapa yang paling tidak disukai He Yan selama di Xianchangguan, Yan He pasti akan menjadi yang pertama.

Kemudian, ia meninggalkan Xianchangguan untuk bergabung dengan militer, setelah itu Xiao Jue bergabung dengan militer, dan tidak lama kemudian, Yan He juga bergabung, meskipun Yan He mengikuti jejak ayahnya, yang terlihat masuk akal. Sekarang di usia muda, ia tidak buruk-buruk amat. Ketika Rundou dalam bahaya dan He Yan menulis surat permintaan bantuan, ia berpikir mengingat temperamen Yan He, ia akan datang.

Meskipun He Yan tidak menyangka Yan He akan datang bersama Xiao Jue.

Seandainya beberapa tahun yang lalu, He Yan tidak akan pernah membayangkan suatu hari nanti ia akan duduk dan berbincang dengan tenang bersama Yan He. Saat itu, ia tidak tahu apa yang telah ia lakukan hingga menyinggung Yan He. Sebenarnya, ia hampir tidak pernah berbicara dengan YanHe dan tidak pernah menghalangi Yan He dengan cara apa pun. Jadi, mengapa, bagaimana pun baiknya ia memperlakukan Yan He, Yan He begitu membencinya?

Pertanyaan ini bisa dibilang salah satu dari sepuluh misteri masa muda He Yan. Kini dengan Yan He duduk di sampingnya, meskipun wajahnya masih menunjukkan jejak masa mudanya, ia... menjadi sedikit lebih tenang. Setelah bertahun-tahun, ia masih membenci "He Rufei" – kelakuan macam apa ini?

He Yan berkata dengan santai: "Wajar saja. Semua orang membicarakan dua jenderal terkenal Wei Agung, yang satu Jenderal Fei Hong dan yang lainnya Jenderal Feng Yun, tapi aku tidak melihatnya seperti itu. Selain Gubernur Xiao, yang memang tangguh, Jenderal Fei Hong itu tidak sebaik yang mereka katakan. Rundou dan Huayuan sangat dekat, tapi dia tidak datang untuk membantu kota. Dan dalam pertempuran sebelumnya di Huayuan, dia hampir tidak menang. Bagaimana dia bisa dibandingkan dengan Jenderal Yan? Aku tidak tahu bagaimana dia bisa terkenal."

Biasanya, mengkritik He Rufei sepenuhnya pasti akan memenangkan hati Yan He – poin ini tidak pernah salah.

Benar saja, mendengar ini, mata Yan He berbinar lalu ia tertawa: "Kau, Wuanlang, sangat berbeda dari yang lain. Hanya penilaianmu saja yang melampaui banyak orang. Meskipun aku tidak setuju dengan apa yang kau katakan tentang Xiao Huaijin yang tangguh, tentang He Rufei – kau benar! Dia benar-benar tidak bisa dibandingkan denganku!"

He Yan memutar bola matanya diam-diam sambil menyetujui: "Iya, tapi Jenderal Yan, apakah kau juga tidak menyukai Jenderal Fei Hong? Kupikir semua komandan militer menyukainya."

"Tidak suka?" Yan He menggelengkan kepalanya, berkata dengan acuh tak acuh, "Tidak juga. Aku hanya berpikir dia mengecewakan dan tidak pantas menyandang gelarnya."

Jantung He Yan berdebar kencang – akankah Yan He mengungkap salah satu dari sepuluh misteri terbesar masa mudanya? Setelah bertahun-tahun, akankah ia akhirnya tahu mengapa Yan He selalu menindasnya?

"Apa maksudmu dengan mengecewakan?" He Yan memiringkan kepalanya untuk menatap Yan He, matanya penuh kebingungan yang nyata.

Karena mereka sama-sama tidak menyukai He Rufei, Yan He memandang pemuda di hadapannya dengan lebih ramah, dan tanpa berpikir panjang menjawab: "Tentu saja dia mengecewakan. Dia menerima bimbingan pedang dari Xiao Huaijin, tetapi hanya mencapai tingkat itu. Jika aku, aku bisa melakukannya sepuluh ribu kali lebih baik. Dan Xiao Huaijin juga aneh – penilaian macam apa itu, mengabaikan siswa berbakat di akademi untuk menghabiskan waktu mengajar orang bodoh? Tapi Xiao Huaijin bahkan sangat pelit dan tidak mau sparring dengan ku. Katakan padaku, bagaimana mungkin ada orang seperti itu di dunia ini?"

"Pedang... bimbingan?"

"Iya," Yan He melirik He Yan, "Terkejut, ya? Ilmu pedang Jenderal Fei Hong yang katanya tidak tertandingi itu diajarkan langsung oleh Xiao Huaijin. Keren, kan?"

Disclaimer: Terjemahan ini dilakukan secara sukarela untuk tujuan berbagi hobi dan apresiasi karya. Seluruh hak cipta, termasuk karakter, alur cerita, dan judul adalah milik penuh penulis asli dan penerbit. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas konten ini. Jika Anda menyukai ceritanya, dukung penulis aslinya melalui platform resmi.

Komentar