Legend of the Female General-Bab 104 Tinggal Bersama

Karena harus menjaga Song Taotao, kereta kuda berjalan dengan lambat, sehingga memakan waktu lebih lama daripada ketika perjalanan mereka ke kota Liangzhou. Saat mereka tiba di Garda Liangzhou, hari sudah senja.

Shen Han dan rombongannya telah menunggu kedatangan Xiao Jue di jalan setapak di luar garnisun. Ketika melihat Xiao Jue turun dari kereta, Shen Han akhirnya bisa menghela napas lega.

Selama Xiao Jue berada di Kota Liangzhou, Shen Han belum menerima surat apa pun tentang apa yang dilakukan Xiao Jue di sana, dan hatinya terasa terombang-ambing selama beberapa hari, takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Melihat situasi saat ini, tampaknya semuanya telah diselesaikan dengan lancar. Tepat ketika Shen Han hendak berbicara, ia mendengar Liang Ping berkata, "Ini... mengapa ada seorang nona muda?"

Seorang nona muda? Mereka melihat seorang gadis berusia lima belas atau enam belas tahun bergaun merah muda sedang melompat turun dari kereta yang berada di depan, terlihat lembut dan cantik, dengan wajah secantik bunga dan rembulan.

Melihat He Yan di sampingnya, yang tampak lesu dan menguap, menunjukkan tanda-tanda kelelahan, Shen Han sangat terkejut. Komandan pergi ke Liangzhou dan membawa kembali seorang gadis – apakah ini keputusan untuk memutuskan hubungan dengan He Yan?

Namun, melakukan ini di depan He Yan terasa terlalu kejam.

Saat Shen Han sedang berpikir, suara seorang pemuda lain datang dari belakang: "Paman, Kakak, akhirnya kalian kembali!"

Cheng Li Su melompat-lompat seperti kelinci sambil menghampiri para rombongan, ditemani oleh dokter wanita Shen Muxue yang berpakaian putih, terlihat luar biasa cantik. Cheng Li Su pertama-tama mengeluh kepada Shen Han: "Kepala Instruktur Shen, bagaimana mungkin kau tidak memberi tahu aku bahwa Paman telah kembali? Jika aku tidak mendengarnya sendiri, bukankah aku akan melewatkan kesempatan untuk menyambut Paman kembali?"

"Kakak, kulihat kau sudah kembali dengan selamat, jadi perjalanan ini pasti berhasil. Si Yuan Baozhen itu sudah pergi, kan? Aku tahu kau pasti bisa... Hah?" Ekspresi gembiranya langsung hancur ketika melihat Song Taotao, nadanya langsung berubah menjadi kasar ia melompat sambil menunjuk kearah Song Taotao dan bertanya: "Nona Song Kedua, kenapa kau di sini?"

"Ada apa dengan ekspresimu itu?" Song Taotao mengerutkan kening.

"Kami bertemu Nona Song di Kota Liangzhou," He Yan tersenyum dan berkata, "Pertemuan yang sangat kebetulan. Nona Song akan tinggal di garnisun untuk sementara waktu." He Yan tidak menjelaskan bagaimana mereka bisa bertemu dengan Song Taotao, untuk melindungi reputasi Nona muda itu.

"Kakak," Cheng Li Su menatap He Yan dengan ekspresi tak percaya, "Aku memintamu untuk membantuku menghindari Yuan Baozhen agar aku tidak dipaksa menikah. Tapi kau langsung membawa wanita yang dijodohkan dengan ku kesini? Apa kau mencoba membuat hidupku sengsara?"

"Cheng Li Su," Song Taotao tak tahan lagi. Ia berdiri dengan tangan di letakan di pinggul dan berteriak keras, "Kau pikir aku ingin bertemu denganmu? Sejujurnya, aku juga datang ke Kota Liangzhou untuk menghindari pernikahan. Jika aku tidak bertemu Tuan Kedua Xiao, aku tidak akan datang ke sini. Kau tidak mau menikah denganku? Yah, aku juga tidak akan merendahkan diriku untuk menikah denganmu! Tuan muda yang tidak berguna, bermimpi untuk menikahi ku? Kau mungkin juga bermimpi menikahi Xi Shi – beraninya kau!"

Soal lidah tajam, Cheng Li Su bukan tandingan Song Taotao. Saat ini, ia sangat menyesal tidak membaca lebih banyak buku, karena ia bahkan tidak punya kata-kata yang bagus untuk mengumpat.

"...Dasar cerewet!" Hanya itu yang bisa ia katakan, dengan nada yang tidak mengesankan.

"Masih lebih baik daripada tidak berguna sepertimu." Song Taotao memutar bola matanya pada Cheng Li Su.

Kedua musuh yang sedang bertengkar ini langsung berdebat, memaksa Liang Ping untuk maju sebagai penengah: "Tuan Muda Cheng, Komandan, dan yang lainnya telah menempuh perjalanan hampir seharian, mereka pasti lelah sekarang. Bagaimana kalau kita biarkan mereka beristirahat sejenak dan makan sebelum melanjutkan perdebatan ini?"

Ketika seseorang memberikan saran, Cheng Li Su dengan rendah hati menerima saran tersebut, berkata, "Aku tidak akan berdebat denganmu lagi, aku mengkhawatirkan paman dan kakak laki-lakiku!"

Akhirnya, situasi langsung mereda untuk sementara.

Shen Muxue, yang sedari tadi terdiam, menghampiri Xiao Jue dan berkata, "Tuan Kedua, pada pesan rahasia yang dikirim tadi, disebutkan ada yang terluka..."

Semua yang kembali ke garnisun terlihat normal.

Xiao Jue melirik He Yan, dan He Yan langsung berkata, "Itu aku!"

Shen Muxue: "...Apakah kamu merasa ada yang tidak nyaman?"

"Hanya luka ringan," He Yan tersenyum dan berkata, "Aku akan merepotkan Nona Shen untuk mencarikan obat untuk luka luar, obat yang terakhir kali aku gunakan cukup bagus."

Song Taotao mendengar ini dan menatap He Yan dengan terkejut: "Tuan Muda He, Kamu terluka?" Dia tidak melihat ketika He Yan terluka dan mengira tidak terjadi apa-apa.

Cheng Li Su menarik He Yan menjauh, menatap Song Taotao seperti pencuri: "Cerewet, menjauhlah dari Kakakku!"

Keduanya mulai berdebat lagi.

He Yan: "..."

Energi anak muda sungguh membuat orang iri.

Setelah kembali ke garnisun, semua orang beristirahat sejenak dan setelah itu makan malam. Saat itu, langit sudah benar-benar gelap.

Shen Han berkata kepada Xiao Jue: "Kamar Komandan sudah dibersihkan setiap hari, dan hari ini aku mengganti seprai. Komandan bisa langsung masuk."

Kebersihan Xiao Jue sudah hampir mencapai titik obsesi, jadi Shen Han telah melakukan persiapan yang matang.

Xiao Jue mengangguk dan hendak masuk tiba-tiba He Yan menarik lengan bajunya: "Tunggu!"

Apakah ini akan menjadi percakapan pribadi? Shen Han merenung, percakapan seperti itu tidak pantas untuk didengar oleh orang luar seperti dirinya, jadi dia berkata, "Komandan, jika tidak ada yang lain, aku permisi dulu." Tanpa menunggu jawaban Xiao Jue, dia bergegas pergi.

He Yan mendorong Xiao Jue masuk ke kamar.

Xiao Jue berkata dengan dingin, "Ada apa?"

"Komandan, apakah kau lupa dengan janjimu? Kau adalah Jenderal Feng Yun, kau harus menepati janjimu."

"Apa yang aku janjikan?" Xiao Jue menatapnya dengan tenang.

Mengira Xiao Jue mencoba mengingkari janjinya, He Yan menjadi cemas, "Bukankah kita sudah sepakat sebelum kembali ke garnisun bahwa kau akan menyiapkan tempat tinggal baru untukku? Aku tidak bisa tinggal di asrama, tidak leluasa untuk mandi dan mengganti perban."

Sebelum Xiao Jue sempat menjawab, suara lain terdengar, "Kalau hanya ruang ganti, kenapa kakak merempotkan paman? Aku juga bisa membantumu!"

Xiao Jue dan He Yan menoleh dan melihat Cheng Li Su datang kearah mereka. Kamar Cheng Li Su bersebelahan dengan kamar Xiao Jue, kamar mereka memiliki pintu penghubung yang membagi rumah besar itu menjadi dua ruangan. Biasanya, ketika Cheng Li Su dihukum menyalin buku, Xiao Jue akan mengawasinya melalui pintu penghubung sambil membaca, jadi pintu penghubung itu tidak pernah ditutup. Sekarang Cheng Li Su melompat dari kamarnya ke kamar Xiao Jue.

"Kakak He, bagaimana menurutmu kamarku?"

He Yan: "Hm?"

"Kalau menurutmu kamarku lumayan, aku bisa bertukar kamar denganmu." Tuan muda Cheng berkata dengan penuh semangat, "Kita bisa pindah malam ini, aku akan berkemas sekarang! Bagaimana menurutmu, Kakak?"

He Yan agak linglung, sementara Xiao Jue mengerutkan kening pada keponakannya yang biasanya tidak berpikir seperti orang normal, bertanya, "Apa yang sedang kau rencanakan?"

"Paman," kata Cheng Li Su dengan wajah sedih, "Itu karena Paman membawa perempuan cerewet itu kesini. Aku baru saja bertanya kepada Kepala Instruktur Liang, bahwa Song Taotao untuk sementara tinggal bersama dokter Shen, hanya lima belas langkah dari kamar kita. Jika aku tinggal di sini, bukankah aku harus melihatnya setiap hari? Melihatnya saja sekarang membuatku pusing, aku lebih suka tidak melihatnya. Karena Kakak He juga ingin pindah kamar, aku bisa bertukar kamar dengan Kakak. Setelah Song Taotao pergi, kita bisa bertukar kamar lagi."

He Yan: "Baiklah!"

Xiao Jue: "Tidak."

Ketidak sukaan Cheng Li Su terhadap Song Taotao lebih besar dari rasa hormatnya pada pamannya. Ia berpura-pura tidak mendengar kata-kata Xiao Jue dan dengan senang hati berjalan kembali untuk mengemasi barang-barangnya. Xiao Jue dengan marah berkata, "Kembali ke sini!" Xiao Jue mengulurkan tangan untuk menangkap Cheng Li Su, tetapi dihalangi oleh He Yan.

Cheng Li Su memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri, menutup pintu penghubung dengan suara "bang."

Xiao Jue: "Cheng Li Su!"

"Bersikap galak seperti itu akan membuat anak itu takut," He Yan tersenyum pada Xiao Jue, "Komandan, Tuan Muda Cheng sudah setuju. Ketika kedua belah pihak bersedia, mengapa kau menjadi orang yang tidak masuk akal dan ingin menghalanginya?"

Cara He Yan mengatakannya membuat Xiao Jue tampak seperti orang yang bertindak tidak masuk akal dan mencoba merusak kesepakatan yang sudah dibuat.

Xiao Jue tersenyum dingin: "Atas dasar apa?"

"Atas dasar aku... hanya satu tanda lahir merah lagi untuk menjadi wanita yang sangat dicintai Komandan." He Yan menatapnya dengan senyum berseri-seri.

Ruangan seketika menjadi hening.

Xiao Jue mengalihkan pandangannya dengan jijik: "Nona He, kau tidak berpikir untuk tinggal di Garda Liangzhou kan?"

"Soal ini, aku tidak pernah berbohong." Senyum He Yan memudar saat ia berbicara dengan serius, "Lagipula, aku benar-benar ingin bergabung dengan Kamp Sembilan Bendera."

"Jangan coba-coba."

"Aku selalu tahu kapan harus berhenti." He Yan berkata: "Komandan, aku hanya butuh satu kesempatan untuk membuktikan diri, untuk membuktikan bahwa aku bukan pengkhianat, dan untuk membuktikan bahwa aku layak menjadi orang kepercayaanmu."

Xiao Jue mencibir: "Lancang sekali."

"Bukankah terlalu sewenang-wenang untuk tidak memberiku kesempatan?"

"Kau?" Xiao Jue menatapnya dari atas ke bawah, lalu berkata dengan dingin: "Berapa lama kau bisa bertahan di Garda Liangzhou?"

"Lebih lama dari yang kau bayangkan."

"Kau seorang wanita."

"Tidak akan ada yang tahu."

"Aku tidak akan melindungi identitasmu sebagai wanita."

Mendengar ini, He Yan tersenyum: "Itu yang ingin kau katakan, kan?"

Tuan Kedua Xiao yang mulia dan dingin, tidak memiliki simpati, tidak mungkin berusaha keras menutupi kebenaran demi He Yan. Namun, keterampilan bela diri He Yan memang luar biasa, dan jika He Yan benar-benar menyerah, bahkan Xiao Jue pun akan bimbang. Lagipula, dalam kamus Xiao Jue, pria atau wanita tidaklah begitu penting – yang penting adalah kemampuan, keunggulan, dan manfaat.

"Pergilah jika kau tidak sanggup." Jawabannya terdengar kejam.

"Setuju," kata He Yan: "Aku akan tetap di sini dengan mengandalkan kemampuanku sendiri, entah bergabung dengan Kamp Sembilan Bendera atau meraih prestasi, aku jamin tidak akan membuat Komandan khawatir."

Xiao Jue terus menatap He Yan, lalu setelah beberapa saat, ia mengangkat sebelah alisnya dan bertanya, "Kau ingin bergabung dengan Kamp Sembilan Bendera?"

"Tentu saja!"

"Baiklah," Tuan Kedua Xiao melengkungkan bibirnya dan berkata, "Kau punya waktu satu bulan untuk pulih dari cederamu. Setelah itu, latihan bela diri harianmu akan sama dengan latihan prajurit dari Kamp Sembilan Bendera." Khawatir He Yan mungkin tidak mengerti dengan jelas, Xiao Jue menambahkan, "latihan bela diri Kamp Sembilan Bendera tiga kali lipat dari apa yang kau lakukan sekarang."

He Yan: "..."

Xiao Jue, sungguh pria yang kejam.

"Kalau kau sanggup, tinggallah. Kalau tidak, keluarlah dari Garda Liangzhou." Ia menatap He Yan dengan senyum tipis, matanya yang jernih menyiratkan sedikit ejekan: "Nona He, berapa lama kau bisa bertahan?"

He Yan membalas dengan senyum yang menggertakkan gigi.

"...Komandan, kita masih punya banyak waktu, tunggu saja."

...

Setelah kamarnya beres, He Yan masih harus kembali ke asrama sebelumnya untuk berkemas dan menemui saudara-saudaranya. Sebelum He Yan sampai di asrama, Xiao Mai, yang sedang bersandar di pintu, melihatnya dari jauh dan berteriak: "Kakak A-He, kau kembali!"

Teriakan itu membuat semua orang keluar dari dalam asrama. Tiba-tiba, kepala-kepala bermunculan dari ruangan, dan yang lebih berani berdesakan di samping He Yan, bertanya: "He Yan, apakah kau kembali bersama Komandan Xiao? Bagaimana? Apa kau mendapatkan sesuatu kali ini? Apakah Kota Liangzhou menyenangkan? Apa yang kalian lakukan di sana?"

"Ayo, jangan berkerumun di sini," Hong Shan mengusir mereka, membiarkan He Yan masuk. "Kau pulang di waktu yang tepat, semua orang sudah di sini. Kami cuma penasaran kenapa kau belum datang. A-He, badanmu terlihat lebih kurus karena perjalanan ini, kau tidak mendapat masalah, kan?"

"Tidak," kata He Yan sambil melangkah masuk ke ruangan, mendapati ruangan itu cukup ramai dengan kehadiran Wang Ba, Jiang Jiao, Huang Xiong, dan yang lainnya. Jiang Jiao berkata: "Kami dengar Komandan Xiao telah kembali, dan kami pikir kau akan segera tiba, jadi kami menunggumu di sini."

He Yan duduk di sofa dan mendesah: "Senang bisa kembali."

Tempat tidur di Kediaman keluarga Sun empuk dan nyaman, tetapi membayangkan berapa banyak gadis yang dikubur di halaman itu membuatnya terasa sangat menyeramkan dan mengerikan. Meskipun tempat tidur di sini keras dan selimutnya tipis, hati orang-orang baik, membuat tidur mereka nyenyak.

"Apakah hubunganmu dengan Komandan Xiao membaik selama perjalanan ini?" tanya Huang Xiong.

Sebelumnya, karena Xiao Jue memilih Lei Hou untuk bergabung dengan Kamp garda depan, He Yan sangat marah kepada Xiao Jue. Saat He Yan pergi ke Kota Liangzhou bersama Xiao Jue kali ini, Hong Shan dan yang lainnya khawatir He Yan akan bertengkar dengan Xiao Jue di tengah jalan.

"Lumayan," kata He Yan samar-samar.

Wang Ba mencibir, sambil berkata dengan nada senang berlebihan: "Lihat ekspresinya, pasti tidak berjalan baik. Kalau memang baik, bagaimana mungkin dia pulang dengan tangan kosong tanpa imbalan apa pun?"

Saat itu, Cheng Li Su tiba di pintu sambil menyeret tiga kotak besar berisi barang bawaan, bertanya kepada He Yan: "Kakak A-He, bolehkah aku masuk?"

"Masuk."

Begitu Cheng Li Su masuk, ia terkejut oleh ruangan yang penuh sesak, lalu berkata: "Sangat ramai? Bukankah akan berisik di malam hari saat tidur?"

Mata Xiao Mai terbelalak: "Apa maksudmu?"

He Yan tersenyum dan perlahan berkata: "Selama perjalanan ke Liangzhou kali ini, aku mencapai prestasi yang luar biasa. Komandan sangat terkesan dan memutuskan untuk mengizinkanku bertukar kamar dengan Tuan Muda Cheng. Tuan Muda Cheng akan tinggal di sini, sementara aku akan tinggal di sebelah Komandan sebagai hadiah."

Semua orang tercengang.

"Apakah yang dikatakan anak ini benar?" tanya Wang Ba kepada Cheng Li Su.

"Benar." Cheng Li Su menangkupkan tangannya dengan sopan ke arah yang lain, "Mulai sekarang, aku akan berada di bawah pengawasan kalian, kakak-kakak."

Ruangan itu mendidih dengan kegembiraan semua orang menghujani He Yan dengan pertanyaan.

"Pencapaian apa yang telah kau raih? Hal besar apa yang telah kau lakukan di luar sana?"

"Hanya pindah kamar dan tidak ada imbalan lain? Bahkan tidak masuk ke Kamp Garda depan?"

"He Yan, apakah kau akan dipromosikan? Jika iya, bisakah kau membantu saudara-saudaramu?"

He Yan dikelilingi oleh para prajurit, seoalah-olah mereka telah meraih kemenangan. Di sisi lain Shen Han baru saja mengetahui semua yang terjadi selama perjalanan Xiao Jue ke Kota Liangzhou.

"Sun Xiangfu telah menjabat di Liangzhou selama delapan tahun, membuat rakyat berada dalam kemiskinan," desah Shen Han: "Apa yang kau tabur, itulah yang kau tuai. Akhir seperti itu memang pantas baginya."

Shen Han berada di Liangzhou selama beberapa tahun dan telah mendengar banyak kejahatan yang dilakukan Sun Xiangfu dan putranya, tetapi ia bukan seorang petugas sensor, dan tidak memiliki koneksi luas seperti Xiao Jue, jadi ia hanya bisa diam saja. Sekarang Xiao Jue telah sepenuhnya menumbangkan Sun Xiangfu dan putranya, dan membuat Yuan Baozhen menderita tanpa bisa berkata apa-apa, sungguh memuaskan.

"Komandan, selama perjalanan ke Liangzhou, apakah kau sudah mengetahui latar belakang He Yan?" Setelah ragu sejenak, Shen Han bertanya. Ia tidak begitu mengerti seperti apa hubungan He Yan dan Xiao Jue sekarang. Jika baik, Xiao Jue masih waspada terhadap He Yan, tetapi jika tidak baik, ia baru saja menerima perintah dari Cheng Li Su yang memberitahu bahwa He Yan akan tinggal di kamar Cheng Li Su mulai sekarang.

Bukankah itu berarti He Yan akan tinggal tepat di sebelah Xiao Jue? Bagaimana mungkin seseorang yang tidak dekat bisa sampai ke titik ini?

Mungkinkah mereka membangkitkan kembali perasaan lama mereka? Namun, jika melihat sikap Xiao Jue, sepertinya tidak. Shen Han telah melajang selama bertahun-tahun dan sama sekali tidak tahu apa-apa tentang masalah hati. Namun, ia pernah mendengar tentang betapa sulitnya memutuskan hubungan cinta – mungkinkah memang seperti ini situasinya?

"Kurang lebih," kata Xiao Jue. Kalau dipikir-pikir, informasi keluarga yang ditulis He Yan di daftar militer tidak salah – Ayahnya adalah kapten gerbang kota dan saudara kandungnya memiliki umur yang tidak jauh darinya, hanya saja pemuda itu seorang wanita, hal ini sulit dipercaya.

"Apakah... apakah dia telah menjadi bagian dari kita sekarang?" tanya Shen Han hati-hati.

"Tidak apa-apa memperlakukannya sebagai salah satu dari kita untuk saat ini," Xiao Jue menurunkan pandangannya, "Tapi, tidak perlu menceritakan semuanya padanya."

Shen Han mengerti dan berkata, "Aku mengerti, Komandan."

"Aku punya tugas untukmu," kata Xiao Jue.

...

Saat He Yan selesai menjawab pertanyaan saudara-saudaranya dan kembali ke kamarnya, hari sudah malam.

Xiao Jue tidak suka kebisingan, jadi ruang tamunya cukup tenang. Ketika He Yan masuk, ia masih merasa agak asing. Perubahan mendadak dari berbagi kamar dengan lebih dari sepuluh orang dan sekarang memiliki kamarnya sendiri membuatnya merasa seperti sedang bermimpi. Tuan Muda Cheng, yang sangat pemilih, tidak lupa menyalakan dupa di kamar sebelum pergi.

Aroma dupa samar-samar tercium di hidungnya, membuatnya merasa rileks. He Yan berbaring di tempat tidur untuk mencobanya – rasanya seperti berbaring di atas gumpalan kapas, langsung membuatnya mengantuk. Ia berpikir, sungguh ini kehidupan yang mewah. Tidur di tempat tidur seperti ini, tak heran jika seseorang akan tidur hingga kesiangan.

He Yan melirik pintu penghubung.

Pintu itu ditutupi tirai mutiara di sisi lain, dan di balik tirai itu terdapat pintu menuju kamar Xiao Jue. Xiao Jue mungkin membiarkannya seperti ini untuk mengawasi pelajaran Cheng Li Su sehari-hari, tetapi sekarang pintunya tertutup rapat. He Yan mencoba mendorongnya pelan, tetapi pintu itu tidak mau terbuka. Tak menyerah, ia mendorong lebih keras, tetapi pintu itu tetap tertutup rapat.

Xiao Jue telah mengunci pintu dari sisinya.

He Yan berpikir dalam hati, dengan pertahanan yang ketat seperti ini, orang mungkin mengira Xia Jue adalah seorang wanita dan He Yan adalah seorang pria pencuri wanita cantik yang berkeliaran di kamar wanita di malam hari. Tuan Kedua Xiao benar-benar tak tahan melihat sebutir pasir pun di matanya – apakah kewaspadaan sampai tingkatan ini perlu?

Pikiran Tuan Kedua Xiao sungguh tidak dapat dipahami.

Di tengah ruangan terdapat bak kayu besar berisi air panas. He Yan berjalan mendekat dan mengukur suhunya dengan jarinya – suhunya sempurna. Bak ini mungkin disiapkan oleh Shen Han, karena mereka terlihat berdebu dari perjalanan panjang dan perlu mandi. Setidaknya ia tidak perlu mandi air dingin di Sungai Lima Rusa. He Yan merasa cukup puas dan hendak membuka pakaiannya namun tiba-tiba teringat sesuatu dan melihat ke arah pintu penghubung.

Dia hampir lupa tentang pintu itu.

Pintu penghubung memiliki kunci di kedua sisinya. Sisi mana pun yang terkunci tidak dapat dibuka dari sisi yang lain kecuali kedua sisinya tidak di kunci secara bersamaan. Xiao Jue telah mengunci sisinya, dan He Yan perlu mengunci sisinya juga. Kalau tidak, jika Xiao Jue tiba-tiba memiliki keperluan mendesak dan datang saat dia sedang mandi, bukankah Xiao Jue akan melihat semuanya?

Meskipun kemungkinan besar hasilnya Tuan Kedua Xiao merasa mata mulianya telah dinodai dan pergi dengan marah.

He Yan mengunci pintu penghubung sebelum mandi dan berganti pakaian. Setelah berganti pakaian, ia menyeret bak mandi kayu itu keluar untuk membuang airnya. Setelah itu He Yan kembali ke kamar, ia duduk di sofa.

Shen Muxue sudah mengantarkan obat dan perban, meletakkannya di meja kecil di samping tempat tidur. Karena insiden sebelumnya yang "murni seperti es dan giok hanya untuk tunangannya", kali ini Shen Muxue bahkan tidak repot-repot menawarkan bantuan untuk mengoleskan obat. He Yan menghadap ke cermin, membuka perban, mengganti obat di bawah perban, dan hendak memasang perban baru ketika ia melihat sebuah kotak bundar kecil berwarna giok di dekatnya.

Kotak bundar itu kecil sekali, bahkan tidak sebesar telapak tangan, ia hampir tidak melihatnya. He Yan mengambil korak tersebut dan melihat tulisan diatasnya "Penghilangan Bekas Luka dan Regenerasi Daging". He Yan terkejut, beberapa saat kemudian ia menggelengkan kepala sambil tersenyum.

Wanita memang lebih memperhatikan detail, tetapi ini terlalu perhatian. Shen Muxue sungguh baik hati, begitu perhatian bahkan kepada prajurit biasa. Pria biasa tidak akan peduli dengan hal-hal seperti ini ketika terluka – mereka bukan wanita penghibur yang perlu menjaga penampilan.

He Yan seharusnya memiliki pemikiran yang sama.

Namun, tepat ketika He Yan hendak menaruh kembali kotak itu, tiba-tiba ia teringat malam itu – lilin-lilin merah yang meleleh, tirai teratai yang hangat, tangan hangat yang tiba-tiba menegang saat menyentuh bekas luka di punggungnya. Sementara ia dengan cemas memikirkan cara menipu suaminya dengan kebohongan yang telah ia persiapkan, pria di hadapannya justru meniup lilin-lilin itu, menghindari topik itu sama sekali.

Pria itu tetap lembut, tetapi tiba-tiba He Yan merasa sangat malu. Rasa sakit ini bahkan lebih sakit dari kata-kata atau tatapan.

Salep dingin itu terasa perih dan gatal saat dioleskan ke lukanya. He Yan bertanya pada dirinya sendiri dalam hati, apa kau benar-benar tidak peduli?

Tidak.

Ia sangat peduli, dan bahkan di kehidupan kedua ini, sulit untuk tidak memikirkannya.

He Yan membungkus ulang perbannya, meletakkan kotak berwarna giok itu di bawah bantal, mematikan lampu, dan berbaring di sofa.

Ruangan itu sunyi dan hangat, tanpa dengkuran keras teman sekamarnya atau kaki-kaki yang tiba-tiba meregang melintas di sekujur tubuhnya di tengah malam. Seharusnya ia langsung tertidur dan tidur sampai terang, tetapi entah mengapa, hatinya gelisah, membuatnya sulit tidur.

Mungkin seharusnya ia tidak memikirkan masa lalu.

...

Keesokan paginya, He Yan bangun sangat awal seperti biasa. Tinggal di halaman tempat Xiao Jue tinggal, ia jauh dari prajurit lain dan tempat latihan, jadi He Yan harus pergi lebih awal. Ketika He Yan pergi mengambil bakpao sebelum menuju tempat latihan, ia bertemu Shen Han, Liang Ping, dan instruktur lainnya.

He Yan menyapa mereka.

Melihat penampilan He Yan yang bersemangat, Liang Ping merasa cemburu. Sebagai instruktur, tak seorang pun prajuritnya pernah dipromosikan secepat ini – lihatlah, dalam waktu sesingkat ini, He Yan sudah tinggal di sebelah Komandan. Hanya sekali trip ke kota Liangzhou, dan entah bagaimana He Yan telah mendapatkan perhatian khusus dari Komandan. Shen Han telah memberi tahu mereka tentang masalah Sun Xiangfu dan putranya, tetapi apa sebenarnya yang telah dilakukan He Yan, jasa apa yang telah ia peroleh, masih tidak diketahui.

Liang Ping menghela napas panjang dalam hatinya – ia juga ingin meraih prestasi, ingin mendapatkan perhatian khusus dari Komandan, ingin tinggal di dekat komandan!

"He Yan, kau datang di waktu yang tepat, ada yang ingin kukatakan padamu," Shen Han memberi isyarat padanya.

He Yan berlari menghampiri, dan Shen Han memeriksanya: "Kemarin, Komandan memberi tahu ku bahwa kau terluka dan untuk sementara tidak cocok untuk latihan intensif. Kau bisa berhenti sejenak dari latihan seperti berkuda dan memanah. Selama masa latihan, kau bisa mencari latihan yang lebih sesuai dengan kondisimu." Setelah jeda, Shen Han menambahkan: "Tapi jangan bermalas-malasan – kau harus datang ke tempat latihan setiap hari, dan lari pagi tidak boleh dilewatkan!"

"Dimengerti!" kata He Yan, sambil berpikir dalam hati bahwa Xiao Jue cukup perhatian. Meskipun lukanya eksternal, lukanya ada di punggung bawah, dan jika dia terus berlatih seperti sebelumnya, akan sulit untuk sembuh karena gangguan terus-menerus.

Di kehidupan sebelumnya juga seperti ini – sebelum luka lama sembuh, ia harus memimpin pasukan ke sana kemari, lukanya tidak pernah benar-benar sembuh, meninggalkan luka lama yang membandel di sekujur tubuhnya. Bahkan setelah kembali ke jati dirinya sebagai perempuan, tak lagi terpapar angin dan matahari seperti sebelumnya, luka-luka itu masih terasa nyeri di musim hujan atau musim dingin, sulit untuk meredakan rasa nyerinya.

Mungkin bisa menahan rasa sakit, tetapi jika ia tidak perlu terlalu memaksakan diri, tentu akan jauh lebih baik.

He Yan berterima kasih kepada Shen Han dan melanjutkan perjalanan menuju tempat latihan. Hari ini mereka berlatih teknik pedang, yang memang bisa ia lakukan. Sejak pertandingan sebelumnya dengan Huang Xiong di arena latihan, semua orang tahu keahlian pedangnya yang luar biasa. Temperamennya juga baik, selalu tersenyum menjawab siapa pun yang ingin bertanya, jauh lebih mudah didekati daripada instruktur berwajah tegas. Karena itu, setiap kali para prajurit kebingungan, mereka selalu berkonsultasi dengannya.

He Yan baru saja memperagakan teknik pedang kepada seorang prajurit ketika tiba-tiba, sebuah suara lantang memanggil: "Kakak He!"

He Yan menoleh ke belakang, ternyata Song Taotao yang memanggilnya.

Di Garda Liangzhou, hanya ada seorang wanita muda, Shen Muxue, yang dihormati sebagai sosok dewi oleh semua orang dan diperlakukan dengan sangat hormat. Kini, entah bagaimana, seorang wanita muda lain telah tiba, tampaknya bahkan lebih muda dari Shen Muxue. Meskipun tidak secantik Shen Muxue, wanita muda itu menutupinya dengan pesonanya yang menawan, bagaikan bunga musim semi yang sedang mekar, setiap gerakannya membawa aroma yang lembut.

Ia menggelung rambutnya menjadi dua dan mengangkat roknya sambil berlari ke arah He Yan, mengabaikan tatapan membara para prajurit di sekitarnya. Ia hanya menatap He Yan sambil bertanya: "Aku dengar dari Nona Shen kemarin bahwa lukamu serius. Apakah sekarang kau merasa lebih baik?"

He Yan: "..."

Setelah tiba di Garda Liangzhou, Song Taotao tinggal bersama Shen Muxue, jadi orang-orang tidak terlalu memperhatikannya, dan Chi Wu serta Fei Nu tidak bisa menghabiskan sepanjang hari menjaga seorang wanita muda alih-alih melakukan tugas mereka. Karena itu, tidak ada yang menyadari ketika wanita muda ini datang ke tempat latihan, apalagi ia langsung menemui He Yan.

He Yan tersenyum dan berkata: "Terima kasih atas perhatianmu Nona Song, ini hanya luka ringan."

"Bagaimana ini bisa disebut luka ringan?" Song Taotao menarik lengan bajunya: "Biarkan aku mengantarmu menemui Nona Shen lagi."

Tanpa perlu diberi tahu, He Yan bisa merasakan tatapan menggoda dari orang-orang di sekitarnya, sementara wajah Liang Ping hampir membiru. Tarik-menarik di depan umum seperti itu – perilaku macam apa ini? Dia, Liang Ping, telah melajang selama hampir tiga puluh tahun, dan sekarang He Yan malah bersikap mesra – untuk siapa pertunjukan ini? Namun karena dia tidak berani menyinggung Nona Song Kedua, dia hanya bisa memelototi He Yan, memberi isyarat agar He Yan segera mengusir Song Taotao.

Tepat saat He Yan hendak berbicara, sebuag teriakan marah lainnya terdengar: "Nona Song Kedua, apa yang kau lakukan di sini!"

He Yan langsung sakit kepala mendengar suara ini. Cheng Li Su, bagaikan kucing yang mencium bau ikan, mengikuti Song Taotao ke sini. Melihat Song Taotao mencengkeram lengan baju He Yan, ia dengan marah memisahkan mereka sambil berteriak: "Jauhi Kakak He-ku! Kakak He-ku sudah punya tunangan!"

Song Taotao awalnya menatap He Yan dengan terkejut, lalu melihat ekspresi puas Cheng Li Su di sampingnya, merenung sejenak sebelum mencibir: "Memangnya kenapa kalau dia punya tunangan? Bahkan pasangan yang sudah bertunangan pun bisa putus. Aku juga tunanganmu, apa arti dari itu?"

Cheng Li Su terhuyung mundur seolah tersambar petir.

Orang-orang di sekitarnya juga tercengang.

He Yan dan Cheng Li Su adalah saudara angkat, Song Taotao adalah tunangan Cheng Li Su, He Yan juga sudah bertunangan, namun Song Taotao hanya menunjukkan perhatian khusus kepada He Yan – sungguh kisah yang mencengkam, dramatis, dan mengejutkan!

Jika ada lubang di dekatnya, He Yan pasti sudah terjun ke dalam tanpa menoleh ke belakang.

Dia membela diri dengan lemah: "Aku tidak... aku belum..."

Disclaimer: Terjemahan ini dilakukan secara sukarela untuk tujuan berbagi hobi dan apresiasi karya. Seluruh hak cipta, termasuk karakter, alur cerita, dan judul adalah milik penuh penulis asli dan penerbit. Saya tidak mengklaim kepemilikan atas konten ini. Jika Anda menyukai ceritanya, dukung penulis aslinya melalui platform resmi.

Komentar