Legend of the Female General-Bab 135 Jembatan Kekasih

Ketika He Yan kembali, Xiao Jue belum juga kembali. He Yan berkata kepada Cui Jiao dan Hong Qiao, "Hari ini murni karena keinginanku sendiri. Aku takut suamiku akan menyalahkanku karena berkeliaran tanpa pengawal, jadi sebaiknya kita tidak membicarakan perjalanan kita hari ini pada suamiku."

Cui Jiao dan Hong Qiao mengangguk.

"Kalian boleh pergi sekarang." He Yan menjatuhkan diri ke tempat tidur, "Aku akan istirahat sebentar."

Setelah kedua pelayan meninggalkan ruang dalam, He Yan berbaring di tempat tidur, melamun. Liu Buwang mungkin ada di Kota Jiyang, tetapi bagaimana ia bisa menemukan Lin Buwang? Seandainya ia tahu ini akan terjadi, seharusnya ia mengatur tempat pertemuan khusus dengan Liu Buwang saat mereka berpisah. Sebuah kedai teh yang bahkan tidak ia ketahui namanya rencana yang benar-benar ceroboh.

Kalaupun ia menemukan Liu Buwang, apa yang akan ia katakan? He Yan yang sekarang bukan lagi orang yang sama seperti sebelumnya. Kembali dari kematian dan hidup di tubuh orang lain – bahkan ia merasa hal seperti itu sangat absurd.

Namun, ia masih ingin bertemu Liu Buwang. Lagipula, di kehidupan sebelumnya, Liu Buwang adalah salah satu dari sedikit orang yang memberinya kehangatan sesungguhnya yang tulus. Guru sekaligus sahabatnya, dirinya bisa menjadi Jenderal Fei Hong yang sekarang adalah karena Liu Buwang telah mewariskan semua keahliannya kepada He Yan.

Mengingat Jenderal Fei Hong lagi membuat He Yan memikirkanHe Rufei. Ia bertanya-tanya bagaimana keadaan He Rufei sekarang, dan apakah mantan bawahannya menyadari ada yang salah. Xu Zhiheng... pasti sudah menikah dengan He Xinying sekarang – Nona Muda He yang sah, seorang wanita bangsawan sejati.

He Yan merasa kesal yang tidak dapat dijelaskan. Ia berguling dengan selimutnya hingga menghadap dinding, merajuk.

Sebuah suara terdengar di belakangnya: "Apa yang kau renungkan sambil menghadap dinding?"

He Yan menoleh, "Tuan Muda?"

He Yan segera duduk, "Kau sudah kembali!"

Xiao Jue melirik He Yan sambil melepas jubah luarnya, lalu berkata, "Apa kau menjadi gila karena bosan?"

"Membosankan sekali di sini." He Yan duduk di tempat tidur, menatap Xiao Jue, dan bertanya, "Bagaimana? Apa kau menemukan jejak Chai Anxi hari ini?"

"Tidak."

"Bagaimana mungkin kamu tidak menemukan apa pun?" He Yan bertanya dengan rasa ingin tahu, "Apakah mata-mata yang kau kirimkan itu salah memberi informasi?"

"Mati."

He Yan tertegun.

"Mati terbakar, bahkan tulang belulang pun tidak tersisa."

He Yan mengerutkan kening, "Ada yang salah. Mengapa dia mati di saat seperti ini, apalagi terbakar, tanpa meninggalkan jejak? Ini pasti bohong, kan?"

Bibir Xiao Jue sedikit melengkung, "Kau sepertinya cukup berpengalaman dengan pembohong."

"Aku hanya memberikan pendapat yang masuk akal," He Yan duduk bersila, menganalisis kejadian ini untuk Xiao Jue, "Mungkinkah orang ini sudah mendapat sebuah peringatan? Tapi Tuan Muda, Kau selalu menangani masalah dengan hati-hati, orang luar seharusnya tidak tahu kita akan datang ke Jiyang. Lagipula, Jiyang mudah dimasuki tetapi sulit untuk ditinggalkan. Jika dia benar-benar ingin bersembunyi dari seseorang, Jiyang adalah pilihan terbaik – dia seharusnya tidak ingin pergi dari sini."

Xiao Jue menyesap teh yang ada diatas meja dan berkata dengan malas, "Lanjutkan."

"Kalau begitu dia pasti sedang bersembunyi sekarang, menunggu saat yang tepat untuk melakukan aksi yang besar," kata He Yan. "Waktu terbaik untuk memancing di air yang tidak tenang adalah ketika airnya paling bergolak. Kapan Jiyang paling kacau dan ramai? Tentu saja saat Festival Dewa Air. Semua orang membicarakan Festival Dewa Air karena festival Dewa Air adalah festival terbesar di Jiyang. Acara sebesar itu akan sempurna untuk membuat keributan, dengan waktu, lokasi, dan orang-orang yang semuanya selaras."

Xiao Jue tertawa, nadanya tidak memuji atau meremehkan, "Nona Muda He benar-benar penuh perhitungan."

"Ini tidak bisa dikatakan perhitungan," He Yan melambaikan tangannya dengan rendah hati, "Aku masih jauh di belakang Tuan Muda."

Xiao Jue melirik He Yan, dan entah kenapa, suasana hatinya yang tadinya muram sedikit membaik. Xiao Jue menggelengkan kepala dan mencibir, "Penjilat."

"Wajar jika seorang istri menjilat suaminya," He Yan sengaja menggoda Xiao Jue.

Setelah digoda beberapa kali, Xiao Jue sudah terbiasa. Xiao Jue menatap He Yan dengan senyum ambigu, "Sebelum menyebut dirimu istri, tolong perhatikan posisi dudukmu. Cara dudukmu bahkan tidak pantas untuk seorang suami."

He Yan menunduk, menyilangkan kakinya, dan terbatuk pelan, "Aku lupa."

"Kulihat kau sendiri juga bingung," Xiao Jue mencibir, "apakah kau laki-laki atau perempuan."

"Bukannya aku tidak ingin menjadi feminin," gumam He Yan, "tapi seseorang harus memperlakukanku seperti wanita terlebih dahulu."

Xiao Jue membeku sejenak dan menatap He Yan. Wanita muda itu sudah berguling kembali ke sudut tempat tidur dengan selimutnya, tertawa riang, seolah tidak menyadari bahwa kata-katanya barusan mengandung sedikit rasa kesepian.

Tapi seseorang telah menangkap rasa kesepian dalam kata-kata itu.

...

Pada hari keempat pertengahan musim semi, keindahan musim semi mencapai puncaknya. Ladang-ladang hijau bermandikan cahaya bulan yang berkelana, sementara awan-awan berhamburan di langit cerah.

Ketika Hari Ekuinoks Musim Semi tiba adalah Hari dimana Festival Dewa Air dirayakan di Kota Jiyang.

Pagi-pagi sekali, He Yan sedang berbaring di tempat tidur tiba-tiba ia terbangun karena merasakan sakit di perutnya. He Yan menyentuhnya, terkejut, dan segera bangun. Tanpa memberi tahu Xiao Jue, He Yan diam-diam mengeluarkan kain menstruasinya dari bungkusan dan menuju ke kamar mandi.

Selama berada di Kota Jiyang, dengan berbagai peristiwa yang terjadi silih berganti, He Yan hampir lupa bahwa sudah waktunya menstruasi.

Berbicara tentang kehidupan di masa lalu dan masa kini, masalah terbesar yang He Yan hadapi di kamp militer adalah menghadapi menstruasi. Selalu ada hari-hari yang tidak nyaman di mana ia harus berhati-hati menghindari diperhatikan orang lain. Di kehidupan sebelumnya, hal itu tidak terlalu buruk – mungkin karena kondisi tubuhnya yang kuat, ia tidak merasa terlalu tidak nyaman. Namun, Nona Muda He yang sekarang dibesarkan dengan sangat lembut, dan menstruasinya terasa agak menyakitkan. Dulu di kamp militer, ia hanya bisa menahannya, tetapi sekarang, karena sudah lama tidak berlatih, tubuhnya menjadi kurang tangguh, dan ia langsung merasakan ketidaknyamanan.

He Yan mengganti pakaian menstruasinya dan keluar dari kamar mandi sambil mendesah dalam hati. Dari semua hari, menstruasinya harus datang saat Hari Festival Dewa Air – sungguh waktu yang buruk.

He Yan kembali ke kamar dengan lesu. Cui Jiao membawakan semangkuk susu domba segar dingin. Meskipun makanan di kediaman Cui lezat dan He Yan biasanya menyukai minuman ini, hari ini He Yan menyentuh perutnya dan menggelengkan kepala, sambil berkata, "Aku tidak mau."

Xiao Jue menatap He Yan dengan tatapan terkejut.

He Yan menghela napas dan pergi ke kamar dalam untuk menuangkannya segelas teh. Xiao Jue menatap sosok He Yan yang menjauh, bingung, dan bertanya pada Hong Qiao, "Ada apa dengannya?"

Hong Qiao menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tau, Nyonya sudah seperti ini sejak kembali dari kamar mandi."

"Bagaimana mungkin kau tidak tahu ini?" Lin Shuanghe, yang baru saja masuk dari luar, menghampiri Xiao Jue dan berbisik, "Dia sedang menstruasi. Saat seorang gadis sedang menstruasi, kau harus menjaganya, jangan biarkan dia lelah, jangan biarkan dia mengangkat barang berat, dan jangan biarkan dia makan makanan dingin. Suasana hatinya mungkin sedang tidak stabil, dan dia mungkin akan marah padamu."

Tepat saat Lin Shuanghe selesai berbicara, mereka mendengar He Yan memanggil dari kamar, "Cui Jiao, sudahlah, bawa semangkuk susu domba itu ke sini. Aku berubah pikiran, lagipula aku ingin meminumnyanya."

Xiao Jue: "..."

Xiao Jue berkata pada Cui Jiao, "Bawa pergi. Jangan berikan padanya."

Cui Jiao agak gelisah, di antara nyonya yang lembut dan tuan muda yang dingin, ia memilih untuk menuruti kata-kata tuan muda yang dingin dan membawa semangkuk susu domba itu pergi.

He Yan duduk di tampat tidur sebentar, dan ketika Cui Jio tidak masuk kedalam kamar untuk waktu yang lama, He Yan keluar dan mendapati Xiao Jue dan Lin Shuanghe berada di sana, tanpa camilan di atas meja. He Yan bertanya, "Ke mana Cui Jiao pergi?"

"Kita akan segera berangkat, cepatlah bersiap," kata Xiao Jue. "Jangan membuat semua orang menunggu."

He Yan bertanya, "Sekarang?"

"Iya," Lin Shuanghe tersenyum dan menjawab, "Pejabat Cui dan yang lainnya sudah ada di aula utama."

He Yan tidak berani menunda lebih lama lagi.

Festival Dewa Air adalah festival tradisional di Jiyang. Setiap Ekuinoks Musim Semi, berbagai pertunjukan akan digelar di kanal di pusat kota. Tidak masalah untuk pria, tetapi wanita harus menata rambut mereka dengan gaya Jiyang.

Hong Qiao, yang tinggal di dekat kota Jiyang, sangat ahli dalam menata rambut dalam gaya Jinyang. Dalam sekejap, Hong Qiao telah menata rambut He Yan layaknya gadis-gadis Jiyang. Kepangan tipis melingkari dahinya, menjalin ke rambut panjang di belakangnya, menciptakan penampilan yang sangat indah. Hanya sebuah jepit rambut mawar merah yang disematkan di pelipis kanannya, dan ia mengenakan gaun merah cerah yang mempertegas pinggangnya dengan indah. Di kakinya, ia mengenakan sepatu bot hitam bersulam bunga-bunga kecil, membuatnya tampak bersemangat dan cantik. He Yan benar-benar tampak seperti gadis dari Kota Jiyang.

Ketika He Yan keluar dari ruangan, mata Lin Shuanghe berbinar, berkata, "Nyonya kami sungguh cantik, terlihat cantik dengan pakaian apa pun."

"Kau terlalu memuji," jawab He Yan dengan rendah hati, mengikuti Xiao Jue dan yang lainnya ke aula utama. Seperti yang dikatakan Lin Shuanghe, Cui Yuezhi dan para selirnya sudah menunggu.

"Huanqing sudah siap," Cui Yuezhi berdiri sambil tersenyum, "Hari ini, pakaian Yuyan benar-benar membuatnya tampak seperti gadis yang tumbuh besar di Jiyang. Bukankah kalian semua setuju?"

Para selir setuju dengan patuh.

"Kita akan terlambat, ayo kita berangkat?" seru Cui Yuezhi.

Di Jiyang hari ini, kereta kuda tidak bisa digunakan karena semua warga telah keluar, membuat jalanan penuh berdesakan. Naik kereta kuda akan merepotkan. Jadi, rombongan Cui Yuezhi berjalan kaki menuju kanal.

Kanal itu membelah pusat kota dan mengelilingi bagian luar Jiyang. He Yan berpikir bahwa Festival Dewa Air Jiyang memiliki kemiripan dengan Festival Perahu Naga di Dataran Tengah. Di semua jalur air di seluruh kota, besar maupun kecil, terdapat perahu-perahu yang dihias dengan indah. Di atas perahu-perahu itu terdapat para pendayung yang mengenakan pakaian merah dan selendang hitam, bernyanyi dan mendayung, mungkin menyanyikan lagu-lagu daerah Jiyang. Suasananya cukup meriah. Para wanita muda di tepi sungai ikut bernyanyi bersama mereka, menciptakan suasana yang meriah.

"Festival Dewa Air Jiyang juga merupakan waktu bagi para pria muda dan gadis muda untuk menemukan cinta," jelas selir bermarga Wei kepada He Yan. "Selain memuja Dewa Air, ada banyak kegiatan festival yang disiapkan untuk para kekasih. Kudengar Nona Muda Yuyan dan tuan muda baru saja menikah, kau harus pergi menikmati perayaannya."

He Yan: "...Itu tidak perlu."

Percakapan mereka terdengar oleh Cui Yuezhi, yang tertawa terbahak-bahak, "Lumayan, lumayan. Aku ingat Jiyang punya Jembatan Kekasih yang terkenal, kalian berdua harus ke sana. Menurut legenda di Jiyang, pasangan yang menyeberangi Jembatan Kekasih selama Festival Dewa Air tidak akan pernah berpisah seumur hidup."

He Yan berbisik kepada Xiao Jue, "Kau dengar itu? Tak pernah berpisah seumur hidup."

Tatapan Xiao Jue tertuju pada wajah He Yan, dan tersenyum dingin, "Mengerikan sekali."

He Yan: "..."

Lagipula, mereka bukanlah suami istri sungguhan, jadi kata-kata tentang "takkan pernah berpisah seumur hidup" ini terasa tidak seperti berkah, melainkan lebih seperti kutukan. Sayangnya, Cui Yuezhi tampaknya memiliki minat yang sangat besar pada urusan percintaan keponakannya. Ketika mereka mendekati kanal, Cui Yuezhi berkata, "Lihat, itu Jembatan Kekasih."

He Yan melihat ke arah yang ditunjukan Cui Yuezhi dan melihat sebuah jembatan setinggi sekitar dua puluh satu atau dua puluh empat meter di atas kanal, dengan kedua ujungnya menghilang ke tebing batu tinggi di kedua sisinya.

Jembatan itu adalah jembatan gantung. Jembatan itu bergoyang pelan, sangat sempit, hampir tidak cukup lebar untuk dilewati satu setengah orang. Agar dua orang bisa menyeberang, mereka harus tetap berdekatan. Permukaan jembatan terbuat dari papan kayu, tetapi celah di antara papan-papan itu cukup besar – satu salah langkah saja, Kau bisa jatuh.

Melihat jembatan gantung yang seperti itu saja sudah membuat orang merasa gugup. Jika berjalan di atasnya, derasnya air sungai yang berada tepat di bawah jembatan, dan ketinggiannya sungguh luar biasa – mereka yang takut ketinggian mungkin akan basah kuyup karena takut.

"Inilah 'Jembatan Kekasih' yang ada hanya di Jiyang," kata Cui Yuezhi dengan bangga. "Hanya mereka yang memiliki cukup keberanian dan rasa saling mencintai yang berani menyeberangi jembatan ini. Jika mereka berhasil menyeberanginya, Dewa Air akan memberkati hubungan mereka, dan mereka tidak akan pernah terpisahkan seumur hidup." Setelah itu, Cui Yuezhi menepuk dadanya dan menambahkan, "Aku sudah menyeberanginya empat kali!"

He Yan menatap keempat selir di belakang Cui Yuezhi tanpa berkomentar, tetapi dalam hati ia bingung. Akankah Dewa Air memberkati orang yang menyeberang jembatan ini berkali-kali, atau akankah Dewa air merasa tersinggung? Lagipula, tinggal bersama seumur hidup dengan beberapa orang terdengar agak tidak sopan.

Jika ia menyeberang, ia hanya akan melakukannya sekali, dan hanya dengan satu orang.

Setelah berpikir sampai sejauh ini, He Yan merasa dirinya terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak – apa pentingnya hal itu baginya? Dalam kehidupan ini, ia mungkin tidak akan memiliki kesempatan seperti itu.

"Ini kesempatan langka. Huanqing, Yuyan, kalian juga harus menyeberanginya."

He Yan: "?"

"Apakah Yuyan takut ketinggian?" Cui Yuezhi tersenyum, "Jangan khawatir, bahkan jika kau jatuh, ada orang yang ditugaskan khusus untuk menangkapmu. Kau harus tahu bahwa ribuan pasangan mencoba menyeberangi Jembatan Kekasih setiap tahun, tetapi sangat sedikit yang berhasil. Jika benar-benar berbahaya, mereka tidak akan mengizinkan orang menyeberang lagi. Menyeberangi jembatan menguji keberanian dan cinta." Meskipun perawakan Cui Yuezhi garang, ia berbicara dengan penuh kelembutan yang luar biasa tentang hal ini, "Cinta memberimu keberanian, dan keberanian yang lahir dari cinta membuatmu tak terkalahkan."

He Yan berpikir dalam hati, tetapi tidak ada cinta di antara dirinya dan Xiao Jue, jadi dari mana datangnya keberanian itu?

Selir Wei tersenyum dan menimpali, "Iya, Nyonya Muda Yuyan, bukankah kau bilang Tuan Muda Huanqing sangat menyayangimu dan menuruti semua keinginanmu? Karena dia sangat mencintaimu, dia pasti akan melindungimu dan membantumu menyeberangi jembatan dengan selamat bersama-sama."

Percakapan mereka yang antusias terdengar oleh kerumunan di sekitarnya. Karena He Yan dan Xiao Jue sama-sama berpenampilan mencolok, para penonton mulai berseru memberi semangat: "Tuan Muda, seberangi jembatan itu dengan Nyonya Muda!"

"Seberangi Jembatan Kekasih untuk hidup panjang dan bahagia bersama!"

"Ayo! Kalian pasangan yang serasi, Dewa Air pasti akan memberkati kalian!"

He Yan mendapati dirinya dikelilingi kerumunan, mendengarkan dukungan mereka dengan penuh ketidakberdayaan. Lebih parah lagi, Lin Shuanghe, si pembuat onar, ikut tertawa, "Benar, karena kita sudah di sini, seberangi jembatan dan tunjukkan pada mereka bahwa tuan muda kita dari Huzhou juga sangat berani!"

Cui Yuezhi menepuk bahu Xiao Jue, "Lagipula, Putri Wang sangat menyukai pasangan yang memiliki cinta sejati. Jika bisa menyeberangi Jembatan Kekasih, akan sangat menguntungkan saat aku membawamu menemui Yang Mulia di istana."

Putri Mu Hongjin dari Mengji – He Yan membeku, lalu melihat Xiao Jue yang sedikit mengernyitkan dahinya dan berkata, "Baik."

He Yan: "...Tuan Muda?"

Mereka tidak akan menyeberangi Jembatan Kekasih yang konyol ini, kan?

He Yan tidak takut ketinggian, Dewa Air, atau bahkan menyeberangi jembatan, tetapi ketika ketiga elemen ini digabungkan dengan Xiao Jue, mengapa kedengarannya begitu menakutkan?

Benar-benar absurd.

Xiao Jue menoleh untuk menatap He Yan dan berkata dengan dingin, "Takut?"

"Bukannya aku takut," bisik He Yan, "Aku khawatir reputasimu akan rusak."

Tatapan Xiao Jue tetap tenang, nadanya mantap: "Sudah rusak berkali-kali, sekali lagi takkan ada bedanya."

He Yan: "...?"

Melalui lika-liku takdir ini, ia mendapati dirinya didorong bersama Xiao Jue ke pintu masuk jembatan.

Berdiri di ujung jembatan, mereka mendapati jembatan itu bahkan lebih sempit daripada yang terlihat dari bawah, dengan celah-celah yang sangat lebar di antara papan-papan kayu – seseorang hampir harus melompat untuk menyelesaikan penyeberangan. Meskipun mungkin bisa dilewati oleh satu orang, dua orang harus berdesakan sangat rapat. Tentu saja, mereka tidak bisa menggunakan keterampilan bela diri mereka untuk menjaga keseimbangan di sini, jadi mereka harus menjaga keseimbangan dengan susah payah, mengandalkan saling pengertian dan sedikit keberuntungan untuk bisa menyeberang.

Setelah mengamati jembatan, He Yan mengeluh dalam hati, meskipun mungkin baik-baik saja bagi mereka yang memiliki kemampuan bela diri, bayangkan seorang cendikawan lemah mencoba menyeberang dengan seorang wanita muda yang lembut – mereka pasti akan jatuh. Meskipun ada orang-orang di bawah untuk menangkap mereka mencegah terjadinya kecelakaan, guncangannya tetap akan memberikan trauma bagi orang lain, dan itu tampak seperti pertanda buruk, sengaja membawa malapetaka bagi diri sendiri. Persyaratan Dewa Air tampak terlalu sulit.

Cui Yuezhi dan yang lainnya tetap di bawah, mengawasi mereka dari tepi sungai. Lin Shuanghe berseru lantang, "Tuan Muda, Nyonya, Dewa Air pasti akan memberkati kalian!"

Chi Wu berkata dengan pelan pada Fei Nu, "Tuan Muda benar-benar berkorban besar kali ini."

Jika mereka pasangan palsu, menyebrangi jembatan tidak akan berarti apa-apa – hanya penyeberangan yang tidak berarti. Tetapi jika Dewa Air itu nyata... kejadian ini akan menjadi mengerikan – dua manusia terikat bersama seumur hidup? Tuan muda tidak tertarik pada laki-laki Tuan tua mungkin akan bangkit dari kuburnya dengan marah. Memikirkan hal ini, Chi Wu merasa semakin gelisah dengan situasi ini dan hanya bisa berdoa dalam hati: Ini hanya tindakan sementara, Dewa Air Agung, mohon bermurah hati dan jangan menganggapnya serius.

He Yan menatap permukaan jembatan yang sempit itu dengan susah payah dan bertanya kepada Xiao Jue, "Bagaimana kita harus menyeberang? Satu per satu?"

"Menurutmu kita bisa menyeberang satu per satu?" tanya Xiao Jue balik.

He Yan menatap kerumunan penonton di tepi sungai dan dengan enggan berkata, "Mungkin tidak."

Xiao Jue kemudian mengulurkan tangannya dan berkata, "Pegang aku."

Tangan Xiao Jue yang menyembul dari lengan bajunya terasa sangat panjang dan terang. He Yan ragu sejenak, tetapi alih-alih meraih tangan Xiao Jue, He yan justru menggenggam pergelangan tangan Xiao Jue. Melihat Xiao Jue tidak bereaksi apa-apa, He Yan merasa sedikit lebih tenang, He Yan berulang kali menyemangati dirinya sendiri: Ini hanya mengikuti adat istiadat setempat untuk sebuah festival, mereka bukan sepasang kekasih, tak perlu dipikirkan lagi, cepatlah menyeberangi jembatan.

"Ayo," Xiao Jue mulai melangkah maju.

Keduanya melangkah ke jembatan bersama-sama.

Begitu mereka melangkah maju menginjak papan jembatan, jembatan gantung itu mulai bergoyang dan bergetar, hampir mengancam akan menjatuhkan mereka. Papan kayunya hampir tidak mampu menopang dua orang yang berjalan berdampingan. Satu-satunya pilihan adalah berjalan berhadap-hadapan, tetapi itu mustahil bagi Xiao Jue dan He Yan. Oleh karena itu, He Yan harus berjalan sedikit lebih maju, dengan Xiao Jue di belakangnya, tangan Xiao Jue melindungi salah satu sisi tubuh He Yan, sedikit bergeser, meskipun posisi ini membuatnya terlihat seolah-olah Xiao Jue sedang memeluk He Yan saat mereka berjalan maju bersama.

Dalam jarak sedekat itu, He Yan merasa tidak nyaman – mengangkat kepalanya sedikit saja hampir membuat dahinya menyentuh dagu Xiao Jue. He Yan hanya bisa menatap lurus ke depan, berpura-pura santai sambil berkata, "Komandan, jembatan ini bergoyang hebat, sulit untuk melangkah. Haruskah kita menggunakan teknik meringankan badan? Atau berpura-pura tidak bisa melewatinya dan jatuh begitu saja? Lagipula ada orang yang akan menangkap kita dibawah."

Setelah hening sejenak, Xiao Jue berkata, "Injak sepatuku dan pegang erat-erat."

He Yan membeku: "Itu... itu tidak sopan, kan?"

"Cepat."

Karena Xiao Jue sudah memaksa, He Yan tak bisa terus menolak, lagipula, untuk dua orang yang menyeberangi Jembatan Kekasih ini, cara ini memang jauh lebih mudah.

Namun... jika ia menginjak sepatu bot Xiao Jue, di mana ia harus meletakkan tangannya? Meletakkannya di pinggang Xiao Jue akan terasa agak intim, tetapi memegang pergelangan tangan Xiao Jue seperti sebelumnya akan terlalu goyah. Setelah berpikir sejenak, He Yan mengulurkan tangan dan mencengkeram bahu Xiao Jue, membuat dirinya nyaris tak mampu menjaga keseimbangan.

"Pegang erat-erat," kata Xiao Jue, dan sambil berbicara, tangannya memegang tali jembatan sambil perlahan melangkah maju.

Sebelumnya, orang lain telah mencoba berbagai metode, seperti para pria menggendong wanita kesayangan mereka di punggung untuk menyeberangi jembatan, tetapi membiarkan satu orang menginjak sepatu orang lain, membiarkan satu orang berjalan untuk dua orang – ini adalah yang pertama. Cara ini memang cerdik, dan tampak menyentuh, namun meskipun intim, juga menunjukkan pengendalian diri.

Kerumunan di bawah merasa agak bingung, tetapi tidak terlalu memikirkannya. Mereka berasumsi bahwa tuan muda dan nyonya dari Huzhou lebih konservatif daripada mereka yang berasal dari Jiyang, dan tidak ingin menunjukkan keintiman yang berlebihan di depan umum.

Namun, rekan-rekan mereka melihat adegan itu dengan cara yang sangat berbeda.

Chi Wu langsung menarik napas tajam, menatap He Yan seolah-olah He Yan telah menodai tuannya, lalu berkata dengan penuh kebencian, "Bagaimana mungkin ini terjadi, si kecil itu memanfaatkan semua keuntungan!"

Siapa yang memanfaatkan siapa? He Yan di jembatan juga hampir menangis. Jembatan gantung itu sangat tidak stabil, bergoyang hebat setiap kali Xiao Jue melangkah. Meskipun langkahnya mantap dan ekspresinya tetap tenang tanpa khawatir, jantung He Yan berdebar kencang. Ketika mereka sampai di tengah, papan kayu di bawah kaki Xiao Jue tampak agak tidak stabil, dan ketika ia melangkah kedepan, tubuhnya miring, hampir jatuh.

He Yan terkejut dan secara naluriah melingkarkan lengannya di leher Xiao Jue. Ketika He Yan menjadi tenang, mereka berdua membeku sesaat.

Jarak di antara mereka sangat dekat – bibir Xiao Jue hanya sedikit lagi menyentuh sudut mulut He Yan. He Yan mendongak dan bertemu dengan mata air musim gugur milik Xiao Jue, yang kini dalam dan tak terduga bagaikan kolam tanpa dasar, beriak ombak. Bibir tipis pemuda tampan itu terkatup rapat, jakunnya bergerak sedikit. Untuk sesaat, Xiao Jue sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tetapi setelah beberapa saat, Xiao Jue hanya dengan lembut memalingkan muka.

He Yan merasa sangat malu.

He Yan berkata dengan pelan, "Maaf."

Xiao Jue tidak menjawab.

He Yan tak berani menatap wajah Xiao Jue, merasa suasana semakin canggung, dan hanya bisa berharap penyeberangan jembatan segera berakhir. Di ujung jembatan diseberangnya, kerumunan orang sudah menunggu dengan penuh semangat. Xiao Jue memantapkan langkahnya dan terus maju. Saat He Yan melihat mereka hampir sampai di ujung jembatan gantung, hatinya berdebar kencang, dan akhirnya He Yan menghela napas panjang, berpikir dalam hati bahwa ini bahkan lebih menyiksa daripada latihan bela diri.

Ketika Xiao Jue sampai di ujung jembatan, He Yan dengan bersemangat berkata, "Kita hampur sampai, kita hampir sampai!" dan ingin mundur selangkah untuk menjaga jarak antara dirinya dan Xiao Jue. Namun, jembatan gantung itu sudah tua dan tidak stabil, dan ketika He Yan melangkah mundur, papan kayu di belakangnya terbalik, menyebabkan kakinya tergelincir di udara.

Xiao Jue menegur dengan suara rendah, "Hati-hati!"

Xiao Jue meraih dan menarik He Yan mendekat. He Yan mengikuti tarikan itu dan jatuh ke depan, merasakan dirinya dipeluk hangat. Secara naluriah He Yan mencoba menenangkan diri dan mendongak, tetapi gerakan itu diikuti oleh gerakan Xiao Jue yang menunduk pada saat yang sama, dan sesuatu yang lembut dan ringan seperti bulu menyapu dahi He Yan, nyaris tak terlihat sesaat sebelum lenyap.

He Yan membeku di tempat.

Disclaimer: Terjemahan ini dilakukan secara sukarela untuk tujuan berbagi hobi dan apresiasi karya. Seluruh hak cipta, termasuk karakter, alur cerita, dan judul adalah milik penuh penulis asli dan penerbit. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas konten ini. Jika Anda menyukai ceritanya, dukung penulis aslinya melalui platform resmi.

Komentar